Tadris: Jurnal Pendidikan Islam
Tadris: Jurnal Pendidikan Islam is an open-access peer-reviewed journal published by the Tarbiyah Faculty of State Islamic Institute of Madura. Tadris Journal is published twice a year in June and December, the contents are scientific writings on Islamic Education in form of conceptual ideas, literature reviews, practical writing, or research results from various perspectives.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2 No 1 (2007)"
:
9 Documents
clear
KEMUNGKINAN MUNCULNYA PAHAM ISLAM RADIKAL DI “PONDOK PESANTREN”
Susanto, Edi
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.349 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.205
Semaraknya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan “agama” sebagai tameng dengan pelaku yang memiliki latar belakang pendidikan pondok pesantren, telah membangkitkan opini, yang secara arbitrer menyatakan bahwa pondok pesantren merupakan sarang paham radikal. Makalah ini berusaha mendeskripsikan geneologi radikalisme di Indonesia dan berusaha melacak kemungkinan munculnya radikalisme Islam berbasis pondok pesantren. Pada akhirnya disimpulkan bahwa wacana tersebut bersifat polemis, politis dan terkesan over generalization. Namun demikian, sesuai dengan heterogenitas pondok pesantren, diakui ada pondok pesantren–terutama yang berbasis salafiyah-wahabiyah--yang memang memberikan kontribusi pada radikalisme.
PENDEKATAN PERILAKU DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN PONDOK PESANTREN
---, Atiqullah
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.932 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.206
Artikel ini berusaha memotret perubahan perilaku dalam kepemimpinan pondok pesantren. Dengan menggunakan kerangka berfikir teori perilaku seperti Leader Behaviour Describtion Questionaire (LBDQ) dan Leader Opinion Questionaire (LOQ) dan hasil Riset Rensis Likert, penulis berusaha menggali kearifan (wisdom) dalam kepemimpinan pesantren. Dengan kearifan tersebut, diharapkan terjadi perubahan bandul pola kepemimpinan di pesantren dari pola kharismatik-otoriter-paternalistik menuju pola rasionalistik-diplomatis-partisipatif, sehingga diharapkan terwujud kepemimpinan pesantren yang secara simultan mampu berperan sebagai pembaharu, rohaniawan, relawan dan volunteer sekaligus tidak gagap dan gugup di tengah arus dinamika zaman yang akseleratif.
IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (Struktur dan Kendalanya)
Firmansyah, Farid
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (46.394 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.207
Pemerintah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) untuk menjamin kualitas pendidikan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Perubahan kurikulum ini memang bukanlah sesuatu yang baru. Akan tetapi, perubahan kurikulum, dari Kurikulum Berbasis Kompetensi ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, menjadi tantangan baru bagi guru. Paradigma guru yang terbiasa sebagai pelaksana kurikulum, tiba-tiba harus/dipaksakan untuk menjadi pengembang sekaligus pelaksana kurikulum (sebagaimana dituntut dalam KTSP) tentu bukan pekerjaan mudah. Karena itu, implementasi KTSP masih akan menghadapi banyak kendala.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS TRANSPERSONAL (Suatu Pendekatan Psikologi Transpersonal)
---, H a r y u
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (76.365 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.208
Hingga kini, mata pelajaran agama Islam telah dan sedang mengalami permasalahan dalam hal penyajian kepada siswa. Yang sering kita jumpai dalam praktik-praktik pendidikan adalah bahwa guru hanya berperan untuk membangun intelektual siswa. Sedangkan sisi psikis dan psiko-spiritual siswa sangat jarang diperhatikan. Akibatnya, siswa hanya tahu agama tapi tak mampu mengamalkannya. Tulisan ini akan mengetengahkan teori tentang psikologi transpersonal dan penerapannya dalam pembelajaran pendidikan agama dalam kerangka memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada pembinaan aspek afektif. Kajian dalam tulisan ini didasarkan pada pendekatan hermeneutik fenomenologis, meskipun eksposisinya sangat sederhana. Penulis mencoba mempersepsi realitas yang terjadi dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dipahami.
MADRASAH DI INDONESIA (Pertumbuhan dan Perkembangan)
Kosim, Mohammad
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (73.407 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.209
Kebijakan diskriminatif pemerintah Hindia Belanda terhadap umat Islam, dalam hal pendidikan, memunculkan sikap penolakan umat Islam dengan wujud beragam, defensif dan progresif. Corak defensif ditunjukkan, terutama oleh ulama tradisional, dengan cara menghindari sejauh mungkin pengaruh politik Belanda terhadap sistem pendidikan Islam. Sikap ini terlihat pada sistem pendidikan tradisional pesantren yang mengambil tempat di daerah-daerah pedalaman untuk menghindar dari pengaruh dan pantauan Belanda. Pendekatan progresif dilakukan, terutama dipelopori sejumlah ulama pembaharu, dengan “meniru” pola pendidikan modern ala Belanda tapi berbasis Islam. Melalui pola moderat ini, berdirilah sejumlah madrasah dan sekolah umum berciri khas Islam dengan beberapa corak; Pertama, madrasah dengan dominasi mata pelajaran agama ditambah mata pelajaran umum (madrasah plus). Kedua, sekolah umum model Belanda ditambah mata pelajaran agama (sekolah plus). Ketiga, madrasah dengan bidang kajian sepenuhnya agama (madrasah diniyah).
PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS RANAH AFEKTIF
Solichin, M. Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (64.402 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.210
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah proses pengalihan (transfer) pengetahuan, pemahaman, nilai-nilai dan pengamalan ajaran Islam secara terencana, sistemik, dan berkelanjutan. Dengan kata lain, PAI adalah upaya menumbuhkembangkan fitrah anak didik yang dibawa sejak lahir menjadi sebuah kemampuan dan kekuatan yang dapat melahirkan kompetensi yang profesional. Fitrah di satu sisi dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan (potensi) untuk mengetahui, memahami dan mengamalkan ajaran Islam baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah Allah di muka bumi. Untuk menumbuhkembangkan fitrah ini, maka PAI harus dapat mengarahkan dan membimbing anak didik sesuai dengan ajaran Islam. Satu hal yang sangat urgen dalam pelaksanaan PAI adalah harus berdasarkan kepada penanaman moral Islam dengan menitikberatkan kepada penanaman dan pembiasaan moral action dalam kehidupan anak didik. Ini didasarkan pada asumsi bahwa intisari ajaran Islam adalah pengamalan dan praktek akhlaq al-karîmah.
MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI SISTEM PEMBELAJARAN YANG TEPAT
Mukhid, Abd.
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (55.912 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.211
Pendidikan yang berkualitas telah memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Tak satu pun lembaga penyelenggara pendidikan yang luput dari tuntutan ini. Tuntutan tersebut tidak pandang pilih, baik tingkatannya maupun orang-orangnya, apakah itu di tingkat pendidikan dasar atau pun di tingkat perguruan tinggi; apakah bertindak sebagai pimpinan/kepala sekolah, atau sebagai dosen, guru, karyawan, maupun peserta didik. Semua dituntut secara bersama-sama dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Tentunya tuntutan tersebut disesuaikan dengan tugas dan perannya masing-masing, serta berdasarkan standar atau ukuran kualitas yang telah ditetapkan. Salah satu pertanda bahwa pendidikan tersebut berkualitas adalah terlaksananya sistem pembelajaran secara tepat/baik, yang secara menyeluruh melibatkan semua komponen-komponen yang ada dalam sistem pembelajaran.
PTAI SEBAGAI BASIS PEMBANGUNAN MORAL (Menuju Wawasan Akademik yang Lebih Islami)
---, Siswanto
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (75.464 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.212
Gaya hidup global telah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan yang berdimensi spiritual terdegradasi oleh proses teknologi, yang merupakan hasil rekayasa dan kemampuan rasio. Gejala split personality pun dipahami sebagai konsekuensi logis dari semakin jauhnya pembangunan intelektual dari arahan dan kontrol nilai moral dan spiritual. Dalam perannya sebagai directive system, agama ditempatkan sebagai referensi utama dalam proses perubahan. Agama akan berfungsi sebagai supreme morality yang memberikan landasan dan kekuatan elit-spiritual masyarakat ketika mereka berdialektika dengan perubahan. Demikian halnya sebagai defensive system, agama menjadi semacam kekuatan resistensial bagi masyarakat ketika berada dalam lingkaran persoalan kehidupan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus perubahan. Untuk itu, sebagai perguruan tinggi berciri khas keagamaan, PTAI dituntut memainkan peran sebagai basis pembangunan moral bangsa di tengah masyarakat global. Salah satunya, menciptakan tradisi kehidupan kampus yang lebih islami, sebagai wadah realisasi amaliah keagamaan.
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN (Studi tentang Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah)
Thoha, Mohammad
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (52.882 KB)
|
DOI: 10.19105/tjpi.v2i1.213
Pendidikan bertujuan mengembangkan SDM melalui kegiatan pengajaran. Manusia seutuhnya merupakan istilah yang dikenal dalam konteks keindonesiaan berupa terciptanya sebuah generasi yang terdidik, penuh toleran, dinamis dan diridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mensukseskan hal itu, maka kebijakan pendidikan harus berpihak pada masyarakat, sehingga konsep yang akan diterapkan adalah pendidikan yang humanis sebagai sarana dinamisasi perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya otonomi pendidikan yang di dalamnya terkandung MBS sebagai dasar desentralisasi pendidikan, maka proses pendidikan menjadi tanggung jawab bersama di antara unsur-unsur pendidikan. Melalui manajemen model ini, lembaga pendidikan memiliki kewenangan untuk mengelola sumber daya manusia, partisipasi masyarakat, penyederhanaan birokrasi, sistem evaluasi, pemetaan kurikulum dan sebagainya.