cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2019)" : 10 Documents clear
Small Scale Ecology and Society: Forest-Culture of Papua Nutmeg (Myristica argentea Warb.) Antoni Ungirwalu; San Afri Awang; Ahmad Maryudi; Priyono Suryanto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.913 KB) | DOI: 10.22146/jik.52091

Abstract

Identities and entities can be found in the cultural and ecological environment of a community when its members interact with each other. The Papua nutmeg (Myristica argentea Warb.) has been utilized by the Baham-Matta ethnic in the western part of Papua for centuries as part of their traditional ecological knowledge of nontimber forest products (NTFPs). However, this practice has not been scientifically constructed as part of social forestry science. Therefore, this paper seeks to contribute to an empirical understanding of the forest-culture of the local community and its implications for adaptive forest governance in West Papua. This study found that adaptive resource management has been applied to the Papua nutmeg, which is called henggi in Iha language and endemic to the tropical forest of the western part of Papua. The treatment of Papua nutmeg consists of three stages, namely pre-harvest, harvest, and post-harvest, all of which form a holistic unity which is sustainable until today. The Papuan nutmeg is traditionally managed and locally conserved using a traditional method known as the sasi system.Ekologi dan Masyarakat Skala Lokal : Hutan Budidaya Pala Papua (Myristica argentea Warb.)IntisariIdentitas dan entitas dapat ditemukan pada lingkungan budaya dan ekologi masyarakat saat mereka berinteraksi. Pala papua (Myristica argentea Warb.) telah dimanfaatakan selama berabadabad oleh etnis Baham-Matta di Papua Barat berdasarkan sistem pengetahuan ekologis tradisional sebagai bagian dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan. Namun disayangkan fenomena ini belum dikonstruksi secara ilmiah sebagai bagian dari ilmu perhutanan sosial. Oleh karena itu makalah ini berusaha memberi kontribusi pada pemahaman empiris tentang hutan-budaya dari praktik masyarakat lokal dan implikasinya terhadap tata kelola hutan adaptif di Papua Barat. Hasil kajian ini menemukan bahwa pengelolaan sumber daya adaptif pala papua yang disebut Henggi dalam bahasa Iha adalah tumbuhan endemik yang berasal dari hutan alam tropis di Papua Barat. Pemanfaatan pala papua terdiri dari tiga tahapan yaitu pra panen, panen dan pasca panen. Pengelolaaannya masih sangat sederhana dan bersifat tradisional dengan salah satu keunggulannya adalah konservasi tradisional menggunakan sistem “Sasi”. 
Lessons Learned from Social Forestry Policy in Java Forest: Shaping the Way Forward for New Forest Status in ex-Perhutani Forest Area Andita Aulia Pratama
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.967 KB) | DOI: 10.22146/jik.52092

