cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 2 (2012)" : 10 Documents clear
BUGIS–MAKASSAR SEAMANSHIP AND REPRODUCTION OF MARITIME CULTURAL VALUES IN INDONESIA Munsi Lampe
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.623 KB) | DOI: 10.22146/jh.1055

Abstract

Thisarticle is an initiative to develop the maritime anthropology field of study that up till now is stagnant and tends to be concerned with the surface structure of the maritime cultural phenomena. By application of the concept of reproduction maritime ethos disposition in explaining the navigational experience and maritime interaction of Bugis-Makassar seamen, some of their maritime cultural valuescan be discovered. Attitudes and main values such as knowledge and navigation skills, adaptation with physical environment and socio-culture, water spatial concept, brave and like adventure, hard working and competitive, honest and trustable, loyal and responsible, openness and freedom, strict to attitude and religious, collectivism, etc. which were applied in the trading and sailing activities of the Bugis-Makassar sailors can be understood as maritime cultural values. Indonesia maritime cultural values of Bugis-Makassar are also in the forms of awareness and diversity of values and relationships between ethnic groups and cultures, love to the country, language unity, and nationality. This article isbased on historical annotation of Bugis-Makassar seamenship and field work data from Bira (Bugis region) and Paotere (Makassar region) conducted in six months (from April to September 2010).Keywords: Bugis-Makassar seamen, seamenship experience, maritime culture reproduction.
DINAMIKA POLA PIKIR ORANG JAWA DI TENGAH ARUS MODERNISASI Pajar Hatma Indra Jaya
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.501 KB) | DOI: 10.22146/jh.1056

Abstract

Yogyakarta masih dipandang sebagai salah satu kiblat budaya Jawa, tetapi pola pikir masyarakat Yogyakarta saat ini telah banyak berubah dari gambaran umumnya masyarakat Jawa. Perubahan tersebut tidak lepas dari berkembangnya lembaga pendidikan modern yang menanamkan rasionalisme yang menggeser mistikisme sebagai basis ideologi dan budaya. Namun demikian, sisa-sisa kepercayaanJawa masih terlihat pada beberapa ritual tradisi yang terkadang telah banyak kehilangan signifikansi ideologinya. Sisa-sisa tersebut juga masih sering muncul kembali ketika rasionalitas tidak mampu memberi jawaban pasti terhadap sebuah permasalahan.Kata Kunci: perubahan pola pikir, mistikisme, rasionalitas, Yogyakarta, Jawa
RELASI-RELASI KEKUASAAN DI BALIK PENGELOLAAN INDUSTRI PARIWISATA BALI I Nyoman Wijaya
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.688 KB) | DOI: 10.22146/jh.1057

Abstract

Pengetahuan yang tersembunyi di balik wacana pariwisata dalam pidato kenegaraan Presiden Soeharto 16 Agustus 1968 dijadikan kekuasaan oleh pemerintah daerah Bali dengan cara mengeluarkan ungkapan wacana Pariwisata Budaya. Akan tetapi, pariwisata yang semula diharapkan mampu menjadisalah satu sumber devisa negara, mengalami kemandekan tahun 1976 dan berlangsung selama satu dekade. Hal itu memberikan peluang bagi intelektual organik konservatif dari berbagai aliran untuk meraih kepentingan kelompok masing-masing. Itulah sebabnya di balik pengelolaan industri pariwisatatersembunyi relasi-relasi kekuasaan. Fenomena tersembunyi itu diterangkan dalam studi ini dengan memakai kerangka berpikir Michel Foucault tentang Power And Knowledge. Penggunaan kerangka berpikir itu memudahkan penerapan metode sejarah mulai dari heuristik hingga sintesis. Melalui cara kerja itu, dapat diketahui hampir semua intelektual organik konservatif yang memiliki kekuasaanberbicara berhasil menangkap pengetahuan tersembunyi di balik ungkapan wacana Pariwisata Budaya untuk kepentingan kelompok masing-masing.Kata Kunci: pariwisata budaya, PKB, Ekadasarudra, invented art, intelektual organik
KONSEP MULTIKULTURAL DAN ETNISITAS PRIBUMI DALAM PENELITIAN SENI Victor Ganap
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.883 KB) | DOI: 10.22146/jh.1058

