cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 2 (2017)" : 13 Documents clear
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.031 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Gaya Selingkung
Varian Islam Nusantara: Jawa, Minangkabau dan Gorontalo Donald Qomaidiansyah Tungkagi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.378 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.524

Abstract

This article discusses how the encounter of Islam and culture in Indonesia, and how Islam on one hand  affects culture and on the other hand it is influenced by culture. The encounter between Islam and local culture has formed a new habitat that is later called the Islamic Nusantara tradition. The findings in this article prove that the interaction of Islam with local culture occurs in a socio-historical context influenced by the pattern of the spread of Islam in the archipelago. By using the theory of Taufik Abdullah in this article the author compares the three variants of Islamic Nusantara with the pattern and uniqueness of each form: a) Javanese variant, there is a process of acculturation between Islam and culture which are equally strong. The Javanese Islamic variant describes the result of a reconciliation process between identity, belief and the style of Javanese and Islam as "Mystic Synthesis". B) Minangkabau variant, born from "Negotiation of Islam and Adat" as a very thick area of Islamic and customary nuances make the dimensions in Islamic variants in Minangkabau cannot be separated from the conflict between the two parties who gave the role. C) Gorontalo variant, with different Islamiza­tion process with other kingdoms in the Nusantara in general. Since the early period of Islamic encounter with Gorontalo culture, there has been more tangible "Integration between Islam and Adat". Keywords: Java, Minangkabau, Gorontalo, Islam NusantaraArtikel ini mendiskusikan bagaimana perjumpaan Islam dan budaya di Indonesia, dan bagaimana Islam pada satu sisi berpengaruh terhadap budaya dan di sisi lain dipengaruhi oleh budaya. Perjumpaan antara Islam dan budaya lokal telah membentuk habitat baru yang belakangan disebut tradisi Islam Nusantara. Temuan dalam artikel ini membuktikan bahwa interaksi Islam dengan budaya lokal terjadi dalam konteks sosio-historis yang dipengaruhi pola penyebaran Islam di kawasan Nusantara. Dengan menggunakan teori Taufik Abdullah dalam artikel ini penulis memban­ding­kan tiga varian Islam Nusantara dengan corak dan keunikannya masing-masing diantaranya: a) Varian Jawa, terjadi proses akulturasi an­tara Islam dan budaya yang sama-sama kuat. Varian Islam Jawa meng­gambarkan hasil proses rekonsiliasi antara identitas, keyakinan serta gaya Jawa dan Islam ini dengan sebutan “Sintesis Mistik”. b) Varian Minang­kabau, lahir dari “Negosiasi Islam dan Adat” sebagai wilayah yang sangat kental nuansa Islam dan adat membuat warna dalam varian Islam di Minangkabau tidak lepas dari dari konflik antara dua pihak yang memberi peranan tersebut. c) Pola Gorontalo, dengan proses Islamisasi yang ber­beda dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara pada umumnya. Sejak periode awal perjumpaan Islam dengan budaya Gorontalo lebih berwujud “Integ­rasi antara Islam dan Adat”.Kata kunci: Jawa, Minangkabau, Gorontalo, , Islam Nusantara 
Parupama; Nasehat yang Menghibur Syamsurijal Syamsurijal
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.675 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.525