Abstract

Forest resource control in Indonesia has progressed from stringent state control towards a more community and indigenous based. Indonesia has embarked a journey in agrarian reform and social forestry to achieve a more balanced portion of forest resource control. The social forestry has manifested in the Collaborative Forest Management Program (PHBM) by Perhutani with the establishment of Forest Community Institution (LMDH) as its core. Forest for Special Purpose (KHDTK) Getas – Ngandong was chosen as the study case since it offers striking issue in social forestry program in the past and the outlook for the new forest status. This paper attempted to identify the policy learning from the past forest resource arrangement i.e., social forestry policy for the new forest status outlook. We identified the policy prior to the social forestry program and the implementation of social forestry from Perhutani. Subsequently, we identified policy learning from that past policy and tried to formulate the policy outlook for the new forest status. The data obtained through an interview to key informants complemented with observation, study literature, and document study. We found that past policy does not incorporate the local community in the forest utilization. The social forestry by Perhutani in their PHBM also showed indifferent approach which positioned the local community unequal with the Perhutani as social forestry promised. We identified fundamental changes should be done, which should prioritize social aspect before seeking out the economic and ecological restoration of the forest. We found the new forest status might hamper the implementation for the new forest policy which driven by the social forestry ideas. If only the new forest status could enable social aspect, the new manager will require tremendous support, robust institution, and plentiful resources to implement their policy.Pembelajaran dari Kebijakan Perhutani Sosial di Hutan Jawa: Menyusun Langkah Ke-depan untuk Status Hutan Baru di Kawasan Hutan eks-PerhutaniIntisariPengelolaan hutan di Indonesia yang dulunya didominasi oleh peran sentral negara saat ini telah mulai bergeser menjadi pengelolaan yang berbasis masyarakat dan adat. Program perhutanan sosial dan reforma agraria telah dijalankan untuk mendapatkankebermanfaatan hasil hutan secara lebih adil. Perhutanan sosial tersebut termanifestasikan dalam Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dari Perhutani dengan pembentukan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Getas – Ngandong memberikan suatu kasus yang menarik karena memperlihatkan adanya konteks perhutanan sosial di masa lampau dalam PHBM dan pengelolaan yang sedang dilakukan saat ini dengan adanya perubahan status dan pengelola. Artikel ini menggali pembelajaran dari kebijakan dari pengelolaan hutan di masa lalu (perhutanan sosial dalam PHBM) dan pandangan ke depan pengelolaan dengan konsep perhutanan sosial dengan status yang baru. Pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara kepada informan kunci yang dilengkapi dengan observasi langsung, studi literatur dan studi dokumen. Dari hasil penelitian tersebut, didapat hasil bahwa kebijakan di masa lampau tidak mengikutsertakan masyarakat sekitar dalam pengelolaan hutan. Kemudian dapat disimpulkan bahwa perhutanan sosial dari PHBM juga tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan karena juga tidak menempatkan masyarakat sebagai mitra setara seperti yang dijanjikan konsep perhutanan sosial. Perubahan fundamental yang harus dilakukan mencakup perubahan fokus pembangunan hutan ke aspek sosial sebelum fokus ke aspek ekonomi dan ekologi hutan. Perubahan status yang baru juga terlihat dapat menghambat implementasi dari kebijakan perhutanan sosial yang baru. Apabila aspek sosial dapat diselesaikan maka selanjutnya akan masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi pengelola baru. Pengelola baru akan membutuhkan dukungan yang besar dari segi sumber daya dan perlu membentuk institusi secara utuh untuk dapat mengimplementasikan kebijakannya.  
Status Ergonomi Pekerja Sektor Kehutanan di Indonesia: Kelelahan Fisik-Mental-Sosial, Kepuasan Kerja, Konsep Sumber Bahaya, dan Konsep Biaya Kecelakaan Efi Yuliati Yovi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.015 KB) | DOI: 10.22146/jik.52140

Abstract

Pengelolaan hutan lestari menuntut perhatian terhadap perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), selain perhatian terhadap aspek produktivitas kerja, dan kesejahteraan pengelola/pekerjanya. Di Indonesia, ke-empat aspek tersebut, yang merupakan tujuan utama kajian ergonomi, belum banyak mendapat perhatian, walau kegiatan pengelolaan hutan merupakan kegiatan dengan risiko gangguan K3 yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan gambaran kondisi kelelahan fisikmental-sosial, gangguan otot, kepuasan kerja, persepsi terhadap sumber bahaya, dan persepsi terhadap biaya kecelakaan kerja dalam kegiatan pengelolaan hutan di Indonesia. Status kelelahan diukur menggunakan instrumen Cumulative Fatigue Symptom Index (CFSI) dan gangguan otot diinvestigasi menggunakan instrumen Standardized Nordic Questionnaire (SNQ). Kepuasan kerja dan persepsi terhadap sumber bahaya dan biaya kecelakaan ditelusuri menggunakan kuisioner dan wawancara (tatap muka, pertanyaan terbuka dan semi terstruktur). Data diambil dari 98 responden yang terdiri atas polisi hutan, tenaga inventarisasi hutan, pengawas/mandor penebangan, dan staf administrasi selama Februari 2016–Oktober 2017. Analisis CFSI menunjukkan bahwa kegiatan penjagaan hutan dan inventarisasi hutan telah menyebabkan gangguan kelelahan fisik dan mental yang intens (dalam bentuk gangguan kecemasan). Analisis SNQ mengonfirmasi keluhan gangguan otot pada pinggang, punggung, leher, bahu, serta lengan (bawah-atas). Secara umum responden memiliki (1) keterbatasan secara finansial, (2) tingkat pengetahuan yang belum memadai untuk mengenali berbagai sumber bahaya potensial di tempat kerja, dan (3) pemahaman yang kurang tepat terhadap konsep biaya kecelakaan. Keterbatasan aspek kognitif responden menyebabkan penggunaan mekanisme K3 partisipasif semata (untuk meningkatkan perlindungan K3) bukanlah keputusan yang tepat. Upaya peningkatan perlindungan K3 perlu dilakukan dalam bentuk (1) peningkatan fasilitas kerja (fasilitas kesehatan, saranasarana sosial dan komunikasi, aksesibilitas), (2) peningkatan pendapatan, dan (3) peningkatan pemahaman terhadap konsep sumber bahaya dan konsep biaya kecelakaan kerja.Ergonomics Status of Indonesian Forestry Workers: Physical-Mental-Social Fatigue, Job Satisfaction, Concept of Hazards, and Concept of Accident CostAbstractSustainable forest management requires attention to the protection of occupational safety and health (OSH), in addition to attention to aspects of work productivity, and the welfare of managers/workers. In Indonesia, these four aspects, which are the main objectives of ergonomics studies, have not received much attention, although forest management activities are activities with a high risk of OSH disorders. This study aims to present an overview of the conditions of physical-mental-social fatigue, musculoskeletal disorders (MSDs), job satisfaction, perception of hazards sources, and perception toward work accident costs from workers involved in forest management activities in Indonesia. Fatigue status was measured using the Cumulative Fatigue Symptom Index (CFSI) and MSDs were investigated using Standardized Nordic Questionnaire (SNQ). Job satisfaction, perception of the source of danger, and the cost of accidents were traced using questionnaires and interviews (face to face, open and semi-structured questions). Data were taken from 98 respondents consisting of forest rangers, forest inventory workers, logging supervisors, and administrative staff during February 2016–October 2017. The CFSI analysis shows that forest guarding and forest inventory have caused intense physical and mental fatigue (in the form of excessive anxiety). The SNQ analysis confirms intense MSDs complaints at the waist, back, neck, shoulders, and arm. The general characteristics of the respondents were having: (1) limited financial capacity, (2) inadequate knowledge to recognize various potential hazards sources at work, and (3) inappropriate understanding of the concept of accident costs. The limitations on the respondents’ cognitive, has made participatory OSH mechanisms alone (to improve OSH protection) is not an appropriate option. Efforts to improve OHS protection should be carried out in the form of (1) improving workplace facilities (health facilities, social and communication facilities, accessibility), (2) improving remuneration, and (3) improving knowledge on the concepts of the source of hazards and accident cost.
Pengaruh Sumber Benih dan Famili Terhadap Pertumbuhan Bibit Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla King.) Umur Tujuh Bulan Mashudi Mashudi; Mudji Susanto; Liliana Baskorowati
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.194 KB) | DOI: 10.22146/jik.52141

