cover
Contact Name
AL UM ANISWATUN KHASANAH
Contact Email
fisioterapifisioterapi@gmail.com
Phone
+6282179914381
Journal Mail Official
fisioterapifisioterapi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 116, 15A Iringmulyo, Metro Timur, Kota Metro, Lampung HP: +62 821-7991-4381 (Al Um Anisawatun) E-mail: anisfisioterapi@gmail.com
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Profesional Fisioterapi
ISSN : 28097823     EISSN : 28097319     DOI : https://doi.org/10.24127
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Profesional Fisioterapi published by Universitas Muhammadiyah Metro. This journal is an open access. contains articles in the form of research, the study of literature, ideas, application of theory, critical analysis study, and studies to the Islamization of science education in the field of Physiotherapy. Jurnal Profesional Fisioterapi is published two times a year January and July.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2023): July" : 6 Documents clear
FISIOTERAPI PADA KASUS DROP FOOT DI RS KELET DONOROJO JEPARA: STUDI KASUS Ratnasari, Eka Febri; Herawati, Isnaini; Prihastomo, Teguh
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.2722

Abstract

Drop Foot adalah kondisi umum di mana seseorang kehilangan kendali atas dorsofleksi pergelangan kaki. Seringkali, disfungsi saraf peroneal umum (Common Peroneal Nerve) menyebabkan kelumpuhan otot dorsofleksi pergelangan kaki termasuk; tibialis anterior, dorsi flexors jari kaki, ekstensor digitorum brevis, dan ekstensor hallucis longus. Kusta adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Lepra. Deformitas fungsional yang umum ditemukan pada kasus kusta adalah ulkus tangan, ulkus kaki, drop hand, drop foot dan juga claw hand. Drop foot ditemukan pada 2% hingga 5% pasien yang baru didiagnosis dengan kusta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah modalitas fisioterapi berupa TENS, Streching, dan Strengthening efektif digunakan dalam penanganan kasus drop foot. Dengan metode penelitian berupa case study yang dilakukan di RS KELET DONOROJO pada bulan Desember 2021. Hasil penelitian di dapatkan bahwa intervensi fisioterapi yang dilakukan selama 6 kali pertemuan menunjukkan hasil akhir berupa penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi dan peningkatan kemampuan fungsional pasien. Drop Foot is a common condition in which a person loses control of the dorsiflexion of the foot. Occasionally, generalized peroneal nerve dysfunction causes paralysis of the dorsiflexion muscles of the foot including; tibialis anterior, dorsi flexor toes, extensor digitorum brevis, and extensor hallucis longus. Leprosy is an infectious disease caused by Mycobacterium leprosy. Functional deformities commonly found in cases of leprosy are hand ulcers, foot ulcers, drop hands, drop feet and claw hands. Foot fall in 2% to 5% of patients newly diagnosed with leprosy is found. The purpose of this study was to determine whether physiotherapy modalities such as TENS, stretching, and stretching are effective in treating drop foot cases. With a research method in the form of a case study conducted at RS KELET DONOROJO in December 2021. The results showed that the physiotherapy intervention carried out for 6 meetings showed the final result in the form of decreasing pain, increasing joint ability and increasing the patient's functional ability.
A MANAJEMEN FISIOTERAPI PADA KASUS RETENSI SPUTUM et causa IMMOBILISASI POST CRANIOTOMY Dzuria, Rahma Affanatu; Susilo, Taufik Eko
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.2915

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Craniotomy adalah prosedur operasi untuk membuka bagian tengkorak (cranium) dengan tujuan memperbaiki dan mengetahui kerusakan yang ada di otak. Tindakan ini dilakukan karena adanya tumor otak, hematoma, trauma ataupun infeksi pada otak. Kondisi ini bisa menimbulkan probematik fisioterapi akibat tirah baring yang lama, diantaranya penurunan lingkup gerak sendi, atrofi, gangguan pernafasan, penurunan kemampuan fungsional, dan produksi sputum atau dahak berlebihan. Manajemen fisioterapi yang diberikan kepada pasien post craniotomy yang mengalami retensi sputum adalah chest fisioterapi, yaitu Deep Breathing Exercise, tapotement, vibration. Tujuannya untuk meningkatkan respirasi dan mengeluarkan sputum yang ada di dalam paru-paru akibat tirah baring. Intervensi lain yang diberikan yaitu pasif exercise yang dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya perlengketan jaringan dan memelihara elastisitas otot. Tujuan: untuk mengetahui efektifitas chest fisioterapi, yaitu Deep Breathing Exercise, tapotement, vibration untuk mengurangi sesak napas dan mengeluarkan sputum pada pasien post craniotomy. Metode Penelitian : Studi yang dilakukan saat ini menggunakan single-subject research dengan pendekatan desain ABA. Hasil : adanya penurunan sesak napas yang diukur dengan borg scale dan adanya peningkatan kemampuan fungsional. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa chest fisioterapi ( deep breathing exercise, tapotement, vibration) efektif dalam mengurangi sesak napas dan mengeluarkan sputum pada pasien dengan kondisi post craniotomy. Kata kunci : Craniotomy, Retensi Sputum, Chest Fisioterapi
A CASE STUDY : EFEK STRETCHING EXERCISE UNTUK PENURUNAN NYERI DAN PENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI PADA KASUS NECK PAIN Maharani, Anissa Suci; Wijianto, Wijianto; Harmasto, Eko
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.2982

Abstract

Pendahuluan : Nyeri leher adalah keluhan yang sangat umum, tujuh puluh persen populasi pernah mengalami dalam hidupnya. Nyeri leher diimplikasikan oleh faktor-faktor seperti cedera, faktor pekerjaan, dan faktor non pekerjaan. Nyeri leher dapat menyebabkan berkurangnya penggunaan otot yang melibatkan gerakan berulang pada batang tubuh bagian atas karena berpotensi memicu timbulnya rasa sakit. Stretching adalah istilah yang digunakan untuk memanjangkan struktur jaringan lunak yang memendek, rileksasi,nyeri berkurang dan spasme berkurang. Metode : Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus ini yaitu dengan pemberian stretching exercise untuk menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan lingkup gerak sendiri pada leher. Hasil : penelitian setelah dilakukan fisioterapi selama 4 minggu dan sebanyak 8 kali didapatkan hasil adanya penurunan intensitas nyeri pada minggu ke-4 yaitu nyeri gerak (0), nyeri tekan (0), dan nyeri diam (0). Peningkatan pada lingkup gerak sendi juga terlihat pada minggu ke-4 didapatkan hasil yaitu bidang sagital didapatkan hasil (80º-0º- 50º), bidang frontal (45º-0º-45º), bidang transversal (80º-0º-80º) pada minggu ini telah tercapai LGS normal tanpa keterbatasan dan tanpa nyeri. Kesimpulan : Penatalaksaan fisioterapi berupa Stretching exercise yang diberikan kepada pasien dengan diagnosis neck pain e.c thighness neck muscle post tiroidektomi didapatkan hasil bahwa stretching exercise dapat menurunkan intensitas nyeri dan meningkatan lingkup gerak sendi leher.
PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS POST ARTHROPLASTY TOTAL KNEE REPLACEMENT SINISTRA ET CAUSA OSTEOARTHRITIS KNEE: CASE REPORT Vitamara, Yohanna; Santoso, Totok Budi; Larasati, Prihantoro
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.3808

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Total Knee Replacement (TKR) adalah prosedur pembedahan yang ditujukan untuk mengembalikan fungsi dan penyembuhan nyeri pada pasien Osteoartritis lutut (OA lutut). Semakin meningkatnya prevalensi OA lutut dengan tingkat keparahan yang tinggi, maka meningkat pula prevalensi TKR. Meskipun TKR efektif untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan fungsi fisik pada pasien OA lutut, pasien yang menjalani operasi TKR sangat memungkinkan masih mengalami gangguan fungsional yang cukup besar pasca operasi. Fisioterapi pada pasien post op TKR secara umum dilakukan dengan tujuan optimalisasi pasca hasil operasi, termasuk kekuatan otot, fungsi fisik, dan pengurangan rasa nyeri, hingga dapat kembali lagi ke aktivitas normal sehari-hari. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas dan pengaruh pemberian intervensi fisioterapi dengan modalitas Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Closed Kinetic Chain (CKC) exercise pada pasien dengan kondisi post operasi artoplasti Total Knee Replacement (TKR). Metode: Single-subject research yang dilakukan kepada seorang wanita berusia 54 tahun dengan kondisi post op Total Knee Replacement sinistra. Subjek diberikan intervensi TENS dan Closed Kinetic Chain Exercise (CKC) sebanyak 3 kali pertemuan selama 3 minggu. Hasil: Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrumen pengukuran Numeric Pain Rating Scale (NPRS), Range of Motion (ROM), Manual Muscle Testing (MMT), dan WOMAC indeks. Simpulan: Terdapat perubahan kondisi pasien ke arah baik yaitu penurunan rasa nyeri, peningkatan ROM, MMT, dan kemampuan aktivitas fungsional. Kata Kunci: total knee replacement, osteoartritis lutut, nyeri, TENS, closed kinetic chain exercise ABSTRACT Introduction: Total Knee Replacement (TKR) is a surgical procedure aimed at restoring function and healing pain in patients with Osteoarthritis knee (OA of the knee). With the increasing prevalence of knee OA with a high level of severity, the prevalence of TKR also increases. Although TKR is effective in reducing pain and improving physical function in patients with knee OA, it is very likely that patients who undergo TKR surgery still experience significant functional impairment after surgery. Physiotherapy in TKR post-op patients is generally carried out to optimize postoperative results, including muscle strength, physical function, and pain reduction so that they can return to normal daily activities. Objective: To determine the effectiveness and effect of providing physiotherapy interventions with Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and Closed Kinetic Chain (CKC) exercise modalities in patients with postoperative Total Knee Replacement (TKR) arthroplasty conditions. Methods: Single-subject research was conducted on a 54-year-old woman with post-op Total Knee Replacement left. Subjects were given TENS intervention and Closed Kinetic Chain Exercise (CKC) 3 meetings for 3 weeks. Results: The evaluation was carried out using the Numeric Pain Rating Scale (NPRS), Range of Motion (ROM), Manual Muscle Testing (MMT), and the WOMAC index. Conclusion: There is a change in the patient's condition in a good direction, namely a decrease in pain, an increase in ROM, MMT, and ability to function. Keyword: total knee replacement, osteoarthritis knee, pain, TENS, closed kinetic chain exercise
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS POST DOUBLY COMMITTED SUBARTERIAL VENTRICULAR SEPTAL DEFECTS CLOSURE:: LAPORAN KASUS Randa, Meybi; Wijianto, Wijianto; Susilo, Ridwan Andi
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.3928

Abstract

Pendahuluan: Subarterial doubly committed (SADC) merupakan subtipe VSD yang dikenal sebagai tipe VSD infundibular yang terletak di bawah katup semilunar (aorta dan pulmonal) di septum outlet ventrikel kanan diatas crista supraventricularis. Jenis VSD ini pada populasi Asia menyumbang sekitar 30% dibandingkan dengan populasi Barat (5-10%). Kelainan ini menyebabkan tidak mampunya katup menutup secara spontan dan prolaps katup aorta, serta regurgitasi aorta (AR) yang diperkirakan melebihi 40% akibat tidak adanya septum infundibular. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah case report dengan identitas seorang pria berusia 24 tahun terdiagnosa subarterial doubly committed pasca operasi VSD closure atau penutupan katup jantung yang akan mengikuti program rehabilitasi jantung di RSUD Moewardi Surakarta dengan jenis latihan aerobic sebanyak 3 kali pertemuan dan keluhan pasien sekarang adalah mudah lelah, serta intoleransi aktivitas. Hasil: Latihan pertama diperoleh METS 9,131 atau VO2Max 31,960, latihan kedua diperoleh METS 8,90 atau VO2Max 31,151 dan latihan ketiga 7,65 METS. Simpulan: Adanya pengaruh latihan aerobic terhadap proses penyembuhan pasca operasi VSD closure, tetapi terjadi penurunan kapasitas aerobic akibat latihan home program yang jarang dilakukan pasien. Introduction: Subarterial double committed (SADC) is a subtype of VSD known as the infundibular VSD type which is located below the semilunar valves (aortic and pulmonary) in the right ventilation outlet septum above the supraventricular crista. This type of VSD in the Asian population accounts for about 30% compared to the Western population (5-10%). This condition causes the inability of the valve to close spontaneously and prolapse of the aortic valve, as well as aortic regurgitation (AR) which is estimated to exceed 40% due to the absence of an infundibular septum. Methods: The research method used was a case report with the identity of a 24-year-old man diagnosed with subarterial double commit after VSD closure surgery or heart valve closure who was going to take part in a cardiac rehabilitation program at the regional public hospital Moewardi Surakarta with a type of aerobic exercise for 3 meetings and the patient's complaints are now easily tired and activity intolerance. Results: The first exercise obtained METS 9.131 or VO2Max 31.960, the second exercise obtained METS 8.90 or VO2Max 31.151 and the third exercise 7.65 METS. Conclusion: There is an effect of aerobic exercise on the healing process after VSD closure surgery, but there is a decrease in aerobic capacity due to exercise programs at home which patients rarely do.
PERBEDAAN PENGARUH CONTINUOUS RUNNING DAN HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING TERHADAP PENINGKATAN CARDIORESPIRATORY FITNESS PADA SISWA SMAN 83 JAKARTA DENGAN AKTIVITAS FISIK RENDAH Nasirudin, Yusuf; Humaira, Inayah; Abida, Liza Laela
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 2 No. 2 (2023): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v2i2.4261

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan yang dihasilkan oleh otot rangka serta memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik rendah akan mengakibatkan cardiorespiratory fitness yang buruk sehingga mudah lelah saat menjalankan aktivitas. Aktivitas fisik yang rendah yaitu ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi pedoman aktivitas fisik perminggu. Cardiorespiratory fitness adalah kemampuan tubuh melakukan tugas dan pekerjaan sehari hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Cardiorespiratoy Fitness dapat berperan dalam menunjang prestasi siswa di sekolah. Latihan yang dapat meningkatkan Cardiorespiratory fitness adalah Continuous running dan High intensity interval training. Metode: Penelitian ini bersifat quasi eksperimental dengan pendekatan two group pre dan post test. Sampel terdiri dari 21 orang siswa di SMAN 83 Jakarta yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil: Uji statistik dengan menggunakan program SPSS pada uji Paired sample t-test pada kelompok continuous running dengan p value sebesar 0,001 yang dimana p<0,05 dan pada kelompok High intensity interval training dengan p value sebesar 0,000 yang dimana p<0,05. Hasil uji Independent sample t-test diperoleh nilai p value sebesar 0,011 yang dimana p<0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan pengaruh continuous running dan high intensity interval training terhadap cardiorespiratory fitness dimana high intensity interval training lebih dapat meningkatkan cardiorespiratory fitness pada siswa SMAN 83 Jakarta dengan aktivitas fisik rendah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6