cover
Contact Name
Suci Rahmi
Contact Email
jtpp@utu.ac.id
Phone
+6285260005998
Journal Mail Official
jtpp@utu.ac.id
Editorial Address
jtpp@utu.ac.id
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Published by Universitas Teuku Umar
ISSN : -     EISSN : 27235157     DOI : -
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian (JTPP) focuses on publishing original research manuscripts and reviewing manuscripts dealing with food science, food technology, food nutrition, the application in the food industry, and other related topics. The JTPP welcomes research manuscripts as follows: Food science (including food chemistry, food microbiology, and food biochemistry), Food technology, Food processing, Food engineering, Food safety, Food nutrition and quality, Postharvest technology, Their application in the food industry
Articles 60 Documents
Application of Pectin Extracted from Pomelo Peel in Making of Pomelo Jam (Citrus maxima L.) Humairah H; Mulyati M Tahir
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pomelo has many benefits as a potential fruit in South Sulawesi therefore they can be processed into a variety of products; one of them is pomelo jam. In this research, pomelo peel was utilized into pectin then applied on to a pomelo jam. The aim of this study was to determine characteristics of pectin from pomelo peel, by looking at the effect of pomelo peel pectin on a pomelo jam, and selected formulation in making of pomelo jam. Pectin was extracted from pomelo peel powder using distilled water and HCl. The filtrate was precipitated using 95% ethanol, rinsed, then dried. Pectin was characterized and applied to pomelo jam. Pomelo jam was made with soaking, boiling, and pulverization. Pomelo pulp was heated then sugar and pectin were added according to the formulation. Parameters on jam observed included organoleptic aspects, spreadability, moisture content, total soluble solids (TSS), vitamin C, and crude fiber. Pectin from pomelo was typically low methoxyl pectin and low degree of esterification (<50%). Panelists were preferred pomelo jam for G1P1 formulation (33% sugar; 0.3% pectin) with a score of 5 (slightly liked) out and  score 3 (smooth) for spreadability. The water content of pomelo jam was 23-30%, TSS was 39.47-560Brix, vitamin C ranged from 0.004-0.006%, and crude fiber was 0.96%-1.20%. Characteristics of pomelo peel were low methoxyl, low methyl ester, the equivalent weight of 627.64 mg, and galacturonic acid 212.61%. Interaction between concentration of sugar and pectin had a significant effect on TSS, while the concentration of sugar had a significant effect on aroma, spreadability, and moisture content, whereas the concentration of pectin had no significant effect on jam parameters. A combination of 0.3% pectin and sugar 33% was the selected formulation in making pomelo jam.
KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN VARIASI KONSENTRASI Eti Indarti; Mirrah Nafishah Zara; Bahlina Mohd Nur
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v4i1.5295

Abstract

Rumput laut memiliki senyawa hidrokoloid seperti karagenan, agar, dan alginat yang dapat dimanfaatkan sebagai senyawa pengemulsi dan pengental dalam industri makanan, jelly, ice cream, roti (bakery), kosmetik, obat-obatan, selai, dan tekstil. Karagenan yang bersifat hidrokoloid menjadikannya berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar pembuatan edible film. Edible film merupakan kemasan primer yang berupa lapisan tipis yang berfungsi sebagai pelapis bahan pangan. Penggunaan edible film ini juga dapat mengurangi penggunaan plastik kemasan pembungkus pada bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi terbaik dalam proses pembuatan edible film dari rumput laut dengan penambahan dengan konsentrasi ekstrak karagenan yang berbeda-beda dan mempelajari karakteristik edible film yang dihasilkan. Rumput laut yang digunakan berbentuk semi basah dengan konsentrasi 20% (K1) dan 30% (K2). Ketebalan edible film rumput laut E. cottonii menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi rumput laut yang ditambahkan maka ketebalan film yang dihasilkan akan semakin tinggi (K2). Pengujian transparansi menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi rumput laut yang ditambahkan (K2) maka nilai transmitan film semakin rendah (1,16% pada panjang gelombang 700 nm) dan mengindikasikan bahwa tingkat transparansi semakin tinggi. Hasil kadar air edible fil yang terbaik adalah 21,16%, nilai kuat tarik sebesar 0,74 MPa dan young modulus sebesar 0,013 kg/mm2.
STUDI KARAKTERISTIK KERUPUK: PENGARUH KOMPOSISI DAN PROSES PENGOLAHAN Novriaman Pakpahan; Nelinda Nelinda
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v1i1.1484

