cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
Anestesi Tumescent di Bidang Dermatologi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.49 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.44

Abstract

Anestesi tumescent adalah anestesi lokal dengan cara infiltrasi lidokain dan epinefrin yang diencerkansehingga area pembedahan menjadi sembab, tegang, dan bengkak. Pada awalnya anestesi ini dikembangkanuntuk bedah sedot lemak yang terdiri dari 4 komponen utama yaitu zat anestesi, epinefrin, larutan fisiologisnatrirum klorida 0,9% dan Natrium bikarbonat. Dengan anestesi ini dosis lidokain dapat ditingkatkan beberapakali lipat sampai dengan 35mg/kg dari dosis maksimal sebelumnya yaitu 5mg/kg sehingga didapatkan areatindakan yang lebih luas. Selain itu didapatkan area operasi yang bersih karena perdarahan minimal, keamananyang tinggi, risiko infeksi yang rendah, pasien dalam kondisi sadar sehingga memungkinkan perubahanposisi pasien intraoperasi, serta efek hidrodiseksi jaringan yang memudahkan penyedotan lemak. Keuntunganlain cara anestesi ini yaitu mencegah kehilangan serta menjaga keseimbangan cairan tubuh karena normalsalin yang digunakan sebagai pengencer dapat sebagai hidrasi pasca-operasi. Anestesi ini dapat digunakanpada berbagai tindakan non dermatologi maupun dermatologi yaitu pada bedah sedot lemak, dermabrasi,kuretase kelenjar minyak aksila pada bromhidrosis, eksisi tumor, blok anastesi, dan beberapa tindakan lainnya.Kata kunci: anestesi, tumescent, bedah sedot lemak.
Peran Radiasi Pada Tata Laksana Keloid
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.473 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.45

Abstract

Keloid merupakan salah satu lesi jinak pada kulit yang timbul akibat respons penyembuhan luka yangabnormal. Meskipun bersifat jinak, namun keloid dapat menimbulkan gejala klinis yang mengganggu. Terdapatbanyak pilihan terapi untuk keloid yang bersifat invasif maupun non-invasif. Pembedahan merupakan modalitasinvasif yang paling umum digunakan, meskipun angka rekurensi pasca terapi tunggal dengan pembedahandinilai cukup tinggi yakni mencapai 50-100% dalam 5 tahun. Radioterapi dapat dilakukan sebagai monoterapimaupun sebagai terapi adjuvan pasca bedah dalam tata laksana keloid. Terapi keloid dengan pembedahandiikuti dengan radiasi menghasilkan angka rekurensi kurang dari 10% pada 1 tahun pertama pascaterapi.Radioterapi yang dilakukan dapat berupa brakiterapi maupun radiasi eksterna. Radiasi dapat menurunkanproliferasi fibroblas dan sel endotel yang selanjutnya mengurangi produksi kolagen. Radioterapi pascabedahdianjurkan untuk dimulai dalam waktu kurang dari 48 jam dengan total dosis yang masih menjadi perdebatan.Kaitan antara dosis dan efek radiasi dengan biologically equivalent dose (BED) menjadi dasar pembuatanpedoman. BED lebih dari 30 Gy dianggap efektif untuk menurunkan angka rekurensi keloid.Kata kunci: keloid, terapi, pascabedah, radiasi, rekurensi
EKSPRESI MICROPHTALMIA ASSOCIATED-TRANSCRIPTION FACTOR (MITF) DAN PROTEIN S100 PADA VITILIGO
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.207 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.46

