cover
Contact Name
Abdullah Syahab
Contact Email
syahab@centrism.or.id
Phone
+6281278995932
Journal Mail Official
centrism@centrism.or.id
Editorial Address
Kertamukti - Cireundeu - Ciputat Timur - Banten 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Journal of Comprehensive Islamic Studies (JOCIS)
ISSN : 29624398     EISSN : 29624371     DOI : 10.56436/jocis
Fokus kajian Jurnal JOCIS antara lain: Pemikiran Islam dan Filsafat Pemikiran Ekonomi Islam Pemikiran Hukum Islam Pemikiran Pendidikan Islam Pemikiran Politik Islam Sosiologi Islam Psikologi Islam The focus of the JOCIS Journal study includes: Islamic Thought and Philosophy Islamic Economic Thought Islamic Legal Thought Islamic Education Thought Islamic Political Thought Islamic Sociology Islamic Psychology
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2024): Comprehensive Perspective on Islamic Studies" : 4 Documents clear
Etika Komunikasi Bagi Pengguna Media Sosial Menurut Al-Qur’an Anggraini, Novi
Journal of Comprehensive Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Comprehensive Perspective on Islamic Studies
Publisher : Center for Religious Studies and Social Empowerment Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56436/jocis.v3i1.242

Abstract

Social media has become the main platform for communicating and interacting in modern life. However, irresponsible use can lead to negative consequences such as slander, violations and misunderstandings. Therefore, it is important to understand the communication ethics indicated by the Al-Qur'an as a moral guideline in using social media. This article aims to outline the principles of communication ethics contained in the Al-Qur'an that can be applied by social media users. The research used is qualitative research of the Library Research type using the thematic interpretation method, collecting verses on communication ethics. The results of this research found that the communication ethics recommended according to the Al-Qur'an for social media users are closely related to the characteristics of social media users. Rasulullah SAW who is a role model for us, namely Siddiq, Amanah, Tabligh and Fatonah. Thus, these findings provide an overview of how the Al-Qur'an can be a source of inspiration for developing responsible and ethical communication behavior in the digital environment. Media sosial telah menjadi platform utama untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan modern. Namun, penggunaan yang tidak bertanggung jawab dapat mengarah pada konsekuensi negatif seperti fitnah, penghinaan, dan kesalahpahaman. Oleh karena itu, penting untuk memahami etika komunikasi yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an sebagai panduan moral dalam bermedia sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip etika komunikasi yang terkandung dalam Al-Qur'an yang dapat diterapkan oleh pengguna media sosial. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif jenis Library Research dengan menggunakan metode tafsir tematik, mengumpulkan ayat-ayat etika komunikasi.Hasil penelitian ini menemukan bahwasanya mengenai etika komunikasi yang dianjurkan menurut Al-Qur’an terhadap para pengguna media sosial, erat kaitanya dengan sifat-sifat Rasulullah SAW yang menjadi tauladan bagi kita, yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fatonah. Dengan demikian, hasil temuan ini memberikan pandangan tentang bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan perilaku komunikasi yang bertanggung jawab dan etis dalam lingkungan digital.
Kiai Leadership in Implementing Religious Moderation in Islamic Boarding Schools Parmoko, Parmoko; Muntholib, Muntholib; Badarussyamsi, Badarussyamsi
Journal of Comprehensive Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Comprehensive Perspective on Islamic Studies
Publisher : Center for Religious Studies and Social Empowerment Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56436/jocis.v3i1.308

Abstract

This article reveals the implementation of religious moderation as a hidden curriculum at the Al-Ishlah Islamic Boarding School, Jambi Province. This article comes from ethnographic research with a qualitative qualitative approach. The results of this research show that the factors behind religious moderation in this Islamic boarding school include; haliyah, ibrah, amtsal, syawir, and culture. The implementation of attitudes and values that reflect religious moderation in this Islamic boarding school is reflected in the attitudes and behavior of national commitment, tolerant attitudes, non-violence attitudes, and accommodating attitudes towards local culture. Barriers to religious moderation revolve around the institutional environment, fanaticism, family, and information media. The results achieved in implementing religious moderation in the hidden curriculum are found in the curriculum, teachers' personalities and students. The implementation of religious moderation that has been implemented in the hidden curriculum is reflected in the Islamic education model which is holistic and inclusively integrative spiritually based. Artikel ini mengungkap implementasi moderasi beragama sebagai hidden kurikulum di Pondok Pesantren Al-Ishlah Propinsi Jambi. Artikel ini berasal  dari penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang melatarbelakangi moderasi beragama di pondok pesantren ini antara lain; haliyah, ibrah, amtsal, syawir, dan kultur. Implementasi sikap dan nilai yang mencerminkan moderasi beragama di Pesantren ini tergambar dalam sikap dan perilaku komitmen kebangsaan, sikap toleran, sikap anti kekerasan, sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Hambatan moderasi beragama berkisar pada lingkungan lembaga, fanatisme, keluarga, dan media informasi. Hasil yang dicapai dalam penerapan moderasi beragama pada hidden kurikulum terdapat dalam kurikulum, pribadi guru, dan santri. Implementasi moderasi beragama yang telah diterapkan dalam hidden kurikulum tercermin dalam model pendidikan Islam yang berbasis spiritual holistik dan inklusif integratif.
Bid‘ah and Its Implementaton on Wahhabi’s Concept Noor Rohmad, Rudik; Ritonga, A. Husein; Al-Munawwar, S. Sagap
Journal of Comprehensive Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Comprehensive Perspective on Islamic Studies
Publisher : Center for Religious Studies and Social Empowerment Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56436/jocis.v3i1.324

