cover
Contact Name
Rini Setiati
Contact Email
rinisetiati@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
jftke@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi - Universitas Trisakti Kampus A, Gedung D Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta Barat, Indonesia Phone: (62-21) 566 3232
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Eksakta Kebumian
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 2775913X     DOI : https://doi.org/10.25105/jek
Core Subject : Science,
Merupakan wadah untuk mempublikasikan karya tulis Teknik Perminyakan, Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan. Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi referensi perkembangan teknologi kebumian
Articles 185 Documents
ANALISA MASALAH PIPA TERJEPIT PADA TRAYEK 8 ½” DI SUMUR X-01, LAPANGAN JAMBU Erianto Elon Pabetting
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPipa terjepit merupakan salah satu permasalahan yang dapat muncul selama proses pemboran berlangsung. Pipa terjepit dapat menyebabkan permasalahan minor seperti bertambahnya waktu untuk proses pemboran sampai dengan harus dilaksanakanya proses sidetrack atau bahkan sumur harus ditinggalkan. Pada penelitian ini akan dianalisis penyebab dari terjepitnya pipa pemboran pada trayek 8 ½” dan penyebab dari gagalnya usaha pembebasan dari rangkaian pemboran. Aspek yang diteliti pada penelitian ini adalah aspek lithologi formasi (dimana pada aspek ini dapat mengetahui jenis batuan yang menjadi penyebab jepitan pipa). Aspek geometri lubang bor untuk mengetahui apakah pipe terjepit akibat dari key seat. Aspek berikutnya adalah aspek lumpur pemboran dimana akan dianalisis apakah penyebab terjadinya pipa terjepit akibat dari perbedaan tekanan antara lumpur pemboran dan formasi atau karena pengangkatan cutting yang buruk.Berdasarkan hasil penelitian ini trayek 8 ½” ini menembus lapisan gamping yang bersifat permeable dan lapisan shale. Pada kasus ini rangkaian pemboran mengalapi terjepit pada kedalaman 2270 meter (TVD 1895,9 meter). Pipa pemboran terjepit pada formasi batu gamping. Perbedaan tekanan antara lumpur pemboran dan formasi adalah sebesar 1 psia. Berdasarkan aspek lumpur pemboran dan lithologi maka penyebab pipa terjepit adalah differential sticking.Proses pelepasan pipa terjepit gagal dilakukan karena terdapatnya partikel yang menghalangi fluida perendaman mencapai sisi bawah lubang bor, tempat pipa pemboran terjepit. Partikel yang menutupi sisi bawah rangkaian pemboran berasal dari formasi shale yang runtuh akibat dari tekanan hidrostatis lumpur pemboran tidak dapat mengimbangi tekanan collaps.
DETERMINATION OF PROSPECT ZONE WITH LOG ANALYSIS IN WORKOVER LAYER RELOCATION AT FIELD X WELL Y Earlangga R. M. Putra
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKeunikan pada lapangan X ialah memiliki formasi batuan yang lenses, yakni memiliki beberapa lapisan reservoir yang tidak saling berhubungan. Berbeda dengan formasi pada umumnya, pada formasi lenses memiliki ukuran lapisan yang kecil-kecil, namun dalam jumlah yang banyak. Sehingga mengakibatkan usia produksi pada setiap lapisan lebih pendek jika dibandingkan dengan formasi yang lain. Hal yang paling tepat dilakukan agar sumur tersebut tetap berproduksi ialah dengan melakukan kerja ulang pindah lapisan. Kerja Ulang Pindah Lapisan dilakukan dengan mengganti lapisan lama dengan lapisan baru yang lebih produktif. Untuk itu perlu ditentukan lapisan mana yang prospek untuk di poduksi. Penentuan lapisan prospek ditentukan dari besar cadangan pada lapisan tersebut. untuk menentukan prospek zona produksi, menggunakan metode analisis data log yang berupa analisis kualitatif, dan analisis kuantitatif. Sedangkan untuk mengetahui potensi hidrokarbon, dilakukan dengan menghitung besar cadangan OOIP. Hasil analisis kualitatif menunjukan adanya tiga lapisan prospek. Lalu perhitungan cadangan dari ketiga lapisan tersebut menunjukan bahwa lapisan L2 ialah yang paling besar prospek dilakukannya pindah lapisan.Kata kunci: Pindah Lapisan, Prospek, Logging, Lenses AbstractThe uniqueness of the X field is having lens rock formations, which have several layers of reservoir. This type reservoir is usually in a small size, A wells that have experienced a decline in