cover
Contact Name
Amran
Contact Email
amran.sejaro@gmail.com
Phone
+6285216499989
Journal Mail Official
amran.sejaro@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapangan Bola No.34i, RT.4/RW.10, Kb. Jeruk, Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11450
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship
ISSN : 27758842     EISSN : 2775720x     DOI : -
TEMISIEN merupakan jurnal online yang mempublikasi hasil penelitian para dosen, baik di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta, maupun institusi lain yang memiliki kajian serupa di bidang Teologi, Misi, dan Entrepreneurship. TEMISIEN dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta, yang terbit dua kali dalam setahun, yakni setiap Maret dan September. TEMISIEN menerima naskah hasil penelitian dari setiap dosen, dengan Focus dan Scope pada bidang: 1. Teologi 2. Misiologi 3. Entrepreneurship Biblikal Naskah yang diserahkan akan diproses dengan menggunakan sistem double-blind review.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1: Maret 2023" : 5 Documents clear
Menyiapkan Gereja Figital melalui Dual Literasi sebagai Upaya Merespons Metaverse Carolina Etnasari Anjaya; Andreas Fernando; Yonatan Alex Arifianto
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.77

Abstract

The presence of the metaverse as a new generation of virtual worlds raises pro and con responses from the community, including the church. A proper response is needed in dealing with the presence of the metaverse so that the church will not lose its existential-forming aspects. This study was prepared to provide enlightenment or ideas for the church to criticize and welcome the existence of the metaverse according to the teachings of the Christian faith. The method used is qualitative with literature study techniques. The study found that the church must still be physically present to fulfill its essence and carry out incarnational relations. Still, at the same time, it must prepare itself to accept the metaverse as an instrument of future ministry. In this case, the effort that can be made is the dual literacy method, namely, carrying out two central literacy: life literacy and digital literacy in church. Literacy of life means striving for the development of the congregation's faith toward perfection and preparation for acceptance of the metaverse as a service tool through the development of digital literacy. The literacy of the congregation's life is the basis so digital literacy can run according to the corridor of truth. This dual literacy can be actualized through various activities and programs. AbstrakKehadiran metaverse sebagai dunia virtual generasi baru memunculkan respons pro dan kontra dari masyarakat termasuk kalangan gereja. Dibutuhkan respons yang benar dalam menghadapi kehadiran metaverse sehingga gereja tidak akan kehilangan aspek-aspek pembentuk eksistensinya. Kajian ini disusun dengan maksud agar dapat memberikan pencerahan bagi gereja dalam upaya mengkritisi dan menyambut keberadaan metaverse sesuai ajaran iman Kristen. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif dengan teknik studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa gereja perlu menjalankan gereja figital (phygital) yang berarti melakukan penguatan sebagai gereja dalam bentuk fisik dan bersiap memanfaatkan layanan digital: metaverse. Pengaktualisasiannya  gereja tetap  hadir secara fisik untuk memenuhi hakikatnya sesuai aspek Alkitabiah dan menjalankan relasi inkarnasional namun sekaligus perlu menyiapkan diri menerima metaverse sebagai instrumen pelayanan masa depan. Usulan metode yang dapat digunakan adalah dual litersi yaitu literasi kehidupan dan literasi digital dalam bergereja. Literasi kehidupan berarti mengupayakan perkembangan iman jemaat menuju kesempurnaan dan persiapan akseptasi metaverse sebagai alat bantu pelayanan melalui pengembangan literasi digital. Literasi kehidupan jemaat menjadi dasar agar literasi digital dapat berjalan sesuai koridor kebenaran. Dual literasi ini dapat diaktualisasikan melalui pelbagai aktivitas dan program. 
Optimalisasi Pelayanan Digital dalam Misi Penjangkauan Homo Digitalis Yovianus Epan; Pebri Hariawan
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.58

