cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020" : 8 Documents clear
Eksplorasi Bakteri Selulolitik pada Ekosistem Mangrove Djanang Sukoco; Fikrinda Fikrinda; Hifnalisa Hifnalisa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.027 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15383

Abstract

Abstrak. Bakteri selulolitik dapat dijumpai pada lingkungan seperti ekosistem hutan mangrove. Keberadaannya pada ekosistem mangrove sangat penting untuk dekomposisi serasah  magrove tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri selulolitik pada ekosistem hutan mangrove dan potensinya dalam mendegradasi selulosa secara semi kuantitatif. Metode penelitian ini meliputi pengambilan sampel tanah, isolasi bakteri selulolitik dan uji kemampuan mendegradasi selulosa. Isolasi bakteri dilakukan dengan metode cawan tuang dan pada medium Carboxy Methyl Celullose (CMC). Uji kemampuan degradasi oleh bakteri selulolitik dilakukan pada medium dengan sumber karbon CMC dan daun mangrove. Parameter pengamatannya mengukur aktivitas selulolitik secara semi kuantitatif dan karakterisasi bakteri selulolitik. Hasil penelitian ini menunjukkan bakteri selulolitik yang terdapat di ekosistem mangrove berkisar antara 1,1x104 SPK g-1 tanah  sampai 40,9x104 SPK g-1 tanah. Populasi bakteri selulolitik rata-rata asal tanah mangrove bakau kurap18,16x104 SPK g-1, api-api 12,98x104 SPK g-1dan bakau minyak 4,94x104 SPK g-1. Bakteri selulolitik yang memiliki aktivitas selulolitik tertinggi pada medium dengan sumber karbon CMC adalah isolat RM2.1;RA5.4;AA4.4 dengan rasio zona bening berturut-turut 5,2;4,4;2,5 dan pada medium dengan sumber karbon daun mangrove adalah isolat RA4.8;AA2.1;RM1.1 dengan rasio zona bening berturut-turut 2,3;1,2; 1,2.Exploration of Cellulolytic Bacteria in the  Mangrove EcosystemAbstract. Cellulolytic bacteria can be found in environments such as mangrove forest ecosystems. Its presence in the mangrove ecosystem is very important for the decomposition of the magrove litter. This study aims to determine the presence of cellulolytic bacteria in mangrove forest ecosystems and their potential in semi-quantitative cellulose degradation. This research method includes soil sampling, isolation of cellulolytic bacteria and testing the ability to degrade cellulose. Bacterial isolation was carried out by the pour cup method and on Carboxy Methyl Celullose (CMC) medium. The degradation ability test by cellulolytic bacteria was carried out on a medium with CMC carbon source and mangrove leaves. The observational parameters measure semi-quantitative cellulolytic activity and characterization of cellulolytic bacteria. The results of this study showed that cellulolytic bacteria in the mangrove ecosystem ranged from 1,1x104 SPK g-1 soil to 40,9x104 SPK g-1 soil. The average population of cellulolytic bacteria from mangrove mangrove soil was ringworm 18,16x104 SPK g-1, fires 12,98x104 SPK g-1 and mangrove oil 4,94x104 SPK g-1. Cellulolytic bacteria that have the highest cellulolytic activity on medium with CMC carbon sources are isolates RM2.1;RA5.4;AA4.4 with clear zone ratios of 5,2;4,4; 2,5 and on medium with carbon sources mangrove leaves were RM1.1;AA2.1;RA4.8 isolates with a clear zone ratio of 2,3;1,2; 1,2, respectively.
Kemasaman Tanah dan Sifat-sifat Pertukaran Kation pada Mollisols dan Ultisols di Lahan Kering Kabupaten Aceh Besar Sahbudin Sahbudin; Khairullah Khairullah; Sufardi Sufardi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.357 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15407

Abstract

Abstrak. Kemasaman tanah dan pertukaran kation merupakan indikator penting terhadap kesuburan tanah terutama pada lahan kering suboptimal. Kemasaman tanah dan pertukaran kation erat kaitannya dengan bahan induk tanahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kemasaman tanah dan pertukaran kation pada dua ordo tanah di lahan kering Kabupaten Aceh Besar yaitu pada Mollisols Krueng Raya dan Ultisols Jantho. Kedua ordo tanah tersebut terbentuk dari bahan induk yang berbeda. Mollisols Krueng Raya terbentuk dari bahan induk batuan sedimen gampingan, sedangkan Ultisols Jantho dari bahan induk batuan sedimen liat tua. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai deskriptif yaitu melalui pengamatan di lapangan dan analisis di laboratorium. Identifkasi profil dan ordo tanah dilakukan dengan menggunakan sistem klasifikasi tanah USDA (Soil Survey Staff, 2014). Pengambilan sampel tanah dilakukan pada setiap lapisan horizon dari setiap profil pewakil ordo tanah yang diamati di lapangan. Sampel-sampel tanah tersebut selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dianalisis pH (H2O), kapasitas tukar kation (KTK) dan kation dapat ditukar (Ca, Mg, K, dan Na) ditetapkan dengan metode 1N NH4COOCH3 pH7, sedangkan Al- dan H-dapat ditukar diekstrak dengan 1M KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ordo tanah yang diteliti memiliki tingkat kemasaman dan pertukaran kation yang berbeda. Mollisols Krueng Raya mempunyai pH agak masam hingga agak alkalis (6,48-8,2) dan KTK tinggi, sedangkan Ultisols Jantho bereaksi masam (pH 6,50) dan mempunyai KTK dan kejenuhan basa yang rendah.Soil Acidity and Cation Exchange Properties in Mollisols and Ultisols in Dryland of Aceh Besar DistrictAbstract. Soil acidity and cation exchange is an important indicator of soil fertility especially on suboptimal drylands. Soil acidity and cation exchange closely related to the parent materials of soil. This study aims to assess soil acidity level and cation exchange in two soil orders of dryland in Aceh Besar District namely Mollisols Krueng Raya and Ultisols Jantho. The two soil orders are formed from different parent materials. The Mollisols of Krueng Raya are formed from limestone sedimentary rock, while Ultisols Jantho are formed from the parent material of the old clay sedimentary rock. The research is conducted using a descriptive survey method that is through field observations and analysis in the laboratory. Identification of soil profile and soil orders were conducted using USDA's soil classification system (Soil Survey Staff, 2014). Soil sampling is taken from each layer of the horizon of the soil orders that are observed in the field. These soil samples were subsequently brought to the laboratory for analysis of pH (H2O), cation exchange capacity (CEC) and exchangeable cations (Ca, Mg, K, and Na) are extracted by 1N NH4COOCH3 pH7, while exchangeable Al and H were extracted with 1M KCl. The results of analysis showed that both the soils orders being researched had a different level of acidity and exchange of cations. Mollisols of Krueng Raya has a moderately alkaline pH that is slighty alkalis (6.48-8.2) and high CEC, while the Ultisols Jantho has an acid pH (pH 6.50) and has low CEC and low base saturation.
Pengaruh Jenis Mikroorganisme Yang Diisolasi Dari Hutan Bakau Kota Banda Aceh Terhadap Perolehan Biomassa Dan Minyak Erika Rozana; Muhammad Ikhsan Sulaiman; Sri Haryani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.347 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15388

Abstract

Produktivitas biomassa dan minyak yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti teknik pertumbuhan, teknik pemanenan biomassa dan juga metode ekstraksi yang digunakan. Perbedaan hasil produktivitas minyak juga dapat terjadi akibat adanya perbedaan spesies mikroorganisme yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mikroorganisme yang ditumbuhkan pada media cair dengan kondisi pertumbuhan yang sama terhadap perolehan jumlah biomassa dan yield minyak yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan pada penelitian ini adalah mikroalga dan yeast yang telah diisolasi dari perairan hutan bakau kota Banda Aceh yang telah teridentifikasi secara genetik sebagai T multirudimentale (mikrooalga) dan Rhodotorula mucilaginosa (yeast). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroalga dapat memproduksi biomassa lebih tinggi (8,90 g/L) daripada yeast (4,20 g/L). Mikroalga memiliki densitas optis kultur lebih tinggi dibandingkan yeast. Perolehan tertinggi yield minyak dihasilkan oleh yeast yaitu sebesar 1,70 % sedangkan pada mikroalga 0,45%. Jenis mikroorganisme berpengaruh sangat nyata (≤0,01) pada yield minyak mikroorganisme yang dihasilkan.The Effect Of Isolated Types Microorganism From Mangrove Area In Banda Aceh Toward Biomass And Lipid ProductionAbstract. The purpose of this study was to determine the effect of the head pressure levels in Kirico hose towards the uniformity of water distribution as well as the growth and yield of mustard greens (Brassica Chinensis). The research method used was an experimental method in the form of Randomized Block Design (RBD) with a non-factorial pattern. The experiment was conducted at 3 head pressures i.e. 6 psi (T1), 9 psi (T2) and 12 psi (T3). The area of observation was 8 x 1 m2. The parameters observed were coefficient uniformity (CU), distribution uniformity (DU), plant height, number of leaves, root length, wet and dry weights. The data were analyzed by using  ANOVA at alpha 5%. Results showed that the optimal head pressure for the Kirico hose was 9 psi (T2). The averages of coefficient uniformity (CU) for each treatment were: 85.62% (T1), 89.61% (T2), and 85.73% (T3), respectively. Meanwhile, the averages of distribution uniformity (DU) for each treatment were: 77.14% (T1), 83.49% (T2), and 77.32% (T3), respectively. The optimal growth and yield of mustard green were also identified at 9psi. The averages of plant height for each treatment were: 30.85 cm (T1), 32.15 cm (T2), and 30.30 cm (T3), respectively. The number of leaves averages were: 21 (T1), 21 (T2) and 20 (T3), respectively. The root length averages were: 8.03 cm (T1), 8.06 cm (T2), and 7.93 cm (T3). The wet/dry weights were: 305.25/181,58 grams (T1), 323.75/206,15 grams (T2), and 299/186.88 grams (T3), respectively.
Pengimplementasian SMART Patrol Terhadap Aktivitas Illegal (Pembalakan dan Perambahan) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil Radiana Sofyan; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.39 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.14843

Abstract

Abstrak. Suaka Margasatwa Rawa Singkil adalah kawasan Konservasi yang ada di Pulau Sumatera Provinsi Aceh dan merupakan habitat bagi orangutan sumatera . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengimplementasian SMART Patrol oleh resor Rundeng terhadap beberapa aktivitas illegal. Parameter pada penelitian ini adalah pembalakan liar dan perambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan  teknik survei, pengambilan data dilakukan dengan mengambil data langsung di lapangan pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2019 dan menggunakan data SMART Patrol dari tahun 2016, menggunakan jurnal dan sumber informasi lain yang mendukung penelitian serta menganalisis semua data secara deskriptif.Hasil yang diperoleh dari penelitin ini adalah kegiatan SMART Patrol dapat mendata  aktifitas illegal  di lapangan. SMART menyimpan dan menyajikan data kawasan SM. Rawa Singki. Kedua data yang diamati pada penelitian ini menunjukkan penurunan dari tahun 2016 hingga 2019. Data SMART Patrol digunakan sebagai data base untuk pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil.Pengimplementasian SMART Patrol yang dilakukan di lapangan digunakan untuk pengamanan dan pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil beserta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. SMART Patrol juga didukung dengan berbagai upaya dan kegiatan lain yaitu dengan sosialisasi dan penyuluhan serta melakukan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan menerapkan hukum dan sanksi.Implementation of SMART Patrol on Illegal Logging and Acroachment in the Conservation Area of Singkil Swamp Wildlife ReserveAbstract. Singkil Swamp Wildlife Reserve is a conservation area on the island of Sumatera in Aceh Province an is a habitat for sumatran orangutan. The purpose of the study was to determine the area’s security activities by the Rundeng resort bases SMART Patrol. The parameters in this study are illegal logging and accroachment. Data collection is done by survey technique, data analysis was performed by taking data directly in the field on Mei, Juni and Juli 2019 and using data from 2016, using journal and other source of information that support and analyze all data descriptively.The result obtained from this study are SMART Patrol activities that can record illegal activities in the field. SMART stores and presents data on the Singkil Swamp Wildlife Reserve area. Both data observed in this study show a decrease from 2016 to 2019. SMART Patrol data can be used as a data base for the management of the Singkil Swamp Wildlife Reserve.Implementation of SMART Patrol conducted in the field for the security and management of the Rawa Singkil Swamp Wildlife Reserve area along with bodiversity in it is supported by various efforts and ather unitiatives outside the area, namely through sosialization and counseling and collaborating with various parties including by implementation laws and sanctions.
Keanekaragaman Tumbuhan Pakan dan Tumbuhan Berpotensi Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) Berdasarkan Strata Pertumbuhan Tegakan di Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser Intan Regina; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.989 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15046

Abstract

Abstrak. Soraya adalah salah satu stasiun penelitian yang dikelola oleh Forum Konservasi Leuser (FKL) yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan dan  Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu garis berpetak dibuat memanjang mengikuti jalur yang sudah ada dengan panjang 1000 meter  dengan jarak antar petak contoh 50 m. Petak contoh dibuat sesuai strata pertumbuhan tegakan 2 m x2 m untuk semai, 5 m x 5 m untuk pancang, 10 m x10 m untuk tiang dan 20 m x 20 m untuk pohon dengan jumlah total masing-masing sebanyak 14 petak contoh.  Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata semai yaitu Artocarpus integer (47,7 %), strata pancang yaitu Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5 %) dan strata pohon yaitu Dipterocarpus grandiflorus (57,7 %). Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera pada strata semai 1,86 (sedang), strata pancang 2,38 (sedang), strata tiang 3,35 (tinggi), strata pohon 2,62 (sedang)Diversity of Sumatran Orangutan Feed Plants (Pongo abelii Lesson 1827) Based on Standing Growth Strata at the Soraya Research Station in the Leuser EcosystemAbstract. Soraya is one of the research stations managed by the Leuser Conservation Forum (FKL) in the Leuser Ecosystem Area (KEL). This study aims to determine the Important Value Index (IVI) of forage plants to feed Sumatran orangutan based on growth strata of forest stands and the diversity index of plant growth of Sumatran orangutan for feed based on strata growth of forest stands. The method used in this study is that the plotted line is made to follow the existing path with a length of 1000 meters with a spacing between 50 m samples according to the growth stratum 2m x2 m for seedlings, 5 m x5 m for saplings, 10 mx10 m for poles and 20 m x 20 m for tree of 14 sample plots. The highest Importance Value Index (IVI) of Sumatran orangutan forage plants is based on the seedling strata, namely Artocarpus integer (47,7%), sapling strata, Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5%) and tree strata namely Dipterocarpus grandiflorus (57,7%). Sumatran orangutan food plant diversity index at 1,86 (medium) seedling strata, 2,38 (medium) saplings, 3,35 pole pole strata (high), 2,62 tree strata (medium)
Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) di Stasiun Penelitian Soraya, Kawasan Ekosistem Leuser Mardiana Mardiana; Erdiansyah Rahmi; Rita Andini
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.548 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.14857

Abstract

 Abstrak. Orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan spesies langka yang dilindungi dan telah dimasukkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) ke dalam kategori satwa yang berstatus krisis atau “critically endangered”. Berbagai kegiatan manusia yang menyebabkan luasan habitat orangutan terus berkurang, seperti pembalakan liar dan perambahan hutan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup orangutan sumatera (Pongo abelii) khususnya di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) melalui penyediaan informasi mengenai karakteristik sarang orangutan sebagai acuan dalam rangka konservasi orangutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik pohon sarang orangutan sumatera (Pongo abelii) di Stasiun Penelitian Soraya. Penelitian menggunakan metode transek pada tiga transek dengan panjang 1 km dan lebar (50 m ke kanan dan 50 m ke kiri). Jumlah sarang yang ditemukan adalah sebanyak 27 sarang dengan jenis pohon yang mendominasi sebagai sarang orangutan adalah pohon Streblus elongatus dan Syzigium spp. dengan jumlah masing-masing 4 pohon (15%). Rata-rata tinggi pohon sarang dari permukaan tanah adalah 17,47 m, dan tinggi sarang antara 15,25 m, tinggi pohon sarang dengan tinggi sarang memiliki hubungan yang kuat. Rata-rata diameter pohon sarang yaitu 13,37 - 35,17 cm. Semakin besar berat badan orangutan tersebut maka semakin besar pula diameter yang dipilih orangutan sebagai pohon sarang. Karakteristik sarang berdasarkan kelas sarang yang paling banyak ditemukan adalah pada kelas C (sarang sudah lama dan sebagian daun sudah layu dan hilang serta terlihat lubang-lubang kecil) yaitu sebanyak 18 sarang, sedangkan posisi yang paling banyak ditemukan adalah posisi 3 (sarang berada pada ujung atau pucuk pohon utama) dengan jumlah sebanyak 13 sarang.Characteristics of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) Nest at the Soraya Research Station, Leuser EcosystemAbstract. Sumatran orangutan (Pongo abelii) is a rare species that is protected and has been included by the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) in the category of critically endangered animals. Various human activities that cause the orangutan habitat area continues to decrease, such as illegal logging and forest encroachment. Therefore it is necessary to make efforts to maintain the survival of sumatran orangutans (Pongo abelii) especially in the Leuser Ecosystem (KEL) by providing information on the characteristics of orangutan nests as a reference in the conservation of orangutans. This study aims to identify and analyze the characteristics of the Sumatran orangutan nest tree (Pongo abelii) at the Soraya Research Station. The study used a transect method on three transects with a length of 1 km and width (50 m to the right and 50 m to the left). The number of nests found was as many as 27 nests with tree species that dominated as orangutan nests were Streblus elongatus and Syzigium spp. with a total of 4 trees (15%) each. The average height of the nest tree from the ground surface is 17,47 m, and the nest height is 15,25 m, the height of the nest tree with the height of the nest has a strong relationship. The average diameter of the nest tree is 13,37-35,17 cm. The greater the weight of the orangutan, the greater the diameter the orangutan chooses as a nest tree. The characteristics of nests based on the nest class most commonly found are in class C (nests are old and some leaves have withered and disappeared and there are small holes visible) as many as 18 nests, while the position most commonly found is position 3 (nest is at the end or the main tree shoots) with a total of 13 nests.
Pendapatan Petani Agroforestri d Kecamatan Pantan Cuaca Kabupaten Gayo Lues Reni Rafika Yani; Ryan Moulana; Ashabul Anhar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.988 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.14859

Abstract

Abstrak. Kecamatan Pantan Cuaca merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Gayo Lues. Tata guna lahan di Kecamatan Pantan Cuaca umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tanaman perkebunan (kopi), tanaman semusim, maupun perpaduan antara keduanya. Pola pertanian yang dikelola masyarakat memiliki beberapa tipe antara lain agroforestri kopi, agroforestri pinus dengan sereh wangi dan tanaman semusim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola agroforestri yang mempengaruhi pendapatan masyarakat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif, data diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan melalui wawancara dan kuisioner kemudian dianalisis secara kuantitatif yaitu untuk mengetahui dan menganalisis data yang terkumpul dari hasil kuisioner, wawancara, observasi dan studi pustaka.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah nilai produk agroforestri yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan masyarakat adalah dari tanaman kopi dengan nilai ekonomi sebesar Rp. 69.525.176/tahun pendapatan responden dari pemanfaatan agroforestri sereh wangi mencapai Rp. 17.905.669/tahun, sementara pendapatan responden dari hasil pemanfaatan tanaman lainnya hanya sebesar Rp. 3730750/tahun. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pendapatan dari kegiatan pemanfaatan agroforestri memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dari pemanfaatan tanaman lainnya di luar produk agroforestri.Agroforestry Farmer income  in Gayo Lues District’s Pantan CuacaAbstact. Pantan Cuaca sub district is one of the sub-districts in Gayo Lues Regency. Land use in Pantan Cuaca District is generally used by the community for plantation crops (coffee), annual crops, or a combination of the two. The pattern of agriculture managed by the community has several types including coffee agroforestry, pine agroforestry with fragrant lemongrass and annual crops. The purpose of this study was to determine agroforestry patterns that affect community income. Data analysis in this study uses descriptive analysis techniques, data obtained from observations in the field through interviews and questionnaires and then analyzed quantitatively, that is to find out and analyze the data collected from the results of questionnaires, interviews, observations and literature studies.The results obtained from this study are the value of agroforestry products  that provide the largest contribution to community income is from coffee plants with an economic value of Rp 69.252.176/year income of respondents from the use of fragrant cereals reached Rp 17.905.669/year, while respondents’ income from the use of other plants is only Rp 3.730.750/year. From these data it can be seen that the income from the use of agroforestry activities gives greater result compared to income from other uses outside of agroforestry product.
Pengaruh Tinggi Tekanan pada Selang Kirico terhadap Keseragaman Penyebaran Air, Pertumbuhan dan Hasil Sawi Hijau (Brassica chinensis) Hasmalinar Hasmalinar; Ichwana Ichwana; Susi Chairani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.401 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15226

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan tinggi tekanan pada selang Kirico terhadap keseragaman penyebaran air (CU dan DU) serta pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau (Brassica chinensis). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dalam bentuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola non faktorial. Tinggi tekanan yang digunakan terdiri dari tiga perlakuan, yaitu: tinggi tekanan 6 psi (T1), tinggi tekanan 9 psi (T2) dan tinggi tekanan 12 psi (T3). Variabel respon yang diamati di lapangan terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot berangkasan basah dan bobot berangkasan kering. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam ANOVA pada parameter koefisien keseragaman (CU) dan keseragaman distribusi (DU) yang diuji diperoleh F hitung F tabel dan signifikansinya 0,025 0,05. Tinggi tekanan pada selang Kirico yang optimal terhadap keseragaman penyebaran air dengan luas bedeng (8 x 1) m2 adalah pada perlakuan T2 yakni dengan menggunakan tinggi tekanan 9 psi. Hasil rata-rata pengujian koefisien keseragaman (CU) tiap perlakuan adalah T1 85,62%, T2 89,61% dan T3 85,73%. Hasil rata-rata pengujian keseragaman distribusi (DU) tiap perlakuan adalah T1 77,14%, T2 83,49% dan T3 77,32%. Tinggi tekanan yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terdapat pada perlakuan T2 yakni dengan menggunakan tinggi tekanan 9 psi dimana rata-rata tinggi tanaman T1 30,85 cm, T2 32,15 cm dan T3 30,30 cm. Rata-rata jumlah daun T1 21 helai, T2 21 helai dan T3 20 helai. Rata-rata panjang akar T1 8,03 cm, T2 8,06 cm dan T3 7,93 cm. Bobot berangkasan basah T1 305,25 gram, T2 323,75 gram dan T3 299 gram. Bobot berangkasan kering T1 181,58 gram, T2 206,15 gram dan T3 186,88 gram.Effect of Head Pressures of Kirico Hose on Water Distribution Uniformity, Growth and Yield of Green Mustard (Brassica chinensis) Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of the head pressure differences in Kirico hose in the uniformity of water distribution (CU and DU) as well as the growth and yield of mustard greens (Brassica chinensis). The research method used was an experimental method in the form of Randomized Group Design (RBD) with a non factorial pattern. The head pressures used were 6 psi (T1), 9 psi (T2) and 12 psi (T3), respectively. Response variables observed in the field were plant height, number of leaves, root length, wet and dry weights. Based on ANOVA analysis on parameters of coefficient uniformity (CU) and distribution uniformity (DU), F count F table with significancy of 0.025 0.05. The optimal head pressure for Kirico hose to irrigate the area of 8 x 1 m2 was 9 psi (T2). The results showed that the averages of coefficient uniformity (CU) for each treatment were: 85.62% (T1), 89.61% (T2) and 85.73% (T3), respectively. Mean while, the averages of distribution uniformity (DU) for each treatment were: 77.14% (T1), 83.49% (T2) and 77.32% (T3), respectively. The averages of plant height for each treatment were: 30.85 cm (T1), 32.15 cm (T2) and 30.30 cm (T3), respectively. The number of leaves averages were: 21 (T1), 21 (T2) and 20 (T3), respectively. The root length averages were: 8.03 cm (T1), 8.06 cm (T2) and 7.93 cm (T3). The wet/dry weights were: 305.25/181,58 grams (T1), 323.75/206,15 grams (T2), and 299/186.88 grams (T3), respectively.

Page 1 of 1 | Total Record : 8