cover
Contact Name
Rini Setiati
Contact Email
rinisetiati@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
jftke@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi - Universitas Trisakti Kampus A, Gedung D Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta Barat, Indonesia Phone: (62-21) 566 3232
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Eksakta Kebumian
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 2775913X     DOI : https://doi.org/10.25105/jek
Core Subject : Science,
Merupakan wadah untuk mempublikasikan karya tulis Teknik Perminyakan, Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan. Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi referensi perkembangan teknologi kebumian
Articles 185 Documents
PENGARUH SUHU TERHADAP KARAKTERISTIK VISKOSITAS XANTHAN GUM DENGAN ADITIF RUMPUT LAUT MERAH UNTUK EOR PADA RESERVOIR DENGAN SALINITAS MENENGAH Wydhea Ayu Septianingrum; Taufiq Fathaddin; Ridha Husla
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Kebutuhan akan peningkatan produksi minyak secara berkelanjutan mendorong pemanfaatan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis polimer. Salah satu polimer yang banyak digunakan adalah xanthan gum karena kemampuannya dalam meningkatkan viskositas fluida injeksi. Namun, efektivitasnya dapat menurun secara signifikan pada suhu reservoir yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu terhadap viskositas larutan xanthan gum yang ditambahkan aditif alami dari rumput laut merah (Kappaphycus alvarezii), dengan fokus pada kondisi salinitas menengah. Pengujian dilakukan secara eksperimental di laboratorium pada beberapa tingkat suhu untuk mengevaluasi stabilitas viskositas. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan suhu menyebabkan penurunan viskositas, namun penambahan ekstrak K. alvarezii mampu memperlambat penurunan tersebut. Formulasi ini menunjukkan ketahanan termal yang lebih baik dibandingkan larutan xanthan gum murni. Temuan ini menunjukkan potensi pemanfaatan aditif alami dalam meningkatkan performa injeksi polimer, khususnya untuk aplikasi EOR pada reservoir dengan salinitas sedang dan suhu yang bervariasi.   The growing need for sustainable oil production has brought renewed attention to polymer-based Enhanced Oil Recovery (EOR) techniques. Xanthan gum, a biopolymer known for its viscosity-enhancing properties, is commonly used in polymer flooding. However, its performance is limited under high-temperature reservoir conditions. This study explores the impact of temperature on the viscosity of xanthan gum solutions enhanced with a red seaweed (Kappaphycus alvarezii) additive, targeting medium-salinity environments. Laboratory-scale rheological tests were conducted at various temperatures to evaluate viscosity stability. Results indicate that viscosity decreases as temperature rises, a known challenge in EOR. Interestingly, the addition of K. alvarezii extract was found to slow the rate of viscosity decline. This behavior suggests that the biopolymer blend offers greater thermal resistance and could potentially improve sweep efficiency in EOR applications. The findings support the use of natural additives to enhance the reliability of polymer flooding in reservoirs with moderate salinity.
MENGIDENFITIKASI DAN MENANGGULANGI  LOST CIRCULATION PADA SUMUR SP LAPANGAN Y Sheyla Putri Maharani; Bayu Satiyawira; Prayang Sunny Yulia
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Hilangnya sirkulasi lumpur pemboran merupakan salah satu permasalahan penting yang sering terjadi dalam proses pemboran minyak dan gas bumi, di mana sebagian atau seluruh lumpur masuk ke dalam formasi bawah permukaan dan tidak kembali ke permukaan. Masalah ini dapat menyebabkan gangguan operasional, serta membahayakan stabilitas lubang bor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus kehilangan sirkulasi lumpur yang terjadi pada sumur SP di Lapangan Y pada kedalaman 1088 ft TVD. Metode yang digunakan meliputi analisis tekanan formasi, tekanan hidrostatik, tekanan rekah, tekanan formasi, serta evaluasi Equivalent Circulating Density. Hasil analisis menunjukkan bahwa tekanan sirkulasi yang terjadi melebihi tekanan rekah formasi, dengan nilai tekanan sirkulasi dasar lubang sebesar 577,691 psi, tekanan hidrostatik 497,87 psi, tekanan formasi 520,50 psi, dan tekanan rekah 568,02 psi. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya rekahan buatan yang menjadi jalur hilangnya lumpur. Permasalahan ini dikategorikan sebagai partial lost dan berhasil ditanggulangi dengan aplikasi material penyumbat pada zona kehilangan menggunakan Lost Circulation Material. Penanganan yang tepat memungkinkan kegiatan pemboran dapat kembali dilanjutkan secara aman dan efisien.   Loss of drilling mud circulation is one of the important problems that often occurs in the oil and gas drilling process, where part or all of the mud enters the subsurface formation and does not return to the surface. This problem can cause operational disruption, as well as jeopardize borehole stability. This study aims to analyze the case of mud circulation loss that occurs in the SP well in Y Field at a depth of 1088 ft TVD. The methods used include analysis of formation pressure, hydrostatic pressure, fracturing pressure, formation pressure, and evaluation of Equivalent Circulating Density. The analysis results show that the circulation pressure exceeds the formation fracture pressure, with a hole bottom circulation pressure value of 577.691 psi, hydrostatic pressure of 497.87 psi, formation pressure of 520.50 psi, and fracture pressure of 568.02 psi. These conditions led to the formation of artificial fractures that became the pathway for mud loss. This problem was categorized as partial loss and was successfully addressed by the application of plugging material in the loss zone using Lost Circulation Material. Proper handling allowed drilling activities to resume safely and efficiently.
