cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 33, No 2 (2015): Desember" : 17 Documents clear
MONITORING OF PHYSIOLOGICAL AND PARASITES STATUS OF BAWEAN DEER (AXIS KUHLII) IN ITS HABITAT AS A BASELINE FOR WILDLIFE CONSERVATION ENDEAVOR Nurcahyo, Wisnu; Anggraeni, Devita; Imron, M.A.
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.17882

Abstract

AbstractThe research on physiological and reproduction status of Bawean deer (Axis kuhlii) in its habitat has been conducted, to understand and to find out as a basic information on Bawean deer (Axis kuhlii) in its habitats a baseline data for wildlife conservation efforts. The deer is categorized as an endangered animal, therefore, more attention was given toward Bawean deer conservation. Habitat changes, loss of habitat, fragmentation and illegal hunting might caused the wild animals become more marginalized and the populations have been declined.Therefore, it is needed to have research as an effort to save Bawean deer in its natural habitat. This research activity covered monitoring on physiological and reproduction status, and also the examination of deer's feces samples was parasite coprological data that serve as a basic consideration data in conservation and determination of Bawean deers health in the nature and/or conservation. The research was done in Bawean Island, Gresik and East Java, by taking faces of Bawean deers in the nature and conservation. Data gathering of physiological andreproduction status were done by examining deer's condition, either directly in conservation or in its habitat, and also by interviewing people around the forest. The data on physiological status, behavior monitoring, reproduction status, faces samples, blood, food analysis, and interview result were analyzed descriptively. Some worm eggs were found during feces examination, those were Strongyl, Strongyloides sp, Trichuris sp, Fasciola gigantica and Oocysta coccidia. The result showed that the same parasites were found in the cattle and goat raised by people around in the vicinity of the forest, meaning, there was an interaction between wildlife andlivestock. According to the result, it is needed to monitor the physiological status of Bawean deers routinely since Bawean deers is classified as endangered species.
Pola Pewarisan Crest Ayam (Gallus gallus domesticus, Linnaeus 1758) Backcross Hasil Persilangan Ayam Mahkota dengan Ayam Kampung Budi Setiadi Daryono; Utin Elsya Puspita
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.33 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17884

Abstract

AbstrakMemelihara ayam hias merupakan salah satu kegemaran masyarakat Indonesia dan juga saranameningkatkan pendapatan. Salah satu ayam hias yang unik dan banyak menarik minat pecinta ayam hias adalah ayam Mahkota yang memiliki ciri khas bulu yang tersusun lebat di bagian kepala hingga menutupi mata. Jenis ayam hias tersebut umumnya memiliki kelemahan yaitu daya tahannya yang rendah terhadap penyakit. Ayam Kampung atau ayam buras merupakan ayam lokal asli Indonesia yang memiliki keunggulan yaitu memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit dibanding ayam ras. Penggabungan keunikan crest dari ayam Mahkota dan ketahanan terhadap penyakit dari ayam Kampung dapat diwujudkan salah satunya melalui proses backcross (BC). Penelitian ini dilakukan dengan menyilangkan ayam F Mahkota betina hasil persilangan ayam 1 Mahkota dan ayam Kampung dengan ayam Mahkota jantan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pola pewarisan crest dan pertumbuhan bobot keturunan BC pada umur 7 minggu. Anakan yang dihasilkan diamati perkembangan crest dan pertambahan bobotnya selama 7 minggu, kemudian variasi fenotipnya dianalisis dengan chi square test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 kelas fenotip yang berbeda dari 16 individu keturunan BC yang menunjukkan gejala poligen dengan 2 gen yang mempengaruhi dan memenuhi pola pewarisan 1:4:6:4:1.
Suplementasi Calcitriol Menurunkan Risiko Osteoporosis Tikus Ovariektomi Hartiningsih .; Devita Anggraeni
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.94 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17887

