cover
Contact Name
Iswahyudi
Contact Email
jurnalrerum@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalrerum@gmail.com
Editorial Address
Moriah Square Jalan Kelapa Puan Raya. Ruko Verones No.24 Gading Serpong Timur Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua Kota Tangerang Selatan, Banten 15810
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Rerum: Journal of Biblical Practice
ISSN : -     EISSN : 28081455     DOI : 10.55076/rerum
RERUM: Journal of Biblical Practice (e-ISSN: 2808-1455) is a theological scientific journal with a Biblical Practical perspective which is a scientific forum for multidisciplinary academic journals published by the Institute for Research and Community Service (IRCS) of the Sekolah Tinggi Teologi Moriah together Indonesian Christian Theologian Association. Focus and Scope. The articles published in RERUM: Journal of Biblical Practice have a focus and scope on Christian religious education theology, pastoral theology, Christian leadership, missions, and church management. The publication of this journal will be carried out in one year as many as two times, namely in April and October.
Articles 43 Documents
REPRESENTASI TRADISI UPA-UPA (MANGUPA) SEBAGAI SIMBOL DALAM PENDIDIKAN KRISTIANI PADA MASYARAKAT BATAK Panggabean, Justice Zeni Zari
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 1 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i1.397

Abstract

The Mangupa-upa tradition is one of the cultural practices rooted in the value system of the Batak people, which has undergone a process of adaptation and transformation along with the entry of Christianity into the Batak Land. This study aims to examine how Mangupa-upa is not only maintained as a cultural heritage, but also reinterpreted as an expression of Christian faith in the context of modern Batak. Using library research methods and a phenomenological approach, this study analyses the symbolic meaning of Mangupa-upa and its transformation in the spiritual and social life of the Christian Batak community. The results show that symbolic elements in this tradition such as giving blessings, prayers, and wearing ulos have received theological reinterpretation as symbols of God's blessings, sending, and inheritance of faith. This transformation reflects the creative dynamics of inculturation between Christian faith and local culture. Furthermore, this study recommends the integration of Mangupa-upa values into the Christian religious education curriculum contextually as a means of relevant faith education rooted in cultural identity. Thus, Mangupa-upa is not only a symbol of tradition, but also a medium for spreading the Gospel which affirms noble values such as solidarity, gratitude, and prayer in the light of the Christian faith. Tradisi Mangupa-upa merupakan salah satu praktik budaya yang berakar dalam sistem nilai masyarakat Batak, yang telah mengalami proses adaptasi dan transformasi seiring masuknya Kekristenan ke Tanah Batak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Mangupa-upa tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dimaknai ulang sebagai ekspresi iman Kristen dalam konteks Batak modern. Dengan menggunakan metode penelitian pustaka dan pendekatan fenomenologis, kajian ini menganalisis makna simbolik dari Mangupa-upa dan transformasinya dalam kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Batak Kristen. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur-unsur simbolik dalam tradisi ini seperti pemberian berkat, doa, dan pemakaian ulos telah memperoleh reinterpretasi teologis sebagai lambang berkat Allah, pengutusan, serta pewarisan iman. Transformasi ini mencerminkan dinamika kreatif inkulturasi antara iman Kristen dan budaya lokal. Lebih lanjut, penelitian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai Mangupa-upa ke dalam kurikulum pendidikan agama Kristen secara kontekstual sebagai sarana pendidikan iman yang relevan dan berakar pada identitas budaya. Dengan demikian, Mangupa-upa tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga media pewartaan Injil yang mengafirmasi nilai-nilai luhur seperti solidaritas, syukur, dan doa dalam terang iman Kristen.
IMPLEMENTASI KETELADANAN PELAYANAN TUHAN YESUS KRISTUS BERDASARKAN YOHANES13:1-20 BAGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI KECAMATAN ANJONGAN KABUPATEN MEMPAWAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT Wahyuni, Sri; Hermina, Hermina; Uriptiningsih, Ana Lestari
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 1 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i1.406

