cover
Contact Name
Iswahyudi
Contact Email
jurnalrerum@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalrerum@gmail.com
Editorial Address
Moriah Square Jalan Kelapa Puan Raya. Ruko Verones No.24 Gading Serpong Timur Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua Kota Tangerang Selatan, Banten 15810
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Rerum: Journal of Biblical Practice
ISSN : -     EISSN : 28081455     DOI : 10.55076/rerum
RERUM: Journal of Biblical Practice (e-ISSN: 2808-1455) is a theological scientific journal with a Biblical Practical perspective which is a scientific forum for multidisciplinary academic journals published by the Institute for Research and Community Service (IRCS) of the Sekolah Tinggi Teologi Moriah together Indonesian Christian Theologian Association. Focus and Scope. The articles published in RERUM: Journal of Biblical Practice have a focus and scope on Christian religious education theology, pastoral theology, Christian leadership, missions, and church management. The publication of this journal will be carried out in one year as many as two times, namely in April and October.
Articles 53 Documents
Eren Yeager’s Free Will in the Perspective of John Calvin Dethan, Stanley
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 1 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i1.499

Abstract

This study examines the theme of free will in the character of Eren Yeager from Attack on Titan through the lens of John Calvin’s theological framework, particularly his doctrines on human nature, predestination, and the limits of human autonomy as articulated in Institutes of the Christian Religion and selected sermons. Employing a qualitative literature review, the research integrates theological analysis with cultural interpretation, drawing on both Calvinist texts and contemporary scholarship on the intersection of theology and popular culture. Key narrative moments in Eren’s arc, especially his obsession with freedom, the inevitability of his actions, and his ultimate self-sacrifice are interpreted in light of Calvin’s understanding of divine sovereignty and compatibilism. It is important to note that this study does not intend to serve as a doctrinal defense or theological “proof-text” for Calvinism. Rather, the analysis seeks to explore how a popular fictional narrative can function as a lens for reflecting on longstanding theological debates about destiny, moral responsibility, and the human condition. By engaging with Eren’s struggle as a “slave to freedom” and his inability to alter a predetermined future, the article invites readers to consider the enduring relevance of theological concepts in contemporary cultural storytelling.
Kontekstual Pendidikan Agama Kristen dalam Moderasi Beragama di SMPN 20 Tangerang Selatan Maharini, Asti
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 1 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i1.514

Abstract

Fakta bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk yakni terdiri dari berbagai ras, suku bangsa, etnik, agama, dan golongan- golongan dengan latar sosial budaya yang beragam. Menurut data BPS Tahun 2010, penduduk Indonesia terdiri atas 1331 kategori suku, yang di dalamnya termasuk nama suku, nama alias dari suatu suku, nama subsuku, bahkan nama sub dari sub suku. Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum, dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana kemampuan kita mengelola dan menyikapi perbedaan yang ada. Karena jika kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola dan menyikapi adanya perbedaan maka bisa saja terjadi distorsi dan konflik di tengah-tengah kemajemukan yang ada. Oleh karena itu dalam menghadapi kemajemukan dan sikap bermoderasi secara kontekstual maka tidaklah terlepas dari sikap toleransi yang dapat diawali dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan, dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara, sehingga akan timbul rasa kasih sayang, saling pengertian, dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. Di dalam penelitian ini yang melatarbelakangi penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana di sekolah ini sudah atau belum melaksanakan moderasi beragama dengan baik dengan asumsi terkadang ada pembulyan dengan fakta karena latar belakang agama yang berbeda dan anak Tuhan hadir biasanya sedikit sekali yang beragama Kristen, sehingga hal ini bisa jadi timbul suatu konflik siswa dengan lain artinya siswa yang beragama Kristen dengan Islam. Mereka yang tidak paham artinya toleransi dan moderasi beragama maka ini akan memicu adanya konflik di sekolah negeri,, tetapi setelah diadakan penelitian yang mendalam dengan cara menyebarkan kuesioner melalui platform google form kepada para siswa Kristen; siswa non Kristen; sembilan guru agama Kristen se Tangerang Selatan dan juga melakukan wawancara  dengan  guru muslim dan kepala sekolah SMPN  20, maka dapat disimpulkan bahwa  hasilnya rata-rata terjadi toleransi yang baik dan moderasi beragama berjalan  dengan baik. Oleh karena itu dalam menghadapi kemajemukan dan sikap bermoderasi secara kontekstual maka tidaklah terlepas dari sikap toleransi yang dapat diawali dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan, dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara, sehingga akan timbul rasa kasih sayang, saling pengertian, dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran.
Socio-Religious Issues in Alcoholic Consumption among Christian in Selected Orthodox Churches in Surulere Lagos Government, Lagos State Ogunbiyi, David
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 1 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i1.518

