cover
Contact Name
Cahaya Rosyidan
Contact Email
cahayarosyidan@trisakti.ac.id
Phone
+6281916319569
Journal Mail Official
jurnal_petro@trisakti.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Gedung D, Lt.4, Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 19070438     EISSN : 26147297     DOI : https://doi.org/10.25105/petro.v11i2.14060
The PETRO Journal is all about the upstream oil and downstream oil and gas industry. Upstream studies focus on production technology, drilling technology, petrophysics, reservoir study, and eor study. Downstream technology focuses on the oil process, managing surface equipment, geothermal, and economic forecast.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER" : 8 Documents clear
EVALUASI PERMASALAHAN GAS INTERFERENCE PADA ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP DI SUMUR MD-17 Hermawan, Bagus Danial; Welayaturromadhona, Welayaturromadhona; Saputri, Eriska Eklezia Dwi; Sari, Riska Laksmita; Abror, Hadziqul
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.16743

Abstract

Natural flow can not be performed in the reservoir from the MD-17 well. The most likely reason is because it is classified as a mature well, so an Artificial Lift is needed. The artificial lifting mechanism used is the Electrical Submersible Pump. In this research, the writer analyze the problem of "Gassy" condition or interference. The MD-17 well problem shows that the free gas in this well is 245.213 mscf. Moreover, the amount of free gas that enters the Pump is 8%. From these problems, it causes ESP become disrupted and not produce optimally. The solution to the gas interference problem at the MD-17 Well is the bleed off method and using Advance Gas Handling. The first method is with bleed off method for improve ESP performance so that production will be stable. Then the second method of handling gas interference is by using Advance Gas Handling. From the data analysis and calculation with the formula for AGH, it can produce efficiency in dealing with Gas Interference, so can produce 64.4 mscf of gas from Pump Intake and then can increasing production.
ANALYSIS THE EFFECT OF CONCENTRATION AND TEMPERATURE OF BAGASSE AS LOST CIRCULATION MATERIAL (LCM) ON DRILLING MUD RHEOLOGY Khalid, Idham; Trisa, Wulan; Novrianti, Novrianti; Novriansyah, Adi
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.16869

Abstract

Lumpur pemboran merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam suatu operasi pemboran..Permasalahan yang sering muncul dalam sirkulasi lumpur pemboran salah satunya berupa lost circulation. Untuk menanggulangi permasalahan lost circulation maka perlu ditambahkan LCM..Penelitian ini menggunakan ampas tebu sebagai bahan LCM. Ampas tebu memiliki kandungan karbon yang tinggi berupa selulosa sebesar 26-43% dan hemiselulosa sebesar 17- 23%. Penambahan ampas tebu kedalam lumpur standar dengan massa additive 1, 1,5 , 2 dan 2,5 gr kemudian di mixer selanjutnya lumpur tesebut dipanaskan dengan temperatur 80oF dan 140oF. Berdasarkan hasil penelitian penambahan ampas tebu pada lumpur pemboran yang digunakan sebagai loss circulation material (LCM) dengan konsentrasi dan temperatur tertentu dikatakan efektif untuk mencegah terjadinya permasalahan loss circulation. Dari hasil pengujian rheology lumpur pemboran yaitu densitas, viskositas, plastic viscosity, yield point, dan gel strength dengan penambahan massa additive ampas tebu dapat meningkatkan nilai rheology lumpur pemboran, namun seiring dengan kenaikan temperatur hingga 140oF mengakibatkan penurunan nilai rheology lumpur. Hasil pengujian filtration loss semakin banyak penambahan massa additive dan semakin tinggi temperatur maka nilai filtration loss akan menurun sedangkan pada pengujian mud cake dengan penambahan massa additive dan kenaikan temperatur mengakibatkan nilai mud cake semakin bertambah
ANALISIS PERFORMA DIAMOND BIT DAN CONE BIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPECIFIC ENERGY DI LAPANGAN JS SUMUR P2 DAN Q5 PT. PERTAMINA ASSET 3 Hasbullah, Andrea; Bungasalu, Benny Abraham; Mulyadi, Mulyadi
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17095

Abstract

The JS field in the North West Java Basin consists of 6 formations, namely Jatibarang, Talang Akar, Baturaja, Upper Cibulakan, Parigi, Cisubuh formations. The formation that is proven to have the potential to develop is the Middle Cibulakan formation. The formations have different hardness characteristics and certainly require different bits to penetrate the specified formation.From these indications, the performance of the drill bits used in the JS field will be analyzed, namely the P2 and Q5 wells. In the P2 well, the performance of the Diamond Bit drill bit at a depth of 0-2500 ft is analyzed. While the Q5 well uses a Roller Cone Bit drill bit at a depth of 0-3000ft. The method used is Specific energy.From the bit performance analysis, the rocks penetrated are from the softest, medium to hard. For Diamond Bit on runs 1-2 show a low value because the penetrated formation is still soft, on runs 3-5 begin to show an increase in SE value because the formation is medium. And on runs 6-8 show a high value because the formation has started to hard. As for the Roller Cone Bit in runs 1-2 shows a low value because the formation is relatively soft, there is an increase in runs 3-5 although there is a decrease in the 4th run due to formation incompactness. However, the 6-8 runs show an increase again because the penetrated formation is classified as hard. So it can be concluded that the rock formation factor can affect the performance of the drill bit.
EVALUASI KINERJA FIN-FAN COOLER E-0101 DI GAS SEPARATION UNIT CENTRAL PROCESSING PLANT GUNDIH Setiyono, Agus; Nisa, Yunika Afty Khoirotun
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17234

Abstract

Fin-fan cooler E-0101 pada Central Processing Plant Gundih merupakan alat penukar panas dengan menggunakan media pendingin berupa udara. Alat ini berfungsi untuk mendinginkan feed gas sebelum dialirkan ke unit AGRU. Fin-fan cooler E-0101 yang berada pada Gas Separation Unit beroperasi selama 24 jam dan digunakan sejak tahun 2013. Penelitian ini dilakukan karena alat tersebut telah beroperasi lama sehingga diperlukan evaluasi untuk mengetahui kerak maupun deposit yang terdapat didalam tube nya. Berdasarkan hasil evaluasi fouling factor didapatkan hasil sebesar 0,32 hr.ft.°F/Btu, dimana nilai tersebut melebihi batas data desainnya yakni sebesar 0,0011 hr.ft.°F/Btu. Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan secara berkala untuk menjaga kinerja fin-fan cooler E-0101 agar beroperasi secara maksimal.
STUDI LABORATORIUM INJEKSI SURFAKTAN ABS DENGAN KONSENTRASI RENDAH PADA BATUAN BAREA SANDSTONE Suparmanto, Albert Kalasnikova; Pauhesti; Satiawati, Listiana; Samsol; Pramadika, havidh
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17300

Abstract

Seiring perkembangan waktu, produksi minyak akan semakin menipis. Mengingat cadangan minyak yang terbatas sehingga diperlukan metode tahap lanjut, yang disebut tertiary oil recovery, dimana tahap ini termasuk metode Enhanced Oil Recovery. Pada penelitian di laboratorium EOR menggunakan satu larutan surfaktan, yaitu surfaktan ABS (Alkyl Benzene Sulfonate) dengan variasi konsentrasi 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; dan 1 % dengan salinitas 10.000 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa efektif surfaktan ABS dalam injeksi kimia. Penginjeksian surfaktan ABS dilakukan agar meningkatkan hasil produksi minyak pada reservoir. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan agar surfaktan ABS dinyatakan efektif dalam penyapuan minyak, diantaranya ada uji kompatibel, uji densitas, uji kelakuan fasa, uji interfacial tension, dan uji core flooding. Penggunaan surfaktan bertujuan untuk menurunkan tegangan antar muka sehingga dilakukan IFT test. Pada pengukuran densitas bertujuan untuk mengetahui massa jenis larutan surfaktan ABS. Uji kelakuan fasa dilakukan untuk menentukan seberapa stabil larutan ABS, sehingga didapatkan hasil nilai IFT (interfacial tension) dari larutan surfaktan ABS ditentukan dari hasil uji kelakuan fasa yang stabil dikarenakan hal itu merupakan titik critical micelle concentration (CMC) agar mampu menurunkan tegangan antar muka dengan baik antara minyak dan air formasi didalam reservoir. Didapatkan nilai interfacial tension sebesar 0.004565 dyne/cm. Core batuan yang digunakan adalah sandstone yang telah diketahui dimensi core, bulk volume, pore volume, porosity, dan permeability. Pada saturasi minyak diinjeksikan crude oil untuk mengetahui seberapa besar Original Oil In Place. Setelah itu dilakukan proses core flooding untuk menentukan recovery factor. Pada core flooding larutan yang digunakan telah mencapai titik CMC dengan recovery factor surfaktan ABS dengan konsentrasi 0,8 %, sehingga dilakukan injeksi surfaktan diperoleh recovery factor sebesar 8,8235 % dan saat injeksi air atau waterflooding diperoleh nilai recovery factor sebesar 70,59 %. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa surfaktan ABS dengan konsentrasi 0,8% telah mencapai titik CMC dari kelima konsentrasi surfaktan, sehingga pada saat diinjeksikan surfaktan maka perolehan minyak cukup bagus
Analisis Metode Cutting Carry Index pada Lumpur KCL Menggunakan Starch dan Drispac Lubang 17-1/2” Husla, Ridha; Rangga Wastu, Apriandi Rizkina; Yasmaniar, Ghanima; Yulia, Prayang Sunny; Dio, Mario Valentino; Alimudin, Fadilah Aldo
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17373

Abstract

Pengangkatan cutting keatas permukaan merupakan salah satu fungsi dari lumpur pemboran. Properties lumpur, laju aliran, dan pola aliran dapat menunjang keberhasilan proses pengangkatan cutting tersebut. Maksud dan tujuan adalah untuk membandingkan dan menganalisis peranan polymer starch dan polymer drispac kedalam lumpur pemboran sebagai media pengangkatan cutting keatas permukaan. Metode yang telah digunakan adalah pembuatan dua sampel lumpur KCl Polymer yang mengandung starch dan drispac dengan dipengaruhi oleh temperatur. Analisa yang diteliti dari kedua sampel lumpur adalah sifat fisik dan rheology. Hasil analisa tersebut telah diuji dengan perhitungan pengangkatan cutting dengan menggunakan metode Cutting Carry Index. Keberhasilan metode tersebut dilihat dari nilai Cutting Carry Index diatas nilai 1. Hasil perhitungan pengangkatan cutting pada sampel lumpur starch memiliki nilai Cutting Carry Index sebesar 1,078 – 3,732 sedangkan sampel lumpur drispac memiliki nilai Cutting Carry Index sebesar 1,046 – 3,621. Plastik viskositas, yield point, densitas lumpur, dan laju aliran berpengaruh terhadap nilai Cutting Carry Index. Kesimpulan yang didapat adalah dari hasil pengangkatan cutting tersebut kedua sampel sudah mampu mengangkat cutting keatas permukaan dengan optimal. Sampel lumpur starch nilai Cutting Carry Index lebih besar dibandingkan dengan sampel lumpur drispac.
MENGGALI POTENSI RESERVOIR MINYAK YANG TERABAIKAN MELALUI EVALUASI THIN BEDS Putri Caesar, Athifa; Wihardjo, Lukas; Lestari; Wijanti, Puri; Kadarusman, Sunarto
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi reservoir minyak yang terabaikan melalui evaluasi thin beds. Thin beds, yang sering diabaikan dalam eksplorasi minyak, dapat menjadi sumber daya yang signifikan jika dikelola dengan baik. Metode evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan analisis petrofisika, pemodelan reservoir, dan teknik pemrosesan data seismik. Data dari sumur-sumur eksisting dan data seismik dikumpulkan dan dianalisis untuk mengidentifikasi dan karakterisasi reservoir yang potensial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang thin beds sebagai reservoir potensial dan memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi eksplorasi minyak yang lebih efektif dan efisien.
Penentuan Salinitas dan Konsentrasi Surfaktan SLS kayu cemara yang Optimum Menggunakan Metode Phase Behavior Sangari, Farrel; Fattahanisa, Aqlyna; Samsol
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v12i3.17494

Abstract

Tujuan : Dalam penelitian ini membahas mengenai variasi salinitas dan konsentrasi yang memiliki nilai optimal menggunakan metode phase behavior. Metodelogi : Pada penelitian kali ini menggunakan variasi salinitas yang beragam, yaitu 5000ppm,8000ppm,11000ppm,15000ppm dan 20000ppm. Sementara penggunaan konsentrasi sebesar 0,5%,1%,1,5% dan 2%. Langkah awal penelitian dengan membuat larutan salinitas brine dengan mencampur NaCl dengan aquadest, kemudian melakukan pembuatan konsentrasi surfaktan dengan mencampur surfaktan dengan salinitas brine. Untuk pengujian berikutnya adalah uji densitas brine dan surfaktan. Tahap berikutnya adalah pengujian aqueus stability untuk mengetahui apakah sampel surfaktan bisa masuk ketahap berikutnya dengan melihat jernih atau tidaknya. Phase behavior dapat dilakukan setelah pengujian aqueus stability. Hasil dan Pembahsan : Hasil dari aqueus stability mendapatkan hasil jernih pada semua salinitas dan konsentrasi, untuk tahap phase behavior pada salinitas 8000ppm dengan konsentrasi 2% memiliki nilai emulsi yang lebih besar dibandingan dengan sampel surfaktan yang lain. Kesimpulan : Adanya emulsi yang terjadi pada salinitas 8000ppm dengan konsentrasi surfaktan 2% membuktian bahwa semakin besar salinitas tidak menjamin emulsi akan semakin besar.

Page 1 of 1 | Total Record : 8