Abstract

This study entitled Implementation of the Exemplary Service of the Lord Jesus Christ Based on John 13: 1-20 for Christian Religious Education Teachers in Anjongan District, Mempawah Regency, West Kalimantan Province. Aims to teach about the formation of students. Teachers do not only teach Christian Religious Education, but more about formation. because of the development of science and technology or changes in the era. Especially based on the curriculum of 1975, 1983, and 1993-1994. The hope is to achieve a perfect balance between the physical, mental, spiritual, and daily social life of students and teachers. by emphasizing the moral and ethical principles held by Christians. This study involved 75 Christian religious teachers in Anjongan District, Mempawah Regency, West Kalimantan. The research used quantitative with a descriptive method determined by the Likert scale method. The results of the study are in accordance with the first hypothesis proposed. Thus, the proposed hypothesis is declared accepted. It is known that the results of the calculation using the Confidence Interval statistic at a significance level of 5% produced Lower Bound and Upper Bound 174.5900 - 180.4827 which is in the medium interval, the second hypothesis test using linear regression analysis states that the Serving with love dimension (D1) has the highest determination value of 0.956 with a contribution to the endogenous variable of 90.4%, the third hypothesis test analysis According to Classification and regression trees (CRT), age is the most dominant background category. This forms the application of the example of Jesus Christ in serving based on John 13: 1-20 for Christian Teachers in Elementary Schools throughout Anjongan District, Mempawah Regency, West Kalimantan (Y). The age background is able to improve by 13.279 points. Penelitian ini yang berjudul Implementasi Keteladanan Pelayanan Tuhan Yesus Kristus Berdasarkan Yohanes13:1-20 Bagi Guru Pendidikan Agama  Kristen Di Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat. Bertujuan untuk mengajarkan tentang pembentukan peserta didik. Guru tidak hanya mengajarkan Pendidikan Agama Kristen, namu lebih ke pembentukan. karena kemjaun ilmu pengetahuan dan teknologi atau trasnpormasi zaman. Khususnya berdasarkan kurikulum tahun 1975, 1983, dan 1993-1994. Harapannya adalah untuk mencapai keseimbangan yang sempurna antara keberadaan fisik, mental, kerohanian, dan kehidupan sosial sehari-hari siswa dan guru. dengan menekankan prinsip-prinsip moral dan etika yang dipegang oleh umat Kristen. Studi ini melibatkan 75 guru agama kristen di Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Peneliatan mengunakan kuantitatf dengan metode deskriptif yang ditentukan metode skala likert. Hasil Penelitian sesuai dengan hipotesis pertama  yang diajukan. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. Diketahui hasil perhitungan dengan mengunakan statistik Confidence Interval pada taraf signifikansi 5% dihasilkan Lower Bound dan Upper Bound 174,5900 – 180,4827 yang berada pada interval sedang, pengujian Hipotesis kedua pengujian menggunakan analisis Regresi linear menyatakan dimensi Melayani dengan kasih (D1) memiliki nilai determinasi tertinggi yaitu 0,956 dengan kontribusi terhadap endogenous variabel sebesar 90,4%, pengujian Hipotesis ketiga  analisis Menurut Classification dan regression trees (CRT), usia adalah kategori latar belakang yang paling dominan. Ini membentuk penerapan contoh Yesus Kristus dalam melayani berdasarkan Yohanes 13:1-20 Bagi Kalangan Guru Kristen Di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat (Y). Latar belakang usia mampu memperbaiki sebesar 13,279 point.  
ETIKA PEMERINTAHAN BERBASIS MORALITAS KRISTEN DAN NASIONALISME: IMPLEMENTASI TEOLOGI POLITIK CALVIN DALAM KERANGKA SOEKARNO Timotius, Timotius
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.383