Abstract

Suplemen calcitriol memicu pembentukan tulang, namun juga meningkatkan resorpsi tulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efektivitas calcitriol dalam menurunkan risiko osteoporosis tikus ovariektomi. Lima belas tikus Wistar betina umur delapan minggu, dibagi tiga kelompok (kontrol normal KN, kontrol ovariektomi KOV, dan ovariektomi+ calcitriol OVD ) dan diberi perlakuan selama delapan minggu. Pada akhir perlakuan, 100 dilakukan pengambilan darah melalui pleksus retroorbitalis untuk pemeriksaan estradiol, selanjutnya semua tikus dietanasi menggunakan campuran ketamin10% dengan xylaxine 2%. Femur kiri diambil untuk pemeriksaan histopatologis. Hasil analisis menunjukkan tikus KOV mempunyai konsentrasi estradiol yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan tikus KN, dan tikus OVD mempunyai konsentrasi estradiol tidak 100 berbeda signifikan dibanding tikus KOV. Gambaran histopatologis epifisis tulang femur distalis tikus OVD 100terlihat mempunyai lebih sedikit jaringan adiposit dan lebih banyak spikulum trabekula dibanding tikus KOV. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa suplementasi calcitriol 100ng/hari selama delapan minggu pada tikus ovariektomi menurunkan risiko osteoporosis.
Karakterisasi Staphylococcus aureus Isolat Susu Sapi Perah Berdasar Keberadaan Protein-A pada Media Serum Soft Agar terhadap Aktivitas Fagositosis Secara In Vitro Fajar Budi Lestari; Siti Isrina Oktavia Salasia
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.642 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17888

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab utama mastitis. Protein-A berperan penting dalam adesi dan kolonisasi bakteri pada sel inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fagositosis S. aureus berdasarkan keberadaan protein-A pada media serum soft agar. Sebanyak 19 isolat S. aureus susu sapi perah asal Jawa Barat dan Jawa Tengah digunakan pada penelitian ini. Seluruh isolat tersebut direidentifikasi dengan dipupuk pada media plat agar darah (PAD), koloni bakteri kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan Gram, uji mannitol salt agar (MSA), katalase dan uji koagulase. Karakterisasi S.aureusdilakukan dengan menanam bakteri pada media serum soft agar (SSA) yang mengandung serum kelinci untuk mengetahui keberadaan protein-A, kemudian dilakukan uji fagositosis dengan menggunakan sel polimorfonuklear. Dari 19 isolat tersebut seluruhnya teridentifikasi sebagai S. aureus yang ditunjukkan dengan Gram positif, sel berbentuk kokus bergerombol, mampu memfermentasi manitol pada media MSA, positif pada uji katalase, 15,79% sampel menunjukkan hasil koagulase negatif, sedangkan 84,21% menunjukkan hasil koagulase positif. Pertumbuhan pada media SSA menunjukkan hasil 12 isolat (63,16%) koloni berbentukkompak dan 7 isolat (36,84%) koloni berbentuk difus. Koloni kompak menunjukkan bakteri tersebut memiliki protein-A, koloni difus menunjukkan bakteri tersebut tidak memiliki protein-A atau memiliki protein-A tetapi tertutup oleh kapsul. Hasil uji fagositosis menunjukkan S. aureus yang memiliki protein-A lebih sedikit difagosit oleh leukosit polimorfonuklear (2,99 bakteri/sel) dari pada S. aureus yang tidak memiliki protein-A, atau mempunyai protein-A tetapi tertutup oleh kapsul (3,85 bakteri/sel). Staphylococcus aureus yang memiliki protein-A lebih patogen daripada S. aureus yang tidak memiliki protein-A. Isolat S. aureus asal Jawa Tengah lebih virulen  dibandingkan isolat S. aureus asal Jawa Barat ditinjau dari sifat hemolisis, koagulase, dan  protein-A.
Deteksi Molekuler Virus Infectious Bursal Disease (IBD) pada Samp l Bursa Fabrisius yang Diperoleh dari Ayam Terdiagnosa Penyakit IBD Michael Haryadi Wibowo; Radhian Fadiar; Dito Anggoro; Sidna Artanto; Surya Amanu; Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1648.66 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17890

Abstract

Kasus penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) dewasa ini masih sering ditemukan pada peternakan ayam komersial baik layer maupun broiler di Indonesia. Diagnosis penyakit IBD sejauh ini mengandalkan lesi patologik spesifik dan kultur in ovo dengan mengamati lesi makroskopis embrio, serta diidentifikasi dengan uji agar gel presipitasi (AGP). Penelitian ini bertujuan menerapkan diagnosis dengan teknik reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) dari sampel Bursa Fabrisius (BF) sebagai konfirmasi pada kasus terdiagnosa IBD. Deteksi serologis virus IBD dengan uji AGP dengan sumber antigen chorioallantoic membrane (CAM) dan embrionya, untuk melihat potensinya sebagai sumber antigen uji AGP. Sampel BursaFabrisius sebanyak 5 yang diperoleh pada kasus terdiagnosa IBD, dikoleksi dari peternakan ayam komersial di Yogyakarta. Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan metode RT-PCR. Sampel positip uji RT-PCR yang mengamplifikasi fragmen gen VP2. Isolasi virus IBD yang dilakukan kultur in ovo pada telur ayam berembrio (TAB) antibodi negatif terhadap virus IBD, berumur 11 hari. Desposisi materi inokulasi dilakukan pada (CAM), diinkubasi selama lima hari. Panen virus dilakukan dengan mengkoleksi membran korioalantois dan embrio, selanjutnya diamati lesi makroskopis yang timbul akibat infeksi virus IBD. Membran korioalantois dan embrioselanjutnya digerus dan diproses sebagai suspensi antigen yang digunakan dalam uji AGP. Hasil uji RT-PCR terhadap lima sampel Bursa Fabrisius yang dikoleksi dari peternakan ayam terdiagnosa penyakit IBD, tiga sampel menunjukkan hasil positif teramplifikasi fragmen gen VP-2 virus IBD dengan produk amplifikasi sebesar 440 bp, sedangkan dua sampel sisanya menunjukkan hasil negatif. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil positip 2 dari 3 sampel yang diuji, sedangkan sumber antigen embrio menunjukkanhasil negatif. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa uji RT-PCR dapat digunakan dalam mendeteksi virus IBD dari sampel BF terdiagnosa IBD. Uji AGP dengan sumber antigen CAM menunjukkan hasil lebih baik dari pada embrionya.
Daya Ovicidal Ekstrak Kulit Buah Muda (Calotropis procera) terhadap Haemonchus contortus secara in vitro I Gusti Komang Oka Wirawan; Wisnu Nurcahyo; Joko Prastowo; Kurniasih .
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.23 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17891

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi efektif ekstrak kulit buah muda Calotropis procera (C. procera) dalam menghambat perkembangan telur cacing Haemonchus contortus secara in-vitro. dari 0,2g/ml sediaan larutan ekstrak stok, albendazole konsentrasi 0,055%. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Konsentrasi efektif ekstrak kulit buah muda C. procera (EKBMCP) dalam menghambat perkembangan daya tetas telur cacing Haemonchus contortus secarain-vitro adalah perlakuan EKBMCP konsentrasi 4,5% dengan daya hambat 88% sedangkan  perlakuan EKBMCP konsentrasi 2,5% dan 3,5% daya hambatnya secara berturut-turut adalah 70,5% dan 81%.
Perbandingan Aktivitas Linimentum Ekstrak Koral Kelimutu dan Linimentum Ekstrak Daun Lamtoro (Leucaena leucochepala) Terhadap Penyembuhan Scabies Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Asih Rahayu; Miranti Candrarisna
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.259 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17893

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas linimentum ekstrak koral kelimutu dan ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucochepala) sebagai terapi penyembuhan scabies pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Jenis penelitian ini eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel hewan yang digunakan adalah kelinci jantan umur 4-6 minggu sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif /normal, tanpa diobati (P0), kontrol positif : diobati linimentum sulfur ppt (P1), diobati linimentum ektrak daun lamtoro (P2), diobati linimentum ekstrak coralkelimutu (P3). Semua bulu kelinci dicukur pada daerah punggung anterior sepanjang 3x3 cm dan diinfestasikan parasit Sarcoptes scabiei. Semua kelinci dibiarkan selama 7 hari agar parasit dapat tumbuh dan berkembang biak tersebar merata ke seluruh permukaan kulit. Setiap hari kulit kelinci yang terkena scabies diolesi dua kali dengan linimentum yang diuji dengan dosis 25%. Pengamatan makroskopis dilakukan pada hari ke- 3, 5, 7, dan pengamatan mikroskopis dilakukan pada hari ke- 3 setelah dilakukan masa pengobatan selama 7 hari. Semuadata kuantitatif diuji secara statistik menggunakan Analisa Sidik Ragam (ANOVA) dengan uji post hoc metode Turkey dan metode LSD dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelinci yang diobati dengan linimentum ekstrak coral kelimutu (P3) memberikan hasil yang lebih baik daripada kelompok P0, P1 dan P2. Berdasarkan analisis statistik uji Post hoc metode Turkey dan metode LSD menunjukkan p = 0,000 ; R squared = 0,88 dan hitung (7,11) > F tabel (1,74), maka disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok P3 dengan P0, P1 dan P2 terhadap perlekatan penutupan luka, pengurangan keropeng dan peningkatan jumlah kematian Sarcoptes scabiei. Hal ini menunjukkan aktivitaslinimentum ekstrak koral kelimutu paling baik dan efektif digunakan untuk terapi penyembuhan scabies pada kelinci.
Kajian Fenotip Kuskus (Famili Phalangeridae) di Penangkaran Desa Lumoli, Kecamatan Piru, Maluku Marthinus Usmany; Hasan Tuaputty; Pieter Kakisina
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1173.991 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17896

Abstract

Kuskus merupakan satwa Australia (marsupial) yang termasuk dalam famili Phalangeridae danpersebarannya terbatas di Indonesia bagian Timur, Australia dan Papua New Guinea. Melalui data IUCN, kuskus dikategorikan endangered spesies, dalam CITES digolongkan Appendiks II. Populasi kuskus semakin menurun akibat ancaman deforestrasi, banyak diburu untuk dikonsumsi, dan diperjualbelikan secara ilegal. Untuk mengatasi persoalan diatas maka perlu dilakukan kajian komprehensif tentang fenotip kuskus dengan harapan dapat membantu usaha konservasi satwa ini di masa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis serta sifat fenotip berdasarkan warna rambut kuskus yang hidup di penangkaran Desa Lumoli Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Penelitian ini diawali dengan tahap identifikasi dan karakterisasi setiap spesies secara fenotip melalui tampilan warna rambut. Karakter fenotip disajikan melalui gambar dan tabel, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian karakterisasi fenotip menunjukkan terdapat empat spesies kuskus yang hidup di penangkaran desa Lumoli yakni, kuskus coklat (P.orientalis), kuskus putih (P.urinus), kuskus kelabu (P.vestitus), dan kuskus totol (S.maculatus).
Analisis Cemaran Staphylococcus aureus pada Gelas, Darah Segar, dan Jamu dengan Ramuan Darah Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix) Roza Azizah Primatika; Widagdo Sri Nugroho; Rais Dwi Abadi
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.064 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17918

Abstract

Jamu yang mengandung ramuan darah ular kobra merupakan salah satu jamu tradisional yang dipercaya memiliki banyak khasiat bagi kesehatan tubuh manusia. Di sisi lain belum diketahui seberapa besar cemaran bakteri yang terdapat pada ramuan darah tersebut. Staphylococcus aureus sebagai bakteri yang dapat menyebabkan keracunan pangan dan umumnya terisolasi dari produk makanan. Penelitian ini mengungkap keberadaan Staphylococcus aureus pada jamu darah ular kobra. Penelitian ini menggunakan 10 sampel darah segar ular kobra dan 10 sampel ramuan jamu tradisional dengan darah ular kobra. Isolasi Staphylococcus aureus menggunakan media Vogel Jhonson Agar (VJA). Hasil penelitian menunjukkan cemaran Staphylococcus aureus terdeteksi pada swab gelas, darah segar, dan ramuan darah ular kobra. Analisis variansi (ANOVA) darirerata cemaran Staphylococcus aureus menunjukkan tidak ada perbedaan antara swab gelas, darah dan ramuan darah ular kobra. Walaupun demikian, jamu yang mengandung darah ular kobra berpotensi mengandung Staphylococcus aureus yang membahayakan konsumen.
Karakterisasi Gen Non Struktural 1 (NSI) Virus Avian Influenza pada Isolat Itik Tahun 2013 Nur Khusni Hidayanto; Widya Asmara; Michael Haryadi Wibowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 33, No 2 (2015): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.282 KB) | DOI: 10.22146/jsv.17919

Abstract

Wabah avian influenza (AI) di Indonesia telah terjadi sejak akhir tahun 2003 dan masih terjadi secara endemis sampai sekarang. Pada akhir tahun 2012 terjadi kasus kematian yang cukup tinggi pada itik yang disebabkan penyakit AI subtipe H5N1 yang diklasifikasikan ke dalam clade 2.3.2, sedangkan virus AI sebelumnya diklasifikasikan pada clade 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3. Salah satu yang berperan dalam virulensi penyakit AI adalah motif asam amino C-terminal protein nonstruktural1 (NS1). Analisis sekuens virus influenza terutama protein nonstruktural 1 (NS1) yang berasal dari unggas mempunyai motif asam amino ESEV pada Cterminal sedang pada virus influenza manusia mempunyai motif RSKV pada C-terminal. Data sekuen NS1 untuk virus AI terbaru belum lengkap sehingga perlu disekuen untuk melengkapi data molekuler NS1 virus AI.Residu C-terminal protein NS1 virus avian influenza subtype H5N1 perlu dikaji karena mempengaruhi patogenisitas dan virulensi virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif asam amino pada C-terminal protein nonstruktural 1 (NS1) virus avian influenza yang menyerang itik pada tahun 2013. Sampel berasal dari kasus AI pada itik di Tulungagung dan Blitar pada tahun 2013. Isolasi virus menggunakan telur berembrio tertunas ayam. Identifikasi virus AI subtipe H5N1 menggunakan teknik reverse transcription polimerase chain reaction (RT-PCR) dengan primer H5 (Lee et al., 2001) dengan target amplifikasi 545 bp dan primer N1 (Payungporn et al., 2004) dengan target amplifikasi 131 bp. Amplifikasi gen NS1 menggunakan RT-PCR dengan 2 pasang primer (Bannet-Noah et al., 2007) yang didesain mengamplifikasi gen NS dan dilanjutkan proses sekuensing gen NS1. Sekuen yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan software MEGA 5.05 yang meliputi multiple alignment, prediksi asam amino dan analisis pohon filogenetik. Hasil sekuen isolat diperoleh panjang nukleotida yang mengkode protein NS1 sepanjang 690 nt. Hasil analisis pohon filogenetik menunjukkan bahwa ke lima isolat uji tidak berada satu grup dengan dengan isolat asal Indonesia tahun 2003- 2008 dan berdekatan dengan klaster virus AI yang berasal dari Asia clade 2.3.2. Pada semua isolat tahun 2013 ditemukan delesi asam amino pada posisi 80-84, substitusi asam amino D92E, asam amino 149 semua isolat mempunyai asam amino alanine (A), asam amino ke 196 ditemukan adanya variasi substitusi berupa lysine (K) dan glutamic acid (E) dan asam amino pada gen NS1 mempunyai motif ESEV pada posisi PDZ ligand.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue