cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM Jln Diponegoro No.71, Jakarta. 10430
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : https://doi.org/10.7454/
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia contains the publication of scientific papers that can fulfill the purpose of publishing this journal, which is to disseminate original articles, case reports, evidence-based case reports, and literature reviews in the field of internal medicine for internal medicine and general practitioners throughout Indonesia. Articles should provide new information, attract interest and be able to broaden practitioners insights in the field of internal medicine, as well as provide alternative solutions to problems, diagnosis, therapy, and prevention.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 2, No. 4" : 9 Documents clear
Faktor-Faktor yang Berperan terhadap Terjadinya Lipodistrofi pada Pasien HIV yang Mendapatkan Terapi Antiretroviral Lini Pertama Kusumayanti, Ratu Ratih; Yunihastuti, Evy; Purnamasari, Dyah; Witjaksono, F; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Seiring dengan perkembangan antiretroviral, harapan hidup pasien HIV terus meningkat namun menjadi rentan terhadap efek samping pengobatan. Salah satu efek samping pengobatan adalah sindrom lipodistrofi, meliputi lipoatrofi, lipohipertrofi, atau gabungan keduanya. Faktor risiko yang dikaitkan dengan lipodistrofi pada HIV adalah usia, jenis kelamin, lama terapi antiretroviral, CD4 awal, Stadium HIV, dan pemakaian Stavudin. Belum ada publikasi di Indonesia yang meneliti kejadian lipodistrofi pada populasi pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dalam terapi ARV lini pertama berbasis Stavudin dan Zidovudin minimal 6 bulan serta faktor-faktor yang memengaruhinya yang berobat di Pokdisus RSCM. Metode. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dan kasus kontrol untuk mengetahui prevalensi lipodistrofi pada pasien HIV dengan ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Analisis statistik menggunakan uji chi square atau uji Kolmogrof Smirnoff untuk mendapatkan hubungan antara masing-masing faktor risiko dengan terjadinya lipodistrofi. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik. Hasil. Sebanyak 346 pasien terlibat dalam penelitian ini. Didapatkan prevalensi lipodistrofi sebesar 27,5%, dengan rincian 70,5% lipoatrofi, 8,4% lipohipertrofi, dan 21,1% gabungan keduanya. Lokasi lipoatrofi terbanyak di daerah wajah. Prevalensi lipodistrofi pada subjek yang menggunakan Stavudin sebesar 43.3%, dan Zidovudin sebesar 10,7%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian lipodistrofi adalah penggunaan Stavudin [p= Simpulan. Didapatkan prevalensi Lipodistrofi pada pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV lini pertama adalah 27.5%, dan didapatkan hubungan antara kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dengan penggunaan Stavudin.
Pengaruh Pemberian N-Acetylcysteine Oral terhadap High Sensitivity C Reactive Protein (Hs-CRP) pada Pasien Hemodialisis Kronis Dewi, Ratih Tri Kusuma; Siregar, Parlindungan; Alwi, Idrus; Rumende, Cleopas Martin
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Inflamasi dan stres oksidatif merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Pasien hemodialisis kronis akan mengalami peningkatan kadar Hs-CRP. Hs-CRP merupakan marker inflamasi yang telah terbukti pada beberapa penelitian bermanfaat dalam memprediksi cardiovascular event. Pemberian N-Acetylcysteine (NAC) oral dapat digunakan sebagai strategi untuk menurunkan proses inflamasi yaitu disfungsi endotel dan stress oksidatif yang berperan pada atherosclerosis pada pasien hemodialsis. Pemberian NAC ini diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas karena penyakit kardiovaskuler. Metode. Penelitian eksperimen dengan Randomized Double Blind Controlled Trial pada 65 pasien hemodialisis kronis yang memenuhi kriteria inklusi di unit hemodialisis RS.Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penelitian dilakukan pada Agustus sampai Oktober 2013. Hasil. Perlakuan dengan NAC oral selama 60 hari tidak memberikan perbedaan dibandingkan dengan plasebo. Analisis statistik dengan Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada penurunan kadar Hs-CRP yang signifikan diantara kedua kelompok dengan p value Δ post1-baseline, Δ post2-baseline, and Δ post2-post1 kelompok NAC dibanding kelompok plasebo secara berurutan yaitu 0.796, 0.379 dan 0.712. Sementara itu, hasil uji Wilcoxon Signed Ranks untuk membandingkan penurunan kadar Hs-CRP pada tiap kelompok dalam tiga interval pengukuran Hs-CRP menunjukkan p value dari perbandingan kadar Hs-CRP untuk masing-masing kelompok baseline:Post1, baseline:Post2 dan Post1:Post2 (kelompok NAC Vs kelompok plasebo) secara berurutan 0.821vs0.651; 0.845vs0.358 dan 0.905vs0.789. Simpulan. Pemberian N-Acetylcysteine oral belum terbukti dapat menurunkan kadar Hs-CRP pada pasien hemodialisis kronis.
Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Endokarditis Infektif dengan Komplikasi Emboli Septik Pulmoner pada Pasien Hemodialisis Kronik Siregar, Jeremia Immanuel; Loho, Imelda Maria; Alwi, Idrus
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Endokarditis infektif (EI) pada pasien hemodialisis (HD) merupakan salah satu contoh EI yang terkait dengan perawatan kesehatan dan menjadi penyebab kematian kedua pada pasien HD setelah penyakit kardiovaskuler. Penggunaan kateter intravaskuler sebagai akses HD meningkatkan risiko kejadian bakteremia sebesar sepuluh kali lipat serta infeksi “metastatik” seperti EI dan emboli septik pulmoner sebesar 10-40%. Ilustrasi Kasus. Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang dengan keluhan dyspnea d’effort, orthopnea, dan post-nocturnal dyspnea, disertai batuk dengan bercak darah dan demam tinggi sejak lima hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien menjalani HD kronik selama 15 bulan dengan menggunakan catheter double-lumen (CDL). Dari pemeriksaan fisik didapatkan ronki basah kasar bilateral, murmur pansistolik grade 3/6 pada sela iga keempat linea sternalis sinistra, dan gallop S3. Pada ekokardiografi ditemukan vegetasi di katup trikuspid dan pemeriksaan CT-scan toraks memberikan gambaran emboli septik pulmoner. Didapatkan satu dari tiga kultur darah yang positif untuk infeksi methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Pengobatan dengan vankomisin yang adekuat selama enam minggu memberikan kemajuan klinis signifikan, meskipun pada ekokardiografi evaluasi masih didapatkan adanya vegetasi. Pasien kemudian menjalani operasi pengangkatan vegetasi, perbaikan katup jantung, dan penggantian CDL, dimana kondisinya semakin membaik dan masih menjalani HD secara rutin hingga saat ini. Simpulan. Pengenalan dini EI dan emboli septik pulmoner pada pasien yang menjalani HD kronik dengan akses kateter intravaskuler sangat penting agar tatalaksana awal yang adekuat dan komprehensif dapat dilakukan. Hal ini dapat memperbaiki kondisi klinis serta memperpanjang kesintasan hidup pasien.
Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Infark Ventrikel Kanan HS, R Fidiaji; Nasution, Sally Aman
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fungsi optimal jantung merupakan hasil interaksi dari berbagai bagian jantung, baik ventrikel kiri maupun ventrikel kanan. Namun, perkembangan diagnosis dan tatalaksana kegawatan jantung umumnya berpusat pada disfungsi ventrikel kiri. Perkembangan keilmuan saat ini memperlihatkan bahwa disfungsi ventrikel kanan juga mengakibatkan gangguan hemodinamik yang signifikan dan membutuhkan tatalaksana yang berbeda dengan tatalaksana disfungsi ventrikel kiri. Infark ventrikel kanan umumnya bukan merupakan suatu kasus tunggal, namun seringkali menyertai infark ventrikel kiri. Identifikasi infark ventrikel kanan pada kondisi tersebut, dapat mempengaruhi tatalaksana yang dilakukan pada suatu sindrom koroner akut.
Trombositopenia refrakter Rachman, Andhika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tranfusi trombosit berperan penting dalam manajemen kasus trombositopenia akibat kelainan hematologi dan onkologi. Namun, hampir sebagian besar pasien yang mendapatkan tranfusi trombosit berulang, sering mengalami kejadian tranfusi trombosit refrakter baik akibat faktor imunologi maupun non imunologi.
Hubungan Antibodi Anti Trombosit terhadap Respon Transfusi Trombosit pada Pasien Hemato-Onkologi yang Mendapatkan Multitransfusi Trombosit di RS Dr. Cipto Mangunkusomo Lubis, Anna Mira; Sudoyo, Aru W; Effendy, Shufrie; Djumhana, TB; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Multitransfusi donor random dan paparan terhadap konsentrat trombosit yang termasuk non-leukocyte depleted diketahui sebagai faktor risiko terjadinya alloimunisasi (HLA dan HPA) yang dapat menjadi salah satu penyebab kegagalan transfusi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan antibodi anti trombosit tersebut dengan kegagalan respon transfusi trombosit pada pasien hemato-onkologi sehingga dapat dilakukan metode seleksi donor dan crossmatching trombosit donor dan resipien. Metode: Studi observasional dilakukan pada pasien hemato-onkologi dewasa yang mendapatkan multitransfusi trombosit di Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Pengamatan dilakukan pada respon transfusi dengan mengukur corrected count increment (CCI) 1 jam post transfusi dengan batas 7.500 m2/mL. Keadaan lain yang dapat mempengaruhi CCI dieksklusi dari penelitian. Antibodi (Ig G) dideteksi dari serum pre transfusi terhadap antigen HLA kelas 1, epitop GP IIb/ IIIa, Ib/IX dan Ia/IIa dengan teknik ELISA secara kualitatif. Pengukuran ini menggunakan kit ELISA komersial Pak-2 LE. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik untuk ditentukan PR dengan IK 95%. Hasil: Selama periode Maret–Juni 2008 terkumpul 36 transfusi yang diberikan pada 21 pasien dengan berbagai diagnosis hemato-onkologi. Sebanyak 33,3% memberikan respon transfusi yang tidak memuaskan (CCI Simpulan: Pasien yang memiliki antibodi HLA kelas 1, memiliki kecenderungan kegagalan transfusi trombosit 11,4 kali lebih besar. Namun, hubungan antibodi GP IIb/IIIa dengan respon transfusi belum dapat ditentukan, sehingga dibutuhkan studi lanjutan dengan sampel yang lebih besar.
Perbedaan Pola Sirkadian Tekanan Darah pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Pra dan PascaTransplantasi Ginjal Di RSCM Tambunan, Marihot; Susalit, Endang; Dharmeizar, Dharmeizar; Rumende, Cleopas Martin
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Meningkatnya tekanan darah (TD) 24 jam dan nondipper merupakan faktor risiko morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Prevalensi hipertensi dan nondipper pada Penyakit Ginjal Kronik Stadium 5 dalam Terapi Dialisis (PGK 5D) masih sangat tinggi. Transplantasi ginjal akan memperbaiki TD dan nondipper. Namun demikian, satu bulan pasca transplantasi ginjal, kebutuhan dosis obat imunosupresan masih cukup tinggi yang dapat mengakibatkan hambatan penurunan TD. Perlu dilakukan studi untuk mengetahui seberapa dini perubahan pola sikardian, sehingga dapat dijadikan pertimbangan penatalaksanaan hipertensi yang lebih tepat pada pasien PGK 5D pra dan pasca transplantasi ginjal. Metode: Studi Pre experimental dengan before and after design dilakukan pada 15 pasien PGK 5D/ Pra Transplantasi Ginjal berusia 18–60 tahun di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada Oktober-Desember 2014. Dilakukan pengumpulan urin 24 jam, pemeriksaan LFG dan pengukuran TD 24 jam dengan 24 hrs ABPM pada pra dan satu bulan pasca transplantasi ginjal. Hasil: Terdapat 12 subjek nondipper dan 3 subjek dipper pada pasien PGK Pra Transplantasi Ginjal. Satu bulan pasca transplantasi ginjal, seluruh subjek (15 orang) memperlihatkan keadaan nondipper. Uji McNemar tidak dapat dilakukan karena seluruh subjek PGK satu bulan pasca transplantasi ginjal nondipper (homogen). Penurunan rerata TD sistolik 24 jam pasien PGK satu bulan pasca transplantasi ginjal tidak bermakna (p >0,05), namun demikian penurunan rerata TD diastolik 24 jam bermakna (p <0,05). Simpulan: Berdasarkan hasil studi, dapat disimpulkan bahwa belum terdapat perbaikan nondipper pada pasien satu bulan Pasca Transplantasi Ginjal.
Pengaruh Depresi Terhadap Perbaikan Infeksi Ulkus Kaki Diabetik Auliana, Arshita; Yunir, Em; Putranto, Rudi; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pasien Diabetes Melitus (DM) dengan ulkus kaki lebih banyak yang mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup yang buruk. Dalam tatalaksana ulkus kaki diabetik perlu diperhatikan faktor psikososial karena diperkirakan dapat mempengaruhi penyembuhan luka melalui induksi gangguan keseimbangan neuroendokrin-imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh depresi terhadap proses perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, serta tingkat depresi pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat inap. Metode. Studi kohort prospektif dilakukan pada 95 pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang dirawat di RSCM dan RS jejaring pada Maret-Oktober 2014. Subjek dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok depresi dan kelompok tidak depresi. Data klinis, penilaian depresi, dan data laboratorium diambil saat pasien masuk rumah sakit kemudian dinilai perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dalam 21 hari masa perawatan. Hasil. Dari 95 subyek penelitian, 57 orang (60%) masuk dalam kelompok depresi, yang didominasi oleh kelompok perempuan (70%). Penyakit komorbid terbanyak adalah hipertensi, dengan angka komorbiditas dan penyakit kardivaskular lebih tinggi pada kelompok depresi. Malnutrisi dan obesitas juga lebih banyak pada kelompok depresi (64,9% dan 31,6%), demikian pula dengan kontrol glikemik yang buruk (73,7%). Sebagian besar pasien (73,7%) yang masuk dalam kelompok depresi memiliki depresi ringan. Pada kelompok depresi 40,4% mengalami perbaikan infeksi dalam 21 hari masa perawatan, sedangkan 68,4% pada kelompok tidak depresi. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, walaupun setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel perancu, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,07, adjusted OR 2,429 dengan IK 95% 0,890-6,632). Lebih banyak subjek dengan depresi sedang yang tidak mengalami perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dibandingkan dengan subjek dengan depresi ringan (93,3% dan 47,6%). Simpulan. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kenaikan CD4 pada Pasien HIV yang Mendapat Highly Active Antiretroviral Therapy dalam 6 bulan Pertama Yogani, Indria; Karyadi, Teguh Harjono; Uyainah, Anna; Koesnoe, Sukamto
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: HIV adalah infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan CD4 sebagai sel targetnya. Ditemukannya Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART) diharapkan mampu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas HIV. Namun, kenaikan CD4 tidak sama untuk setiap pasien serta terdapat faktor lain yang berhubungan dengan kenaikan CD4 pada pasien HIV. Metode: Studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien HIV rawat jalan di Unit Pelayanan Terpadu HIV Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta selama Mei- Juni 2014.. Data penelitian didapatkan dari rekam medis selama Januari 2004-Desember 2013. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Mann Whitney, uji Chi Square atau Fisher serta analisis multivariat dengan teknik regresi logistik. Hasil: Sebanyak 818 subjek diikutsertakan pada penelitian ini. Sebanyak 368 (45%) subjek tidak mengalami kenaikan CD4 seperti yang diharapkan. Median CD4 awal sebelum terapi 56 sel/mm3 dan setelah 6 bulan terapi 130 sel/mm3. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah CD4 awal, infeksi tuberkulosis dan tingkat kepatuhan dengan kenaikan CD4 dengan nilai p masing-masing Simpulan: Jumlah CD4 awal, kepatuhan minum obat, dan infeksi tuberkulosis mempengaruhi kenaikan CD4 pada pasien HIV yang mendapat Highly Active Antiretroviral Therapy setelah 6 bulan pertama.

Page 1 of 1 | Total Record : 9