EVALUASI DAN OPTIMASI POMPA ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP PADA SUMUR FT-08 LAPANGAN TF Muhammad Alfatah; Djunaedi Agus Wibowo; Harin Widiyatni
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penurunan tekanan reservoir secara alami menyebabka penurunan produksi fluida dari sumur minyak, sehingga penerapan metode pengangkatan buatan seperti Electric Submersible Pump (ESP) menjadi penting untuk mempertahankan dan meningkatkan laju produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengoptimasikan kinerja pompa ESP pada sumur FT – 08 dilapangan TF yang mengalami penurunan efisiensi volumetric di bawah standar operasi optimal. Evaluasi dilakukakn dengan menghitung kurva Inflow Performance Relationship (IPR) menggunakan metode Vogel dan parameter produktivitas sumur, serta menganalisis efisiensi volumetric pompa dengan parameter desain dan operasional ESP seperti tekanan intake, total dynamic head (TDH), dan laju alir fluida actual. Hasil evaluasi menunjukan bahwa kurva IPR menghasilkan laju alir teoritis sebesar 619,37 BPD dengan tekanan dasar sumur (Pwf) 233,86 psia, sedangkan efisiensi volumetrik aktual pompa mencapai 84% yang meunjukkan adanya potensi optimasi. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merekomendasikan redesain atau penggantian pompa yang lebih sesuai dengan kondisi aktual sumur untuk meningkatkan efisiensi produksi jangka Panjang.   The natural decline in reservoir pressure leads to a significant reduction in fluid production from oil wells, making the application of artificial lift methods such as the Electric Submersible Pump (ESP) essential to sustain and enhance production rates. This study aims to evaluate and optimize the performance of the ESP installed in Well FT-08 of the TF Field, which has experienced a decline in volumetric efficiency below the operational optimum. The evaluation was conducted by constructing the Inflow Performance Relationship (IPR) curve using the Vogel method and analyzing the well's productivity index, along with performance metrics such as pump intake pressure, total dynamic head (TDH), and actual flow rate. The IPR analysis yielded a theoretical production rate of 619.37 BPD at a bottomhole flowing pressure (Pwf) of 233.86 psia, while the measured volumetric efficiency of the installed ESP reached 84%, indicating the potential for further optimization. Based on these results, the study recommends redesigning or replacing the pump with a configuration better suited to the current reservoir and well conditions to enhance long-term production efficiency
ANALISIS PENGARUH SUHU LUBANG LEDAK TERHADAP FUMES HASIL PELEDAKAN PADA TAMBANG EMAS PT MEARES SOPUTAN MINING Muhammad Al Harist; Pantjanita Novi Hartami; Yuga Maulana
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Gas beracun (fumes) yang dihasilkan dari peledakan tambang emas terbuka ini berbahaya dan terbentuk akibat pembakaran tidak sempurna. Studi ini mengukur jenis dan jumlah fumes serta mengevaluasi metode pengukuran yang tepat dan aman. Hasilnya menunjukkan bahwa campuran bahan peledak yang kurang tepat dapat meningkatkan produksi fumes. Pengukuran gas dilakukan dengan menggunakan gas detector yang diletakkan pada drone. Hasil pengukuran gas beracun (fumes) ditemukan kadar karbon monoksida CO sebesar 9 ppm dam hidrogen sulfida H₂S 0 ppm, hasil gas beracun yang dihasilkan cukup rendah. Kadar fumes ini dipengaruhi oleh suhu lubang ledak dan perbedaan antara rencana dan pelaksanaan peledakan, terutama kedalaman lubang ledak. Berdasarkan hasil pengukuran ini, dapat disarankan untuk waktu tunggu pekerja sebelum melakukan pemeriksaan pasca-peledakan guna memastikan keamanan dapat dilakukan satu menit setelah peledakan dilakukan.   The toxic gases (fumes) produced by blasting an open-pit gold mine are hazardous and are formed by incomplete combustion. This study measured the type and amount of fumes and evaluated appropriate and safe measurement methods. The results show that improper explosive mixtures can increase the production of fumes. Gas measurements were taken using a gas detector mounted on a drone. The results of the measurement of toxic gases (fumes) found carbon monoxide CO levels of 9 ppm and hydrogen sulfide H₂S 0 ppm, the results of toxic gases produced are quite low. The level of fumes is influenced by the blast hole temperature and the difference between the plan and the blasting execution, especially the depth of the blast hole. Based on the results of these measurements, it can be suggested that the waiting time for workers before conducting a post-blast inspection to ensure safety should be one minute after blasting.
KAJIAN TEKNIS DESAIN KOLAM PENGENDAPAN DI PIT CW 8 PT RODA JAYA SAKTI SULAWESI TENGAH Jian Karunia; Pantjanita Novi Hartami; Edy Jamal Tuheteru
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Kolam pengendapan berfungsi untuk mengendapkan lumpur atau material lain sehingga air yang dialirkan dari kolam pengendapan ke sungai sudah jernih, selain itu hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pendangkalan sungai. Kolam pengendapan juga dapat berfungsi sebagai tempat pengontrol kualitas dari air yang akan dialirkan keluar kolam pengendapan. Rancangan kolam pengendapan yang akan dibuat berdasarkan total pada debit air yang masuk ke dalam kolam pengendapan, yaitu sebesar 4,98 m3/s dengan intensitas air hujan sebesar 47,562 mm/jam Kolam pengendapan yang dirancang berbentuk limas terpancung yang dibuat berkelok-kelok (zig-zag). Kolam pengendapan yang di rancang memiliki 4 buah kompartemen dengan kedalam 5 m dan total volume rencangan sebesar 9.558 m3 dan memiliki 2 buah penyekat dengan lebar penyekat sebesar 5 m kecepatan pengendapan 0,00236 m/s dan waktu kecepatan pengendapan yaitu 35,31 menit. Kolam pengendapan harus dilakukan pemeliharaan agar dapatberfungsi dengan baik dan lama, yaitu dengan cara kolam pengendapan dibersihkan dari material padatanyang mengendap ke dasar kolam dengan menggunakan excavator komatsu PC 200 long arm. Untuk setiap kompartemen memiliki waktu pemeliharaan yang berbeda – beda pada tiap kompartemennya yaitu pada kompartemen 1 dapat dilakukan pemeliharaan 3 hari sekali. Kompartemen 2 dilakukan dilakukan setiap 8 hari sekali. Kompartemen 3 dilakukan setiap 24 hari sekali. Kompartemen 4 dilakukan setiap 303 hari sekali, dan diharapkan air yang keluar dari kompartemen 4 telah terendapkan sempurna.   The sedimentation pond functions to settle mud or other materials so that the water flowing from the sedimentation pond to the river is clear, in addition, this is also intended to prevent river siltation. The sedimentation pond can also function as a place to control the quality of water that will be flowed out of the sedimentation pond. The design of the sedimentation pond to be made is based on the total water discharge entering the sedimentation pond, which is 4.98 m3 / s with a rainfall intensity of 47.562 mm / hour The sedimentation pond designed is in the form of a truncated pyramid that is made winding (zig zag). The sedimentation pond designed has 4 compartments with a depth of 5 m and a total design volume of 9,558 m3 and has 2 partitions with a partition width of 5 m, a sedimentation speed of 0.00236 m / s and a sedimentation speed time of 35.31 minutes. Sedimentation ponds must be maintained so that they can function properly and for a long time, namely by cleaning the sedimentation pond from solid material that settles to the bottom of the pond using a Komatsu PC 200 long arm excavator. Each compartment has a different maintenance time for each compartment, namely compartment 1 can be maintained once every 3 days. Compartment 2 is carried out every 8 days. Compartment 3 is carried out every 24 days. Compartment 4 is carried out every 303 days, and it is hoped that the water that comes out of compartment 4 has been completely deposited.