cover
Contact Name
Yusran
Contact Email
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282136764704
Journal Mail Official
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan H.M.Yasin Limpo No.36, Romang Polong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kode Pos 92118
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Tafsere
ISSN : 23552255     EISSN : 29628474     DOI : -
Core Subject : Religion,
Tafsere is a peer-reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of the Quran from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with Quranic Studies, Qur’anic sciences, Living Quran, Quranic Studies across different areas in the world, Methodology of the Quran, and Tafsir studies. Tafsere was published by the Department of Quranic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
INDAHNYA KEBERSAMAAN DENGAN SHALAT BERJAMAAH Andi Darussalam
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.04 KB)

Abstract

Salah satu kegiatan ibadah yang mengandung unsur  kebersamaan dan sekaligus ketaatan adalah shalat berjamaah. Di dalam shalat berjamaah tidak ada perbedaam ras, status sosial, usia dan suku. Semuanya sama, semuanya memiliki hak yang sama untuk berada di shaf (barisan) terdepan. Pada masa ini, banyak kaum muslimin mengabaikan shalat berjamaah, bahkan perhatian terhadap shalat lima waktu yang merupakan tiang agama juga tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Tulisan ini berusaha menjelaskan tentang pentingnya shalat dan Indahnya Kebersamaan dengan melaksanakan shalat berjamaaah di mesjid dengan mengemukakan dalil-dalil yang berkaitan dengan shalat terutama  shalat berjamaah disertai pendapat para ulama seputar pelaksanaan shalat berjamaah di mesjid.
YASINAN DAN IMPLIKASINYA: MOTIVASI DAN PEMAHAMAN ANGGOTA MAJELIS TAKLIM TERHADAP SURAH YASIN DI KOTA MAKASSAR aisyah Arsyad
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.98 KB)

Abstract

Surah Yasin telah lama menjadi salah satu surah yang paling banyak dibaca oleh masyarakat muslim di di Indonesia sehingga muncullah yang namanya Yasinan. Yasinan merupakan gejala sosial yang merupakan hasil dari dialog kreatif agama  sebagaimana dipikirkan pemeluknya dengan realitas obyektif sesuai pemikiran dan pemahaman masyarakat. Namun demikian lemahnya dalil agama yang menunjukkan tentang membaca Surah Yasin pada hari dan kegiatan tertentu menjadikannya berada pada posisi antara syariat dan tradisi. Olehsebab itu tulisan ini menyoroti dua hal yaitu motivasi yang mendorong masyarakat untuk senantiasa mengamalkan surah Yasin dan persepsi masyarakat itu sendiri tentang surah Yasin.
REKONSTRUKSI SEJARAH KENABIAN DALAM TAFSIR NUZULI (Studi Kitab Fahm al-Qur’ān al-Ḥakīm: at-Tafsīr al-Wāḍiḥ ḥasb Tartīb an-Nuzūl Karya al-Jabiri) Yuliana Jamaluddin
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.299 KB)

Abstract

Sejarah dan tafsir adalah dua disiplin ilmu keislaman yang berdiri sendiri.Namun demikian, sejarah dan tafsir kemudian berupaya diintegrasikan melalui model tafsir nuzuli, yaitu tafsir yang disusun berdasarkan kronologi turunnya wahyu, dan bukan berdasarkan urutan mushaf. Al-Jabiri adalah salah seorang intelektual muslim yang menyusun tafsir dengan model nuzuli, dengan keyakinan bahwa al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur secara langsung merefleksikan perjalanan sejarah kenabian Muhammad saw. al-Qur’an adalah dokumen paling akurat yang dimiliki oleh umat Islam yang berasal dari masa awal perkembangan Islam, sebab upaya pemeliharaannya tidak pernah berhenti dilakukan. Meskipun al-Qur’an tidak menyebutkan tempat dan waktu terjadinya sebuah peristiwa sejarah secara eksplisit, namun substansi dan alur sejarah kenabian tergambar dalam tahapan-tahapan penurunan wahyu.
REKONSTRUKSI SEJARAH KENABIAN DALAM TAFSIR NUZULI (Studi Kitab Fahm al-Qur’ān al-Ḥakīm: at-Tafsīr al-Wāḍiḥ ḥasb Tartīb an-Nuzūl Karya al-Jabiri) Yuliana Jamaluddin
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah dan tafsir adalah dua disiplin ilmu keislaman yang berdiri sendiri.Namun demikian, sejarah dan tafsir kemudian berupaya diintegrasikan melalui model tafsir nuzuli, yaitu tafsir yang disusun berdasarkan kronologi turunnya wahyu, dan bukan berdasarkan urutan mushaf. Al-Jabiri adalah salah seorang intelektual muslim yang menyusun tafsir dengan model nuzuli, dengan keyakinan bahwa al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur secara langsung merefleksikan perjalanan sejarah kenabian Muhammad saw. al-Qur’an adalah dokumen paling akurat yang dimiliki oleh umat Islam yang berasal dari masa awal perkembangan Islam, sebab upaya pemeliharaannya tidak pernah berhenti dilakukan. Meskipun al-Qur’an tidak menyebutkan tempat dan waktu terjadinya sebuah peristiwa sejarah secara eksplisit, namun substansi dan alur sejarah kenabian tergambar dalam tahapan-tahapan penurunan wahyu
KONSEP AL-ISHLAH DALAM AL-QUR-AN Abdul Wahid Haddade
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1524.233 KB)

Abstract

Secara garis besar term atau lafadz iṣlāḥ dalam al-quran memiliki pengertian perdamaian dengan berbagai variannya sesuai konteks pembicaraan atau permasalahan yang dibicarakan masing-masing ayat terkait dengan iṣlāḥ.Kata aṣliḥū terambil dari kata aṣlaḥa yang asalnya adalah ṣaluḥa sebagai antonim dari kata fasada (rusak).Dengan demikian kata ṣaluḥa berarti tiadanya atau terhentinya kerusakan atau diraihnya manfaat, sedangkan iṣlāḥ adalah upaya menghentikan kerusakan atau meningkatnya kualitas sesuatu sehingga manfaatnya lebih banyak.Iṣlāḥ dimaknai perdamaian dalam konteks konflik yakni, perintah mendamaikan dua orang yang berkonflik harus dengan cara yang adil dan tidak memihak salah satu pihak yang berkonflik.Iṣlāḥ juga digunakan al-quran dalam kaitannya untuk mendamaikan rumah tangga sehingga terhindar dari konflik keluarga.Iṣlāḥ dimaknai upaya menciptakan perdamaian dengan mencegah terjadinya konflik sehingga kedua belah pihak tidak terlibat perselisihan, termasuk di dalamnya mengupayakan mencari solusi yang bisa menguntungkan kedua pihak yang hendak berkonflik, serta mempererat ukhuwah islamiyah.
INDAHNYA KEBERSAMAAN DENGAN SHALAT BERJAMAAH Andi Darussalam
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.04 KB)

Abstract

Salah satu kegiatan ibadah yang mengandung unsur  kebersamaan dan sekaligus ketaatan adalah shalat berjamaah. Di dalam shalat berjamaah tidak ada perbedaam ras, status sosial, usia dan suku. Semuanya sama, semuanya memiliki hak yang sama untuk berada di shaf (barisan) terdepan. Pada masa ini, banyak kaum muslimin mengabaikan shalat berjamaah, bahkan perhatian terhadap shalat lima waktu yang merupakan tiang agama juga tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Tulisan ini berusaha menjelaskan tentang pentingnya shalat dan Indahnya Kebersamaan dengan melaksanakan shalat berjamaaah di mesjid dengan mengemukakan dalil-dalil yang berkaitan dengan shalat terutama  shalat berjamaah disertai pendapat para ulama seputar pelaksanaan shalat berjamaah di mesjid.
EPISTEMOLOGI TAFSIR DAN TAKWIL Ahmad Munawwir
Jurnal Tafsere Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (992.158 KB)

Abstract

Telah terjadi perdebatan yang sangat serius mengenai bagaimana seharusnya karakteristik metode pemaknaan terhadap teks al-Quran jika ingin menempatkan teks dan konteks (pembaca) secara harmonis dan bersamaan, dengan tidak lebih memenangkan salah satu diantara keduanya. Tulisan ini berupaya secara metodologis menelusuri bagaimana konsep takwil dan tafsir menciptakan keterpaduan antara (1) pengarang teks (Allah-Muhammad-ummat Muhammad pada masa awal sebagai konteks pertama bagi teks Al-Quran), (2) Teks (objek bacaan-teks yang tertulis dan diwariskan hingga sekarang) dan (3) pembaca (subjek-dengan segala konteks yang baru). dalam hal ini akan berfokus kepada metode tafsir dan takwil sebagai pangkal epistemologi dalam penafsiran al-Quran.
TAFSIR DAN TAKWIL DALAM PANDANGAN AL-ALUSI Yusran Yusran
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.963 KB)

Abstract

Artikel ini akan mengulas bagaimana konsep tafsir dan takwil dalam pandangan dan praktek tafsir seorang mufassir yang sekaligus adalah seorang sufi terkenal, yakni al-Imam Abu Sana Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud bin Abdullah al-Husain al-Alusi al-Baghdadi. Kitab tafsirnya yang terkenal dianggap sangat mewakili jenis tafsir yang menggunakan metode ra’yi dan isyari, dan dianggap pula sebagai sebuah aplikasi penerapan tafsir yang cukup representatif menunjukkan bagaimana praktik tafsir dan takwil dilakukan secara hirarkis dalam sebuah penafsiran. Dalam tulisan ini akan secara khusus ditunjukkan beberapa contoh penerapan tafsir dan takwil terhadap ayat al-Quran yang terdapat dalam kitab Al-Alusi sebagai bagian dari bangunan struktur teoritik yang dibangun oleh Alusi sejak awal pengkonsepsiannya secara teoritik hingga pembuktiannya dalam aplikasi-praktek penafsirannya.
MENGENAL AL-IMAM ‘ĀṣIM AL-KῡFĪ (BIOGRAFI DAN METODE QIRAAHNYA) Muhammad Irham
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.657 KB)

Abstract

Mayoritas muslim dunia membaca al-Qur’an dengan qiraat ‘Āṣim, begitu pula mushaf-mushaf mereka juga dengan qiraat ‘Āṣim. Akan tetapi, minoritas dari mereka tidak mengenal sosok monumental  yang satu ini, al-Imam ‘Āṣim, apatahlagi metode qiraatnya. Tulisan ini akan mengenalkan pembaca tentang dua hal, yaitu: Biografi ‘Āṣim al-Kῡfī (Nama Lengkap dan Nasabnya, Guru dan Muridnya, Silsilah Qiraahnya, Kredibilitas dan Integritasnya, dan Perawinya); serta Metode Qiraah ‘Āṣim al-Kῡfī.
KISAH YUSUF/JOSEPH DALAM AL-QUR’AN DAN ALKITAB Amrullah Harun
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.959 KB)

Abstract

Islam mengenal Nabi Yusuf sebagai salah satu utusan tuhan yang memerintah mesir dan dikenal sebagai pribadi yang tampan dan saleh. Sedang dalam agama kristen Yusuf dikenal sebagai "Joseph semua-molek". selain ketampanannya, ia juga terkenal dengan kerohaniannya. Yusuf juga digambarkan mengenakan Nemes penutup kepala dari wazir Mesir. Ia juga diperingati sebagai salah satu nenek moyang Kudus dalam Kalender Suci Gereja Apostolik Armenia pada tanggal 26 Juli. Dalam Gereja Ortodoks Timur dan orang Katolik Timur Gereja-gereja yang mengikuti Ritus Byzantine. Para Gereja Lutheran - Sinode Missouri memperingati dia sebagai patriark pada 31 Maret. Yusuf (Arabيوسف ), (sekitar 1745-1635 SM) adalah salah satu nabi Allah. Ia merupakan salah satu dari 12 putra Yaqub dan merupakan cucu dari Ibrahim. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1715 SM yang ditugaskan berdakwah kepada Kanān dan Hyksos di Mesir. Dalm kisah ini,penulis melakukan metode komparatif kisah yusuf dalam al-Qur’an dan al-Kitab, sebab yusuf adalah sosok yang nyata menurut kedua agama terbesar (Islam dan Kristen) di dunia ini, sebagaimana gambaran singkat di atas.Hanya saja terdapat sedikit perbedaan versi antara al-Qur’an dan al-Kitab, sehingga kisah ini sangat penting untuk dijelaskan titik-titik perbedaan serta persamaannya, guna dapat menjadi pelajaran bagi kedua Agama tersebut. Dan sebagai kesimpulan bahwa ternyata dalam kisah yusuf ini dapat dilihat bahwa ada banyak titik kesamaan di antara keduanya dari pada perbedaannya, sehingga dari persamaan-persamaan ini dapat menciptakan keharmonisan beragama.

Page 7 of 15 | Total Record : 149