cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 2 (2016)" : 11 Documents clear
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.598 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Gaya Selingkung
Simbol pada Makam Syekh Bil Ma’ruf dan Sosio-Religi Pulau Tangnga Sulawesi Barat Abu Muslim
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.874 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.501

Abstract

This research concentrates on the actual religion surrounding the famed tomb-archeology of Sulawesi. This study, which focusses in particular on the Muslim religious leaders in Polewali Mandar, must first consider the first ancient tombs in Polman. In particular, we focus on the tomb at the Tangnga Island District of Binuang Polewali Mandar. Our selection of the tomb of Sheikh Bil Ma’ruf is motivated by that man’s key role and his remarkable persona given a society in which the veneration of tombs was central to people’s beliefs, and given that tomb archaeology can shed light on the sociology of a past society. It seems that the degree of veneration of a tomb corresponds to the honour in which a certain character’s memory is held. It seems that the veneration of Sheikh bil Ma’ruf’s tomb is directly proportional to the public celebration of this man’s deeds in his lifetime and the example that he gave to the flourishing local Islamic community in Sulawesi that came to be. Keywords: Sheikh Bil Ma’ruf, tomb,Sociology of Religy,Archeology Penelitian ini adalah studi tentang arkeologi-religi dengan makam sebagai objek kajiannya. Penelitian ini, menghendaki sebuah penelusuran arkeologis terhadap makam tokoh agama Islam di Polewali Mandar dengan terlebih dahulu melakukan inventarisasi makam-makam kuno di Polman. Objek kajian arkeologi religi dilakukan pada makam syekh Bil Ma’ruf di Pulau Tangnga Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar. Pemilihan objek makam sangat ditentukan oleh peran tokoh tersebut semasa hidupnya yang mempunyai peran keagamaan serta ketokohan kuat di tengah-tengah masyarakat. analisis sosial dilakukan untuk melihat lakon masyarakat terhadap makam. Hal ini sebagai pengejewantahan dari Archeology is sociology for the past. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan tokoh yang dimakamkan berbanding lurus dengan perilaku masyarakat terhadap makam dengan melakukan lakuan-lakuan bernuansa keagamaan yang terangkum dalam hajatan-hajatan yang dilakukannya serta pola keberislaman masyarakat setempat. Kata Kunci: Syekh Bil Ma’ruf, Makam, Sosiologi Religi, Arkeologi
Logika Spiritual dan Model Resistensi Keagamaan dalam Serat Darmasonya Arif Hartarta; Aris Aryanto
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.965 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.502

Abstract

It has been said that spirituality is the fire at the heart of religious teaching – that spirituality is the true destination of a religious life. This article examines a single manuscript entitled “Serat Darmasonya” (here-in¬after abbreviated as SD), a manuscript that describes the know¬ledge of the Shari'a in the congregation. This literature gives critical commentary of the activity of various traditions, particularly in Java. In this study the authors focused on two aspects, namely: 1) the spiritual logic of the SD text, and 2) an example of religious resistance to the elements of tradition. This study is a form of qualitative research concentrating on the analysis of the text. Reading of the text is conducted using the heuristic and hermeuneutic methods. By the end of the Majapahit era there emerged a Dar masunya manuscript which later became the book of guidance addressed to the adherents of Siwa-Buddha. Later, in the early 20th century appeared other books of the same title with Islamic nuances. Darmasonya text explains some advice about the attitude of Muslims according to the Qur’an and the Hadith, and the books of religious doctrines from an earlier period. The Darmasonya text also gives a variety of criticisms regarding the attitude of life, which is a series of patterns, discipline, laws or rules derived from the supreme ruler of the universe. The teaching in the text is somewhat abstract, but it was highly valued by the authors, and by some other groups as a one of main moral points of reference in Java. Keywords: Fiber Darmasonya, Java Manuscript, Islam, Spiritual Logics, Tradition, Resistance. Sering dikatakan bahwa spiritualitas adalah api dari ajaran agama, di mana spiritualitas dianggap sebagai jalan sekaligus tujuan kehidupan keagamaan. Artikel ini mengkaji naskah tunggal berjudul Serat Darma¬sonya (yang selanjutnya disingkat SD) yaitu sebuah pustaka yang menjelaskan pengetahuan tentang ilmu syariat dan tarekat. Pustaka ini mengajukan tafsir-tafsir kritis terhadap aktivitas berbagai tradisi, khususnya di Jawa. Dalam kajian ini penulis menitikberatkan pada dua hal, yaitu: 1) logika spiritual dalam teks SD, dan 2) model resistensi keagamaan terhadap unsur tradisi. Bentuk kajian ini adalah penelitian kualitatif yang berkonsentrasi pada analisis teks. Pembacaan terhadap teks dilakukan dengan dua cara: heuristik dan hermeuneutik. Pada masa Majapahit akhir telah muncul lontar Darmasunya yang kemudian menjadi kitab panduan penganut ajaran Siwa-Buddha. Belakangan, pada sekitar awal abad 20 (muncul kitab lain yang bernuansa Islami dengan judul sama. Teks Darmasonya memaparkan petuah tentang sikap hidup seorang Muslim berdasarkan Al Quran, Hadits, dan kitab-kitab spiritual keagamaan terdahulu. Teks Darmasonya juga menyuguhkan beragam kritik mengenai sikap hidup, yakni sederetan pola abstrak, disiplin, hukum-hukum atau aturan yang berasal dari penguasa tertinggi jagad raya. Ajaran dalam teks tersebut merupakan sesuatu yang abstrak namun dipandang berharga oleh pengarang atau kelompok tertentu serta dijadikan acuan moralitas dalam menjalani arah kehidupan di Jawa. Keywords: Serat Darmasonya, Naskah Jawa, Islam, Logika Spiritual, Resistensi, Tradisi.
Akulturasi Budaya pada Arsitektur Masjid Sunan Giri Novita Siswayanti
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.797 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.503

Abstract

The Sunan Giri Mosque, one of the most remarkable mosques foun-ded by Sunan Giri, displays a most interesting combination of traditional Javanese and Hindu architecture. This paper uses research methods and descriptive analysis by describing the components of the mosque as analysis and interpretation. The Sunan Giri mosque displays the ‘Joglo forms’ typical of Javanese buildings, but surrounded by four pillars, and roofed in with overlapping ‘Meru’ just like in Hindu buildings, as is the Kalamkara archway and the pulpit of the mosque-shaped padmasana throne equipped with solar ornaments with Majapahit flourishes, the pineapple, arch-shaped mosque paduraksa reminiscent of the shape of the building on a grand kori kedathon in a Hindu Kingdom temple complex. Keywords : Sunan Giri Mosque, Acculturation Culture, Architecture Masjid Sunan Giri salah satu masjid walisanga yang didirikan oleh Sunan Giri yang arsitektur bangunannya vernacular berakulturasi dengan tradisional Jawa dan budaya yang bercorak Hindu. Artikel menggunakan metode penelitian analisis deskriptif dengan mendeskripsikan komponen-komponen bangunan masjid kemudian dilakukan analisis dan penafsiran. Akulturasi budaya yang tampak terlihat pada Masjid Sunan Giri ialah arsitektur bangunan Joglo tipikal bangunan Jawa yang disanggah dengan empat soko guru;Mustaka pada atap masjid bertumpang mirip meru pada bangunan Hindu, mihrab masjid yang berbentuk lengkungan kalamakara seperti candi, mimbar masjid berbentuk padmasana singgasana dilengkapi dengan ornamen surya Majapahit, florish dan nanas, gapura masjid ber¬bentuk paduraksa mengingatkan pada bentuk bangunan kori agung pada kedathon di komplek Kerajaan Hindu. Kata Kunci : Masjid Sunan Giri, Akulturasi Budaya, Arsitektur
Vihara Avalokitesvara Serang: Arsitektur dan Peranannya dalam Relasi Buddhis-Tionghoa dengan Muslim di Banten Nurman Kholis
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.44 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.504

