cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2003)" : 8 Documents clear
Penelitian Berwawasan Gender dalam Ilmu Sosial Irwan Abdullah
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.832 KB) | DOI: 10.22146/jh.794

Abstract

Sebagai sebuah proses sosial, konstruksi realitas itu bertumpu pada istilah dan nilai yang dibawa oleh sebuah bahasa yang digunakan untuk menjadi kekuatan dalam pencitraan. Proses itu juga menunjuk kepada faktor sejarah yang di dalamnya terkandung pengertian bahwa konstruksi realitas perempuan memiliki akar dan tahapan-tahapan yang kompleks. Kompleksitas realitas kehidupan kaum perempuan dapat ditinjau dari dua sudut. Pertama, realitas itu tersusun dari unsurunsur yang begitu luas yang menyebabkan pemahaman dan penelitian terhadap realitas itu harus mengindentifikasikan unsur-unsur tersebut dan melihat kaitan antarunsur yang terdapat dalam susunan itu. Tanpa usaha yang sistematis untuk memilah-milah dan menghubung-hubungkan unsur-unsur yang menyusun realitas, tidak akan diperoleh suatu pemahaman yang dalam tentang apa, siapa, dan bagaimana kaum perempuan itu. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa unsurunsur penyusun realitas itu berupa agama, budaya, ekonomi, politik, atau lingkungan fisik suatu tempat. Dalam kenyataannya, unsur-unsur tersebut tidak dapat diabaikan. Ketimpangan gender, misalnya, dapat berkaitan dengan "budaya" dan "ekonomi". Keluarga dari kebudayaan yang sama di desa yang sama memperlihatkan pola hubungan laki-laki dan perempuan yang berbeda karena kemampuan ekonomi keluarga itu berbeda. Lebih khusus lagi unsur-unsur tersebut dapat dirinci menjadi, misalnya, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan partai, dan lingkungan tempat tinggal. Kedua, realitas hidup kaum perempuan tersusun dari unsur yang berlapis-lapis yang menyebabkan usaha penelitian menjadi usaha mengupas lapis demi lapis unsur untuk menemukan realitas tersebut. Lapislapis ini telah menyebabkan realitas hidup kaum perempuan tidak ubahnya suatu misteri yang perlu diungkapkan dengan membuka lapis demi lapis sebelum ditemukan apa, siapa, dan bagaimana sesungguhnya kaum perempuan itu. Susunan yang berlapis-lapis ini terutama disebabkan oleh proses sejarah. Misalnya, pada lapis ekonomi, harus dilihat apakah ketimpangan gender tersusun atas dasar pembagian kerja pertanian yang berkaitan dengan sumber daya ekonomi yang dimiliki masyarakat dan dipengaruhi oleh kesempatan kerja yang dimiliki suatu rumah tangga. Lapis-lapis ini dibuka satu per satu untuk mengetahui hakikat realitas dan hubungan gender.
Novel-novel Pramoedya Ananta Toer: Refleksi Pendegradasian Dan Interpretasi Makna Perjuangan Martabat Manusia IB Putera Manuaba
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.317 KB) | DOI: 10.22146/jh.795

Abstract

Satu gejala sosial yang merebak dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pendegradasian martabat manusia. Gejala ini sesungguhnya telah berlangsung sejak lama. Akan tetapi, selama ini belum tampak dilakukan penanganan yang serius sehingga pendegradasian martabat manusia hampir berlangsung terusmenerus. Di era "reformasi" yang konon mulai memperhatikan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, ternyata kita masih menyaksikan berbagai tindakan pendegradasian martabat manusia dalam pelbagai segmen kehidupan ini. Dengan perkataan lain, sampai saat ini, kita menyaksikan masyarakat yang masih belum dapat menunjukkan sikap hidup dan kepribadian yang mencerminkan penghormatan kepada martabat manusia. Buktinya, berbagai daerah di Tanah Air masih sarat dengan tindakan kekerasan (violence) atas kemanusiaan. Fenomena pendegradasian ini secara kental terefleksikan dalam novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut: Toer), seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan merupakan salah satu pihak yang berkomitmen melakukan peningkatan martabat manusia. Lewat representasi realitas sosial dalam karya-karya sastranya, tampak Toer melontarkan berbagai pemikiran yang sarat dengan pesan-pesan (message) perjuangan dan penghargaan kemanusiaan. Toer adalah sastrawan yang fenomenal dan menarik dibahas berkait dengan persoalan perjuangan martabat manusia (Heryanto, 1998:5; Manuaba, 2000a:144- 145). Menarik bukan hanya karena karyakaryanya dalam waktu yang cukup lama dilarang penguasa, melainkan terutama karena dipandang mampu menyuguhkan refleksi pengangkatan martabat manusia. Jika disimak karya-karya Toer, hampir keseluruhan karyanya bertemakan soal kemanusiaan (humanity).
Peran Dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran Wisma Nugraha Christianto
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.436 KB) | DOI: 10.22146/jh.796

