cover
Contact Name
Fatkhu Rohmatin
Contact Email
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Phone
+6285748946460
Journal Mail Official
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Editorial Address
Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jln. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 20871074     EISSN : 26857391     DOI : https://doi.org/10.37014/jumantara
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara menyajikan informasi mutakhir hasil kajian literatur dan penelitian bidang ilmu filologi dan pernaskahan Nusantara, yang mencakup: Kajian kodokologis, Teori-teori filologi, Edisi teks naskah kuno dan analisisnya, Kajian historis kepengarangan naskah kuno dan karyanya, Kajian multidisiplin berbasis naskah nusantara. Objek yang dijadikan kajian secara khusus bersumber pada naskah-naskah kuno Nusantara baik yang tersimpan di wilayah Nusantara maupun di luar wilayah Nusantara. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara membuka kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti naskah kuno Nusantara dari seluruh wilayah di dunia untuk turut berpartisipasi dalam penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan focus dan scope jurnal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2015): Juni" : 5 Documents clear
Citraan Perempuan dalam Serat Panji Karsono Hardjo Saputra
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.704 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.314

Abstract

Ketika pertengahan tahun 1990-an penulis hendak membaca dengan sungguh-sungguh cerita Panji (Jawa) yang oleh Poerbatjaraka (1957) disebut sebagai cerita asli Jawa dan oleh Pigeaud (1967: 233) disebut sebagai sastra pesisiran . Kemudian muncul suatu pertanyaan: “Apa keistimewaan kisah Panji sehingga dikenal luas di luar geografi budaya Jawa yang melahirkannya dan memiliki korpus teks sedemikian banyak?” Terlebih apabila pertanyaan itu dikaitkan dengan unsur-unsur kesastraannya dan kemudian dibandingkan dengan karya sastra masa kini, seperti tokoh dan penokohan, pengaluran, serta tema, yang senantiasa melahirkan kebaruan-kebaruan dan yang kemudian seringkali menimbulkan tegangan antara karya sastra dan pembacanya. Tak ada yang istimewa.  Cerita Panji yang dapat dikatakan sebagai sastra istana, dalam pengertian sastra dengan latar cerita istana, itu tidak berbeda dengan kecenderungan karya klasik  sezaman: tokoh stereotip, pipih, tanpa kejutan; alur datar; tema hitam-putih; dan seterusnya. Tokoh wirawan senantiasa disebut lir Parta merupakan tokoh biasa kita kenal dengan Arjuna atau lir Hyang Kamajaya nitis (bagai Dewa Kamajaya yang turun ke dunia) apa pun cerita, tema, dan genrenya, dan seterusnya. Wirawan selalu bisa menaklukkan lawan-lawannya, entah dengan kekuatan sendiri maupun dengan bantuan pihak lain, termasuk kekuatan adikodrati. Demikian pun tokoh-tokoh lain. Tokoh-tokoh perempuan, misalnya, senantiasa menjadi objek penderita: suwarga nunut, neraka katut (menumpang suami masuk surga, ikut terperosok jika suami masuk ke neraka’atau kanca wingking (sahabat yang berada di dapur) sebagaimana unen-unen (proposisi) yang dikenal oleh orang Jawa masa kini.
Kesetaraan Gender dalam Babad Tutur Karya Mangkunegara I Christina Dwi Wardhana
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.834 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.310

Abstract

Kesetaraan gender yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan di berbagai media, ternyata tidak cukup dipahami hanya pada dibukanya kesempatan kepada kaum wanita, melainkan masih menyisakan banyak masalah gender, antara lain karena tidak dipraktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rumah sampai di tempat kerja maupun di tempat-tempat umum. Kita baru sampai mengetahui bahwa gender terdiri dari jenis kelamin perempuan dan jenis kelamin laki-laki.  Di balik soal kedua jenis kelamin ternyata ada yang perlu kita pahami bahwa terdapat masalah yang serius, yaitu posisi antara mereka ternyata tidak sejajar, melainkan laki-laki di atas, perempuan di bawah, atau yang disebut sebagai hierarki gender. Hal yang paling mendasar soal posisi hierarki tersebut dapat kita lihat dalam rumah tangga, laki-laki di depan sebagai kepala keluarga, sementara perempuan dibelakangnya. Alasan tentang posisi atas-bawah atau yang disebut hierarki gender juga disertai dengan menempatkan pencitraan tentang maskulin dan feminim; menjadi laki-laki itu harus begini dan menjadi perempuan itu harus begitu. Oleh karena itu, ketika dalam dunia kerja, laki-laki menjadi bos, maka di bawahnya perempuan menjadi sekretaris. Ketika laki-laki menjadi pilot, maka di bawahnya perempuan hanya sampai pada pramugari. Laki-laki harus dalam posisi di atas yaitu memimpin, mengambil keputusan, sementara perempuan harus dalam posisi di bawahnya, mengikuti apa yang telah diatur. Hierarki gender tersebut telah berlangsung berabad-abad dan tampaknya konstruksi social-budaya ini belum akan sepenuhnya berubah.
Pengertian dan Skenario Perempuan dalam Beberapa Teks Tradisional Melayu Nooriah Mohamed
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.578 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.315