production, so that it is uneconomical. The right thing to do to keep the well in production is to do the work again to move the layer. Workover Layer Change is done by replacing the old layer with a new, more productive layer. For this reason, it is necessary to determine which layer is the prospect for production. Determination of the prospect layer is determined from the size of the reserve in the layer. to determine the prospect of a production zone, using the log data analysis method in the form of qualitative analysis, and quantitative analysis. Whereas to find out the hydrocarbon potential, it is done by calculating the OOIP reserves. The results of the qualitative analysis show that there are three layers of prospects. Then the calculation of the reserves of the three layers shows that the L2 layer which is the largest prospect of workover.Keywords— Workover, Prospect, Logging, Lenses
FIELD DEVELOPMENT SCENARIO OF MARGINAL FIELD USING OPERATIONAL COOPERATION CONTRACT SYSTEM BASED ON ECONOMIC ANALYSIS I Gede Devon Gautama
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract— Pertamina EP currently manages many old fields and dozen of them are marginal fields that require serious handling to be able to increase the production of Pertamina EP. Operational Cooperation (KSO) is a cooperation contract between Pertamina EP that works with the contractor in the management of oil and gas field. The contractor works on a certain work area from Pertamina EP's marginal field, while the KKKS right remain in hands of Pertamina EP. The KSO offer an effort to optimize the marginal fields so that it is expected to increase the production of Pertamina EP. Pertamina EP is also expected to focus more on efforts to increase production in the main fields and other fields which begin to show sufficient production. This paper aims to analyze whether the “X” field has good economic or not. “X” field is analyzed based on the Operational Cooperation contract, then the NPV, POT, IRR and sensitivity analysis of oil price, investment, operating cost, production are obtained. The result of economic calculation and production forecasting are based on “X” field’s data obtained from “Y” company.Keywords—Marginal Field. Old Field, Operational Cooperation, Economic Analysis
ANALISIS PENANGGULANGAN PACK OFF PEMBORAN TRAYEK 12 ¼ PADA SUMUR MINYAK F-1ST LAPANGAN 12-C Fathur Adli Fauzi
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPipa terjepit adalah keadaan dimana sebagian dari pipa bor atau stang bor terjepit di dalam lubang bor. Pipa terjepit umumnya disebabkan oleh dua hal, differential Pipe Sticking dan mechanical Pipe Sticking. Jika terjadi, maka pergerakan pipa akan terbatas bahkan berhenti dan dapat mengganggu kelancaran operasi pemboran maupun produksi berikutnya.Maksud dari penulisan skripsi ini adalah untuk memberi pelajaran tentang salah satu permasalahan yang paling sering ditemukan dalam proses pemboran yaitu masalah sticking pipe. Dan tujuannya adalah mengidentifikasi penyebab permasalahan sticking pipe dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah. Metode yang digunakan dari work on pipe hingga dilakukannya back off dan yang paling terakhir adalah metode Sidetrack. Operasi Pemancingan adalah kegiatan memancing benda benda yang tertinggal atau jatuh di dalam lubang bor. Benda atau peralatan yang tertinggal di dalam lubang bor. Kesimpulan dari tulisan ini akan menganalisa penyebab dan penanggulangan pipa terjepit pada sumur 12-C.Kata kunci: : Pipa terjepit, memancing,back off, differential Pipe Sticking, mechanical Pipe Sticking. AbstractStuck pipe is a condition where a part of the drill pipe or the drill handle bar is stuck in the drill hole. If this happens, the movement of the pipeline will be limited and even stop and distrupt the continuity of the drilling and production operation. There is a lot of methods that can be used for release sticking pipe depends on how and why the sticking occur, start from working on pipe untik back off, even if none of the method works a Sidetracking will be used. The process of lifting the pipe to the surface is called fishing or fishing job. Fishing operation are an action to pick up the objects or equipments that left or fall in the drill hole. Objects that are fall or left in the drill hole is called “fish”. TheConclusion for this paper is to analyse the cause and countermeasures of the problem.Keyword: stuck pipe, fishing, back off, differential Pipe Sticking, mechanical Pipe Sticking
