cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 2 (2023): Agustus" : 16 Documents clear
Safety Test for Ethanolic Neem Leaf (Azadirachta indica A. Juss.) Extract on Male Mice (Mus musculus L) Renal Structure Ayu Dwi Lestari; Agung Janika Sitasiwi; Sri Isdadiyanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.46758

Abstract

Neem leaves (Azadirachta indica A. Juss.) are often used as traditional medicine because they contain bioactive compounds such as azadirachtin, nimbidin and nimbolides. Consumption of traditional medicines for long periods can cause side effect on kidney. This study aims to find out the histological structure of glomerular and proximal tubular in the male mice (Mus musculus L.)  kidneys after exposure to the ethanolic of neem leaves extract. Completely Randomized Design (CRD) consists of 2 treatment groups with 15 replications was used in this study. The first group is K (only treated with aquadest) and P group (treated by ethanolic neem leaves extrcat at the dosage 14 mg/ kg body weight). The treatment were given orally with a volume of 0.2 mL for 21 days. Feeding and drinking were carried out ad-libitum. At the 22 days, kidney was isolated, weighted and made for histological processed with 5 μm in thickness using paraffin method with Hematoxylin and Eosin staining. The variables observed in this study were kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubule and lumen diameter. Data were analyzed using the t test with a confidence level of 95%. The results of the analysis showed that the treatment has no significant effect (p> 0.05) to kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubules and lumen diameter. The study showed that the use of ethanolic neem leaves extract for 21 days still safe to be use as a traditional medicine.
Kejadian Fascioliasis pada Sapi Perah di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan Alek Arisona; Soedarmanto Indarjulianto; Catur Sugiyanto; Ambar Pertiwiningrum; Joko Prastowo; Yanuartono .; Alfarisa Nururrozi; Margaretha Arnita Wuri; Teguh Ari Prabowo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.70602

Abstract

Fascioliasis adalah penyakit cacing hati yang dapat menyerang sapi dan sangat merugikan, karena dapat menurunkan produktivitas. Peternakan sapi perah di Tegalombo, Pacitan merupakan peternakan rakyat yang pengelolaannya banyak melibatkan perempuan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fascioliasis pada sapi perah di kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan. Sebanyak 50 ekor sapi perah digunakan sebagai sampel di dalam penelitian ini. Semua sapi diperiksa secara fisik, diambil fesesnya dan diperiksa adanya telur cacing Fasciola sp. Hasil pemeriksaan fisik sapi secara klinis menunjukkan bahwa semua sapi pada penelitian ini menunjukkan kondisi umum normal, nafsu makan baik, serta tidak ada abnormalitas yang signifikan pada semua bagian tubuh, sehingga dinyatakan sehat secara fisik. Hasil pemeriksaan sampel feses didapatkan adanya telur cacing Fasciola sp. pada 2 dari 50 ekor sapi (4%), sedangkan 48 ekor sapi lainnya (96 %) tidak ditemukan telur cacing. Kesimpulan dari peneltian ini adalah kejadian fascioliasis pada sapi perah di Tegalombo, kabupaten Pacitan rendah. Pemeriksaan secara periodik terhadap kemungkinan fascioliasis perlu dilakukan, sebagai langkah penanggulangan fascioliasis di daerah tersebut.
Dermatosis pada Ruminansia akibat Defisiensi Vitamin C: Ulasan Singkat Yanuartono Yanuartono; Soedarmanto Indarjulianto; Alfarisa Nururrozi; Dhasia Ramandani; Hary Purnamaningsih
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.71186

Abstract

Vitamin C bersifat esensial untuk mamalia, termasuk manusia, primata, dan marmut, meskipun mamalia lain, seperti ruminansia, babi, kuda, anjing, dan kucing, dapat mensintesis vitamin C dari glukosa di hati. Ruminansia pada dasarnya bergantung pada sintesis endogen karena vitamin C asal pakan sebagian besar dirusak semuanya oleh mikroorganisme rumen. Dengan demikian, ruminansia lebih bergantung vitamin C endogen untuk mencukupi kebutuhan tubuhnya guna memenuhi persyaratan fisiologis dibandingkan dengan hewan lain. Meskipun demikian, ruminansia muda lebih rentan terhadap defisiensi vitamin C karena  biasanya hanya memperoleh diet dengan kandungan vitamin C yang rendah.  Produksi vitamin C endogen pada ruminansia muda dapat mencapai tingkat maksimal setelah umur 16 minggu. Konsentrasi vitamin C pada ruminansia muda yang rendah tersebut  berpotensi menimbulkan dermatosis pada ruminansia muda. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas secara singkatnya defisiensi vitamin C yang terkait dengan dermatosis pada ruminansia.
Case Report: Diagnosis and Therapy Technique for Dirofilariasis – Ehrlichiosis Coinfection in a Domestic Dog Joan Elviyanti; Arief Purwo Mihardi; Anita Esfandiari; Rizal Arifin Akbari
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.73313

