cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 305 Documents
KORTIKOSTEROID INTRALESI: ASPEK FARMAKOLOGIK DAN PENGGUNAAN KLINIS DI BIDANG DERMATOLOGI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.488 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.54

Abstract

Injeksi kortikosteroid intralesi telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dalam bidang dermatologi dengan hasil yang bervariasi. Dalam dermatologi biasanya digunakan untuk keloid, dermatosis inflamasi (prurigo nodularis, liken simpleks kronik), alopesia areata, akne vulgaris, dan hemangioma. Berbeda dengan kortikosteroid topikal, pada kortikosteroid intralesi, obat akan melewati penghalang dari stratum korneum yang tebal sehingga menjadi bahan antiinflamasi yang poten. Tujuan injeksi intralesi adalah untuk mencapai konsentrasi obat yang tinggi di lokasi yang sakit dengan absorpsi sistemik minimal, sehingga terhindar dari berbagai efek samping yang berkaitan dengan pemberian sistemik. Kortikosteroid menekan inflamasi dan mitosis, sekaligus meningkatkan vasokonstriksi di daerah lesi. Beberapa efek samping lokal (atrofi kulit, perdarahan, nyeri akibat suntikan, ulserasi, infeksi sekunder, dan reaksi alergi) serta sistemik (supresi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal, hambatan pertumbuhan, sinkop, kebutaan, dan gangguan endokrin) telah dilaporkan akibat injeksi intralesi, tetapi efek samping tersebut jarang terjadi (karena diberikan dalam dosis kecil) atau dapat diterima. Oleh karena itu, injeksi kortikosteroid intralesi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam praktik klinis dermatologi.Kata kunci: dermatologi, injeksi, kortikosteroid intralesi, praktik klinis
TES TZANCK DI BIDANG DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.87 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.55

Abstract

Tes Tzanck merupakan prosedur sitologi sederhana yang praktis, mudah dilakukan, ekonomis, kurang traumatik dan hasil cepat. Arnault Tzanck pada tahun 1947 pertama kali melakukan metode ini untuk menemukan sel akantolitik pada lesi kulit vesikobulosa, kemudian berkembang dan terbukti bermanfaat membantu diagnosis untuk menegakkan atau menyingkirkan berbagai penyakit kulit, antara lain penyakit infeksi (herpes simpleks dan varisela zoster), autoimun bulosa (terutama Pemfigus vulgaris), dermatitis spongiosis (dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi), tumor kulit (karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa dan penyakit paget) serta genodermatosis. Sebagian besar sensitivitas dan spesifisitas baik dan dipengaruhi oleh jenis penyakit dan awitan lesi kulit. Prosedur pengambilan spesimen berbeda-beda bergantung pada jenis lesi. Bahan apusan difiksasi dan diwarnai, paling sering dengan pewarnaan Giemsa. Tinjauan pustaka ini membahas peran pemeriksaan sitologi tes Tzanck, berbagai pola karakteristik sitologi pada penyakit yang sering dijumpai, serta beberapa petunjuk teknis pengambilan sampel pada setiap jenis lesi dan fiksasi serta pewarnaan secara benar.Kata kunci: Tes Tzanck, sitologi, sel akantolitik
UJI KOMPARASI KADAR TESTOSTERON SERUM PADA BERBAGAI DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS LAKI-LAKI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.56

