cover
Contact Name
Yusran
Contact Email
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282136764704
Journal Mail Official
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan H.M.Yasin Limpo No.36, Romang Polong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kode Pos 92118
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Tafsere
ISSN : 23552255     EISSN : 29628474     DOI : -
Core Subject : Religion,
Tafsere is a peer-reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of the Quran from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with Quranic Studies, Qur’anic sciences, Living Quran, Quranic Studies across different areas in the world, Methodology of the Quran, and Tafsir studies. Tafsere was published by the Department of Quranic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
HAJI BUDAYA DAN BUDAYA HAJI Abdullah Abdullah
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Haji sebagai budaya dan budaya dalam berhaji perspektif sosio-filosofis, menjadi tradisi yang serius diteliti dalam kehidupan keberagamaan dewasa ini, sebab dalam upacara ritual berhaji terkadang sebagian jamaah melupakan makana substansi atau ontologism dalam berhaji itu sendiri.Seharusnya para pelaksana haji sedapat mungkin memahaminya secara dhahiriyah dan bathiniyah atau teks dan konteks dalam pelaksanaan haji. Dalam peneluusuran tulisan ini menemukan Pertama, Haji budaya adalah pelaksanaan haji yang dilakukan oleh setiap umat Islam yang berkemampuan totalitas, secara hakiki ritualistik, spiritualistik dan nilai-nilai sosialistik yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji adalah sebuah budaya. Kedua, Para pelaksana haji baik yang berkemampuan lebih atau yang memaksa diri dalam rangka meraih tingkatan mabrur sebatas pada ritualisme belaka dan tidak memberikan nilai implikasi dari ke-hajiannya, merupakan budaya haji yang hura-hura mengejar prestise bukan prestasi dan kualitas. Hal inilah yang merusak kehidupan kemanusiaan secara individu dan kelompok seperti melakukan penyimpangan sepulang dari melaksanakan haji antara lain korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak wajar untuk dilakukan oleh para haji-haji.
TAREKAT DALAM AL QUR’AN Mubarak Mubarak; Mutawakkil Mutawakkil
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1034.581 KB)

Abstract

Artikel ini mengelaborasi kata tarekat dan perubahannya dalam alQuran, oleh karena kata ini terkadang di asumsikan sebagai suatu metode  dan dasar terbentuknya organisasi atau gerakan yang dinaungi oleh para kalangan sufi, padahal dalam catatan sejarah, istilah atau kata ini pada dasarnya belum dikenal di tahun pertama hijriyah yang menunjukkan kata ini dinisbahkan kepada kelompok atau kalangan sufi. Begitupula kata ini muncul di dalam Alquran sebanyak sepuluh kali dan memiliki makna yang beragam, bahkan kata ini pula memiliki hubungan dengan lafaz yang lain seperti: shirath, sabil, minhaj, syara‘a, syari‘ah, syir‘ah, mahajjah, dan sunnah.
PROBLEMATIKA TEORI MUNASABAH AL-QURAN Ari Hendri
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.52 KB)

Abstract

Upaya pengkajian terhadap al-Qur’an tidak pernah berhenti semenjak ia diturunkan. Tidak ada buku yang dikaji sedemikian rupa melebihi al-Qur’an, dari insider sampai outsider. Di antara tuduhan yang dilontarkan adalah berkaitan dengan susunan al-Qur’an. Para ulama sepakat bahwa penempatan ayat bersifat tauqifi. konsekuensi logis dari itu, ayat-ayat tersebut juga harus memuat alasan penempatannya. Usaha perolehan hubungan seperti inilah yang menjadi tugas utama dari teori-ilmu munasabah.
REKONSTRUKSI OBJEK PENELITIAN TAFSIR AL-QUR’AN: KONSEP DAN APLIKASI Eko Zulfikar
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.237 KB)

