cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 305 Documents
PENDEKATAN KONSERVATIF PADA SINDROM BART: SEBUAH LAPORAN KASUS Sukmara, Isni Maulina; Agustin, Triana; Astriningrum, Rinadewi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.544

Abstract

Pendahuluan: Sindrom Bart (SB), dikenal sebagai aplasia kutis kongenita (AKK) tipe VI, adalah kelainan genetik yang jarang ditemui, ditandai dengan AKK, pembentukan bula pada kulit dan selaput lendir, serta deformitas kuku. Pilihan pengobatan meliputi intervensi bedah terutama pada lesi yang luas. Pendekatan terapi secara konservatif berperan penting dalam mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut dan mendukung proses penyembuhan. Kasus: Seorang bayi perempuan berusia 4 hari dibawa ibunya berobat dengan luka pada kedua tungkai bawah sejak lahir. Riwayat serupa ditemukan pada ayah pasien. Pasien lahir melalui persalinan pervaginam tanpa komplikasi. Pemeriksaan fisis menunjukkan kehilangan kulit dengan erosi-ekskoriasi pada kedua tungkai bawah, disertai krusta merah-kekuningan, skar hipopigmentasi, dan milia. Luka dirawat dengan balutan antibakteri, busa silikon, dan perban elastis yang diganti setiap tiga hari. Dalam dua bulan, luka menyembuh namun terjadi pembentukan bula pada kaki dan mukosa mulut hingga usia enam bulan. Berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis, pasien didiagnosis sebagai SB. Diskusi: Diagnosis SB terutama ditegakkan berdasarkan temuan klinis. Epitelisasi cepat pada lesi AKK di ekstremitas telah dilaporkan pada beberapa kasus. Terapi konservatif efektif dalam mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut dan mendukung penyembuhan. Kesimpulan: Laporan kasus ini menyoroti keberhasilan penggunaan terapi konservatif dalam menangani SB, sehingga tidak memerlukan intervensi bedah.
Peran transforming growth factor-`β pada reaksi eritema nodosum leprosum berulang Hamzah, Muhammad Syafei
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.1

Abstract

Eritema nodosum leprosum (ENL) berulang adalah suatu komplikasi imunologi Kusta yang serius, menyebabkan peradangan pada kulit, saraf dan organ lain yang menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah hubungan Transforming Growth Factor-β (TGF-β) dengan ENL berulang pada pasien kusta. Metode desain penelitian ini adalah cross sectional comparative study. Penelitian ini memeriksa kadar serum TGF-β dengan metode ELISA. Subjek penelitian sejumlah 44 pasien kusta tipe multibasiler (MB) terdiri atas 22 subjek dengan reaksi ENL berulang dan 22 subjek tanpa reaksi ENL berulang sebagai kontrol. Pada penelitian ini didapatkan pasien kusta dengan reaksi ENL berulang memiliki kadar TGF-β rerata sebesar 62,6 30,4 pg/ml, sedangkan pada kontrol memiliki kadar TGF-β rerata sebesar 47,2 23. Uji statistik t-independen terhadap kelompok sampel dan kontrol didapatkan nilai p=0,015. Kesimpulan pada penelitian ini terdapat perbedaan bermakna kadar TGF-β pada subjek dan kontrol. Peningkatan kadar TGF-β pada pasien kusta tipe MB dapat sebagai tanda timbulnya reaksi berulang. 
Peremajaan Leher Non-Invasif lubis, sri nauli dewi; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.452

Abstract

Leher merupakan area yang rentan menunjukkan tanda-tanda penuaan seperti kekenduran kulit, kerutan, akumulasi lemak submental, dan banding otot platysma, yang secara keseluruhan menurunkan estetika wajah bagian bawah. Klasifikasi Dedo merupakan sistem yang paling umum digunakan untuk menilai perubahan anatomi akibat penuaan pada leher. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap prosedur estetika yang lebih aman, efektif, dan minim waktu pemulihan, berbagai pendekatan non-invasif dan minimal invasif untuk peremajaan leher telah berkembang pesat. Modalitas non-invasif seperti radiofrekuensi, laser non-ablatif, Intense Pulsed Light, dan focused ultrasound, telah terbukti mampu meningkatkan kekencangan dan kualitas kulit dengan efek samping minimal. Di sisi lain, pendekatan minimal invasif seperti injeksi toksin botulinum dan asam hialuronat juga memberikan perbaikan signifikan terhadap kontur leher, hidrasi kulit, dan garis-garis horizontal di leher.
PEMFIGOID BULOSA LOKALISATA Pusadan, Sari Handayani
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.499

Abstract

Pendahuluan: Pemfigoid bulosa (PB) merupakan penyakit kulit vesiko-bulosa autoimun yang ditandai bula subepidermal yang berdinding tegang diatas kulit yang eritematosa. Patogenesis pemfigoid bulosa dihubungkan dengan destruksi dari komponen membran basalis ditandai dengan adanya IgG autoantibodi komponen target di membran dasar epitelial hemidesmosom. Tujuan pengobatan pemfigoid bulosa adalah mengurangi produksi autoantibodi oleh sistem imun, menurunkan pembentukan bula, menghindari infeksi, dan mempercepat penyembuhan bula dan erosi. Steroid topikal merupakan terapi utama untuk pemfigoid bulosa lokalisata. Kasus: Dilaporkan satu kasus pemfigoid bulosa lokalisata pada seorang wanita umur 42 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan histopatologi. Pasien memberikan respon yang baik dengan pengobatan klobetasol 0,05% topikal Diskusi: Gambaran klinis berupa bula berdinding tegang dengan tanda Nikolsky negatif serta temuan histopatologi berupa bula subepidermal dengan infiltrasi eosinofil mendukung diagnosis pemfigoid bulosa lokalisata. Respons klinis yang cepat terhadap klobetasol 0,05% topikal menunjukkan bahwa kortikosteroid topikal efektif sebagai terapi lini pertama pada kasus dengan lesi terbatas, sekaligus dapat meminimalkan risiko efek samping kortikosteroid sistemik. Kesimpulan: Klobetasol 0,05% topikal terbukti efektif dalam mengendalikan manifestasi klinis pemfigoid bulosa lokalisata. Penegakan diagnosis yang tepat serta pemilihan terapi topikal yang adekuat dapat memberikan hasil klinis yang optimal dan aman pada pasien dengan lesi terbatas.
PENATALAKSANAAN BEDAH EKSISI KARSINOMA SEL BASAL DAN PENUTUPAN DEFEK DENGAN TEKNIK READING MAN FLAP Siregar, Remenda; Hutagalung, Patricia S. U . Br; Tambunan, Regina Maharani
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.501

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma sel basal (KSB) jenis kanker kulit dari sel-sel pluripotensial pada lapisan basal epidermis yang sering disebabkan pajanan sinar matahari. Terapi KSB dapat dilakukan secara bedah dan non-bedah. Pada laporan kasus ini KSB ditatalaksana dengan bedah dilanjutkan penutupan defek dengan teknik reading man flap. Kasus: Seorang laki-laki, 65 tahun, datang dengan keluhan luka yang tidak sembuh, sering berdarah dan gatal pada pelipis kanan sejak 6 bulan lalu. Awalnya 3 tahun yang lalu timbul bintil kecil sewarna kulit, berukuran sebesar mata jarum pentul tanpa disertai rasa gatal. Satu tahun yang lalu bintil tersebut mulai terasa gatal sesekali dan mudah berdarah ketika digaruk. Pada pemeriksaan dermatologis dijumpai plak hiperpigmentasi disertai ulkus superfisial dan krusta, berbatas tegas, tepi ireguler. Dari pemeriksaan dermoskopi dijumpai ulserasi disetai krusta, superficial fine telangiectasis, maple leaf-like area, dan blue-gray ovoid nest. Pasien didiagnosis dengan karsinoma sel basal dan dilakukan eksisi dengan reading man flap. Diskusi: KSB pada pasien ini dijumpai pada regio temporal kanan, sehingga tindakan eksisi dengan teknik reading man flap sesuai menjadi pilihan utama pengangkatan tumor tersebut. Kesimpulan: Pada kasus ini, teknik reading man flap merupakan teknik pilihan untuk penutupan defek karena memiliki beberapa keuntungan yaitu distorsi minimal dengan risiko infeksi yang rendah. Prognosis pasien dengan KSB dengan penanganan sesuai adalah sangat baik.
A ERITRODERMA PADA ANAK LAKI-LAKI 13 TAHUN : LAPORAN KASUS JARANG Ricky Irvan Ardiyanto
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.540

Abstract

Pendahuluan: Eritroderma adalah kelainan kulit langka yang ditandai dengan eritema dan skuama pada ≥90% permukaan tubuh. Etiopatogenesisnya meliputi inflamasi, infeksi, imunologi, kelainan kongenital, reaksi hipersensitivitas obat, dan idiopatik. Eritroderma akut ditandai dengan eritema menyeluruh dan eksfoliasi dalam 2–6 hari. Deteksi dini, identifikasi etiologi, dan tatalaksana yang tepat, seperti pemberian kortikosteroid dan antihistamin sistemik, penting karena kondisi ini mengancam jiwa. Kasus: Anak laki-laki 13 tahun dirujuk dengan keluhan kulit gatal, kemerahan, sisik tebal, dan sebagian sudah mengelupas selama 2 minggu. Awalnya muncul bintik merah gatal di perut, disertai demam menggigil. Riwayat operasi pelepasan plate 1 bulan sebelumnya diikuti penggunaan obat antinyeri dan antibiotik. Pemeriksaan menunjukkan makula hiperpigmentasi eritema dengan batas tidak jelas tertutup dengan skuama tipis konfluen pada regio generalisata, leukositosis, neutropenia, eosinofilia, dan hasil biopsi histopatologi berupa hiperkeratosis lamelar serta infiltrasi limfosit. Pasien didiagnosis eritroderma akibat erupsi obat dan diberikan kortikosteroid sistemik, antihistamin, serta kortikosteroid topikal. Diskusi: Eritroderma pada pasien pediatri termasuk kasus yang jarang dilaporkan, paling sering disebabkan oleh dermatitis atopi. Manifestasi klinis meliputi gatal, demam dan nyeri. Biopsi histopatologi bervariasi tergantung derajat keparahan dan onset inflamasi. Tatalaksana utama meliputi penghentian obat, pemberian kortikosteroid, antihistamin dan emolien. Kesimpulan: Eritroderma pada anak jarang terjadi, dengan 10% kasus disebabkan oleh obat. Identifikasi penyebab dan penghentian obat yang mencetuskan kelainan, diikuti terapi adekuat, dapat memperbaiki prognosis pasien.
DERMATITIS ATOPIK TIPE LIKENOID GENERALISATA AWITAN DEWASA Aziza, Anggita Nur; Sukmara, Isni Maulina; Halim, Dionisius Ivan Yonathan; Budianti, Windy Keumala
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.542

Abstract

Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) memiliki karakteristik pruritus, eritema, indurasi, skuama. Manifestasi klinis ini dapat pula ditemukan pada berbagai penyakit kulit yang menyerupai, terjadi bersamaan, atau merupakan komplikasi DA. DA awitan dewasa dapat menunjukkan variasi klinis yang tidak biasa. Kasus: Laki-laki berusia 36 tahun, mengeluhkan bercak kemerahan yang terasa gatal di badan dan ekstremitas sejak 6 bulan lalu. Keluhan disertai bercak tebal di kedua tungkai. Pasien memiliki riwayat asma serta riwayat akalasia dengan malnutrisi berat. Pasien awalnya didiagnosis dermatitis yang disebabkan defisiensi asam lemak esensial dengan infeksi sekunder, dermatitis numularis, liken simpleks kronikus, dan dermatitis seboroik. Setelah evaluasi lebih lanjut, pasien memenuhi kriteria Hanifin-Rajka disertai kadar IgE yang tinggi, sehingga ditegakkan diagnosis DA awitan dewasa. Diskusi: Laporan kasus ini menunjukkan penegakkan diagnosis DA awitan dewasa tipe generalisata berdasarkan klinis. Pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis banding dermatitis kontak tidak dapat dilakukan karena pasien dalam terapi imunosupresan. Penatalaksanaan DA dilakukan secara sistematik disertai pemberian terapi sistemik. Kesimpulan: Penegakan diagnosis DA awitan dewasa berdasarkan klinis merupakan sebuah tantangan. Manifestasi klinis seringkali tidak sesuai dengan kriteria diagnosis yang umum digunakan terutama pada kasus de novo. Pemeriksaan penunjang seperti kadar IgE, eosinofil, uji kulit, dan biopsi kulit terkadang diperlukan untuk penegakan klinis secara tepat sehingga pasien dapat diberikan tata laksana yang sesuai. 
ACNE TRUNCAL AKNE TRUNKAL: AKNE TRUNKAL Jusuf, Nelva Karmila; Simanjuntak, Desy Sahara Putri
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.552

Abstract

Akne vulgaris merupakan salah satu gangguan inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang sering dijumpai. Cutibacterium acnes (C. acnes) merupakan bakteri utama yang berkontribusi dalam proses patogenesis penyakit ini. Lesi akne seperti komedo, papula, pustula, hingga nodul yang dapat muncul di berbagai area tubuh, termasuk wajah, leher, serta batang tubuh yang dikenal sebagai akne trunkal. Sebanyak 61% pasien akne vulgaris juga mengalami keterlibatan area trunkal. Walaupun patogenesis akne wajah dan akne trunkal secara umum serupa, adanya perbedaan karakteristik anatomi dan fisiologis kulit trunkal diyakini dapat memengaruhi respons terhadap terapi. Secara teoritis, akne trunkal dapat ditangani dengan pendekatan terapeutik yang serupa dengan akne vulgaris pada wajah Namun, kepatuhan pasien terhadap terapi topikal sering menjadi kendala, terutama karena luasnya area lesi dan kesulitan dalam aplikasi obat. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai tata laksana akne trunkal sangat penting, mengingat terapi sistemik seperti antibiotik oral sering digunakan sebagai alternatif, meskipun penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati karena risiko peningkatan resistensi antibiotik. 
FAKTOR-FAKTOR RISIKO GIZI PADA ANAK PENDERITA KUSTA: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS Paulus, Stella Jessica; Putu Mahadevy Pradnyandhari Putri; Ketut Kwartantaya Winaya
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.566

Abstract

Anak-anak dapat beresiko untuk mendapatkan penularan kusta akibat berbagai faktor risiko, salah satunya adalah kondisi gizi yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko gizi pada anak dengan kusta berdasarkan studi yang telah dilakukan sebelumnya. Tinjauan sistematis ini menggunakan PRISMA 2020 guideline pada studi yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dari tahun 2014 hingga 2024. Editorial dan artikel tinjauan yang tidak memiliki DOI dihilangkan untuk menjamin penggunaan sumber berkualitas tinggi. Tinjauan pustaka yang komprehensif dilakukan dengan menggunakan basis data terkemuka seperti ScienceDirect, PubMed, dan SagePub untuk menemukan studi yang relevan. Pencarian awal pada basis data mengidentifikasi lebih dari 1000 publikasi yang relevan dengan topik tersebut. Setelah melalui proses penyaringan tiga tahap yang cermat, delapan studi akhirnya dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan sebelumnya dan dianggap sesuai untuk analisis mendalam. Studi-studi ini menjalani penilaian kritis menyeluruh untuk memastikan kualitas dan relevansinya, yang menyediakan landasan yang kuat untuk penyelidikan komprehensif mengenai hubungan antara faktor risiko gizi pada kusta pediatrik. Status gizi berperan penting dalam menentukan kerentanan terhadap kusta terutama pada anak. 
Aspek farmakologis antibiotik topikal di bidang dermatologi Hardi, Harri; Priyanto, Mufqi Handaru; Rosdiana, Dewi Selvina
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.571

Abstract

Antibakteri topikal banyak digunakan dalam bidang dermatologi karena memiliki risiko efek samping sistemik lebih rendah dibandingkan antibakteri sistemik. Tinjauan pustaka ini menjelaskan aspek farmakologis antibakteri topikal, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi absorpsi, risiko resistensi, dan efek sampingnya. Setidaknya, terdapat 20 faktor yang dapat memengaruhi absorpsi dari obat topikal, yang terdiri dari karakteristik obat, intensitas pajanan, serta kondisi kulit pengguna. Angka resistensi terhadap antibakteri topikal bervariasi tergantung jenis antibakteri yang digunakan. Resistensi ini berdampak negatif pada keberhasilan terapi pasien dan berpotensi menyebar ke populasi yang lebih luas. Resistensi dapat terjadi di tingkat populasi akibat penggunaan yang tidak rasional, maupun di tingkat individu akibat penggunaan berulang. Efek samping antibakteri topikal umumnya berupa reaksi alergi, namun beberapa obat misalnya benzoil peroksida dapat menyebabkan iritasi, sementara penggunaan perak sulfadiazin berisiko mengakibatkan akumulasi perak. Oleh karena itu, penggunaan antibakteri topikal secara rasional dengan mempertimbangkan profil farmakologis penting untuk menurunkan risiko resistensi, meningkatkan keberhasilan pengobatan, dan meminimalkan efek samping