cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 416 Documents
Studi Literatur Aktivitas Antimalaria Tanaman Afrika (Vernonia amygdalina Del.) Nursetia Widia Astuti; Sri Peni Fitrianingsih; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.178 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4815

Abstract

Abstract. Malaria is a public health problem in various parts of the world, because malaria causes death in infants, toddlers, pregnant women and adults and can have an impact on social development. The prevalence of malaria in Indonesia in 2019 was 250,644 cases. Most cases almost occurred in Papua, around 86% with a total of 216,380 cases. The second area with the most malaria cases is East Nusa Tenggara with 12,909 cases and West Papua with 7,079 cases. The use of antimalarial drugs with herbal plants has been used by the community empirically, due to the presence of antimalarial drug resistance, especially in malaria endemic areas. So it is necessary to have antimalarial medicinal plants that can be developed into antimalarial herbal medicines. There are many plants that have antimalarial activity, one of which is the African plant (Vernonia amygdalina Del.). There are many plants that have antimalarial activity, one of which is the African plant (Vernonia amygdalina Del.). The purpose of this literature study was to determine the level of antimalarial activity of African plants and to determine the content of secondary metabolites that are efficacious as antimalarials. The research was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method in reputable journals using the keyword Vernonia amygdalina Del antimalarial. The results of the literature study showed that the African plant parts, namely the leaves from the cyclohexane extract with the maceration method, could inhibit the Plasmodium falciparum parasite with an IC50 value of 4.34 g/ml in the very category and the aqueous extract with the maceration method could inhibit the growth of the Plasmodium berghei parasite with % inhibition. by 70.87% with very active category. African plants contain secondary metabolites from the terpenoid group, namely vernodalol and vernolide with IC50 values ​​<10. Abstrak. Penyakit malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia, karena penyakit malaria menyebabkan kematian pada bayi, balita, ibu hamil dan orang dewasa juga dapat berdampak pada perkembangan sosial. Prevalensi mengenai penyakit malaria yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 yaitu sebanyak 250.644 kasus. Sebagian kasus hampir terjadi di daerah Papua sekitar 86% dengan jumlah 216.380 kasus. Daerah kedua dengan kasus malaria terbanyak yaitu Nusa Tenggara Timur dengan jumlah kasus sebanyak 12.909 kasus dan Papua Barat dengan jumlah kasus 7.079 kasus. Penggunaan obat antimalaria dengan tanaman herbal telah digunakan oleh masyarakat secara empiris, karena adanya resistensi obat antimalaria terutama didaerah endemik malaria. Sehingga diperlukan adanya tumbuhan obat antimalaria yang dapat dikembangkan menjadi obat herbal antimalaria.Terdapat banyak tanaman yang memiliki aktivitas antimalaria salah satunya adalah tanaman afrika (Vernonia amygdalina Del.). Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas antimalarial tanaman afrika dan mengetahui kandungan metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antimalaria. Penelitian dilakukan dengan metode Systematic Literatur Review (SLR) pada jurnal bereputasi menggunakan kata kunci Vernonia amygdalina Del. antimalarial. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa bagian tanaman afrika yakni daun dari mulai ekstrak sikloheksana dengan metode maserasi dapat menghambat parasit Plasmodium falciparum dengan nilai IC50 sebesar 4,34 µg/ml dengan kategori sangat aktif dan ekstrak air dengan metode maserasi dapat menghambat pertumbuhan parasit Plasmodium berghei dengan %hambatannya sebesar 70,87% dengan kategori sangat aktif. Pada tanaman afrika terkandung metabolit sekunder dari golongan terpenoid yaitu vernodalol dan vernolide dengan nilai IC50<10.
Penelusuran Pustaka Potensi Sayuran dari Genus Brassica sebagai Antibakteri Miaranti Tia Azhariani; Kiki Mulkiya Yuliawati; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.943 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4817