Abstract

The study employed a combination of qualitative and quantitative approaches to examine Christian knowledge, attitudes, and behaviors on alcohol consumption in Nigeria, with a focus on members of selected Orthodox churches in Surulere Local Government of Lagos State. The study utilized a mixed-methods approach, incorporating both qualitative and quantitative data, utilizing structured interviews, focus group discussions, and surveys to gather insights from church members. Participants were drawn from Anglican, Methodist, Baptist, and Catholic churches. A total of 188 Orthodox Christians were interviewed, and 180 respondents completed the study questionnaire. Results showed that respondents between the ages of 22-67 years were interviewed. The mean age was 36.07% years, Sd +/- 7 years, 60% were married and 20% were single. The majority (60.5%) were male, 65% adults. It also shows that 37.8% have spent between 5-6 years in their local churches, and 58% have served in different capacities. The biblical position, health, and social knowledge about alcohol consumption are very high among the respondents. About 67.2% supported Christian can consume alcohol, and 67.8% believed it can affect their spiritual life. However, 39.4% reacted as very inappropriate to serve alcohol at church functions. The majority (69%) consume due to stress, in the party, among friends but believe it has to be in moderation. It was concluded that though the Bible has not specifically ruled against alcohol consumption but to be with all moderation.
FOLLOWING THE SUFFERING MESSIAH: AN EXEGESIS OF MARK 8:27–33 AND A CRITIQUE OF THE THEOLOGY OF GLORY IN THE CONTEMPORARY CHURCH: MENGIKUTI MESIAS YANG MENDERITA: EKSEGESIS MARKUS 8: 27-33 DAN KOREKSI ATAS TEOLOGI KEMULIAAN DALAM GEREJA MASA KINI Ageng Pamarto
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.576

Abstract

AbstractThis study examines the concept of the suffering Messiah in Mark 8:27–33 as a corrective to the theology of glory prevalent in contemporary churches. The central problem addressed is the tendency of Christian communities to confess Jesus as the Messiah while neglecting or rejecting suffering as an essential dimension of His identity and mission. The purpose of this research is to provide an exegetical interpretation of Mark 8:27–33 and to explore its theological and practical implications for contemporary Christian discipleship. The study employs a grammatical-historical exegetical method, incorporating historical context, narrative structure, textual criticism, and grammatical-lexical analysis of the Greek New Testament text. The findings demonstrate that Mark intentionally presents Peter’s confession and Jesus’ prediction of suffering as a theological turning point in the Gospel, correcting messianic expectations shaped by triumphalism. The suffering of the Messiah is portrayed as a divine necessity (???) within God’s redemptive plan rather than a failure of mission. Consequently, following Christ entails taking one’s place behind Him on the path of the cross. This study concludes that Mark 8:27–33 offers a significant theological critique of the theology of glory and reaffirms a model of discipleship grounded in the cross, obedience, and faithfulness amid suffering.   AbstrakPenelitian ini membahas pemahaman tentang Mesias yang menderita dalam Markus 8:27–33 sebagai koreksi terhadap teologi kemuliaan yang berkembang dalam gereja masa kini. Masalah utama yang dikaji adalah kecenderungan gereja dan jemaat untuk mengakui Yesus sebagai Mesias, tetapi menolak atau mengabaikan dimensi penderitaan sebagai bagian integral dari identitas dan misi-Nya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan secara eksegetis perikop Markus 8:27–33 serta menyingkapkan implikasi teologis dan praktisnya bagi pemuridan Kristen kontemporer. Metode yang digunakan adalah eksegesis gramatikal-historis dengan menganalisis konteks historis, struktur naratif, data tekstual, serta aspek gramatikal dan leksikal teks Yunani Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Markus secara sengaja menempatkan pengakuan Petrus dan nubuat penderitaan Yesus sebagai titik balik teologis Injil, guna meluruskan ekspektasi mesianik yang berorientasi pada kemuliaan. Penderitaan Mesias dinyatakan sebagai keharusan ilahi (???) dalam rencana Allah, bukan sebagai kegagalan misi. Dengan demikian, mengikuti Kristus berarti bersedia berjalan di belakang-Nya dalam jalan salib. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Markus 8:27–33 memberikan koreksi teologis yang signifikan terhadap teologi kemuliaan dan menegaskan kembali pemuridan yang berakar pada salib, ketaatan, dan kesetiaan di tengah penderitaan.  
ETIKA KEPEMIMPINAN DAUD DALAM 1 TAWARIKH 29:10-13: KAJIAN EKSEGETIS DAN RELEVANSINYA BAGI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER Benediktus James Widya Darmaka; Edi Zakarijah; Herman Sjahthi; Andreas Andry Handiyanto
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study explores the ethical leadership principles derived from the Book of 1 Chronicles, focusing on the examples of leadership portrayed in the text. The background of the problem lies in the contemporary challenges faced by leaders in both public and private sectors, where ethical dilemmas frequently arise. The objective of this research is to identify and analyze the spiritual and moral values of leadership in 1 Chronicles and their applicability in modern leadership contexts. The methodology employed includes hermeneutic analysis and literature review, examining relevant biblical texts and contemporary leadership theories. The findings suggest that the values of humility, accountability, and service exemplified in 1 Chronicles can significantly enhance ethical leadership practices today. This research contributes to the discourse on leadership ethics by providing practical insights for contemporary leaders grounded in timeless spiritual principles.   AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi prinsip-prinsip etika kepemimpinan yang diambil dari Kitab 1 Tawarikh, dengan fokus pada contoh-contoh kepemimpinan yang ditampilkan dalam teks. Latar belakang masalah terletak pada tantangan kontemporer yang dihadapi oleh para pemimpin di sektor publik dan swasta, di mana dilema etika sering muncul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai spiritual dan moral dalam kepemimpinan yang terdapat dalam 1 Tawarikh dan penerapannya dalam konteks kepemimpinan modern. Metodologi yang digunakan meliputi analisis hermeneutik dan tinjauan literatur, dengan mengkaji teks-teks alkitabiah yang relevan dan teori kepemimpinan kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa nilai-nilai kerendahan hati, akuntabilitas, dan pelayanan yang dicontohkan dalam 1 Tawarikh dapat secara signifikan meningkatkan praktik etika kepemimpinan saat ini. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus etika kepemimpinan dengan menawarkan wawasan praktis bagi pemimpin masa kini yang berlandaskan pada prinsip-prinsip spiritual yang abadi.
INTEGRASI BIBLIOTHERAPY DAN JOURNALING DALAM PENDAMPINGAN PASTORAL REFLEKTIF BAGI REMAJA KRISTEN DALAM MENJALANI PACARAN Anto Oey; Juliana Hindradjat
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.581

Abstract

AbstractDating among Christian adolescents remains a complex challenge in pastoral care, often addressed through moralistic approaches that lack reflective depth. This study aims to develop a conceptual model of reflective pastoral counseling through the integration of bibliotherapy and journaling as creative, faith-based methods. Using a qualitative descriptive approach grounded in library research, the study synthesizes scholarly literature published between 2020 and 2025 in the fields of pastoral theology, adolescent psychology, and spiritual formation. The analysis reveals that bibliotherapy functions as a dialogical bridge between scriptural values and relational experiences, while journaling serves as a safe space for emotional regulation and spiritual self-reflection. The proposed model consists of three integrated stages: guided engagement with faith-based texts, reflective journaling as a spiritual discipline, and non-directive pastoral dialogue. This conceptual framework offers churches a theologically grounded yet psychologically informed alternative to moralistic counseling, fostering character formation and responsible relational maturity among Christian youth. Designed for practical implementation, the model requires future empirical validation through field-based trials.   AbstrakPacaran remaja Kristen masih menjadi tantangan kompleks dalam pelayanan pastoral, yang sering kali direspons melalui pendekatan moralistik tanpa kedalaman reflektif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model konseptual pendampingan pastoral reflektif melalui integrasi biblioterapi dan penjurnalan sebagai metode kreatif berbasis iman. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini mensintesis literatur ilmiah yang terbit antara tahun 2020 dan 2025 dalam bidang teologi pastoral, psikologi remaja, dan formasi spiritual. Analisis menunjukkan bahwa biblioterapi berfungsi sebagai jembatan dialogis antara nilai-nilai Alkitabiah dan pengalaman relasional, sedangkan penjurnalan berperan sebagai ruang aman bagi regulasi emosi dan refleksi spiritual diri. Model yang diusulkan terdiri atas tiga tahap terintegrasi: keterlibatan terpandu dengan teks berbasis iman, penjurnalan reflektif sebagai disiplin spiritual, dan dialog pastoral non-direktif. Kerangka konseptual ini menawarkan kepada jemaat suatu alternatif yang berakar pada teologi namun peka secara psikologis terhadap konseling moralistik, sehingga mendorong formasi karakter dan kedewasaan relasional yang bertanggung jawab di kalangan remaja Kristen. Model ini dirancang untuk penerapan praktis dan memerlukan validasi empiris lebih lanjut melalui uji coba lapangan.
Pastoral, Bukan Spekulatif: Resepsi Historis-Teologis Martin Luther atas Predestinasi: Pastoral, Not Speculative: Martin Luther’s Historical-Theological Reception of Predestination Bona Ventro Simatupang
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.583

Abstract

AbstractThe doctrine of predestination is often trapped in speculative misconceptions that reduce its depth to merely a Calvinist theological framework. This article aims to critically analyze the concept of predestination in the theology of Martin Luther and to trace the patterns of its reception and reinterpretation within the Calvinist tradition, the English Reformation, and Lutheran churches in Indonesia, with particular focus on Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Using a historical-theological method through literature study, this research demonstrates that, for Luther, predestination is not a rigid deterministic doctrine, but rather a logical consequence of the teaching of justification by faith and the radicality of God’s grace (Sola Gratia). The findings reveal significant differentiation in its reception: the Calvinist tradition develops it in a systematic-dogmatic manner, whereas Lutheran churches, including HKBP, position it as a source of consolation for the anxious soul. The primary contribution of this study is to reaffirm Luther’s predestination as a contextual pastoral theological category, while distinguishing it from the more normative and speculative doctrinal formulations within its recipient traditions. This study concludes that predestination, from a Lutheran perspective, functions as an anchor of assurance of faith, affirming that salvation is entirely secure in the hands of the faithful God, rather than in the fragility of human will.     AbstrakDoktrin predestinasi sering kali terjebak dalam miskonsepsi spekulatif yang mereduksi kedalamannya hanya pada kerangka teologi Calvinis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis konsep predestinasi dalam teologi Martin Luther serta menelusuri pola penerimaan dan reinterpretasinya dalam tradisi Calvinis, Reformasi Inggris, dan gereja Lutheran di Indonesia, dengan fokus pada Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Menggunakan metode historis-teologis melalui studi kepustakaan, penelitian ini menunjukkan bahwa predestinasi bagi Luther bukanlah doktrin deterministik yang kaku, melainkan konsekuensi logis dari ajaran pembenaran oleh iman dan radikalitas anugerah Allah (Sola Gratia). Hasil penelitian mengungkapkan adanya diferensiasi signifikan dalam resepsinya: tradisi Calvinis mengembangkannya secara sistematis-dogmatis, sementara gereja-gereja Lutheran, termasuk HKBP, menempatkannya sebagai sumber penghiburan bagi jiwa yang gelisah. Kontribusi utama penelitian ini adalah menegaskan kembali predestinasi Luther sebagai kategori teologis pastoral yang kontekstual, sekaligus membedakannya dari perumusan doktrin yang lebih normatif dan spekulatif dalam tradisi-tradisi reseptornya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa predestinasi dalam perspektif Lutheran merupakan jangkar kepastian iman yang memastikan keselamatan sepenuhnya aman di tangan Allah yang setia, bukan dalam rapuhnya kehendak manusia.
YOUTH SPIRITUALITY AND THE INFLUENCE OF CHURCH TEACHING IN THE ERA OF DIGITAL DISRUPTION: A QUALITATIVE STUDY OF CURRENT DEVELOPMENTS: SPIRITUALITAS KAUM MUDA DAN PENGARUH AJARAN GEREJA DI ERA DISRUPSI DIGITAL: SEBUAH STUDI KUALITATIF TERHADAP PERKEMBANGAN ZAMAN SAAT INI Leonardo Pebriadi Simanjuntak
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.584

Abstract

AbstractThis paper is a research conducted to find out how the church can implement its role in influencing the church's teaching on the spirituality of youth when facing an era of disruption. This research also aims to delve deeper into how youth spirituality in the church when entering the Era of Disruption, and it also aims to explore further the factors in youth understanding related to the growth of youth spirituality in the current Disruption period. Using a qualitative research method involving several resource persons who were youth from various churches, the approach was carried out in the form of interviews. The results obtained are that church youth have awareness of the challenges that occur in the present, technology itself can be a tool for the growth of spirituality if used very wisely, this also sees that contextual ministry is very effective in shaping the character and faith of youth, it is also seen that youth spirituality will not be separated from the dynamics of the times, but can still grow through various meaningful services.   AbstrakTulisan ini merupakan sebuah penelitian yang dilakukan guna untuk mencari tahu bagaimana gereja dapat mengimplementasikan perannya dalam memberikan pengaruh akan pengajaran gereja tentang spiritualitas para pemuda ketika menghadapi era disrupsi. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana spiritualitas pemuda dalam gereja ketika memasuki Era Disrupsi, serta hal ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai faktor-faktor dalam pemahaman pemuda terkait dari pertumbuhan spiritualitas pemuda di masa Disrupsi saat ini. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang melibatkan beberapa narasumber yang merupakan pemuda/I yang berasal dari berbagai gereja, pendekatan dilakukan dalam bentuk wawancara. Hasil yang diperoleh bahwa pemuda gereja memiliki kesadaran akan tantangan yang terjadi di masa sekarang, teknologi sendiri dapat menjadi alat pertumbuhan spiritualitas jika digunakan dengan sangat bijak, hal ini juga melihat bahwa pelayanan yang kontekstual sangat efektif dalam membentuk karakter dan iman pemuda, hal ini juga dilihat bahwa spiritualitas pemuda tidak akan terlepas dari dinamika zaman, namun tetap dapat bertumbuh melalui berbagai pelayanan yang bermakna.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA YADIKA 8 JATIMULYA Sheryohza Yosua
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.586

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the role of Christian Religious Education teachers in improving student learning outcomes at Yadika 8 Jatimulya Secondary School. The main issue identified is that some teachers tend to focus solely on cognitive aspects, while the integration of faith formation, character development, and exemplary living has not been fully realized. This condition affects student learning outcomes, which remain suboptimal across the domains of knowledge, attitudes, and skills. The research employed a qualitative method, with questionnaires used as supporting instruments to strengthen the data. The findings reveal that Christian Religious Education teachers at  Yadika 8 Jatimulya Secondary School have carried out their roles effectively, as perceived by the students. Teachers arrive on time, prepare materials thoroughly, communicate learning objectives clearly, and use language that is easy to understand, enabling students to grasp the lessons quickly. In conclusion, Christian Religious Education teachers are required not only to deliver knowledge but also to serve as role models of faith and character for students, thereby enhancing learning outcomes across knowledge, attitudes, and skills.   AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik di Sekolah Menengah Pertama  Yadika 8 Jatimulya. Permasalahan yang muncul adalah masih terdapat guru yang cenderung berfokus pada aspek kognitif semata, sehingga pembentukan iman, karakter, dan keteladanan hidup belum sepenuhnya terintegrasi. Kondisi ini berdampak pada Pendidikan Agama Kristen pada hasil belajar peserta didik yang belum optimal, baik dalam ranah pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan kuesioner sebagai instrumen pendukung untuk memperkuat data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Menengah Pertama Yadika 8 Jatimulya telah menjalankan peran secara baik dan nyata dirasakan oleh peserta didik. Guru hadir tepat waktu, menyiapkan materi dengan matang, menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga siswa cepat menangkap isi pelajaran. Kesimpulannya, guru Pendidikan Agama Kristen dituntut tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan iman dan karakter bagi peserta didik, sehingga hasil belajar dapat meningkat secara menyeluruh pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
CONSTRUCTING A CHRISTOCENTRIC LIQUID CHURCH: A SYSTEMATIC THEOLOGICAL STUDY OF LIQUID ECCLESIOLOGY ENGAGEMENT WITH HUMANISM IN THE MILLENIAL ERA: KONSTRUKSI LIQUID CHURCH KRISTOSENTRIS: KAJIAN TEOLOGI SISTEMATIKA TENTANG EKLESIOLOGI CAIR DALAM DIALOG DENGAN HUMANISME DI ERA MILENIAL Firman Simanjuntak; Daniel Simanjuntak
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 6 No. 1 (2026): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v6i1.589

Abstract

AbstractThis paper departs from the phenomenon of increasingly fluid patterns of church attendance, marked by digitalization and demands for cultural relevance. Its main objective is to construct a Christocentric ecclesiology through a critical reading of Pete Ward's concept of the liquid church. Using literature study and systematic theological analysis methods, this research shows that the integration of Christocentric ecclesiology and fluid ecclesiology produces the principle of a church that is “missionary in its fluidity” through digital networks and flexible relationships, but “dense in its Christocentric, doctrine, and sacraments,” so that liquidity does not turn into a spiritual market, but rather becomes a dynamic pilgrimage of faith for the church. This study emphasizes that the church needs to develop contextual theology and ministry models that are firmly rooted in Christ in facing the millennial era.   AbstrakTulisan ini berangkat dari fenomena perubahan pola menggereja yang semakin cair, ditandai dengan digitalisasi dan tuntutan relevansi budaya. Tujuan utamanya adalah mengkonstruksi eklesiologi Kristosentris melalui pembacaan kritis terhadap konsep liquid church yang ditawarkan Pete Ward. Dengan menggunakan metode studi literatur dan analisis teologi sistematika, penelitian ini menunjukkan bahwa intergrasi eklesiologi Kristosentris dan eklesiologi cair menghasilkan prinsip gereja yang “cair secara misioner” melalui jejaring digital dan relasi yang flekibel, tetapi “padat secara Kristosentris, doktrinal, dan sakramental,” sehingga likuiditas tidak berubah menjadi pasar rohani, melainkan menjadi dinamika penziarahan iman bagi gereja.  Penelitian ini menegaskan bahwa gereja perlu mengembangkan teologi dan model pelayanan yang kontekstual sekaligus berakar kuat kepada Kristus dalam menghadapi era millenial.