Abstract

This study explores the synergy between Christian morality, especially in the political theology of John Calvin, and Soekarno's nationalism in building governmental ethics in Indonesia. Christian morality in Calvin's political thought strongly emphasizes the values of integrity, honesty, accountability, love, and justice—values that are particularly relevant for addressing issues of corruption, abuse of power, and social inequality. Meanwhile, Soekarnoism prioritizes inclusive nationalism, the spirit of mutual cooperation (gotong royong), and national unity to advance the people's welfare. The author employs a qualitative approach through a literature review to examine the possibility of merging these two value systems to establish governance that is ethical, fair, and centered on people. The results show that this synergy can strengthen the principles of justice, public service, sustainable development, and responsible resource management, especially within the framework of Indonesia's pluralism. This analysis highlights the significance of cooperation among religions, cultures, and institutions in fostering a political culture that is healthy, transparent, and fair.. In the Indonesian context, this collaboration includes Christian values according to Calvin, Soekarno's nationally oriented nationalism, as well as Islamic morality which emphasizes trust (responsibility), ‘adl (justice), and ukhuwah (brotherhood). Thus, this study not only connects the ideas of two figures but also integrates them within the framework of national pluralism.   Penelitian ini mengeksplorasi sinergi antara moralitas Kristen terkhusus dalam teologi politik John Calvin, dan nasionalisme Soekarno dalam membangun etika pemerintahan di Indonesia. Moralitas Kristen dalam konsep politik Calvin sangat menekankan nilai-nilai integritas, kejujuran, akuntabilitas, kasih, dan keadilan yang relevan untuk menangani masalah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan sosial. Sementara itu, Soekarnoisme mengedepankan nasionalisme inklusif, semangat gotong royong, dan kesatuan bangsa untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif, di mana penulis akan meneliti potensi penggabungan kedua kerangka nilai ini untuk menciptakan pengelolaan pemerintahan yang etis, adil, dan berfokus pada kesejahteraan masyarakat. Hasilnya mengindikasikan bahwa kolaborasi ini dapat memperkuat prinsip keadilan, pelayanan publik, pembangunan berkelanjutan, dan manajemen sumber daya yang bertanggung jawab, terutama dalam konteks pluralisme di Indonesia.. Studi ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas agama, budaya, dan institusi untuk membangun budaya politik yang sehat, transparan, dan berkeadilan. Dalam konteks Indonesia, kolaborasi ini mencakup nilai-nilai Kristiani menurut Calvin, nasionalisme Soekarno yang bercorak kebangsaan, serta moralitas Islam yang menekankan amanah (tanggung jawab), ‘adl (keadilan), dan ukhuwah (persaudaraan). Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghubungkan pemikiran dua tokoh, tetapi juga mengintegrasikannya dalam kerangka pluralisme bangsa.
MERESPONS KETELADANAN KRISTUS SEBAGAI LANDASAN UTAMA KETIKA MENGALAMI PENDERITAAN: KAJIAN TEOLOGIS 1 PETRUS 2:18-25 Halawa, Fa’ahakhododo; Zega, Abad Jaya
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.392