Abstract

The Vihara Avalokitesvara (a Buddhist place of worship) is located in Pama¬rican, Customs, Serang. This vihara is the oldest vihara in Banten and was built in the 16th century. Nuances of Chinese and Buddhist architecture may be seen in the dragon decoration among other things and in the menyeruapi burning paper of the pagoda and in the painting and sculpture of Kwan lm Pouw Sat, and the sculpture of Wie Tho Pou Sat. There is a large statue of the Buddha and a picture of the lotus flower. And yet there are Islamic nuances also. There is a relief depicting the wedding of Princess Ong Tin with Syarif Hidayatullah. This vihara is visited by many Muslims as well as by Buddhists. Keywords: Vihara, Buddha, Chinese, Islam, Banten Vihara Avalokitesvara berlokasi di Pamarican, Pabean, Serang. Vihara ini merupakan vihara yang tertua di Banten dan diperkirakan dibangun sekitar abad ke-16. Untuk mengungkapkan unsur-unsur etnis dan agama pada arsitektur vihara ini dianalisis secara semiotik. Berdasarkan analisis ini maka diketahui unsur-unsur bernuansa Tionghoa yaitu antara lain hiasan naga, tempat pembakaran kertas yang menyeruapi pagoda, lukisan dan patung Dewi Kwan Im, patung Kwan lm Pouw Sat, dan patung Wie Tho Pou Sat. Adapun unsur-unsur agama Buddha dalam vihara ini antara lain patung besar Buddha Gautama dan gambar bunga teratai. Selain itu juga terdapat unsur bernuansa Islam yaitu pada relief yang menggam¬barkan pernikahan Putri Ong Tin dengan Syarif Hidayatullah. Karena itu, vihara ini juga dikunjungi oleh banyak umat Islam. Kata Kunci: vihara, Buddha, Tionghoa, Islam, Banten
Sejarah, Bentuk dan Makna Arsitektur Gereja GPIB Bethel Bandung Masmedia Pinem
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.326 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.505

Abstract

This article attempts to describe the history, together with the characteristic architecture of GPIB Bethel. GPIB is the abbreviation of the ‘Protestant Church in Western Indonesia’. Built in Bandung, in 1948, it is located in Jalan Wastukencana 1, in the Village of Babakan Ciamis, Sub District of Sumur Bandung, City of Bandung. This type of church structure was designed by Schoemaker, a Dutch architect, who combined and syintisized between basic needs, concepts, and values of each genre that came from developed world archictecture in that time. The model was already well-known as an “essential expression” of European Chris-tianity. Exsisted Elements of church was adapted from world development architecture in that era. The elements of mass and figure have been des-cribed as spiritual manifestations of Christianity. There is perhaps an element of art deco its architectural decoration. The church of Bethel is now a building categorized as ‘A’, meaning that it is to be conserved in its models and functions, prohibited by law from any changes to its functions - it is now a legally protected part of the Indonesian legacy. Keywords: Church, History, Type, Architecture, Bandung. Artikel ini ingin menggambarkan sejarah, bentuk, dan arsitektur Gereja GPIB Bethel. GPIB adalah singkatan dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, berdiri sejak tahun 1948 dan terletak di Jalan Wastukencana No. 1, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kotamadya Bandung. Model arsitektur yang didesain oleh Schoemaker seorang arsitek Belanda yang merupakan sintesis dari kebutuhan, konsep, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing aliran-aliran dalam perkembangan arsitektur dunia sebagai produk arsitektur pada zamannya yang merupakan “essential expression” bagi kekristenan di Eropa. Elemen-elemen yang ada merupakan adaptasi dari pengaruh zaman yang berkembang saat itu. Elemen pada tatanan massa dan ruang serta elemen pelingkup ruang yang dijumpai memiliki makna kerohanian sebagai perwujudan nilai-nilai Kristianitas. Begitu juga elemen-elemen dekoratifnya merupakan suatu produk zaman yang dipengaruhi oleh arsitektur art deco yang sangat berkembang pada zaman itu. Gereja ini adalah termasuk salah satu tipe bangunan yang berkualitas ‘A’ dan telah dikonservasi tanpa perubahan bentuk dan fungsi yang signifikan, sehingga ia termasuk dalam kategori bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang. Kata Kunci: Gereja, Sejarang, Bentuk, Arsitektur, Bandung.
Islamisasi Pantai Utara Jawa: Menelusuri Penyiaran Islam di Tanah Betawi Jajang Jahroni
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.994 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.506

Abstract

This article discusses the early Islamization of Betawi. While the Islamization of Betawi began in the 12 th. century, more intensive attempts did not occur until the 14th. and 15th. centuries. Of particular significance was the arrival of Muslim traders in Sunda Kelapa, the most important port located in the northern part of the current Jakarta. The voyage of Cheng Ho, a Hui Muslim admiral, who visited the city in the early 15th. century, played an important part in the Islamization of northern Java. Some of Cheng Ho’s Muslim fellows decided to stay on in the region, and they subsequently expanded the Islamic proselytization into the interior of West Java. The further step of Islamization of the region was continued by the descendants of Prabu Siliwangi, who converted to Islam. They advocated Islam to the Sundanese people who, at that time, still believed in various pagan traditions. Muslim students returning from the Middle East in the 19th. and 20th. centuries extended this process. They built modern institutions such as madrasa and pesantren reaching out to a large audience in the Muslim ommunity. Keywords: Islamization, Betawi, the 14 th and 15 th centuries, madrasa and pesantren Artikel ini membahas awal Islamisasi di Betawi. Proses ini sebenarnya sudah mulai sejak abad ke-12. Namun usaha yang intensif baru dimulai sejak abad ke-14 dan 15. Ini berhubungan dengan kedatangan para pedagang Muslim yang menguasai Sunda Kelapa, pelabuhan terpenting yang terletak di utara Jakarta sekarang. Kedatangan Cheng Ho, seorang nakhoda Hui Muslim, pada awal abad ke-15 sangatlah penting untuk melakukan ekspansi dakwah ke pedalaman Jawa Barat. Islamisasi be¬rikutnya banyak dilakukan oleh keturunan Prabu Siliwangi, raja Hindu Pajajaran. Merekalah yang mendakwahkan Islam ke suku Sunda yang masih percaya dengan agama pagan Sunda. Selanjutnya, para pelajar yang pulang ke Tanah Air setelah menuntut ilmu di Timur Tengah, Mekkah dan Madinah, melanjutkan proses Islamisasi. Mereka membangun lembaga modern seperti madrasa dan pondok pesantren yang dapat mencapai audiensi masyarakat yang lebih luas. Kata Kunci: Islamisasi, Betawi, Abad ke-14 dan 15, madrasah dan pesantren
Tumasik: Sejarah Awal Islam di Singapura (1200-1511 M) Asep Saefullah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.216 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.507

Abstract

This article attempts to trace the early history of Islam in Temasek, a former name of Singapore. The city was also known as the ‘Sea Town’, and was a part of the Nusantara. In the 12th-14th century, Tumasik and Kedah were important ports in the Malay Peninsula. Tumasik, at that time, was important enough to figure in international trade networks. The very strategic location of Tumasik, at the very tip of the Malay Peninsula, made it a significant prize for the master. Kingdoms that once ruled it: the Sriwijaya kingdom until the end of the 13th century AD and Majapahit kingdom that ruled it until the 14th century. In the 15th century AD, Tumasik came under the rule of Ayutthaya-Thailand; and subsequent occupation controlled by the Sultanate of Malacca to the Portuguese in 1511 AD. Speaking on the comming of Islam in Tumasik that was along with the influx of Muslim merchants, both Arabic and Persian, between the 8th – 11th century which the trading activity increased in the Archipelago. Coastal cities and ports, one of which Tumasik, on the Malay Peninsula became the settlements of Muslim tradespeople. Most of them settled and married there. Thus, it is strongly suspected that Islam has been present in Tumasik since perhaps the 8th century AD. Up until the beginning of the 16th century, the old Singapore remains a Muslim settlement, along with other vendors, both from Europe, India, and China, and also became an important port under the Sultanate of Malacca. That Malaccan empire was conquered by the Portuguese in 1511. Keywords: early history of Islam, Tumasik, Singapore, Sultanate of Malacca Artikel ini mencoba menelusuri sejarah awal Islam di Tumasik, kada disebut juga Temasek, nama dulu bagi Singapura. Kota ini juga disebut sebagai Kota Laut (Sea Town), dan merupakan bagian dari Nusantara masa lalu. Pada abad ke-12 s.d. 14 M, Tumasik bersama Kedah merupakan pelabuhan-pelabuhan penting di Semenanjung Malaya. Pada masa itu, Tumasik merupakan kota perdagangan yang cukup besar dan penting dalam jaringan perdagangan internasional. Posisinya yang sangat strategis di ujung Semenanjung Malaya, menjadikan Tumasik menggiurkan untuk dikuasai. Kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Tumasik yaitu Sriwijaya sampai akhir abad ke-13 M dan Majapahit sampai abad ke-14 M. Pada abad ke-15 M, Tumasik berada di bawah kekuasaan Ayutthaya-Thailand; dan selanjutnya dikuasai Kesultanan Malaka sampai pendu¬dukan Portugis 1511 M. Adapun proses masuknya Islam di Tumasik terjadi bersamaan dengan masuknya para pedagang Muslim, baik dari Arab maupun Persia pada abad ke-8 s.d. 11 M yang mengalami peningkatan aktivitas perdagangan. Kota-kota pesisir dan pelabuhan-pelabuhan, salah satunya Tumasik, di Semenanjung Malaya menjadi pemukiman-pemukiman bagi para pedagang Muslim tersebut. Sebagian dari mereka menetap dan berkeluarga di sana. Dengan demikian, diduga kuat bahwa Islam telah hadir di Tumasik antara abad ke-8 M - ke 11 M. Hingga permulaan abad ke-16 M, Singapura lama tetap menjadi pemukiman Muslim, bersama para pedagang lain, baik dari Eropa, India, maupun Cina, dan sekaligus menjadi pelabuhan penting di bawah kekuasaan Kesultanan Malaka, sampai dengan kesultanan ini ditaklukan oleh Portugis pada 1511 M. Kata kunci: sejarah awal Islam, Tumasik, Singapura, Kesultanan Malaka
Kesultanan Nusantara dan Faham Keagamaan Moderat di Indonesia Choirul Fuad Yusuf
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.824 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.508

Abstract

The Sultanates (Islamic kingdoms), have played a pivotal role in the spread of Islamic teachings throughout the Nusantara archipelago – the archipelago that was later to be known as Indonesia. This article tries to trace and explain the most significant contribution of the Sultanates in spreading Islamic teaching around the archipelago. With the use of documentary method, the article highlights some conclusions. First, the Sultantes played an important role in the process of Islamization in the Nusantare archipelago. Through their political authority or influences, most of Sultans involved proactively in the process of spreading Islam in Indonesia—at least by implementing policies for Islamic development. Second, doctrinarily, most of Nusantara (Indonesia) Sultanates developed a moderate Islam which was significantly able to be witnessed up to the present time. Any cultural capitals of the pre-Islamic society and the powerful authority of Sultanates in one side, and the characters of Islam itself as a universal religion in another side, a moderate Islamic teachings has significantly developed with its great influnces in a wider aspect of life in Indonesia today. Key words: sultanate, spread of Islam, radical Islam, moderate teachings, future Islam. Kesultanan memegang peranan sangat penting dan strategis dalam penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia), terutama pada awal perkembangannya. Artikel ini mencoba untuk menelusuri, apa dan sejauhmana peranan yang dilakukan kesultanan atau kerajaan Islam dalam proses penyebaran dan penguatan Islam di Nusantara. Dengan menggunakan pendekatan studi dokumen ini, tulisan ini menggaris-bawahi sejumlah kesimpulan. Pertama, Kesultanan Nusantara memegang peran penting dan strategis dalam penyebaran, pengembangan Islam proses Islamisasi di wilayah Nusantara (baca: Indonesia). Melalui pengaruh politis otoritarian, Sultan atau raja, membantu percepatan penyebaran dan pengembangan ajaran Islam Indonesia. Kedua, secara doktrinal, sebagian besar kesultanan Nusantara mengembangkan ajaran Islam moderat. Modal kultural masyarakat Indonesias pra-Islam, dan peranan Kesultanan yang otoritatif di satu pihak dan karakteristik ajaran islam moderat yang masuk ke Indonesia pada saat itu di pihak lain, Islam moderat mengalami perkem¬bangan yang sangat cepat dan efektif sehingga pengaruhnya dapat dirasa-kan hingga dewasa ini pada berbagai aspek kehidupan. Kata Kunci: Kesultanan, penyebaran Islam, Islam radikal, ajaran moderat, Islam Masa depan.
Unsur Religi pada Makam-makam Kuna Islam di Kawasan Garut Effie Latifundia
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.134 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i2.509

Abstract

This work is based on field studies made in the year 2007 – a study of writings held by libraries and various govt. and semi-governmental bodies. Research reveals that many prominent people were buried in the Garut area, among them: Syech Sunan Rohmat (in the tomb of Godog), Raden Wangsa Muhamad (in the tomb of Cinunuk) and Syekh Jafar Sidiq, entombed at Cibiuk, one of the most charismatic religious leaders of his day. This third figure (Jafar Sidiq), and indeed his tomb, greatly helped the spread of Islam and even created Garut as a suitable place of pilgrimage, drawing even pilgrims from beyond Indonesia. The motivation for declaring these three tombs a suitable place for pilgrimage is based on the perception that these tombs are worthy places for meditation and for pondering a better life to come. It may be concluded that a number of religious observations, whether carried out individually or else as part of a group, are of great religious import. These pilgrimages continue to this day and may be reckoned as worthy of association with the greater pilgrimages to the Holy Land. Keywords: religion, pilgrimage, ancient tombs, Garut district. Tulisan ini diawali penelitian lapangan yang dilaksanakan pada tahun 2007, dengan metode survei dilengkapi studi kepustakaan, dan wawancara. Melalui tulisan ini berhasil diungkap bahwa tokoh-tokoh yang dimakam¬kan pada ketiga makam kuna di kawasan Garut, yaitu Syech Sunan Rohmat pada makam Godog, Raden Wangsa Muhamad pada makam Cinunuk, dan Syekh Jafar Sidiq pada makam Cibiuk merupakan tokoh yang kharismatik dan religius yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat setempat. Ketiga tokoh penyebar Islam tersebut makamnya dikeramatkan dan sakral serta ramai dikunjungi para peziarah yang datang baik dari dalam maupun luar kawasan Garut dan bahkan dari luar negeri. Motivasi para peziarah berkunjung pada tiga makam tersebut dilandasi persepi bahwa makam merupakan tempat untuk melakukan tafakur atau tempat yang tepat bagi peziarah yang mengutamakan kehidupan spiritual dengan harapan salah satunya hidup akan lebih baik. Dapat disimpulkan bahwa sejumlah upacara yang dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama secara serentak dengan penekanan pada upacara (ritus) berdoa, bersaji, atau upacara berupa pesta tahunan, selamatandan sebagainya hal ini menggambarkan unsur religi. Kegiatan religi tersebut masih terus berlangsung dan melekat pada kegiatan ziarah. Kata Kunci: religi, ziarah, makam kuna, kawasan Garut.

Page 1 of 2 | Total Record : 11