cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
ijm.bidanunw@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Midwifery (IJM)
ISSN : 26561506     EISSN : 26155095     DOI : 10.35473/ijm
Core Subject : Health,
This journal received midwifery research articles and literature reviews on the results of previous midwifery research.
Articles 185 Documents
Skrining Penyakit Menular dan Tidak Menular pada Ibu Hamil di Wilayah Kuta Selatan, Bali: Screening for Communicable and Non-Communicable Diseases among Pregnant Women in South Kuta, Bali Armini, Luh Nik; Made Adiantini; Prayudi, Made Aristia; Suputra, Putu Adi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4458

Abstract

The World Health Organization (WHO) recommends that every pregnant woman have a positive and fulfilling experience throughout pregnancy, childbirth, and the postpartum period. Comprehensive screening as part of integrated antenatal care (ANC) is an essential effort for early detection and prevention of complications during these stages. This study aimed to determine the proportion of integrated ANC screening results, including communicable diseases (HIV, syphilis, and hepatitis B) and non-communicable conditions (anemia, chronic energy deficiency [CED], preeclampsia, and gestational diabetes) among pregnant women in the catchment area of South Kuta Health Center, Bali. This study employed a cross-sectional design using secondary data collected between June and September 2024. A total sampling technique was applied to all records that met the inclusion criteria, resulting in 684 cases for analysis. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions. The highest proportion was anemia (36.4%), followed by CED (10.2%), underweight (8.8%), obesity (5.6%), gestational diabetes (0.4%), preeclampsia (0.9%), hepatitis B (1.3%), syphilis (0.7%), and HIV (0.4%). Most maternal health problems were related to nutritional factors, particularly anemia and CED. Although the proportions of preeclampsia, gestational diabetes, and communicable diseases were relatively low, early detection through regular and timely ANC screening remains crucial for preventing maternal and perinatal complications. Strengthening maternal nutrition programs through improved adherence to iron–folate supplementation, close monitoring of dietary intake, and continuous nutrition education is recommended to minimize the risk of anemia and CED among pregnant women.   Abstrak WHO merekomendasikan setiap ibu hamil memiliki pengalaman yang menyenangkan selama proses kehamilan, persalinan, dan nifas. Pelaksanaan skrining secara komprehensif dalam ANC terpadu merupakan upaya deteksi dini yang penting dalam mencegah komplikasi selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proporsi hasil skrining ANC terpadu meliputi penyakit menular (HIV, sifilis, dan hepatitis B) dan tidak menular (anemia, KEK, preeklamsia, diabetes gestasional) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kuta Selatan, Bali. Desain penelitian menggunakan studi pontong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder. Data sekunder yang diambil selama periode penelitian Juni-September 2024. Teknik sampling menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki data yang lengkap (n=684). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Proporsi hasil skrining tertinggi adalah anemia (36,4%), diikuti KEK (10,2%), underweight (8,8%), obesitas (5,6%), diabetes gestasional (0,4%), preeklamsia (0,9%,     hepatitis B (1,3%), sifilis (0,7%), dan HIV (0,4%). Sebagian besar masalah kesehatan ibu hamil yang ditemukan di Puskesmas Kuta Selatan karena masalah gizi (anemia dan KEK). Walaupun proporsi preeklampsia, diabetes gestasional, dan penyakit menular relatif lebih rendah, deteksi dini melalui skrining rutin dan tepat waktu saat melakukan ANC tetap diperlukan untuk mencegah komplikasi maternal dan perinatal. Penguatan program gizi perlu dilakukan melalui peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, pemantauan asupan nutrisi, serta edukasi gizi yang berkelanjutan agar risiko anemia dan KEK dapat diminimalkan.
Kebutuhan Psikososial Ibu Hamil dalam Mencegah Hipertensi Kehamilan: Studi Eksploratif : Psychosocial Needs of Pregnant Women for the Prevention of Hypertensive Disorders of Pregnancy (HDP): An Exploratory Study Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Putu Irma Pratiwi; Hendra Setiawan
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4489