Abstract

Pada hakikatnya seni tradisi merupakan sebuah ekspresi kultural sebagai subjek kolektif yang terikat oleh karakteristik ranah budaya masing-masing sehingga identitas dan nilai kearifan lokalnya turut terbawa serta. Pandangan multikultural yang menjunjung tinggi kesetaraan budaya mengakui eksistensi tradisi lisan yang melekat pada setiap etnisitas pribumi sehingga penelitian terhadap seni tradisi selayaknya dilakukan oleh peneliti pribumi yang memiliki pengalaman seumur hidup terhadap ikatan primordial budayanya. Untuk itu, konsep baru dalam penelitian seni berdasarkan konsep multikultural dan etnisitas pribumi memiliki arti penting terhadap pencapaian tingkat kebenaran dan kesahihan hasil penelitian.Kata Kunci: multikultural, etnisitas pribumi, seni tradisi
STREET THEATRE - THE THIRD THEATRE: AGENTS FOR SOCIAL ENGINEERING IN INDIA Shrimati Das; Asha N. Rabb
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.584 KB) | DOI: 10.22146/jh.1059

Abstract

Street Theatre in India, referred to as the 'Third Theatre' as a form of social and cultural communication, is deeply rooted in the Indian tradition. Many complex social issues be it gender related, child labor, imparting knowledge about HIV and AIDS, the need to educate a girl child, social and political systems, dynastic politics, are all enacted through the genre of 'street plays'. There is a'stage discussion' through varying perspectives of a number of characters, bringing an 'immediacy and urgency' to the theme under consideration. It is a situation, where the audience has not come prepared to watch a play, may not have time on hand, hence the impact of a 'street play' is direct, close, intimate and effective. The impact is 'immediate'. A 'convince-convert' strategy is employedaccompanied by a 'Dholak' (Indian percussion musical instrument) or a 'choir' to attract the crowd at the cross roads or any street corner.Keywords: Street Theatre, revolutionary, proscenium, complex social issues, stage discussion, revitalizing theatre using 'bhasha', instrument for immediate impact
NYALAP-NYAUR: MODEL TATAKELOLA PERGELARAN WAYANG JEKDONG DALAM HAJATAN TRADISI JAWATIMURAN Wisma Nugraha Christianto Rich
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.605 KB) | DOI: 10.22146/jh.1060

Abstract

Pergelaran Wayang Jekdong di komunitas tradisi Jawatimuran hidup subur dalam kebiasaan penyelenggaraan hajatan. Hajatan dilaksanakan oleh individu, keluarga, kelompok keluarga, lembaga dusun, dan/atau desa. Wayang Jekdong adalah seni pertunjukan wayang kulit purwa yang hidup dan berkembang dari rakyat untuk rakyat desa dan kampung di Jombang, Majakerta, Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Lamongan, dan Malang. Kelangsungan praktik hajatan dan pergelaran Wayang Jekdong didukung oleh tradisi buwuhan (sumbang-menyumbang) dengan sistem nyalap-nyaur (memberi dan mengembalikan). Oleh karena itu, tata kelola modal sosial berperan strategis bagi dalang dalam mengembangkan kelangsungan pergelaran Wayang Jekdong. Demikian pula halnya dengan anggota masyarakat Jawatimuran yang masih melembagakan penyelenggaraan hajatan senantiasa mengelola modal sosialnya demi resiprositas dan solidaritas sosial.Kata Kunci: Wayang Jekdong, hajatan, nyalap-nyaur, modal sosial, resiprositas
KECENDERUNGAN SISWA SMA DI BEKASI DALAM MEMILIH TOPIK ESAI DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER Sri Hapsari Wijayanti; Yohanna Claudia Dhian
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.559 KB) | DOI: 10.22146/jh.1061

Abstract

Gender dan bahasa lisan atau tulis sudah banyak diungkap memiliki hubungan yang signifikan. Penelitian ini mengamati (a) sejauh mana siswa SMA laki-laki dan perempuan di Bekasi memahami esai serta (b) kecenderungan pemilihan topik dari segi gender. Data penelitian berupa esai yang ditulis 136 siswa/i dari 6 SMA (3 SMA negeri dan 3 SMA swasta) di Bekasi, Jawa Barat. Selain melalui tesmenulis, pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara, kuesioner, dan pengamatan langsung. Penelitian yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif ini mengungkap bahwa topik yang dipilih siswa perempuan tidak terbatas topik personal, tetapi juga topik publik, sama dengan laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan cenderung menulis esai dengan topik masalah sosial (47%), teknologi (14%), personal (12%), nasionalisme (6%), dan kesehatan (5%). Siswa perempuan menyukai topik seputar masalah sosial, sedangkan siswa laki-laki menyukai masalah teknologi informatika/komunikasi. Perempuan juga lebih terbuka mengungkap perasaan di dalam menulis daripada laki-laki.Kata Kunci: gender, esai, menulis, topik, wacana
WOMAN’S RECONCILIATION OF DOMESTIC LIFE AND SELF DEVELOPMENT IN ELIZABETH STUART PHELPS’S THE ANGEL OVER THE RIGHT SHOULDER Juliasih K.
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.321 KB) | DOI: 10.22146/jh.1062

Abstract

Women face an everlasting issue of dividing their time for domestic life and self-development as the work of Elizabeth Stuart Phelps, The Angel Over the Right Shoulder, portrays. It shows that there is inequality between man and woman. The research aims to investigate the main reasons of the problem. It shows that men and women have their own language. This research applies Ecriture Feminine which bases itself on the belief that feminity is qualitatively different from masculinity andit needs an alternative form of language in order to express adequately the difference, something which would benefit both men and womenKeywords : system, unity, reconciliation, Feminine Ecriture
METAPHORICAL FORCES OF EXPRESSIONS IN LETTERS TO THE EDITORS IN BAHASA INDONESIA Deli Nirmala
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.592 KB) | DOI: 10.22146/jh.1063

Abstract

This study focuses on the metaphorical forces conveyed in the metaphorical expressions used in the letters to the editors, which are considered as the second- order meaning. Classified into existential, quantitative, qualitative, directional, spatial, motion, and temporal, these forces imply living experiences showing the existence, development, quality, movement, and space and time used by humans intheir lives in the world. The experiences built in the mind are activated when language is used.Keywords: metaphors, metaphorical forces, metaphorical expressions, second order of meaning
KONSTRUKSI DETERMINAN DALAM FRASA NOMINA BAHASA PRANCIS DAN BAHASA INDONESIA Roswita Lumban Tobing
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.959 KB) | DOI: 10.22146/jh.1064

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan konstruksi determinan pada frasa nomina bahasa Perancis dan bahasa Indonesia. Analisis yang digunakan adalah analisis kontrastif. Hasil analisis menunjukkan bahwa nomina bahasa Perancis memiliki jenis kelamin (maskulin/feminin) dan jumlah (tunggal/jamak). Gender dan jumlah dalam bahasa Prancis memiliki aturan konkordansi yang dapat memengaruhi bentuk dan makna nomina. Dalam bahasa Indonesia, meskipun nomina memiliki konsep gender tunggal dan jamak, jenis dan jumlah dalam bahasa Indonesia tidak muncul secara eksplisit. Bentuk ini hanya ditandai dengan karakteristik semantik tertentu yang dapat menunjukkan jenis kelamin, bentuk tunggal, dan bentuk jamak.Kata Kunci: determinan, gender, frase nomina, analisis kontrastif

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue