cover
Contact Name
Yusran
Contact Email
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282136764704
Journal Mail Official
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan H.M.Yasin Limpo No.36, Romang Polong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kode Pos 92118
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Tafsere
ISSN : 23552255     EISSN : 29628474     DOI : -
Core Subject : Religion,
Tafsere is a peer-reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of the Quran from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with Quranic Studies, Qur’anic sciences, Living Quran, Quranic Studies across different areas in the world, Methodology of the Quran, and Tafsir studies. Tafsere was published by the Department of Quranic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2018)" : 9 Documents clear
PROBLEMATIKA TEKNIK INTERPRETASI DALAM PENAFSIRAN: MENGUPAS KONSEP QATH’I-DZANNY Sitti Syakirah Abu Nawas
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.684 KB)

Abstract

Al-Qur'an merupakan teks suci yang secara historis sudah mapan, sementara pemahaman maknanya merupakan produk ijtihad manusia dalam memberikan iterpretasi untuk menemukan maknanya. Karena itu, wajar apabila interpretasi terhadap teks yang termuat dalam al-Qur'an terjadi perbedaan antara seorang penafsir dengan penafsir lainnya. Secara umum dikenal dua teknik interpretasi; yaitu teknik interpretasi tekstual dan teknik interpretasi kontekstual. Kedua teknik interpretasi ini memiliki fokus yang berbeda dalam menganalisis teks al-Qur'an. Teknik interpretasi tekstual lebih terfokus pada teks "apa adanya teks", sedang teknik interpretasi kontekstual selain memperhatikan teks juga mempertimbangkan unsur  konteks yang melingkupi teks tersebut. Dari pengertian di atas, muncul sebuah pertanyaan mengenai ayat-ayat apa saja yang dapat dipahami secara tekstual dan ayat-ayat apa saja yang harus dipahami kontekstual. Jawaban dari pertanyaan ini dapat ditemukan dalam konsep qath'iy-zhanniy
MAKNA DAN FUNGSI TASBIH (Suatu Kajian Tafsir Tematik terhadap Term al-Tasbīḥ dalam al-Qur’an) Aan Parhani
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.064 KB)

Abstract

Tasbih merupakan “kegiatan” utama dalam kehidupan seorang muslim. Bukan sekedar mengucapkan kalimat subhanallah, namun jauh lebih dalam makna tasbih ternyata dapat dilihat dalam berbagai sisi, terutama melihatnya dari persebaran makna dan fungsinya dalam al-Quran. dalam penelitian ini akan menggunakan dan menjelaskan kosakata atau istilah al-tasbīḥ secara khusus.  Adapun makna ragam makna tasbih dalam al-Quran ada lima pemaknaan: al-Shalah, al-zikr,  al-Ibadah, al-du’a, al-istisna. Sedangkan fungsi dari tasbih terdiri dari, bisa Membuat Hati Gembira, Senang, dan Tenang (Tenteram), Mendatangkan Rahmat Allah, Terbebas dari Kegelapan Hidup, dan akan Mendatangkan Pahala di Dunia dan Akhirat, Sebagai Doa,  dan Bisa Mendatangkan Rida Allah swt.
WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG HOAKS (Suatu Kajian Tafsir Tematik) Muhammad Sadik Sabry; Muhammad Darwis Ridwan
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.005 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengkaji tentang wawasan al-Qur’an mengenai penyebaran berita hoaks. Hoaks menjadi masalah yang serius dalam masyarakat informasi, utamanya di media sosial. Hoaks dianggap meresahkan karena merupakan berita bohong yang digunakan untuk menarik opini massa demi kepentingan material. Hoaks memiliki dampak yang sangat besar yang mengancam keharmonisan dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. Maka penelitian ini mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan hoaks demi mendapatkan pelajaran dalam memberantas hoaks dewasa ini. Sumber data penelitian adalah kitab-kitab tafsir, buku-buku dan website yang berkaitan dengan media, komunikasi Islam, perkembangan hoaks dari masa ke masa. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hoaks dapat dikenali dengan mengecek kapasitas pembawa informasi dan berita yang dibawakannya, selain itu hoaks juga dikenali dengan sifat-sifatnya yang bertentangan dengan fakta, mengherankan, menggemparkan masyarakat dan memukau serta menipu orang banyak. Adapun dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyebaran hoaks adalah menyebabkan orang lain tersesat dengan hoaks yang ditetapkan dengan prasangka dan dugaan belaka, pembunuhan karakter bagi orang yang difitnah dan menyebabkan bercampurnya antara berita fakta dengan kebohongan yang sulit untuk dibedakan.
MENYOAL LEGALITAS TAFSIR (Telaah Kritis Konsep Al-Ashil Wa Al-Dakhil) Mohammad Alwi Amru Ghozali
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.102 KB)

Abstract

Al-dakhil wa al-ashil adalah salah satu kajian studi al-Qur’an yang diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh Ibrahim Khalifah melalui bukunya al-Dakhil fi al-Tafsir. Tujuan al-dakhil wa al-ashil adalah untuk memproteksi tafsir dari kesalahan dan penyimpangan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis-kritis dipahami bahwa konsep ini mengingatkan pembaca tafsir agar senantiasa sadar dan berhati-hati dalam menelaah buku-buku tafsir, sebab bisa jadi terdapat problem dan kesalahan dalam sumber dan referensi penafsirannya. Namun, di sisi lain, konsep ini melahirkan pembatasan pada gerak tafsir. Tafsir yang seharusnya dinamis dan adaptif seolah terpenjara dengan adanya konsep yang kaku ini. Di samping itu, konsep ini bermasalah pada pemegang otoritas kebenaran, siapakah yang berhak mengklaim bahwa tafsir kelompoknya benar, sementara yang lain salah? Dan di akhir, penulis mengungkapkan perlunya memperluas cakrawala tafsir dengan tidak melupakan bagaimana pemaknaan dan penafsiran terjadi, yakni upaya dialogis antara teks, author, dan audiens.
MENAKAR HUKUM POLIGAMI DALAM AL-QUR’AN Abdul Mutakabbir
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.005 KB)

Abstract

Hukum poligami menjadi perdebatan yang tiada akhir antara pro dan kontra. Hal tersebut disebabkan perdebatan dimulai dari luar teks sehingga penjabaran dan alasan yang dikemukakan menjalar tanpa arah. Adapun al-Qur’an sudah memberikan kejelasan tentang status hukum poligami dengan tidak memerintahkan dan tidak pula melarangnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa statusnya adalah sesuatu yang dibolehkan, tetapi dengan berbagai persyaratan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan sesuai dengan semangat maqasid al-syari’ah.
METODOLOGI PENAFSIRAN KASSIM AHMAD hendri hendri
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.635 KB)

Abstract

Dinamika perkembangan metodologi tafsir menciptakan suatu diskursus tersendiri dalam dunia kajain al-Quran. terutama dalam penerapan prinsip-prinsip dasar al-Qur’an dengan latar sosio-historis yang berbeda yang tentu saja melahirkan corak pemahaman dan penafsiran yang berbeda pula. Apalagi perjalanan sejarah al-Qur’an sudah mengahabiskan waktu selama 14 abad. Piranti-piranti metodologis yang memadai untuk memahami pesan kitab suci tersebut menjadi sangat dibutuhkan. Tokoh kebangsaan Malaysia, Kassim Ahmad, hadir membangun sebuah metodologi yang secara eksplisit tidak jauh berbeda dengan metode hermeneutik Qur’ani. Adapun prinsip yang dimaksudkannya adalah pertama, prinsip pembedaan antara ayat-ayat muh}kamat dan mutasyabihat, kedua, prinsip kesalarasan yang sempurna di antara ayat-ayat dan tidak ada yang berlawanan, ketiga, prinsip bahwa kebenaran al-Qur’an selaras dengan ilmu pengetahuan dan akal yang benar, keempat, prinsip bahwa ayat-ayat al-Qur’an saling menjelaskan satu sama lain, kelima seorang mufassir dalam menafsirkan harus dengan niat yang baik, keenam, prinsip bahwa ayat harus dipahami dalam konteks topik yang sedang dibicarakan, ketujuh, ayat yang memiliki kondisi historis tertentu maka ia harus dipahami dalam kondisi itu, kedelapan prinsip mudah dilaksanakan, dan kesembilan harus dibedakan antara metodologi dengan prinsip dan meletakkan prinsip di atas metodologi.
PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’AN Syamsuri Syamsuri
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.305 KB)

Abstract

Pernikahan merupakan fitrah manusia yang diatur dengan rinci dan ketat dalam al-Qur’an. Tujuan dari pernikahan adalah untuk mengatur tatanan masyarakat dan menghindari kekacauan. Dalam al-Qur’an secara tegas disebutkan tentang larangan menikah dengan orang musyrik. Tulisan ini melacak perspektif al-Qur’an tentang pernikahan beda agama. Ditemukan bahwa pada dasarnya Al-Qur’an membolehkan perkawinan antara yang muslim dengan penganut agama lain khususnya Yahudi dan Nasrani. Dalam konteks kekinian, larangan untuk kawin dengan penganut agama lain lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti faktor politik, bukan faktor internal agama. Kebolehan kawin dengan penganut agama lain dapat kembali diberikan jika kondisi-kondisi pendukung seperti pada masa kejayaan Islam masa lalu kembali tercapai dan dampak negatifnya dapat dihilangkan
PROSTITUSI DAN TRAFFICKING DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN Ghufron Hamzah
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.927 KB)

Abstract

Dalam agama Islam, prostitusi pelacuran merupakan salah satu perbuatan zina. Perbuatan yang dilarang dalam agama Islam dan ada sangsi hukum bagi pelakunya. Tindakan prostitusi ini juga termasuk penyimpangan sosial dan banyak dampak negatif yang timbul dari penyimpangan ini. Bentuk lain penyimpangan sosial yang sangat dekat dengan prostitusi adalah trafficking atau perdagangan manusia, dimana mayoritas korban trafficking adalah perempuan atau anak-anak yang dieksploitasi secara seksual. Tulisan ini akan menguraikan kedua fenomena tadi dari sudut pandang al Qur’an, dengan mengetengahkan beberapa ayat yang berbicara tentang prostitusi dan trafficking.
EPISTEMOLOGI TAFSIR DAN TAKWIL Ahmad Munawwir
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (992.158 KB)

Abstract

Telah terjadi perdebatan yang sangat serius mengenai bagaimana seharusnya karakteristik metode pemaknaan terhadap teks al-Quran jika ingin menempatkan teks dan konteks (pembaca) secara harmonis dan bersamaan, dengan tidak lebih memenangkan salah satu diantara keduanya. Tulisan ini berupaya secara metodologis menelusuri bagaimana konsep takwil dan tafsir menciptakan keterpaduan antara (1) pengarang teks (Allah-Muhammad-ummat Muhammad pada masa awal sebagai konteks pertama bagi teks Al-Quran), (2) Teks (objek bacaan-teks yang tertulis dan diwariskan hingga sekarang) dan (3) pembaca (subjek-dengan segala konteks yang baru). dalam hal ini akan berfokus kepada metode tafsir dan takwil sebagai pangkal epistemologi dalam penafsiran al-Quran.

Page 1 of 1 | Total Record : 9