Abstract

Abstract. The genus Brassica is one of the largest genera of flowering plants, which has more than 3000 species distributed worldwide. In addition, in this genus Brassica there are many types of vegetables that are beneficial to human life. This literature search aims to determine the potential of vegetables from the genus Brassica such as cabbage, broccoli and radishes as antibacterial, to know the extraction method, to know their secondary metabolites and the mechanism of action of secondary metabolites produced by the genus Brassica as antibacterial. The methodology used is a library search on the website. The results of the literature search showed that the Brassica genus of cabbage, broccoli and radish had antibacterial potential against Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Staphylococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia. Shigella sonei, Salmonella paratyphi, Salmonella thypi dan Proteus vulgaris. With maceration and Soxhlet extraction methods and suspected antibacterial compounds derived from the genus Brassica, namely glucosinolates which act as typical compounds from the genus Brassica and other compounds flavonoids, polyphenols, tannins, saponins and alkaloids. With the mechanism of the compound inhibits the synthesis of bacterial cell walls. Abstrak. Genus Brassica merupakan salah satu genus tanaman berbunga terbesar, yang memiliki lebih dari 3000 spesies yang terdistribusi di seluruh dunia. Selain itu dalam genus Brassica ini terdapat banyak jenis sayuran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengetahui potensi sayuran dari genus Brassica jenis kubis, brokoli dan lobak sebagai antibakteri, mengetahui metode ekstraksi nya, mengetahui senyawa metabolit sekunder nya dan mekanisme kerja senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan genus Brassica sebagai antibakteri. Dengan metodelogi yang digunakan yaitu penelusuran pustaka pada website. Hasil penelusuran pustaka yang diperoleh menunjukkan bahwa genus Brassica jenis kubis, brokoli dan lobak memiliki potensi antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Staphylococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia. Shigella sonei, Salmonella paratyphi, Salmonella thypi dan Proteus vulgaris. Dengan metode ekstraksi maserasi dan Soxhlet dan diduga antibakteri berasal dari senyawa khas genus Brassica yaitu glukosinolat yang berperan sebagai senyawa khas dari genus Brassica dan senyawa lain flavonoid, polifenol, tanin, saponin dan alkaloid. Dengan mekanisme senyawa menghambat sintesis dinding sel bakteri.
Studi Literatur Pemanfaatan Jarak Cina (Jatropha multifida L.) sebagai Antibakteri Putri Kurnia Sari; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.025 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4829

Abstract

Abstract. The plants used were leaves and sap of Jatropha (Jatropha multifida L.). Jatropha contains flavonoids, alkaloids, tannins, saponins and phenolic acids, the compound content in Jatropha has an antibacterial function so that the leaf extract and sap of Jatropha (Jatropha multifida L.) can inhibit the growth of Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli bacteria. The purpose of this study was to examine the use of Jatropha as an antibacterial, as well as to examine its active compounds. This research was conducted by literature study method using secondary data. Then, data analysis related to the antibacterial activity of castor leaves and latex was carried out. The results of this literature study indicate that the extract of Jatropha leaves and sap have potential as antibacterial. Antibacterial activity testing using disc diffusion and well diffusion methods. Jatropha leaf extract at 100% concentration was better than Jatropha sap in inhibiting Staphylococcus aureus. Water extract and ethanol extract of Jatropha leaves inhibited Staphylococcus aureus (Gram positive) compared to Pseudomonas aeruginosa (Gram negative). Meanwhile, methanol extract and ethyl acetate extract, as well as Jatropha curcas sap inhibited Escherichia coli (Gram negative) bacteria better than Staphylococcus aureus (Gram positive). Abstrak. Tanaman jarak cina, tanaman yang digunakan nya Daun dan getah Jarak cina (Jatropha multifida L.). Jarak cina mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan asam fenolik, kandungan senyawa pada jarak cina mempunyai fungsi sebagai antibakteri sehingga ekstrak daun dan getah jarak (Jatropha multifida L.) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pemanfaatan jarak cina sebagai antibakteri, serta mengkaji senyawa aktifnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan data sekunder. Kemudian data dianalisis terkait dengan aktivitas antibakteri daun dan getah jarak cina. Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa ekstrak daun dan getah jarak cina berpotensi sebagai antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran. Ekstrak daun jarak cina pada konsentrasi 100% lebih baik dari getah jarak cina dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak air dan ekstrak etanol daun jarak cina menghambat bakteri Staphylococcus aureus (Gram positif) dari pada bakteri Pseudomonas aeruginosa (Gram negatif). Sedangkan ekstrak metanol dan ekstrak etil asetat, serta getah jarak cina menghambat bakteri Escherichia coli (Gram negatif) lebih baik dari pada bakteri Staphylococcus aureus (Gram positif).
Profil Peresepan Terapi Obat Covid-19 pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Santosa Hospital Bandung Kopo Periode Juni-Juli 2021 Muhammad Fakhry Ramadhan; Fetri Lestari; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.038 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4833

