cover
Contact Name
Yannice Luma
Contact Email
jurnalmedian2021@gmail.com
Phone
+628114825372
Journal Mail Official
median@ustj-jayapura.ac.id
Editorial Address
Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Jln. Raya Sentani, Padang Bulan, Heram, Kota Jayapura 99351, Papua, Indonesia
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Median Arsitektur dan Planologi
ISSN : 23030410     EISSN : 28085655     DOI : https://doi.org/10.58839/jmap.v12i2.1094
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi merupakan jurnal ilmiah gabungan dari dua program studi, yaitu Arsitektur dan PWK (Perencanaan Wilayah dan Kota) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) - Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) yang dikelola di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Jurnal MEDIAN terbit pertama kali pada tahun 2011 dan diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember mulai tahun 2023 (sebelumnya terbit pada bulan Februari dan Oktober). Disiplin ilmu yang dapat menerbitkan artikelnya melalui jurnal ini adalah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota serta berkaitan dengan pembangunan yang berkelanjutan.
Articles 128 Documents
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE DAN IMPLIKASI SOSIAL-EKOLOGISNYA DI TELUK YOUTEFA, JAYAPURA (2017-2024) Tuturop, Norviana A; Yanthy, Normalia Ode; Labok, Anna M
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 02 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i02.1588

Abstract

Penelitian ini mengkaji perubahan spasial tutupan mangrove dan implikasi sosial-ekologisnya di Teluk Youtefa, Jayapura, pada periode 2017-2024. Masalah utama yang diidentifikasi adalah menyusutnya luasan mangrove akibat konversi lahan untuk permukiman, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan konservasi. Analisis dilakukan menggunakan citra Sentinel-2 tahun 2017, 2020, dan 2024 yang diolah melalui Sistem Informasi Geografis untuk melakukan klasifikasi penutupan lahan dan deteksi perubahan, kemudian di-overlay dengan pola ruang dan zonasi pengelolaan Teluk Youtefa. Data spasial dilengkapi dengan observasi lapangan serta wawancara mendalam dengan masyarakat, tokoh adat, dan pemangku kepentingan pemerintah untuk memahami bentuk tekanan, persepsi, dan strategi pengelolaan yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tutupan mangrove yang cukup nyata dan konsentrasi tekanan pada zona yang berdekatan dengan permukiman dan akses transportasi, dengan dampak terhadap fungsi perlindungan pantai, habitat biota perikanan, dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir. Kelembagaan adat masih berperan dalam pengaturan pemanfaatan ruang, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam skema pengelolaan formal. Penelitian ini berkontribusi memperkaya kajian pengelolaan pesisir berkelanjutan dengan menunjukkan pentingnya integrasi analisis spasial dan perspektif kelembagaan lokal dalam perumusan strategi pengelolaan mangrove di kawasan konservasi perkotaan.
MODEL PERENCANAAN WILAYAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN KAWASAN SEMPADAN DANAU SENTANI (STUDI KASUS: KAMPUNG YOKA,DISTRIK HERAM, KOTA JAYAPURA) Juliana, Asima; Yarangga, Veronica
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 02 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i02.1591

Abstract

Kawasan sempadan Danau Sentani di Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura mengalami degradasi lingkungan yang ditandai oleh alih fungsi lahan menjadi permukiman dan area komersial serta meningkatnya pencemaran domestik. Kondisi ini terjadi meskipun kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan lindung melalui Perda Kota Jayapura Nomor 5 Tahun 2008 tentang RTRW. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi aktual pemanfaatan ruang, menganalisis permasalahan lingkungan dan efektivitas implementasi RTRW, serta merumuskan model perencanaan wilayah berbasis kearifan lokal masyarakat adat Hebaeibulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan memanfaatkan data primer melalui observasi lapangan dan interaksi informal dengan warga, tokoh adat, serta pemerintah kampung. Data sekunder diperoleh dari dokumen RTRW, regulasi penataan ruang dan lingkungan, literatur ilmiah, serta kajian adat mengenai struktur kepemimpinan Ondoafi, peran Bu Ondofolo, dan filosofi Tiga Tungku yang menjadi dasar tatanan sosial masyarakat Yoka. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian naratif, triangulasi informasi, dan verifikasi temuan dengan teori perencanaan wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan pembangunan permukiman, aktivitas domestik di tepian danau, serta lemahnya pengawasan menjadi penyebab utama degradasi kawasan. Implementasi RTRW belum efektif karena minimnya penegakan aturan dan kurangnya keterlibatan lembaga adat dalam pengelolaan ruang. Namun demikian, masyarakat adat Hebaeibulu memiliki potensi besar dalam mendukung pengelolaan berkelanjutan melalui aturan adat, mekanisme musyawarah tradisional, dan penguatan kelembagaan kampung. Penelitian ini merekomendasikan model perencanaan kolaboratif yang mengintegrasikan ketentuan RTRW, peran lembaga adat, dan partisipasi masyarakat. Penguatan pengawasan dan revitalisasi aturan adat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas perlindungan kawasan sempadan Danau Sentani secara ekologis dan sosial budaya.
STUDI PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT KAMPUNG MATATUN KABUPATEN TAMBRAUW MELALUI PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA Songgreri, Yance; Yanthy, Normalia Ode; Labok, Anna M
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 02 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i02.1601

Abstract

Pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah perdesaan. Kampung Matatun di Kabupaten Tambrauw memiliki berbagai potensi wisata alam dan budaya yang belum dimanfaatkan secara optimal, seperti sumber air panas Aremi, Bukit Sontiri, serta kekayaan budaya lokal masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pariwisata Kampung Matatun, menganalisis kendala pengembangannya, serta merumuskan strategi pengembangan pariwisata yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan dan wawancara, serta data sekunder dari dokumen pemerintah dan literatur terkait. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, dan Ancillary Services) dan analisis SWOT untuk menentukan posisi strategis pengembangan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Matatun memiliki kekuatan utama berupa daya tarik wisata alam dan budaya yang unik serta lingkungan yang masih relatif alami. Namun pengembangan pariwisata masih menghadapi berbagai kendala, antara lain: rendahnya aksesibilitas, minimnya sarana dan prasarana pendukung, rendahnya kapasitas sumber daya manusia, serta belum terbentuknya kelembagaan pengelola wisata. Hasil analisis SWOT menempatkan Kampung Matatun pada kuadran Weaknesses–Threats (WT), sehingga strategi yang direkomendasikan adalah meminimalkan kelemahan internal dan ancaman eksternal melalui pembangunan infrastruktur jalan, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan promosi, serta pembentukan kelembagaan pariwisata berbasis masyarakat. Penerapan strategi tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
STUDI PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH DI KAMPUNG PUAY, DISTRIK SENTANI TIMUR, KABUPATEN JAYAPURA Metusale Ranggafu; Musfira Musfira; Anna M Labok
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 16 No 01 (2026): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v16i01.1590

Abstract

Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Di tengah agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG-6, pemenuhan air bersih di wilayah-wilayah terpencil seperti Kampung Puay di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, masih menjadi tantangan besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting penyediaan air bersih, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat, serta merumuskan strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, kuesioner, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar warga masih menggunakan air danau tanpa proses penjernihan, dan hanya sebagian kecil memanfaatkan air hujan atau sumur dangkal. Krisis air bersih diperparah oleh pencemaran lingkungan, rendahnya literasi sanitasi, dan belum terbentuknya lembaga pengelola air. Berdasarkan temuan tersebut, disusun strategi terpadu meliputi pendekatan teknis, kelembagaan, sosial-partisipatif, dan regulasi lokal.
TINGKAT LAYANAN PEDESTRIAN PADA RUAS JALAN RAYA ABEPURA KOTA JAYAPURA Panus Abi; Yannice L M Sitorus; Anna M Labok
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 16 No 01 (2026): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v16i01.1637

Abstract

Koridor Jalan Raya Abepura di Kota Jayapura merupakan salah satu jalur utama dengan tingkat aktivitas pejalan kaki yang tinggi akibat keberadaan pusat pendidikan, permukiman, dan fasilitas umum di sana. Kemudian bermunculan beberapa pedagang informal untuk memanfaatkan tingginya arus pejalan kaki pada ruas jalan tersebut sehingga dapat menurunkan tingkat layanan fasilitas pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja ruang jalan bagi pejalan kaki di koridor Jalan Raya Abepura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan tingkat layanan pedestrian dianalisis menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 dan Permen PUPR No. 03/PRT/M/2014 serta persepsi pengguna pedestrian. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar jalur pejalan kaki di Jalan Raya Abepura belum memenuhi standar minimum lebar trotoar, memiliki beberapa hambatan fisik, dan minim fasilitas penunjang seperti zebra cross, halte, tempat sampah, dan lampu penerangan. Hal inilah yang memengaruhi persepsi pejalan kaki di sana sehingga menyatakan bahwa tingkat pelayanan pedestrian di lokasi studi berada pada kategori biasa atau cukup. Akan tetapi bila dikaji berdasarkan aspek teknis, tingkat layanan pedestrian di sana berada pada level A, yang berarti kondisi trotoar sangat nyaman, pergerakan bebas tanpa hambatan, dan interaksi sosial mudah. Keberadaan para pedagang kaki lima, utamanya penjual makanan dan minuman serta pinang, belum dirasakan mengganggu dan menurunkan tingkat layanan jalur pedestrian di sana. Agar terbentuk ruang ramah bagi pejalan kaki maka perlu diperhatikan keberadaan fasilitas pendukung trotoar yang setidaknya telah memenuhi ketentuan standar minimal.
ANALISIS HISTORIOGRAFIS KERUANGAN MASJID GEDHE MATARAM DALAM PERKEMBANGAN KOTA ISLAM KOTAGEDE Zumaroh Khasanah; Davin Bimadudov
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 16 No 01 (2026): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v16i01.1642

