cover
Contact Name
Rizki F. Madina
Contact Email
rizki.fm@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
agora_ars@trisakti.ac.id
Editorial Address
Gedung C, Kampus A Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.1 A, RT.5/RW.9, Tomang, Kec. Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
AGORA : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 14119722     EISSN : 2622500X     DOI : https://doi.org/10.25105/agora
Core Subject : Engineering,
AGORA : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti merupakan ajang komunikasi segenap masyarakat arsitektur untuk melontarkan pandangan dan pemikiran ilmiah tentang berbagai aspek arsitektur. Agora: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti dikelola oleh Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik SIpil dan Perencanaan universitak Trisakti. AGORA memuat berbagai karya ilmiah arsitektur dalam keluasan spektrumnya baik menyangkut teori, kritik, sejarah, teknologi bangunan, industri, etika, praktek profesi, pendidikan maupun teknologi informasi dan komunikasi. AGORA merupakan media untuk membangun pemahaman mendalam tentang arsitektur melalui telaah kritis aspek-aspek arsitektur, baik fisik maupun non-fisik pada skala mikro elemen bangunan sampai pada skala makro kawasan perkotaan dan regional. Telaah kritis dalam bentuk artikel, yang memuat ide orisinil dan disajikan dalam tulisan terorganisir yang bermuatan argumentasi ilmiah (analitis, sistematis, logis, serta akurat), merupakan ciri khas AGORA sebagai jurnal ilmiah arsitektur. Dewan redaksi menerima sumbangan artikel terpilih di bidang arsitektur untuk dimuat di AGORA. Artikel yang dimuat akan diedit seperlunya tanpa menghilangkan inti dan pesan tulisan yang disampaikan. Publikasi tulisan dalam AGORA dilakukan setelah melalui penilaian dan pemilihan dewan redaksi dan mitra bestari (peer reviewer) yang ditunjuk oleh dewan redaksi. AGORA diterbitkan dua kali dalam satu tahun pada bulan Juli dan Desember. Artikel yang diterbitkan bulan Juli harus diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan Maret, dan untuk bulan Desember paling lambat bulan September pada tahun yang sama.
Articles 169 Documents
TINJAUAN TERHADAP STRATEGI PENGHAWAAN RUANG PERKOTAAN MELALUI ATAP HIJAU M Donny Kurniawan; Suhendri .
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.073 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3231

Abstract

Kenyamanan termal di ruang luar menjadi isu yang penting saat ini akibat kenaikan yang signifikan pada suhu udara perkotaan. Kenaikan suhu ini diakibatkan oleh perubahan iklim global dan fenomena pulau panas perkotaan (Urban Heat Island) faktor pulau panas perkotaan ini dapat direduksi salah satunya dengan penghawaan pasif di ruang-ruang perkotaan. Dalam rancangan kota, penghawaan perkotaan dapat berupa pengaturan massa-massa bangunan, orientasi jalan, sampai ke detail desain bagunan yang dirancang untuk mengalirkan angin. Kota dengan penghawaan perkotaan yang baik dapat melepaskan panas yang terperangkap di antara bangunan melalui angin, juga dapat memberikan kenyamanan termal pada ruang luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi pengahawaan perkotaan dengan perletakan atap hijau di bangunan tinggi. Efektivitas ini ditinjau dari hasil simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) terhadap berbagai posisi perletakan atap hijau pada bangunan tinggi. Hasil simulasi didapat dari dua metode simulasi, yaitu CFD 3 dimensi pada skala kota dan CFD 2 dimensi pada urban canyon. Kedua simulasi tersebut menunjukkan bahwa atap hijau yang diletakkan pada posisi yang tepat di sebuah bangunan tinggi dapat memicu pergerakan angin yang potensial bagi reduksi pulau panas perkotaan sekaligus memberikan kenyamanan termal ruang luar di perkotaan. Kata kunci: kenyamanan termal ruang luar, pulau panas perkotaan, atap hijau, CFD  ABSTRACTCities are facing temperature increase due to global warming and urban heat island. Although the global warming needs to be solved with global acts, the urban heat island presumably can be reduced by ventilated city strategies. Ventilated cities are designed to create a preferable wind flow in the city’s spaces. Thus, it releases heat that is trapped in the urban canyon and reduces urban heat island. Wind generated by the strategy could also provide outdoor thermal comfort in the cities. One of the ventilated city strategies are by utilizing roof garden for high rise buildings. Therefore, this research is aimed to identify the effectivity of roof garden in delivering wind flow. Two computational fluid dynamics (CFD) simulation schemes had been analyzed, and this paper reviews the results. The schemes are 3D CFD simulation for urban area and 2D CFD simulation for urban canyon. Review of the result analysis shows that roof garden is potential to drive a sufficient wind flow as long as its position is appropriate. Keywords : outdoor thermal comfort, urban heat island, roof garden, CFD
ANALISIS WAKTU DENGUNG PADA GEDUNG BALAI SARBINI Sri Kurniasih
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.594 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3232

Abstract

Semakin berkembangnya dunia hiburan semakin banyaknya pembangunan gedung-gedung yang membutuhkan sistem akustik salah satunya adalah gedung Balai Sarbini yang berfungsi sebagai gedung pertunjukan. Terkadang perancang hanya memfokuskan pada tampilan fasade bangunannya saja tanpa memperhatikan kenyamanan pengguna bangunan baik dari segi kenyamanan termal, kenyamanan visual maupun kenyamanan suara. Hal inilah yang terkadang menimbulkan permasalahan terutama permasalahan akustik baik permasalahan pada penerima suara maupun permasalahan pada rancangan arsitekturnya. Dengan demikian perlu diketahui tingkat nilai waktu dengung yang terjadi pada gedung Balai Sarbini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau dan menganalisis sistem akustik baik dari rancangan, penggunaan material maupun perhitungan Reverberation Time (RT) pada bangunan Balai Sarbini yang kemudian disesuaikan dengan tinjauan teori, persyaratan dan standar perhitungan akustik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, berupa uraian yang didapat dari data primer yang ada di lapangan dan teori-teori dasar terkait dari beberapa literatur, yang kemudian melakukan pengukuran dan perhitungan waktu dengung Pertunjukan sebagai objek penelitian dimana hasil pengukuran dan perhitungan tersebut akan disesuaikan dengan standar waktu dengung. Hasil penelitian waktu dengung (RT) kondisi eksisting Gedung Balai Sarbini tanpa bantuan elektro akustik adalah 0,6 detik saat kosong penonton, dan 0,72 detik saat penonton penuh (1000 orang). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kalkulasi waktu dengung/Reverberation Time (RT) untuk gedung Concert Hall, maka gedung Balai Sarbini kurang/belum memenuhi ketentuan umum. Kata Kunci: Akustik, gedung balai Sarbini, waktu dengung ABSTRACT The development world of entertainment the more the construction of buildings that require an acoustic system one of which is the Hall Sarbini that serves as a performance building. Sometimes the designer only focuses on building façade façade alone regardless of the comfort of the building user in terms of thermal comfort, visual comfort and sound comfort. This is what sometimes causes problems especially acoustic problems both the problems on the recipients of the sound and the problems in the design of the architecture. Thus it is necessary to know the level of the time value of the buzz that occurred at Balai Sarbini building. The purpose of this research is to review and analyze the acoustic system from design, material use and Reverberation Time (RT) calculation on Balai Sarbini Hall building which is then adjusted to theoretical review, requirement and standard of acoustic calculation. The research method used is descriptive quantitative, in the form of description obtained from the primary data in the field and related basic theories from several literatures, which then perform the measurement and calculation of the time drone Performance as the object of research where the results of measurements and calculations will be adjusted with standard time drone. The result of research of the buzzer (RT) condition of existing Balai Sarbini Hall without the aid of acoustic electro is 0,6 second when empty of audience, and 0,72 second when the audience is full (1000 people). Thus it can be stated that the calculation of Reverberation Time (RT) for the Concert Hall building, the Balai Sarbini building has not fulfilled the general requirement. Keywords: Acoustics, Hall of Sarbini building, performances, buzzing time
RELASI KENYAMANAN TERMAL DAN KONSUMSI ENERGI LISTRIK WARD DI WILAYAH TROPIS LEMBAP Yuyus Mulia; Tri Harso Karyono; Kamal A Arif
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.485 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3233

