cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
NEUROENDOKRINOLOGI MELASMA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.746 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.64

Abstract

Melasma adalah kelainan hipermelanosis didapat, ditandai dengan makula hiperpigmentasi yang terdistribusi secara simetris pada bagian tubuh yang terpajan sinar matahari, terutama wajah. Patogenesis kondisi ini belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor telah diketahui berkaitan dengan terjadinya melasma, yang tidak berdiri sendiri.Sistem neuroendokrinologi pada kulit berperan secara lokal dan sistemik melalui jaras humoral dan neurologis untuk menginduksi perubahan vaskular, imunitas, atau pigmen. Sistem ini juga berfungsi menjaga dan memelihara integritas struktur dan fungsi kulit, dan penting dalam homeostasis kulit. Perubahan pada sistem neuroendokrinologi kulit dapat berpengaruh dalam berbagai jenis kelainan kulit, salah satunya melasma. Keterlibatan neurologis pada melasma terutama berhubungan dengan peningkatan ekspresi nerve growth factor receptor (NGFR) dan neural endopeptidase (NEP) serta hipertrofi serabut saraf dermis. Terkait dengan faktor endokrin sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang konsisten mengenai keterlibatan hormon estrogen, progesteron dan hipofisa. Mekanisme patogenesis melasma bersifat heterogen. Pemahaman patogenesis khususnya aspek neuroendokrinologi dapat memberikan terobosan untuk menyelesaikan kesulitan terapi melasma.Kata kunci: hormone, neuroendokrin, melasma, patogenesis
PENGGUNAAN IMUNOSTIMULAN DALAM BIDANG DERMATOVENEREOLOGI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.136 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.65

Abstract

Imunitas terdiri atas 2 jenis yaitu imunitas alamiah dan imunitas didapat. Imunomodulator adalah semua obat yang dapat memodifikasi respons imun, menstimulasi mekanisme pertahanan alamiah dan adaptif, dan dapat berfungsi baik sebagai imunosupresan maupun imunostimulan. Imunostimulan atau imunostimulator adalah substansi (obat dan nutrien) yang menstimulasi sistem imun dengan meningkatkan aktivitas komponen sistem imun untuk melawan infeksi dan penyakit. Terdapat beberapa imunostimulan yang digunakan dalam bidang dermatologivenereologi, meliputi levamisol, simetidin, isoprinosin, talidomid, sitokin rekombinan, dan vaksin BCG. Masing-masing obat memiliki mekanisme kerja, indikasi dan efek simpang yang berbeda, baik sebagai monoterapi maupun terapi kombinasi dengan terapi lain. Talidomid memiliki peran sebagai antiinflamasi, imunomodulator, dan antiangiogenik, tergantung dari komponen respons imun yang dipengaruhi. Pengunaan talidomid harus mempertimbangkan rasio manfaat berbanding risiko bagi pasien, khususnya dalam penggunaan jangka panjang. Beberapa obat telah disetujui penggunaannya oleh badan yang berwenang di beberapa negara. Namun masih tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas imunostimulan pada berbagai penyakit kulit dan efek simpang yang ditimbulkan dalam penggunaan jangka panjang.Kata kunci: Imunostimulan, sistem imun
UJI KLINIS SAMPO FORMULASI KHUSUS PADA PASIEN KETOMBE DAN DERMATITIS SEBOROIK RINGAN PADA SKALP
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.555 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.66

