cover
Contact Name
Rizki F. Madina
Contact Email
rizki.fm@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
agora_ars@trisakti.ac.id
Editorial Address
Gedung C, Kampus A Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.1 A, RT.5/RW.9, Tomang, Kec. Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
AGORA : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 14119722     EISSN : 2622500X     DOI : https://doi.org/10.25105/agora
Core Subject : Engineering,
AGORA : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti merupakan ajang komunikasi segenap masyarakat arsitektur untuk melontarkan pandangan dan pemikiran ilmiah tentang berbagai aspek arsitektur. Agora: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti dikelola oleh Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik SIpil dan Perencanaan universitak Trisakti. AGORA memuat berbagai karya ilmiah arsitektur dalam keluasan spektrumnya baik menyangkut teori, kritik, sejarah, teknologi bangunan, industri, etika, praktek profesi, pendidikan maupun teknologi informasi dan komunikasi. AGORA merupakan media untuk membangun pemahaman mendalam tentang arsitektur melalui telaah kritis aspek-aspek arsitektur, baik fisik maupun non-fisik pada skala mikro elemen bangunan sampai pada skala makro kawasan perkotaan dan regional. Telaah kritis dalam bentuk artikel, yang memuat ide orisinil dan disajikan dalam tulisan terorganisir yang bermuatan argumentasi ilmiah (analitis, sistematis, logis, serta akurat), merupakan ciri khas AGORA sebagai jurnal ilmiah arsitektur. Dewan redaksi menerima sumbangan artikel terpilih di bidang arsitektur untuk dimuat di AGORA. Artikel yang dimuat akan diedit seperlunya tanpa menghilangkan inti dan pesan tulisan yang disampaikan. Publikasi tulisan dalam AGORA dilakukan setelah melalui penilaian dan pemilihan dewan redaksi dan mitra bestari (peer reviewer) yang ditunjuk oleh dewan redaksi. AGORA diterbitkan dua kali dalam satu tahun pada bulan Juli dan Desember. Artikel yang diterbitkan bulan Juli harus diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan Maret, dan untuk bulan Desember paling lambat bulan September pada tahun yang sama.
Articles 169 Documents
PENERAPAN ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR MASJID KESULTANAN PADA MASJID-MASJID DI PULAU TERNATE Rifal A Bachrudin
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.154 KB) | DOI: 10.25105/agora.v14i2.2032

Abstract

Masjid dalam arti bentuk dan ruang di Pulau Ternate secara visual menampilkan dua wujud yaitu bentuk atap limas (pola tradisional) dan bentuk atap kubah (pola modern). Dua wujud masjid ini kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu masjid yang sama dengan masjid kesultanan/sigi lamo, masjid yang mirip dengan sigi lamo, dan masjid yang berbeda dengan sigi lamo. Berdasarkan hasil analisa, dapat disimpulkan bahwa kesamaan dan kemiripan wujud masjid karena kondisi sosial masyarakat dan kondisi sosial budaya yang masih sangat homogen,monolit, dan partiark serta manganut sistem patronasi dalam segala aspek termasuk dalam membangun masjid. Sedangkan perbedaan wujud masjid terjadi karena desakan keinginan yang ditopang oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat dan pengetahuan atas kemajuan serta perkembangan teknologi konstruksi khususnya konstruksi masjid.Kata kunci: Kesamaan, Kemiripan, Perbedaan, Elemen, Arsitektur, Masjid
PERUBAHAN TATA RUANG KOTA KERAJAAN TIDORE Syuryani Djamal
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.047 KB) | DOI: 10.25105/agora.v14i2.2034

Abstract

Tata ruang kota kerajaan Tidore terbentuk (dibentuk) berdasarkan sembilan Soa yaitu Soa kolano,Soa sibumabelo, Soa mafu, Soa Jawa, Soa Yaba, Soa Kalaodi, Soa Failuku, Soa Rora, dan SoaCina. Soa dalam etimologi Tidore disebut kampung/desa/kabila/marga dan Sembilan disebut Sio,karena kota kerajaan terbentuk berdasarkan sembilan Soa maka kawasan kota kerajaan Tidore(K3T) kemudian disebut dengan sebutan Soasio yang berarti sembilankampung/desa/kabila/marga. Seiring perkembangannya, elemen kota sebagai identitas kotakerajaan Tidore seperti pola permukiman masyarakat yang dibentuk berdasarkan kelompok kabila(Soa) dan pola tata masa yang memiliki pagar pembatas, gerbang di depan rumah sebagai penandakeberadaan komunitas masyarakat menjadi hilang dan tak dapat dipertahankan. Oleh karena itu,penelitian ini dilakukan untuk menemukan, memahami, dan mengetahui faktor-faktor apa sajayang mempengaruhi perubahan tata ruang kota kerajaan Tidore, bagaimana proses terjadinyaperubahan tata ruang kota kerajaan Tidore, dan elemen-elemen kota apa saja yang tetap dan yangberubah pada tata ruang kota kerajaan Tidore.Kata kunci: Tata Ruang, Kota, Kerajaan, Tidore
PUBLIC – PRIVATE INTERFACE DAN PENGARUHNYA PADA LIVABILITY KAWASAN PERIMETER UNIVERSITAS BRAWIJAYA DAN UIN MALANG binar tyaghita; Witanti Nur Utami
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.711 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3206

Abstract

ABSTRAK Konektivitas merupakan dimensi livability yang mencakup skala kota dan lokal. Ruang dan jaringan jalan tidak hanya berperan dalam menfasilitasi koneksi kendaraan, namun juga interaksi sosial khususnya pada skala lokal. Public-private interface menjadi penting dalam skala lokal karena merupakan elemen rancang kota yang dapat memfasilitasi interaksi sosial, namun sayangnya elemen ini masih belum banyak diteliti terutama pada konteks perimeter Universitas. Perimeter universitas di Indonesia merupakan dampak urbanisasi dan perkembangan ruang kota yang didorong oleh kedatangan mahasiswa dan pemilik usaha yang menyediakan kebutuhan mahasiswa. Hal tersebut mendorong kawasan tumbuh secara organik dengan ragam pengguna dan aktivitas. Kawasan studi diapit oleh Universitas Brawijaya dan UIN Maliki dan menghubungkan dua sentra industri. Sehingga menarik untuk diketahui bagaimana hal tersebut mempengaruhi karakteristik public-private interfacenya. Metode analisis data yang digunakan pada studi ini adalah metode analisis kualitatif melalui diagram, deskripsi, pemetaan dan overlay mapping. Pertumbuhan perimeter universitas yang tidak terarah menyebabkan ada ancaman kawasan menjadi tidak livable. Namun berdasarkan analisis ditemukan bahwa karakteristik public-privat interface pada kawasan ternyata berkontribusi pada livability kawasan karena berperan dalam mendorong dan menfasilitasi interaksi sosial serta aktivitas yang beragam. Kata Kunci: Livability, Public-private interface, Pemetaan, Diagram, Perimeter Universitas ABSTRACTUrban Livability dimension which encompassing city and local scale is connectivity. Road network not only facilitating physical connections for vehicle on city scale, but also urgent for social interaction in local scale. Within local scale, public-private interface become important elements which can facilitate social interaction, unfortunately it have not yet been widely dieksplore. University perimeters in Indonesia is the result of  urbanization and urban development through the flows of students and along with it those which supply their needs; which stimulate an organic growth of built environment consist of mixes of user and activity. Study area is settlement located in between Brawijaya University and UIN Maliki’s perimeter, which not only framed by two distinct university but also connecting two industrial nodes. Thus it is interesting to identify the characteristic of its public-private interface and how it related to its mix of user and activity. The methode use to analyse using diagram, description, mapping and overlay-mapping.. As university perimeter growth tend to be unplanned, there are risk of lack of livability; however through public-private interface mapping the findings showed that while the built environment might not showed it but the characteristic of public-private interface within study area are contributing to the Livability of the settlement by facilitating social interaction and diverse activity.    Keywords: Livability, Public-private interface, Mapping Analysis, Diagram Analysis, University Perimeter 
ADAPTASI ARSITEKTUR HUNIAN ETNIK CAMPURAN DI SULAWESI UTARA Valeria Woy; Uras Siahaan; Rumiati R. Tobing
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.241 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3207

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji tentang bagaimana adaptasi arsitektur yang terjadi pada hunian di permukiman etnik campuran. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena pengaruh percampuran etnik menjadi dasar terbentuknya permukiman Jaton dan Mopugad. Jaton merupakan permukiman campuran etnik Minahasa sebagai etnik lokal dengan etnik Jawa sebagai etnik pendatang sementara Mopugad merupakan permukiman campuran etnik Bolaang Mongondow sebagai etnik lokal dengan etnik Bali sebagai etnik pendatang. Kedua permukiman ini menjadi permukiman adat religi karena  nilai-nilai tradisi keagaamaan yang kental di dalam permukiman ini. Kajian adaptasi arsitektur dapat menggali bagaimana terbentuknya elemen-elemen arsitektur pada hunian di Jaton dan Mopugad dan bagaimana pegaruhnya pada perubahan-perubahan yang terjadi akibat modernisasi. Menurut Ibarra, adaptasi merupakan upaya dari manusia untuk meningkatkan kecocokan antara lingkungan dan dirinya. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan mengambil pendekatan deskriptif dan rasionalistik. Pada umumnya hunian pada permukiman jaton mengadaptasi hunian etnik lokal Minahasa sementara hunian pada permukiman Mopugad mengadaptasi hunian etnik pendatang Bali. Keterlekatan sosial masyarakat yang tinggi mengakibatkan proses adaptasi hunian lokal sangat kental pada permukiman Jaton sementara keterlekatan sosial masyarakat yang rendah mengakibatkan masyarakat Mopugad lebih memilih adaptasi hunian asal mereka Bali.Kata kunci : Adaptasi arsitektur, adaptasi hunian, etnik campuran.ABSTRACTThis study examines how architectural adaptation that occurs in settlements in mixed ethnic settlements. This research is interesting to study because the influence of ethnic mixing is the basis for the formation of Jaton and Mopugad settlements. Jaton is a mixed Minahasa ethnic settlement as a local ethnic group with Javanese ethnic as a migrant ethnic group while Mopugad is a mixed ethnic settlement of Bolaang Mongondow as a local ethnic group with ethnic Balinese as immigrant ethnic. Both of these settlements become religious custom settlements because of the thick religious tradition values in this settlement. The study of architectural adaptation can explore how the architectural elements in Jaton and Mopugad are formed and how they are influenced by the changes that occur due to modernization. According to Ibarra, adaptation is an effort from humans to increase the compatibility between the environment and himself. This research is classified as qualitative research by taking a descriptive and rationalistic approach. In general, dwelling in the Jaton settlement adapts the occupancy of local Minahasa ethnicities while occupancy in the Mopugad settlements adapts ethnic settlements of Balinese migrants. The high social attachment of the community resulted in a very thick local adaptation process in the Jaton settlement while the low social attachment of the community resulted in the Mopugad community preferring to adapt to their original Bali residence.Keywords: architectural adaptation, residential adaptation, mixed ethnicity.
KARAKTERISTIK KAWASAN PECINAN PANTAI UTARA PULAU JAWA (Studi Kasus : Kawasan Pecinan Lasem, Jawa Tengah) Julindiani Iskandar; Mohammad Ali Topan
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.043 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3208

Abstract

ABSTRAK Kawasan Pecinan hadir di banyak kota di pulau Jawa terutama didaerah sepanjang pantai Utara. Seiring berjalannya waktu kawasan-kawasan ini sudah mulai menghilang, tetapi ‘bekas’ kehadirannya masih terasa kental sekali. Suasana yang khas, diperkuat dengan adanya klenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial menjadi simbol akan eksistensi kawasan pecinan.Kawasan Pecinan Lasem merupakan suatu kawasan hunian sekaligus tempat kegiatan sosial untuk mendukung kehidupan penghuninya memiliki karakteristik arsitektur berbeda dengan kawasan lainnya di kota Lasem. Kawasan pecinan di Lasem saat ini berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri batik. Permasalahan yang terjadi di kawasan Pecinan Lasem saat ini adalah mulai pudarnya bangunan-bangunan bergaya Cina yang ada karena ditinggalkan penghuninya, atau telah beralih menjadi fungsi baru. Untuk mengetahui karakteristik Pecinan Lasem saat ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi elemen-elemen fisik pembentuk kota dengan menggunakan teori dari Hamid Shirvani, yang terdiri dari :1. Guna lahan (land use)2. Bentuk dan massa bangunan (building form & massing)3. Sirkulasi dan perparkiran (circulation & parking)4. Ruang terbuka (open space)5. Pedestrian (pedestrian ways)6. Fasilitas pendukung aktifitas (activity support)7. Penanda (signage) 8. Preservasi (preservation)Secara keseluruhan kawasan pecinan Lasem, dilihat dari 8 elemen pembentuk kota tersebut di atas, unsur budaya cina masih terlihat  cukup kental pada bangunan-bangunan yang tersisa di kawasan pecinan Lasem ini. Kata kunci: Pecinan, Karakter, Elemen fisik, Lasem  ABSTRACTChinatown region is present in many cities on the island of Java, especially in areas along the North coast. As time passes these areas have started to disappear, but the 'former' presence still feels very strong. Typical atmosphere, reinforced by the pagoda as the center of religious and social activities become a symbol of the existence of Chinatown. Lasem Pecinan Region is a residential area as well as a place of social activities to support the life of its inhabitants have different architectural characteristics with other areas in the city of Lasem. Chinatown area in Lasem is currently developing into a center of trade and batik industry. The problems that occur in the Lasem Chinatown area today are beginning to fade Chinese-style buildings that existed due to the abandonment of its inhabitants, or have turned into a new function. To know the current characteristics of Lasem Chinatown is done by identifying the physical elements of city-building by using the theory of Hamid Shirvani, which consists of:1. Land use2. Building form & massing3. Circulation & parking 4. Open space )5. Pedestrian ways 6. Activity support7. Signage8. Preservation Overall Lasem Chinatown area, seen from the 8 elements forming the city mentioned above, the Chinese cultural element still looks pretty thick on the remaining buildings in this Lasem Chinatown area. Keywords: Chinatown, character, physical elements, Lasem 
PENGARUH INSTITUSI PENDIDIKAN DAN RUMAH SAKIT TERHADAP TRANSFORMASI KAWASAN PERUMAHAN MELALUI ANALISIS TIPOMORFOLOGI Mariska Pratimi; Azzahra M.Firdausah
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.453 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3209

Abstract

ABSTRAK Fenomena menjadikan rumah tinggal sebagai rumah-usaha di beberapa kawasan perumahan, ditunjukkan dengan terjadinya masuknya fungsi baru ke dalam suatu fungsi yang homogen. Adanya aktifitas komersial pada kawasan perumahan akan mengakibatkan perubahan tatanan ruang lingkup hunian secara fisik maupun non fisik. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama mengidentifikasi metode-metode yang digunakan untuk menganalisis perubahan fungsi lahan. Tahap kedua yaitu menguji metode yang terpilih pada studi kasus pada sebuah perubahan fungsi kawasan perumahan di Kota Bandung. Hasil identifikasi metode ditemukan bahwa tipomorfologi dapat  digunakan untuk menerangkan perubah-perubahan dari suatu tipe, di mana suatu tipe memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan tipe-tipe yang lain. Proses perubahan fungsi yang terjadi pada Koridor Hasanudin dan Prof. Eykman sangat dipengaruhi oleh adanya aktivitas rumah sakit dan universitas sehingga pola perkembangan yang terjadi adalah pola invasi linear dan pola dominasi radial. Perubahan fungsi yang terjadi pada dua koridor memberikan dampak berupa gangguan lalu lintas akibat on street parking dan perubahan sirkulasi jalan. Kata kunci: komersial, perumahan, perubahan fungsi, tipomorfologi  ABSTRACTThe phenomenon of making a home as a business house in several residential areas is indicated by the entry of a new function into a homogeneous function. The presence of commercial activities in residential areas will result in changes in the physical and non-physical occupancy scope of the occupancy. This research was conducted in two stages, the first stage identified the methods used to analyze changes in land functions. The second stage is testing the method chosen in the case study on a change in the function of the residential area in the city of Bandung. The method identification results found that typomorphology can be used to explain changes of a type, where a type has certain characteristics that can distinguish it from other types. The function change process that occurs in the Hasanudin Corridor and Prof. Eykman is strongly influenced by the activities of hospitals and universities so that the pattern of development that occurs is a linear invasion pattern and a pattern of radial dominance. Function changes that occur in the two corridors have an impact in the form of traffic disruption due to on street parking and changes in road circulation. Keywords: commercial, housing, function change, typomorphology
FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT Muhammad Rijal; Bambang Setioko; Agung Budi Sardjono
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.061 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3210

Abstract

 Konfigurasi ruang permukiman pesisir di Pulau Penyengat bukan hanya terbentuk dari geomorfologi fisik lingkungannya, namun terkait dengan peristiwa masa lalu dan kondisi sosial budaya masyarakat yang membentuknya. Penelitian ini penting dalam rangka mengungkapkan tema keruangan permukiman yang berimplikasi dalam menyusun konsep keruangan sehingga dapat berkontribusi terkait penyusunan kebijakan perencanaan dan perancangan kawasan permukiman bersejarah di Pulau Penyengat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Grounded Theory dalam paradigma penelitian kualitatif untuk menjawab atas permasalahan dasar penelitian, yakni bagaimanakah fenomena keruangan permukiman pesisir terkait dengan pertumbuhannya  dalam upaya mengungkapkan tema keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat. Temuan dalam penelitian menunjukan bahwa fenomena keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat telah mengalami enam fase pertumbuhan yang terkait dengan konfigurasi ruang permukiman pesisir dalam empat tema penting, yakni: translasi ruang cagar budaya dan warisan; interseksi ruang sosial pada ruang pesisir; interaksi ruang sosial dalam ruang ritual dan ziarah, dan; simbolik ruang spiritual dan kekuasaan.     Kata kunci: Pertumbuhan Kota, Permukiman Pesisir, Konfigurasi Ruang, Grounded Theory, Pulau Warisan  ABSTRACTSpace configuration of coastal settlement in Penyengat Island was not formed by the physical geomorphological only, but related with historical events and socio-cultural aspects. This research is important in order to reveal the theme of spatial settlements and have implications in composing spatial concept. It can contribute to the policy of planning and design in Penyengat Island as the historic settlement area. This study uses the Grounded Theory approach in a qualitative research paradigm to answer the basic problem of research, namely how the spatial settlement phenomenon in Pulau Penyengat related to the space configuration of coastal settlement. The findings in this study show that spatial phenomena formed in Penyengat Island are not only related to the physical themes of the waterfront areas that tend to be linear, but related to four important themes: translation of cultural heritage and heritage space; intersection of social space in coastal space; the interaction of social space in ritual and pilgrim, and; symbolic of spiritual and power spaces. Keywords : Urban Growth, Coastal Settlements, Space Configuration, Grounded Theory, Herritage Island
RE/PRODUKSI RUANG INTERAKSI SOSIAL BERBASIS KEGIATAN PERDAGANGAN DALAM KAMPUNG KOTA DI SEKITAR KAMPUS RAMOS PASARIBU; Uras Siahaan; Rumiati R. Tobing
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.067 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3211

Abstract

Suatu fenomena yang menarik yang terjadi di Indonesia hingga saat ini yaitu adanya perkampungan yang berdampingan dengan pusat kota seperti kampung kota yang berdampingan dengan kampus. Kegiatan mahasiswa mencair ke dalam perkampungan mencari tempat kos mendorong warga/pemilik rumah/pemilik modal merubah fungsi bangunan menjadi tempat kos. Karakteristik kegiatan mahasiswa di dalam kampung yang tertutup dengan lingkungannya menuntut perubahan penampilan bangunan yang dibatasi dengan pagar tinggi yang membatasi interaksi sosial dengan lingkungannya. Oleh karena itu perlu diteliti tentang “Re/produksi Ruang Interaksi Sosial Berbasis Kegiatan Perdagangan Dalam Kampung Kota Di Sekitar Kampus”. Kebutuhan mahasiswa yang meningkat seperti mencari tempat laundry, warung makan, dan sebagaimya mendorong pemilik rumah merubah fungsi lantai dasar dan halaman muka rumah menjadi fungsi perdagangan, dan mempengaruhi cara berinteraksi sosial antara mahasiswa/non mahasiwa yaitu melalui kegiatan perdagangan. Hasil studi menemukan suatu ruang interaksi sosial yang baru (berbasis kegiatan perdagangan) di dalam kampung kota di sekitar kampus. Kriteria kampung sebagai objek penelitian adalah ; kampung memiliki kepadatan > 400 jiwa/ha, pencapaian langsung dari kampung ke kampus, di dominasi homogenitas kegiatan perdagangan, kampung memiliki 2 atau lebih pencapaian ke kampung. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif ; penelitian survai yang bersifat deskriptif, dan  studi kasus. Kata kunci: komersial, perumahan, perubahan fungsi, tipomorfologi ABSTRACTAn interesting phenomenon that has occurred in Indonesia to date is the existence of settlements adjacent to the city center, such as urban villages adjacent to the campus. Student activities melt into villages looking for boarding houses encourage residents / homeowners / capital owners to change the function of the building into a boarding house. Characteristics of student activities in a closed village with its environment require changes in the appearance of buildings that are limited by high fences that limit social interaction with their environment. Therefore, it is necessary to examine the "Re / production of Space for Social Interaction Based on Trade Activities in Urban Villages Around the Campus". Increased student needs such as finding a place of laundry, food stalls, and as a matter of encouraging homeowners to change the function of the ground floor and front yard of the house into a trading function, and influence the way of social interaction between students / non-students through trading activities. The results of the study found a new social interaction space (based on trade activities) in the city kampong around the campus. Village criteria as the object of research are; The village has a density of> 400 people / ha, direct achievements from village to campus, dominated by the homogeneity of trade activities, the village has 2 or more achievements to the village. Research methods use qualitative research methods; descriptive survey research, and case studies. Keywords: commercial, housing, function change, typomorphology
KARAKTER PENGGUNA RUANG PUBLIK DI TAMAN AYODYA JAKARTA SELATAN Alfiani Noor; M I Ririk Winandari; Mohammad Ischak
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.016 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3229

Abstract

Taman Kota merupakan salah satu bentuk ruang terbuka publik yang berfungsi memenuhi kebutuhan warga kota dalam melakukan kegiatan sosial. Karakteristik ruang tersebut seharusnya sesuai dengan kebutuhan sosial penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami karakter pengguna dalam pemanfaatan Taman Ayodya. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik taman, yang meliputi bentuk taman, lokasi, konteks lingkungan taman, fitur taman mempengaruhi karakter pengguna, jenis kegiatan, dan perilaku pengguna. Karakteristik taman yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung secara umum adalah kehadiran suasana alami dalam taman, adanya danau, tempat duduk dan kondisi taman yang terpelihara. Taman mudah diakses secara fisik, visual, maupun simbolis. Karakter pengguna beragam mulai dari remaja, dewasa hingga keluarga, ditemukan kecenderungan alasan minat pengguna datang ke taman untuk menghilangkan penat dan berolahraga. Kata kunci : ruang terbuka,  ruang terbuka publik, karakteristik ruang terbuka publik ABSTRACTCity Park is a form of public open space that functions to meet the needs of city residents in carrying out social activities. The characteristics of the space should be in accordance with the social needs of the users. This study aims to explore the user's character in the use of Ayodya Park. This research was conducted qualitatively. The results showed that the characteristics of the park, which includes the shape of the park, the location, the context of the park's environment, the features of the park affect the user's character, types of activities, and user behavior. The characteristics of the park that provide comfort for visitors in general are the presence of a natural atmosphere in the park, the presence of lakes, seating and maintained garden conditions. The park is easily accessible physically, visually, and symbolically. User characters ranging from teenagers, adults to families, found a tendency to interest users to come to the park to eliminate fatigue and exercise. Keywords: open space, public open space, characteristics of public open space
PERAN INSTITUSI PERGURUAN TINGGI DALAM MENGHADAPI FENOMENA KAMPUNG TERJEPIT PADA DAS CISADANE KABUPATEN TANGERANG Dicky Tanumihardja
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.842 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3230

Abstract

ABSTRAKPengentasan kemiskinan di Indonesia merupakan sebuah isu multi dimensi yang membutuhkan pendekatan multi dimensi juga. Salah satu isu yang mendasar adalah bagaimana tidak berdayanya masyarakat berpenghasilan rendah yang menyebabkan mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan atau mendapatkan manfaatnya. Kondisi ini dapat terlihat dari adanya ko-eksistensi—tapi tanpa kohesi—dari pemukiman tradisional (mis. kawasan kumuh, kampung, dsb) di antara yang modern (mis. perumahan, mixed use development, dsb). Kondisi ini juga nampak pada DAS Cisadane yang selalu menjadi salah satu tempat dengan populasi terbanyak untuk pemukiman tradisional karena rendahnya kendali dari pemerintah. Sayangnya, pembangunan yang pesat di Kabupaten Tangerang telah menyebabkan pemukiman ini dikelilingi oleh pembangunan yang lebih maju (baik secara fisik maupun ekonomi) dan menciptakan jarak sosial di antaranya. Pada awalnya Pemerintah Kabupaten melaksanakan program pengentasan kemiskinan secara mandiri, tetapi setelah pemaparan pendapat penasehat dari kalangan non-pemerintah maka diputuskan untuk melibatkan perguruan tinggi sebagai fasilitator dan pelaksana program karena perguruan tinggi dianggap mempunyai sumber daya yang lebih relevan untuk program ini. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan skema kolaborasi di antara para pemangku kepentingan dan secara khusus akan menekankan peran perguruan tinggi sebagai community developer; demikian juga tantangan yang dihadapi dan hasil pembelajarannya. Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang peran institusi perguruan tinggi dalam menangani isu kemiskinan di sekitarnya. Kata Kunci: peran perguruan tinggi, pengentasan kemiskinan, multi dimensi, kolaborasi, ko-eksistensi tanpa kohesi. ABSTRACTPoverty alleviation in Indonesia has always been a multi dimensional issues that needs a multi dimensional approaches as well. One of the fundamental issue is how helpless are the low income community that caused them unable to participate with the progressive development or benefit from it. This situation can be pictured with the coexistence—but without cohesion—of traditional settlement (i.e. slums, kampungs, etc) among the modern ones (i.e. housing estate, mixed use development, etc). This situation is also occurred in Cisadane riverbanks which have always been one of the most populated area for traditional settlements because the lack of control from government. Unfortunately, the progressive real estate development in Tangerang region has caused these settlements surrounded with more advanced (both economically and physically) development and created the social gap in between. Initially the Regional Government (Pemerintah Kabupaten) conducted the poverty alleviation program independently, but soon after the hearing from non-governmental advisors then decided to involve universities as facilitator and conductor of the program because the universities are considered to have more relevant resources needed for the program. The purpose of this paper is to present the collaboration scheme taken among stakeholders and particularly will stressed the role of universities as the community developer; as well as the expected challenge and the lessons learned. This paper is expected to add more knowledge on how higher education institution addresses poverty issues around them. Keywords: role of universities, poverty alleviation, multi dimensional, collaboration, coexistence without cohesion

Page 2 of 17 | Total Record : 169