cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Bestari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "No 35 (2003)" : 13 Documents clear
MEMBANGUN RELASI TEKS-KONTEKS : KEIMANAN DAN PENCARIAN BENTUK MASYARAKAT IDEAL ZTF, Pradana Boy
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2211.562 KB)

Abstract

Dalam catatan sejarah,sebuah revolusi sosial telah dijalankan oleh Islam dalam merombak tata masyarakat yang berkeadilan dan berperadaban.Revolusi sosial itu,tentu tidak lahir dalam kehampaan nilai.Nilai-nilai iman yang tertanam dalam kehidupan umat Islam telah menjadi kekuatan yang mampu menyemai benih-benih revolusi kedaban manusia.Sebelum Islam datang,masyarakat arab dikenal dengan tribalismenya,dan berubah menjadi masyarakat ideal justru setelah Nabi Muhammad memperkenalkan kepada mereka ajaran Islam dengan seluruh nilai-nilainya.Kini,bagaimana mempresentasikan Islam dengan seluruh nilai-nilainya dalam menyauti kompleksitas masyarakat kontemporer? Agaknya perlu diupayakan untuk mencari dan merumuskan relasi antara teks-teks ajaran Islam dengan konteks sosial yang terus berkembang.
MENCARI MAKNA BARU ISLAM : JALAN MENUJU PERADABAN HUMANIS Fanani, Ahmad Fuad
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3547.975 KB)

Abstract

Untuk sampai pada jalan perdaban humanis, tidak berlebihan jika sekiranya aliansi intelektual yang berkomitmen pada moralitas, terus dipacu untuk melakukan pembacaan ulang terhadap Islam. Pembacaan baru terhadap Islam yang tidak hanya bersifat liberal dan menekankan humanisme,tetapi juga mementingkan humanisasi ditengah laju kapitalisme global, adalah sebuah imajinasi Islam yang mesti dikembangkan.Dan Islam yang hanya menjadi imajinasi politik dan atau gerakan keagamaan saja, pada dasarnya akan mengkerdilkan Islam,dan sekaligus memarjinalkan peran-peran moral dan sosial umat Islam. Jihad intelektual merupakan keharusan historis untuk mencari makna baru Islam yang lebih konstektual.
WACANA KETEGANGAN AGAMA DAN SAINS AGENDA TANTANGAN BAGI PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM Purwadi, Agus
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5103.437 KB)

Abstract

Normal sains yang lahir sejak abad pencerahan,kini ditengarai mengandung sejumlah anomali paradigmatis; terhadap cacat ontologis,epistemologis,dan aksiologis. Gugatan pun muncul tidak saja dari kalangan sainstis sendiri tetapi juga dari kalangan agamawan. Dari kalangan Islam,muncul pengkritisan terhadap sains modern, yang diikuti dengan tumbuhnya imajinasi intelektual untuk menjadikan Islam sebagai landasan paradigmatik pengembangan sains dengan proyek islamisasi sains.Namun demikian,proyek tersebut mensyaratkan perlunya visi dan pemahaman keagamaan yang preferable bagi terwujudnya paradigma Islam.Hal ini merupakan tantangan dalam pemikiran Islam;bagaimana mengahadirkan Islam tidak saja sebagai pijakan normatif tetapi juga mampu memberikan suatu kerangaka pandangan dunia yang komprehensif,ketika doktrin normatif agama berhadapan dengan sains.
AKTUALISASI NILAI KEIMANAN DALAM KONTEKS MASYARAKAT BERKEADILAN Masyhadi, Anisia Kumala
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2155.169 KB)

Abstract

Agama, dalam pengertian tradisional yang sering dipresentasikan dalam ensiklopedi, kamus maupun sejarah agama-agarna, identik dengan sebuah kekuatan supernatural, magic, ritual, persembahan, dogma, kitab suci, ataupun tempat-rempat suci. Akan tetapi Islam sebagai agama, nampaknya tidak tepat jika sekadar dideskripsikan dalam frame kategori-kategori tradisional tersebul. Islam lebih cocok dengan apa yang kemudian hari dikenalkan oleh filsafat modem, yaitu agama kehidupan (a religion of nature), bukan supernatural, agama yang dapat dicerna oleh akal manusia (a religion of reason), dan bukan agama Tuhan yang tak terjangkau akal manusia (super-reason). Dalam Islam, wahyu dan kehidupan adalah sejajar, sebab wahyu diturunkan untuk kehidupan, sebagai ajakan untuk melakukan perubahan sosial (social change) dan gerakan pembebasan. Dalam Islam, wahyu dan akal adalah sejawat, sebab tidak ada satupun wahyu yang kontradiktif terhadap akal. Tidak ada misteri dalam keyakinan Islam. wahyu, akal dan kehidupan merupakan tiga esensi Islam yang saling berdialektika.
GENERASI BARU GERAKAN PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA Qodir, Zuly
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3422.076 KB)

