cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Gamma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 272 Documents
Redaksi & Pedoman Penulisan Jurnal Gamma Vol. 9, No.2, Maret 2014 Redaksi & Pedoman Penulisan
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Redaksi & Pedoman Penulisan Jurnal Gamma Vol. 9, No.2, Maret 2014
Daftar Isi Jurnal Gamma Volume 9 Nomor 2, Maret 2014 Daftar Isi
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksplorasi Pigmen Antosianin Bahan Hayati Lokal Pengganti Rodhamin B dan Uji Efektivitasnya pada Beberapa Produk Industri/PanganElfi Anis Saati  01 - 12Shelf Life Produk Kembang Gula Susu Berperisa Yogurt pada Berbagai Jenis KemasanEndang Sri hartatie 13 - 19Pengaruh Konsentrasi Sukrosa dengan Krioprotektan Dimethyl Sulfoxide Terhadap Kualitas Telur Ikan Mas (cyprinus carpio linn.) pada proses kriopreservasi Ganjar Adhywirawan Sutarjo 20 - 30Peningkatan Kualitas Silase Limbah Ikan Secara Biologis dengan Memanfaatkan Bakteri Asam LaktatHany Handajani 31 - 39Identifikasi Penyakit pada Pedet Perah Pra-Sapih di Peternakan Rakyat dan Perusahaan Peternakan Imbang Dwi Rahayu 40 - 49Pengujian Efektivitas Asap Cair (Liquid Smoke) Sebagai Anti Bakteri pada Berbagai Konsentrasi dan Lama Penyimpanan pada Ikan MujairNoor Harini1 & Moch Wachid2  50 - 62Analisis Komposisi Pakan Cacing Lumbricus SP. Terhadap Kualitas Kascing dan Aplikasinya Pada Tanaman Sawi Sri Mursiani Arifah   63 - 72Model Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Subdas AmbangNugroho Tri Waskitho 73 - 76Analisis Mikroba pada Cairan Sebagai Pupuk Cair Limbah Organik dan Aplikasinya Terhadap Tanaman Pakcoy (Brassica Chinensis L.) Sufianto 77 - 94  
Eksplorasi Pigmen Antosianin Bahan Hayati Lokal Pengganti Rodhamin B dan Uji Efektivitasnya pada Beberapa Produk Industri/Pangan Elfi Anis Saati
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksplorasi Pigmen Antosianin Bahan Hayati Lokal Pengganti Rodhamin B dan Uji Efektivitasnya pada Beberapa Produk Industri/PanganAnthocyanin Pigments Exploration of Local Biological Materials to Substitute Rodhamin B And EffectivenessTest for Some Industry Product/FoodElfi Anis SaatiJurusan Agronomi, Fakultas Pertanian PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: elfiumm@yahoo.co.idABSTRACTNatural dyes that are safer, can be used from the pigments carot enoids, curcumin, anthocyanins and other pigments. Anthocyanin pigments area group of flavonoids natural dyes cause red, orange, purple and blue, a pigment important and wide spread, as are found in the tissue of fruit, flowers, leaves, stems and roots of plants (Nollet, 1996). Indonesia is a country that has the biological wealth of the 2nd largest in the world, therefore, very necessary to explore the potential sources of pigments which can be used as natural dyes to replace hazard ous dye Rhodamine Band Amarant. This study was conducted in three phases, which include: 1) Exploration as a source of biological wealth locally contributor pigment red-purple, 2) characterization of the biological wealth of the local pigments few, in lieu of Rhodamine B, and 3) test the effectiveness of its use (best pigment previous stage) on some food products (fruit juice, jam, yoghurt) as an alternative natural dyes. The results showed that the concentrated pigment extract (concentrate) from the crown of roses (red) has a local stone, the solvent distilled water and citric or lacticacid (0,02M) produces pigment antosanin best quality, ie with a pH value of1.47, absorbance of0.787(100x dilutionatλ513.5nm), brightness (L) 30.20, total dissolved solid so Brix 5.83, 14.0293 levels (mg /100mL) and yield of 15.7535 (mg/100g). Rose flower extract anthocyanin pigments are most stable at pH3.75 buffer. Spinach leaves contain are d pigment anthocyanin with a total dissolved solids content of anthocyanin 5,8° Brix to 18.94mg/ml and pigment yield by 15, 16%, is more stable/optimal at pH2.25; 4, and 4.25 (for concentrates), while the pigment powder is stableat2.25. The higher and longer heating time, the redness of the lower level. Extra ctanthocyanin pigments as much as2-3% effective donate the natural colour, redness (a +) and yellow-reddish /orange (a + and b+) on products such as yogurt, butter/ jam papaya, fruit juice and carbonated beverages(Coca Cola) and hand body lotion.Keywords: Pigment anthocyanin, local biodiversity, Rhodamine B.ABSTRAKZat pewarna alami yang bersifat lebih aman, dapat digunakan dari pigmen karotenoid, kurkumin, antosianin dan pigmen lainnya. Pigmen antosianin adalah pewarna alami kelompok flavonoid penyebab warna merah, oranye, ungu dan biru, merupakan pigmen yang penting dan tersebar luas, karena banyak ditemukan dalam jaringan buah, bunga, daun, batang maupun akar tanaman (Nollet, 1996). Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan hayati terbesar ke-2 di dunia, oleh karenanya amat perlu untuk menggali potensi sumber pigmen yang dapat digunakan sebagai pewarna alami untuk menggantikan pewarna berbahaya Rhodamin B dan Amarant. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu meliputi : 1) Eksplorasi kekayaan hayati lokal sebagai sumber pigmen penyumbang warna merah-keunguan, 2) Karakterisasi pigmen beberapa kekayaan hayati lokal, sebagai pengganti Rhodamin B, dan 3) Uji efektivitas penggunaannya (pigmen terbaik tahap sebelumnya) pada beberapa produk pangan (sari buah,jam, yoghurt) sebagai zat pewarna alami alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak pigmen pekat (konsentrat) dari mahkota bunga mawar (merah) lokal Batu memiliki, dengan pelarut akuades dan asam sitrat atau laktat (0,02M) menghasilkan pigmen antosanin yang berkualitas paling baik, yaitu dengan nilai pH 1,47, absorbansi 0,787 (pengenceran 100x pada λ 513,5 nm), tingkat kecerahan (L) 30,20, total padatan terlarut 5,83oBrix, kadar 14,0293 (mg/100 mL) dan rendemen 15,7535 (mg/100 g). Ekstrak pigmen antosianin bunga mawar paling stabil terdapatpadabuffer pH 3,75.Daun bayam merah mengandung pigmenantosianin dengan total padatan terlarut5,8 °Brix kadar antosianin 18,94 mg/ml dan rendemen pigmen sebesar 15, 16%, lebih stabil/optimal pada pH 2,25 ; 4 ,dan 4,25 (untuk konsentrat), sedangkan bubuk pigmen stabil pada 2,25. Semakin tinggi dan lama waktu pemanasan maka tingkat kemerahan akan semakin rendah. Ekstrak pigmen antosianin sebanyak 2-3 % efektif menyumbangkan warna alami, kemerahan (a+) dan kuning-kemerahan/oranye (a+ dan b+) pada produk seperti yoghurt, selai/jam pepaya, sari buah dan minuman berkarbonat (Coca cola) serta hand body lotion.Kata Kunci : Pigmen antosianin, hayati lokal, Rhodamin B
Shelf Life Produk Kembang Gula Susu Berperisa Yogurt pada Berbagai Jenis Kemasan Endang Sri hartatie
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shelf Life Produk Kembang Gula Susu Berperisa Yogurt pada Berbagai Jenis KemasanShelf Life Confectionery Products Berperisa Yogurt Milk In Various Types of PackagingEndang Sri hartatieJurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang Email: endangsrihartatie@yahoo.com, endang@umm.ac.idABSTRACTConfectionery milk is a kind of candy that is made by using dairy ingredients and sugar. Milk used for the manufacture of milk candy candy does not require high quality requirements eg BJ and milk fat content, therefore the milk candy is one alternative treatment to capitalize upon low quality milk. The level of consumer preferences to a candy product is heavily influenced by the shapes, colors and a multifaceted flavor. Flavor candy product can be enhanced by the addition of yogurt Flavor and shelf life (shelf life) can be extended with packaging. The research method used in this study is the experimental method. Treatment used in this study is the kind of packaging that polyethylene plastic (P1), waxed paper (P2), plain paper (P3) Each - each treatment was repeated 3 times. Variables measured in this study is the moisture content, ash content, reduction sugar and organoleptic properties. Measurements were made after storage for 4 weeks and measurement interval of 4 weeks. The results showed that storage for 6 months at the confectionery milk are packed with grease paper already shows signs of damage to the product that is recognized by the panelists, while the milk confectionery which is packed with polyethylene plastic and the new plain paper shows signs of damage in the seventh month. The conclusion that can be stated is the shelf life of milk products development berperisa yogurt are packed with grease paper was 5 months while packed with polyethylene plastic and ordinary paper is 6 months if the initial moisture content of the product by 6.12 percent.Keywords: shelf life, types of packaging, confectionery berperisa milk yoghurtABSTRAKKembang gula susu adalah sejenis permen yang dibuat dengan menggunakan bahan dasar susu dan gula. Susu yang digunakan untuk pembuatan permen permen susu tidak memerlukan persyaratan mutu tinggi misalnya BJ dan kandungan lemak susu, oleh karena itu permen susu merupakan salah satu alternative pengolahan untuk memamfaatkan susu yang berkualitas rendah. Tingkat preferensi konsumen terhadap suatu produk permen banyak dipengaruhi oleh bentuk, warna dan keaneragaman rasa. Rasa produk permen ini dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan perisa yogurt dan umur simpan ( shelf life ) dapat diperpanjang dengan pengemasan. Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah jenis kemasan yaitu plastik polietilen ( P1 ), kertas minyak ( P2 ) , kertas biasa ( P3 ) Masing – masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar air, kadar abu, kadar gula reduksi dan sifat organoleptik. Pengukuran dilakukan setelah penyimpanan selama 4 minggu dan interval pengukuran 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan selama 6 bulan pada kembang gula susu yang dikemas dengan kertas minyak sudah menunjukkan adanya tanda-tanda kerusakan produk yang dikenali oleh panelis,sedangkan pada kembang gula susu yang dikemas dengan plastic polietilen dan kertas biasa baru menunjukan adanya tanda-tanda kerusakan pada bulan ke tujuh. Kesimpulan yang dapat dikemukakan adalah shelf life produk kembang susu berperisa yogurt yang dikemas dengan kertas minyak adalah 5 bulan sedangkan yang dikemas dengan plastic polietilen dan kertas biasa adalah 6 bulan apabila kadar air awal produk sebesar 6,12 persen.Kata kunci : shelf life, jenis kemasan , kembang gula susu berperisa yoghurt
PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DENGAN KRIOPROTEKTAN DIMETHYL SULFOXIDE TERHADAP KUALITAS TELUR IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.) PADA PROSES KRIOPRESERVASI Ganjar Adhywirawan Sutarjo
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DENGAN KRIOPROTEKTAN DIMETHYL SULFOXIDE TERHADAP KUALITAS TELUR IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.) PADA PROSES KRIOPRESERVASIEffect of Sucrose Concentration with Dimethyl sulfoxide cryoprotectant on the Quality Egg Goldfish (Cyprinus carpio Linn.) Cryopreservation ProcessGanjar Adhywirawan SutarjoJurusan Perikanan, Fakultas Pertanian dan PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: ganjar@umm.ac.id, gans_avo@yahoo.co.idABSTRACTThis research was conducted at the Laboratory of Integrated Fisheries Department of Agriculture Faculty of Animal Husbandry, University of Muhammadiyah Malang. This study aimed to examine the effect of the concentration of sucrose solution as an extender with cryoprotectant Dimethyl sulfoxide (DMSO) on the quality of fish eggs Mas (Cyprinus carpio Linn.) In the cryopreservation process, so that this study can help in the process of genetic pemulyaan parent and improved seed. The design used in this study using a completely randomized design (CRD), consisting of 4 treatments with one control, each treatment was held repetitions 5 times, so there are 25 experimental units. Treatment of sucrose concentration used was 0.5 M, 1 M, 1.5 M, and 2 M to 1 M. Testing cryoprotectant DMSO hypothize using Fingerprint Test Range. The results showed that the quality of the eggs that are morphologically goldfish in a normal condition and deserves to be the process of cryopreservation, fertilization measurement results carp eggs without treatment (control) was 80.06% and the hatching rate of 70.10%. Carp egg fertilization levels highest in treatment B 1 M sucrose concentration of 71.60%, while the lowest fertilization treatment D at a concentration of 2 M sucrose is 31.14%. Hatching or hatching highest rate at treatment B 1 M sucrose concentration of 69.89%, the lowest rate in hatching treatment D 2 M sucrose concentration of 53.78%. Sucrose is known to meet the needs of the physical and chemical energy for metabolic processes during egg storage processes besides sucrose also acts as a cryoprotectant that is not penetration into the egg cells of fish.Keywords: Sucrosa, Cryopreservation oosit fish, DMSO.ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Laboratorium Departemen Perikanan Terpadu Pertanian Fakultas Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh konsentrasi larutan sukrosa sebagai extender dengan krioprotektan Dimethyl sulfoxide (DMSO) pada kualitas ikan telur Mas (Cyprinus carpio Linn.) Dalam proses kriopreservasi, sehingga penelitian ini dapat membantu dalam proses genetik pemulyaan induk dan benih unggul. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan dengan 1 kontrol, masing-masing perlakuan diadakan pengulangan sebanyak 5 kali, sehingga terdapat 25 unit percobaan. Perlakuan konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 0,5 M, 1 M, 1,5 M, dan dengan krioprotektan DMSO 1 M, Perlakuan D dengan konsentrasi sukrosa 2 M dengan krioprotektan DMSO 1 M. Pengujian hipotesi menggunakan Uji Sidik Ragam. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa secara morfologis kualitas telur ikan mas dalam kondisi normal dan layak untuk dilakukan proses kriopreservasi, hasil pengukuran fertilisasi telur ikan mas tanpa perlakukan (kontrol) sebesar 80,06% dan hatching rate sebesar 70,10%. Tingkat fertiliasi telur ikan mas tertinggi pada perlakuan B konsentrasi sukrosa 1 M sebesar 71,60%, sedangkan fertilisasi terendah pada perlakuan D konsentrasi sukrosa 2 M yaitu 31,14%. Daya tetas atau hatching rate tertinggi pada perlakuan B konsentrasi sukrosa 1 M sebesar 69,89%, dengan hatching rate terendah pada perlakuan D konsentrasi sukrosa 2 M sebesar 53,78%. Sukrosa diketahui mampu memenuhi kebutuhan fisik dan kimiawi energi untuk proses metabolisme telur pada saat proses penyimpanan selain itu sukrosa juga berperan sebagai krioprotektan yang bersifat tidak penetrasi kedalam sel telur ikan.Kata Kunci : Sukrosa, Kriopreservasi oosit ikan, DMSO.
PENINGKATAN KUALITAS SILASE LIMBAH IKAN SECARA BIOLOGIS DENGAN MEMANFAATKAN BAKTERI ASAM LAKTAT Hany Handajani
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENINGKATAN KUALITAS SILASE LIMBAH IKAN SECARA BIOLOGIS DENGAN MEMANFAATKAN BAKTERI ASAM LAKTATQuality Improvement Silage Fish Biological Waste Using Lactic Acid BacteriaHany HandajaniJurusan Perikanan, Fakultas Pertanian PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: hanny_handayany2005@yahoo.co.idABSTRACTThis study aims to examine the process of making silage fish waste biologically by using BAL in order to improve the quality of fish waste silage. To achieve these objectives, carried out several tests: 1) the level of molasses as a medium / nutrient BAL. 2) fermentation time required. The variables measured were: physical qualities include color and aroma, chemical quality include crude protein content, crude fat, biological quality include observations of bacterial pathogens in fish silage. The results of the study have a high protein content of silage-making biologically can use probiotics + molasses 20% with a 14-day fermentation of silage protein produced 45.76%. As for the fat content of 5.84% in the probiotic treatment + 30% molasses for 14 days. Sour and color to gray silage on silage obtained by using 30% molasses + probiotics for 7 days.Keywords: quality of chemical, physical and biological, fish waste silage, biologically.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengkaji proses pembuatan silase limbah ikan secara biologis dengan menggunakan BAL guna meningkatkan kualitas silase limbah ikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan beberapa uji: 1) level molase sebagai media/nutrisi BAL. 2) waktu fermentasi yang dibutuhkan. Variabel yang diamati: kualitas fisik meliputi warna dan aroma, kualitas kimia meliputi kandungan protein kasar, lemak kasar, kualitas biologi meliputi pengamatan bakteri patogen yang ada pada silase ikan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan level molases dan waktu fermentasi berpengaruh terhadap kualitas kimia (kadar protein dan lemak), sedangkan pada kualitas fisik (aroma dan warna) tidak berpengaruh. Untuk mendapatkan kandungan protein yang tinggi pembuatan silase secara biologis dapat menggunakan probiotik + molases 20% dengan waktu fermentasi 14 hari dihasilkan protein silase 45,76%. Sedangkan untuk kandungan lemak 5,84% pada perlakuan probiotik + molases 30% selama 14 hari. Untuk aroma asam dan warna silase abu-abu didapatkan pada silase dengan menggunakan probiotik + molases 30% selama 7 hari.Kata Kunci : kualitas kimia, fisika dan biologis, silase limbah ikan, secara biologis
IDENTIFIKASI PENYAKIT PADA PEDET PERAH PRA-SAPIH DI PETERNAKAN RAKYAT DAN PERUSAHAAN PETERNAKAN Imbang Dwi Rahayu
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IDENTIFIKASI PENYAKIT PADA PEDET PERAH PRA-SAPIH DI PETERNAKAN RAKYAT DAN PERUSAHAAN PETERNAKANIdentification Of Pre-Weaning Calf Diseases On Smallholder And Industrial Dairy Farming Imbang Dwi RahayuJurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: imbangdwirahayu@yahoo.comABSTRACTCalf status health is a critical factor in dairy farming. Factors that could disturbed the health of pre-weaning calves are infectious caused by bacteria, viruses, protozoa, and parasites; and non infectious: poor management and environment factor. The most infectious were: diarheae, navel infection, bloat, wormy, and pneumonia. This research has conducted to: 1) identified diseases in pre weaning calf based on symptoms, 2) act of curing in pre-weaning calf, 3) act of preventing, 4) improving raising management. Research was done based on survey method in two steps, first, quisionair distribution to farmer to get morbidity and mortality rates. Then continued by secon steps was observation on dairy farming industry to identified kind of diseasses. Result showed that moratality rate was very high: 48 from 245 calves (19,59%). Kind of dominant diseases were (61,73%), pneumonia (25,61%), navel infection (4,22%), infection post-horn (4,22%), and limping of foot (4,22%). Besides diseases as mention before, abses, enteritis, conjungtivitis were also could identified. Antibiotics (ceftiofur), antihysthamine (diphenhydramin HCl), vitamine A, Cholecalciferol (Vit D3) and Vitamine E were the veterinary drug that usually used. For pneumonia and navel infection, dexamethazone was added. The act of prevention by disease is by sanitation and vaccination management repair.Keywords: diseases, pre-weaning, mortality rate.ABSTRAKKesehatan pedet merupakan faktor penting dalam usaha peternakan sapi perah. Gangguan kesehatan pada pedet perah pra-sapih disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor infeksius, meliputi bakteri, virus, protozoa dan parasit, serta faktor non infeksius yang berua keslahan manajemen dan faktor lingkungan. Gangguan kesehatan yang paling sering terjadi adalah diare, infeksi tali pusar, bloat/kembung, cacingan dan radang paru-paru (pneumonia). Tingkat kematian pedet pra-sapih pada peternakan rakyat relatif masih tinggi. Tujuan khusus penelitian adalah: 1) identifikasi penyakit pada pedet pra-sapih berdasarkan gejala-gejala penyakit, 2) tindakan pengobatan penyakit pada pedet pra-sapih, 3) tindakan pencegahan penyakit pada pedet pra-sapih, 4) perbaikan manajemen pemeliharaan.Metode penelitian yang digunakan adalah survei, melalui dua tahap, yaitu Tahap I, penyebaran kuisioner ke peternak guna memeroleh data tingkat morbiditas dan mortalitas pedet perah pra-sapih. Tahap II, pengamatan langsung ke perusahaan peternakan, untuk identifikasi penyakit yang menyerang pedet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka mortalitas pedet pada peternakan rakyat torgolong tinggi, yaitu sebesar 48 ekor dari 245 ekor pedet sampel penelitian (19, 59%). Kejadian penyakit yang ditemukan di perusahaan peterrnakan meliputi : diare (61,73%), pneumonia (25,61%), infeksi tali pusar (4,22%), infeksi post potong tanduk (4,22%), dan pincang (4,22%). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penyakit pada pedet perah pra-sapih yang berhasil diidentifikasi adalah diare, pneumonia, infeksi tali pusar, infeksi setelah potong tanduk, pincang, abses, enteritis, radang mata. Pengobatan penyakit yang diterapkan berupa pemberian antibiotik berupa ceftiofur, antihistamin berupa diphenhydramin HCl, vitamin A, Cholecalciferol (Vit D3) dan Vitamin E, serta penguat otot dan transportasi. Pada pneumonia dan infeksi tali pusar ditambahkan obat anti radang berupa dexamethazone. Tindakan pencegahan penyakit yang dilakukan adalah sanitasi dan vaksinasi, dan perbaikan manajemen.Kata Kunci : penyakit, pedet pra-sapih, tingkat kematian
PENGUJIAN EFEKTIVITAS ASAP CAIR (Liquid Smoke) SEBAGAI ANTI BAKTERI PADA BERBAGAI KONSENTRASI DAN LAMA PENYIMPANAN PADA IKAN MUJAIR Noor Harini; Moch Wachid
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGUJIAN EFEKTIVITAS ASAP CAIR (Liquid Smoke) SEBAGAI ANTI BAKTERI PADA BERBAGAI KONSENTRASI DAN LAMA PENYIMPANAN PADA IKAN MUJAIRTesting The Effectiveness of Liquid Smoke as Antibacterial in All Farious Concentrateand Longer of Storage in Mozambique Tilapia FishNoor Harini1, Moch Wachid2Jurusan Pertanian, Fakultas Pertanian PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: noorhumm@yahoo.co.id ,mochammadwachid@yahoo.co.idABSTRACTLiquid smoke is has been used to preserve meat and give some flavor of the food, so it can be used as a natural preservative alternative. Raw materials liquid smoke can be originate from a waste incineration biological especially vegetable namely coconut shell, bambu, cobs corn and another-other. Content of chemical compound on liquid smoke among others is compounds phenol, carbonyl, acid and another-other, so it can function for extend power save it an ingredient. Pickling can inhibiting the proliferation of microorganism mainly bacterial including the bacteria pathogenic. Purpose this research is: 1) for mengektraksi the smoke liquid with raw materials coconut shell, bambu and cobs corn, 2) for know the effectiveness of usage liquid smoke on various concentrations, and 3) for reviewing power inhibitory liquid smoke against developments test bacteria from group of bacteria pathogens. The results showed that the liquid smoke contains compounds that are useful as a food preservative, because of its antibacterial properties in it. Food preservatives has been successfully extracted from natural ingredients from 3 different types of liquid smoke coming from bamboo, coconut shells and corn cobs. Liquid smoke 3 types of liquid smoke (coconut shell, bamboo and corn cobs) has potential as a natural preservative food functionally safe and lawful. Liquid smoke has the ability to inhibit pathogenic bacteria (Pseudomonas aeuginosa, Bacillus subtilis, Escherichia coli and Staphylococcus aureus) at different storage periods tilapia fish (day-1, -2, -3 and -4).Keywords: diseases, pre-weaning, mortality rate.ABSTRAKAsap cair merupakan bahan pengawet alami alternatif dan diekstraksi dengan cara destilasi. Pemanfaatan bahan hayati dapat berasal dari tempurung kelapa, bambu, tongkol jagung dan lain-lain. Pengawetan bertujuan untuk menghambat perkembangbiakan mikroorganisma terutama bakteri patogen. Bakteri patogen yang dapat mengurangi daya simpan bahan pangan diantaranya adalah Pseuodomonas aeruginosa, Bacillus subtillis, Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk menguji efektivitas asap cair dari tempurung kelapa, bambu dan tongkol jagung pada berbagai konsentrasi bahan pengawet; 2) untuk mengaplikasikan asap cair dari tempurung kelapa, bambu dan tongkol jagung sebagai bahan pengawetan pangan dengan menguji sifat anti bakteri oleh lama waktu penyimpananannya pada ikan mujair; 3) untuk. mengetahui efek daya hambat asap cair terhadap perkembangan 4 spesies bakteri patogen secara in vitro.Hasil penelitian menunjukkan, bahwa asap cair dapat diekstrak dari bahan alami dari 3 jenis asap cair yang berasal dari tempurung kelapa, tongkol jagung dan bambu. Asap cair dari 3 jenis asap cair (tempurung kelapa, tongkol jagung dan bambu) dapat bermanfaat sebagai bahan pengawet yang ditunjukkan oleh kemampuan zona hambat dan nilai absorbansi. Asap cair mempunyai kemampuan dalam menghambat bakteri patogen (Eschericia coli, Pseudomonas aeuginosa, Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus) pada berbagai periode penyimpanan ikan mujair (hari ke-1, -2, -3 dan -4).Kata Kunci : penyakit, pedet pra-sapih, tingkat kematian
ANALISIS KOMPOSISI PAKAN CACING Lumbricus sp. TERHADAP KUALITAS KASCING DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN SAWI Sri Mursiani Arifah
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS KOMPOSISI PAKAN CACING Lumbricus sp. TERHADAP KUALITAS KASCING DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN SAWIWorms Feed Composition Analysis Lumbricus Sp. On Vermicompost Quality And Application In Plants Mustard Sri Mursiani ArifahJurusan Agronomi, Fakultas Pertanian PeternakanUniversitas Muhammadiyah MalangEmail: sri_mursiani@umm.ac.idABSTRACTThe material so the worms will feed determines the quality and kuntitas vermicompost produced, also will give different effects on plants that utilize the vermicompost, but assumtion of this information so obtained is not done the research to get the information to the problem of the composition of the feed worm that will generate solid vermicompost and liquid as well as its application to the mustard plant. So the research done twice. The purpose of this study to look at the quality vermicompost with different feed compositions given in the application and vermicompost were tested in solid and liquid forms of the mustard plant. The first study cultivation of worms with different feed compositions treatment in order to obtain and quality vermicompost, vermicompost then determine the best based on the results of laboratory analysis associated with the needs of mustard. A second study testing the solid vermicompost combined with concentrations of liquid vermicompost vermicompost derived solid part of the mustard plant. The results showed that vermicompost obtained from worms feed material 50% liquid cow manure and 59% forage materials give better effect to the plant (plant height, number of leaves, brush the leaves and plant fresh weight) at each level of administration of liquid vermicompost fertilizer concentration which range from 35 ml / l water-105 ml / l of water.Keywords: Casting solid liquid and organic waste.ABSTRAKBahan yang jadi pakan cacing akan mementukan kualitas dan kuntitas kascing yang dihasilkan, juga akan memberikan efek yang berbeda terhadap tanaman yang memanfaatkan kascing tersebut, namun.asumsi ini informasinya tidak didapat sehingga guna mendapatkan informasinya dilakukan penelitian dengan permasalahan komposisi pakan cacing yang akan menghasilkan kascing padat dan cair serta aplikasinya terhadap tanaman sawi. Sehingga dilakukan dua kali penelitian. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat kualitas kascing dengan diberi komposisi pakan yang berbeda dan dalam aplikasinya kascing yang dicobakan dalam bentuk padat dan cair terhadap tanaman sawi. Penelitian pertama budidaya cacing dengan perlakuan komposisi pakan yang berbeda guna mendapatkan kascing dan kualitasnya, kemudian menentukan kascing yang terbaik berdasarkan hasil analisa laboratorium yang dikaitkan dengan kebutuhan tanaman sawi. Penelitian kedua pengujian kascing padat dikombinasikan dengan konsentasi kascing cair yang berasal bagian kascing padat terhadap tanaman sawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kascing yang didapat dari bahan pakan cacing 50% cairan kotoran sapi dan bahan hijauan 59% memberikan efek yang lebih baik terhadap tanaman ( tinggi tanaman, jumlah daun, kuas daun dan berat segar tanaman) pada setiap level pemberian konsentrasi pupuk kascing cair yang berkisar 35 ml/l air- 105 ml/l air.Kata Kunci : Kascing padat, cair dan limbah Organik. 
MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUBDAS AMBAN Nugroho Tri Waskitho
Jurnal Gamma Vol. 9 No. 2 (2014): Maret
Publisher : Jurnal Gamma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUBDAS AMBANGModel of Society Participatory In Ambang Watershed Management Nugroho Tri WaskithoFakultas Pertanian Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas 246, Malang, Telp. 0341464318 Fax.0341460435 Email: triwaskithon@yahoo.co.idABSTRACTThe objectives of this work is to find relationship model between society participation and Ambang sub-watershed performance. The research was done at Ambang Sub-Watershed in Batu, East Java, Indonesia on February-April 2014. Collecting data was done by quessionaire. Research method consist of three steps. The first step was evaluating society participation in Ambang sub-watershed management. The second step was evaluating Ambang sub-watershed performance. Watershed performance consist of one indicator: sediment rate. The third step was finding relationship model between society participation and Ambang sub-watershed performance. The model was built by regression. Society participation in Ambang watershed management was enough. 49 % of society have moderate participation. Ambang watershed rate sediment is 0.458 – 1.373 mm/an and in good category. Society participation affected on Ambang sub-watershed performance. Society participation in Ambang sub-watershed management was poor. Model of relationship between society participation and Ambang sub-watershed rate sediment was Y = 0,55 – 0,67 X. Keywords: society participation, Ambang, sub-watershed, management ABSTRAKTujuan dari pekerjaan ini adalah untuk menemukan model hubungan antara partisipasi masyarakat dan kinerja sub-DAS Ambang. Penelitian ini dilakukan di Ambang Sub-DAS di Batu, Jawa Timur, Indonesia pada Februari-April 2014. Pengumpulan data dilakukan dengan quessionaire. Metode penelitian terdiri dari tiga langkah. Langkah pertama adalah mengevaluasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sub-DAS Ambang. Langkah kedua adalah mengevaluasi kinerja sub-DAS Ambang. Kinerja DAS terdiri dari satu indikator: tingkat sedimen. Langkah ketiga adalah menemukan model hubungan antara partisipasi masyarakat dan kinerja sub-DAS Ambang. Model ini dibangun oleh regresi. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS Ambang cukup. 49% masyarakat memiliki partisipasi moderat. Ambang tingkat DAS sedimen adalah 0,458-1,373 mm / sebuah dan dalam kategori baik. Partisipasi masyarakat yang terkena dampak pada kinerja sub-DAS Ambang. Partisipasi masyarakat dalam Ambang manajemen sub-DAS adalah miskin. Model hubungan antara partisipasi masyarakat dan Ambang tingkat sedimen sub-DAS adalah Y = 0,55 - 0,67 X.Kata kunci: partisipasi masyarakat, Ambang, sub-DAS, manajemen