EVALUASI HASIL PEREKAHAN HIDROLIK PADA SUMUR NAB-1 Fazal Ridwan
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSumur NAB-1 yang terletak di Lapangan E-Massive yang berada di bagian Timur dari KKS Offshore North West Java (ONWJ). Wilayah kontrak kerja PHE (Pertamina Hulu Energi) ONWJ terletak di bagian lepas pantai cekungan Northwest Java dimana cekungan Tersier asimetris berarah Barat Daya - Timur Laut terletak pada bagian tepi ujung Selatan lempeng benua Sunda yang terbentuk akhir Cretaceous. Cekungan ini dapat dibagi dari Barat-Timur menjadi North Seribu Through, cekungan Ardjuna, E-15 Graben, dan cekungan Jatibarang. Sumur NAB-1 merupakan sumur pada lapangan E-Main yang di bor pada tahun 2015. Pada awal sumur tersebut dilakukan pengujian, didapatkan bahwa lapisan prospek sumur tersebut memiliki permeabilitas 25 mD yang relative kecil menurut kalkulasi prediksi produksi. Bila sumur tersebut langsung diproduksikan, pay out time dari sumur tersebut akan berlangsung lama karena produktivitas yang kecil, sehingga perusahaan memutuskan untuk melakukan stimulasi pada lapisan tersebut. Jenis stimulasi yang dilakukan adalah stimulasi pada Tugas Akhir ini yaitu Hydraulic Fracturing.Kata kunci: hydraulic fracturing, net pressure, hydraulic horse power, fracture geometry, fracture conductivity, fold of increase AbstractNAB-1 well is located in E-massive field which located in the east-side of Offshore North West Java (ONWJ) KKS. PT. Pertamina Hulu Energi ONWJ concession territory is located on offshore North-West Java basin where assimetrical tertiary basin north-west directed is located in the edge of southern Sunda continental plate which is manifested in the end of Cretaceous. This basin is separated from west to east becomes North Seribu Through, Ardjuna Basin, E-15 Graben, and Jatibarang basin. NAB-1 is a well of E-massive field which is drilled in 2015. While this well is being tested by the end of drilling operation, the reservoir permeability meassured of FR-1 layer is 25 mD which is categorized as low-permeability reservoir. If this well is to be produced, long-period of pay out time is predicted to happen due to low productivity, therefore the company decided to execute a stimulation job in that layer. The stimulation executed is what is written in this Final Assignment, which is Hydraulic Fracturing.Kata kunci: hydraulic fracturing, net pressure, hydraulic horse power, fracture geometry, fracture conductivity, fold of increase
PENDAPATAN MINIMUM PEMERINTAH DARI HASIL KONTRAK KERJASAMA HULU MINYAK DAN GAS BERDASARKAN KETENTUAN KONTRAK, DAN DATA REALISASI PRODUKSI Syamsul Irham
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v2i4.16730

Abstract

Jika kelayakan Kontrak Kerjasama hulu minyak dan gas bumi diukur oleh kontraktor berdasarkan indikator keekonomian, maka apakah yang menjadi indikator kelayakan bagi pemerintah kita? Tulisan ini memaparkan studi berdasarkan data literatur mengenai penerimaan minimal bagi negara dari Kontrak Bagi Hasil Produksi hulu minyak dan gas bumi. Berdasarkan ketentuan kontrak bagi hasil, dapat dihitung minimal penerimaan negara. Selain itu, data-data realisasi produksi tahunan dari kontrak bagi hasil dapat memberikan angka statistik penerimaan negara setiap tahunnya.     Kata Kunci : kerjasamahulu minyak dan gas bumi, kontrak bagi hasil, penerimaan negara.   Abstract The feasibility of upstream oil and gas Cooperation Contracts is measured by contractors based on economic indicators. What then is the feasibility indicator for our government? This paper describes a study based on literature data regarding minimum revenue for the state from upstream oil and gas Cooperation Contracts. Based on the terms of the production sharing contract, a minimum state revenue can be calculated. In addition, data on the realization of annual production from production sharing contracts can provide statistics on state revenue each year. Keywords: upstream oil and gas, production sharing contract, minimum state revenue.