Abstract

Multiple pathogenic agents, such as dirofilariasis and ehrlichiosis coinfection in the dog, cause coinfection disease. This paper aims to elucidate the diagnosis and therapy technique of dirofilariasis and ehrlichiosis coinfection disease in a dog. The owner brought a 4-year-old female dog named Lua to Rvet Clinic Tajur Halang Bogor with complaints of always painting when doing activities and lying down. The dog was just adopted one month from the shelter with many ticks and mosquitoes in the cage. The dog was diagnosed with dirofilariasis and ehrlichiosis by physical examination and laboratory tests. The laboratory tests included radiography, haematology, blood smear, and antigen test by SNAP® 4Dx® Plus Test (IDEXX, US). The dog was given doxycycline 10 mg/kg BW BID orally for three weeks, vitamin B12 0.025mg/kg BW BID orally for three weeks, furosemide 2 mg/kg BW SID orally for one week, Coenzyme-Q10 SID orally for three weeks, and selamectin topical drop every month for three months. A blood smear on the 21st day after therapy did not show microfilariae in 20 hpf with three repetitions. It means the therapy combinations are used effectively to reduce microfilariae and maintain the clinical sign of a dog due to dirofilariasis accompanied by ehrlichiosis.
Identifikasi Protozoa Gastrointestinal pada Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Taman Satwa Sumatera Utara Ferina Anggraini; Muhammad Hanafiah; Erdiansyah Rahmi; Farida Athaillah; Teuku Zahrial Helmi; Zainuddin .
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.74935

Abstract

Infeksi protozoa merupakan salah satu penyakit parasitik yang umumnya bersifat kronis serta menyebabkan penurunan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui protozoa gastrointestinal yang menginfeksi orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang berada di Taman Satwa Sumatera Utara serta protozoa dari genus apa saja yang menginfeksi orangutan tersebut. Sampel pada penelitian ini menggunakan sampel feses yang didapat dari 1 individu orangutan sumatera dan 2 individu orangutan kalimantan. Sampel diambil tiga kali dalam kurun waktu yang berbeda dengan interval 3 minggu. Sampel feses diambil pada pagi hari kemudian ditambahkan dengan formalin 10% dengan perbandingan 1:1. Pemeriksaan sampel dengan menggunakan metode floatasi, metode modified Ziehl-Neelsen, dan metode sedimentasi formol-eter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 2 dari 3 orangutan di Taman Satwa Sumatera Utara positif terinfeksi protozoa gastrointestinal. Orangutan sumatera bernama Stevee tidak terifeksi protozoa gastrointestinal dan orangutan kalimantan bernama Simba dan Hamidah positif terinfeksi genus protozoa gastrointestinal yaitu, Entamoeba sp., Balantidium sp. dan Cryptosporidium parvum.
Identifikasi Fenotip dan Genotip Staphylococcus aureus Isolat Asal Susu Sapi Perah Mastitis Subklinis di Wilayah Pamulihan, Kabupaten Sumedang Jawa Barat Sarasati Windria; Alifya Azzahra Cahyaningtyas; Adi Imam Cahyadi; Hesti Lina Wiraswati; Julia Ramadhanti
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76052