Abstract

Hypertension in pregnancy is a major contributor to maternal and neonatal morbidity and mortality. Beyond clinical risk factors, psychosocial conditions—such as stress, anxiety, and social support—are increasingly recognized as influencing pregnancy health and potentially elevating the risk of hypertension. This study explored the psychosocial needs of pregnant women served by the Sukasada I Community Health Center (Puskesmas Sukasada I) in relation to preventing hypertension during pregnancy. A qualitative exploratory design was employed. Using purposive sampling, seven pregnant women aged 20–34 years who attended antenatal care at Puskesmas Sukasada I were recruited. Data were collected through semi-structured, in-depth interviews conducted by the principal investigator and/or trained team members using an interview guide, complemented by field observations in the waiting area and antenatal examination rooms to capture interactions with health workers and the service environment. Data were analyzed using thematic analysis: verbatim transcription, data reduction, coding, clustering, theme identification, and interpretation. Trustworthiness was enhanced through source triangulation (interviews–observations) and member checking. Twenty subthemes emerged and were organized into four overarching themes: (1) emotional and psychological needs (stress and anxiety management, emotion regulation, and planned pregnancy); (2) support needs (husband, family, and coworkers); (3) service-facility–related needs (access, room comfort, privacy, and service delivery); and (4) health-information needs (clear, consistent, and contextual materials on risks and prevention of hypertension). A key finding highlights that support—particularly from husbands and family—is the most decisive psychosocial need in preventing hypertension in pregnancy. Meeting psychosocial needs is an essential component of antenatal care. Health centers should integrate routine psychosocial screening, brief counseling, strengthened partner/family engagement, peer support groups, improved comfort and privacy of services, and user-friendly educational materials with clear referral pathways for psychological care. Future studies should test family- or partner-based interventions with larger samples to strengthen and generalize these findings.   Abstrak Hipertensi dalam kehamilan merupakan masalah kesehatan serius yang berkontribusi pada tingginya angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi. Selain faktor klinis, kondisi psikososial—seperti stres, kecemasan, dan dukungan sosial—kian diakui berpengaruh terhadap kesehatan kehamilan dan berpotensi meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kebutuhan psikososial ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sukasada I dalam kaitannya dengan upaya pencegahan hipertensi pada kehamilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi eksploratif. Partisipan dipilih secara purposive, terdiri dari 7 ibu hamil berusia 20–34 tahun yang melakukan pemeriksaan antenatal di Puskesmas Sukasada I. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur yang dilakukan peneliti utama/anggota tim terlatih berdasarkan panduan, serta observasi lapangan di ruang tunggu dan ruang pemeriksaan untuk menangkap interaksi ibu hamil dengan petugas dan lingkungan layanan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik: transkripsi verbatim, reduksi data, pengodean, pengelompokan, penentuan tema, dan interpretasi. Keabsahan data ditingkatkan melalui triangulasi sumber (wawancara–observasi) dan member checking. Hasil menunjukkan terbentuknya 20 subtema yang terhimpun dalam empat tema utama: (1) kebutuhan emosional dan psikologis (pengelolaan stres, kecemasan, regulasi emosi, kehamilan yang direncanakan); (2) kebutuhan dukungan (suami, keluarga, dan teman kerja); (3) kebutuhan terkait fasilitas layanan (akses, kenyamanan ruang, privasi, pelayanan); dan (4) kebutuhan informasi kesehatan (materi yang jelas, konsisten, dan kontekstual terkait risiko dan pencegahan hipertensi). Temuan kunci menggaris bawahi bahwa dukungan khususnya dari suami  dan keluarga merupakan kebutuhan psikososial yang paling menentukan dalam mencegah hipertensi pada kehamilan. Pemenuhan kebutuhan psikososial merupakan komponen esensial perawatan antenatal. Puskesmas disarankan mengintegrasikan skrining psikososial rutin, konseling singkat, penguatan peran pasangan/keluarga, kelompok dukungan sebaya, peningkatan kenyamanan dan privasi layanan, serta penyediaan materi edukasi yang mudah dipahami beserta alur rujukan psikologis. Penelitian lanjutan perlu menguji intervensi berbasis dukungan keluarga/pasangan dan melibatkan sampel lebih besar untuk menguatkan temuan ini.
Efektivitas PeanutBall dan Teknik Relaksasi Nafas dalam Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif: Effectiveness of Peanut Ball and Deep Breathing Techniques on Labor Pain in the Active Phase of Stage I Purnama, Edy Ayu Dewi; Nasriyah; Azizah, Noor
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4342

Abstract

Labor pain is a physiological process due to uterine contractions which is often considered the most uncomfortable and frightening experience for mothers in labor. Suboptimal pain management can increase the risk of complications during labor. Non-pharmacological approaches, such as deep breathing relaxation techniques and the use of peanut balls, can be an alternative to reduce pain. This study aims to determine the effectiveness of peanut balls and deep breathing relaxation techniques on reducing labor pain in the active phase of the first stage. This study used a quasi-experimental design with a two-group pretest-posttest design, and was conducted at the Ki Ageng Getas PendowoGubug Hospital in May–June 2025. A total of 50 respondents were divided into two groups purposively: the peanut ball intervention group (n=25) and the deep breathing relaxation technique group (n=25). The level of pain was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. The Shapiro-Wilk normality test showed that the data were not normally distributed (pretest p=0.000; posttest p=0.000), so the analysis between groups was carried out using the Mann-Whitney Test. The results showed a significant difference between the two groups (p=0.006), with the peanut ball group showing a higher average ranking. These results indicate that the peanut ball intervention is more effective in reducing labor pain than deep breathing relaxation techniques.   Abstrak Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis akibat kontraksi uterus yang kerap dianggap sebagai pengalaman paling tidak nyaman dan menakutkan bagi ibu bersalin. Pengelolaan nyeri yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko komplikasi selama proses persalinan. Pendekatan nonfarmakologis, seperti teknik relaksasi napas dalam dan penggunaan peanut ball, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas peanut ball dan teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan two group pretest-posttest design, dan dilaksanakan di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug pada Mei–Juni 2025. Sebanyak 50 responden dibagi menjadi dua kelompok secara purposive: kelompok intervensi peanut ball (n=25) dan kelompok teknik relaksasi napas dalam (n=25). Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal (pretest p=0,000; posttest p=0,000), sehingga analisis antar kelompok dilakukan dengan Uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p=0,006), dengan kelompok peanut ball menunjukkan rata-rata ranking lebih tinggi. Hasil ini mengindikasikan bahwa intervensi peanut ball lebih efektif dalam menurunkan nyeri persalinan dibandingkan teknik relaksasi napas dalam. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar tenaga kesehatan, khususnya bidan, dapat mengimplementasikan penggunaan peanut ball sebagai salah satu metode nonfarmakologis dalam manajemen nyeri persalinan.
Profil Obat Faktor Resiko Penyakit Kardiovaskular pada Wanita Menopause Peserta Prolanis di Puskesmas Kabupaten Semarang : Drug Profile of Cardiovascular Disease Risk Factors in Menopausal Women Participants of Prolanis at Semarang Regency Community Health Centers Susilo, Jatmiko; Haswan, Dedi; Kurniawati, Indah
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4212

Abstract

Aging, elderly, and menopausal populations are susceptible to CVD, this condition is exacerbated by obesity, diabetes, hypertension, and dyslipidemia. to examine drugs to prevent and treat cardiovascular risk factors. This descriptive study recruited 145 menopausal women and met the inclusion and exclusion criteria as respondents from 208 Prolanis participants at Bringin, Jimbaran, Lerep, and Leyangan Community Health Centers from patient medication records using purposive sampling techniques and analyzed using SPSS 27 software. Drug data are presented in the form of frequency distribution graphs. Results: Drugs to prevent and treat CVD risk are heart and blood vessel drugs such as diuretics, calcium channel blockers (CCBs), beta receptor blockers (β-blockers), angiotensin converting enzyme inhibitors (ACE inhibitors), angiotensin receptor blockers (ARBs), and antianginals, oral antidiabetic drugs (OADs) such as metformin, glimepiride, and acarbose, as well as lipid-lowering drugs such as statins and fibrates. Conclusion: drugs to prevent and treat PKV risk factors are cardiovascular drugs, ADO, and lipid-lowering drugs.   Abstrak Populasi yang menua, lanjut usia, dan menopause rentan terhadap PKV, kondisi ini diperburuk oleh obesitas, diabetes, hipertensi dan dislipidemia. Untuk menelaah obat untuk mencegah dan mengobati faktor resiko kardiovaskuler. Metoda: penelitian deskriptif ini merekrut 145 wanita menopause dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai responden dari 208 peserta Prolanis di Puskesmas Bringin, Jimbaran, Lerep dan Leyangan dari pencatatan pengobatan pasien dengan teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan software SPSS 27. Data obat disajikan dalam bentuk grafik distribusi frekuensi.  Obat mencegah dan mengobati resiko PKV adalah obat jantung dan pembuluh darah seperti diuretik, pemblok saluran kalsium (CCB), pemblok reseptor beta (β-blocker), penghambat enzim pengkonversi angiotensin (ACE inhibitor), pemblok reseptor angiotensi (ARB), dan antiangina,  obat antidiabetik oral (OAD) seperti metformin, glimepirid dan akarbose, serta penurun lipid seperti statin dan fibrat. Kesimpulan: obat mencegah dan mengobati faktor resiko PKV adalah obat kardiovaskuler, ADO, dan penurun lipid.
Efektivitas Pijat Oksitosin terhadap Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum Normal dan SC: The Effectiveness of Oxytocin Massage on Breast Milk Production in Normal and SC Post Partum Mothers Kristanti, Yanuar; K, Diah Andriani; Tristanti, Ika
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4382

Abstract

Breast milk (ASI) contains large amounts of immunity-boosting proteins and fungicides, so exclusive breastfeeding can reduce the risk of infant mortality. Breast milk is produced depending on the hormone prolactin while its release will be assisted by the hormone oxytocin. Oxytocin massage can be a solution in facilitating breast milk, namely by massaging the spine on the ribs 5-6 to the scapula with the hope of being able to induce the parasympathetic nervous system to stimulate the posterior pituitary in the process of producing the hormone oxytocin. The purpose of this study was to determine the effectiveness of oxytocin massage on breast milk production in normal and SC postpartum mothers at Ki Ageng Getas Pendowo Gubug Regional General Hospital. The research method used was a Quasy Experiment two group post test design. The study was conducted at Ki Ageng Getas Pendowo Regional General Hospital in May-June 2025. The independent variable in this study was the provision of oxytocin massage to postpartum mothers and the dependent variable was breast milk production. The population in this study was all mothers who had normal postpartum and SC at Ki Ageng Getas Pendowo Regional General Hospital, totaling 44 respondents. The sampling technique used purposive sampling. Data analysis using univariate and bivariate methods using the Independent T-Test obtained a p-value <0.05, indicating that oxytocin massage is effective in increasing breast milk production in mothers who had normal postpartum and SC.   Abstrak Air susu ibu mengandung protein peningkat imunitas dan fungisida dalam jumlah besar, sehingga pemberian ASI eksklusif dapat menurunkan risiko kematian bayi. ASI diproduksi tergantung dari hormon prolaktin semantara untuk mengeluarkannya akan dibantu oleh hormon oksitosin. Pijat oksitosin dapat menjadi solusi dalam memperlancar ASI, yakni dengan memijat bagian tulang punggung pada costa 5-6 hingga scapula dengan harapan mampu menginduksi kerja saraf parasimpatis untuk merangsang hipofise posterior dalam proses produksi hormon oksitosin. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui Efektivitas Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Post Partum Normal dan SC Di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasy Eksperiment two group post test design. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Ki Ageng Getas Pendowo pada bulan Mei-Juni 2025. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian pijat oksitosin pada ibu post partum dan variabel terikatnya adalah pengeluaran ASI. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum normal dan SC di Rumah Sakit Umum Daerah Ki Ageng Getas Pendowo sejumlah 44 responden. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Analisa data dengan cara univariat dan bivariat  menggunakan uji T-Test Independen, didapatkan hasil nilai p value < 0,05 sehingga pijat oksitosin efektif dalam pengeluaran ASI pada ibu post partum normal dan SC.
Pengaruh Pijat Oksitosin dibandingkan Intervensi Lain terhadap Produksi ASI pada Ibu Nifas: Literature Review: Comparison of Oxytocin Massage with Other Interventions on Breast Milk Production in Puerperal Mothers: A Literature Review Apreliasari, Helmy; Risnawati; Fazar Kumaladewi Soedjarwo
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4464

Abstract

Breast milk is the optimal source of nutrition for infants, yet inadequate milk production remains a significant barrier to exclusive breastfeeding worldwide. Non-pharmacological interventions such as oxytocin massage, marmet technique, breast care, acupressure, and herbal remedies have been widely introduced to stimulate the release of prolactin and oxytocin hormones, thereby enhancing lactation. This literature review aims to critically analyze and synthesize evidence regarding the effectiveness of oxytocin massage compared with other interventions for improving breast milk production in puerperal mothers. Articles were obtained from PubMed, Scopus, and Google Scholar, published between 2015 and 2025, using keywords “oxytocin massage,” “lactation,” “breast milk production,” and “postpartum mothers.” Inclusion criteria consisted of experimental and quasi-experimental studies evaluating oxytocin massage or other complementary techniques, with primary outcomes including milk volume, hormonal changes, maternal psychological well-being, and infant feeding indicators. Findings consistently indicate that oxytocin massage enhances milk production, often showing results equal to or superior compared with marmet technique, effleurage massage, or breast care alone. Moreover, combination approaches such as oxytocin massage combined with marmet or Woolwich massage demonstrated greater improvements in milk yield, maternal comfort, and breastfeeding success. Studies assessing hormonal responses reported increased oxytocin and prolactin levels following oxytocin massage, particularly when combined with emotional management strategies. Nevertheless, variations in methodology, sample size, and measurement tools across studies limit comparability and generalizability of findings. Overall, oxytocin massage represents an effective, safe, low-cost, and feasible non-pharmacological intervention to support lactation among postpartum mothers. Future research with standardized protocols, larger sample sizes, and robust hormonal assessments is recommended to strengthen the evidence base and inform clinical practice guidelines for midwives and health professionals.   Abstrak ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, namun produksi ASI yang tidak memadai masih menjadi hambatan utama dalam pencapaian pemberian ASI eksklusif di seluruh dunia. Berbagai intervensi nonfarmakologis telah diperkenalkan untuk merangsang pelepasan hormon prolaktin dan oksitosin, di antaranya pijat oksitosin, teknik marmet, perawatan payudara, akupresur, serta terapi herbal. Tinjauan literatur ini bertujuan menganalisis secara kritis dan mensintesis bukti mengenai efektivitas pijat oksitosin dibandingkan dengan intervensi lain dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Artikel diperoleh melalui pencarian pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan rentang publikasi 2015–2025 menggunakan kata kunci “pijat oksitosin,” “laktasi,” “produksi ASI,” dan “ibu nifas.” Kriteria inklusi mencakup penelitian eksperimental maupun kuasi-eksperimental yang mengevaluasi pijat oksitosin atau intervensi lain dengan luaran utama berupa volume ASI, perubahan hormonal, kesejahteraan psikologis ibu, serta indikator keberhasilan menyusui bayi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pijat oksitosin secara konsisten meningkatkan produksi ASI, dengan hasil yang setara bahkan lebih baik dibandingkan teknik marmet, pijat effleurage, atau perawatan payudara saja, selain itu, pendekatan kombinasi seperti pijat oksitosin dengan teknik marmet atau woolwich massage terbukti memberikan peningkatan lebih besar pada volume ASI, kenyamanan ibu, serta keberhasilan menyusui. Beberapa penelitian yang mengukur respon hormonal melaporkan adanya peningkatan kadar oksitosin dan prolaktin setelah pijat oksitosin, terutama bila dikombinasikan dengan strategi manajemen emosional. Meski demikian, variasi metodologi, ukuran sampel, serta instrumen pengukuran antar penelitian membatasi keterbandingan dan generalisasi temuan. Secara keseluruhan, pijat oksitosin merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, murah, serta layak diterapkan untuk mendukung laktasi pada ibu nifas. Penelitian selanjutnya dengan protokol yang lebih terstandar, sampel lebih besar, dan pengukuran hormonal yang lebih kuat diperlukan guna memperkuat bukti serta menyusun pedoman praktik klinis bagi bidan dan tenaga kesehatan.
Gambaran Durasi Perawatan Metode Kanguru (PMK) Terhadap Peningkatan Parameter Antropometri Bayi Berat Badan Lahir Rendah (1000-1999 gram) di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Tahun 2023: Description of the Duration of Kangaroo Care Method (KMC) on the Improvement of Anthropometric Parameters of Low Birth Weight Babies (1000-1999 grams) at Budi Kemulia Hospital in 2023 Izona, Donicka; Irma Sapriani; Fitria Endah Puwarni
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i2.4586

Abstract

The Indonesian Ministry of Health in 2021 shows leading causes of neonatal were BBLR at 34.5%, asphyxia at 27.8%, and other causes (congenital abnormalities, infections, neonatal tetanus) 20.2%. The longitudinal research designs use consecutive sampling. Research subjects were 8 infants using the instrument of PMK daily evaluation book at home and a questionnaire. Description of the duration of KMC on the improvement of anthropometric parameters of LBWI (1000-1999 grams) at Budi Kemuliaan Hospital in August-September 2023. Average weight gain for a PMK duration of <10 hours is 24.34 grams/day and duration of ≥10 hours is 28.55 grams/day, length increase for a PMK duration of <10 hours/day is 0.23 cm/week and duration of ≥10 hours/day is 0.46 cm/week, head circumference increase for a PMK duration of <10 hours/day is 0.20 cm/week and duration of ≥10 hours is 0.22 cm/week. Type of breast milk nutrition, weight gain is 28.40 grams/day, height increase is 0.5 cm/week and head circumference increase is 0.2 cm/week. Type of formula milk nutrition, average weight gain is 28.03 grams/day, height increase is 0.5 cm/week and head circumference increase is 0.25 cm/week. Type of breast milk and formula milk nutrition, weight gain is 25.86 grams/day, height increase is 0.30 cm/week and head circumference increase is 0.21 cm/week. An overview of the growth of BBLR with duration of PMK ≥ 10 hours of increased body weight anthropometry, body length and head circumference, for increased anthropometry in nutrients cannot be equalized for increased due to limited research samples. It is hoped that further research can be carried out by expanding the research sample.   Abstrak Kelahiran BBLR masih menjadi pusat perhatian kesehatan di Indonesia. Data Kemenkes RI tahun 2021 proporsi penyebab kematian neonatal (0-28 hari) terbanyak BBLR 34,5%, asfiksia 27,8% dan penyebab lainya (kelainan kongenital, infeksi, tetanus neonatorum) 20,2%. Desain penelitian longitudinal menggunakan consecutive sampling, subjek sebanyak 8 bayi dengan instrumen penelitian buku evaluasi harian PMK dan kuesioner. Studi Kasus durasi Perawatan Metode Kanguru (PMK) terhadap peningkatan parameter antropometri BBLR (1000-1999 gram) di Rumah Sakit Budi Kemuliaan bulan Agustus-September Tahun 2023. Rerata kenaikan berat badan durasi PMK <10 jam 24,34 gram/hari, durasi PMK ≥10 jam 28,55 gram/hari. Rerata kenaikan panjang durasi PMK <10 jam sehari 0,23 cm/minggu, durasi PMK ≥10 jam sehari 0,46 cm/minggu. Rerata kenaikan lingkar kepala dengan durasi PMK<10 jam sehari 0,20 cm/minggu, durasi PMK ≥10 jam 0,22 cm/minggu. Pada jenis nutrisi ASI kenaikan berat badan rerata 28,40 gram,/hari kenaikan panjang badan 0,5 cm/minggu dan kenaikan lingkar kepala 0,2 cm/minggu. Pada jenis nutrisi susu formula rerata kenaikan berat badan 28,03 gram/ hari, panjang badan kenaikan rerata 0,5 cm/minggu dan lingkar kepala rerata 0,25 cm/minggu. Pada jenis nutrisi ASI dan Susu formula kenaikan berat badan rerata 25,86 gram/hari, panjang badan rerata 0,30 cm/minggu dan lingkar kepala rerata kenaikan 0,21 cm/minggu. Gambaran pertumbuhan BBLR dengan durasi PMK ≥10 jam terjadi peningkatan antropometri berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, untuk peningkatan antropometri pada nutrisi tidak dapat direratakan untuk peningkatan karena sampel penelitian yang terbatas. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat dilakukan kembali dengan memperluas sampel penelitian.
Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental: The Differences In The Left Lateral Position Technique And The Use Of A Birthing Ball On The Progress Of Labor: A Quasi-Experimental Study Polapa, Vivin Riski; Katili, Dwi Nur Octaviani; Nour Arriza Dwi Melani; Adam, Jusri
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4444

Abstract

The labor process can be long and difficult, resulting in complications for the mother and baby. Management of prolonged labor through medical interventions, both invasive and non-invasive, is carried out to accelerate the progress of labor. One of the non-invasive therapies is the left lateral position and the use of a birthing ball. The purpose of this study was to determine the difference between the lateral position and the use of a birthing ball on the progress of labor at the Tolinggula Community Health Center (UPTD). The research method used was a quasi-experimental design with posttest only and a control group. The number of samples in this study was 30 respondents divided into two groups with 15 samples in research subjects each. The results obtained showed that the average score for the left lateral position was 1.47 (SD = 0.516), while the average score for the birthing ball was 1.13 (SD = 0.352). This indicates that most respondents were in the progress category with a significance (Asymp. Sig. 2 tailed) of 0.059. Because the P value>0.05, it can be concluded that there is no significant difference between the use of a birthing ball and the left lateral position in mothers giving birth. In future research, it is hoped that furture research can be carried out with a larger and sample size and a longer observation time.   Abstrak Proses persalinan bisa  berlangsung menjadi lama dan sulit yang mengakibatkan komplikasi pada ibu dan bayinya. Penanganan persalinan lama melalui Intervensi medis baik invasive maupun non invasive dilakukan untuk mempercepat kemajuan persalinan. Salah satu terapi non invasive adalah posisi miring kiri dan  penggunaan birthing ball. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball terhadap kemajuan persalinan di UPTD Puskesmas Tolinggula. Metode penelitian yang digunakan yaitu quasi experiment dengan desain posttest only with control group. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 30 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok dengan masing-masing 15 subyek penelitian. Hasil yang diperoleh yaitu menunjukkan bahwa rata-rata skor posisi miring kiri adalah 1.47 (SD = 0.516), sedangkan rata-rata skor birthing ball adalah 1.13 (SD= 0.352). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori terjadi kemajuan dengan signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar 0.059. Karena nilai p > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan birthing ball dengan posisi miring kiri pada ibu bersalin. Pada peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan waktu pengamatan yang lebih lama.
Revitalisasi self-efficacy Remaja SMA melalui Program PRIMA dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi: Revitalizing Senior High School Students’ Self-Efficacy through the PRIMA Program in Reproductive Health Education Yuliyati, Tutik; Tina Mawardika
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4834

Abstract

rapid physical, emotional, and social changes. Limited knowledge about reproductive health often leads to risky behaviors such as premarital sex and unintended pregnancy. This condition is further exacerbated by limited communication between parents and adolescents as well as the lack of comprehensive reproductive health education in schools. Consequently, many adolescents have low self-efficacy in making healthy and responsible decisions for themselves. The PRIMA (Independent and Safe Adolescent Reproductive Education) program was designed to improve adolescents’ knowledge, attitudes, and self-efficacy in maintaining reproductive health independently and responsibly. This study aimed to determine the effect of the PRIMA program on the self-efficacy of senior high school students in maintaining reproductive health. This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest with control group approach. The research sample consisted of 34 respondents divided into intervention and control groups using a purposive sampling technique. The study was conducted at SMA PGRI 1 Temanggung. The intervention group received the PRIMA education through an 8-minute-21-second animated video. Data were analyzed using paired t-test and independent t-test. The paired t-test showed a significant increase in the mean self-efficacy score in the intervention group (p=0.000 < α=0.05), while no significant difference was found in the control group (p=0.237 > α=0.05). The independent t-test revealed a significant difference between the intervention and control groups after the PRIMA intervention (p=0.00 < α=0.05). The PRIMA program significantly improved adolescents’ self-efficacy in maintaining reproductive health.     Abstrak Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang cepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sering kali memicu perilaku berisiko seperti seks pranikah, dan kehamilan tidak diinginkan. Kondisi ini semakin diperparah dengan keterbatasan komunikasi antara orang tua dan remaja serta kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif di sekolah. Akibatnya, banyak remaja yang memiliki self-efficacy rendah dalam mengambil keputusan sehat dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Program PRIMA (Pendidikan Reproduksi Remaja Mandiri dan Aman) dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan self-efficacy remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi secara mandiri dan bertanggung jawab. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh PRIMA terhadap self-efficacy remaja SMA dalam menjaga kesehatan reproduksi. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 34 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di SMA PGRI 1 Temanggung. Kelompok intervensi mendapatkan perlakuan berupa pendidikan PRIMA melalui video animasi yang berdurasi 8 menit 21 detik. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil uji paired t-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai rata-rata self-efficacy pada kelompok intervensi setelah diberi perlakuan dengan p-value (0,000) < α (0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan bermakna dengan p-value (0,237) > α (0,05). Uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol setelah diberikan program PRIMA dengan p-value (0,00) < α (0,05). Ada pengaruh PRIMA: Pendidikan Reproduksi Remaja Mandiri dan Aman terhadap self-efficacy pada remaja SMA.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Menstrual Hygiene pada Remaja Putri: The Relationship between Knowledge and Attitudes toward Menstrual Hygiene Behavior among Adolescent Girls Indri Bakti Salsabila, Dinar; Syifa Sofia Wibowo
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4927

Abstract

Menstruation is a physiological process in women representing sexual reproductive maturity. In this cycle, personal hygiene focused on the genitalia (menstrual hygiene) is a crucial aspect. Poor menstrual hygiene can lead to genital tract infections, which may have long-term health impacts such as infertility and decreased quality of life. Lack of understanding regarding menstrual hygiene can also trigger reproductive health issues, including vaginal discharge, reproductive tract infections (RTIs), pelvic inflammatory disease (PID), and the risk of cervical cancer. Menstrual hygiene behavior is influenced by various factors, including individual knowledge and attitudes. Adequate knowledge and a positive attitude are essential foundations for consistent healthy practices. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes toward menstrual hygiene behavior among female adolescents. This research employed a descriptive-analytic method with a cross-sectional approach. The population consisted of first-year Midwifery Diploma students at Poltekkes Semarang, with a total sample of 118 respondents selected via total sampling. Data were collected using questionnaires distributed via Google Forms and analyzed using the Chi-Square statistical test. The respondents' age range was 17–19 years. Findings showed that 90.7% of respondents had previously received information about menstrual hygiene, with 26.3% obtaining it through social media. Furthermore, 72% of respondents possessed a high level of knowledge, and 57.6% exhibited a positive attitude toward menstrual hygiene. Bivariate analysis yielded a p-value of 0.000 ($p < 0.05$), indicating a significant relationship between knowledge and menstrual hygiene behavior, as well as a significant relationship between attitude and menstrual hygiene behavior among female adolescents. High knowledge of menstrual hygiene is associated with good hygiene behavior, and female adolescents with positive attitudes tend to practice better menstrual hygiene. These findings are expected to serve as a basis for educational institutions and healthcare providers to improve reproductive health, specifically regarding menstrual hygiene practices among adolescents and students.   Abstrak Menstruasi merupakan hal fisiologis yang akan dialami oleh perempuan yang merepresentasikan kematangan sistem reproduksi secara seksual. Dalam siklus ini, pemeliharaan kebersihan diri yang berfokus pada organ genetalia ketika menstruasi (menstrual hygiene) menjadi aspek yang sangat krusial. Perilaku menstrual hygiene yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi organ genital. Infeksi pada saluran reproduksi dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan, seperti risiko kemandulan yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Kurangnya pemahaman menstrual hygiene juga dapat memunculkan gangguan kesehatan reproduksi seperti keputihan, infeksi saluran reproduksi, penyakit radang panggul dan kemungkinan terjadi kanker leher rahim. Perilaku menstrual hygiene seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan dan sikap individu. Pengetahuan yang memadai mengenai menstruasi dan kebersihan menstruasi menjadi dasar penting dalam membentuk perilaku yang sehat. Selain pengetahuan, sikap juga berperan penting dalam menentukan perilaku menstrual hygiene. Sikap positif terhadap kebersihan menstruasi akan mendorong individu untuk menerapkan praktik menstrual hygiene yang baik secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku menstrual hygiene pada remaja putri. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan   deskriptif   analitik   dengan   pendekatan cross-sectional dengan sampel mahasiswa tingkat satu DIII Kebidanan Semarang Poltekkes Semarang. Pengambilan sampel dengan total sampling sehingga didapatkan sebanyak 118 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner dalam bentuk link google form. Analisis data yang digunakan menggunakan uji statistik chi square. Penelitian ini didapatkan bahwa rentang usia responden 17 tahun – 19 tahun, 90,7% responden sudah pernah mendapatkan informasi mengenai menstrual hygiene dan 26,3% mendapatkan informasi melalui media sosial. Berdasarkan hasil penelitian 72% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai menstrual hygiene dan 57,6% memiliki sikap yang positif tentang menstrual hygiene. Berdasarkan hasil uji bivariat didapatkan nilai p-value 0,000 (<0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku menstrual hygiene dan terdapat hubungan antara sikap terhadap perilaku menstrual hygiene remaja putri. Pengetahuan menstrual hygiene yang tinggi berhubungan dengan perilaku menstrual hygiene yang baik dan remaja putri dengan kategori sikap positif memiliki perilaku menstrual hygiene yang baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi institusi pendidikan dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesehatan reproduksi, khususnya terkait praktik menstrual hygiene pada remaja dan mahasiswa.