cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285272790459
Journal Mail Official
fuaduna.uinbukittinggi@gmail.com
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Fuaduna: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan
ISSN : 26148137     EISSN : 26148129     DOI : http://dx.doi.org/10.30983/fuaduna
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan is a peer-reviewed journal which is published by Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi in collaboration with Himpunan Peminat Ilmu-Ilmu Ushuluddin (HIPIUS) and publishes biannually in June and December. It focuses mainly on the related issues to Quran and Hadits, Islamic philosophy and thoughts, culture and social studies, Islamic history studies, and dakwah and communications studies. JURNAL FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakat published at first Vol. 1, No. 1, 2017 biannually in in June and December. Reviewers will review any submitted paper. Review process employs a double-blind review, which means that both the reviewer and author identities are concealed from the reviewers, and vice versa.
Articles 194 Documents
Sufism in the Perspective of Ibn Khaldun and Ibn Taimiyah: A Comparative Study Effendi, Rahmat
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i1.4098

Abstract

The discourse of Sufism in contemporary period has been widely practiced. Even so, Sufism which is understood by Muslims there is disorientation in understanding it, especially as a result of the influence of Ibn Taimiyah and Ibn Khaldun. With a theological-rationalist approach, both have criticized and reconstructed Sufism teachings at a level that is acceptable to Muslims. Both also explain the meaning of Sufism as far as they can reach. This article examines the comparative discourse on the concept of Sufism between Ibn Taimiyah and Ibn Khaldun. This research is library research using descriptive-analytical and comparative methods. Their thoughts on Sufism were dissected in depth which was then compared to find common ground for similarities and differences. The Sufism paradigm put forward by Ibn Taimiyah and Ibn Khaldun provides an overview at the theoretical and practical levels that can be explained rationally. That way Muslims are not polarized in understanding Sufism which seems to love the afterlife and leave the world. Finally, this research shows that Sufism can be practiced by Muslims in their respective capacities.  Wacana tasawuf pada masa kontemporer saat ini telah marak dilakukan. Meskipun begitu tasawuf yang dipahami oleh umat Islam terdapat disorientasi dalam memahaminya, terutama akibat dari pengaruh Ibn Taimiyah dan Ibn Khaldun. Dengan pendekatan teologis-rasionalis keduanya telah melakukan kritik dan rekonstruksi ajaran tasawuf dalam tataran yang dapat diterima oleh umat Islam. Keduanya juga menjelaskan makna tasawuf sejauh yang dapat mereka jangkau. Artikel ini mengkaji diskursus perbandingan konsep tasawuf antara Ibn Taimiyah dan Ibn Khaldun. Penelitian ini adalah studi pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan komparasi. Pemikiran keduanya atas tasawuf dibedah secara dalam yang kemudian dikomparasikan guna menemukan titik temu persamaan dan perbedaannya. Paradigma tasawuf yang dikemukakan oleh Ibn Taimiyah dan Ibn Khaldun memberikan gambaran dalam tataran teoritis dan praktis yang dapat dijelaskan secara rasional. Dengan begitu umat Islam tidak terpolarisasi dalam memahami tasawuf yang terkesan cinta akhirat dan meninggalkan dunia. Akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa tasawuf pada dasarnya dapat dipraktikkan oleh umat Islam dalam kapasitasnya masing-masing.
The Divinity Cosmological Model of Ibn al-'Arabi: The Relations between Mystical and Logic Taufiqurrahman, Taufiqurrahman
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i1.4164

Abstract

This article analyzes the cosmological model of the divinity of Ibn al-‘Arabi based on relations between mystical and logic. This research is a literature review with a descriptive analytics method. In this case, it reveals and describes as it is Ibn al-‘Arabi’s cosmological model of the divine, then analyzed and interpreted to obtain the proper data. This research finds that Ibn al-‘Arabi’s cosmological model of divine relevant to the times and is a thought that brings humans to the ‘presence’ of God. Ibn al-‘Arabi’s cosmological model of the divine is not only transcendental theological but also mysticism in character. This study is important since it reveals much deeper about the cosmological model of the divinity of Ibn al-‘Arabi. Although research on Ibn al-‘Arabi has been widely carried out including on Ibn al-‘Arabi’s divine cosmology, however, re-examining the model contained in Ibn al-‘Arabi’s divine cosmology has the potential to rediscover new reinterpretations, so that this research can be used as a foundation in the study of Islamic thought. Artikel ini menganalisis tentang model kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi yang berpijak pada jalinan antara mistis dan nalar. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan, dengan metode deskriptif analitis. Dalam hal ini mengungkapkan dan menggambarkan secara apa adanya tentang model kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan interpretasi sehingga ditemukan data yang diinginkan. Penelitian ini menemukan bahwa model kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi masih dan sangat relevan dengan zaman serta merupakan pemikiran yang membawa manusia akan ‘kehadiran’ Tuhan. Sebab model kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi tidak hanya bersifat teologis transendental semata, melainkan juga bercorak tasawuf. Penelitian ini penting karena menguak tentang model kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi secara mendalam. Walaupun penelitian tentang Ibn al-‘Arabi telah banyak dilakukan termasuk tentang kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi, namun meneliti kembali model yang terkandung dalam kosmologi ketuhanan Ibn al-‘Arabi berpotensi menemukan kembali reinterpretasi baru, sehingga penelitian ini dapat dijadikan landasan dalam kajian pemikiran Islam.
The Resistance of Conservative Islamic Organizations on the Development of Regional Tourism in Madura Hannan, Abd
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i1.4198

Abstract

This study examines the resistance behavior of conservative Islamic organizations to regional tourism development in Madura, especially entertainment-based tourism. There are three research questions in this study: how is the reality of conservative Islamic organizations in Madura to the religious dynamics of the local community? How is the existence of conservative Islamic organizations to the dynamics of tourism development in Madura? How is the resistance of conservative Islamic organizations towards tourism development in Madura? Qualitative data were collected through observation, interview, and literatures study. The findings show: First, the conservativism values of Islamic organizations in Madura were born and spread widely from local traditions and religions; Second, the tradition of conservatism of Islamic organizations in Madura seen in several Islamic organizations, mainly right-wing Islamic organizations such as AUMA, FKM, and GUIP; Third, the conservatism of Islamic organizations in Madura is related to their resistant behavior towards tourism development in Madura, which reflect in their thinking and religious paradigms which tend to be traditionalist, puritanical, and reactionary. They use anarchism approaches that lead to violence, for instance burning the Bukit Bintang tourist site in Pamekasan Regency. Studi ini mengkaji perilaku resisten Ormas Islam konservatif terhadap pembangunan pariwisata daerah di Madura, khususnya pariwisata berbasis hiburan. Terdapat tiga pertanyaan penelitian pada studi ini: bagaimana realitas Ormas Islam konservatif di Madura dalam dinamika keagamaan masyarakat setempat? Bagaimana eksistensi Ormas Islam konservatif dalam dinamika pembangunan pariwisata di Madura? Bagaimana resistensi Ormas Islam konservatif terhadap pembangunan pariwisata di Madura? Kualitatif data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Temuan studi ini menunjukan: Pertama, nilai-nilai konservatisme Ormas Islam di Madura lahir dan menyebar luas dari tradisi dan keagamaan lokal; Kedua, tradisi konservatisme Ormas Islam di Madura dapat ditemukan di sejumlah Ormas Islam, terutama Ormas Islam yang secara ideologi berhaluan kanan seperti AUMA, FKM, dan GUIP; Ketiga, konservatisme Ormas Islam di Madura terkait perilaku resisten mereka terhadap pembangunan pariwisata di Madura, tergambar pada paradigma berpikir dan keagamaan mereka yang cenderung tradisionalis, puritan, dan reaksioner. Mereka menggunakan pendekatan anarkisme sehingga berujung pada tindak kekerasan seperti pada kasus pembakaran lokasi wisata Bukit Bintang di Kabupaten Pamekasan.
Islamic Hegemony in Forming Religious Attitudes: Study of Majority and Minority Islam in Southeast Asia Alwi Almanduri, Moh Bashori
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.5011

Abstract

This article critically examines why the dualism of the Islamic model occurs in Southeast Asia. This article uses a historical approach with the literature method to identify how is the map of the distribution of majority and minority Islam in Southeast Asia, what causes the dualism of the Islamic model in Southeast Asia, and how the minority model occurs in the minority Islamic countries. The results show that Islamic syncretism in the archipelago is a logical consequence of the complicated process of struggling religious reflection. His entity also received many challenges from local Indigenous. The majority of Islam is largely determined by the success of harmonizing Islam with political, social and cultural conditions. On the other hand, poor harmonization with the rulers, military invasion, and colonialism cause Muslim minorities. Islamic minority models can be classified into three parts: First, Separatists, such as the Moro Philippines Muslim Separatist movement. Second, accommodating Pattani Muslims in Thailand and Singapore. Third, Genocide happened to Rohingya Muslims in Burma and Khmer Muslims in Cambodia. Furthermore, research on each minority model can be carried out further to enrich the treasures of Islamic studies in Southeast Asia.Artikel ini menelaah secara kritis mengapa terjadi dualisme model Islam di Asia Tenggara. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dengan metode kepustakaan akan mengidentifikasi: Bagaimana peta persebaran Islam mayoritas dan minoritas di Asia Tenggara, apa yang menyebabkan dualisme model Islam di Asia Tenggara, dan bagaimana model keminoritasan yang terjadi pada negara-negara Islam minoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sinkretisme Islam di Nusantara merupakan konsekuensi logis dari proses pergulatan refleksi keagamaan yang rumit. Entitasnya pun banyak mendapatkan tantangan dari Indigeneous lokal. Islam mayoritas sangat ditentukan oleh keberhasilan harmonisasi Islam dengan kondisi politik, sosial, dan budaya. Sebaliknya harmonisasi yang kurang baik dengan penguasa, invasi militer, dan kolonialisme menjadi faktor penyebab minoritas Islam. Model-model minoritas Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian: Pertama, Separatis, seperti gerakan Separatis Muslim Moro Philipina. Kedua, Akomodatif, muslim Pattani di Thailand dan Singapura. Ketiga, Genosida, terjadi kepada muslim Rohingya di Burma dan Muslim Khmer di Kamboja. Selanjutnya penelitian terhadap masing-masing model minoritas bisa dilakukan untuk semakin memperkaya khazanah studi Islam di Asia Tenggara.