Abstract

Eksistensi kegiatan tafsir al-Qur’an sejak dulu hingga sekarang membuktikan bahwa al-Qur’an membutuhkan penjelasan, baik dari al-Qur’an itu sendiri, dari hadis Nabi, dan penjelasan para ulama, untuk mempermudah memahaminya. Tulisan ini berusaha merekonstruksi objek penelitian tafsir al-Qur’an. Tujuannya adalah untuk mencapai pemahaman yang komprehensif tentang pemikiran, ide, konsep, dan teori seseorang dalam memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang sedang dikaji. Setidaknya ada dua objek dalam penelitian tafsir al-Qur’an; pertama, penelitian disekitar produk-produk penafsiran, yaitu kitab tafsir yang merupakan karya mufassir dalam menjelaskan ayat al-Qur’an. Dalam hal ini, objek yang dikaji adalah seperti biografi pengarang, sumber penafsiran, metode penafsiran dan corak penafsiran. Kedua, penelitian terhadap penafsiran al-Qur’an itu sendiri, yaitu ayat al-Qur’an dan bagaimana cara mufassir menafsirkan ayat tersebut, seperti meneliti ayat al-Qur’an dengan cara menafsirkannya, meneliti asbab al-Nuzul, makiyyah-madaniyyah, dan munasabah.
TAFSIR AL-QUR’AN DENGAN PENDEKATAN MAQĀSHID AL-QUR’ĀN PERSPEKTIF THAHA JABIR AL-‘ALWANI Muhammad Bushiri
Jurnal Tafsere Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.968 KB)

Abstract

Maqasid al-Qur’an adalah sebuah istilah yang menjelaskan tujuan-tujuan universal dari seluruh ayat-ayat al-Qur’an, karena mustahil Allah menurunkan al-Qur’an ke muka bumi hampa dari maksud dan tujuan. Memahami Maqasid al-Qur’an sangat urgensi bagi para Mufassir dalam memproduksi Tafsir al-Qur’an. Karena dengan memahaminya, Mufassir dituntut untuk berusaha memproduksi Tafsir berorentasi pada kemashalatan manusia dan mencegah kemafsadatan. Para Ulama menjadikan Maqasid al-Qur’an sebagai kaidah penting dalam penafsiran al-Qur’an, karena sering kali penafsiran al-Qur’an ditunggangi hanya untuk membela kepentingan ideeologi, mazhab, golongan mufassir semata yang jauh dari kemashalatan manusia. Menjadikan Maqasid al-Qur’an sebagai basis penafsiran al-Qur’an, akan mengantarkan mufassir mampu melahirkan Tafsir yang sejalan untuk kemaslahatan manusia. Dengan  demikian kami menyadari bahwa kajian Maqasid al-Qur’an belum menjadi disiplin ilmu yang tersendiri yang disepakati para ulama.
البركة في ضوء القرآن Muhammad Zakir Husain
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.338 KB)

Abstract

إن البركة نعمة من نعم الله – سبحانه وتعالى -، وكثير من الناس يشكو في قلة البركة ويظن أنه أحيط به، فلا بركة في العلم، ولا بركة في الرزق، ولا بركة في المال، ولا بركة في الأسرة، ولا بركة في الدار، ولا بركة في العمر، ولا بركة في الوقت، وهكذا. ومن الناس من هو على النقيض من ذلك، فالبركة في كل شئون حياته، بركة في المال، وبركة في العلم، وبركة في العمر وبركة في الوقت، وسعة في راحة البال وزيادة في العمر، ونماء في المال، وخير في الأسرة وغير ذلك.  وتركز هذه المقالة إلى معنى البركة، وكيفية الوصول إليها.وتشير النتيجة إلى أن البركة تعني ثبوت الخير والنعمة من الله - تعالى - ودوامه واستقراره، ولذا فإن النعمة لا قيمة لها عندما تنزع منها البركة، فهي التي تثبتها وتبقيها. ولما كانت البركة ذات أثر عظيم في تحقيق السعادة والنجاح في كل شؤون حياة الناس على مستوى الفرد والمجتمع، جاء خطاب القرآن الكريم ليبين معنى البركة، والأسباب التي تؤدي إلى تحقيق البركة والأمور الجالبة لها، وأهمية البركة والحث على طلبها.
AL-BIGAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Asmi Ashari Shabran; Muhammad Galib; hasyim haddade
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.115 KB)

Abstract

Al-Bigal merupakan salah satu dari sekian banyak hewan yang disebutkan di dalam al-Qur’an. Hewan ini lahir dari hasil perkawinan silang antara kuda (al-khail) dan keledai (al-hamir) yang disebutkan secara bersamaan dalam QS al-Nahl/16: 8.Sebagian orang mengatakan bahwa hewan ini lebih kuat daripada kuda karena ketahanan fisiknya yang melebihi kuda. Meskipun hanya disebutkan satu kali, tetapi melalui penyebutannya di dalam al-Qur’an mengandung makna adanya isyarat bagi manusia dalam melakukan inovasi untuk kemajuan sarana transportasi. Wujud al-bigal yang disebutkan dalam al-Quran yaitu sebagai hewan tunggangan (li tarkabuha) dan perhiasan (zinah) bagi manusia. Rasulullah saw. sendiri mempunyai beberapa al-bigal yang sering ia tunggangi, baik itu ketika melakukan perjalanan jauh ataupun ketika berperang, bahkan hingga saat ini, di beberapa negara, al-bigal masih digunakan sebagai hewan tunggangan. Adapun wujudnya sebagai perhiasan yaitu keindahan bentuk fisik dan beragam manfaat lain yang dimiliki hewan ini. Al-Bigaljuga memiliki beberapa manfaat bagi kehidupan manusia,yaitu dapat dijadikan sebagai sarana transportasi, pengangkut logistik atau pembawa barang dan jugasebagai hewan ternak.  
SHIFTING PARADIGM DALAM TAFSIR AL-QURAN ; ANALISIS TERHADAP PERKEMBANGAN TAFSIR FEMINIS DI INDONESIA Siti Robikah
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.602 KB)

Abstract

Tafsir al-Quran mengalami perkembangan yang signifikan dari masa klasik hingga kontemporer. Shift paradigm berupa perubahan paradigma tafsir yang digunakan oleh mufasir klasik hingga kontemporer. Metode dan pendekatan yang digunakan oleh mufasir tidaklah stagnan dalam satu pemahaman akan tetapi mengalami kemajuan yang signifikan. Terlihat pada masa klasik Mufasir masih banyak menggunakan metode tahlili dan pendekatan fikih namun pada era kontemporer ini Mufasir cenderung menggunakan metode maudhu’i dengan pendekatan interdisiplin keilmuan. Salah satu pendekatan yang menjadi fokus penelitian ini yaitu pendekatan feminisme yang mana pada akhir dekade ini masih banyak menjadi perbincangan dengan pro dan kontra di dunia akademisi. Dengan menggunakan metode kepustakaan dan teori revolusi ilmu Thomas Kuhn, penelitian ini menjelaskan mengenai pergeseran paradigma yang ada pada keilmuan tafsir khususnya di Indonesia. berawal dari munculnya tafsir awal yaitu tafsir yang ditulis oleh Abdur Rauf as Singkili sebagai tafsir pertama yang masih menggunakan metode tahlili dan pendekatan tasawufnya hingga muncullah mufasir perempuan dengan pendekatan feminisnya yang masih menjadi kontroversi yaitu Siti Musdah Mulia. Dalam menafsirkan ayat, Musdah Mulia mempunyai kriteria tersendiri dan berbeda dengan tafsir sebelumnya. Dalam menafsirkan poligami sebagai contoh Musdah Mulia membahas permasalahan poligami melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat poligami QS al Nisa’/4 (3), yang di dalamnya dijelaskan kebolehan melakukan poligami dengan dua, tiga atau empat perempuan. Namun hal ini disanggah oleh Musdah Mulia dengan pernyataannya bahwa poligami hukumnya haram lighoirihi.
MENYINGKAP AYAT-AYAT RUQYAH DI MAJELIS ZIKIR SIRATAL MUSTAQIM MAKASSAR (SUATU KAJIAN FENOMENOLOGI) Syarifah Ainun Jamilah; Muhammad Sadik Sabry; Muhsin mahfudz
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.411 KB)

Abstract

Tulisan ini akan menyingkap Ayat-Ayat Ruqyah di Majelis Zikir Sirathal Mustaqim Makassar (Suatu Kajian Fenomenologi). Tulisan  ini membahas tentang ayat-ayat yang ada didalam kitab suci al-Qur’an yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit, dalam hal ini dipergunakan sebagai bacaan dalam prosesi penyembuhan pasien (metode ruqyah) oleh para praktisi ruqyah di Majelis Zikir Sirathal Mustaqim Makassar.Rumusan masalah yang peneliti angkat pada tulisan  ini yakni bagaimana makna dan cakupan ruqyah, bagaimana implementasi ayat-ayat ruqyah di Majelis Zikir Sirathal Mustaqim, dan bagaimana dampak ayat-ayat ruqyah bagi kesembuhan pasien di Majelis Majelis Zikir Sirathal Mustaqim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui defenisi dari istilah ruqyah yang menjadi fenomena di tengah – tengah masyarakat, untuk mengetahui bagaimana implementasi ayat-ayat ruqyah di Majelis Zikir Sirathal Mustaqim Makassar, dan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari ayat-ayat (zikir) yang dibacakan olek praktisi ruqyah kepada pasien dalam proses penyembuhannya.Metode yang dipergunakan dalam mengumpulkan data-data dilapangan yaitu metode observasi, interview (wawancara), dan dokumentasi. Adapun instrumen penelitian yang dipergunakan yaitu dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti kamera, alat tulis menulis, alat perekam suara dan beberapa alat lainnya ketika akan melaksanakan ketiga metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Majelis Zikir Sirathal Mustaqim Makassar merupakan salah satu lembaga dakwah resmi di Kota Makassar yang menggunakan metode pengobatan ruqyah sesuai dengan tuntunan syari’at yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw., Adapun bacaan-bacaan ruqyah di majelis tersebut berdasarkan satu kitab utama yang disebut dengan Ratib Al-Haddad. Dimana kitab zikir inilah yang menjadi acuan utama dalam pembacaan ayat-ayat maupun lafaz-lafaz zikir yang disunnahkan oleh Nabi saw., sebagai do’a-do’a yang dapat mengobati dan jalan memohon kesembuhan dari Allah swt.
KONSEP ISTIṬĀ’AH DALAM AL-QUR’AN PADA IBADAH HAJI Ahmad Bahrin Nada
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.621 KB)

Abstract

Worship to Allah is an obligation for each individual as proof of obedience to the creator, with the existence of the Islamic shari'a the religious community has been arranged in such a way that in performing their worship to God optimally and in accordance with their capacities. So that in the guidance of the Islamic religion the context of istiṭā'ah becomes a matter that needs to be considered and applied, as Islam is a flexible religion towards its followers. The concept of istiṭā'ah is the basic foundation for the application of Islamic shari'a, especially in the Hajj, so that Muslims who are not yet classified as istiṭā'ah are not obliged to go on Hajj and are not recommended to try in various ways to be able to perform the Hajj. so that with the concept of istiṭā'ah if it is implemented by the Indonesian government in a complex way to implement current study regulations, it will greatly minimize the problem of studies that make the Indonesian Muslim community restless with the unstoppable waiting list so that new negative effects arise due to the madharat caused from financial inability to register for Hajj.

Page 8 of 15 | Total Record : 149