Abstract

Penelitian kenyamanan termal pada  ward  (bangunan rawat inap rumah sakit) belum banyak dilakukan. Isu pokok penelitian ini  mencakup aspek kenyamanan termal dan aspek konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Tujuan penelitian ini mengungkap relasi tingkat kenyamanan  termal dan tingkat konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Metoda penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jumlah sampel 11  unit ward (5 unit di dataran rendah/ wilayah Cirebon dan 6  unit di dataran tinggi/ wilayah Bandung – Provinsi Jawa Barat, Indonesia); jumlah responden 1099 orang (500 orang berada di kelompok ward dataran rendah, dan 599 orang di kelompok ward dataran tinggi).  Peralatan yang digunakan untuk mendata kondisi parameter iklim dan pilihan sensasi termal pengguna ward adalah pengukur dan perekam digital Heat Index WBGT Meter-Model WBGT-2010SD ex Lutron dan Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, serta formulir survey. Uji statistik dan analisa regresi linier terhadap data yang diperoleh, menunjukkan hasil: pada ward dataran rendah dengan temperatur udara lingkungan berkisar 23.4 – 37.2°C;  tingkat  kenyamanan termalnya 29.2°C dan  tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 62 kWh/m2/th. Sementara pada ward dataran tinggi dengan  temperatur udara lingkungan berkisar 18.4 – 32.2°C;  tingkat kenyamanan termalnya 27.4°C dan tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 49 kWh/m2/th.  Kesimpulan; pada ward di wilayah tropis lembap ditemukan adanya fakta relasi sebagai berikut: semakin tinggi temperatur udara lingkungannya,  semakin tinggi tingkat kenyamanan termalnya, dan semakin tinggi pula jumlah konsumsi energi listriknya. Kata Kunci: Kenyamanan termal, konsumsi energi listrik, ward, tropis lembab ABSTRACTResearch on thermal comfort in the ward (hospital inpatient building) has not been widely carried out. The main issues of this study include aspects of thermal comfort and aspects of ward electrical energy consumption in humid tropical regions. The purpose of this study is to reveal the relation between thermal comfort level and ward electrical energy consumption level in humid tropical regions. This research method is quantitative with a sample of 11 ward units (5 units in the lowland / Cirebon region and 6 units in the highlands / Bandung area - West Java Province, Indonesia); the number of respondents is 1099 people (500 people are in the lowland ward group, and 599 people in the highland ward group). The equipment used to record climate parameter conditions and the choice of thermal sensations for ward users is the WBGT-2010SD Model Heat Index WBGT Meter and digital recorder ex Lutron and Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, as well as survey forms. Statistical tests and linear regression analysis of the data obtained showed results: in the lowland ward with ambient air temperature ranging from 23.4 - 37.2 ° C; the lowest level of comfort is 29.2 ° C and the level of electricity consumption is around 62 kWh / m2 / year. While in the highland ward with environmental air temperatures ranging from 18.4 - 32.2 ° C; the lowest level of comfort is 27.4 ° C and the level of electricity consumption is around 49 kWh / m2 / year. Conclusion; In the ward in the humid tropics, the facts of the relationship are as follows: the higher the air temperature of the environment, the higher the level of thermal comfort, and the higher the amount of electricity consumption. Keywords: thermal comfort, electrical energy consumption, ward, humid tropical
POLA SPASIAL PEMANFAATAN JALUR PEJALAN KAKI OLEH KEGIATAN SEKTOR INFORMAL (Studi Kasus Jalur Pejalan Kaki Jln. Jenderal Sudirman s/d Dukuh Atas) Reza Fauzi; Dermawati .; Nurhikmah Budi Hartanti
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.9 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3234

Abstract

ABSTRAKJalur pejalan kaki pada sebuah kota adalah bagian yang penting, baik sebagai kelengkapan sebuah kota maupun sebagai tempat orang untuk menuju dari satu tempat ke tempat lainnya. Kenyamanan berjalan kaki merupakan faktor utama yang harus diperhatikan sebagai bentuk pelayanan kepada pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan pedagang kaki lima terhadap kualitas jalur pejalan kaki, dan mengidentifikasi pola dan waktu penyebaran kegiatan sektor informal pada area jalur pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukan bahwa di beberapa titik keberadaan kegiatan sektor informal pada jalur pejalan kaki cukup mengganggu kegiatan formal di jalur pejalan kaki. Tetapi keberadaan kegiatan sektor informal di area tersebut juga terjadi dikarenakan adanya faktor yang memicu seperti adanya respon masyarakat terhadap keberadaan mereka dan terjadinya kegiatan jual beli antara pedagang dan pejalan kaki yang sedang melintas.Kata kunci : pejalan kaki, jalur pejalan kaki, sektor informal ABSTRACTThe pedestrian path in a city is an important part, both as a completeness of a city and as a place for people to go from one place to another. Walking comfort is the main factor that must be considered as a form of pedestrian service. This study was conducted to determine the effect of the presence of street vendors on the quality of pedestrian pathways, and to identify patterns and timing of the spread of informal sector activities in the area of pedestrian pathways. The results showed that at some point the existence of informal sector activities on pedestrian pathways was enough to disturb formal activities in the pedestrian path. But the existence of informal sector activities in these areas also occurs due to triggering factors such as the community's response to their existence and the occurrence of buying and selling activities between traders and pedestrians who are passing.Keywords: pedestrians, pedestrian paths, informal sector 
KENYAMANAN FISIK RUANG PADA PERMUKIMAN TRADISIONAL KAMPUNG NAGA doddy anwar; Tri Harso Karyono; Rumiati R. Tobing
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 18 No. 2 (2020): TEKNOLOGI BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.505 KB) | DOI: 10.25105/agora.v18i02.4071

