cover
Contact Name
Edy Kurniawan
Contact Email
jsn.sekawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jsn.sekawan@gmail.com
Editorial Address
Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara Jl. Bandeng No 25 Lingkungan Telaga Mas Kampung Arab Ampenan, Kota Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Sains Natural
ISSN : -     EISSN : 29873258     DOI : https://doi.org/10.35746/jsn.v1i2.343
Jurnal Sains Natural : merupakan Jurnal Ilmiah bidang sains dan eksakta yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (PUSLIBLTBANG) SEKAWAN Institue, Mataram, Nusa Tenggara Barat Jurnal ini dikelola oleh para dosen dan praktisi yang berasal dari berbagai background perguruan tinggi di Indonesia khususnya NTB. Jurnal Sains Natural terbit 4 (empat) kali dalam 1 tahun yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus, danNovember. Jurnal Sains Natural menargetkan setiap issues terdiri dari 20 artikel per volume secara konsisten setiap terbit. Cakupan dan Fokus Jurnal ini pada Bidang Ilmu Sains  dan atau yang serumpun dengannya dengan cakupan tema seperti Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Statistik, Ilmu Komputer, Sains Data dan lainnya yang masih serumpun dengan bidang Ilmu Sains dan Eksakta.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 74 Documents
Hubungan Kualitas Udara dengan Kejadian ISPA pada Dewasa: Analisis Kluster Epidemiologi dan Uji Korelasi Biostatistik Haliza Najwa; Jenita Lende; M. Akbar; Marlina T; Sakira Safa; Vivi Vivi; Astri S; Bustanul Atfal; Nurul Hadiatun
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.970

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas udara (SPM) dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada kelompok usia dewasa di wilayah kerja Puskesmas Dasan Tapen, NTB. ISPA merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada dewasa di Indonesia, sehingga kajian mengenai faktor risikonya, termasuk paparan polutan udara, sangat diperlukan. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional analitik, penelitian ini memanfaatkan data kualitas udara (Suspended Particulate Matter/SPM) dari Stasiun Klimatologi NTB dan data kejadian ISPA dewasa periode tahun 2024–2025. Analisis kluster epidemiologi diterapkan untuk mengidentifikasi pola spasial dan temporal pengelompokan kasus. Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan dan positif antara kualitas udara dengan kejadian ISPA pada dewasa (r_s = 0,62; p < 0,05), mengindikasikan hubungan yang kuat. Analisis kluster memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan adanya pengelompokan kasus pada wilayah yang memiliki konsentrasi SPM secara konsisten di atas ambang batas, terutama pada musim kemarau. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan dengan kekuatan korelasi kuat antara buruknya kualitas udara dan peningkatan kasus ISPA pada populasi dewasa. Analisis kluster mengonfirmasi bahwa wilayah dengan paparan polusi partikulat tinggi membentuk kluster risiko tinggi, sehingga polusi partikulat merupakan faktor risiko penting yang memerlukan intervensi pencegahan berkelanjutan berbasis wilayah prioritas.
Gambaran Kadar Hemoglobin Pada Penderita Tuberkulosis Paru di RSUD Patut Patuh Patju Baiq Isti Hijriani; Wirdullutfi Wirdullutfi
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.1054

Abstract

Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dan kerap berkaitan dengan berbagai kelainan hematologis, khususnya penurunan kadar hemoglobin. Kondisi anemia pada pasien TB dapat disebabkan oleh proses inflamasi yang berlangsung kronis, gangguan dalam metabolisme zat besi, serta kekurangan asupan nutrisi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan memperlambat proses pemulihan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kadar hemoglobin pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Patut Patuh Patju. Metode yang digunakan berupa penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel penelitian terdiri atas 44 penderita TB paru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif, kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (56,8%), berada pada kelompok usia 31-45 tahun (38,6%), dan menjalani fase intensif pengobatan OAT (54,5%). Pemeriksaan kadar hemoglobin menunjukkan bahwa 61,4% pasien mengalami anemia, yang terdiri atas anemia ringan (40,9%) dan anemia sedang (20,5%), sedangkan 38,6% memiliki kadar hemoglobin normal. Tidak ditemukan kasus anemia berat pada seluruh responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB didominasi oleh pasien laki-laki dengan usia 31-45 tahun, pada fase intensif OAT. Sebanyak 61,4% pasien TB mengalami anemia, yang didominasi oleh anemia ringan. Anemia masih menjadi komplikasi hematologis yang umum pada penderita TB paru.
Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kelainan Sedimen Urine Non-Infeksi pada Penderita Diabetes Mellitus Wirdullutfi Wirdullutfi; Baiq Isti Hijriani
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.1055

Abstract

Latar Belakang: Hiperglikemia kronik pada penderita diabetes mellitus (DM) tidak hanya meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran kemih, tetapi juga menyebabkan kerusakan struktural pada glomerulus dan epitel saluran kemih yang dapat dideteksi melalui sedimen urine. Eritrosituria dan peningkatan sel epitel dalam penelitian ini lebih mencerminkan cedera jaringan akibat toksisitas glukosa, bukan hanya karena respons terhadap infeksi aktif. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kadar glukosa darah dengan eritrosituria dan peningkatan sel epitel urine pada penderita diabetes mellitus, sebagai penanda kerusakan struktural saluran kemih selain infeksi. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 48 penderita diabetes mellitus dengan kadar glukosa darah sewaktu >=200 mg/dL. Pemeriksaan meliputi glukosa darah sewaktu (metode enzimatik GOD-PAP) dan pemeriksaan mikroskopik sedimen urine. Data dianalisis menggunakan uji Spearman's rho dan uji chi-square. Hasil: Eritrosituria terdeteksi pada 77,1% total sampel. Pada kelompok glukosa >300 mg/dL, eritrosituria > 0/lpb ditemukan pada 76,9% sampel dengan temuan ekstrim (kategori banyak dan penuh) sebesar 11,5%. Peningkatan sel epitel (kategori banyak dan penuh) ditemukan pada 61,5% sampel kelompok >300 mg/dL dibandingkan 72,7% pada kelompok >200 mg/dL. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif antara derajat hiperglikemia dengan intensitas eritrosituria (rs=0,412; p=0,003). Kesimpulan: Derajat hiperglikemia berkorelasi bermakna dengan intensitas eritrosituria (rs=0,412; p=0,003), yang mencerminkan kerusakan membrana basalis glomerulus dan tubulus akibat hiperglikemia kronik. Peningkatan sel epitel lebih menonjol pada hiperglikemia sedang, kemungkinan karena sel masih mampu menjalani deskuamasi aktif sebelum mencapai fase nekrotik. Kedua parameter tersebut dapat berfungsi sebagai penanda kerusakan structural saluran kemih non-infeksi pada penderita diabetes mellitus, yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan sedimen urine.
Perbedaan Kadar Kolesterol Total Segera Diperiksa Dan Disimpan 7 Hari Suhu 2-8 C Serum Pasien Sindrom Koroner Akut Adinda Melliza; Subrata Tri Widada; Dhika Juliana Sukmana; Rita Rena Pudyastuti; Sujono Sujono
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.959

Abstract

Measurement of cholesterol levels is a vital component of lipid profile testing in clinical laboratories. Ideally, cholesterol measurements should be conducted immediately after serum collection to ensure accurate results. Serum can be stored for up to 7 days at 2-8°C to accommodate additional requests or delays, however storage may influence cholesterol test outcomes. The aim of this study was to identify the differences in cholesterol levels between immediately tested serum and serum stored for 7 days at 2-8°C in acute coronary syndrome patients. This research employed a Pre-Experimental Design (non-design). A total of 45 samples were analyzed through two measurements. The first group was tested immediately after serum collection, and the second group was analyzed after storing the serum for 7 days at 2-8°C. Total cholesterol levels were determined using the CHOD-PAP method and data analysis was performed to identify changes in cholesterol levels. The average cholesterol level of immediately tested samples was 137.6, while for samples stored for 7 days, it was 154.9. Results showed a significant difference in cholesterol levels based on storage duration (p=0.010). There is a measurable difference in cholesterol levels between serum tested immediately and serum stored for 7 days at 2-8°C in patients with acute coronary syndrome.