Abstract

This article discusses the concept of heresy from the Wahhabi perspective who live in Jambi. The main problem is how Wahhabis conceptualize and implement bid‘ah in their worship practices. This article comes from qualitative research with a phenomenological approach. Data collection was carried out through observations made at several mosques used for activities. The data sources in this research are library data consisting of books, books, journals and field data obtained from observations. The results of the research show that for Wahhabis, bid‘ah is making things up or creating new things in worship that have never been prescribed. For Wahhabis, what is called worship must have a determined type, number, procedure and time. However, not all worship that did not exist during the time of the Prophet or was never exemplified by the Prophet can be called heretical. Artikel ini membahas tentang konsep bid‘ah perspektif Wahhabi yang berdomisili di Jambi. Permasalahan utamanya adalah bagaimana Wahhabi mengkonsepsikan dan mengimplementasikan bid‘ah dalam praktik ibadah mereka. Artikel ini berasal dari penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi yang dilakukan di beberapa masjid yang digunakan untuk kegiatan. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah data kepustakaan yang terdiri dari Kitab, buku, journal, dan data lapangan yang diperoleh dari observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi Wahhabi, bid‘ah adalah mengada-ada atau membuat hal baru dalam ibadah yang tidak pernah disyari’atkan. Bagi Wahhabi, yang disebut ibadah pastilah sudah ditentukan jenisnya, bilangannya, tata caranya, dan waktunya. Namun demikian, tidak semua ibadah yang tidak ada pada zaman Nabi ataupun tidak pernah dicontohkan oleh Nabi bisa disebut sebagai sesat.
Kajian Living Qur’an atas Tradisi Pembacaan Manakib Samman Hayat, Nurul; Gaffar, Abdul; Firdaus, Abd.
Journal of Comprehensive Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Comprehensive Perspective on Islamic Studies
Publisher : Center for Religious Studies and Social Empowerment Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56436/jocis.v3i1.286

Abstract

This study describes the community's understanding of the tradition of reciting the Samman manakib. This tradition is one of the living Qur'an phenomena in Bukit Sulah Village, Batang Asai District, Sarolangun Regency, Jambi Province. This article comes from qualitative research using the living Qur'an study method and a phenomenological approach, namely observing people who carry out traditions in the research environment, interacting with tradition actors, trying to understand, and studying the meaning of tradition. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the recitation of the Samman manakib aims to change the animist tradition that exists in the community such as worshiping something supernatural, trees, and the Sulah hill. As time goes by, the tradition of reciting the manakib is still carried out today with various specific intentions and purposes. Penelitian ini memaparkan tentang pemahaman masyarakat terhadap tradisi pembacaan manakib Samman. Tradisi ini merupakan salah satu dari fenomena living Qur’an yang ada di Desa Bukit Sulah Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. artikel ini berasal dari penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kajian living Qur’an dan pendekatan fenomenologi yaitu mengamati orang yang melakukan tradisi dalam lingkungan penelitian, berinteraksi dengan pelaku tradisi, berusaha memahami, dan mengkaji makna tradisi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, interview, dan dokumuntasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembacaan manakib Samman bertujuan untuk mengubah tradisi animisme yang ada ditengah masyarakat seperti menyembah sesuatu yang gaib, pepohonan, dan bukit sulah. Seiring berkembangnya waktu, tradisi pembacaan manakib masih tetap dilaksanakan hingga kini dengan berbagai maksud dan tujuan tertentu.

Page 1 of 1 | Total Record : 4