Abstract

Movement of literacy in the community, making oral tradition has lost own place. Folklore and fairy tales told through oral began to be replaced by comics, movies on television and writing through gadgets. In local communities, the oral tradition is still an important means of informing  messages. One of the living oral traditions and the media to express criticism is Parupama in South Sulawesi. This paper explains  how this parupama tradition is used by community to convey advice, messages and criticism through jokes. Advice and criticism is channeled through in an entertaining way. The data in this paper were obtained through qualitative research in two places, namely Tanah Toa Kajang and Tamaona village located in Bulukumba district, South Sulawesi.Key word: Message, Oral tradition, Criticism, Parupama Gerakan literasi di tengah masyarakat telah membuat tradisi lisan kehilangan tempat. Cerita rakyat dan dongeng yang disampaikan melalui lisan mulai digantikan dengan komik, film di televisi dan tulisan melalui gadget. Padahal di masyarakat lokal sendiri, tradisi lisan masih menjadi sarana penyampaian pesan yang penting. Salah satu tradisi lisan yang masih hidup dan menjadi media menyampaikan nasehat adalah Parupama yang hidup dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Tulisan ini menggambar­kan bagaimana tradisi Parupama ini digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan nasehat, pesan dan kritikan melalui lelucon. Nasehat dan kritikan disalurkan dengan cara menghibur. Data dalam tulisan ini dida­pat­kan melalui penelitian kualitatif di dua tempat, yaitu desa Tanah Toa Kajang dan desa Tamaona, berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi-selatan.   Kata Kunci: Pesan, tradisi lisan, kritik, parupama 
Pertumbuhan Lembaga Pendidikan Islam di Kerajaan Langkat Pada Tahun 1912-1942 Muaz Tanjung
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.241 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.526

Abstract

Before the establishment of the Islamic Kingdom of Langkat, the people there have embraced Islam. This is because Langkat is adjacent to Aceh, which had already been ruled by an Islamic empire and it broadcast Islam to various regions, including the east coast of Sumatra. The Kingdom of Langkat, especially after relocated its Capital  to Tanjung Pura, had made Islam as a main reference and political legitimacy of the Sultan and the Kingdom in general. As a consequence, Islam is practiced by the majority of Muslim community and reflected in various fields. At the beginning of the 20th century in East Sumatra there emerged publicly funded educational institutions, including those in Langkat. However, religious subjects are not officially acknowledged. Seeing this situation, the Sultan and other Muslims felt responsible for establishing an independent Islamic educational institution. Although Islamic education was preiously taught to Muslim children, but its implementation was largely limited in mosques or private homes. The Kingdom was destined to improve the quality of Islamic education through building an independent educational institution.Keywords: Education, Islamic Empire, Langkat, Sumatera, Indonesia Sebelum berdirinya kerajaan Langkat, masyarakat di sana telah me­me­luk agama Islam. Hal ini dikarenakan wilayah Langkat berbatasan dengan Aceh yang telah memiliki kerajaan Islam dan menyiarkan Islam ke berbagai daerah, terutama di pantai timur Sumatera. Kerajaan Langkat terutama setelah berpusat di Tanjung Pura, menjadikan agama Islam sebagai pedoman dan legitimasi terhadap kebijakan-kebijakan sultan dan kerajaan secara umum. Masyarakat yang mayoritas beragama Islam dalam berbagai dinamika kehidupannya mencerminkan perilaku keislaman yang kuat. Di awal abad ke-20 M di Sumatera Timur banyak berdiri lembaga pendidikan umum, termasuk di Langkat. Namun demikian, pelajaran agama secara resmi tidak dibenarkan. Melihat keadaan ini, sultan dan umat Islam lainnya merasa bertanggungjawab untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri. Meskipun pada masa sebelumnya pendidikan Islam tetap diajarkan kepada anak-anak Muslim, namun pelak­sanaannya masih berlangsung terbatas hanya di masjid atau rumah-rumah pribadi guru. Oleh karena itu Kerajaan Langkat terdorong untuk mening­katkan mutu pendidikan Islam dengan membangun lembaga pendidikan yang berdiri sendiri.Kata kunci: Pendidikan, Kerajaan Islam, Langkat, Sumatera, Indonesia 
The sharia on non-muslims: should they follow? Hasna Azmi Fadhilah; Fitri Mahara
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.492 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.527

Abstract

Since 2001, the Aceh provincial administration and legislative council have approved the Qanun Jinayat (behavior-governing bylaw) that obliges public in Aceh to follow sharia, the Islamic legal code. While it has been widely accepted by Aceh Muslims, the sharia implementation on non-muslim has sparked a huge debate. To understand the public opinion on this issue, we conducted face-to-face interviews and surveyed more than two hundreds fifty people in Aceh Tengah about their views following the case of Buddhists who were caned for violating sharia law. From the research that we did, our findings reveal that Acehnese people have different opinion on this. A half our respondents, including the non-Muslims do not see sharia law as a burden for them to live in Aceh. While the others, such as human rights activists and non-governmental organizations reported that this law enactment has prompted human rights abuses. Looking at the divisive views, the national and Aceh government are suggested to take further action to avoid more confusion among Acehnese people and religious conflict in the future. Keywords: Sharia Law, Aceh, Non-MuslimsSejak tahun 2001, pemerintah provinsi dan dewan legislatif Aceh telah menyetujui pemberlakuan Qanun Jinayat (peraturan perundang-undangan) yang mewajibkan masyarakat di Aceh untuk mengikuti syariah, kode hukum Islam. Meskipun telah diterima secara luas oleh Muslim Aceh, implementasi syariah bagi non-Muslim telah memicu perdebatan besar. Untuk memahami opini publik mengenai masalah ini, kami melakukan wawancara tatap muka dan mensurvei lebih dari dua ratus lima puluh orang di Aceh Tengah mengenai pandangan mereka menyusul kasus seorang penganut Buddha yang dicambuk karena melanggar hukum syariah. Dari penelitian yang kami lakukan, temuan kami mengungkapkan bahwa orang Aceh memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini. Setengah responden kami, termasuk non-Muslim, tidak melihat hukum syariah sebagai beban bagi mereka untuk tinggal di Aceh. Sementara yang lainnya, seperti aktivis Hak Asasi Manusia dan Lembaga Swadaya Masyarakat melaporkan bahwa undang-undang ini telah menyebabkan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Melihat pandangan yang terpecah seperti ini, pemerintah pusat dan Aceh disarankan untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghindari kebingungan masyarakat Aceh dan konflik agama di masa depan.Kata kunci: Hukum Syariah, Aceh, Non-Muslim 
Moralitas Pemimpin: Dialektika atas Teks Suci Agama dan Pembentukan Budaya Lokal (Kajian Living Hadits dalam Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 2 Eps.3) Ridha Hayati
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.097 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.528

Abstract

In recent years, some Indonesian television artists have used the Qur'an and the Hadith as part of the dialogue in their work. Thus in some of the TV soap opera there are religious and aesthetic power that shows the content of religion, that is da'wah or tabligh (invitation, or appeal) to the audience. The Seeker of God (PPT) is an example, how soap opera Ramadan is filled with nuances of religion and has more emphasis on the elements of Islam. In this research, the writer reviews the one of the episodes in PPT soap opera which generally talk about a leadership in society. In this episode, religious texts (Al-Qur'an and Hadith) and community actions interact, ayat and the referred hadith are sometimes understood textually, but sometimes also contextually. It is expected that this research explains that the study of the Qur’an and hadits do not only dwell on the literature of the books of tafsir only, but also has spread in the media technology in its curremt forms.Keywords: Al-Qur’an, Hadith, Dialogue, Indonesian Television. Belakangan ini, muncul karya-karya para seniman dan artis televisi Indonesia yang menjadikan Al-Qur’an maupun Hadits sebagai bagian dari dialognya. Sehingga dalam karya tersebut tercium aroma religius dan berdaya estetitis yang menunjukkan muatan spiritualitas yang bersifat dakwah atau tabligh (ajakan, seruan, maupun himbauan) bagi penonton­nya. Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) adalah sinetron Ramadhan yang bernuansa religi dan lebih menekankan unsur-unsur keislaman. Dalam penelitian ini penulis mengkaji sinetron PPT jilid 2 episode 3 yang secara umum berbicara tentang sebuah kepemimpinan dalam masyarakat. Di dalam episode ini, teks keagamaan (Al-Qur‟an dan Hadis) dan tindakan masyarakat saling berinteraksi, ayat maupun hadits yang dirujuk terkadang dipahami secara tekstual, namun terkadang juga kontekstual. Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa kajian Al-Qur’an dan hadis tidak hanya berkutat pada literatur kitab tafsir saja, melainkan telah menjalar dalam media teknologi sesuai perkembangan zamannya.Kata Kunci: Al-Qu’an, Hadits, Dialog, Televisi Indonesia. 
Orientalisme Vs Oksidentalisme: Benturan dan Dialogisme Budaya Global Rohanda Rohanda; Dian Nurrachman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.46 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.529