Abstract

Kerupuk adalah sejenis makanan ringan yang sangat dikenal kenal di Indonesia. Produk ini memiliki densitas rendah, berporos dan bertekstur renyah. Kerupuk telah dikembangkan dengan berbagai komposisi bahan dan teknik pengolahan yang berbeda. Ulasan ilmiah ini bertujuan untuk mempelajari keterkaitan komposisi bahan dan proses pengolahan terhadap karakteristik kerupuk berdasarkan hasil studi penelitian yang telah ada.  Studi terkait kerenyahan sebagai indikator mutu kerupuk juga dijelaskan dalam ulasan ini. Sensasi kerenyahan kerupuk terjadi akibat adanya kejadian retakan dan bunyi pada matriks gelas saat digigit. Kerupuk yang memiliki pengembangan tinggi, jumlah pori banyak, dan dinding pori tipis mempunyai tingkat kerenyahan yang tinggi. Ada dua variabel yang bekerja dalam pembentukkan stuktur dan pengembangan kerupuk yaitu perpindahan massa uap air dan sifat viskoelastis polimer. Perpindahan massa uap air menghasilkan tekanan terhadap polimer dan polimer bertahan terhadap tekanan tersebut. Kedua variabel ini membentuk kesetimbangan yang menentukan ukuran pori, ketebalan dinding pori dan besarnya volume pengembangan kerupuk. Sifat viskoelastis polimer pati dipengaruhi oleh jenis pati, proses pemasakan, pendinginan gel pati dan interaksi gel dengan bahan lainnya seperti protein, garam dan air. Tekanan uap air dipengaruhi oleh proses pemanasan, kadar air dan unsur bahan lain seperti soda kue. Kata kunci : Kerenyahan, kerupuk, pengembangan, tekstur
Karakteristik Sensori Cookies Mocaf dengan Substitusi Tepung Labu Kuning Maya Indra Rasyid; Sri Maryati; Nanda Triandita; Hilka Yuliani; Lia Angraeni
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v2i1.2043

Abstract

Cookies merupakan salah satu bentuk sediaan pangan instan yang dibuat dari campuran terigu dan tepung-tepungan dengan penambahab gula, butter dan lainnya dengan bantuan proses pengovenan. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan cookies menggunakan tepung mocaf dengan substitusi tepung labu kuning yang diharapkan memiliki karakteristik sensori yang baik dari panalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sensori (tingkat kesukaan) terdiri dari warna, aroma, rasa, kerenyahan dan overall  dari berbagai formulasi cookies berbahan baku mocaf dan tepung labu kuning. Pembuatan cookies mocaf  dengan  presentase penambahan formula tepung labu kuning yaitu 0% (cookies A);  20%  (cookies B); 30% (cookies C); dan  40% (cookies D), kemudian dilakukan pengujian sensori dengan uji hedonik meliputi warna, aroma, rasa, tekstur dan overall. Berdasarkan karakteristik sensori produk cookies terbaik adalah produk cookies A (100% tepung mocaf dan 0% tepung labu kuning). Dari hasil penelitian diketahui panalis lebih menyukai produk cookies tanpa penambahan tepung labu kuning. Kata kunci: Cookies; mocaf ; labu kuning;  sensori
Analisis Kimia dan Tingkat Kesukaan terhadap Abon Daun Singkong dengan Perlakuan Lama Perebusan Nela Eska Putri; Nanda Triandita; Maya Indra Rasyid; Reno Irwanto; Didit Hadisiswaya; Nyimas Rupiah; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v2i2.2739