Abstract

Mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla King.) merupakan jenis eksotik dari Amerika Latin yang telah ditanam di Indonesia sejak tahun 1870. Jenis ini merupakan pemasok kayu pertukangan yang cukup penting di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh sumber benih dan famili terhadap keragaman pertumbuhan bibit S. macrophylla untuk mendukung kegiatan pemuliaan. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari dua faktor, yaitu sumber benih (Banjar-Jabar, Samigaluh – Kulonprogo, Bondowoso-Jatim dan Lombok-NTB) dan famili (35 famili). Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber benih berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter batang, sedangkan famili berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang dan jumlah daun pada umur 7 bulan. Pertumbuhan bibit dengan tinggi terbaik (55,8 cm) berasal dari sumber benih Banjar dan pertumbuhan bibit dengan diameter batang terbaik berasal dari sumber benih Banjar dan Lombok masing-masing sebesar 0,62 cm dan 0,61 cm.Effect of Seed Source and Family on The Growth of (Swietenia macrophylla King.) Seedling at Seven Months Old.AbstractSwietenia macrophylla King. is an exotic species from Latin America which have been planted in Indonesia since 1870. This species is a good wood source for construction timber which is quite important in Indonesia. This study was conducted to determine the effect of seed source and family on S. macrophylla seedling growth which may be useful for supporting breeding program of this species. The seeds were collected from four seed sources: Banjar - West Java, Samigaluh - Kulonprogro, Bondowoso - East Java and Lombok – West Nusa Tenggara. Every seed source consisting of 10 families, except Bondowoso which had 5 families. The study was arranged in a randomized complete design, five seedlings per plot and repeated 5 times for each family. At 7 months old the seed source had significantly influence on height and stem diameter, while the family significantly influence height, stem diameter and the number of leaf. Banjar seed source had the best height growth (55.8 cm), while Banjar and Lombok seed sources had the best stem diameter, respectively 0.62 cm and 0.61 cm.
Keanekaragaman Jenis Semut pada Tingkat Perkembangan Lahan yang Berbeda: Pendekatan Fase Agroforestri Ananto Triyogo; Budiadi Budiadi; SM Widyastuti; Suwito Setyo Budi; Selly Varanita
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.083 KB) | DOI: 10.22146/jik.52364

Abstract

Tingkat perkembangan lahan umumnya diikuti dengan perubahan struktur vegetasi penyusun ekosistem yang ada didalamnya. Dalam perjalanannya, muncul intervensi yang dapat mempengaruhi tingkat perkembangan lahan baik mendukung ataupun menghambat. Salah satu bentuk intervensi yang dapat terjadi adalah berupa aktivitas pemanfaatan lahan, sistem agroforestri (AF). Pergeseran tingkat perkembangan lahan melalui pendekatan tingkat perkembangan AF diikuti perubahan vegetasi penyusun menuju kearah ekosistem yang mendekati ekosistem hutan. Dari sisi ekologi, bagaimana perkembangan AF berdampak terhadap struktur komunitas serangga penyusun di dalamnya, khususnya semut, penting diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur komunitas semut yang menyusun ekosistem AF. Pengambilan data dilakukan di tiga tingkat AF (awal, tengah, dan lanjut) di musim kemarau (April, Mei, Juni, Agustus, dan September). Metode koleksi semut yang digunakan adalah pit-fall trap dan penangkapan langsung. Total diperoleh 7 jenis semut terdiri dari Odontoponera denticulate (Ponerinae), Odontomachus sp. (Ponerinae), Anaplolepis gracilipes (Formicinae), Pheidologeton sp. (Myrmicinae), Camponotus sp. (Formicinae), Polyrachis sp. (Forminae), dan Crematogaster sp. (Myrmicinae). Tingkat perkembangan AF tidak diikuti dengan perbedaan jenis semut namun berdampak pada kemelimpahan masing-masing jenis. Keanekaragaman jenis tertinggi serta jumlah individu semut terbesar berturut-turut ada pada AF tengah, awal, dan lanjut. Selanjutnya, terdapat 5 kelompok fungsional dengan variasi kemelimpahan berdasarkan perkembangan AF. Tingkat AF awal lebih sesuai untuk kelompok Generalized myrmicinae (GM),AF tengah untuk kelompok Dominant opportunist, dan AF lanjut untuk Forest opportunist (FO). The Diversity of Ants in Different Land Develompental: An Agroforestry Phase ApproachAbstractThe levels of land development process typically followed by changes in the vegetation structure of the ecosystems that comprises it. In a process, interventions whether artificial (human) or naturals were able to affect land development, either support or hinder. Some of the interventions that possible to occur are human activities through revegetation and land use, such as agroforestry practice (AF). The levels of land development through the shift of AF development phase common followed by changes in the vegetation inside. In terms of ecology, the mechanism of how the AF development phase affects the community structure is important to know. This research was conducted to determine the community structure of ants under the AF ecosystem and it is functional groups. In addition, we devided the AF system based on its developmental phase (early, middle, and advance). The data was obtained in the area of Nglanggeran, Gunung Kidul Regency of Yogyakarta during the dry season (April, May, June, August, and September). Meanwhile, method of ant collection utilized pit-fall trap and direct collection method. A total 7 species of ants were obtained consisting Odontoponera denticulate (Ponerinae), Odontomachus sp. (Ponerinae), Anaplolepis gracilipes (Formicinae), Pheidologeton sp. (Myrmicinae), Camponotus sp. (Formicinae), Polyrachis sp. (Forminae), and Crematogaster sp. (Myrmicinae). The AF phase are not followed by different species of ants but has an impact on the species abundance. The highest species diversity and the largest number of individual ants were found in middle, early, and advanced AF, respectively. Furthermore, there are 5 ant functional groups with variouss abundance based on AF phase. The early AF is more suitable for Generalized myrmicinae (GM) groups, middle for Dominant opportunist (DO) and GM groups, while advanced for Forest opportunist (FO) groups.
Pengaruh Ukuran Serbuk dan Penambahan Tempurung Kelapa Terhadap Kualitas Pelet Kayu Sengon Anindya Husnul Hasna; J. P. Gentur Sutapa; Denny Irawati
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.009 KB) | DOI: 10.22146/jik.52428

Abstract

Limbah industri kayu sengon menjadi salah satu bahan baku dalam pembuatan pelet kayu karena potensinya yang cukup besar. Akan tetapi pelet kayu sengon memiliki kerapatan serta nilai kalor yang rendah. Untuk meningkatkan sifat bahan bakar pelet kayu Sengon maka dilakukan pencampuran bahan dengan serbuk tempurung kelapa. Penelitian ini menggunakan bahan dari limbah serbuk gergaji sengon (Falcataria moluccana (Miq.)) dan limbah tempurung kelapa (Cocos nucifera). Masing-masing bahan dibuat partikel pada 3 kelompok ukuran yaitu 20-40 mesh, 40-60 mesh, dan 60-80 mesh. Ke dalam serbuk kayu sengon ditambahkan serbuk tempurung kelapa dengan penambahan 25%, 50%, dan 75%, sedangkan untuk kontrol (0%) adalah pelet kayu sengon tanpa penambahan tempurung kelapa. Pelet dibuat dengan menggunakan single-pelletizer pada suhu ruang dengan tekanan 100 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi bahan baku yang berbeda (sengon dan tempurung kelapa) memberikan pengaruh terhadap sifat fisika dan kimia pelet kayu. Semakin tinggi persentase campuran serbuk tempurung kelapa pada pelet kayu sengon maka semakin tinggi keteguhan tekan, karbon terikat, total karbon dan nilai kalor, sedangkan untuk kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar N, S, dan H semakin rendah. Pelet terbaik dihasilkan pada kombinasi penambahan tempurung kelapa 50% dengan ukuran 60-80 mesh yang memiliki sifat kadar abu yang rendah (0,79%) dan nilai kalor yang tinggi (5129,07 Kal/g), serta keteguhan tekan yang masih cukup tinggi (444,75N). Hasil tersebut memenuhi standar SNI 8021:2014.Effect of Particle Size and Addition of Coconut Cell on the Quality of Sengon Wood PelletAbstractThe waste of sengon (Falcataria moluccana) industry becomes one of the raw materials in the manufactured of wood pellets, because of its potency. However F. moluccana pellets posses low density and calorific value. To improve its properties, a materials mixing with coconut shell parcticles was conducted. This study used material from the waste of sengon (F. moluccana) sawdust and the waste of coconut (Cocos nucifera). Particles from those materials were made on 3 sizes which are 20-40 mesh, 40-60 mesh, and 60-80 mesh. 25%, 50%, and 75% of coconut shell were added into sengon sawdust, while woode pellets with no additions were used as a control. Pellets are made using single-pelletizer at room temperature with a pressure of 100 kg/cm2. The research results showed if the different material combination (sengon and coconut shell) gave significant effect to physical properties and chemical content of wood pellets. Higher percentage of coconut shell gives higher compressive strength, fixed carbon content, total of carbon, and calorific value, while volatile matter, ash content, N, S, and H content showed lower value. The best pellet was resulted from combination between coconut shell addition 50% and nesh size 60 – 80 which posses quite low ash content (0.79%) and high calorific value (5129.07 Kal/g), and high compression strength (444.75 N). This result has qualified the standard of SNI 8021:2014.
Dinamika Suksesi Vegetasi pada Areal Pasca Perladangan Berpindah di Kalimantan Tengah Ardiatma Maulana; Priyono Suryanto; Widiyatno Widiyatno; Eny Faridah; Bambang Suwignyo
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.926 KB) | DOI: 10.22146/jik.52433

Abstract

Indonesia memiliki luasan hutan hujan tropis terluas nomor tiga setelah Brazil dan Afrika. Namun, tingkat degradasi hutan yang tinggi di Indonesia menyebabkan negara ini menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Salah satu penyebab turunnya luasan hutan tropis di Indonesia adalah praktek perladangan berpindah. Suksesi vegetasi pasca perladangan berpindah dapat memberikan layanan ekologis berupa peningkatan tutupan vegetasi dan perbaikan sifat tanah yang jarang sekali terekspose pada tingkat lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika suksesi vegetasi padalahan pasca perladangan berpindah tingkat lanjut. Penelitian dinamika suksesi vegetasi dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman bawah, semai sapihan dan pohon di lahan pasca perladangan dengan tiga umur yang berbeda, yaitu bera muda (1 – 10 tahun), bera sedang (11 – 20 tahun), bera tua (> 20 tahun), dan hutan alam dengan menggunakan metode petak bersarang dengan plot yang ditempatkan secara sistematik. Analisis vegetasi dengan menggunakan Indeks Nilai Penting, Kelimpahan Jenis, Keragaman, dan Kemerataan. Analisis varian dengan uji lanjut DMRT digunakan jika hasil dari tiap index vegetasi berbeda signifikan antar umur perladangan. Adanya pola peningkatan serta perbedaan yang nyata (P < 0,05) antara kelimpahan dan keragaman jenis vegetasi penyusun lahan bera sedang dengan lahan bera tua pada tingkatan pohon kecuali vegetasi penyusun tanaman bawah. Nilai keragaman dan kelimpahan jenis tingkat pohon lahan bera tua tidak berbeda nyata dengan hutan alam namun memiliki komposisi yang berbeda.The Dynamics of Succession of Vegetation in the Post-Shifting Cultivation Area in Central KalimantanAbstractIndonesia’s forests is the third largest tropical forest after Brazil and Africa. However, the high rate of forest degradation in Indonesia led this country become one of the most largest contributor of greenhouse gas emissions in the world. One of the causes of the degradation of tropical forest in Indonesia is the shifting cultivation practice. The succession of vegetation after shifting cultivation practice can provide ecological services such as increasing vegetation cover and improving soil properties but takes too long to recover. This study aims to understand the dynamics of vegetation succession in the post-shifting cultivation advanced stage. This study was conducted using systematical nested sampling method to take sample of shurb and herbs, and trees, including, seedling and, sapling growth stage form three different stage of post-shifting cultivation land areas, ie young fallow (1 - 10 years), intermediate fallow (11 - 20 years), old fallow (> 20 years), and natural forest. The vegetation data were then analyzed using Important Value, Species Richness, Diversity and Evenness Indices. Analysis of variance with post-hoc test of DMRT assays was used if the results each vegetation indices differed significantly between stage of post-shifting cultivation land. The Species Richness and Diversity Index of shurb and herb, seedling, sapling, and tree have significantly increased (P < 0,05) except the herb and shrub communities. The Species richness and Diversity Index of tree stage of old fallow were not significantly different from natural forest but it was composed with different species.
Fire Regime in a Peatland Restoration Area: Lesson from Central Kalimantan Bekti Larasati; Mamoru Kanzaki; Ris Hadi Purwanto; Ronggo Sadono
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.384 KB) | DOI: 10.22146/jik.52436

Abstract

Peat fires have caused carbon emissions and damage to local and regional communities in Indonesia. An effective fire prevention system is required for mitigating climate change and enabling sustainable development of peatlands. This study examined the fire regime in a peatland restoration area in Central Kalimantan in order to assist the establishment of a fire prevention system. The fire regime was analysed using spatial-temporal analysis, land cover change mapping, and logistic regression analysis. Spatial-temporal analysis was done using monthly Niño 3.4 sea surface temperature anomalies, daily rainfall, and MODIS Active Fire (MCD14DL) hotspots from 2006 to 2015. Land cover change was mapped using Landsat imagery from2014, 2015 and 2016. Logistic regression analysis was conducted to identify significant factors that increase fire risk. The temporal analysis showed that the strongest El Niño occurred in 2015, when the region experienced a 140-days drought period. The highest number of hotspots was also observed in this year, with hotspots concentrated in the latter half of drought period. Moreover, spatial analysis using Kernel Density Estimation (KDE) showed fire recur in degraded areas. The logistic regression analysis used topographic and proximity factors, land cover classes, and soil types as independent variables. It showed that fire in 2014 and 2015 was associated with several land cover classes and was related to historical fire occurrence areas based on KDE results. Several area of peatland forests burned in 2015 and occurred at the forest edge areas located near cultivated or degraded land (e.g. shrubland) and oil palm plantations. Based on the results, the fire regime in the study area is characterized by fires that occurring/recurring in relation to climatic conditions, especially drought periods, and are typically located in cultivated or degraded land cover classes. These parameters should be considered in developing a fire prevention system in the restoration area.Rezim Kebakaran Hutan dan Lahan di Area Restorasi Lahan Gambut: Studi dari Kalimantan TengahIntisariKebakaran di lahan gambut menyebabkan emisi karbon dan kerusakan sistem kehidupan masyarakat lokal dan regional. Sistem pencegahan kebakaran yang efektif diperlukan untuk mitigasi perubahan iklim serta mendorong pembangunan lahan dan hutan yang lestari di kawasan gambut. Studi ini meneliti tentang rezim kebakaran hutan dan lahan di suatu kawasan restorasi gambut di Kalimantan Tengah. Rezim kebakaran hutan dan lahan dianalisis menggunakan analisis spasial-temporal, perubahan tutupan lahan, dan regresi logistik. Analisis spasial-temporal menggunakan parameter nilai rata-rata sea surface temperature (SST) bulanan, curah hujan harian, dan hotspot dari MODIS Active Fire (MCD14DL) tahun 2006-2016. Perubahan tutupan lahan dipetakan dengan analisis citra Landsat tahun 2014, 2015 dan 2016. Regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor yang berpengaruh pada peningkatan resiko kebakaran. Analisis temporal terhadap nilai SST tahun 2006-2016 menunjukkan bahwa El- Niño terparah terjadi di tahun 2015 yang memiliki hari tanpa hujan selama 140 hari berturut-turut dan ditemukan titik hotspot terbanyak. Kernel Density Estimation (KDE) digunakan dalam analisis spasial dan hasilnya menunjukkan bahwa kebakaran terjadi dan dapat berulang di area terdegradasi. Regresi logistik  menggunakan parameter yang terdiri faktor topografis, kedekatan dengan sungai/kanal, tipe penutupan lahan, serta jenis tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebarakan tahun 2014 dan 2015 berhubungan dengan beberapa tipe tutupan lahan di area yang secara historis pernah terbakar berdasarkan analisis KDE, sehingga area tersebut terindikasi telah terdegradasi sebelumnya. Beberapa area hutan di lahan gambut juga mengalami kebakaran pada tahun 2015 khususnya di area tepi hutannya. Berdasarkan hasil, rezim kebakaran di area studi dapat dijelaskan bahwa kebakaran terjadi dan dapat berulang karena pengaruh iklim.
Ekofisiologi dan Peluang Pengembangan Durian (Durio zibethinus) Dengan Sistem Agroforestri di Lereng Selatan Gunung Merapi, Indonesia Febri Arif Cahyo Wibowo; Priyono Suryanto; Eny Faridah
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.645 KB) | DOI: 10.22146/jik.52441

Abstract

Durian (Durio zibethinus) merupakan salah satu tanaman yang banyak dikembangkan sebagai tanaman dalam sistem agroforestri di Kecamatan Cangkringan dan Kemalang di lereng selatan Gunung Merapi. Namun demikian, walaupun areal pertanamannya terus meningkat, produktivitas Durian tidak cukup optimal. Hal ini disinyalir karena kurangnya tindakan silvikultur yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sifat fisiologi dan faktor lingkungan terhadap durian pada sistem agroforestri yang ada di pekarangan dan tegalan milik petani, serta mengamati kondisi perakarannya di kedua lokasi tersebut. Identifikasi ekofisiologi durian dilakukan dengan pengambilan sampel daun untuk mengukur sifat fisiologis (aktivitas nitrat reduktase, kandungan air nisbi daun, stomata, prolin dan klorofil), serta pengamatan langsung di lapangan untuk mengukur faktor lingkungan (suhu, kecepatan angin, sekapan cahaya dan kelembaban). Analisis yang digunakan adalah analisis varian dengan uji lanjut DMRT dan analisis statistik bertatar. Pengamatan kondisi perakaran durian dilakukan dengan metode resistivitas geolistrik. Hasil penelitian dari gatra ekofisiologi menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata pada hasil produksi buah durian dengan umur relatif sama di kedua lokasi, dimana hasil analisis statistik bertatar menunjukkan bahwa produksi durian dipengaruhi oleh kecepatan angin. Angin dengan kecepatan tinggi akan berpengaruh terhadap gugurnya buah muda. Perbedaan hasil durian juga diduga dipengaruhi oleh curah hujan yang menyebabkan proses metabolisme pada buah menjadi tidak sempurna. Hujan juga menyebabkan banyaknya buah Durian busuk sebelum dipanen. Selanjutnya diketahui bahwa kondisi tanah di kedua wilayah relatif sama, dengan kondisi rizhosfer perakaran Durian yang didominasi oleh kerikil, pasir dan air.Ecophysiology and Development Opportunities of Durian (Durio zibethinus) Through Agroforestry Systems in the Southern Slopes of Mount Merapi, IndonesiaAbstractDurian (Durio zibethinus) is widely cultivated through agroforestry system in the Cangkringan and Kemalang sub district, in the southern slope of Merapi Mountain, Yogyakarta, Indonesia. Although the area to crop Durian has increased since 1990’s, the productions were not optimal, which probably is due to lack of silviculture treatments. This research aimed to assess the influence of physiological and environmental factors on Durian planted through agroforestry system of homegarden and dryland, and to analyze the condition of durian root systems under those two locations. Ecophysiological studies of Durian were carried out by leaf sampling for physiological properties (i.e.nitrate reductase activity, relative water content, stomata, proline and chlorophyll content) and field observations on environmental factors (i.e. mean air temperature, wind speed, light and moisture). Variance analysis was conducted with advanced DMRT and stepwise statistical analysis. Observation on durian rooting system was conducted by geoelectric resistivity method. The results showed that the soil conditions of the two locations were relatively similar and the root rhizosphere of durian mostly consisted of small stones, sand, and water. It was found that the Durian fruit yield between agroforestry system of homegarden and dryland were different, and based on the stepwise statistical analysis, the Durian production was mostly influenced by wind speed. It was observed that the presence of wind has caused the abscission of young fruits, where faster wind resulted in more abscission of young fruits. Another factor affecting the Durian production was rainfall. It was observed that rainfall has interfered the metabolism processes of the fruits causing fruits being rotten before harvest time.
Potensi Perhutanan Sosial dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Restorasi Gambut Haris Gunawan; Dian Afriyanti
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.621 KB) | DOI: 10.22146/jik.52442