Abstract

Abstract. Coronavirus Disease 2019 (COVID19) is a disease caused by the SARS-CoV-2 virus and has become a health problem around the world. Since it was first announced in Indonesia, from time to time covid-19 cases have increased in number, requiring special attention. Covid-19 management around the world has not been uniform, but each country is trying various treatment modalities to increase the cure rate. Prescribing profiles can be used as a basis in planning or supplying medicines for a disease and can increase insight and proficiency in counseling and pharmaceutical services for drug therapy. This study is to determine the profile of prescribing drug therapy in COVID-19 patients at Santosa Hospital Bandung Kopo from June to July 2021 period with observational descriptive methods and data collection from medical records with consecutive sampling. COVID-19 patients, in the age range of 46-65 years, totaled 49 patients and dominated by the male sex totaling 49 patients. The length of treatment for the most COVID-19 patients, which is more than 5 days, is 63 patients. The most common use of drugs prescribed on pharmacological therapy is Remdesivir followed by Favipiravir (antiviral), azithromycin (antibiotic), vitamin D3 5000 IU, Enoksaparin sodium (anticoagulant). The most widely prescribed use of drugs on symptomatic therapy is Lansoprazole (gastrointestinal tract), N-Acetylcystein (airway), Dexamethasone (corticosteroids), Acetaminophen (PCT) (analgesics), Betahistine (antihistamines). The most widely used use of drugs in patients with comorbidities are Amlodipine (cardiovascular), Metformin (antidiabetic), Midazolam (psychopharmaceutical). Abstrak. COVID-19 merupakan lanjutan dari wabah virus corona sebelumnya yaitu SARS dan MERS, penyakit ini juga bersifat zoonosis yaitu virus dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan dapat menular dari manusia ke manusia. Sampai saat ini sebagian besar obat yang digunakan untuk penderita COVID-19 adalah agen antivirus atau antibodi yang digunakan untuk penyakit lain. Berdasarkan Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 pada bulan Desember 2020, hanya ada beberapa terapi farmakologis yang dianjurkan untuk pasien dengan gejala ringan, sedang atau berat seperti vitamin C, vitamin D, antibiotik berupa azitromisin, antivirus berupa oseltamivir, favipiravir, dan remdesivir, pengobatan simtomatis serta fitofarmaka. Penelitian ini untuk mengetahui profil peresepan terapi obat pada pasien COVID-19 di Rumah Sakit Santosa Hospital Bandung Kopo periode Juni-Juli 2021 dengan metode deskriptif observasional dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data sekunder berupa data yang didapat dari rekam medik dan dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Sejumlah 90 pasien COVID-19 terbanyak yaitu pada usia 46-65 tahun sebanyak 49 pasien dan jenis kelamin sebanyak 49 pasien. Lama perawatan terbanyak yaitu diatas 5 hari sebanyak 63 pasien. penggunaan obat yang paling banyak diresepkan pada terapi farmakologi adalah Remdesivir yang dilanjutkan dengan Favipiravir (antivirus), Azitromisin (antibiotik), vitamin D3 5000 IU, Enoksaparin sodium (antikoagulan). Penggunaan obat yang paling banyak diresepkan pada terapi simtomatis adalah Lansoprazole (saluran cerna), N-Acetylcystein (saluran nafas), Deksametason (kortikosteroid), Acetaminophen (PCT) (analgetik), Betahistine (antihistamin). Penggunaan obat yang paling banyak digunakan pada pasien dengan komorbid adalah Amlodipine (kardiovaskular), Metformin (antidiabetes), Midazolam (psikofarmaka).
Studi Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Kalibalangan Lampung Utara Sonia Vicka Farlinza; Fetri Lestari; Ratu Choesrnia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.246 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4834