Abstract

Cassava leaves have a high nutritional content, including carbohydrates, proteins, fats and minerals.Cassava leaves can be processed into chopped dry food like a floss. The treatment of long time boiling cassava leaves (P1=0, P2=10, P3=20, and P4=30 minutes) was studied to observe the characteristics of the formed cassava leaf floss, including water content (%), ash content (%), pH, antioxidant capacity (%), and sensory value. The result showed that treatment of long time boiling cassava leaves 10-20 minutes did not significantly affect the water content, but boiling for 30 minutes had a significant effect on the resulting water content (13.52%). Boiling time did not significantly affect ash content, pH, and antioxidant capacity of cassava leaf floss. Based on the analysis of the hedonic ranking test, it showed that the P1 was the most preferred by the panelists. P1 has a moisture content of 5.16 ± 0.32%, an ash content of 8.85 ± 2.95%, a pH of 5.76 ± 0.16, and an antioxidant capacity of 66.47%.
Bioaktivitas Pala (Myristica fragrans Houtt) Ulasan Ilmiah Andi Fitra Suloi
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah tanaman yang banyak tumbuh di beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat dan daerah lainnya. Pala merupakan salah satu jenis rempah yang populer di Indonesia karena nilai kulinernya. Karakteristik fisik dan kimia buah pala setiap daerah berbeda-beda sehingga berpengaruh terhadap biokativitas yang dihasilkan. Saat ini, pemanfaatan pala masih sangat terbatas pada produk olahannya sedangkan pemanfaatannya sebagai obat masih sangat terbatas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan pala dalam bidang farmakologis masih sangat berkembang hingga saat ini seperti antiinflammatory, antimikroba, antioksidan, dan antifungi. Komponen utama buah pala adalah trimiristin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri dan antijamur. Selain itu, senyawa fenolik lainnya seperti fenilpropanoid, lignan dan neolignan merupakan komponen utama buah pala. Ulasan ilmiah ini di buat untuk mengulas tentang bioaktivitas pala berdasarkan penelitian-penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan. Berdasarkan ulasan ilmiah ini dapat diketahui bahwa pala menunjukkan aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi dan antifungi. Oleh karena itu, buah pala berpotensi digunakan sebagai alternatif pengobatan dalam bidang kesehatan. Kata kunci: Antibakteri; antifungi; antiinflamasi; antioksidan; pala
Pengaruh Penggunaan Tepung Pisang (Musa paradisiaca) Dan Lama Fermentasi Terhadap Sifat Fisikokimia Roti Utti Nurhilmi Halisa R Halisa R; Zainal Zainal
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Roti utti merupakan salah satu jenis kue tradisional yang berasal dari suku bugis dan diolah dari pisang utuh yang dicampur dengan tepung beras. Roti utti dapat menjadi alternatif produk pangan dengan serat yang mencukupi. Diperlukan inovasi untuk memperbaiki sifat fisikokimia roti utti guna meningkatkan daya tariknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung pisang tingkat kematangan 2 dan 6 serta lama fermentasi terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik roti utti, dan untuk mengetahui formulasi terbaik dalam pembuatan roti utti. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan terdiri dari penggunaan pisang, tepung pisang dengan kematangan 2, tepung pisang dengan kematangan 6 dan lama fermentasi yaitu 30 menit, 60 menit dan 90 menit. Parameter yang diamati meliputi volume spesifik, tekstur, porositas roti, kadar air, kadar abu, kadar serat kasar dan organoleptik. Pemilihan perlakuan terbaik dilakukan dengan melihat parameter hasil analisis fisik dan dilanjutkan dengan analisis organoleptik metode perbandingan jamak. Perlakuan roti utti terbaik adalah roti utti dari tepung pisang kematangan 2 dengan lama fermentasi 60 menit dengan nilai volume spesifik 3.78 ml/g, porositas roti 38.42 cm-2 dan tekstur 4.33 N. Nilai organoleptik yaitu 3.9 yang menunjukkan lebih baik dari sampel pembanding (roti utti komersial). Hasil analisis kimia roti utti yaitu kadar air 47.62%, kadar abu 4.98% dan kadar serat kasar 3.27%. Kata kunci: Pisang; Tepung Pisang; Fermentasi; Roti Utti; Tingkat Kematangan
Penentuan Kadar Minyak Atsiri Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii, Blume) dengan Perlakuan Pendahuluan pada Daun Reno Irwanto; Anwar Kasim; Sahadi Didi Ismanto
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v4i1.5661

Abstract

Essential oils are essential oils that have a characteristic smell of plants and are volatile. Essential oils can be obtained by several processes such as distillation, enfleuration, maceration and extraction. Distillation is a technique used to separate the desired compound (essential oil) based on differences in boiling points. The detailing process is carried out in several ways including pre-treatment in the form of withering, drying and size reduction. Distillation can also be done by giving different distillation times. The distillation process was carried out through the stages of preparation of cinnamon leaves for determination of essential oil content, preparation of cinnamon leaves for pilot-scale distillation, separation of cinnamon leaf essential oil with distilled water, as well as analysis of the physical and chemical properties of distilled cinnamon leaf essential oil. This study used a Factorial Completely Randomized Design (CRD) with differences in distillation time (3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, and 7 hours), and leaf conditions (fresh and dry leaf conditions) for 2 replications. Data analysis was carried out with the F test at a 5% significance level, if the results were significantly different then the analysis continued with the "Duncan's New Multiple Range Test" (DNMRT) test. The results showed that the optimum distillation time was 5 hours for fresh and dry leaves with chemical and physical properties, namely yield of 0.39%, specific gravity of 1.0015, refractive index of 1.526, optical rotation -4.640 and cinnamaldehyde content of 14.21%.
THE ROLE OF SOYBEAN IN CONTROL OF DEGENERATIVE DISEASE Nanda Triandita; Nela Eska Putri
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v1i1.1478

Abstract

ABSTRACTDegenerative disease is a chronic non-communicable disease that occurs due to a decline in the function of cells or organs of the body as we get older. Degenerative diseases can occur preceded by a decrease in environmental and social conditions, changes in the body's metabolism by decreasing hormone production at the age of 65 years and over, shifting diet and lifestyle to a modern diet with high fat but low in fiber and carbohydrates, impact on increasing body cholesterol and excess nutrients that support increased oxidative stress. Soybean is the main source of vegetable protein and vegetable oil in the world. The main use of soy is from seeds. Soybean seeds are rich in protein and fat as well as several other important nutrients, such as vitamins (phytic acid) and lecithin. Research on the benefits of soy and its processed products in controlling degenerative diseases such as hypertension, hypercholesterolemia, diabetes mellitus, cancer and others has been carried out. This benefit is obtained from the composition of soybeans rich in nutritional components such as protein and essential amino acids, vegetable fats, vitamins and minerals, as well as non-nutritional components such as food fiber and bioactive components. Soybean acts as an ACE-inhibitor and lowers blood cholesterol and has the potential to inhibit hypertension and coronary heart disease. In controlling diabetes, soy can reduce blood glucose levels, insulin resistance and inflammation, and maintain blood lipid profile. Soybeans play a role in inhibiting the proliferation of cancer cells and reducing inflammation so as to reduce the risk of colon cancer. Soy isoflavones act as an estrogen hormone that can increase the absorption of calcium in preventing osteoporosis. The potential benefits of soy and its preparations in reducing the risk of degenerative diseases can be used as healthy food on a daily diet.Keyword: Coronary heart disease, Degenerative diseases, Diabetes, Hypertension, Soybean
Karakteristik Organoleptik Mie Kering Berbasis Tepung Terigu Pada Berbagai Tingkat Penambahan Pure Bonggol Pisang Hilka Yuliani; Maya Indra Rasyid; Nanda Triandita; Lia Angraeni
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v2i1.2105

Abstract

Bonggol pisang merupakan bagian dari tanaman pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pengolahan pangan, terutama dalam pemanfaatan bahan pangan lokal. Penelitian ini menggunakan tepung terigu dan pure bonggol pisang dalam pembuatan produk mie kering. Penilaian elastisitas yang paling tinggi diperoleh pada T4B4 (terigu 90% : pure bonggol pisang 10%). Semakin tinggi persentase pure bonggol pisang yang digunakan akan menghasilkan elastisitas mie yang semakin kecil dan daya terimanya juga semakin rendah karena mie semakin mudah putus saat ditarik. Kriteria warna yang paling disukai yaitu pada T0B0 (terigu 100%) dan T4B4 (terigu 90% : pure bonggol pisang 10%) dengan karakteristik warna yang cerah dan menarik. Penggunaan pure bonggol pisang dalam persentase tinggi menyebabkan warna yang dihasilkan menjadi lebih gelap akibat pengaruh warna pure bonggol pisang sehingga kurang disukai. Penilaian tingkat kelengketan yang paling tinggi diperoleh pada T4B4 (terigu 90% : pure bonggol pisang 10%). Semakin tinggi persentase pure bonggol pisang, maka daya terima nilai kelengketan akan semakin rendah karena mie akan semakin lengket sehingga susah untuk dipisahkan antara satu helai mie dengan helai mie yang lain. Uji hedonik menunjukkan tingkat kesukaan panelis terhadap atribut keseluruhan dari mie kering sagu dan mie kering terigu tidak berbeda nyata, yaitu mie kering terigu dan pure bonggol pisang memiliki skor 4.56 sementara mie kering terigu memiliki skor 4.90.