Abstract

Imperialism and colonialism have spawned research centers that examine the parts of the world that they control. Through these centers, orientalists work to discuss, write, produce and perform the Eastern world on the stage of Western culture. Authenticity, exoticism and grandeur of the East are dismantled, stripped down, doubted and elusive. Through orientalist goggles, the East is produced as a "hybrid" form; no more pure and original East. East is used as a storage or projection of their own unfamiliar (read: the West) aspects, such as crime, moral decadence, and so on. On the other hand, the East is seen as a dazzling world of exotic and full of mystical seductions. Meanwhile, unlike the orientalism that was originally intended as a serious study of the cultures to legitimize Western colonial powers in the Eastern world, occidentalism is precisely born from the methodological problems of orientalism which is said to be objective. Whereas behind the objectivity is stored Western interests to dominate, rearrange, and control the East. Orientalism has sparked nativist intellectuals to question the validity of orientalist works in constructing Eastern stereotypes. It cannot be denied then that these two discourses - Orientalism and Occidentalism - are in a position between the clashes and the global cultural dialogue.Keywords: Orientalism, oxidentalism, imperialism, colonialism, conf­­lict, dialogue Imperialisme dan kolonialisme telah melahirkan pusat-pusat studi dan kajian yang menelaah belahan dunia yang dikuasainya. Melalui pusat-pusat kajian inilah, para orientalis bekerja untuk memperbincangkan, menulis, memproduksi dan mempertunjukkan dunia Timur di atas panggung kebudayaan Barat. Keaslian, keeksotisan dan keagungan Timur dibongkar, dipreteli, diragukan dan dibuat samar-samar. Melalui kacamata orientalis, Timur diproduksi sebagai suatu bentuk “hibrida”; tidak ada lagi Timur yang murni dan orisinal. Timur dijadikan tempat penyimpanan atau proyeksi dari aspek-aspek mereka sendiri (baca: Barat) yang tidak diakuinya, seperti kejahatan, dekadensi moral, dan lain-lain. Pada sisi lain, Timur dipandang sebagai dunia mempesonakan dari yang eksotis dan penuh dengan rayuan-rayuan mistis. Sementara itu, berbeda halnya dengan orientalisme yang sejak semula dimaksudkan sebagai kajian serius politik-budaya untuk melegitimasi kekuatan-kekuatan kolonial Barat di dunia Timur, oksidentalisme justeru lahir dari problem metodologis orientalisme yang katanya obyektif. Padahal di balik keobyektifan itu tersimpan kepentingan-kepentingan Barat untuk  mendominasi, menata kembali, dan menguasai Timur. Orientalisme telah memicu para intelektual nativis untuk mempertanyakan keabsahan (validitas) karya-karya para orientalis dalam membangun stereotip-stereotip ketimuran. Maka tidak dapat dipungkiri kemudian bahwa dua wacana ini — orientalisme dan oksidentalisme — berada dalam posisi di antara benturan dan dialogisme budaya global.Kata-kata kunci: orientalisme, oksidentalisme, imperialisme, kolo­nialisme, benturan, dialog 
Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima; Arsitektur, Misi Agama dan Kekuasaan Retno Kartini
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.263 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.530

Abstract

The article discusses the history of Sultan Muhammad Salahuddin Mosque in Bima, and it was written as an effort to preserve the cultural heritage of the Indonesian heritage, especially related to the historic mosque and its role in the development of Islam in the region of Bima, West Nusa Tenggara. This descriptive study focuses on writing about the history of the mosque's founding, its architecture and its historic objects inside the mosque, as well as the function of the mosque from time to time. The results were extracted from various sources, starting with interviews with key informants, document studies, and observations. This historic mosque was originally built by Sultan Abdul Kadim in 1737 AD, then continued by his successor, Sultan Abdul Hamid until it was completed in 1780 AD. This palace mosque is a symbol of the religiosity of the community of Bima and serves as a center of Islamic religious mission in his time. The mosque that was destroyed by an allied bomb in 1948 was then rebuilt from its original form and was named as Sultan Muhammad Salahuddin Mosque. Artikel hasil penelitian terhadap Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima ditulis sebagai salah satu upaya untuk melestarikan warisan budaya Bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan masjid bersejarah dan perannya dalam perkembangan Islam di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Penelitian diskriptif ini berfokus pada penulisan seputar sejarah pendirian masjid, arsitektur dan benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya, serta fungsi masjid dari masa ke masa. Hasil penelitian digali dari berbagai sumber, dimulai dengan wawancara dengan informan kunci, studi  dokumen, dan observasi. Masjid bersejarah ini awalnya dibangun oleh Sultan Abdul Kadim pada pada tanggal tahun 1737 M, kemudian dilanjutkan penerusnya, Sultan Abdul Hamid sampai selesai pada tahun 1780 M. Masjid istana ini merupakan simbol religiu­sitas masyarakat Bima dan berfungsi sebagai pusat penyiaran agama Islam di masanya. Masjid yang pernah hancur terkena bom tentara sekutu pada tahun 1948 kemudian dibangun kembali sesuai bentuk aslinya dan dinamai sebagai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.Kata kunci: Masjid bersejarah; Sultan Muhammad Salahuddin; Bima 
Tradisi Penulisan Tafsir Al-Qur’an Bahasa Jawa Cacarakan: Studi Atas Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi Siti Mariatul Kiptiyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.47 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.531

Abstract

The article discusses the writing of Qur’anic commentary in Javanese language or Cacarakan, especially in the Kur’an Jawen Muhammadiyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. My focus is to explore the writing tradition of Qur’anic commentaries and interpretative context of the books. Considering both were published in 1927 and 1928, this study seeks to explain how the tradition of writing of the Qur’anic commentary in Java, especially in the era of colonialism before the event of Sumpah Pemuda in 1928. In my analysis, Kur’an Jawen Muhamma­diyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi although written  in the same language that is aksara cacarakan, they have different issues. The interpretation about jihad in Kur’an Jawen Muhammadiyah was a response to the Christian missionary activity and the tafsir was raising the issue of harmony among religious people. On the other hand, Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi discusses more about how to make solidarity in Muslim society.Keyword:  cacarakan, Qur’anic commentary, Javanese, Muslim solidarity Artikel ini membahas tentang penulisan tafsir Al-Qur’an bahasa Jawa Cacarakan, utamanya pada Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. Fokus saya adalah mengeksplorasi tradisi penulisan dan konteks penafsiran kedua kitab tafsir tersebut. Mengingat keduanya terbit pada tahun 1927 dan 1928, studi ini penting untuk melihat bagaimana geliat penulisan tafsir Al-Qur’an di Jawa, khususnya pada era kolonialisme menjelang diikrarkannya Sumpah Pemuda tahun 1928. Dari pembacaan saya, meski Kur’an Jawen Muhamma­­diyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi ditulis dengan bahasa yang sama, keduanya memiliki pola penulisan yang berbeda dan menyasar konteks penafsiran yang berbeda pula. Kur’an Jawen Muhammadiyah (1927) secara penulisan berbentuk terjemah tafsiriyah dan merespon massifnya gerakan zending atau kristenisasi oleh pemerintah kolonial, dengan memberi penekanan pada dakwah secara damai untuk mencapai kerukunan antar umat beragama. Sedangkan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi (1928) secara penulisan menggunakan pola kitab tafsir sesuai dengan namanya, ia lebih banyak menyinggung perdebatan seputar furu’iyah dan menekankan pada kerukunan internal umat Islam.Kata kunci: cacarakan, tafsir Al-Qur’an, Bahasa Jawa, solidaritas Muslim 
Eksplorasi dan Digitalisasi Manuskrip Keagamaan: Pengalaman di Minangkabau Ridwan Bustamam
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.721 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.532

Abstract

Islamic Manuscript of Nusantara has long been the object of resear­ch. Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage Office for Research and Development and Training began to seriously conserve the manuscript systematically since 2008 until now, among others through the digitalization of religious classical manuscripts. Until 2016, about 2,203 titles of religious manuscripts were successfully digitized from various parts of Indonesia, including the religious manus­cripts of West Sumatra. Digitalization activities in this area are not as easy as planned, many obstacles to be faced by the digital team, technical issues and obstacles that arise from the owner of the script itself. The implementation strategy of digitizing manuscript used such as involving manuscripts from MANASSA, SULUAH Padang, IAIN Imam Bonjol Padang, and Andalas Padang University. In fact, there are still many religious manuscripts in West Sumatera that have not been photographed until 2016. Due to limited quotas, the manuscripts that are digitized are only 45 manuscripts, coming from three regions: 1) Pauh Kambar Hilir, Nan Sabaris, Padang Pariaman; 2) Batu Baraia, Saturday Feed, Luhak, Fifty Koto; 3) Kasiak, Koto Sani, Sumani, Solok. This community-owned manuscript contains among others tauhid, tafseer, fiqh, mujarabat, fala­kiyah, nahwu-naraf knowledge, and tasawuf. One of the most important recommendations of the digitalization team is: "intensive coordination and collaboration is needed in order to save the manuscript, because if done sepa­­ra­tely, the conservation effort of the manuscript will not run opti­mally.Keywords: exploration, digitizing, religious manuscripts, West Sumatra, Minangkabau  Naskah klasik (manuskrip) keislaman Nusantara sudah lama menyita perhatian para peneliti dari dalam maupun luar negeri. Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mulai serius mengkonservasi naskah kuno secara sistematis sejak tahun 2008 sampai sekarang, antara lain melalui digitalisasi naskah klasik keagamaan. Hingga tahun 2016, sekitar 2.203 judul naskah keagamaan telah berhasil didigital dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di dalamnya manuskrip keagamaan dari Sumatera Barat. Kegiatan digitalisasi di daerah ini pun tidak semudah yang direncanakan, banyak kendala yang harus dihadapi oleh tim digital, baik kendala yang bersifat teknis maupun kendala yang berasal dari pemilik naskah itu sendiri. Strategi digitalisasi naskah yang digunakan misalnya melibatkan para pegiat naskah dari MANASSA, SULUAH Padang, IAIN Imam Bonjol Padang, dan Univer­sitas Andalas Padang. Sesungguhnya masih banyak manuskrip keagamaan di Sumbar yang belum difoto tahun 2016. Karena kuota yang terbatas, maka manuskrip keagamaan yang didigital hanya berjumlah 45 naskah, yaitu dari tiga daerah: 1) Pauh Kambar Hilir, Nan Sabaris, Padang Pariaman; 2) Batu Baraia, Pakan Sabtu, Luhak, Lima Puluh Koto; 3) Kasiak, Koto Sani, Sumani, Solok. Naskah milik masyarakat ini berisi antara lain tauhid, tafsir, fikih, mujarabat, falakiyah, ilmu nahwu-saraf, dan tasawuf. Tim digitalisasi manuskrip keagamaan Sumbar akhirnya meru­mus­kan rekomandasi, yang terpenting adalah: “perlu koordinasi dan kola­borasi secara intensif dalam rangka penyelamatan manuskrip, sebab jika dilakukan secara terpisah-pisah, maka upaya konservasi manuskrip tidak akan berjalan secara optimal.Kata kunci: eksplorasi, digitalisasi, manuskrip keagamaan, Sumatera Barat, Minangkabau

Page 1 of 2 | Total Record : 13