Abstract

Hormon testosteron merupakan prekursor adrenal poten yang menyebabkan peningkatan ukuran, sekresi, serta fungsi kelenjar sebasea dengan mengikat reseptor adrenal, peningkatan proliferasi keratinosit folikuler yang dapat menyumbat kanal pilosebasea dan mengakibatkan obstruksi aliran sebum, sehingga terjadi pembentukan mikrokomedo, sebagai lesi awal akne vulgaris (AV).Tujuan penelitian menentukan kadar testosteron serum dan uji beda kadar testosteron serum pada berbagai derajat keparahan AV. Metode penelitian secara potong lintang. Subyek penelitian adalah pasien AV laki-laki umur 13-30 tahun di instalasi rawat jalan (IRJ) Kulit dan Kelamin RSUD dr. Saiful Anwar, Malang, yang memenuhi kriteria penerimaan dan penolakan. Jumlah subyek 63 orang, terdiri dari AV derajat ringan, sedang, dan berat masing-masing berjumlah 21 orang.Hasil penelitian didapatkan rerata kadar testosteron serum AV ringan 6,66 ng/mL, AV sedang 8,11 ng/mL, dan AV berat 8,97 ng.mL. Komparasi rerata kadar testosteron serum ketiga derajat keparahan AV tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p>0,05). Demikian pula hasil uji post hoc untuk mengetahui perbedaan kadar testosteron serum pada masing-masing derajat keparahan AV, yaitu AV ringan dengan sedang, ringan dengan berat dan sedang dengan berat menunjukkan hasil perbedaan tidak bermakna (p>0,05), walaupun nilai rerata pada masing-masing derajat keparahan AV lebih tinggi dibandingkan nilai normal.Disimpulkan tidak ada perbedaan bermakna kadar testosteron serum pada berbagai derajat keparahan AV.Kata kunci: hormon testosteron, akne vulgaris, laki-laki
KORELASI KADAR SENG PLASMA DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.748 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.57

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit radang kronik folikel pilosebasea yang banyak terjadi pada remaja. Manifestasi klinis berupa komedo, papul, pustul, nodus dan kista. Akne vulgaris merupakan penyakit yang dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu faktor genetik, lingkungan, hormon, stres, makanan, trauma, kosmetik, obat, serta defisiensi mineral misalnya seng. Kadar seng berpengaruh pada proses inflamasi, aktivitas Propionibacterium acnes, hiperproliferasi unit pilosebasea, dan produksi sebum yang merupakan patogenesis akne vulgaris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar seng plasma dengan derajat akne vulgaris pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Desain penelitian ini adalah potong lintang analitik. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau berjumlah 35 orang berusia > 18 tahun. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil uji statistik kadar seng plasma dengan derajat akne vulgaris menunjukkan hubungan bermakna (p=0,003) dengan kekuatan korelasi sedang (r=-0,490) antara kadar seng plasma dengan derajat akne vulgaris. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin rendah kadar seng plasma maka semakin berat derajat akne vulgaris yang dialami.Kata kunci: Akne vulgaris, derajat akne vulgaris, kadar seng
HUBUNGAN ANTARA KADAR IMMUNOGLOBULIN E SERUM DENGAN LAMANYA PASIEN MENDERITA ONIKOMIKOSIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.909 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.58

Abstract

Imunologi onikomikosis masih belum sepenuhnya dipahami. Pemahaman respons imun terhadap penyakit onikomikosis mungkin dapat membuka wawasan baru terhadap patogenesis dan terapi. Berdasarkan beberapa laporan kasus dan penelitian sebelumnya, dijumpai kadar immunoglobulin E (IgE) serum yang lebih tinggi pada pasien asma, rinitis, atau urtikaria yang menderita onikomikosis. Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan antara kadar IgE serum dengan lamanya menderita onikomikosis pada populasi umum.Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 20 pasien onikomikosis. Setelah diagnosis onikomikosis ditegakkan, pada setiap sampel dicatat lama sakit dan kemudian dilakukan pemeriksaan kadar IgE serum. Penelitian dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan Juli 2016.Tidak dijumpai hubungan antara kadar IgE serum pasien onikomikosis dengan lama sakit (nilai p=0,959). Nilai rata-rata lamanya pasien menderita onikomikosis adalah 64,80 (simpang baku 10,12) bulan. Kadar minimum IgE serum 9,17 IU/mL dan kadar maksimumnya 8,388,20 IU/mL, serta nilai rata-rata 1,337,73 (simpang baku 472,55) IU/mL.Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar IgE serum pasien dengan lamanya menderita onikomikosis. Dari beberapa penelitian di Indonesia sebelumnya mengenai hubungan antara kadar IgE serum dengan onikomikosis belum menunjukkan hasil yang konsisten.Kata kunci: Onikomikosis, immunoglobulin E, lama sakit
TERAPI ISOTRETINOIN ORAL PADA PSORIASIS ERITRODERMA YANG MENYERUPAI IKTIOSIS HEREDITER: LAPORAN KASUS DAN TELAAH PUSTAKA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1345.918 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.59

Abstract

    Psoriasis eritroderma pada anak merupakan varian psoriasis yang paling jarang. Kelainan ini ditandai secara khas oleh eritema pada seluruh tubuh dengan skuama putih berlapis tebal, disertai ektropion, eklabium, dan onikodistrofi. Manifestasi kulit tersebut sering keliru didiagnosis sebagai iktiosis herediter. Salah satu pilihan terapi sistemik psoriasis eritroderma adalah isotretinoin oral. Obat tersebut bekerja dengan cara menghambat dan mengurangi diferensiasi dan hiperproliferasi keratinosit, serta mencegah infiltrasi sel radang di kulit pada psoriasis. Perlu diperhatikan bahwa isotretinoin dapat menimbulkan efek samping yang berakibat fatal.    Pada kasus dilaporkan seorang anak perempuan usia 4,5 tahun dengan kulit seluruh tubuh eritematosa ditutupi skuama putih, melekat, berlapis tebal, disertai ektropion dan eklabium, menyerupai iktiosis herediter. Dengan ditemukannya mikroabses Munro pada pemeriksaan histopatologi, pasien didiagnosis sebagai psoriasis eritroderma. Terapi dengan isotretinoin oral memberikan hasil yang memuaskan, namun menimbulkan efek samping berupa trombositopenia. Perlu pemantauan ketat dan evaluasi laboratorium rutin pada pemberian isotretinoin oral untuk psoriasis eritroderma anak, sehingga apabila ditemukan kelainan dapat segera dilakukan tatalaksana yang tepat.Kata kunci: psoriasis eritroderma, mikroabses Munro, isotretinoin oral, trombositopenia.
GIANT CONGENITAL MELANOCYTIC NEVUS: LAPORAN KASUS LANGKA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.682 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.60

Abstract

Giant congenital melanocytic nevus (GCMN) merupakan penyakit langka yang timbul saat lahir akibat sel melanosit tumbuh berlebih. Lesi pada GCMN sering ditemukan pada area punggung dan paha. Gambaran lesi berupa bercak hiperpigmentasi dengan ukuran lebih dari 20 cm dan terdapat rambut. Kondisi ini sering dihubungkan dengan neurokutaneus melanositosis dan melanoma maligna. Risiko neurokutaneus melanositosis meningkat signifikans bila lesi giant nevi terdapat pada regio kranial atau garis midline atau disertai lesi satelit. Rerata kumulatif risiko terjadinya melanoma dalam 5 tahun sebesar 4,5%. Pendekatan terapi masih menjadi tantangan dan bersifat individual bergantung pada usia, lokasi lesi, ukuran, risiko melanoma dan kemungkinan kelainan fungsi akibat tindakan invasif yang dilakukan serta dampak fisiologis terhadap luka pasca tindakan. Dilaporkan bayi perempuan usia 2 hari, lahir pervaginam, cukup bulan dari seorang ibu P4A0 menderita SLE yang diterapi metilprednisolon selama kehamilan. Status generalis dalam batas normal. Status dermatologikus pada regio skalp, fasialis, trunkus, ekstremitas superior dan inferior bilateral tampak makula-plak hiperpigmentasi, multipel, bulat-irregular, lentikuler-plakat, diskret; sebagian terdapat rambut, kulit sekitar normal; terdapat lesi satelit. Pada regio ekstremitas inferior sinistra terdapat lesi giant nevi dengan ukuran lebih dari 20 cm. Pada kasus ini diperlukan observasi yang baik dan pendekatan multidisiplin dalam tatalaksana GCMN.Kata kunci: Giant congenital melanocytic nevus, gambaran klinis, komplikasi.
KOMBINASI BEDAH EKSISI, INJEKSI KORTIKOSTEROID INTRALESI, DAN GEL SILIKON PADA TATA LAKSANA KELOID DI CUPING TELINGA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.978 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.61

Abstract

Keloid adalah proliferasi jaringan fibrosa jinak di kulit yang sering terjadi setelah trauma kulit dan sering timbul di cuping telinga. Terapi tunggal pada keloid menghasilkan angka kekambuhan yang tinggi. Kombinasi bedah eksisi, injeksi steroid intralesi, dan gel silikon akan mengurangi kekambuhan. Kami melaporkan keloid yang bertambah besar di kedua cuping telinga seorang perempuan usia 21 tahun, sejak 4 tahun setelah berganti anting. Riwayat injeksi triamsinolon asetonid rutin setiap 2 minggu selama satu tahun. Benjolan di telinga kiri mengecil, tetapi benjolan di telinga kanan mengalami sedikit perbaikan. Tidak ada riwayat luka yang menjadi keloid di bagian tubuh yang lain. Pemeriksaan regio aurikularis dekstra menunjukkan nodul bulat lonjong soliter hiperpigmentasi dengan konsistensi padat kenyal dan diameter 1,3 cm. Bedah eksisi dilakukan pada keloid. Selain itu, dilakukan injeksi triamsinolon asetonid intralesi dan aplikasi gel silikon 1 minggu setelah eksisi. Evaluasi pasien pada bulan ke-8 tidak menunjukkan pertumbuhan keloid. Kombinasi bedah eksisi, injeksi kortikosteroid intralesi, dan aplikasi gel silikon pada keloid cuping telinga dapat ini menekan kekambuhan dibandingkan dengan terapi injeksi kortikosteroid tunggal yang diberikan sebelumnya.Kata Kunci: keloid, bedah eksisi, kortikosteroid intralesi, gel silikon
TEKNOLOGI NANO DI BIDANG DERMATOLOGI KOSMETIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.074 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.62

Abstract

Nanosains merupakan salah satu cabang ilmu yang meneliti partikel – partikel kecil dalam skala atomik atau molekuler. Teknologi nano merupakan cabang baru bidang teknik yang melibatkan penggunaan partikel berskala nano (1-100 nm). Partikel nano dapat digunakan di berbagai bidang antara lain teknik, kimia, onkologi, dermatologi, dan lain-lain. Aplikasi dalam bidang dermatologi disebut sebagai nanodermatologi. Nanodermatologi merupakan bidang baru yang menarik minat banyak peneliti dan perusahaan farmasi. Teknologi nano telah menimbulkan revolusi dalam pengobatan beberapa penyakit kulit, terutama yang berkaitan dengan hantaran obat atau bahan kosmetik ke target kerja yang spesifik secara efektif. Potensi aplikasi teknologi nano di bidang dermatologi dan kosmetik, antara lain pada produk tabir surya, pelembab, formulasi anti penuaan, fototerapi, antiseptik, vaksin, obat kanker kulit, produk perawatan rambut, produk perawatan kuku, dan sebagainya. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai teknologi nano, berbagai tipe partikel nano, aplikasi teknologi nano, dan pertimbangan keamanan partikel nano di bidang dermatologi dan kosmetik.Kata kunci: dermatologi; kosmetik; nanodermatologi; teknologi nano.
PENYAKIT KAWASAKI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1315.152 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i2.63

Abstract

Penyakit Kawasaki (PK) merupakan sindrom mukokutan dan kelenjar getah bening dengan demam disertai vaskulitis multisistem, terutama menyerang anak usia di bawah 5 tahun. Etiopatogenesis belum diketahui pasti. Gambaran klinis PK bergantung fase penyakit yaitu fase akut, subakut dan konvalesen. The American Heart Association (AHA) membagi kriteria diagnosis PK menjadi klasik dan tidak lengkap. Diagnosis PK klasik ditegakkan apabila ditemukan demam tinggi ≥5 hari dan memenuhi 4 dari 5 kriteria klinis PK, yaitu injeksi konjungtiva noneksudatif bilateral tanpa keterllibatan limbus, perubahan mukosa oral, perubahan ekstremitas, eksantema polimorfik, dan limfadenopati servikal unilateral. Pasien dengan demam tinggi ≥5 hari disertai kurang dari 4 kriteria klinis PK dapat dianggap sebagai PK tidak lengkap bila gambaran ekokardiografi ditemukan abnormalitas arteri koroner. Meskipun PK bersifat swasirna dan angka kematiannya sangat rendah, 15-25% kasus yang tidak diobati mengalami kelainan kardiovaskuler progresif dan menetap. Tata laksana PK melibatkan multidisiplin ilmu kedokteran. Pemberian imunoglobulin intravena (IGIV) dan aspirin efektif mencegah komplikasi.Kata kunci: Penyakit Kawasaki, gambaran klinis, kriteria diagnosis

Page 6 of 31 | Total Record : 305