Abstract

Abstract. Data from the World Health Organization (WHO) 2019 Globally, it is estimated that there were 10.0 million people suffering from Tuberculosis (TB) disease in 2017. It can be seen in Lampung that there was an increase from 2017-2019, which was 25%-54%. The government estimates that the number of TB sufferers will continue to increase. The increasing number of TB sufferers is caused by various factors, namely the lack of patient compliance for treatment and taking medication. The purpose of this study was to determine the level of adherence to the use of anti-tuberculosis drugs in category 1 tuberculosis patients at the Kalibalangan Health Center, North Lampung Regency. The methodology of this research is a descriptive survey with a cross sectional approach. The data on anti-tuberculosis drug adherence was obtained from MMAS-8 questionnaire filled out by TB patients. 36 respondents were included in the inclusion criteria consisting of 1 respondent (3%) in the low category of compliance, 4 respondents (11%) in the medium category and 31 respondents (86%) in the high category of compliance, and 31 respondents (86%) were in the category of high compliance. The results of the intensive phase TB patient adherence to category 1 TB treatment in this study showed that adherence to taking medication was classified as high. Abstrak. Data dari World Health Organization (WHO) 2019 Secara global, diperkirakan terdapat 10,0 juta orang (kisaran 9,0-11,1 juta) menderita penyakit Tuberkulosis (TB) pada 2017. Berdasarkan data angka penemuan kasus TB (CDR) semua kasus TB Di Provinsi Lampung dapat diketahui terjadi kenaikan dari tahun 2017-2019 yaitu sebesar 25%-54%. Pemerintah memperkirakan jumlah penderita TB akan terus meningkat. Jumlah penderita TB yang meningkat disebabkan oleh berbagai faktor, yakni kurangnya tingkat kepatuhan penderita untuk berobat dan meminum obat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan obat anti tuberkulosis pada pasien tuberkulosis kategori 1 di Puskesmas Kalibalangan Kabupaten Lampung Utara. Metodologi penelitian ini ialah survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data kepatuhan minum obat anti tuberkulosis didapatkan dari kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) yang diisi oleh responden penderita Tuberkulosis. Dari hasil temuan didapatkan sebanyak 36 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat kepatuhan dari 36 responden sebanyak 1 responden (3%) masuk dalam kategori kepatuhan rendah, sebanyak 4 responden (11%) masuk dalam kategori kepatuhan sedang, dan 31 responden (86%) masuk dalam kategori kepatuhan tinggi. Hasil kepatuhan pasien TB fase intensif terhadap pengobatan TB kategori 1 pada penelitian ini menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat yang tergolong tinggi.
Studi Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang Provinsi Jambi Laila Afifah AB; Fetri Lestari; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.652 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4841

Abstract

Abstract. Type 2 Diabetes Mellitus is the most common form of diabetes. Treatment therapy for type 2 diabetes consists of five main components, namely diet, exercise, monitoring of metabolic status, pharmacological therapy, and education. Most patients with type 2 diabetes will experience difficulties in self-management related to physical activity, healthy eating, drug use, blood glucose monitoring, and stress management. Long-term therapy in patients with type 2 diabetes mellitus will greatly determine the level of drug use adherence. This study aims to determine the level of treatment adherence of type 2 DM patients at the Rantau Keloyang Health Center and the factors that influence it. Observational research method with cross sectional design. Retrospective data collection and MMAS-8 questionnaire filling. The level of compliance is seen from the number and average score of each respondent. Then in the analysis of the factors that influence the patient's medication adherence with the results of the questionnaire. The results showed that the level of compliance of patients with Type-2 Diabetes Mellitus at the Puskesmas Rantau Desa Keloyang had a low level of adherence, namely 66% of patients with low adherence, 44% of patients with moderate adherence, and 0% of patients with moderate adherence. patients with moderate adherence. patients with high adherence. Factors that affect patient compliance in taking medication are lack of knowledge and good education to patients, busy patients' time, and difficulty or often forgetting to take medication. Abstrak. Diabetes Melitus Tipe-2 merupakan bentuk paling umum dari diabetes. Terapi pengobatan DM tipe 2 ini terdiri dari lima komponen utama yaitu aturan makan, olahraga, pemantauan status metabolik, terapi farmakologi, dan edukasi. Sebagian besar pasien DM tipe 2 akan mengalami kesulitan dalam pengelolaan diri yang berhubungan dengan aktivitas fisik, makan sehat, penggunaan obat, pemantauan glukosa darah, serta pengelolaan stres. Pengobatan diabetes melitus tipe-2 ini dilakukan dalam jangka panjang sehingga akan sangat menentukan tingkat kepatuhan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien DM tipe 2 di Puskemas Desa Rantau Keloyang dan faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif dan pengisian kuisioner MMAS-8. Tingkat kepatuhan dilihat dari dari jumlah dan rata-rata skor dari setiap responden. Kemudian di analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien dengan hasil kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus Tipe-2 di Puskesmas Desa Rantau Keloyang memiliki tingkat kepatuhan yang rendah yaitu 66% pasien dengan tingkat keptuhan rendah, 44% pasien dengan kepatuhan sedang, dan 0% pasien dengan kepatuhan tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan yaitu kurangnya pengetahuan dan edukasi yang baik kepada pasien, kesibukan waktu pasien, dan kesulitan atau sering lupa dalam mengkonsumsi obat.
Literature Review Formulasi Sediaan Masker Clay Antioksidan Dona Indriastuti; Mentari Luthfika Dewi; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.71 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4850

Abstract

Abstract. Skin is the outermost organ of the body that lines the human body. The skin has a bad effect if it is exposed to the sun for too long. Therefore, skincare is very necessary to keep the skin healthy, beautiful, and looks clean. One way is to use a face mask. Masks are one of the skincare cosmetics. The special characteristic of the mask preparation is that it is easy to use and clean. One of the most popular facial mask preparations is the clay-based wash-off type, which is often referred to as clay facial masks or by the market name "mud packs". Clay-based face masks have the effect of tightening the skin and cleansing the skin. The mask is applied to the face when it is wet, and it will dry by itself. Currently, the use of natural ingredients has been developed as a source of antioxidants in cosmetic preparations. Antioxidants are needed to minimize sun damage. Antioxidant compounds function to counteract free radicals (molecules or atoms whose chemical properties are very unstable) that damage skin tissue. These compounds work by binding to free radical atoms/molecules so that they become stable. The purpose of this literature review study is to determine the potential for antioxidant activity and the class of active compounds and their formulations in clay mask preparations through a literature search. Based on the literature study, the clay mask formulation design with the most optimum physical performance based on organoleptic, homogeneity, viscosity, pH, drying time is a preparation containing 25% kaolin concentration and 1% bentonite. Abstrak. Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi tubuh manusia. Kulit meiliki efek buruk jika terkena sinar matahari terlalu lama. Oleh karena itu, perawatan kulit sangat diperlukan untuk memelihara agar kulit tetap sehat, indah dan terlihat bersih. Salah satu caranya adalah menggunakan masker wajah. Masker adalah salah satu kosmetik perawatan kulit. Karakteristik khusus dari sediaan masker adalah mudah digunakan dan dibersihkan. Salah satu yang sangat populer sediaan masker wajah adalah tipe wash-off dengan basis clay, yang sering disebut dengan clay facial masks atau dengan nama di pasaran adalah sediaan “mud packs”. Masker wajah berbahan dasar clay memiliki efek untuk mengencangkan kulit dan membersihkan kulit. Masker dioleskan ke wajah dalam keadaan basah, dan akan mengering dengan sendirinya. Saat ini telah dikembangkan pemanfaatan bahan-bahan alam sebagai sumber antioksidan dalam sediaan kosmetika. Antioksidan diperlukan untuk meminimalkan kerusakan akibat sinar matahari. Senyawa antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas (molekul atau atom yang sifat kimianya sangat tidak stabil) sehingga merusak jaringan kulit. Senyawa ini bekerja dengan cara mengikat atom/molekul radikal bebas, sehingga menjadi stabil. Adapun tujuan dalam penelitian literature review ini untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dan golongan senyawa aktif serta formulasinya dalam sediaan masker clay melalui penulusuran pustaka. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan rancangan formulasi masker clay dengan performa fisik paling optimum berdasarkan organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, waktu mengering ialah sediaan yang mengandung konsentrasi kaolin 25% dan bentonit adalah 1%.
Penelusuran Pustaka Tanaman yang Berpotensi sebagai Antibakteri untuk Penyakit Infeksi Saluran Kemihluran Kemih Kenny Utami Prameswari; Indra Topik Maulana; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6347

Abstract

Abstract. Urinary Tract Infection is a disease that has a fairly high prevalence in Indonesia. The common treatment for this disease is using antibiotics. However, uncontrolled and irrational use causes resistance to these antibiotics. Thus, medicinal plants that have the potential to inhibit UTI-causing bacteria can be used as an alternative to reduce the occurrence of resistance to these antibiotics. MIC value (Minimum Inhibitory Concentration) is a parameter of plants that have potential. The results of the literature search show that there are several plants that have the potential to be antibacterial for UTIs, namely Garlic (Allium sativum), Fennel (Foeniculum vulgare mill), Seribu Leaf (Achillea mille folium) Horse Chestnut (Aesculus hippocastanum L.), Parsley ( Petroselinum crispum), Rosemary (Rosmarinus officinalis), Rosella (Hibiscus sabdariffa), Syrian Rue (Peganum harmala L.), Horsetail Ferns (Equisetum ramosissimum Desf. Stem), Galunggang (Sida acuta), Phyllanthus amarus, Phyllanthus muellerianus, and Cumin White (Cuminum cyminum). Abstrak. Penyakit Infeksi Saluran Kemih merupakan penyakit yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Pengobatan umum yang dilakukan untuk menangani penyakit tersebut adalah menggunakan antibiotik. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dan tidak rasional menyebabkan resistensi terhadap antibiotik. Sehingga, tanaman-tanaman obat yang berpotensi untuk menghambat bakteri penyebab ISK dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi terjadinya resistensi. Nilai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) merupakan parameter dari tanaman yang memiliki potensi. Hasil dari penelusuran pustaka menunjukkan bahwa terdapat beberapa tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri untuk penyakit ISK yaitu Bawang Putih (Allium sativum), Berangan Kuda (Aesculus hippocastanum L. ), Rosemari (Rosmarinus officinalis), Galunggang (Sida acuta), Phyllanthus amarus, Phyllanthus muellerianus, dan Jintan Putih (Cuminum cyminum).
Potensi Antiinflamasi Ekstrak Etanol Biji Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus strain wistar) Muhammad Adril Maulana; Fetri Lestari; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6456

Abstract

Abstract. Inflammation is the body's response to damage in tissues which is characterized by symptoms such as redness, heat, swelling, pain, and loss of function. The ajwa date palm plant (Phoenix dactylifera L.) has secondary metabolite compounds, one of which is flavonoids and phenolic compounds that have anti-inflammatory activity. Based on this background, this study aims to determine the anti-inflammatory potential of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) in male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar). Samples were extracted by cold extraction using the maceration method. Then a standard solution was made with a concentration of ethanol extract of ajwa date palm seeds 100, and 500 mg/Kg.BB. The method used for anti-inflammatory testing is the paw edema method and the results of the data obtained were analyzed by the Langford method. Then the results of the statistical analysis of the normality test and homogeneity test and non-parametric test. The results showed that ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory activity by comparing the percentage of udem inhibition at the 60th minute, namely a dose of 100 mg/Kg.BB of 12, 1271%, and a dose of 500 mg/Kg.BB of 3.3082% with the comparison, namely piroxicam tablets 20 mg of 22.1153%. Based on the results obtained, it can be concluded that the ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory potential against male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar) as seen from the percentage value of udem and percentage of udem inhibition. Abstrak. Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap adanya kerusakan dalam jaringan yang dimana ditandai dengan gejala-gejala seperti kemerahan, terasa panas, bengkak, nyeri, dan hingga kehilangan fungsi. Pada tanaman tumbuhan kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki senyawa metabolit sekunder, salah satunya yaitu flavonoid serta senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antiinflamasi pada biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar). Sampel diekstraksi dengan ekstraksi cara dingin menggunakan metode maserasi. Kemudian dibuat larutan baku dengan konsentrasi ekstrak etanol biji kurma ajwa sebesar 100, dan 500 mg/Kg.BB. Metode yang digunakan untuk pengujian antiinflamasi yaitu metode edema paw dan hasil data yang didapatkan dianalisis dengan metode langford. Kemudian dilakukan hasil analisis statistik uji normalitas dan uji homogenitas serta pengujian secara non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki aktivitas antiinflamasi dengan membandingkan persentase inhibisi udem pada menit ke-60 yaitu dosis 100 mg/Kg.BB sebesar 12, 1271% dan dosis 500 mg/Kg.BB sebesar 3,3082% dengan pembanding yaitu piroksikam tablet 20 mg sebesar 22,1153%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki potensi antiinflamasi terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang dilihat dari nilai persentase udem dan persentase inhibisi udem.
Uji In Silico Aktivitas Senyawa Kumarin dan Turunannya terhadap Enzim Alfa Glukosidase Sebagai Antidiabetes Syifa Prahayati; Bertha Rusdi; Netty Kurniaty
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i1.6805