Abstract

Staphylococcus aureus adalah bakteri coccus Gram positif dari keluarga staphylococcaceae sebagai bakteri utama penyebab mastitis subklinis. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan identifikasi bakteri Staphylococcus aureus sebagai penyebab mastitis subklinis pada sapi perah dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Sampel penelitian berupa 38 isolat Staphylococcus aureus yang telah diisolasi dari sampel susu sapi perah penderita mastitis subklinis pada penelitian sebelumnya di Peternakan Mekar Bakti dan Peternakan Putra Saluyu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Hasil identifikasi fenotipik isolat Staphylococcus aureus yang dikultur pada media Blood Plate Agar (BAP) menunjukkan sebanyak 10 isolat (26%) bersifat α-hemolisis, 28 isolat (74%) bersifat β-hemolisis. Pewarnaan Gram pada 38 isolat (100%) menunjukkan koloni bersifat gram positif dengan bentuk koloni coccus bergerombol. Hasil uji katalase dan koagulase pada 38 isolat (100%) menunjukkan hasil positif. Hasil uji DNase pada 29 isolat (76%) bereaksi positif, sedangkan sebanyak 9 isolat (24%) menunjukkan hasil negatif. Identifikasi secara genotipik dilakukan berdasarkan amplifikasi terhadap gen 23S rRNA, gen nuc, dan gen coa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 isolat (100%) teridentifikasi sebagai Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri penyebab mastitis subklinis pada sapi perah di Wilayah Kabupaten Sumedang
Valiasi Metode Analisis Penetapan Kadar Linkomisin pada Ayam Broiler menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Alfian Yusak Muzaki; Cahyo Wibisono; Ika Nindya Irianti; Agustina Dwi Wijayanti; Dyah Ayu Widiasih
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76861

Abstract

Antibiotik adalah obat yang sering digunakan dalam pengobatan infeksi bakteri dengan menghambat pertumbuhan atau dengan membunuh bakteri. Salah satu obat yang sering digunakan untuk terapi bakteri pada ayam broiler adalah lincomycin, yaitu antibiotik bubuk larut yang digunakan untuk mengobati penyakit menular seperti penyakit pernapasan kronis kompleks (CRD) dan mikoplasmosis. Penggunaan antibiotik pada ayam broiler meningkatkan risiko residu karena kadar obat yang tertinggal, sehingga perlu dilakukan metode analisis kadar lincomycin menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas metode analisis kadar linkomisin pada ayam dengan HPLC merk Shimadzu 6.1, fase gerak yang terdiri dari campuran buffer dan asetonitril (89:11) dengan aliran laju 1 ml/menit, detektor UV Vis dengan panjang gelombang 220 nm, dan kolom C18 Shim-pack berukuran 150 L x 4,6 mm pada 350C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut sesuai dengan kriteria validasi berdasarkan linearitas, spesifisitas, akurasi, presisi, parameter Limit of Detection (LOD), dan Limit of Quantification (LOQ) atau batas kuantifikasi. Kesimpulan yang diperoleh adalah metode analisis kadar lincomycin menggunakan HPLC ini memiliki kriteria yang sesuai dan dapat digunakan untuk mengukur kadar lincomycin pada ayam broiler.
Kejadian Penyakit Toxocariasis pada Pasien Anjing dan Kucing di Klinik Hewan Jogja Periode 2019-2020 Farhan Arhabi Prima; Fa'iz Ihsanul Kamil; Ida Tjahajati; Tri Ari Widiastuti; Gustaf Eifel Silalahi
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77271

Abstract

Latar Belakang: Toxocariasis merupakan penyakit infeksi yang sering menyerang pada hewan kesayangan anjing kucing disebabkan oleh cacing Toxocara sp. Penyakit ini termasuk dalam golongan penyakit zoonosis karena dapat menular pada hewan dan pada manusia dapat menyebabkan visceral larval migrans. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian penyakit zoonotik Toxocariasis pada pasien anjing dan kucing yang ditangani di Klinik Hewan Jogja selama masa pandemi Covid-19 tahun 2019-2020. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran angka kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis pada anjing kucing, yang selanjutnya akan sangat bermanfaat untuk dasar edukasi ke masyarakat luas untuk pencegahan atau antisipasi penyakit zoonosis tersebut. Metode: Penelitian dilakukan dengan wawancara, dan melakukan pemeriksaan secara langsung pada pasien anjing kucing yang terindikasi menderita cacingan yang ditangani di KHJ selama covid-19 tahun 2019-2020. Selanjutnya dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium feses, dan penanganan pasien. Apabila ditemukan telur cacing Toxocara sp pada pemeriksaan mikroskopis feses, maka pasien dinyatakan positif menderita Toxocariasis. Penelitian juga memanfaatkan data medical record yang ada di Klinik Hewan Jogja. Hasil data yang diperoleh, selanjutnya dicatat, disajikan dalam bentuk tabel, dan dianalisis secara diskriptif. Hasil: Berdasar pada hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis tahun 2019 dan 2020 adalah pada pada anjing 1,60% dan 1,58%, dan pada kucing 4,30% dan 6,66%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama covid-19 sepanjang tahun 2019-2020 Januari sampai Desember di Klinik Hewan Jogja selalu menangani pasien anjing dan kucing  yang menderita Toxocariasis.Simpulan Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis selalu ada di masyarakat, sehingga edukasi ke masyarakat luas untuk pencegahan atau antisipasi penyakit zoonosis tersebut harus terus dilakukan, sehingga masyarakat sehat terbebas dari penyakit zoonosis Toxocariasis.
Morfologi Pertumbuhan Tulang Toraks Ayam Kampung (Gallus gallus gallus) Pasca-Menetas Sampai Usia Sembilan Minggu Nur Indah Septriani; Nisrina Salsabila; Ruchianasari Delia Putri; Asifa Bella Ilmy Firdaus; Frida Prasetyo Utami; Hendry Saragih
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.78425