Abstract

Dermatitis seboroik (DS) merupakan kelainan inflamasi kulit di area seboroik berupa lesi eritematosa dan skuama, bersifat kronik-residif, sedangkan ketombe adalah DS derajat ringan berupa skuama pada skalp. Etiopatogenesis DS bersifat multifaktor, salah satunya berupa kolonisasi Malassezia. Studi pendahuluan ini menguji efikasi dan keamanan sampo dengan formulasi khusus yang mengandung climbazole 1% dan piroctone olamine 0,75%. Sebanyak 28 pasien ketombe dan 18 pasien DS ringan di skalp dibagi menjadi dua kelompok secara paralel, acak, dan tersamar ganda, yaitu kelompok uji dan kontrol. Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan setiap 1 minggu selama 4 minggu. Efikasi dinilai menggunakan skor modifikasi Seborrheic Dermatitis Area and Severity Index (SDASI) dan penilaian pruritus menggunakan visual analogue scale (VAS). Analisis efikasi dilakukan secara intention-to-treat dan per-protokol. Pada kelompok pasien ketombe, didapatkan penurunan skor modifikasi SDASI, luas lesi, derajat skuama yang berbeda bermakna antara kelompok uji dan plasebo (p<0,05). Pada kelompok pasien DS ringan pada skalp, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada penurunan skor modifikasi SDASI, luas lesi, derajat skuama, lesi eritematosa, dan skor lesi papul antara kelompok uji dan plasebo (p>0,05). Sampo uji terbukti efektif mengobati ketombe, namun pada DS ringan di skalp sampo hanya efektif mengurangi jumlah skuama tetapi tidak mengurangi lesi inflamasi.Kata kunci: climbazole, dermatitis seboroik, ketombe, piroctone olamine, sampo
TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PEKERJA BINATU TERHADAP DERMATITIS KONTAK DI KELURAHAN PADANG BULAN TAHUN 2017
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.83 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.67

Abstract

Dermatitis kontak adalah peradangan yang disebabkan oleh kontak terhadap substansi yang menempel pada kulit. Salah satu bahan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak adalah deterjen yang biasa digunakan para pekerja di dalam usaha binatu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap pekerja binatu terhadap dermatitis kontak di kelurahan Padang Bulan tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan pada bulan Juli – Desember tahun 2017 terhadap pekerja binatu di Kelurahan Padang Bulan sesuai dengan kriteria inklusi. Pengetahuan dan sikap pekerja binatu dinilai dengan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Sebanyak 33 pekerja binatu dijumpai tingkat pengetahuan terhadap penyebab dermatitis kontak yaitu cukup (63,6%), baik (27,3%), kurang (6,1%), terhadap gejala dermatitis kontak dijumpai baik (39,4%), kurang (36,4%), cukup (24,3%), terhadap penanggulangan dermatitis kontak dijumpai cukup (66,7%), baik (30,3%), kurang (3,0%) dan secara keseluruhan dijumpai cukup (66,7%), baik (27,3%), dan kurang (6,1%). Tingkat sikap pekerja binatu terhadap penyebab dermatitis kontak yaitu baik (45,5%), cukup (33,3%), kurang (21,2%), terhadap gejala dermatitis kontak dijumpai cukup (42,4%), baik (33,3%), kurang (24,2%), terhadap penanggulangan dermatitis kontak dijumpai kurang (39,4%), cukup (36,4%), baik (24,2%), dan secara keseluruhan dijumpai cukup (63,6%), baik (18,2%) dan kurang (18,2%). Sebagian besar pekerja binatu di Kelurahan Padang Bulan memiliki tingkat pengetahuan dan sikap cukup terhadap dermatitis kontak.Kata kunci: dermatitis kontak, pekerja binatu, pengetahuan, sikap.
KORELASI ANTARA KADAR SUPEROKSIDA DISMUTASE DENGAN MALONDIALDEHID PADA JARINGAN KERATOSIS SEBOROIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.443 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.68

Abstract

Keratosis seboroik (KS) merupakan tumor jinak epidermis dan sering dikeluhkan karena secara kosmetik mengganggu penampilan. Superoksida dismutase (SOD) merupakan salah satu antioksidan enzimatik intraseluler yang efektif mencegah stres oksidatif sebagai penyebab utama proses penuaan dan pembentukan lesi tumor keratosis seboroik. Malondialdehid (MDA) adalah senyawa dialdehida produk metabolit oksidasi membran sel oleh radikal bebas. Kadar antioksidan yang rendah biasanya disertai dengan peningkatan kadar MDA.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar SOD dan kadar MDA jaringan pada pasien keratosis seboroik.Desain penelitian ini adalah analitik observasional potong lintang. Subjek penelitian didapatkan dari Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr. Saiful Anwar Malang secara consecutive sampling. Semua proses diagnosis, terapi pengangkatan lesi, serta pemeriksaan kadar SOD dan MDA jaringan keratosis seboroik dilakukan terhadap masing-masing subjek penelitian. Pemeriksaan SOD dan MDA jaringan menggunakan cara enzyme-link immunosorbent assay (ELISA) Bioassay. Uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji korelasi menggunakan uji Pearson. Analisis statistik menggunakan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 15.Subjek penelitian yang didapatkan sebanyak 20 pasien. Rerata kadar SOD jaringan sebesar 0,7665 μM/L dan rerata kadar MDA jaringan sebesar 0,6727 μM/L. Koefisien korelasi antara kadar SOD jaringan dengan kadar MDA jaringan sebesar -0,447 dengan nilai p=0,048. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin rendah kadar SOD akan semakin tinggi kadar MDA pada jaringan keratosis seboroik.Kata kunci: keratosis seboroik, SOD, MDA
PSORIASIS VULGARIS BERAT DITERAPI MIKOFENOLAT MOFETIL: TANTANGAN DALAM PENGOBATAN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.588 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.69

Abstract

Psoriasis merupakan penyakit kulit eritropapuloskuamosa kronik residif, ditandai lesi kulit khas plak eritematosa batas tegas ditutup skuama putih keperakan. Diagnosis psoriasis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan histopatologik. Psoriasis vulgaris berat diterapi mikofenolat mofetil (MMF) belum pernah dan baru pertama kali di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang. Pengalaman klinis, efikasi serta keamanan terapi MMF terbatas. Perempuan, 40 tahun, keluhan timbul bintil dan bercak merah meninggi ditutup sisik putih tebal pada hampir seluruh tubuh sejak 8 pekan lalu disertai gatal. Pada status dermatologikus tampak papul-plak eritem, multipel, lentikuler-plakat disertai skuama di regio fasialis, trunkus, ekstremitas anterior et posterior dextra et sinistra. Tanda Auspitz dan fenomena tetesan lilin positif. Biopsi histopatologik mendukung diagnosis psoriasis vulgaris. Skor psoriasis area and severity index (PASI) 20,4 dengan body surface area (BSA) 50%. Pasien diterapi MMF dan steroid topikal selama 12 pekan dan menunjukkan perbaikan PASI 75%, namun dirawat inap kembali dengan drug induced liver injury (DILI).Pilihan MMF karena saat ini metotreksat sulit didapat dan pasien alergi terhadap siklosporin. Perlu penelitian lebih banyak untuk menilai efikasi dan efek samping MMF dalam tatalaksana psoriasis vulgaris. Kata kunci: psoriasis vulgaris berat, mikofenolat mofetil, drug induced liver injury
TERAPI DAPSON PADA PEMFIGOID BULOSA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.432 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.70

Abstract

Pemfigoid bulosa (PB) merupakan penyakit autoimun bulosa subepidermis yang umumnya menyerang orang berusia di atas 70 tahun. Pemfigoid bulosa jarang ditemukan pada usia muda, tetapi penting untuk mempertimbangkan kemungkinan diagnosis PB pada kelompok usia ini. Pemeriksaan imunofluoresen langsung (DIF) bertujuan untuk mengamati deposit linear IgG dan C3 dalam zona membran basalis, terkait diagnosis banding PB dengan penyakit bulosa subepidermis lainnya. Dalam laporan kasus ini, perempuan berusia 26 tahun datang dengan keluhan utama lepuh berdinding tegang yang timbul di atas bercak merah yang gatal pada tungkai, badan, lengan dan wajah, disertai erosi multipel pada lidah dan rongga mulut. Berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, pemeriksaan histopatologik, serta pemeriksaan DIF, pasien didiagnosis PB. Terapi ditujukan untuk menekan proses inflamasi, berupa kortikosteroid dan antibiotik. Dapson merupakan antibiotik yang bekerja menekan proses inflamasi, dengan menghambat perlekatan dan kemotaksis neutrofil dan pelepasan mediator inflamasi. Terapi dapson pada laporan kasus ini menghasilkan perbaikan klinis.Kata Kunci: pemfigoid bulosa, dapson
MODERN WOUND DRESSING PADA ULKUS TROFIK PASIEN KUSTA TIPE LEPROMATOSA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.991 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.71

Abstract

Ulkus trofik merupakan salah satu bentuk deformitas kaki yang sering ditemukan pada pasien kusta dan dapat menyebabkan disabilitas pada sekitar 10% - 20% pasien kusta. Salah satu terapi ulkus trofik adalah menggunakan hydrocolloid dressing, yang merupakan modern wound dressing untuk merangsang penyembuhan dengan menyediakan lingkungan yang lembap dalam proses penyembuhan luka dan melindungi permukaan luka dari trauma atau kontaminasi bakteri. Dilaporkan sebuah kasus ulkus trofik pada seorang perempuan berusia 61 tahun dengan kusta tipe lepromatosa. Diagnosis ulkus trofik ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa beberapa ulkus di telapak kaki disertai anestesi dengan dasar jaringan granulasi, timbul sejak empat tahun yang lalu. Ulkus berbentuk oval dan berukuran 4 cm x 5 cm x 1,5 cm. Pasien diterapi dengan hidrokoloid yang diaplikasikan pada luka dan diganti setiap 3 hari sekali. Perbaikan ulkus trofik pada kasus ini mulai tampak pada hari ke-28 berupa ulkus semakin dangkal dan mengecil. Pada pengamatan hari ke-70, ulkus menutup menjadi sikatriks eutrofik. Berdasarkan laporan kasus ini, penggunaan hidrokoloid merupakan pilihan terapi yang efektif bila digunakan pada jenis luka yang tepat dan dipantau secara rutin.Kata kunci: ulkus trofik, kusta, hidrokoloid
PENINGKATAN ENZIM TRANSAMINASE PADA KUSTA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.858 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.72

Abstract

Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronik yang mengenai kulit dan sistem saraf perifer dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yaitu bakteri tahan asam dan bersifat intraseluler obligat. Seiring berkembangnya ilmu kedokteran saat ini, kusta dianggap sebagai sebuah penyakit sistemik dan organ hepar menjadi salah satu yang terlibat dalam proses patologis penyakit kusta. Komplikasi gangguan fungsi hepar akibat penyakit kusta selama ini kurang mendapat sorotan, padahal gangguan fungsi hepar secara teoritis hampir pasti menyertai setiap penderita kusta, terutama pada saat timbul reaksi ENL. Pada kenyataannya, gangguan fungsi hepar yang ditandai dengan peningkatan enzim transaminase dapat terjadi akibat berbagai penyebab, yaitu efek samping obat yang bersifat hepatotoksik, koinfeksi kusta dengan virus hepatitis, pembentukan granuloma di hepar dari proses patologis penyakit kusta, ataupun akibat dari proses imunologik reaksi ENL yang melibatkan organ hepar.Tulisan ini mencoba untuk mengupas lebih dalam tetang peningkatan enzim transaminase yang terjadi pada penyakit kusta. Pengetahuan tentang hal ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam penegakan diagnosis dan mendukung penanganan pasien secara menyeluruh.Kata kunci: kusta, enzim transaminase, eritema nodosum leprosum, drug induced liver injury, granuloma
KORELASI GAMBARAN HISTOPATOLOGI, TEKNIK BIOPSI, DAN MANIFESTASI KLINIS VASKULITIS LEUKOSITOKLASTIK KUTAN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 3 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1467.048 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i3.73

Abstract

Vaskulitis kutan dapat sembuh sendiri baik terbatas pada kulit maupun merupakan bagian dari sindrom vaskulitis sistemik. Vaskulitis leukositoklastik kutan adalah vaskulitis nekrotik pada kulit terutama pada pembuluh darah kecil. Manifestasi klinis dapat berupa makula, purpura yang dapat dipalpasi, pustul, urtika, bula hemoragik, nodus, serta ulserasi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat penyakit, manifestasi klinis, dan biopsi kulit. Karakteristik histopatologi ditandai dengan degenerasi apoptotik pada nukleus neutrofil (leukositoklasia), nekrosis fibrinoid di dinding pembuluh darah, dan ekstravasasi eritrosit. Namun, sedikit sekali vaskulitis kutan yang menunjukkan gambaran histopatologi yang patognomonik. Pengambilan sampel biopsi yang tidak tepat waktu dan pemilihan lesi yang kurang sesuai dapat menyebabkan gambaran histopatologis tidak khas untuk vaskulitis. Selain itu, pemilihan teknik biopsi juga berdampak terhadap diagnosis vaskulitis. Pemilihan teknik biopsi dilakukan berdasarkan pembuluh darah yang akan diperiksa. Tipe pembuluh darah bergantung pada lokasi di dalam kulit dan subkutis. Agar dapat memperoleh interpretasi gambaran vaskulitis kutan yang lebih baik dibutuhkan korelasi antara gambaran histopatologi, teknik pengambilan lesi dengan manifestasi klinis.Kata kunci: vaskulitis, leukositoklastik, histopatologi

Page 7 of 29 | Total Record : 282