KLASIFIKASI CEKUNGAN BERDASARKAN KUANTITATIF FAKTOR RESIKO GEOLOGI Syamsul Irham
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 4 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v2i4.16731

Abstract

Indonesia memerlukan usaha eksplorasi yang banyak untuk meningkatkan cadangan dan produksi nasional. Banyaknya eksplorasi memerlukan investasi yang besar. Investasi yang besar memerlukan usaha untuk menarik minat investor. Salah satu usaha menarik minat idnvestor adalah dengan memberikan data klasifikasi resiko geologi dari cekungan hidrokarbon. Tulisan ini memaparkan cara sederhana dalam mengelompokkan tingkat resiko geologi dari beberapa cekungan. Faktor pengelompokan didasarkan kuantitatif pada petroleum system: batuan induk, reservoir, tutupan, jebakan, migrasi, patahan, dan perlipatan. Sebagai sampel, telah dipilih beberapa cekungan yang bisa mewakili cekungan yang dikenal sebagai frontier, semi mature and mature. Berdasarkan kuantitative keberdadaan petroleum system tersebut, maka cekungan dikelompokkan menjadi beresiko sangat tinggi sampai beresioko sangat rendah. Kata kunci : petroleum system, analisis kuantitatif, faktor resiko geologi, cekungan Abstract Indonesia requires a lot of exploration effort to increase national reserves and production. Lots of exploration requires a large investment. Large investments require effort to attract investors. One of the efforts to attract investors' interest is to provide geological risk classification data from hydrocarbon basins. This paper describes a simple way of classifying the geological risk levels of several basins. The grouping factors are based on the quatitative of petroleum system: source rock, reservoir, seal, trap, migration, fault, and fold. As a sample, several basins have been selected which can represent basins known as frontier, semi mature and mature. Based on the quantitative existence of the petroleum system, the basins are grouped into very high risk to very low risk. Keywords: petroleum system, quantitative analysis, geological risk factors, basins.
ANALISIS PEMANFAATAN SURFAKTAN MINYAK JELANTAH KONSENTRASI RENDAH UNTUK PROSES PENINGKATAN PEROLEHAN MIGAS Muhammad Ibnu; Lestari Said; Puri Wijayanti; Pauhesti Rusdi; Samsol; Prayang Sunny Yulia
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 3 No. 2 (2022): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v3i2.10078

Abstract

Abstrak Pada tahap pengembangan untuk meningkatkan perolehan minyak bumi terdiri dari 3 tahapan yaitu:primary recovery, secondary recovery, dan tertiary recovery (Enhanced Oil Recovery). Penelitian menggunakan metode Enhanced Oil Recovery di laboratorium Enhanced Oil Recovery Universitas Trisakti. EOR (Enhanced Oil Recovery). terdiri dari injeksi kimia,injeksi uap panas, injeksi gas, dan injeksi microbial. Metode EOR yang dilakukan pada penelitian adalah injeksi surfaktan. Konsentrasi surfaktan yang digunakan 0,3%, 0,4%, dan 0,75% dengan variasi temperatur 30o C dan 70o C. Prosedur penelitian diawali dengan pembuatan brine dan pembuatan surfaktan. Kemudian perhitungan sifat fisik larutan dan perhitungan sifat fisik batuan sampel. Pada Surfaktan konsentrasi 0,2%, 0,3%, 0,4%, 0,5%, dan 0,75% dilakukan uji IFT (Interfacial Tension) untuk mendapatkan nilai CMC (Critical Micelle Concentration). Nilai CMC berada di 0,4% pada temperatur 30o C dan 70o C. Kemudian dilakukan saturasi minyak, dilanjutkan dengan injeksi brine dan injeksi surfaktan didapat recovery faktor. Dari penelitian, didapat hasil Recovery faktor yang dilakukan pengujian di konsentrasi 0,3%, 0,4%, dan 0,75% di temperatur 30o C didapat RF sebesar 33%, 45,8%, dan 42,2%. Recovery factor pada konsentrasi 0,3%, 0,4%, dan 0,75% di temperatur 70o C sebesar 37,2%, 55%, dan 46,7%. Dihasilkan recovery faktor yang paling bagus di konsentrasi 0,4% di temperatur 30o C dan 70o C   Kata kunci: Enhanced Oil Recovery,injeksi kimia,injeksi surfaktan, minyak jelantah.   Abstract At the development stage to increase oil recovery, it consists of 3 stages, namely: primary recovery, secondary recovery, and tertiary recovery (Enhanced Oil Recovery). The study used the Enhanced Oil Recovery method in the Enhanced Oil Recovery laboratory at Trisakti University. EOR (Enhanced Oil Recovery). consists of chemical injection, hot steam injection, gas injection, and microbial injection. The EOR method used in this study is surfactant injection. The surfactant concentrations used were 0.3%, 0.4%, and 0.75% with variations in temperature of 30o C and 70o C. The research procedure began with making brine and making surfactants. Then the calculation of the physical properties of the solution and the calculation of the physical properties of the rock samples. At 0.2%, 0.3%, 0.4%, 0.5%, and 0.75% surfactants, the IFT (Interfacial Tension) test was performed to obtain the CMC (Critical Micelle Concentration) value. The CMC values were at 0.4% at 30oC and 70oC. Then oil saturation was performed, followed by brine injection and surfactant injection to obtain recovery factor. From the research, it was found that the recovery factor was tested at concentrations of 0.3%, 0.4%, and 0.75% at a temperature of 30o C. The RF was 33%, 45.8%, and 42.2%. Recovery factors at concentrations of 0.3%, 0.4%, and 0.75% at a temperature of 70o C were 37.2%, 55%, and 46.7%. The best recovery factor was obtained at a concentration of 0.4% at temperatures of 30o C and 70o C.   Keywords: Enhanced Oil Recovery, chemical injection, surfactant injection, waste cooking oil
KAJIAN INFILTRASI MENGGUNAKAN METODE HORTON DI AREA DESA LANGSE, KARANGSAMBUNG: STUDY OF INFILTRATION USING THE HORTON METHOD IN LANGSE VILLAGE AREA, KARANGSAMBUNG Adjie Saiful Bahri; Reza Aryanto; Taat Tri Purwiyono
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 3 No. 2 (2022): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v3i2.16052

Abstract

Abstrak Infiltrasi merupakan air hujan yang turun ke bumi, kemudian diserap kedalam tanah. Proses tersebut dinamakan proses yang penting dalam suatu daur hidrologi. Penelitian dilakukan di Desa Langse, Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Desa Langse sendiri merupakan daerah yang dikelilingi oleh perbukitan sehingga memiliki topografi yang sangat curam dan terdapat banyak daerah aliran sungai. Analisa laju infiltrasi perlu dilakukan pada daerah tersebut guna mengetahui daerah yang terjadi limpasan pada Desa Langse. Nilai parameter dari laju infiltrasi yang diukur dapat digunakan untuk mengendalikan kondisi wilayah yang terjadi limpasan. Penelitian ini menggunakan alat Double Ring Infiltrometer sebagai pengukur laju infiltrasi dan dengan Metode Horton, nilai kapasitas infiltrasi pada suatu daerah akan dapat dihitung dari hasil pengukuran lapangan. Hasil analisa kedua perhitungan laju infiltrasi dan intensitas hujan dibandingkan dan akan terbentuk peta yang menunjukkan daerah yang terjadi limpasan hujan.   Kata-kata kunci: air, hujan, infiltrasi, metode Horton   Abstract Infiltration is rainwater that falls to the earth, then is absorbed into the ground. The process is called an important process in a hydrological cycle. The research was conducted in Langse Village, Karanggulung, Kebumen, Central Java. Langse Village itself is an area surrounded by hills so it has a very steep topography and there are many river basins. An analysis of the infiltration rate needs to be carried out in the area in order to find out the areas where runoff occurs in Langse Village. The parameter value of the measured infiltration rate can be used to control the condition of the area where runoff occurs. This study uses a Double Ring Infiltrometer as a measure of infiltration rate and with the Horton Method, the value of infiltration capacity in an area can be calculated from the results of field measurements. The results of the analysis of the two calculations of the infiltration rate and rain intensity are compared and a map will be formed showing the areas where rain runoff occurs.   Keywords: water, rain, infiltration, Horton method
Analisa Pengaruh Aditif Arang Kulit Jeruk Pada Surfaktan Terhadap Recovery Factor : Analysis of Effect Orange Peel Charcoal Additive on Surfactant For Recovery Factor Jeremy Ramos Tiopan; Puri Wijayanti
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 3 No. 1 (2022): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v3i1.16064

Abstract

ABSTRAK Hingga saat ini kebutuhan akan minyak bumi semakin meningkat dimana penggunaan sumber daya energi dari bahan bakar fosil tidak sebanding dengan produksi yang dilakukan. Sehingga, dikembangkanlah metode dan teknologi baru yaitu Enhanced Oil Recovery (EOR) dimana dapat meningkatkan perolehan minyak (recovey factor). Pada penelitian kali metode EOR yang digunakan adalah injeksi kimia (chemical injection) dengan menggunakan surfaktan AOS. Penggunaan surfaktan dalam metode injeksi kimia ini bertujuan agar dapat menurunkan nilai tegangan antarmuka pada dua fluida yaitu minyak dan air. Metodologi yang digunakan pada penelitian kali ini menggunakan larutan brine denan salinitas sebesar 5000 ppm, 10000 ppm dan 20000 ppm serta surfaktan AOS dengan konsentrasi sebesar 0.3%, 0.7% dan 1%. Kemudian ditambahkan aditif arang kulit jeruk dengan konsentrasi yang sama seperti surfaktan AOS. Penambahan aditif arang kulit jeruk bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan arang kulit jeruk pada surfaktan terhadap peningkatan recovery factor yang nantinya akan dibandingkan dengan larutan surfaktan tanpa aditif arang kulit jeruk. Berikutnya larutan tersebut akan dilakukan pengujian densitas, viskositas dan Interfacial Tension (IFT) pada suhu 30 oC dan 80 oC. Hasil pengujian tersebut akan didapatkan larutan yang memiliki IFT terendah. Setelahnya akan dilakukan proses saturasi dan terakhir akan dilakukan injeksi coreflooding menggunakan 2 core yaitu J1 yang diinjeksikan brine dan surfaktan. Kemudian pada core J2 yang diinjeksikan dengan brine dan surfaktan ditambah aditif arang. Pada proses kegiatan coreflooding didapatkan hasil dimana core J1 memperoleh RF total sebesar 40.83% dan core J2 memiliki RF total 46.59%. Kata kunci: Surfaktan AOS, Aditif, Arang Kulit Jeruk, Enhanced Oil Recovery, Recovery Factor ABSTRACT Currently the consumption of petroleum continuous to increases, Which is the use of natural resource of fossils is not comparable than the production which is conducted. For this problem the developed of new methods called Enhanced Oil Recovery, which is can increasing recovery factor. In this study, the method of EOR was used chemical injection in form surfactant AOS. The used of surfactant in this injection methods intended to reduced interfacial tension between two fluids, namely oil and water. The methodology that was used in this research is used brine with salinity levels namely 5.000 ppm, 10.000 ppm and 20.000 ppm also the used of AOS surfactant as a solution with a various concentration namely 0.3 %, 0.7 % and 1 %. And then it would be added orange peel charcoal with concentration same as surfactant AOS concentration. The addition of orange peel charcoal is for analyzing the effect of orange peel charcoal addition into surfactant for increasing recovery factor and for the result that would be compared between to the surfactant without orange peel charcoal. Next, the solution would be tested and calculated of density, viscosity and IFT at the temperatures of 30 oC and 80 oC. The result of the tested would get the solution with the lowest IFT. After that would be process of saturation and for the last would be doing coreflooding test used 2 core namely J1 that will injected by brine and surfactant. And then for core J2 will injected by using brie and surfactant with additive charcoal.  After the coreflooding test have got the result that in core J1 obtained Total RF in amount 40.83% and for the core J2 obtained total RF 46.59%