Abstract

Ayam kampung (Gallus gallus gallus) adalah salah satu varietas ayam buras Indonesia. Siklus hidup ayam kampung cepat dengan indikator pertumbuhan dapat dilihat dari pertumbuhan tulangnya. Parameter pertumbuhan ayam salah satunya berasal dari perhitungan hasil pengukuran jarak antar tulang atau sendi. Salah satu bagian yang penting untuk diukur yaitu toraks ayam karena dada adalah salah satu bagian karkas ayam yang mengandung banyak daging. Lingkar, lebar, dan panjang dada pada ayam dapat digunakan untuk menaksir berat daging pada ayam. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui panjang tulang dada ayam pada fase pertumbuhan, mulai dari pre-starter sampai ke fase grower. Pengukuran tulang toraks meliputi bagian clavicula, sternum, coracoid, scapula, vertebrae, dan costae menggunakan kaliper dan jangka sorong. Data hasil pengukuran tulang toraks kemudian dianalisis menggunakan metode one-way ANOVA dan Uji Duncan, dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menggunakan Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistics 25. Laju pertumbuhan tulang sternum, coracoid, scapula dan costae mengalami peningkatan pesat sampai minggu ke-5 kemudian mengalami penurunan mulai minggu ke 7. Oleh karena itu pemberian pakan pada minggu awal menetas sampai mingg ke-5 perlu dimaksimalkan dengan memberikan pakan berprotein tinggi untuk memberikan pertumbuhan yang maksimal. 
Multidrug-Resistant Strain ExPEC Isolat Asal Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Wahyu Prihtiyantoro; Agus Purnomo; Sudarisman .; Khusnan .
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.78592

Abstract

AbstractExtraintestinal Escherichia coli (ExPEC) causes colibacillosis in poultry, including quail. ExPEC is a pathogenic E. coli that causes colibacillosis outside the gastrointestinal tract of poultry, in the form of peritonitis, pericarditis, salpingitis, synovitis, osteomyelitis, septicemia, pneumonitis, nephritis, pleurisy, proventriculitis and ventriculitis. In poultry farming antibiotics are used to promote growth and egg production, prevention and treatment of bacterial infections. Antibiotic resistance is a new problem that arises in poultry farming. In this study, 24 isolates of ExPEC strain from quail were used. These isolates did not differentiate sorbitol in the MacConkey (SMAC) sorbitol test assay. Antibiotic resistance was tested based on the inhibition of bacterial growth on Muller Hinnton Agar (MHA) media. 10 types of antibiotics were used to observe their resistance in all isolates. Resistance to Amikacin (87.5%), Ampicillin (87.5%), Ciprofloxacin (100%), Clindamycin (95.83%), Cefoxacin (25.0%), Doxycycline (87.5%), Erythromycin (100%), Gentamicin (95.83%), Penicillin (95.83%) and Tetracycline (83.3%). The isolates had multidrug-resistance between 3 to 10 types of antibiotics. This study showed that ExPEC isolates from quail were resistant to the type of antibiotics tested, so that the use of antibiotics in quail culture should be limited to reduce and prevent the emergence of new antibiotic resistance. Keyword: Escherichia coli, sorbitol-negative, quail, antibiotics resistance

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue