cover
Contact Name
Laila Indriyanti Fitria
Contact Email
lindriyantif@gmail.com
Phone
+6285347334645
Journal Mail Official
lindriyantif@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pulomas Selatan Kav. 23 Jakarta Timur 13210
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Published by Universitas Jayabaya
ISSN : 20877048     EISSN : 29640563     DOI : -
Jurnal Alternatif adalah Jurnal yang dikelola dan diterbitkan oleh jurnal yang diterbitkan Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jayabaya, DKI Jakarta, Indonesia. Jurnal ini menyediakan ruang atau wadah bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk berinteraksi dan menyajikan artikel hasil penelitian. Setiap manuskrip yang dikirimkan akan ditinjau oleh reviewer atau peninjau. Proses review dilakukan dengan double-blind review, dimana reviewer tidak mengetahui identitas penulis, dan begitupun sebaliknya, penulis tidak mengetahui identitas reviewer. Artikel-artikel hasil penelitian pada jurnal ini bersifat open access (akses terbuka). Dengan demikian, seluruh artikel dapat diakses oleh siapapun dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan berdasarkan kode etik. Artikel-artikel pada jurnal ini difokuskan pada bidang Foreign Policy, Conflict Resolution, Security Studies, International Political Economy, Regionalism, Regimes, Gender and International Relations, International Organization & Non-International Organization, Diplomacy, Media- Environmental and Climate Change Issue
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 30 Documents
Peran Indonesia dalam Keketuaan ASEAN 2023: Perspektif Konstruktivisme Sinta Julina
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research background is that in the era of a world full of challenges due to the Covid-19 pandemic, Indonesia is optimistic about taking on the duties of the 2023 ASEAN Chair. As Chair of ASEAN 2023, Indonesia certainly has an important role. Therefore, the author is interested in examining Indonesia 's role in the 2023 ASEAN Chair using a Constructivism Perspective. The purpose of this study is to examine and explain Indonesia's role in the 2023 ASEAN Chair using a Constructivism Perspective. To apply the research results, the authors use a descriptive research type. Data collection methods are document-based methods (document-based research) or internet-based methods (internet-based research). In this document-based or internet-based study, data and information are collected and analyzed to understand the phenomenon being studied. The data analysis method is qualitative. Based on the analysis, the results of the study show that the Constructivism Perspective identifies Indonesia's role in the Chair of ASEAN 2023 as a strategic role as a motor for peace, prosperity, regional architectural leaders by incorporating factors or elements of identity, understanding regarding collective identity and the interests of ASEAN not only the interests of Indonesia, providing benefits to regional and global community and make the ASEAN region a world's engine of sustainable growth.
Enhancing Cross-Cultural Understanding Among ASEAN Youth Muhammad Rizky Andis Rafaldhanis; Yunita Fajarani; Arya Dimas Kartanapura
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASEAN is known for its diverse cultural heritage, containing many languages, traditions and customs. In this region, intercultural understanding among ASEAN youth is very important because it can promote harmony, cooperation and mutual respect among member countries. This article examines the effectiveness of programs that promote intercultural understanding among ASEAN youth. Important programs such as student exchange programmes, intercultural dialogue and cultural festivals are powerful tools for bridging gaps and strengthening intercultural understanding. Discussions and meetings of young people from various ASEAN countries give them the opportunity to exchange opinions, find solutions and understand different cultural perspectives. Digital platforms and social media play an important role in facilitating intercultural interactions. There are several recommendations to increase intercultural understanding among ASEAN youth that can be implemented in various ways that are inclusive and sustainable, namely integrating intercultural education into the formal curriculum, expanding exchange programs, and using digital technology for virtual interactions. One of the initiatives that represent this is ASCC (ASEAN Socio-Cultural Community), a platform for development in various areas of life such as education, sports, health, social and women's issues, and AYC (ASEAN Youth Cultural Forum). ), an annual event that brings together young people from across the ASEAN region to promote cultural understanding and cooperation. The forum serves as a forum for young people to discuss, share experiences and present their own culture. By implementing these strategies, ASEAN countries can foster mutual respect, cooperation and solidarity among ASEAN's younger generation.
Diplomasi Publik China dalam Memperbaiki Citra di Masa Pandemi Virus COVID-19 Nina Widyaswasti Aisha
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa pandemi virus Covid-19, China dikaitkan sebagai sumber dan penyebab penyebaran virus Covid-19, tuduhan tersebut kemudian merusak citra negara China dalam lingkup global. Rusaknya citra negara China berdampak pada kepentingan China dalam ranah global. Penelitian ini meneliti bagaimana pemerintah China melakukan praktik diplomasi publik di masa pandemi untuk memperbaiki citra China dalam ranah global. Penelitian ini menggunakan menggunakan teori diplomasi publik dan narasi strategis. Penelitian ini menemukan bahwa praktik diplomasi publik yang dilakukan oleh China di masa pandemi virus Covid-19 untuk memperbaiki citra dilakukan dengan menggunakan dua instrumen yaitu bantuan ekonomi sebagai hard power, dan vaksin serta alat kesehatan sebagai soft power. Pemberian bantuan tersebut merupakan upaya membentuk citra positif China, sekaligus upaya menegasikan narasi negatif terkait China.
Peran Kelompok Teror dalam Hubungan Antar Negara-Negara Asia Tenggara Laila Indriyanti Fitria
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terrorist group has been categorized as one of the actor in international relations. The rise of Uighur terrorist in the 2017 adds a new dimension to the threat from terrorism in Southeast Asia, as argued by Singh (2016) and Soliev (2017). Their existence in Southeast Asia hampers the relations between Southeast Asia countries with China. The Uighurs are minor Muslim ethnic residing in Western part of China which resort to violence and terror since 1992 due to extreme repression from Chinese government. Failure to break government’s oppression, they transforms themselves from local terrorist group to sep up international network. This paper identiefies the spread of Uighur terrorist network from China to Indonesia and their intention of coming to Indonesia. Focusing on the extremist Uighur group, this research identifies the threat that Indonesia’s government facing in the future when these Uighurs came to Indonesia claiming themselves as asylum seeker. Key Word : Uighur; East Turkestan Islamic Movement (ETIM); Political Repression; Southeast Asia Terrorism;
Resolusi Sengketa Teritorial Pulau Sipadan dan Ligitan Antara Indonesia dan Malaysia: Analisis Dinamika Politik Laras Destriana
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sengketa teritorial Pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mencerminkan kompleksitas hubungan internasional di Asia Tenggara yang berakar pada warisan kolonial serta lemahnya pengeasan batas kedaulatan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penyelesaian sengketa tersebut melalui perspektif International Dispute Settlement Theory J.G. Merrills (1984,2011), yang menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui jalur hukum, diplomasi dan arbitrase internasional sebagai instrumen utama menjaga perdamaian global. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur, pwnwlitian ii menelaah sumber akademik, putusan Mahkamah Internasional (ICJ) serta peran ASEAN dalam memfasilitasi stabilitas regional. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemenganan malaysia di Mahkamah Internasional tahun 2002 (ICJ) didasarkan pada prinsip effectivite atau penguasaan efektif, sedangkan klaim Indonesia berdasarkan uti possidetis juris kurang didukung bukti administratif dan historis konkret. Hal ini menegaskan bahwa penguasaan nyata dilapangan menjadi faktor penentu dalam penyelesaian sengketa teritorial. Selain itu, penelitin ini menemukan bahwa peran ASEAN masih terbatas pada aspek normatif dan diplomatik tanpa memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Kelemahan diplomasi yuridis dan kurangnya penguasaan efektif menyebabkan Indonesia kehilangan posisi strategis, sehingga penguatan kapasitas hukum mempertahankan kedaulatan wilayah di masa depan, dan penguatan kapasitas hukum internasional, diplomasi maritim, dan koordinasi antar lembaga nasional menjadi kunci mempertahankan kedaulatan dan stabilitas kawasan.
GRAND ETHIOPIAN RENAISSANCE DAM (GERD) SEBAGAI ISU STRATEGISl HUMAN SECURITY DI SUNGAI NIL Ira Wulandari; Mohammed Ghariza Abiyyu Zahran; Muhammad Raihan Irsyad; Yulia Rimapradesi
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Sungai Nil telah memicu dinamika geopolitik dan sosial yang signifikan di kawasan Afrika Timur Laut. Ketergantungan Mesir terhadap Sungai Nil menjadikan proyek ini sebagai isu strategis yang menyentuh dimensi keamanan manusia (human security), terutama terkait ketahanan pangan, ekonomi, dan lingkungan masyarakat di sepanjang aliran sungai. Sementara bagi Ethiopia, GERD melambangkan kemandirian ekonomi dan kebangkitan nasional melalui pemanfaatan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembangunan GERD memengaruhi stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Sungai Nil dari perspektif human security. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan, menggunakan data sekunder dari jurnal ilmiah, laporan lembaga internasional, dan dokumen kebijakan mengenai pengelolaan sumber daya air lintas batas. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menelusuri keterkaitan antara proyek GERD dan aspek-aspek human security, seperti ketahanan pangan, ekonomi, sosial, dan lingkungan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa GERD memiliki implikasi ganda: sebagai peluang kerja sama regional dan sekaligus sumber ketegangan geopolitik akibat ketimpangan persepsi dan akses terhadap sumber daya air. Kerja sama berbasis kepercayaan dan transparansi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di Lembah Sungai Nil.
Intelijen Keamanan Polri Dalam Pengendalian Mobilitas Global: Gagasan Model Intelijen Migrasi Berbasis Kepolisian Saifan Nadhir; Ojesa Wileta Panggabean
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mobilitas global yang terus meningkat telah menciptakan tantangan baru bagi keamanan nasional, khususnya dalam pengendalian pergerakan orang asing yang berpotensi membawa ancaman kejahatan transnasional. Intelijen kepolisian (police intelligence) sebagai instrumen deteksi dini memiliki peran strategis dalam manajemen migrasi berbasis risiko (risk-based migration management). Kajian ini menganalisis peran Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri dalam pengendalian mobilitas global dengan pendekatan intelligence-led policing (ILP), mengintegrasikan kerangka yuridis nasional dan perbandingan sistem internasional. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dan komparatif, dengan bahan hukum dari regulasi nasional, konvensi internasional, serta data empiris kasus kejahatan berbasis migrasi di Indonesia. Temuan menunjukkan adanya kesenjangan (gap) signifikan antara kewenangan intelijen kepolisian Indonesia dengan kebutuhan pengendalian mobilitas global yang kian kompleks, terutama dalam aspek integrasi data lintas lembaga, pertukaran intelijen internasional, dan adaptasi teknologi. Tulisan ini menawarkan kebaruan konseptual berupa model "Intelijen Migrasi Berbasis Kepolisian" (Police-Based Migration Intelligence) sebagai rekomendasi kebijakan untuk memperkuat posisi Intelkam Polri dalam ekosistem keamanan nasional yang responsif terhadap dinamika mobilitas global.
IMPACT OF IRAN’S CLOSURE AT STRAIT HORMUZ ON UNITED STATE’S SECURITY INTERESTS Rafa Satya Lanange Hermawan; Siti Fasya Nur Fadhilah; Rizqi Aufa Prawira; Hendra Maujana Saragih
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Iran’s potential closure of the Strait of Hormuz represents a complex strategic issue because it involves not only regional tensions in the Gulf but also energy security, global economic stability, and the national security interests of the United States. As one of the world’s most vital oil transit routes, any disruption in the Strait of Hormuz may trigger rising oil prices, disrupt global supply chains, and intensify geopolitical confrontation. This study aims to analyze how Iran’s strategy of closing the Strait of Hormuz affects the security dynamics of the United States. The research employs a descriptive qualitative method based on library research, drawing on academic literature, policy documents, and relevant sources on Iran-United States relations in the Gulf region. The findings indicate that Iran’s threat in the Strait of Hormuz disrupts U.S. energy security, encourages the United States to increase its military presence in the Gulf through naval patrols and regional security cooperation, and enhances Iran’s geopolitical bargaining position against the United States. Therefore, the Strait of Hormuz functions as a strategic instrument used by Iran to exert political, economic, and military pressure on the United States.
PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI INSTRUMEN DIPLOMASI AUSTRALIA DI KAWASAN PASIFIK Qoniatul Khasanah Sahidin
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana perubahan iklim dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi oleh Australia di kawasan Pasifik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kerangka diplomasi iklim, penelitian ini menganalisis strategi Australia dalam membangun pengaruh melalui bantuan iklim, kemitraan regional, dan pendekatan normatif. Data diperoleh dari dokumen kebijakan, laporan organisasi internasional, serta literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diplomasi iklim memperkuat posisi soft power Australia sekaligus merespons dinamika geopolitik, khususnya dalam menghadapi pengaruh Tiongkok. Namun, efektivitasnya sering terhambat oleh ketidaksesuaian antara kebijakan luar negeri dan domestik serta polarisasi politik dalam negeri. Negara-negara Pasifik menunjukkan sikap ambivalen—mengapresiasi dukungan Australia, namun juga mengkritik ketergantungannya pada energi fosil. Artikel ini menyimpulkan bahwa efektivitas diplomasi iklim Australia bergantung pada kemampuannya menyelaraskan tindakan domestik dengan ekspektasi internasional, untuk menjaga kredibilitas dan kepemimpinan regional yang berkelanjutan.
The United Nations Role in Managing International Conflicts : A Case Study of East Timor Rima Fauziah Ramadhani
Jurnal Alternatif - Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Alternatif : Jurnal Ilmu Hubungan Internasional
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

After the human rights violations that occurred in Dili (1991) and in the city of Liquica (1999), the União Democrática Timorense (UDT) and FRETILIN united to form the Council for Timorese National Resistance (CNRT) with the goal of continuing their struggle to achieve full independence, with Xanana Gusmão as its president. In May 1998, the fall of the Soeharto regime and the drastic political changes in Indonesia opened the door for international negotiations between Portugal, the United Nations, and Indonesia, allowing a referendum to be held for the people of East Timor, to decide whether they preferred autonomy or independence from Indonesia. International NGOs such as the East Timor Action Network (ETAN), the Catholic Church, and members of FRETILIN living in exile continued to raise the issue of East Timor’s independence. The proposal for East Timor’s independence gained international sympathy, primarily due to Indonesia’s illegal occupation in 1976 and the human rights violations, which were seen as leading to genocide.

Page 3 of 3 | Total Record : 30