Abstract

The 21st century places digital technology as a basic need and lifestyle for today's society. Discussing technology cannot be separated from the industrial revolution 4.0, and the three main icons are IoT (Internet of Things), e-commerce, and social media. In these three icons, technology plays a significant role in creating the era of social society 5.0 and creating a communication society or homo digitalis, people who always project themselves in digital media to show their existence. This research aims to stimulate the church to adapt to technology to carry out Christian missions through digital and digital-based services. This aims to reach homo digitalis. The qualitative method used in this paper describes and analyzes and describes the results of the topic mapping. AbstrakAbad ke-21 menempatkan teknologi digital menjadi kebutuhan yang mendasar dan gaya hidup masyarakat saat ini. Membahas teknologi tentu tidak dapat dilepaskan dari revolusi industri 4.0 dan tiga ikon utama di dalamnya ialah IoT (internet of things), e-commerce, dan sosial media. Pada ketiga ikon tersebut teknologi sangat berperan besar sehingga terciptanya era social society 5.0 dan terciptalah masyarakat komunikasi atau homo digitalis orang-orang yang selalu memperoyeksikan dirinya dalam media digital untuk menunjukan eksistensinya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menstimulasi gereja secara umum untuk mampu beradaptasi dengan teknologi, sehingga dalam pemanfaatannya gereja mampu menjalankan misi Kristen dalam bentuk misi digital dan pelayanan yang berbasis digital. Hal ini bertujuan untuk menjangkau homo digitalis. Metode kualitatif yang digunakan dalam penulisan ini mendeskripsikan dan menganalisis serta menguraikannya hasil peme-taan topik bahasan. 
Klaim Kebenaran Agama: Sebuah Refleksi Komparatif Pemikiran John Hick dan Alvin Platinga Lidia Krismawati; Eko Winarto; Kevin Marthin; Polina Palayukan; Oda Lase; Tryo Agus Purwanto
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.110

Abstract

Religion should be a pioneer in building an ethical attitude in viewing every difference amid multiculturalism and religious plurality. Claims of truth that are unique to every religion should be a legacy that can become a bridge for adherents of religions to have higher and better ethical awareness. Distorting truth claims, as proposed by Hick, is not a good solution for building diversity. Because truth claims are inherited from a belief that should be maintained and deepened. The problem of tensions between religious adherents is not due to truth claims but the need for more awareness of every religious adherent to ethical values in building interfaith tolerance. To build this ethical awareness, Plantinga proposes a bridge in the realm of shared awareness of God's existence. This awareness encourages every religious adherent to respect the existence of other religious people different from God's creation. In addition to awareness of God's existence, Yunus added this bridge in the Indonesian context to build community culture, which contains ethical awareness to respect adherents of different religions, as proposed by Darmaputera and Suseno. AbstrakAgama seharusnya menjadi pionir dalam membangun sikap etis dalam memandang setiap perbedaan ditengah multikultural dan pluralitas agama. Klaim kebenaran yang menjadi keunikan setiap agama seharusnya menjadi warisan yang dapat menjadi jembatan bagi penganut agama untuk memiliki kesadaran etis yang semakin tinggi dan baik. Mendistorsi klaim kebenaran seperti yang digagas oleh Hick bukanlah solusi yang baik dalam membangun keberagaman. Sebab klaim kebenaran merupakan warisan dari sebuah keyakinan yang seharusnya diperlihara dan diperdalam. Persoalan adanya ketegangan antarumat beragama pada dasarnya bukan karena klaim kebenaran tetapi kurangnya kesadaran setiap penganut  agama terhadap nilai etis dalam membangun toleransi antarumat beragama. Untuk membangun kesadaran etis tersebut, Plantinga mengusulkan jembatan dalam ranah kesadaran bersama akan keberadaan Allah. Kesadaran ini mendorong setiap penganut agama menghargai keberadaan umat agama yang lain yang berbeda sebagai ciptaan Allah. Selain kesadaran akan keberadan Tuhan, jembatan tersebut dalam konteks Indonesia juga ditambahkan oleh Yunus dalam bangunan kultur masyarakat, yang di dalamnya mengandung kesadaran etis untuk menghargai penganut agama yang berbeda, seperti yang diusulkan oleh Darmaputera dan Suseno. 
Gereja sebagai Persekutuan Sejati di Era Digital Tarianus Ndruru
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.59