Abstract

Dalam tradisi masyarakat Melayu, kelompok wanita lebih dikenal sebagai perempuan berdasarkan  jantina, kedudukan  dan peran yang dimainkan. Justru itu terdapat label seperti gadis sunti,gadis pingitan, anak dara tua, isteri, balu, janda dan nenek. Sejak dilahirkan sudah dikenal sebagai orang dapur sebagai cerminan bahwa perempuan tidak lepas dari tanggung jawab yang berperanan penting sebagai ibu dalam rumah tangga. Sejajar dengan ini, perempuan dalam konotasi Melayu lebih dikaitkan dengan ejaan perempuan dalam tulisan Jawi (Arab) yaitu pa, ra, mim, pa, wau dan nun. Semua aksara ini membawa makna yang signifikan tentang bagaimana seorang perempuan harus menampilkan diri sebagai  perempuan Melayu muslim seperti  yang terungkap dalam Syair Siti Sianah dan Syair Seligi Tajam Bertimbal. Beberapa contoh tokoh turut dipaparkan seperti tokoh Tun Fatimah (isteri Sultan Mahmud yang meninggal di Kampar setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis) seperti  yang terdapat dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah. Sifat negatif perempuan Melayu turut ditampilkan juga seperti yang terdapat dalam Hikayat Abdullah.
Ken Tambuhan: Perempuan Tertindas Dewaki Kramadibrata
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.621 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.311

Abstract

Tulisan ini membahas penggambaran tokoh dalam Syair Ken Tambuhan, sebuah syair yang digubah pada abad ke-19. Syair Ken Tambuhan termasuk salah satu syair yang populer karena berisi kisah cinta antara Ken Tambuhan dan Raden Menteri. Pembahasan berfokus kepada penggambaran tokoh Ken Tambuhan, Permaisuri, Raden Menteri, dan Raja Kuripan yang berperan dalam cerita.
Demitifikasi Ideologi Gender dalam Dua Teks Bhudistis dalam Sastra Bali Tradisional I Dewa Gede Windhu Sancaya; Cokorda Istri Sukrawati
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.158 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.313

Abstract

Sastra dan agama di Bali memiliki kaitan yang sangat erat. Dalam beberapa hal kedua kata tersebut justru sering digunakan secara bersama-sama, yaitu sastra-agama. Dalam hubungannya dengan agama, teks-teks sastra berbahasa Bali dapat diklasifikasikan menjadi: (1) Teks-teks Siwaistis, (2) Teks-teks Siwa-Bhudistis, (3) Teks-teks Budhistis, dan (4) Teks-teks Islamis. Secara kuantitatif teks-teks Bhudistis tidak terlalu banyak ditemukan dalam sastra Bali. Ada dua teks sastra Bali yang secara eksplisit menyebutkan dirinya sebagai teks Bhudistis, yaitu Geguritan Brayut dan Geguritan Chandrabanu. Yang menarik dan berbeda dari kedua teks tersebut adalah keduanya memberikan peran yang sangat penting (sentral) terhadap wanita di dalamnya, dan sekaligus sebagai tokoh utamanya, yaitu tokoh Men Brayut dalam Geguritan Brayut dan tokoh Dyah Somawati dalam Geguritan Chandrabanu. Kedua tokoh tersebut telah mendemitifikasi ideologi gender yang banyak mewarnai teks-teks Bali tradisional.

Page 1 of 1 | Total Record : 5