cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 7 (2023)" : 5 Documents clear
Faktor Risiko Terjadinya Perilaku Bunuh Diri pada Remaja: Sebuah Kajian Literatur Hardinata, Jesicha Ramadhani Puteri; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p286-292

Abstract

Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. One aspect of development in adolescents is socio-emotional. If teenagers do not adapt to the changes that occur, they will have difficulty making choices, so when faced with problems, teenagers are unable to solve them. This article uses a research design that uses a literature review method from journal articles. The object of this research is the risk factors for suicidal behavior experienced by adolescents. The literature review was carried out from national journal articles. Searching for journal articles published in the 2018-2023 period using Google Scholar with several keywords, filtering was carried out using several criteria, namely articles showing a match with teenage suicidal behavior, the presence of suicidal behavior described in the article, and showing the underlying factors. Adolescents have suicidal behavior. Based on the results of literature studies, it is known that the risk factors for suicidal behavior in adolescents consist of three main factors: family, peers, and psychology. Low parental attention contributes to the risk of suicidal behavior in adolescents. Peer relationships and psychological factors such as mental disorders also play an important role. AbstrakRemaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju dewasa. Salah satu aspek perkembangan pada remaja, yaitu sosio-emosional. Jika remaja tidak berhasil beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, remaja akan mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan sehingga ketika menghadapi permasalahan remaja tidak mampu untuk menyelesaikannya. Artikel ini menggunakan desain penelitian yang digunakan adalah metode kajian literatur (literature review) dari artikel jurnal. Objek penelitian ini adalah faktor-faktor risiko perilaku bunuh diri yang dialami oleh remaja. Literature review dilakukan berasal dari artikel jurnal nasional. Pencarian artikel jurnal yang digunakan terbit pada rentan tahun 2018-2023 menggunakan Google Scholar dengan beberapa kata kunci, dilakukan penyaringan dengan beberapa kriteria, yakni artikel menunjukkan kecocokan dengan perilaku bunuh diri remaja, adanya perilaku bunuh diri yang dijelaskan pada artikel, dan menunjukkan faktor yang mendasari remaja memiliki perilaku bunuh diri. Berdasarkan hasil studi literatur, diketahui bahwa faktor risiko terjadinya perilaku bunuh diri pada remaja terdiri dari tiga faktor utama, yaitu keluarga, teman sebaya, dan psikologis. Perhatian orang tua yang rendah, berkontribusi terhadap risiko perilaku bunuh diri pada remaja. Hubungan teman sebaya dan faktor psikologis seperti gangguan mental juga memainkan peran penting.
Analisis Remaja yang Memiliki Perilaku Narsistik Retno Palupi, Anugrah Galuh; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p293-303

Abstract

Adolescence is a time when individuals seek their identity and tend to want to show their identity to those around them. However, if an individual is excessive in showing his identity, then it is known as narcissism. This article aims to analyze the characteristics and factors of adolescents who have narcissistic behavior using a descriptive qualitative approach and a type of literature review. The samples obtained were 5 journal articles that were relevant to the topic of discussion. From these articles, it was found that the characteristics of adolescents who have narcissistic behavior are feeling unique, having fantasies about an ideal life, having difficulty empathizing with others, being arrogant, and feeling the most special self. In addition, the main factors for the emergence of narcissistic behaviour in adolescents are difficulties in socializing with others, resulting in feelings of loneliness, improper upbringing in childhood, and low self-esteem, causing adolescents to expect validation and praise from others. AbstrakMasa remaja adalah masa dimana seorang individu mengalami proses pencarian jati dirinya dan cenderung berkeinginan untuk menunjukkan identitasnya dirinya pada sekitarnya. Namun, jika seorang individu berlebihan dalam menunjukkan identitas dirinya maka hal tersebut dikenal sebagai narsis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ciri-ciri dan faktor-faktor dari remaja yang memiliki perilaku narsistik dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan memiliki jenis kajian literatur. Sampel yang didapatkan sebanyak 5 artikel jurnal yang relevan dengan topik pembahasan. Dari artikel-artikel tersebut didapatkan hasil bahwa ciri-ciri remaja yang memiliki perilaku narsisme adalah merasa memiliki keunikan, memiliki fantasi akan kehidupan yang ideal, sulit berempati terhadap orang lain, angkuh, merasa diri paling istimewa. Selain itu, yang menjadi factor utama timbulnya perilaku narsisme pada remaja adalah karena kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain sehingga menimbulkan perasaan kesepian, pola didikan yang kurang tepat pada masa kecil, dan self-esteem (harga diri) yang rendah sehingga menyebabkan remaja cenderung mengharapkan validasi dan pujian dari orang lain.
Dampak Adiksi Pornografi pada Remaja Faida, Siti Ahmada; Rakhmaditya Dewi Noorrizki
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p278-285

Abstract

Pornography can be defined as writing or images of the human body that are sexual or open with the aim of fulfilling sexual desires. The impact of pornography itself can damage the PFC (Pre Frontal Cortex) in teenagers who are experiencing a period of growth where the brain is still developing or processing to regulate emotions and cognition. Teenagers who continuously view pornographic content will experience addiction. Addiction is a condition where individuals are dependent both physically and mentally. The purpose of writing this article is to explain the impact of pornography addiction on teenagers who are still growing. The method used in this research is a descriptive qualitative approach by collecting data through search engines in the form of Google Scholar and Academia.edu. The relevant articles produced were six journal articles related to the impact of pornography addiction on teenagers psychologically, mentally, and medically. It can be concluded that there are three impacts, namely psychological, social, and medical impacts. Among the psychological impacts are changing a person to be more aggressive, impulsive, and always thinking dirty thoughts. AbstrakPornografi dapat diartikan sebagai tulisan atau gambar tubuh manusia yang secara seksual atau terbuka dengan tujuan memenuhi hasrat seksual. Dampak dari pornografi sendiri dapat merusak PFC (Pre Frontal Cortex) pada remaja yang mengalami masa pertumbuhan dimana otak masih berkembang atau berproses untuk mengatur emosi dan kognitif. Remaja yang secara terus menerus melihat konten pornografi akan mengalami adiksi. Adiksi merupakan suatu kondisi dimana individu memiliki ketergantungan baik secara fisik maupun mental. Tujuan penulisan artikel ini untuk menjelaskan dampak adiksi pornografi pada remaja yang masih mengalami masa pertumbuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualtatif deskriptif dengan mengumpulkan data melalui search engine berupa google schoolar dan academia.edu. Artikel relevan yang dihasilkan terdapat enam artikel jurnal terkait dengan dampak adiksi pornografi pada remaja baik secara psikologis, mental, dan medis. Dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga dampak yaitu dampak psikis, sosial, dan dampak medis, diantara dampak psikis yaitu mengubah seseorang menjadi lebih agresif, implusif, dan selalu berpikir kotor.
Fenomena Fear of Missing Out dalam Partisipasi Konser Musik di Kalangan Masyarakat Indonesia Mukhtar, Amelia Dwi Rahmah; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p261-268

Abstract

FoMO (Fear of Missing Out) is a psychological phenomenon that arises from curiosity and the urge to keep up with developments in the environment around us. Technology and social media platforms provide opportunities for access to ongoing trend information becoming easier. So it has an impact on the increasing number of individuals suffering from FoMO. This article aims to analyze the phenomenon of FoMO in the participation of music concerts that occurred in Indonesian society. The research method used is the study of literature by examining 1 journal article and 4 news articles that are relevant to the author's research. The data used in this research is secondary data, which is a type of data obtained indirectly. The reference sources used came from search results through the Google and Google Scholar search platforms, which are search systems dedicated to academic research and scientific publications. The data obtained was analyzed thematically to describe findings in the literature and to identify key themes as well as the interrelationship of information. This study revealed that the phenomenon of FoMO in the participation of music concerts in Indonesian society encourages individuals to follow the trend in order to avoid anxiety. AbstrakFoMO (Fear of Missing Out) merupakan fenomena psikologis yang timbul dari keingintahuan dan dorongan untuk terus mengikuti perkembangan yang sedang berlangsung di lingkungan sekitar kita. Teknologi dan platform media sosial memberikan peluang akses terhadap informasi trend yang sedang berlangsung menjadi lebih mudah. Sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah individu yang mengalami FoMO. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena FoMO dalam partisipasi konser musik yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Metode penelitian yang digunakan berupa studi literatur menelaah 1 artikel jurnal dan 4 artikel berita yang relevan dengan penelitian penulis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, merupakan jenis data yang diperoleh secara tidak langsung. Sumber referensi yang digunakan berasal dari hasil penelusuran melalui platform pencarian Google dan Google Scholar, yang merupakan sistem pencarian khusus untuk kajian akademik dan publikasi ilmiah. Data yang diperoleh dianalisis secara tematik untuk menggambarkan temuan dalam literatur dan mengidentifikasi tema-tema utama serta hubungan antar informasi. Penelitian ini mengungkap bahwa fenomena FoMO dalam partisipasi konser musik di kalangan masyarakat Indonesia mendorong individu untuk ikut trend demi menghindari kekhawatiran tertinggal.
Kesepian di Masa Pandemi Covid-19: Peran Welas Diri sebagai Prediktor Wahyu Eka Febriliyani; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p267-277

Abstract

AbstractThis study aims to determine whether self-compassion is a predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic. This research is a correlational-quantitative research. The population in this study were students, with a convenience sampling technique of sampling. The research subjects in this study amounted to 67 students in the city of Malang. The data collection method used 2 questionnaires, namely the R-UCLA Loneliness Scale Version 3 to measure loneliness and the Self-Compassion Scale (SWD) to measure self-compassion. This study uses simple linear regression data analysis. The results of this study indicate that self-compassion is a significant predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic (p=0,000 < 0,05) and contribute 16% to the loneliness (R2=0,16). Thus, it can be concluded that the higher the level of self-compassion an individual has, the lower the level of loneliness he feels. This research recommends the importance of developing self-compassion in individuals to reduce feelings of loneliness due to the COVID-19 pandemic situation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah welas diri merupakan prediktor dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa, dengan teknik sampling convenience sampling. Subjek penelitian pada penelitian ini berjumlah 67 mahasiswa di Kota Malang. Metode pengambilan data menggunakan 2 kuesioner yaitu R-UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur kesepian dan Skala Welas Diri (SWD) untuk mengukur welas diri. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa welas diri merupakan prediktor yang signifikan dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19 (p=0,000 < 0,05) dan berkontribusi sebesar 16% (R2=0,16). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat welas diri yang dimiliki individu, maka tingkat kesepian yang ia rasakan akan semakin rendah. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya mengembangkan welas diri pada diri individu untuk mengurangi rasa kesepian akibat situasi pandemi COVID-19.

Page 1 of 1 | Total Record : 5