Abstract

The critical role of the church in maintaining the true fellowship of God's people in the digital era. Without eliminating the things that are not too principle in the fellowship of believers with God, such as a place to worship together face to face. The virtual church today is indeed one of the challenges for the congregation of God's people because if you follow the development of the virtual church that is growing today. The author sees that the worship carried out could be more productive. There will often be pros and cons, and the emotional relationship of the congregation to others in the same organization has a very far difference. By preserving the fellowship of God's people without being limited to digital progress, the church must explicitly maintain the substance of the church today. In this article, the research uses a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. The results of this study seek to maintain the substance of the church today amid the progress of a growing virtual church. AbstrakPentingnya peran gereja dalam menjaga persekutuan sejati umat Allah pada era di gital. Tanpa meniadakan hal-hal yang tidak terlalu prinsip didalam persekutuan orang-orang percaya dengan Allah seperti tempat untuk beribadah bersama-sama secara tatap muka. Gereja virtual pada masa kini memang merupakan salah satu tantangan bagi jemaat umat Allah, sebab jika dengan mengikuti perkembangan gereja virtual yang sedang bertumbuh sekarang ini. Penulis melihat bahwa ibadah yang dilakukan kurang produktif, bahkan akan sering terjadi pro-kontra dan hubungan emosional jemaat terhadap sesama didalam satu organisasi tersebut memiliki perbedaan yang sangat jauh. Dengan menjaga persekutuan umat Allah tanpa dibatasi pada kemajuan di gital, gereja secara eksplisit harus tetap memelihara substansi gereja pada masa kini. Dalam penelitian artikel ini menggunakan salah satu metode kualititat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini berupaya mempertahankan substansi gereja pada masa kini ditengah-tengah kemajuan gereja virtual yang sedang bertumbuh.  
Memetakan Tantangan dan Peluang Gereja melalui Teknologi Metaverse Tolop Oloan Marbun
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.55

Abstract

This article examines the metaverse as an opportunity and challenge for the church in the future. Metaverse can be a huge opportunity and also as challenging for the church. The purpose of this article is to describe opportunities that churches have in the metaverse and the challenges which churches encounter. The method is qualitative research on literature study. The result is that churches have opportunities such as buying land and building the virtual church. The church also runs virtual service, ministry, cell group, bible study, and evangelization. The challenge is such as not all churches will be able to afford virtual church, not all churches will engage with metaverse, not all congregations will have an account on metaverse, the congregation might be disconnected from their reality, uncontrol promiscuity, uncontrol false teaching, and virtual crimes. In conclusion, churches have opportunities to optimize their virtual ministry in the metaverse and must be ready to solve any challenges. The author suggests that the churches start virtual church services, and the next researcher examines the metaverse application in virtual church ministry.  AbstrakArtikel membahas metaverse sebagai peluang dan tantangan bagi gereja masa depan. Metaverse bisa menjadi peluang besar bagi gereja dan bisa juga sekaligus menjadi tantangan bagi gereja. Tujuan dari artikel ini memamparkan peluang-peluang yang dimiliki gereja di masa depan dan tantangan-tantangannya. Metode yang digunakan penelitian kualiatif model studi pustaka. Adapun hasil penelitian ini gereja memiliki peluang-peluang di metaverse; gereja bisa membeli lahan dan membangun gereja virtual, gereja bisa mengadakan ibadah virtual, komunitas sel virtual, pelayanan virtual, pendalaman Alkitab virtual serta penginjilan virtual. Tantangan bagi gereja ialah tidak bisa gereka mampu memiliki akun metaverse, tidak semua gereja melek metaverse, tidak semua jemaat mampu memiliki akun metaverse, jemaat bisa terhilang di metaverse, pengaulan bebas yang tidak terkendali, pengajasaran sesat semakin meraja lela serta kejahatan virtual. Kesimpulannya gereja memiliki peluang untuk mengoptimalkan pelayanan di metaverse dan geraja juga harus mempersiapkan diri untuk mengatasi tantangannya. Saran untuk bagi gereja segera miliki gereja virtual. Saran untuk peneliti berikutnya untuk bisa membahas applikasi metaverse dalam pelayanan gerejawi. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5