Abstract

Abstract. Alpha glucosidase enzyme is one of the treatment targets for diabetes mellitus. Coumarin compounds contained in the avocado plant (Persea americana Mill.). known to have antidiabetic effects in vitro. These compounds are thought to have antidiabetic effects in vitro. This compound is thought to have an antidiabetic effect by inhibiting the alpha glucosidase enzyme, but this hypothesis has not been proven. Therefore, this study tested coumarin compounds and their derivatives, namely umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, and edgeworoside c, against the alpha-glucosidase enzyme receptor using molecular docking. in silico. This study aims to determine the physicochemical parameters, affinity, and toxicity of compounds with the most potential as antidiabetics. Parameters carried out identified the physicochemical properties of the test compounds using SwissADME software and Scibio-iitd.res.in. Then macromolecular preparation was carried out using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. Next, the docking method was validated and the docking method simulated using the MGLTools 1.5.6 software with AutoDock Tools 4.2. The results obtained using molecular docking were then visualized using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. The toxicity test was carried out using Toxtree version 3.1.0. The physico-chemical parameters show that the lipophilicity, molecular weight, molar reactivity, and hydrogen bonds show that coumarin compounds and their derivatives meet the requirements of Lipinski's Rule of Five, which means that these compounds are predicted to be absorbed and can bind to target receptors. The results of molecular docking of coumarin compounds and their derivatives have an affinity for alpha glucosidase receptors. The compound that has the best affinity is edgeworoside c with a bond free energy value of -8.91 kcal/mol and an inhibition constant of 0.29255 μmolar. The toxicity results obtained were that all the tested compounds were included in the toxicity class III, which means that at high concentrations safety in use is not guaranteed. Then all coumarin test compounds and their derivatives were neither carcinogenic nor mutagenic. Abstrak. Enzim alfa glukosidase adalah salah satu target pengobatan diabetes mellitus. Senyawa Kumarin yang terkandung dalam tanaman alpukat (Persea americana Mill.). diketahuo memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes dengan menghambat enzim alfa glukosidase, namun hipotesa ini belum dibuktikan. Maka, penelitian ini dilakukan pengujian senyawa kumarin dan turunannya yaitu senyawa umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, dan edgeworoside c, terhadap reseptor ezim alfa gkukosidase dengan menggunakan molecular docking secara in silico. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui parameter fisikokimia, afinitas, dan toksisitas senyawa yang paling berpotensi sebagai antidiabetes. Parameter yang dilakukan mengidentifikasi sifat fisikokimia senyawa uji menggunakan software SwissADME dan Scibio-iitd.res.in. kemudian dilakukan Preparasi makromolekul menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Selanjutnya, dilakukan validasi metode docking dan simulasi metode docking dengan software MGLTools 1.5.6 dengan AutoDock Tools 4.2. Hasil yang diperoleh menggunakan molecular docking kemudian divisualisasikan dengan menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Uji toksisitas dilakukan menggunakan Toxtree versi 3.1.0. Pada parameter fisiko kimia menunjukan bahwa lipofilisitas, berat molekul, reaktivitas molar, dan ikatan hidrogen bahwa senyawa kumarin dan turunanya memenuhi persyaratan Lipinski’s Rule of Five yang artinya senyawa tersebut diprediksi dapat diabsorpsi dan dapat berikatan dengan reseptor target. Hasil penambatan molekular dari senyawa kumarin dan turunannya memiliki afinitas terhadap reseptor alfa glukosidase. Senyawa yang memiliki afinitas paling baik yaitu senyawa edgeworoside c dengan nilai energi bebas ikatan -8,91 kkal/mol dan konstanta inhibisi 0,29255 μmolar. Hasil toksisitas yang diperoleh adalah seluruh senyawa uji termasuk ke dalam toksisitas kelas III yang artinya pada konsentrasi yang tinggi tidak dijamin keamanan dalam penggunaannya. Kemudian seluruh senyawa uji kumarin dan turunnya tidak bersifat karsinogenik maupun mutagenik.