Abstract

This research analyzes theologically how Christ's example serves as a guide for believers, as described in 1 Peter 2:18-25, as the main basis for dealing with suffering in the context of the Christian faith. This study aims to understand and analyze the principles of Christ's example in responding to suffering, such as patience, humility, and unconditional love. Peter advises Christians to continue to follow his example as a perfect model so that they remain calm and loving when facing unjust suffering, rather than retaliating or expressing hatred. This study uses a qualitative method with a literature study approach, which is an approach conducted by critically tracing and re-understanding various existing sources about the ministry of the word. The results show that Christ's example in suffering is not only a moral example, but also a profound and practical guide for Christ's followers in facing life's challenges. Through this analysis, it was found that emulating Christ with integrity and faith provides an important model for Christians in facing adversity. Christ's example also emphasizes that it is important to see suffering not merely as a test, but as part of the Christian calling to have faith and love one another. Thus, by following Christ's example, Christians are called to see suffering as an opportunity to grow spiritually and strengthen their faith in the divine, as well as to deepen their relationship with God. Finally, this study confirms that Christ's example provides a solid foundation for responding to suffering in a way that builds faith and strengthens spiritual integrity. Thus, Christians with the right character can not only overcome difficulties, but also witness the love and power of Christ in their journey through life in this world.   Penelitian ini menganalisis secara teologis bagaimana teladan Kristus menjadi petunjuk bagi orang percaya, sebagaimana dijelaskan dalam 1 Petrus 2: 18-25, menjadi dasar utama dalam menangani penderitaan dalam konteks iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis prinsip-prinsip teladan Kristus dalam merespons  penderitaan, seperti kesabaran, kerendahan hati, dan kasih tanpa syarat. Petrus menasihati umat Kristiani untuk tetap meneladaninya sebagai teladan yang sempurna supaya tetap tenang dan penuh kasih ketika menghadapi penderitaan yang tidak adil, dibanding membalas dendam atau mengungkapkan kebencian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu suatu pendekatan yang dilakukan dengan cara menelusuri dan memahami kembali secara kritis berbagai sumber yang ada tentang pelayanan sang firman. Hasil-Nya menunjukkan bahwa keteladanan Kristus dalam penderitaan bukan hanya sekedar teladan moral, namun juga menjadi pedoman yang mendalam dan praktis bagi para pengikut Kristus dalam menghadapi tantangan hidup. Melalui analisis ini, menemukan bahwa meneladani Kristus dengan integritas dan iman memberikan sebuah model penting bagi umat Kristiani untuk menghadapi kesengsaraan. Teladan Kristus juga menekankan bahwa penting untuk melihat penderitaan bukan sekedar ujian, namun sebagai bagian dari panggilan orang Kristen untuk beriman dan saling mengasihi. Maka, dengan mengikuti teladan Kristus, umat Kristiani dipanggil untuk melihat penderitaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh secara rohani dan memperkuat iman kepada sang ilahi, serta  memperdalam hubungan dengan Tuhan. Akhirnya penelitian ini menegaskan bahwa keteladanan Kristus menyediakan dasar yang solid untuk merespons penderitaan dengan cara yang membangun Iman dan memperkuat integritas rohani. Sehingga umat Kristiani dengan karakter yang benar tidak hanya dapat mengatasi kesulitan, tetapi juga menyaksikan kasih dan kuasa Kristus dalam perjalanan kehidupan di dunia.
KETEGUHAN IMAN DALAM PENDERITAAN: INTEGRASI AJARAN PAULUS DAN FALSAFAH SABAR NERIMO JAWA Pamarto, Ageng Asih
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.491

Abstract

This study aims to analyze the integration of Apostle Paul's teachings on steadfast faith in suffering and the sabar nerimo philosophy in Javanese culture. A qualitative descriptive method with a literature-based approach was applied, combining the analysis of biblical texts (Romans 5:3–5; Philippians 4:11–13) and Javanese manuscripts (Serat Wedhatama). The results indicate that both Paul’s teachings and Javanese philosophy view suffering as a means of character formation and spiritual development. Paul emphasizes suffering as a path to hope in Christ, while Javanese culture promotes patience and acceptance (nrimo ing pandum) as a form of practical wisdom. Together, these perspectives complement each other in building spiritual resilience and effective coping mechanisms. This article makes an original contribution to interdisciplinary studies in theology and culture, particularly in contextual theology and spiritual psychology, by bridging the teachings of Paul and the Javanese sabar nerimo philosophy, which has been rarely explored. The study is conceptual and literature-based, and has not yet been empirically tested. Future research is recommended to conduct empirical studies with Javanese Christian communities to explore the practical application of Paul’s teachings and sabar nerimo in daily life, thereby enhancing both conceptual validity and real-world relevance.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi antara ajaran Rasul Paulus tentang keteguhan iman dalam penderitaan dan konsep sabar nerimo dalam budaya Jawa. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan berbasis studi literatur, menggabungkan analisis teks Alkitab (Roma 5:3-5, Filipi 4:11-13) dan naskah Jawa (Serat Wedhatama). Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Paulus maupun filosofi Jawa memandang penderitaan sebagai sarana pembentukan karakter dan spiritualitas. Paulus menekankan penderitaan sebagai jalan menuju pengharapan dalam Kristus, sementara budaya Jawa mengajarkan kesabaran dan penerimaan (nrimo ing pandum) sebagai bentuk kebijaksanaan hidup. Kedua perspektif ini saling melengkapi dalam membangun ketahanan spiritual dan mekanisme koping yang efektif. Artikel ini memberikan kontribusi orisinal dalam kajian lintas teologi dan budaya, khususnya pada bidang teologi kontekstual dan psikologi spiritual, dengan mempertemukan ajaran Paulus dan falsafah Jawa yang sebelumnya belum banyak diteliti. Penelitian ini bersifat konseptual dan berbasis kajian pustaka, sehingga belum diuji secara empiris. Untuk penelitian lanjutan, disarankan studi empiris dengan responden masyarakat Jawa Kristen untuk mengeksplorasi penerapan ajaran Paulus dan sabar nerimo dalam praktik kehidupan sehari-hari, sehingga validitas dan relevansi konseptual dapat diperkuat.
DAVID AND BETHSHEBA: ADULTERY OR RAPE? Pardede, Harold; Iman, Anugrah Saro
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.492

Abstract

Different scholars offer various perspectives on the David and Bathsheba plotline part of 2 Samuel 11. Certain interpretations view it as a romantic tale, while others consider it a narrative of infidelity, meanwhile, some scholars interpret it as an account of David’s crime of sexually assaulting another man’s wife. Through this study, the author aims to clarify whether Bathsheba engaged in adultery with David or was a victim of rape. The research employs a qualitative approach with a descriptive analysis method. The author examines 2 Samuel 11 by conducting exegesis and analyzing the historical context provided within the text. Arguing from the study's results, the author posits Bathsheba as a victim of David's authority, not rape. This narrative urges caution in how we interpret it, as failing to view Bathsheba’s story as one of adultery may lead us to overlook the prevalence of sexual sin among God’s people and foster a tendency to unfairly blame women as the cause of adultery or rape.  Berbagai sarjana menawarkan perspektif yang berbeda-beda mengenai alur cerita Daud dan Batsyeba dalam 2 Samuel 11. Beberapa tafsir memandangnya sebagai kisah romantis, sementara yang lain menganggapnya sebagai narasi tentang perselingkuhan. Di sisi lain, beberapa sarjana menafsirkannya sebagai catatan tentang kejahatan Daud yang melakukan pelecehan seksual terhadap istri orang lain. Melalui studi ini, penulis bertujuan untuk mengklarifikasi apakah Batsyeba terlibat dalam perselingkuhan dengan Dauda atau menjadi korban pemerkosaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Penulis mengkaji 2 Samuel 11 melalui eksegesis dan menganalisis konteks historis yang terdapat dalam teks. Berdasarkan hasil penelitian, penulis berpendapat bahwa Batsyeba adalah korban dari kekuasaan Daud, bukan pemerkosaan. Narasi ini mendorong kehati-hatian dalam menafsirkannya, karena gagal melihat kisah Batsyeba sebagai kasus perzinahan dapat membuat kita mengabaikan prevalensi dosa seksual di kalangan umat Allah dan memicu kecenderungan untuk menyalahkan perempuan secara tidak adil sebagai penyebab perzinahan atau pemerkosaan.
THE MEANING OF COMMUNAL EATING ACCORDING TO JESUS AND THE THEOLOGICAL-MISSIOLOGICAL IMPLICATIONS FOR MINISTRY IN INDONESIA Lumintang, Ramly Donald Belly
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.501

Abstract

Eating together has become a tradition and custom deeply embedded in almost all ethnicities, races, and cultures in Indonesian society. Eating together is typically done during traditional and religious celebrations, and has even become a routine and programmed activity of churches. Eating together aims to foster intimacy, friendship, and family ties, fostering mutual tolerance. Sometimes, this purpose has faded, with eating together becoming simply a shared meal and then being finished. In the Gospels, Jesus also shared a meal with tax collectors and sinners, with the purpose of proclaiming the message of forgiveness of sins and eternal salvation. Jesus shared more than just a meal; it also had theological and missiological significance. The church must return to the principles of sitting down to a meal like Jesus'.
TEOLOGI EKUMENIS SEBAGAI WUJUD KASIH KRISTUS DALAM KEHIDUPAN OIKUMENIS Riski, Riski; Sjahthi, Herman; Darmaka, Benediktus James Widya
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 5 No. 2 (2025): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v5i2.506