Abstract

Vitiligo adalah kelainan depigmentasi yang didapat dan umum ditemui, ditandai dengan bercak putih susu pada kulit, rambut dan mukosa akibat kerusakan melanosit secara selektif. Jumlah melanosit yang berkurang pada vitiligo digambarkan secara jelas oleh pemeriksaan imunohistokimia protein S100. Mekanisme yang terlibat dalam disfungsi melanosit pada epidermis vitiligo hanya sedikit yang diketahui. Penelitian sebelumnya menunjukkan peran microphthalmia-associated transcription factor (MITF) pada vitiligo dan dapat mengakibatkan disfungsi dan atau kehilangan melanosit. MITF memiliki fungsi diferensiasi melanoblas menjadi melanosit. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi ekspresi MITF dan jumlah melanosit pada vitiligo dibandingkan non-vitiligo. Metode penelitian ini merupakan penelitian potong lintang observasional analitik pada pasien vitiligo sebagai subjek di unit rawat jalan kulit dan kelamin RSUD Dr. Soetomo. Subjek penelitian dikumpulkan secara consecutive sampling dengan jumlah sampel 18 pasien vitiligo dan 10 pasien non vitiligo, data dianalisis secara statistik. Penurunan ekspresi MITF dan jumlah melanosit yang diperiksa dengan antibodi S100 pada pasien vitiligo dibandingkan kulit non-vitiligo berbeda bermakna (p< 0,001) secara statistik maupun klinis. MITF berperan dalam patogenesis vitiligo. Imunohistokimia MITF dan pemeriksaan S100 dapat bermanfaat sebagai indikator keberhasilan terapi.Kata Kunci : MITF, S100, Vitiligo
PENGARUH FASE MENSTRUASI TERHADAP DERAJAT AKNE VULGARIS MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.98 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.47

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronik unit pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodul dengan tempat predileksi di wajah, lengan bagian atas, dada, dan punggung, yang sering terjadi pada remaja serta dewasa muda. Akne vulgaris pada wanita dapat dipengaruhi oleh hormon yaitu pada saat premenstruasi terjadi penurunan hormon estrogen dan peningkatan hormon progesteron yang dapat memperberat akne vulgaris.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan fase menstruasi dengan derajat akne vulgaris. Dilakukan penelitian analitik observasional pada 89 mahasiswa yang menderita akne vulgaris. Penilaian derajat akne vulgaris menggunakan kriteria Lehmann saat premenstruasi dan pascamenstruasi. Subjek penelitian terdiri atas remaja usia 17 sampai 21 tahun. Uji Marginal Homogeneity menunjukkan hubungan yang bermakna antara fase menstruasi dengan derajat akne vulgaris dengan nilai p=0,001.Kata Kunci: Akne vulgaris, fase menstruasi, derajat akne vulgaris.
PENGARUH LISAT PLATELET FASE SIKLUS MENSTRUASI TERHADAP AKTIVITAS FIBROBLAS KULIT MANUSIA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.822 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.48

Abstract

Lisat platelet dari platelet rich fibrin (PRF) adalah material berisi growth factors, estradiol (E2), dan leptin. Pada fase ovulasi (FO) dijumpai kadar E2, jumlah platelet, dan leukosit tertinggi, dimana interaksinya dapat menghasilkan growth factors yang meningkatkan aktivitas fibroblas dermis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lisat platelet dari PRF fase bleeding (FB) dan FO pada aktivitas fibroblas dermis.Biakan fibroblas dermis dibedakan menjadi 3 kelompok, biakan dalam media kultur dan fetal bovine serum (FBS) 1% sebagai kontrol negatif, biakan dalam media kultur dan FBS 10% sebagai kontrol positif. Kelompok perlakuan adalah biakan fibroblas yang diberi lisat platelet dari PRF FB dan FO 10%, 20%, dan 40% selama 72 jam.Perbedaan bermakna (p<0,05) dijumpai pada rerata indeks proliferasi antara kelompok kontrol positif dengan fibroblas terpajan lisat platelet dari PRF FB dan FO 20% dibandingkan dengan kontrol negatif, serta rerata densitas optik (DO) timbunan kolagen dari fibroblas yang diberi lisat platelet dari PRF FB dan FO 20% dibandingkan dengan semua kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) pada rerata indeks proliferasi dan DO timbunan kolagen antara kelompok fibroblas yang terpajan semua konsentrasi lisat platelet dari PRF FB dan FO. Peningkatan aktivitas fibroblas dermis oleh lisat platelet dari PRF FO tidak berbeda dibandingkan dengan lisat platelet dari PRF FB.Kata kunci : lisat platelet, platelet rich fibrin, fase bleeding, fase ovulasi, fibroblas, kolagen
LUPUS PANNIKULITIS PADA ANAK: PENEGAKAN DIAGNOSIS UNTUK KASUS JARANG
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.269 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.49

Abstract

Lupus pannikulitis (LP), suatu variasi klinis kulit yang jarang pada lupus eritematosus kutan, jarang terjadi pada anak. Perjalanan penyakit lambat sehingga penegakan diagnosis sering terlambat.Anak laki-laki 13 tahun mengeluh area cekung pada wajah sejak usia 11 tahun diikuti cekung pada kepala. Benjolan sewarna kulit pada kedua lengan dirasakan selama 1 bulan. Terdapat atrofi pada kedua pipi dengan tepi lesi dikelilingi bercak merah keunguan. Pada skalp tampak alopesia dengan atrofi multipel, dikelilingi bercak eritematosa di tepinya. Pada kedua lengan atas terdapat nodul subkutan sewarna kulit, multipel, perabaan keras, dan tidak nyeri. Pemeriksaan histopatologis lesi wajah dan skalp dengan pewarnaan HE didapatkan ortokeratosis linear dengan sumbat keratotik pada epidermis. Pada dermis atas terdapat sebukan sel radang didominasi limfosit, dermis tengah kolagenisasi hingga jaringan subkutan, tampak sel radang pada jaringan subkutan septal-lobular dengan dominasi limfosit dan nekrosis lemak. Pewarnaan alcian blue ditemukan deposit musin pada dermis. Lupus band test ditemukan deposit IgG pada membran basalis.Lesi pada LP sulit dibedakan dengan pannikulitis lainnya, misalnya morfea profunda, karena keduanya menujukkan lesi lipoatrofi didahului nodus subkutan. Pannikulitis septal-lobular dan nekrosis lemak dengan deposit musin pada dermis merupakan gambaran histopatologis khas untuk LP. Lupus band test perlu dilakukan untuk membantu membedakan diagnosis LP dengan pannikulitis lainnya.Kata kunci: Lupus pannikulitis, lupus band test.
DERMATOFITOSIS GENERALISATA PADA PASIEN LIMFOMA NON HODGKIN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1714.564 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.50

Abstract

Pada beberapa keadaan, infeksi dermatofita dapat menyebabkan suatu keadaan infeksi yang luas, khususnya pada pasien imunokompromais, misalnya pada kasus keganasan dan HIV.Seorang perempuan berusia 50 tahun dengan diagnosis Limfoma Non Hodgkin dikonsulkan dari poliklinik Penyakit Dalam dengan lesi berupa plak eritematosa, multipel, berbentuk anular, polisiklik dengan tepi aktif (central healing) pada regio kapitis, fasialis, colli, torakalis, abdominalis, braki dekstra, antebrachii dextra et sinistra, manus dekstra, inguinal, gluteal, dan ekstremitas inferior yang disertai dengan rasa gatal. Pada pasien kemudian dilakukan pemeriksaan KOH 10% didapatkan gambaran struktur jamur berupa hifa dan pemeriksaan biakan ditemukan gambaran Trichophyton rubrum. Pasien diberikan terapi berupa itrakonazol oral sebanyak 2 x 100 mg yang diberikan selama 2 minggu.Pada kasus ini infeksi dermatofita luas terjadi akibat keadaan imunokompromais yang disebabkan oleh Limfoma Non Hodgkin yang diderita oleh pasien maupun akibat kemoterapi. Terapi pilihan pada kasus ini adalah itrakonazol oral yang memberikan hasil sangat baik setelah 2 minggu.Kata kunci: dermatofitosis, imunokompromais, Limfoma Non Hodgkin
KERION CELSI YANG DISEBABKAN OLEH TRICOPHYTON VERRUCOSUM PADA PASIEN IMUNOKOMPROMAIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.389 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.51

Abstract

Kerion celsi merupakan manifestasi inflamasi pada infeksi dermatofita zoofilik diskalp. Salah satu penyebabnya adalah Trichophyton verrucosum. Imunitas seluler pada pasien imunokompromais terganggu sehingga rentan terinfeksi dermatofita.Pria, 73 tahun mengeluh benjolan bernanah di kepala yang nyeri dan gatal sejak 3 bulan sebelum konsultasi. Pada pemeriksaan dermatologis parietal skalp didapatkan alopesia berbatas tegas dengan boggy eritematosa 5 cm dan pustul folikular. Pemeriksaan dengan lampu Wood tidak menunjukkan fluoresensi. Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 20% didapatkan hifa dan artrokonidia ektotriks. Numerical rating score (NRS) nyeri 8, dan gatal 4. Identifikasi kultur kerokan kulit kepala dan rambut menunjukkan Trichophyton verrucosum. Pasien didiagnosis kerion celsi ,diterapi dengan griseofulvin microsized 20 mg/kg berat badan/hari selama 8 minggu, dan prednison 0,5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari yang kemudian diturunkan perlahan. Ditambahkan krim terbinafine HCL 1 % didahului kompres basah dua kali sehari. Setelah 8 minggu, perbaikan NRS mencapai nol, tanpa efek samping.Kerion celsi seringkali terjadi pada anak, jarang pada dewasa. Pada kasus ini terjadi pada pasien neoplasma berusia lanjut dalam kemoterapi. Usia lanjut, kanker paru, kemoterapi geftinib, diabetes mellitus dan kontak langsung dengan hewan peliharaan merupakan faktor risiko kondisi imunokompromais dan inokulasi patogen sehingga mempermudah dermatofita menginvasi rambut.Kata kunci: kerion celsi, Tricophyton verrucosum, imunokompromais, griseofulvin
NEKROSIS LEMAK SUBKUTAN DENGAN KUTIS MARMORATA FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.958 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.52

Abstract

Nekrosis lemak subkutan pada bayi lelaki baru lahir merupakan panikulitis yang jarang terjadi. Kelainan ini dijumpai pada bayi baru lahir (BBL) cukup bulan atau lebih bulan, ditandai dengan nodus atau plak subkutan di area kulit yang terbatas/terlokalisasi. Kutis marmorata fisiologis ditandai oleh “patch” eritematosa yang tersusun retikuler dan membentuk gambaran seperti marmer. Lesi kulit ini merupakan respons vaskular tubuh bayi terhadap suhu dingin. Kondisi ini hilang timbul sesuai perubahan suhu lingkungan. Pada makalah ini dilaporkan satu kasus nekrosis lemak subkutan pada BBL disertai dengan kutis marmorata fisiologis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan histopatologis. Faktor risiko yang ditemukan berupa riwayat asfiksia saat lahir dan riwayat preeklamsi berat pada ibu selama hamil. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk meningkatkan kewaspadaan klinisi terhadap kelainan kulit yang mungkin dijumpai pada bayi baru lahir dan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam mendiagnosis dan mengelola kasus nekrosis lemak subkutan.Kata kunci: Subcutaneous fat necrosis of the newborn, nekrosis lemak subkutan, kutismarmorata fisiologis
PENGGUNAAN METOTREKSAT PADA DERMATOSIS ANAK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 46 No 1 (2019)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.16 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v46i1.53

Abstract

Metotreksat (MTX) merupakan antagonis asam folat yang umum digunakan sebagai terapi pada berbagai kelainan kulit, namun data mengenai penggunaan MTX pada anak masih sangat terbatas. Berdasarkan studi literatur yang telah kami lakukan, MTX menimbulkan respons klinis yang bagus dan efek samping minimal pada beberapa dermatosis anak, yaitu psoriasis, dermatitis atopik, vaskulitis, skleroderma lokalisata, dermatomiositis juvenilis, pitiriasis likenoides, sarkoidosis, penyakit bulosa autoimun, alopesia areata, dan lupus eritematosus. Secara umum toleransi anak terhadap MTX baik, dan jarang terjadi efek samping serius. Intoleransi gastrointestinal dapat terjadi, dan berespons baik terhadap pengurangan dosis obat. Berbagai pertimbangan harus dilakukan sebelum memulai terapi dengan MTX, antara lain pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Pemantauan terapi berupa biopsi hepar dan pemeriksaan serum type III pro-collagen aminopeptide belum rutin dilakukan. Pada telaah pustaka ini akan diulas tentang farmakologi dan farmakokinetik, mekanisme aksi, efek samping, interaksi, dan pemantauan obat MTX pada dermatosis anak. Diharapkan telaah pustaka ini akan membantu klinisi untuk mempertimbangkan pemilihan MTX dalam menatalaksana kasus-kasus dermatologi anak.Kata kunci: metotreksat, antagonis asam folat, dermatosis anak

Page 5 of 29 | Total Record : 282