Abstract

Berbagai Varian gerakan Islam muncul ke permukaan Islam formalis, Islam akomodatif-realis,Islam transformatif-sosial humanis, Islam liberal dan lain-lain. Kemunculannya mengisi ruang gerakan Islam bagi genersai baru dalam melakukan improvisasi nilai-nilai Islam ke dalam bentuk sosial yang ada. Gerakan Islam generasai baru di atas sebenarnya bisa menjadi sebuah gerakan sosial baru jika mampu menterjemahkan problem-problem sosial kemasyarakatan yang riil terjadi di tengah-tengah masyarakat,mampu meng-creat istilah-istilah kunci dalam kitab suci sesuai dengan konteks zamannya ;tidak menjadikan tafsir dan pijakan teoritik sebagai ?berhala? yang tidak bisa dikritik. Kemunculan gerakan Islam generasi baru setidaknya akan memberi pengaruh pada khazanah perubahan sosial,kalau gerakan itu mampu mengorganisir diri secara sistematik.
KLONING MANUSIA:SEBUAH DILEMA Widodo, Wahyu
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2620.613 KB)

Abstract

Cloning is the production of one or more individual plants or animals or humans that are genetically identical to another plant or animal or human.There are three different types of ?cloning? are: embryo cloning,adult DNA cloning and therapeutic cloning.Some scientists believe that human cloning is moral and might eventually lead to very positive result,such as for cure,help parent infertil and produce a reservoir of ?organ spare parts?. In the other hand,some individuals and groups have expressed concern about adverse effect of human cloning,and question its morality.One of their reason is a fertilized ovum is a full human person.Whent its nucleus is removed during cloning,that person is,in effect,murdered.Member of some religious groups,particularry evangelical Christianity and Roman Catholicism,believe that a soul enters the body at the instant of conception,and that the fertilized ovum is in fact a human person with full human right.Dividing that ?baby? in half during an human cloning procedure would interfere with God?s intent.It is also human experimentation on live person.The many cloned zigotes that died after a few ceel divisions would be lost human beings;their loss is considered as serious as the death of new born baby.In Islam,there is now central authority comparable to the pope in Roman Catholicism.There are a lot of arguments,but almost said if the extension of cloning to human beings would create extremely complex and intractable social and moral problems.
KEMBALI KE AL-QUR’AN PERSPEKTIF HEMERNEUTIKA PEMBEBASAN Basya, M Hilaly
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2729.802 KB)

Abstract

Seruan kembali ke al-Qur?an memiliki ?daya dobrak teologis? yang bermuara pada keberagamaan yang progresif dan humanis.Namun,belakangan ada modifikasi bahwa seruan tersebut mutlak dijadikan mekanisme untuk menolak modernitas,sebelum dianggap mengancam eksistensi nilai-nilai Islam.Jejak semacam itu muncul banyak parilan.Mereka meniscayakan ketudukan seperti al-Qur?an dalam bentuknya yang tekstual;teks yang diposisikan sebagai sesuatu yang transeden,tidak terpengaruh oleh ?hiruk pikuk? problem kekinian,teks menjadi mati lantaran diposisikan monointerpretatif,yang ditafsirkan sekali dan berlaku untuk selamanya.Kini,dibutuhkan suatu pembebasan diri dalam melakukan pembacaan hermeneutik menjadi alternatif pilihan untuk mendinamiskan pemahaman terhadap teks,dan untuk menghadirkan teks pada konteks kekinian dan kedisinian.
TEOLOGI KAUM TERTINDAS SAJAK BER-ISLAM UNTUK PRAKSIS KEADILAN SOSIAL Khaidir, Piet H
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4061.498 KB)

Abstract

Realitas ketertindasan,kebendaan dan marjinalitas umat kini tampak marajalela.Komunitas beragama dihadapkan denagn realitas tersebut,dan bagaimana memperjuangkan kesadaran teologisnya denagn realitas tersebut.Dalam konteks sosiologi pengetahuan,bahwa suatu pemahaman tentang kenyataan sosial sangat dipengaruhi oleh metodologi dan komitmen epistemologis sebagai sebuah perangkai imajinasi dan aksi.Karena itu,pandangan teologis yang diharapkan menjadi jembatan efektif dengan fakta sosial di atas,sangatlah bergantung dengan metodologi (Manhaj) yang dipergunakan.Disinilah kemudian masyarakat beragama dituntut melakukan refleksi keberagamannya untuk bisa sampai pada perjumpaannya denagn praksis keadilan sosial.
TEKOLOGI DNA ANTARA BIOETIKA, KEPENTIGAN, DAN KESELAMATAN UMAT MANUSIA Rasyid, Harun
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3554.372 KB)

Abstract

Berapa banyak peghematan yang dapat dilakukan dengan teknologi kloning sebagai bagian dari kemajuan teknologi DNA.Penelitian khasiat obat dengan hewan hasil kloning sama persis,misalnya,akan menyederhanakan variabel dan memudahkan keberhasilan eksperimen.Atau proses tranpalantasi (pencangkokan) yang tak akan ditolak oleh sistem kekebalan tubuh karena identiknya jaringan atau organ tubuh.Sebagaimana dengan teknologi baru,perkembangan dalam teknologi DNA memiliki konotasi tersirat yang bersifat etis.Memperoleh peta komplet dari genom manusia misalnya, akan membuak pintu untuk kemajuan nyata dalam terapi gen.Pertimbangan etika,seperti juga kekhawatiran tentang potensi bahaya bagi lingkungan dan kesehatan,sepertinya akan memperlambat penggunaan produk bioteknologi baru.Selalu ada ancaman bahwa terlalu banyak aturan akan memadamkan penelitian dasar dan manfaat potensialnya.Akan tetapi,keampuhan rekayasa genetik,kemampuan kita untuk secara nyata dan cepat mengubah spesies yang telah berevolusi selama berabad-abad.Membutuhkan kerendahan hati dan kehati-hatian kita dalam membuat kemajuan.Pengetahuan teknologi DNA,termasuk juga rekayasanya,harus digunakan sebagai sarana memperkokoh keimanan kepada ALLAH,yang berarti bukan lagi seorang ilmuwan harus berpegang pada paradigma science for science tetapi mesti berpijak pada khittah:science for progressing human belief to ALLAH.Teknologi DNA termasuk rekayasa genetika terhadap manusia boleh dilakukan untuk emergensi (dlarury-necessity),dan untuk memenuhi kebutuhan primer (bajiy-need),tidak boleh dilakukan untuk kepentingan kosmetic (tabsiny).
AR-RUJU’ ILA AL-QURAN DARI KEBEBALAN FOUNDATIONALISME MENUJU PENCERAHAN HERMENEUTIKS Baidhawy, Zakiyuddin
Jurnal Bestari No 35 (2003)
Publisher : Jurnal Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3188.039 KB)

Abstract

Menggagas sketsa paradigmatik dalam tafsir ar-ruju? ila al-Quran di tenagh semangat zaman yang dinamis,bila tidak diikuti perbendaharaan kata dan rumusan yang mampu berdialog dan bercermin pada perubahan pengalaman kognitif kultural dan spiritual akan terjebak dalam foundational logika modernisme.Perkembangan hermeneutik dalam tradisi filsafat kontinental tahun 1962 dan tersingkirnya fondalism dari positivime logis memberi harapan baru bagi perkembangan tafsir al-Qur?an.Pada gilirannya,tafsir al-Qur?an tidak lagi dimaknai sebagai Bila Kufa yang telah diagungkan sebagian muslim.Sikap itu memungkinkan lahirnya epistemologi foundalism,sebagaimana kebingungan yang dialami para rasionalis,empiris dan institusionis yang memandang al-Qur?an sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar tanpa tafsir,kalaupun diterima hanya ada tafsir tunggal.Dalam rangka keluar dari krisis pemikiran Keislaman dan praksis sosial,sudah saatnya umat Islam memanfaatkan ide-ide baru melalui hermeneutik.

Page 1 of 2 | Total Record : 13