cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 185 Documents
ANALISIS BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI DALAM PEMBELAJARAN DARING DI SMA NEGERI 1 KEBOMAS Shovi Wiranata Febriani
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.905 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p213-221

Abstract

The use of history textbooks can be useful for teachers as a supporting medium in delivering learning materials that are adjusted to the applicable curriculum. History textbooks contain learning materials and a variety of practice questions. History textbook analysis is done in order to formation of conformity and suitability from the books to be distributed. The feasibility of a textbook is be observed the feasibility from the content and the worthiness of presentation. That way, the textbook will have the right quality or purpose for students so as students competent to graps learning material well. Each school uses a different learning method in the middle of an online learning system. At SMA Negeri 1 Kebomas uses a curriculum for independent learning or independent learning in accordance with the assessment instrument for high school history textbooks. The use of an independent learning curriculum makes student achievement, skill ability, and level of understanding increase. This research aims to intends the analysis of history textbooks for class XI in online learning at SMA Negeri 1 Kebomas using qualitative methods and literature study.Penggunaan buku teks sejarah mampu bermanfaat bagi guru sebagai media penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran yang sesuaikan pada kurikulum yang berlaku. Buku teks sejarah berisi mengenai bahan pelajaran dan beragamnya latihan soal. Analisis buku teks sejarah dilakukan guna terbentuknya kesesuaian dan kelayakan buku yang akan didistribusikan. Kelayakan suatu buku teks dilihat dari kelayakan isi dan kelayakan penyajian. Dengan begitu, buku teks akan memiliki mutu serta tujuan yang tepat bagi siswa sehingga siswa mampu memahami materi dengan baik. Setiap sekolah menggunakan metode pembelajaran berbeda di tengah sistem pembelajaran daring yang dilakukan. Di SMA Negeri 1 Kebomas menggunakan kurikulum merdeka belajar atau kemandirian belajar yang sesuai dengan intrumen penilaian buku teks sejarah SMA. Penggunaan kurikulum merdeka belajar membuat prestasi, kemampuan keterampilan, dan tingkat pemahaman siswa dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis buku teks sejarah kelas XI dalam pembelajaran daring di SMA Negeri 1 Kebomas dengan menggunakan metode kualitatif dan studi pustaka.
Pendidikan Kristen & Pembaratan: Kajian Terhadap Pendidikan Misi Protestan di Minahasa, 1830 - 1916. Amos Amos
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.145 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i42021p396-404

Abstract

The history of Christianity in Minahasa is closely related to colonialism. But colonialism not only affects the socio-political side of Minahasa society, but also the education system and schools. The history of Minahasa education is closely related to the activities of the Dutch Missionary Union or Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). The implementation of educational programs, systems, and practices in Minahasa were carried out and pioneered by NZG, especially in the era of 1830 - 1918. Furthermore, we can see how Western-style education and NZG support intersect with various political dynamics in Dutch East Indies. Through historical research, this article examines the relationship between Western-style education and political dynamics of the Dutch East Indies in Minahasa society. This article offers an explanation and reflection in particular on mission education in Minahasa in relation to colonialism, the Western-style education system, the contribution of education, to the impact of education on the Minahasa community.Sejarah kekristenan di Minahasa berkelindan dengan kolonialisme. Tetapi kolonialisme bukan hanya mempengaruhi perkara sosial politik dalam masyarakat Minahasa, tetapi juga sistem pendidikan dan sekolah-sekolah yang terdapat di Minahasa. Sejarah pendidikan Minahasa begitu lekat kaitannya dengan kegiatan Serikat Misionaris Belanda atau Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Pelaksanaan program, sistem, dan praktik pendidikan yang di Minahasa banyak dilakukan dan dirintis oleh NZG, terutama dalam era 1830 - 1918. Lebih jauh lagi, NZG juga menjadi penyokong pendidikan ala Barat di Minahasa dengan menyediakan berbagai sarana hingga sumbangan pendidikan. Sehingga kita bisa melihat bagaimana pendidikan ala Barat dan dukungan NZG beririsan dengan berbagai dinamika politik Hindia Belanda. Melalui penelitian sejarah, artikel ini mengkaji relasi pendidikan ala Barat dengan dinamika politik Hindia Belanda dalam masyarakat Minahasa. Artikel ini menawarkan eksplanasi dan refleksi khususnya mengenai pendidikan misi di Minahasa dalam relasinya dengan kolonialisme, sistem pendidikan ala Barat, sumbangan pendidikan, hingga pengaruh pendidikan tersebut bagi masyarakat Minahasa.
Dalam dekap serdadu: pergundikan di tangsi militer, 1872-1913 Mutia Zaskia Nasution; Kurniawati Kurniawati; M. Hasmi Yanuardi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.125 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p252-264

Abstract

This article aims to highlight the life of concubines in the military world in the Dutch East Indies in the period 1872-1913 and to present various views of the pros and cons that made this practice considered quite controversial at its time. In order for the objectives of this research to be carried through, the author applied historical research method which has five stages consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. By using primary and secondary sources in the form of contemporary newspapers, documents, books, and articles relevant to the research theme. The practice of concubinage within the military barracks could not be separated from the establishment of an army under the name of Koninklijk Leger in the early 19th century. This practice was used to be associated with demoralization and also believed to be the source of several health issues amongst the soldiers, as well as encouraging the birth of a white proletariat class in the colonies, this leads to mixed opinions regarding the relationship between these two different races. This commotion prompted the colonial government to issue several policies, one of which was to increase military morale. After all, the concubine of tangsi is considered very detrimental, this practice indirectly joined a mixed society group known as the Indo group, where this group later helped support Indis culture in the Dutch East Indies.  Penulisan artikel ini bertujuan untuk menyoroti kehidupan pergundikan dalam dunia militer di Hindia Belanda pada periode 1872-1913 serta menampilkan berbagai pandangan pro dan kontra yang membuat praktik ini dianggap cukup kontroversial pada masanya. Dalam upaya untuk mencapai tujuan penelitian secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang dibahas, penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahapan meliputi pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Dengan menggunakan sumber primer dan sekunder yang berupa surat kabar sezaman, dokumen, buku, serta artikel yang relevan dengan tema penelitian. Praktik pergundikan tangsi tidak lepas dari pembentukan suatu pasukan ketentaraan yang bernama Koninklijk Leger pada awal abad ke-19. Praktik ini selalu dikaitkan dengan demoralisasi dan juga diyakini sebagai penyebab munculnya masalah kesehatan di antara para serdadu, serta mendorong lahirnya kelas proletariat kulit putih di tanah koloni yang membuat hubungan antar dua ras berbeda ini tidak jarang mengundang perdebatan di masyarakat. Kegaduhan tersebut membuat pemerintah kolonial pada akhirnya mengeluarkan beberapa kebijakan, salah satunya meningkatkan moral militer. Betapa pun pergundikan tangsi dianggap menuai banyak dampak merugikan, praktik ini secara tidak langsung turut sebuah golongan masyarakat campuran yang dikenal dengan golongan Indo, di mana kelompok ini nantinya turut mendukung kebudayaan Indis di Hindia Belanda. 
Geger Muktamar NU ke-29 di Cipasung 1994 Nur Fadilah Yusuf
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.313 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i42022p563-575

Abstract

This article discusses the political intervention carried out by President Soeharto and the New Order government against the implementation of the Nahdlatul Ulama (NU) Congress when Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) was about to nominate himself as general chairman for the third term in 1994. This article also explains how the chronology of the feud between Gus Dur and the New Order government, so that the implementation of the 29th NU Congress in Cipasung became a national political contestation at stake. This article also discusses the role of President Soeharto and the New Order Government when campaigning ahead of the NU Congress by agitating and propaganda and preparing alternative candidates such as Abu Hasan. This study uses historical methods according to Louis Gottschalk, namely heuristics, source criticism, interpretation and historiography. In addition, the political approach is used in this article and the theory of power according to Hobbes is the analytical knife for the author in reconstructing this research. The purpose of the research results from this article is to review the past conflict between Gus Dur and the New Order Government, the political strategy carried out by President Soeharto and the New Order Government in the implementation of the 29th NU Congress in Cipasung and the importance of NU for the New Order Government and President Soeharto. in determining national policy.Artikel ini membahas tentang intervensi politik yang dilakukan oleh Presiden Soeharto dan Pemerintah Orde Baru terhadap pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ketika Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan mencalonkan dirinya sebagai ketua umum untuk periode ketiga tahun 1994. Dalam artikel ini juga menjelaskan bagaimana kronologi dari perseteruan antara Gus Dur dengan Pemerintah Orde Baru, sehingga dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-29 di Cipasung menjadi pertaruhan kontestasi perpolitikkan nasional. Artikel ini juga membahas mengenai peran Presiden Soeharto dan Pemerintah Orde Baru saat melakukan kampanye menjelang perhelatan Muktamar NU dengan melakukan agitasi dan propaganda serta menyiapkan calon alternatif seperti Abu Hasan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah menurut Louis Gottschalk yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Selain itu, pendekatan politik digunakan dalam artikel ini dan teori kekuasaan menurut Hobbes yang menjadi pisau analisis bagi penulis dalam merekonstruksi penelitian ini. Tujuan hasil penelitian dari artikel ini yaitu mengulas mengenai konflik masa silam antara Gus Dur dan Pemerintah Orde Baru, strategi politik yang dilakukan oleh Presiden Soeharto dan Pemerintah Orde Baru dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-29 di Cipasung dan pentingnya NU bagi Pemerintah Orde Baru dan Presiden Soeharto dalam menentukan kebijakan nasional. 
Perempuan dan kesehatan di Indonesia: Kontribusi Muslimat NU dalam mendukung program Keluarga Berencana di Jawa Timur tahun 1974-1979 Maudy Amalia; Muh. Farrel Islam; Shinta Fauziyah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.766 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i32021p302-321

Abstract

 Population or demographics have always been one of the problems facing Indonesia from time to time.  During the New Order administration, its national development projections included the natalitas number control program as one of the priorities. To support the policy, the government established Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) that developed into Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), this institution aims toconvey information, socialization, and trainings, and can accommodate the aspirations of the community. Although LKBN is a state institution, kinerja from the institution received support from various elements of society, one of which is from Muslimat NU. In this paper, the author tries to explain the collaboration of state institutions (BKKBN) with Muslimat  Nahdlatul Ulama in encouraging the success of the Family Planning program and its impact on the sustainability of the Family Planning Program. As a result, collaboration between state institutions and Muslimat Nahdlatul Ulama to encourage the establishment of Family Planning programs was able to reduce the number of natalitas and fertility by 0.14 percent – 4.78 percent in the period 1974 – 1979 through various activities such as the creation of guidelines for the use of birth control for Muslims, socialization of programs to remote villages, trainings on the use of birth control equipment, and the opening of Family Planning clinics.Kependudukan atau demografi selalu menjadi salah satu masalah yang dihadapi Indonesia dari masa ke masa. Pada masa pemerintahan Orde Baru, proyeksi pembangunan nasionalnya memasukkan program pengendalian natalitas sebagai salah satu prioritas. Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah membentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang berkembang menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Lembaga ini bertujuan menyampaikan informasi, sosialisasi, dan pelatihan-pelatihan, serta dapat menampung aspirasi masyarakat. Meskipun LKBN merupakan Lembaga negara, kinerja dari lembaga tersebut mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat salah satunya adalah dari Muslimat NU. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan lembaga negara (BKKBN) dengan Muslimat Nahdlatul Ulama dalam mendorong keberhasilan program Keluarga Berencana dan terhadap keberlangsungan Program Keluarga Berencana. Hasilnya, kolaborasi antara lembaga negara dengan Muslim Nahdlatul Ulama untuk mendorong rencana pencanangan program Keluarga Mampu menekan jumlah natalitas dan fertilitas sebesar 0.14 persen – 4.78 persen pada periode 1974 – 1979 melalui berbagai macam kegiatan seperti pembuatan pedoman penggunaan KB bagi umat Islam, sosialisasi program hingga ke pelosok desa, pelatihan-pelatihan penggunaan alat KB, dan pembukaan klinik Keluarga Berencana.
Perjanjian damai Helsinki: akhir konflik GAM dan Pemerintah Republik Indonesia 1976-2005 Sahrul Nur Muslim; Abdul Syukur; Muhammad Fakhruddin
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.736 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i12022p130-144

Abstract

The founding of the Free Aceh Movement by Tengku Hasan Muhammad di Tiro resulted in three decades of conflict between Aceh and the Indonesian government. The conflict ended through a Peace Treaty. The purpose of this study is to find out how the conflict in Aceh can be resolved through a peace agreement. This study uses historical research methods which consist of four stages, namely, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The results of the study concluded that the conflict in Aceh between the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement was resolved through the Helsinki Peace Agreement on August 15, 2005. The contents of the Helsinki peace agreement are the Aceh government, human rights, amnesty and reintegration, security arrangements, and the establishment of the Aceh Monitoring Mission. Berdirinya Gerakan Aceh Merdeka oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro mengakibatkan konflik terjadi di Aceh dengan Pemerintah Indonesia selama tiga dekade. Konflik berakhir melalui Perjanjian Damai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konflik di Aceh dapat diselesaikan melalui perjanjian damai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri empat tahap yaitu, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa, konflik di Aceh antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka diselesaikan melalui Perjanjian Damai Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005. Isi dari perjanjian damai Helsinki adalah pemerintahan Aceh, hak– hak asasi manusia, amnesti dan reintegrasi, pengaturan keamanan, dan pembentukan Aceh Monitoring Mission.
Islamisasi masyarakat Nusantara: Historisitas awal Islam (abad VII - XV M) dan peran Wali Songo di Nusantara Ibrizatul Ulya
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.684 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i32022p442-452

Abstract

The process of development of Islam at archipelago has a long history. This process begins with socio-economic interactions between Muslims from various countries and local residents. This interaction gives rise to cultural acculturation so that Islam can be accepted by the community and develop with its uniqueness. This paper aims to explain the process of Islamization in archipelago, along with the role of Wali Songo in spreading Islamic teachings. This study uses descriptive qualitative method. The data is presented through detailed narrative, not in the form of numbers, tables, or statistics. The result shows that first, Islam was brought to the archipelago by Arab traders by sea and land. They carry out da'wah subtly and by practicing da'wah bil hal. Second, there are 4 theories that explain the problem of the early entry of Islam in archipelago, namely the Arabic theory, the Indian or Gujarat theory, the Persian theory, and the Chinese theory. Third, the spread of Islam in the archipelago cannot be separated from the role of the guardians who are members of Wali Songo. They package Islamic teachings in simple way and associate them with the understanding of the local community.Proses muncul dan berkembangnya Islam di Nusantara memiliki kesejarahan yang panjang. Proses ini diawali dengan interaksi sosial-ekonomi antara antara orang-orang Islam dari berbagai negara dan penduduk lokal. Interaksi tersebut selanjutnya memunculkan akulturasi budaya sehingga Islam dapat diterima masyarakat dan berkembang dengan kekhasannya. Tulisan ini bertujuan menjelaskan proses islamisasi masyarakat Nusantara, berikut peran wali songo dalam menyebarkan ajaran Islam. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan metode ini, data-data disajikan melalui narasi yang detail, bukan dalam bentuk angka, tabel, maupun secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Islam disebarkan ke Nusantara oleh para pedagang Arab melalui jalur laut dan darat. Mereka melakukan dakwah dengan halus dan dengan mempraktikkan dakwah bil hal. Kedua, ada 4 teori yang menjelaskan persoalan awal masuknya Islam di Nusantara, yakni teori Arab, teori Gujarat, teori Persia, hingga teori China. Adapun teori yang dianggap paling kuat adalah teori Arab. Ketiga, diseminasi Islam di Nusantara tidak dinafikan dari peran para wali yang tergabung dalam wali sanga. Mereka mengemas ajaran Islam secara sederhana serta menyesuaikannya berdasar pemahaman masyarakat. 
TARI REMO MOJOKERTO (1969-2020) Muhammad Wahyu Prahardana
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.959 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i12021p74-81

Abstract

Remo dance is one of the typical dance arts owned by East Java. Remo Dance develops in the areas of Surabaya, Jombang, Malang and Mojokerto. Remo Mojokerto Dance is a Remo Dance that develops in Mojokerto. This is inseparable from influence of the area around Mojokerto. Thea are is the main developer of the East Java Remo Dance.  In this Writing using several sources of books, journal online articles, news and using the result of interviews with cultural actors. Because it is difficult to find of sources related to Remo Dance, especially from Mojokerto. This paper attempts to examine the history of the developmet and type of Remo Dance in Mojokerto. In writing this article using four steps in historical research, the heuristic, verification source, interpretation and historiography.Tari Remo adalah salah satu seni tari khas yang dimiliki oleh Jawa Timur. Tari Remo berkembang di daerah Surabaya, Jombang, Malang dan Mojokerto. Tari Remo Mojokerto adalah Tari Remo yang berkembang di Mojokerto. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh daerah sekitar Mojokerto. Daerah tersebut menjadi pengembang utama Tari Remo Jawa Timur. Dalam penulisan ini menggunakan beberapa sumber Buku, Jurnal artikel online, berita dan menggunakan hasil wawancara kepada pelaku budaya. Dikarenakan sulit menemukan sumber yang berkaitan dengan Tari Remo khususnya dari Mojokerto. Tulisan ini berusaha mengkaji sejarah perkembangan dan jenis Tari Remo di Mojokerto. Dalam penulisan artikel ini menggunakan empat langkah dalam penelitan sejarah yaitu heuristik, verifikasi sumber, interpretasi dan historiografi.
Revolusi Fisik di Kabupaten Bojonegoro Tahun 1948-1949 Marshanda Fitria Intan
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.797 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i12022p21-28

Abstract

Datangnya pasukan tentara Belanda ke Karesidenan Bojonegoro yang diawali dengan pendaratan di Pantai Glondong membuat Kabupaten Bojonegoro terancam. Oleh karena itu dilakukanlah upaya perlawanan dengan pembakaran beberapa bangunan penting dan perlawanan dengan kontak senjata. Penghadangan juga dilakukan oleh pasukan pejuang guna menghindari masuknya tentara Belanda ke Desa Temayang yang merupakan pusat markas komando militer. Adapun permasalahan yang dikaji yakni mencakup 1) Kronologi pergerakan Belanda di Kabupaten Bojonegoro masa revolusi fisik (2) Perlawanan dan penghadangan pada masa revolusi fisik di Kabupaten Bojonegoro. (3) Temayang sebagai pusat komando militer pada masa revolusi fisik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup empat tahap yakni heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi.
Hubungan dan pemikiran para perwira Batak pada masa Revolusi hingga Liberal tahun 1945-1959 Rafida Dwikaneta; Humaidi Humaidi; Sri Martini
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i12023p29-43

Abstract

This research uses historical method with descriptive-narrative approach and aim to describe the history of the relationship between Batak officers in the Indonesian military during the Revolution to the Liberals in 1945—1959. The results showed that Batak officers were involved in many conflicts, especially in the 1950s, which Ulf Sundhaussen called the Trial and Trial Era. The conflict between the Batak officers involved various events, including the ReRa Hatta incident, the 17 October 1952 incident, Nasution became the Army Chief of Staff for the second time, the Lubis incident, and finally the PRRI rebellion. Differences in educational and religious backgrounds did not really matter to the Batak officers at that time. That means, the Batak officers at that time showed that they prioritized their idealism over their fellow tribesmen. In fact, Batak customs are closely related to the family contained. However, many Batak officers who became leaders in the Army showed that they had a work ethic and morals, in accordance with traditions.Penelitian ini menggunakan metode historis dengan pendekatan deskriptif-naratif yang bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah hubungan dan pemikiran para perwira Batak dalam militer Indonesia pada masa Revolusi hingga Liberal tahun 1945—1959. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para perwira Batak banyak terlibat konflik, terutama pada tahun 1950-an, yang disebut Ulf Sundhaussen sebagai Era Coba-Coba. Konflik para perwira Batak ini meliputi berbagai peristiwa, antara lain ReRa Hatta, Peristiwa 17 Oktober 1952, Nasution menjadi KSAD kedua kalinya, Peristiwa Lubis, hingga puncaknya pada pemberontakan PRRI. Perbedaan latar belakang pendidikan maupun agama tidak terlalu menjadi masalah bagi para perwira Batak masa itu. Itu artinya, perwira Batak masa itu menunjukkan mengutamakan idealismenya dibandingkan kekerabatan sesama sukunya. Padahal, adat Batak terkenal dengan kekeluargaan yang erat. Bagaimanapun, perwira Batak banyak yang menjadi pemimpin dalam Angkatan Darat menunjukkan bahwa mereka memiliki etos kerja dan moral, sesuai dengan ajaran adatnya.

Page 10 of 19 | Total Record : 185