cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 49, No 2 (2021)" : 27 Documents clear
UNSUR BUDAYA DAN NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT KOMERING SEHARUK: SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Iing Sunarti; Dedi Febriyanto; Mulyanto Widodo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.392 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.898

Abstract

This study aims to explore and describe the cultural elements and moral values contained in the Komering Seharuk folklore. This study used a qualitative descriptive method with a sociological literature approach. The research data source is in the form of Komering Seharuk folklore written by Usman Nurdin. Through these data sources, research data is obtained in the form of sentence quotations collected through the reading-note technique. The analysis of the research data was carried out using content analysis techniques. The results showed that the Komering Seharuk folklore contains elements of Komering culture and quite diverse moral values. The Komering cultural elements in question include; (1) the use of the Komering language, (2) the adoption of the Komering Umbai Akas folk song, (3) the background of the Komering river as one of the cultural sources of the Komering people, and (4) Tala Balak which is used as a means of destroying the tyranny of the authorities. The moral values in question include; (1) obedience, (2) wisdom, (3) willingness to take responsibility, (4) hard work, (5) religiosity, (6)optimism, (7)  social care, and (8) peace-loving. The cultural elements and moral values contained in the folklore of Komering Seharuk can be used as a motivational guide for social life.Penelitian ini bertujuan menggali dan mendeskripsikan unsur budaya dan nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat Komering Seharuk. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian berupa cerita rakyat Komering Seharuk yang ditulis oleh Usman Nurdin. Melalui sumber data tersebut diperoleh data penelitian berwujud kutipan kalimat yang dikumpulkan melalui teknik baca-catat. Adapun analisis terhadap data penelitian dilakukan menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Komering Seharuk mengandung unsur budaya Komering dan nilai moral yang cukup beragam. Unsur budaya Komering yang dimaksud meliputi; (1) penggunaan bahasa Komering, (2) pengangkatan lagu daerah Komering Umbai Akas, (3) latar Sungai Komering sebagai salah satu sumber kebudayaan masyarakat Komering, dan (4) Tala Balak yang digunakan sebagai sarana penghancur kelaliman penguasa. Adapun nilai-nilai moral yang dimaksud meliputi; (1) kepatuhan, (2) kebijaksanaan, (3) kesediaan bertanggung jawab, (4) bekerja keras, (5) religiusitas, (6) optimisme,  (7) peduli sosial, dan (8) cinta damai. Unsur budaya dan nilai moral yang terkandung di dalam cerita rakyat Komering Seharuk dapat dijadikan salah satu pedoman dan motivasi dalam kehidupan bermasyarakat.
NILAI-NILAI PATRIOTISME DALAM CARITA PANTUN MUNDINGLAYA DIKUSUMAH Ranu Sudarmansyah; Dedi Koswara; Nunuy Nurjanah
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.276 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.673

Abstract

As one of the original oral literary works of the archipelago, folklore story has character values and one of them is the value of patriotism. The purpose of this research is to describe the structure of the story and the values of patriotism contained in the Carita pantun Mundinglaya Dikususmah (CPMD). The method used in this research is an analitic descriptive method by (1) describing the structure of the story and (2) exploring the values of patriotism in the Mundinglaya Dikusumah pantun. After analyzing the CPMD story, the results of the research show that (1) the structure of the Mundinglaya Dikusumah folklore have a good theme, good actors (characterizations), a good plot and story setting; (2) there are values of patriotism in the Mundinglaya Dikusumah pantun, including (a) loyalty, (b) courage, (c) willingness to sacrifice, and (d) love for the nation and state. Finally, based on these findings, it can be concluded that the carita pantun Mundinglaya Dikusumah has a story structure that is very supportive of patriotism values which can be useful to become role models for the younger generation.Sebagai salah satu karya sastra lisan asli nusantara, carita pantun memiliki nilai-nilai karakter, di antaranya patriotisme. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur cerita dan nilai-nilai patriotisme yang terdapat pada carita pantun Mundinglaya Dikususmah (CPMD). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif analisis dengan cara (1) mendeskripsikan struktur cerita dan (2) menggali nilai-nilai patriotisme dalam carita pantun Mundinglaya Dikusumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) struktur carita pantun Mundinglaya Dikusumah meliputi tema, pelaku (penokohan), alur serta latar cerita yang baik; (2) terdapat nilai-nilai patriotisme dalam carita pantun Mundinglaya Dikusumah, meliputi nilai (a) kesetiaan, (b) keberanian, (c) rela berkorban, serta (d) kecintaan pada bangsa dan negara. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa carita pantun Mundinglaya Dikusumah mempunyai struktur cerita yang sangat mendukung terhadap pembentukan nilai-nilai patriotisme yang bisa berguna untuk menjadi suri teladan para generasi muda.
CITA-CITA HARMONIS MASYARAKAT KERINCI DALAM KUNAUNG KERINCI Mahawitra Jayawardana; Silvia Rosa; Khairil Anwar
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.245 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.849

Abstract

This article aims to reveal the meaning behind the expelled events contained in the Kunaung Putri Bungsu Rindu Sekian and the Kunaung Si Kamba Paya. The semiological theory of Roland Barthes is applied to reveal the symbolic foundation that wraps the discourse of these two ancients. This research is a qualitative research with descriptive method by analyzing the data in the form of words, sentences, paragraphs and even the discourse contained in the kunaung text. The results of the analysis show that kunaung becomes a symbolic code as a curtain of reason to silence the collective tragedy of the past so that it does not become a collective disease in the Kerinci community. The two kunaung have become the harmonious ideals of the ancestors of the Kerinci people for life in the future. Kunaung acts as a tool to voice these ideals.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna di balikperistiwaterusir yang terdapat dalam kunaung Putri Bungsu Rindu Sekian dan kunaung Si Kamba Paya.Teori semiologi Roland Barthes diterapkan untuk mengungkap tumpuan simbol yang membungkus wacana dalam kedua kunaung ini.Penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dengan menganalisis data berupa kata, kalimat, paragraf, bahkan wacana yang terdapat pada teks kunaung.Hasil analisis menunjukkan bahwakunaung menjadi kode simbolik yang bermakna sebagai tirai nalar untuk membungkam tragedi kolektif masa lalu supaya tidak menjadi luka kolektif dalam masyarakat Kerinci. Kedua kunaung itu menjadi cita-cita harmonis nenek moyang orang Kerinci untuk kehidupan di masa depan. Kunaung berperan sebagai alat untuk menyuarakan cita-cita tersebut.
NAMA MAKANAN OLAHAN BUAH PISANG: STUDI ETNOSEMANTIS Dian Mahendra; Fatimah Azzahra; Eka Nur Ummu Khasanah
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.712 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.853

Abstract

The study aims to identify the cultural aspects inside the names of banana processed foods through an ethnosemantic approach. The discussed research includes the forms of linguistic units used as the names, the basis for naming, the modernization of traditional food names, and the classification of folk foods. Presented data were obtained through the observation method and the literature studies. The data were analyzed in a qualitative and quantitative methodology. Qualitatively, the data were analyzed by distributional method with immediate constituent technique. The quantitative analysis method was used to figure out the percentage of the use of the essential food naming in the names of bananas processed foods, the number of the traditional name food development becoming modern food, and the number of food name filling in the categories of the folk food system classification. The results showed two forms of food names, namely words and phrases. The basis for naming food is divided into eleven categories, such as the naming based on the basic ingredients, the types of essential elements, the shapes, the processing methods, the additional ingredients, the characters, the brand, the size, the taste, the manufacturer's name, and the place name. The terms of these foods have been modernization, and some are not. The names of the traditional foods such as “nagasari”, “pisang rebus”, and “tape pisang” have not undergone modernization. Meanwhile, traditional foods are undergoing modernization, such as “pisang goreng” has been developing into 24 variants, “pisang bakar” into three variants, “bongko pisang” into three variants, “kolak pisang” into three variants, “sale pisang” into four variants, “ledre pisang” into five variants, “rambak pisang” into three variants, and “keripik pisang” into six variants. In addition, the name of banana processed food is also found in a new modified form. Regarding the classification of folk food, the names of the banana processed foods are classified into five categories: the unique beginner (the type of the food), the food form (the form of the food), the generic, the specific, and the specific the varietal.Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek budaya di balik nama-nama makanan olahan buah pisang melalui pendekatan etnosemantis. Masalah yang dibahas meliputi bentuk-bentuk satuan kebahasaan yang digunakan sebagai nama, dasar penamaan, modernisasi nama makanan tradisional, dan klasifikasi folk makanan. Data yang disajikan diperoleh melalui metode observasi dan studi pustaka. Data tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, data dianalisis dengan metode agih teknik bagi unsur langsung. Adapun analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui persentase penggunaan dasar penamaan makanan dalam nama-nama makanan olahan pisang, jumlah perkembangan nama makanan tradisional yang menjadi makanan modern, dan jumlah nama makanan yang mengisi kategori-kategori dalam sistem klasifikasi folk makanan tersebut. Hasil analisis menunjukkan dua bentuk nama makanan olahan pisang, yakni kata dan frasa. Dasar penamaannya dibedakan menjadi sebelas, yakni penamaan berdasarkan bahan pokok, jenis bahan pokok, bentuk, cara pengolahan, bahan tambahan, sifat, merek, ukuran, rasa, nama pembuat, dan nama tempat. Nama-nama makanan tersebut ada yang mengalami modernisasi dan ada yang tidak.  Nama makanan tradisional nagasari, pisang rebus, dan tape pisang tidak mengalami modernisasi. Sementara itu, makanan tradisional pisang goreng berkembang menjadi 24 varian, pisang bakar menjadi tiga varian, bongko pisang menjadi tiga varian, kolak pisang menjadi tiga varian, sale pisang menjadi empat varian, ledre pisang menjadi lima varian, rambak pisang menjadi tiga varian, dan keripik pisang menjadi enam varian. Selain itu, nama makanan olahan pisang juga ditemukan dalam bentuk modifikasi baru. Mengenai klasifikasi folk makanan, nama makanan olahan pisang dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu unique beginner (jenis makanan), food form (bentuk makanan), generik, spesifik, dan varietal.
PERILAKU WANITA TERHADAP KEKERASAN DALAM NOVEL ALUN SAMUDRA RASA KAJIAN FEMINIS PSIKOANALISIS JULIET MITCHELL Tya Resta Fitriana
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.549 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.370

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku wanita terhadap kekerasan di dalam novel Alun Samudra Rasa menggunakan kajian feminis psikoanalisis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk memaparkan fakta-fakta yang ditemukan selanjutnya fakta tersebut dianalisis dengan menggunakan perspektif feminis psikoanalisis Juliet Mitchell. Penelitian ini menghasilkan dua hal yaitu; 1) wujud perilaku wanita ketika mendapatkan kekerasan dan 2) hal yang menyebabkan wanita memperlihatkan sikap tersebut. Sikap wanita ketika mengalami kekerasan ada lima jenis yaitu pengusiran, perceraian, kekerasan fisik, kekerasan psikologis dan mencintai laki-laki lain selain suaminya. Munculnya perilaku tersebut disebabkan oleh faktor pola pikir yang ada hubungannya dengan faktor ketidaksadaran dan faktor kinship system. Faktor kinship system didalam penelitian, berhubungan dengan pola asuh. Pola asuh yang berbeda akan berpengaruh terhadap perbedaan pola pikir dan perilaku seseorang.
INDEKS PENULIS 49 NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.241 KB)

Abstract

HUMOR BAHASA JAWA DIALEK TEGAL DALAM KANAL YOUTUBE “GUYONAN NGAPAK TEGAL” Dahlia Nurul Amalah; NFN Mulyana
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.489 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.793

Abstract

This study aims to describe humor in the Javanese Tegal dialect in the Guyonan Ngapak Tegal youtube channel. This research is a qualitative descriptive study with a content analysis method. The data in this study are words, phrases, sentences, and clauses that source of humor discourses in the GNT youtube channel. The data collection used by listening and note technique. The validity of the data in this study was semantic and referential validity. The result in this research that the humor of Javanese Tegal dialect in the GNT youtube channel was formed linguistic aspects, namely 1) phonological aspects, in the form of substitution and permutation; 2) morphological aspects, in the form of reduplication and compound words; and 3) semantic aspects, in the form of homonyms, antonyms, language style, idioms, and ambiguity. Based on the research results, the most dominant means of humor making is ambiguity.Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan bentuk humor bahasa Jawa dialek Tegal dalam kanal youtube Guyonan Ngapak Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat, maupun klausa yang bersumber pada wacana humor dalam kanal youtube GNT. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat. Validitas data dalam penelitian ini yaitu validitas semantik dan validitas referensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk humor bahasa Jawa dialek Tegal dalam kanal youtube GNT terbentuk melalui aspek linguistik, yaitu 1) aspek fonologi, berupa subtitusi dan permutasi; 2) aspek morfologi, berupa reduplikasi dan kata majemuk; dan 3) aspek semantik, berupa homonim, antonim, gaya bahasa, idiom, dan ambiguitas. Berdasarkan hasil penelitian, sarana pembentukan humor yang paling dominan ialah ambiguitas.
KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI TEMBANG BAWA METRUM DANDANGGULA DALAM LAGU CAMPURSARI Bagus Wahyu Setyawan; Yusuf Muflikh Raharjo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.745 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.557

Abstract

Bawa as a one of literary song like a sindhenan, janturan, gerongan, and palaran. Firstly bawa song used in Javanese traditional or karawitan music, but since 1970th bawa song start to used in other genre, such as campursari. This research aimed to describe and analyse the meaning and function of bawa song in campursari. Sample on this research taken from bawa song with dandanggula poetic meter, that are bawa of kanca tani, pepeling, and nyidham sari song. Data collected technique using record-note and in-depth interview with some informant. Data analysis of this research using qualitative-interactive with the phase are data reduction, data display, and conclusion drawing. Result of this research find that bawa on campursari song have function as intro before song sing in. Therefore, bawa also represented the meaning and message of the campursari song. So, the lyric of bawa song have suitability with content of campursari song. Bawa song in this era also have attract power on campursari fans, because there are some dialogue between bawa singer with other singer, MC, or some audience which contain sense of joke inside.Bawa merupakan salah bentuk sastra tembang seperti halnya sindhenan, janturan, gerongan, dan palaran. Awalnya bawa digunakan untuk musik-musik karawitan, tetapi mulai tahun 1970-an tembang bawa mulai merambah dalam genre musik campursari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan fungsi tembang bawa dalam lagu campursari. Sampel yang digunakan adalah tembang bawa bermetrum dandanggula, yaitu bawa langgam kanca tani, pepeling, dan nyidham sari. Pengumpulan data menggunakan teknik simak-catat dan wawancara mendalam dengan narasumber. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif kualitatif dengan tahapan reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa tembang bawa dalam lagu campursari berfungsi sebagai intro atau awalan sebelum masuk lagu. Selain itu bawa juga merepresentasikan makna atau kandungan isi dari lagu campursari. Jadi, lirik tembang bawa memiliki kesepadanan dan kesesuaian makna dengan isi dari lagu campursari. Tembang bawa di era sekarang juga menjadi daya tarik bagi penikmat lagu campursari, karena terdapat dialog antara pelantun bawa dengan penyanyi lain, MC, bahkan dengan penonton yang kerap kali mengandung unsur humor.
INDEKS ABSTRAK 49 NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.134 KB)

Abstract

ANALISIS SEMIOTIK PUISI ENGKAU KARYA MUHAMMAD ZUHRI Aning Ayu Kusumawati
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.166 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.426

Abstract

The material object of this study is Engkau poetry by Muhammad Zuhri, while the formal object is semiotics by Riffaterre. In his theory, Michael Riffaterre, introduces two level of reading, i.e. heuristics (mimetic reading, based on the dictionary meaning, characterized by non-gramatical) and hermeneutic reading or retroactive reading (reading decoding process by searching models, matrix, hipogram: actual and potential to get a unity of meaning). The result of this study revealed that Engkau poetry in heuristics reading has not been found its unity of meaning, and it is still scattered and fragmented. In hermeneutic or retroactive reading, potential hipogram depicts the inner journey of the “Aku” lyrics from stagnant stage to the finding of bright spot stage. There are two monumental models in Engkau poetry. Departing from the model, it is found solicitation matrix (passion) for charitable pious, tawazun (balance on world affairs as well as the hereafter). While the actual hipogram as the background of the formation of the matrix is in Al-Qur’an Surah Ar-Rahman verses 7–8: “And the sky was abandoned by him, and laid by him (principle) balance. In order that you (mankind) violates the (principle) that balance.” By understanding the above verses, the principle of balance is the law of God for the whole universe. Thus, violation of the principle of balance is a cosmic sin, for violating the law that controls the universe.Objek material penelitian ini adalah puisi Engkau karya Muhammad Zuhri, penyair Sekar Jalak Pati, sedang objek formalnya adalah semiotika Riffaterre. Dalam teorinya, Michael Riffaterre mengenalkan dua level pembacaan, yaitu heuristik (pembacaan mimetis, didasarkan pada arti kamus, bercirikan ketidakgramatikalan) dan pembacaan hermeneutik atau pembacaan retroaktif (pembacaan proses dekoding dengan mencari model, matriks, hipogram: potensial dan aktual untuk mendapatkan kesatuan makna). Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa puisi Engkau dalam pembacaan heuristik masih belum ditemukan kesatuan makna, masih tersebar dan terpisah-pisah. Dalam pembacaan hermeneutik atau retroaktif, hipogram potensial menggambarkan perjalanan batin si aku lirik, dari tahap kejumutan sampai tahap menemukan titik terang. Ada dua model yang monumental dalam puisi Engkau ini. Berangkat dari model tersebut, ditemukan matriks ajakan (semangat) untuk beramal saleh, tawazun (kesimbangan pada urusan dunia maupun akhirat). Hipogram aktual yang menjadi latar terbentuknya matriks adalah Al-Qur’an surat ar-Rahman ayat 7–8: “dan langit pun ditinggalkan oleh-Nya, serta diletakkan oleh-Nya (prinsip) keseimbangan. Agar janganlah kamu (manusia) melanggar (prinsip) keseimbangan itu.” Dengan pemahaman ayat tersebut yang prinsip keseimbangan adalah hukum Allah untuk seluruh jagat raya. Dengan demikian, melanggar prinsip keseimbangan merupakan sebuah dosa kosmis, karena melanggar hukum yang menguasai jagat raya.

Page 2 of 3 | Total Record : 27