Abstract

Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan diupayakan dengan restorasi lahan gambut untuk mempercepat pemulihan fungsi ekosistem rawa gambut pada satu kesatuan hidrologis gambut dan untuk perlindungan dan pengaturan tata air alaminya. Kajian ini mengobservasi potensi skema perhutanan sosial sebagai salah satu strategi merestorasi lahan gambut dengan mencermati kebijakan praktik (lokal) di masyarakat, potensi keekonomian dan kawasan yang berpotensi. Kajian ini berdasarkan desk study, pencermatan terhadap hasil penelitian mitra penelitian Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut, khususnya terkait paludikultur yang dikategorikan sebagai studi kasus yang memungkinkan bagi perhutanan sosial, juga dilaksanakan observasi lapangan untuk pendalaman studi kasus. Kajian ini memdapatkan gambaran bahwa PP No. 57/2016 dapat mendukung sinergi dengan konsep perhutanan sosial. Beberapa praktik (lokal) memungkinkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut dengan mendapatkan keuntunan dari berbagai jasa ekosistem (pada studi kasus di Sungai Beras, Tanjung Jabung Timur, Jambi), paludikultur yang dapat merevegetasi dan berintegrasi dengan pengelolaan hutan terdekat (studi kasus revegetasi Hutan Lindung Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi), menurunkan konflik sosial (studi kasus di Kesatuan Pengeloaan Hutan Lindung Gambut Beram Itam, Tanjung Jabung Barat), Jambi); sementara di Kepulauan Meranti, riset aksi agroforestry mendapatkan bahwa kesadaran masyarakat tentang praktik bijak pengelolaan produk kayu dan non kayu berpotensi untuk diterapkan dalam praktik perhutanan sosial. Sementara, restorasi gambut terintegrasi dimungkinkan dengan mengadaptasikan konsep perhutanan sosial pada kawasan gambut berfungsi budidaya. Hal ini dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat baik keekonomian dari pertanian dan jasa ekosistem lainnya yang disedikakan oleh model pengelolaan kehutanan; dan memfasilitasi perubahan bertahap bagi reforestai di lahan gambut. Perhutanan sosial di lahan gambut memiliki potensi menjadi tradeoff antara kepentingan sosial, nilai ekonomi, dan lingkungan.Potential Implementation of Social Forestry in Engaging Community Participation in Restoring PeatlandsAbstractSustainable peatland management of tropical peatland is efforted by restoration to accelerate restoring peatland ecosystem function within an area of Peatland Hydrological Unit (PHU), and to preserve water and regulate water system in a natural way. This study observes the possibility of social forestry scheme as a strategy to restore peatlands by discussing regulations, local practices of communities, potential economic benefits, and potential areas. Our observation is based on desk study and reviewing research outputsof Deputy Research and Development of Peat Restoration Agency particularly related paludiculture, we classified the case study which social-forestry enabler, as well as field observation. This shows that PP No. 57/2016 enables peat restoration operationalizing withsocial forestry concepts. Some (local) practices enable community participation in managing peatlands by gaining benefits from several ecosystem services (case study in Sungai Beras, East Tanjung Jabung, Jambi), integrating with other forestry management nearby (case study in Protected Peat Forest Londerang, East Tanjung Jabung, Jambi), decreasing social conflict (case study in Beram Itam, West Tanjung Jabung, Jambi); while in Kepulauan Meranti, action research in agroforestry elicited that the awareness about the wise practices in managing timber product and non timber forest product is potential for social forestry practices. Meanwhile, integrated peat restoration is possible by adapting the concept of forestry to cultivation function of peatlands. This practice will increase the benefit to the communities from economic benefits from agriculture and ecosystem services provided by forestry management model in a longer period; and facilitate a stepwise change towards reforestation. Social forestry in peatland has the potential to be a trade-off between social interests, economic values, and environment.

Page 1 of 1 | Total Record : 10