Abstract

Ecumenical theology is a reflection of faith that affirms Christ's love as the foundation of church unity and ecumenicallife. Christ's love is understood as a unifying force that transcends differences in denomination, doctrine, or tradition, so that diversity is no longer seen as a barrier but as a richness of faith that enriches the body of Christ. Within this framework, ecumenism is not an attempt to erase the church's identity, but rather an effort to affirm the core of the Gospel, which is centered on God's unifying love. Through literature reviews, theologians emphasize the importance of dialogue and collaboration based on openness and honesty. Ecumenical dialogue does not simply bring together differing perspectives, but rather serves as a means of mutually enriching our understanding of faith and broadening our perspectives on God's work. Christ's love serves as a bridge that transcends historical and cultural barriers, enabling the church to see diversity as part of God's plan. Ecumenical life is understood as a call to present God's inclusive, transformative, and practical love. Inclusive love embraces differences, transformative love brings change toward justice and peace, and practical love is embodied in shared service. Thus, ecumenical theology does not stop at discourse, but becomes a concrete practice of Christ's love, proclaiming God's peace to the world.  Teologi ekumenis merupakan refleksi iman yang menegaskan kasih Kristus sebagai dasar persatuan gereja dan kehidupan oikumenis. Kasih Kristus dipahami sebagai kekuatan pemersatu yang melampaui perbedaan denominasi, doktrin, maupun tradisi, sehingga keberagaman tidak lagi dipandang sebagai penghalang, melainkan sebagai kekayaan iman yang memperkaya tubuh Kristus. Dalam kerangka ini, ekumenisme bukanlah upaya menghapus identitas gereja, melainkan usaha untuk menegaskan inti Injil yang berpusat pada kasih Allah yang menyatukan. Melalui kajian literatur, para teolog menekankan pentingnya dialog dan kerja sama yang dilandasi keterbukaan dan kejujuran. Dialog oikumenis tidak sekadar mempertemukan pandangan yang berbeda, melainkan menjadi sarana saling memperkaya pemahaman iman dan memperluas perspektif tentang karya Allah. Kasih Kristus menjadi jembatan yang mampu menembus sekat historis maupun kultural, sehingga gereja dapat melihat keberagaman sebagai bagian dari rencana Allah. Kehidupan oikumenis dipahami sebagai panggilan untuk menghadirkan kasih Allah yang inklusif, transformatif, dan praksis. Kasih yang inklusif menerima perbedaan, kasih yang transformatif membawa perubahan menuju keadilan dan perdamaian, dan kasih yang praksis diwujudkan dalam pelayanan bersama. Dengan demikian, teologi ekumenis tidak berhenti pada wacana, melainkan menjadi praksis nyata kasih Kristus yang menyatakan damai sejahtera Allah bagi dunia.
KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER KRISTIANI PESERTA DIDIK Nappu, Yumita; Manggi, Nelci Oktavianti; Mulyani, Sri
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 1 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i1.523

Abstract

Abstract Christian Religious Education (CRE) teachers are not only responsible for teaching religious knowledge. More importantly, PAK teachers serve as living role models. Therefore, possessing superior personality competencies that can serve as a role model, demonstrating love, honesty, discipline, and responsibility, is a primary requirement for a Christian Religious Education (CRE) teacher. This study aims to analyze the role of teachers' personality competencies in shaping students' Christian character. The method used in this research is qualitative. Data collection was carried out through literature studies, drawing from various relevant literature sources. The research results indicate that the personality competence of Christian Religious Education (CRE) teachers is very important in shaping the Christian character of students. Teachers with strong personality competencies can create a conducive learning environment and serve as a real role model for students, enabling them to internalize Christian values. In the process of actualizing personality competencies, there are supporting factors such as a conducive school environment, parental support, professional training, and commitment to Christian values, as well as hindering factors such as lack of training, high workload, low motivation, and the influence of the social environment. Therefore, spiritual guidance and cooperation between schools, churches, and the community are needed so that Christian Religious Education teachers can optimally actualize their personality competencies in shaping students' Christian character. Abstrak Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) tidak hanya berperan sebagai pengajar pengetahuan agama. Namun lebih dari itu, Guru PAK berperan sebagai suri teladan yang  hidup.  Untuk itu, memiliki kompetensi kepribadian yang unggul, yang mampu menjadi teladan, memiliki kasih, jujur, disiplin, dan tanggung jawab menjadi syarat utama sebagai seorang Guru PAK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kompetensi kepribadian guru PAK dalam membentuk karakter kristiani peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, dengan menggali dari berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) sangat penting dalam membentuk karakter Kristiani peserta didik.  Guru yang memiliki kompetensi kepribadian yang kuat mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta menjadi teladan yang nyata bagi peserta didik sehingga peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai Kristiani. Dalam proses aktualisasi kompetensi kepribadian, terdapat faktor pendukung seperti lingkungan sekolah yang kondusif, dukungan orang tua, pelatihan profesional, dan komitmen terhadap nilai Kristiani, serta faktor penghambat seperti kurangnya pelatihan, tingginya beban kerja, rendahnya motivasi, dan pengaruh lingkungan sosial. Karena itu, diperlukan pembinaan spiritual dan kerja sama antara sekolah, gereja, dan masyarakat agar guru PAK dapat mengaktualisasikan kompetensi kepribadiannya secara optimal dalam membentuk karakter Kristiani peserta didik.  
KAJIAN PESAN-PESAN PASTORAL DALAM 1 PETRUS 1:3-12 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN KONSELING KRISTEN TERHADAP ORANG PERCAYA YANG MENGALAMI PENDERITAAN KARENA IMAN Setiawan, Andreas; Putrawan, Bobby Kurnia
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 1 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i1.140

Abstract

The First Epistle of Peter was written in the context of the suffering of believers in Asia Minor who faced pressure and persecution because of their faith. This study aims to examine the pastoral messages in 1 Peter 1:3–12 as Peter's strategy in strengthening the congregation and exploring its implications for Christian counseling ministry today, especially for believers who are suffering. Using bibliographic study and biblical exegesis methods, this study analyzes the theological and pastoral meaning of the text, viewed from historical, literary, and contextual perspectives. The results of the study show that Peter emphasizes three main points: the certainty of salvation in Christ, the hope of eternal life, and Christ's example in facing suffering. Peter's pastoral message can be the basis for supportive Christian counseling, which is to help believers focus on Christ, maintain hope, and build steadfast faith so that they will not waver even when under pressure in life. Thus, 1 Peter is relevant as a guide for pastoral counseling that strengthens faith in the midst of suffering. Surat 1 Petrus ditulis dalam konteks penderitaan orang percaya di Asia Kecil yang menghadapi tekanan dan penganiayaan karena iman. Penelitian ini bertujuan menelaah pesan-pesan pastoral dalam 1 Petrus 1:3–12 sebagai strategi Petrus dalam menguatkan jemaat dan menggali implikasinya bagi pelayanan konseling Kristen masa kini, khususnya bagi orang percaya yang mengalami penderitaan. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan eksegesis teks Alkitab, penelitian ini menganalisis makna teologis dan pastoral dari teks tersebut, dilihat dari latar historis, literer, dan kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Petrus menekankan tiga hal utama: kepastian keselamatan dalam Kristus, pengharapan hidup yang kekal, serta keteladanan Kristus dalam menghadapi penderitaan. Implikasi praktisnya, pesan pastoral Petrus dapat menjadi dasar pelayanan konseling Kristen yang suportif, yakni menolong orang percaya mengarahkan pandangannya pada Kristus, memelihara pengharapan, dan membangun keteguhan iman agar tidak goyah sekalipun berada dalam tekanan hidup. Dengan demikian, surat 1 Petrus relevan sebagai pedoman konseling pastoral yang mengokohkan iman di tengah penderitaan.