Abstract

Wayang Kulit gaya Jawa Timuran adalah sebuah seni pergelaran lakon yang mempergelarkan lakon-lakon atau cerita dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, sama halnya dengan seni pergelaran wayang kulit di daerah lain (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan daerah lainnya). Secara geografis, tradisi pedalangan Jawa Timuran berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara di sekitar wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, sebagian wilayah Kabupaten Lamongan, dan sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. Di wilayah Malang, terdapat tradisi pedalangan yang mirip dengan tradisi yang ada di Jawa Timuran, tetapi masyarakat Malang dan kelompok masyarakat tradisi Jawa Timuran menyebut sebagai tradisi Malangan. Dunia seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran belum banyak menarik minat peneliti sastra dan kesenian di Indonesia karena dianggap sebagai seni daerah Pesisiran yang diasumsikan kurang menarik dibandingkan dengan dunia kesenian di lingkup keraton (Yogyakarta dan Surakarta). Seni pedalangan dan pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran merupakan sebuah dunia seni pertunjukan rakyat yang tidak banyak mendapat campur tangan kepentingan keraton dari berbagai aspek sosial, politik, kultural, dan aspek-aspek pragmatik lainnya. Ia tumbuh alami di desa-desa pewaris dan pelestari tradisinya sesuai dengan dinamika dan tataran pengetahuannya. Tokoh Semar dalam kehidupan seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dan agak berbeda dibandingkan perannya dalam dunia pergelaran wayang Jawa Tengahan dan Yogyakarta. Melalui tokoh Semar, kiranya dapat dipahami bagaimana konstruk sebuah lakon dipergelarkan dan bagaimana lakon diberi makna atau dikomunikasikan kepada publik. Sebaliknya, publik menghayati dan menangkap pesan lakon melalui peran tokoh Semar.
Gaya Bahasa Perbandingan dalam Serat Nitipraja Arsanti Wulandari
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.162 KB) | DOI: 10.22146/jh.797

Abstract

Serat Nitipraja (selanjutnya disebut SNP) yang ditulis pada 1643 merupakan salah satu karya sastra Jawa yang digolongkan sebagai sastra piwulang. Pengertian sastra piwulang adalah karya sastra yang di dalamnya terkandung ajaran moral dan sikap hidup (Sudewa, 1991:3). Sejalan dengan pendapat tersebut, terdapat satu pernyataan bahwa karya sastra lama dapat dijadikan sumber informasi masa lalu ataupun bahan ajar untuk masa sekarang untuk hal-hal yang masih relevan (Robson, 1978:5). Demikian halnya dengan teks SNP. Teks SNP memberikan gambaran mengenai kriteria seorang pemimpin. Piwulang yang terdapat pada SNP adalah piwulang yang ditujukan kepada para pemimpin kerajaan, dalam hal ini raja, bupati, dan petinggi kerajaan lainnya. Piwulang tersebut dikemas dalam bentuk kebahasaan yang unik, yaitu disajikan dengan perumpamaan-perumpamaan yang patut untuk dikaji lebih jauh maknanya.
Satuan Lingual Penanda Gender Sulis Triyono
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.877 KB) | DOI: 10.22146/jh.798