Abstract

Pembangunan rumah yang tererncana dan tidak terencana telah mengubah lingkungan fisik ruang. Sehingga kenyamanan fisik ruang terabaikan dan tidak terpenuhi. Kampung Naga merupakan permukiman tradisional yang masih menjunjung tinggi adat istiadat. Ketentuan-ketentuan dalam membangun dipegang kuat oleh anggota komunitas. bagaimana kondisi tingkat kenyamanan fisik yang terjadi di hunian masyarakat tersebut. Apakah kenyamanan fisik yang ditempati masyarakat itu baik? Penelitian ini menggunakan Metode Kuantitatif dengan cara melakukan pengukuran terhadap Kenyamanan Fisik Ruang di Kampung Naga, Jawa Barat. Hasil dari penelitian adalah kenyamanan fisik  ruang masyarakat Kampung Naga cukup nyaman bagi masyarakat yang menghuni rumah-rumah di Kampung Naga Tasikmalaya. Kata Kunci : kenyaman fisik ruang, permukiman tradisional, Kampung Naga
ANALISIS KUALITAS JALUR PEDESTRIAN DI KAWASAN KOTA LAMA,BANDUNG Arief Wicaksono; Ahmad Hadi Prabowo; Endhi Ibuhindar Purnomo
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 17 No. 1 (2019): IDentitas Tempat dan Ruang Luar
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.935 KB) | DOI: 10.25105/agora.v17i01.7406

Abstract

      Jalur pedestrian adalah jalur pergerakan manusia dari titik awal menuju tujuan dengan jalan kaki.Kota Bandung adalah destinasi wisata karena banyaknya bangunan bersejarah.Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis kualitas jalur pejalan kaki untuk mengetahui kelayakan jalur pejalan kaki  dan keberadaan infrastuktur pendukung jalur pedestrian didalam kawasan Kota Lama Bandung.Semua permasalahan yang ditemukan pada jalur pedestrian  ini akan diteliti dan dikaji tentang tingkat kenyamanan pejalan kaki pada jalur pedestrian ini.Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan PEQI ( Pedestrian Environmental Quality Index ) yang dapat memberikan skor kualitas pada masing-masing ruas jalan dan berguna untuk menjadi indikator kelengkapan fasilitas pejalan kaki.
PENDEKATAN NEO VERNAKULAR PADA PENGOLAHAN BENTUK ATAP PASAR WISATA KOTA BATU SEBAGAI EFISISENSI PELESTARIAN Aulia Farhani
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 17 No. 2 (2019): KOSMOLOGI ARSITEKTUR DAN BENTUK BANGUNAN
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.529 KB) | DOI: 10.25105/agora.v17i02.7433

Abstract

Bentuk atap ciri neo-vernakular menjadi karakter utama bangunan di wilayah pulau jawa dan sekitarnya. Bentuk atap merupakan penyesuian dari lingkungan sekitar dan perkembagannya. Perancangan bangunan pasar wisata perlu menampilkan karakter lokal tersebut dengan pendekatan neo-vernakular melalui pengolahan bentuk atapnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk atap pada perancangan Pasar Wisata Kota Batu. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode berupa studi literatur serta membuat alternatif desain bentuk atap bangunan dengan prinsip Arsitektur Neo-Vernakular. Hasil eksplorasi ini menghasilkan desain bentuk atap kota batu berdasarkan modifikasi bentuk atap pelana dengan atap silang.The shape of the neo-vernacular roof is the main character of the building in the area of Java Island and its surroundings. The shape of the roof is an adjustment of the surrounding environment and development. The design of the tourist market building needs to display the local character with a neo-vernacular approach through the processing of the roof shape. This paper aims to explore the shape of the roof in the design of the Batu City Tourism Market. To achieve this goal, this research uses a method in the form of a literature study as well as an alternative design of the building roof shape with the principles of Neo-Vernacular Architecture. The results of this exploration resulted in the design of the shape of the stone city roof based on the modification of the shape of the gable roof with a cross roof.
Penerapan Retractable Roof pada Out-door Exhibition di Surakarta Convention dan Exhibition Center raja amalia divya reynanda; Agus Saladin; Mohammad Ali Topan
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 18 No. 2 (2020): TEKNOLOGI BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.339 KB) | DOI: 10.25105/agora.v18i02.7460

Abstract

Perkembangan pariwisata, bisnis, di Indonesia terus meningkat, khususnya di kota Surakarta sebagai salah satu kota pariwisata. Sehingga, Surakarta membutuhkan suatu tempat berskala besar berupa Konvensi dan Eksibisi Center untuk memfasilitasi penyelenggara pertemuan dan pameran yang dikenal dengan istilah MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Agar Konvensi dan Eksibisi Center dapat digunakan secara maksimal diperlukan suatu ekspansi bangunan berupa pemanfaatan ruang luar. Namun kondisi lingkungan perlu diperhatikan agar kegiatan dapat berlangsung dengan lancar. Oleh karena itu dibutuhkan suatu rancangan desain retractable roof pada eksibisi luar ruangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam perancangan desain retractable roof pada eksibisi luar ruangan ini, dilakukan dengan tinjauan pustaka, analisis studi preseden dan penerapan konsep rancangan pada studi kasus. Desain retractable roof ini menghasilkan desain interaktif pada eksibisi luar ruangan yang tidak hanya menciptakan daya tarik namun juga fungsionalitas yang optimal dalam memberikan kenyamanan aktivitas bangunan
TATA LETAK RUANG KERJA PADA BANGUNAN CO-WORKING SPACE DI JAKARTA Ekadriani Fitria; Dermawati DS; Endhi Ibuhindar Purnomo
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 18 No. 1 (2020): RUANG DAN SIRKULASI
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.618 KB) | DOI: 10.25105/agora.v18i01.7462

Abstract

Di era modern ini, bekerja tidak selalu di kantor. Banyak kaum muda yang lebih memilih menjadi freelancer agar bekerja lebih fleksibel. Mereka tidak perlu datang ke kantor, cukup pergi ke cafe dengan suasana yang lebih homey dan tidak kaku seperti di kantor. Adanya perkembangan zaman ini maka muncul konsep baru. Co-Working space adalah cara dan budaya baru dalam menumbuhkan sebuah kolaborasi dan inovasi. Kebutuhan akan ruang kerja yang nyaman, efisiensi, fleksibel, dan terjangkau menjadi suatu kebutuhan bagi banyak orang dengan waktu dan tempat yang fleksibel. Tujuan penulisan ini adalah mengindentifikasikan karakteristik tata ruang co-working space sehingga kegiatan di dalam bangunan dapat memberikan suasana yang nyaman bagi pengguna. Metode penulisan komparatif kualatif dengan membandingkan 2 studi kasus yang diambil secara acak terhadap zonasi, sirkulasi, tata perabot, dan suasana ruangan yang berhubungan dengan co-working space.
TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH (R3) DI KAWASAN PASAR BESAR KOTA BATU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS Jenisa Karenata Zabrina Ruslin; Dermawati DS; Dwi Rosnarti
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 18 No. 2 (2020): TEKNOLOGI BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.117 KB) | DOI: 10.25105/agora.v18i02.7463

Abstract

Pengelolaan sampah berbasis R3 merupakan satu upaya menangani masalah sampah di kota besar. Sistem R3 merupakan kegiatan mengurangi (Reduce), menggunakan kembali (Reuse) dan mendaur ulang sampah (Recycle). Sistem pengelolaan sampah R3 mampu mengurangi volume sampah, dan menghadirkan nilai ekonomi. Sistem ini harus dilengkapi dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Tujuan penelitian ini menganalisa ketersediaan tempat pengelolaan sampah yang layak dengan sistem R3 untuk diterapkan pada kawasan Pasar Besar Batu. Metode yang dilakukan merupakan metode kuantitatif berupa tabel, gambar, skematik, dan pendekatan deduktif. Analisis studi menunjukkan bahwa hampir seluruh TPS memerlukan standar ruang dengan prinsip arsitektur ekologis dan proses pengelolaan sampah yang ideal menggunakan sistem R3.

Page 3 of 17 | Total Record : 169