Abstract

Masjid Gedhe Mataram merupakan salah satu elemen penting dalam pembentukan Kota Islam Kotagede yang memiliki nilai historis, religius, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Masjid Gedhe Mataram sebagai pusat orientasi ruang Kota Islam Kotagede melalui pendekatan historiografis keruangan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, observasi lapangan, dokumentasi, wawancara, dan pemetaan sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Gedhe Mataram memiliki keterkaitan spasial dengan elemen kota lain seperti pasar, alun-alun, dan kompleks makam raja yang membentuk konsep Catur Gatra Tunggal. Selain itu, proses islamisasi ruang tercermin melalui berbagai elemen fisik seperti gapura Paduraksa, pohon sawo kecik, dan sendang yang menunjukkan adanya akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kawasan ini juga mengalami transformasi fungsi dari pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam menjadi pusat aktivitas religi, budaya, dan wisata sejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Masjid Gedhe Mataram tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai representasi identitas historis dan budaya masyarakat Kotagede.
ANALISIS KENYAMANAN TERMAL RUANG GAMBAR FTSP USTJ PADA IKLIM TROPIS LEMBAP JAYAPURA Faris Izza Prayudha; Genoveva Sibilina Prafianti; Mathias Mikawa
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 16 No 01 (2026): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v16i01.1646

Abstract

Kenyamanan termal merupakan kebutuhan mendasar pada ruang belajar, khususnya di wilayah tropis lembap seperti Jayapura. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kenyamanan termal Ruang Gambar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, mengidentifikasi parameter iklim mikro yang paling dominan, serta merumuskan strategi desain pasif yang sesuai. Pengukuran lapangan dilakukan pada tiga waktu (pagi, siang, dan sore) menggunakan Elitac Data Logger, Heat Stress Meter, dan Hobo Data Logger pada tiga titik amatan. Parameter yang diukur meliputi suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan udara, Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT), dan intensitas pencahayaan. Hasil menunjukkan suhu udara meningkat dari 29,1–29,5 °C pada pagi hari menjadi 31,8–32,1 °C pada siang hari, dengan WBGT mencapai 33,1 °C. Kelembapan relatif tetap tinggi (69–79%) sehingga menghambat pelepasan panas tubuh. Intensitas pencahayaan melonjak hingga 4.852,5 lux, jauh di atas standar ruang gambar yang ideal (750 lux). Meskipun sistem ventilasi alami silang menghasilkan kecepatan udara hingga 1,171 m/s, ruang tetap berada pada zona risiko stres panas pada siang hingga sore hari. Penyebab utama adalah orientasi bukaan ke arah Barat Daya tanpa peneduh sehingga radiasi matahari masuk berlebihan. Strategi desain pasif yang direkomendasikan mencakup louver vertikal, tirai/kaca film, vegetasi peneduh, selubung reflektif, ventilasi hibrida, serta manajemen jadwal dan kapasitas hunian.
ANALISIS KENYAMANAN TERMAL RUANG PROGRAM STUDI ARSITEKTUR USTJ DI IKLIM TROPIS LEMBAP Gloria Melanesia; Rani Silva Gwijangge; Willibrodus Wafom; Desti Morare
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 16 No 01 (2026): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v16i01.1647

Abstract

Ruang akademik di wilayah tropis lembap menghadapi tantangan dalam menjaga kenyamanan termal sekaligus kecukupan cahaya bagi penggunanya. Penelitian ini mengkaji kondisi kenyamanan termal Ruang Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, menentukan parameter lingkungan yang paling berpengaruh, serta menyusun usulan desain pasif yang sesuai. Pengukuran lapangan berlangsung pada tiga rentang waktu (pagi, siang, dan sore) memakai HOBO U12, Elitech RC-4, dan Extech HT30 WBGT Meter pada lima titik amatan, dengan parameter berupa suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan udara, suhu radiasi (Taglobe), dan intensitas cahaya. Suhu udara terukur 28,4–30,8 °C, melampaui batas nyaman SNI (22–27 °C), sementara kelembapan relatif sangat tinggi (64–83%) dan suhu radiasi berkisar 29–30,6 °C. Intensitas pencahayaan justru sangat rendah (3,9–51,2 lux), jauh di bawah kebutuhan ruang kerja (250–350 lux), sehingga ruang terasa redup. Kecepatan udara timpang: titik dekat inlet mencapai 0,30–0,86 m/s, namun titik lain nyaris stagnan (0,03–0,06 m/s). Akar persoalan terletak pada ventilasi yang hanya bekerja satu sisi akibat jalur silang terhalang sekat, ditambah sebagian ventilasi tertutup plastik. Solusi yang diusulkan adalah penambahan clerestory window pada sisi Tenggara untuk memicu stack effect, optimalisasi ventilasi silang, serta vertical garden sebagai peneduh dinding.

Page 13 of 13 | Total Record : 128