Abstract

Bahasa sebagai suatu sistem memiliki seperangkat subsistem yang masing-masing mengorganisasikan komponen- komponennya sehingga membentuk keteraturan yang sistemik. Perangkat subsistem yang dimaksud adalah subsistem bunyi, subsistem gramatikal, dan subsistem makna. Tiap-tiap subsistem itu memiliki unsur-unsur yang secara terorganisasi membentuk subsistemnya sendiri-sendiri. Unsur-unsur subsistem yang dimaksud adalah fonem sebagai satuan lingual terkecil sampai wacana sebagai satuan yang terbesar. Satuan-satuan lingual tersebut memiliki fungsi masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai penanda jumlah (number), penanda kala (tenses), dan ada pula yang berfungsi sebagai penanda jenis kelamin (gender). Penandaan yang berkenaan dengan jumlah, dalam bahasa Indonesia misalnya, ditandai dengan digunakannya satuan lingual berupa bentuk perulangan (reduplikasi), misalnya: dari kata rumah menjadi rumah-rumah 'banyak rumah'; kata memukul menjadi memukul-mukul 'berkalikali memukul', dan sebagainya. Sementara itu, satuan lingual sebagai pewujud keterangan waktu dapat berupa kata seperti: kemarin, sekarang, besok , dan sebagainya. Dalam hubungan dengan satuan lingual penanda gender dalam bahasa Indonesia cenderung dipengaruhi oleh faktor sosiobudaya dan semantis. Walaupun demikian, aspek-aspek kebahasaan seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis tidak mustahil juga berpengaruh. Dengan kata lain, satuan lingual penanda gender mungkin dapat berwujud fonem, morfem, kata, dan frasa. Misalnya, dalam tataran fonologi, fonem /a/ dapat menandai gender maskulin, sedangkan fonem /i/ menandai gender feminin seperti terlihat pada contoh kata putra dan putri. Kata putra mengacu pada gender maskulin, sedangkan kata putri mengacu pada gender feminin. Perbedaan antara kedua kata itu semata-mata hanya karena perbedaan fonem /a/ pada kata putra dan fonem /i/ pada kata putri. Dengan kata lain, perbedaan kedua gender tersebut berada pada tataran fonologis. Kata-kata lain yang beranalogi dengan pasangan di atas, sekalipun jumlahnya terbatas, terdapat pada pasangan kata-kata dewa-dewi, siswa-siswi, muda-mudi, dan sebagainya.
Analisis Kesalahan Sintaksis Bahasa Prancis Oleh PEmbelajar Berbahasa indonesia: Sebuah Studi Kasus Roswita Lumban Tobing
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.69 KB) | DOI: 10.22146/jh.799

Abstract

Bahasa Prancis bagi pembelajar berbahasa Indonesia merupakan bahasa asing (selanjutnya disebut B2). Bahasa Prancis dipelajari setelah pembelajar menguasai bahasa Indonesia (B1). Penggunaan dua bahasa (Indonesia yang lebih dikuasai dari bahasa Prancis yang sedang dipelajari) menyebabkan terjadinya pencampuran unsur struktur dan kosa kata kedua bahasa tersebut, apalagi jika bahasa tersebut berasal dari rumpun yang berbeda. Karena itu, akan terjadi kesalahan-kesalahan yang salah satunya disebabkan oleh pengaruh dari B1. Bahasa Indonesia memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dengan bahasa Prancis. Bahasa Indonesia termasuk kategori bahasa aglutinatif yang tidak mengenal adanya perubahan bentuk verba, sedangkan bahasa Prancis termasuk kategori bahasa fleksi yang mengalami konjugasi verba serta deklinasi nomina dan ajektiva (Cristal,1992: 297).
Variasi Fonologis Pemakaian Bahasa Jawa Di Pusat Kota Dan Daerah Pinggiran Bagian Utara Kabupaten Grobogan Wening Sahayu
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.33 KB) | DOI: 10.22146/jh.800

Abstract

Kabupaten Grobogan adalah kabupaten yang wilayahnya terletak di Propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 64 km ke arah timur dari ibu kota Propinsi Jawa Tengah. Sarana Transportasi yang menghubungkan wilayah ini dengan ibu kota Propinsi dan wilayah-wilayah yang lain relatif baik dan lancar, sehingga arus komunikasi berlangsung dengan baik pula. Demikian pula mobilitas penduduk berfrekuensi tinggi dari satu daerah ke daerah lain, kecuali penduduk di daerah-daerah pedesaan di pinggiran bagian utara. Hal ini disebabkan oleh letak daerah-daerah ini sangat terpencil dan belum terjangkau transportasi umum. Keadaan sosial penduduk yang relatif miskin, menyebabkan tidak terbelinya kendaraan pribadi, bahkan juga sepeda, yang bisa menjadi sarana transportasi penduduk. Oleh karena itu, kegiatan penduduk cenderung hanya berkisar di daerahnya atau paling jauh di daerah tetangga
Structural Anthropology In America And France: A Comparison Heddy Shri Ahimsa Putra Putra
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4943.354 KB) | DOI: 10.22146/jh.1302

Abstract

More than fifty years have passed since Claude Lévi-Strauss, the father ofFrench structural anthropology, applied structural analysis and built modelsto elucidate orders beneath various kin-ship systems, in his monumental work The Elementary Structures of Kinship, and more than twenty years have passed since another structural analysis appeared in Americananthropology. However, such important theoretical developments seemed to have no serious impacts on social sciences and human studies in Indonesia. Only very small number of articles using structural paradigmhave been published in the last few years (Ahimsa-Putra, 1995; 1997; 1998; 1999a; 1999b; 2000; 2001), and there seemed to be no serious reactions -in the form of comments, critiques or discussions- from Indonesian social scientists on this paradigm1. This, I think, reflects thestagnancy of the social and cultural sciences in Indonesia such as anthropology, archeology, history, linguistics, literature and sociology), which unfortunately have never really managed to give any significantcontribution to the theoretical developments in their own fields after their establishment in Indonesian universities forty or so years ago.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue