cover
Contact Name
Nasri
Contact Email
nasri@unhas.ac.id
Phone
+62411-589592
Journal Mail Official
jpkwallacea@unhas.ac.id
Editorial Address
Kampus Tamalanrea Fakultas Kehutanan UNHAS, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Published by Universitas Hasanuddin
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) was found in 2012. Initially, this journal was a regular scientifically reviewed printed journal focusing on the Conservation of Biological Resources. We are particularly interested in conservation issues in the biogeographical region of Wallacea, but related conservation issues from other parts of the world are also welcome.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2015)" : 9 Documents clear
Response of Landuse Change on Hydrological Characteristics of Way Betung Watershed - Lampung Zaenal Mubarok; Kukuh Murtilaksono; Enni Dwi Wahjunie
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.635 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp1-10

Abstract

Perubahan penggunaan lahan akibat peningkatan jumlah penduduk dari 114.973 pada tahun 2007 menjadi 134.792 pada tahun 2012 (meningkat 14,70%) berpengaruh terhadap karakteristik hidrologi DAS Way Betung. Model hidrologi SWAT (Soil and Water Assesment Tools) dapat memprediksi karakteristik hidrologi DAS yang dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan. Tujuan penelitian adalah: 1) mengkaji pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap karakteristik hidrologi DAS Way Betung; 2) menyusun rekomendasi penggunaan lahan terbaik di DAS Way Betung. Aplikasi model SWAT digunakan untuk mensimulasi perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung. Pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap karakteristik hidrologi berupa total air sungai pada tahun 2001, 2006, dan 2010 masing-masing sebesar 874,66 mm, 1.047,70 mm, dan 774,04 mm. Nilai koefisien aliran permukaan (C) di tiga tahun masing-masing sebesar 0,16, 0,31, dan 0,23, sedangkan nilai koefisien regim sungai (KRS) berturut-turut sebesar 30,65, 66,25, dan 53,57. Penerapan agroteknologi pada lahan pertanian dan pengembalian fungsi kawasan hutan (skenario 4) memberikan respons terbaik terhadap karakteristik hidrologi berupa total air sungai sebesar 709,69 mm dengan C sebesar 0,14, sedangkan nilai koefisien regim sungai (KRS) sebesar 34,66.
Model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat: Studi di Desa Ranggang, Kalimantan Selatan Idin Saepudin Ruhimat
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.975 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp11-21

Abstract

Kapasitas petani merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan praktek-praktek pengelolaan hutan rakyat. Akan tetapi, tingkat kapasitas petani di beberapa daerah masih rendah sehingga berpotensi menghambat keberhasilan praktek pengelolaan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat dan merumuskan model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang, Kalimantan Selatan. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan bantuan program SmartPls 2.0 M3. Hasil penelitian menunjukkan (1) tingkat pengalaman belajar petani berpengaruh langsung terhadap tingkat kapasitas petani sedangkan dukungan karakteristik petani, dukungan pihak luar, dukungan lingkungan sosial budaya, peran penyuluh, dan ketersediaan informasi berpengaruh tidak langsung terhadap tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang dan (2) model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengalaman belajar petani hutan rakyat melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan secara intensif, terjadwal, dan berkelanjutan dengan dukungan seluruh stakeholder terkait.
Analisis Debit Aliran Das Mikro dan Potensi Pemanfaatannya Hunggul Y.S.H. Nugroho
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.94 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp23-34

Abstract

Melalui pemahaman karakteristik hidrologi dalam Daerah Aliran Sungai (DAS), sumberdaya air dapat dikelola untuk tujuan yang luas yakni tujuan ekonomi, sosial maupun pemanfaatan sumberdaya air berkelanjutan. Pada kenyataannya pengelolaan DAS yang ada selama ini lebih terkait pada pengendalian erosi, sedimentasi, banjir dan kekeringan sedangkan potensi pemanfaatan hasil air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di hulu DAS jarang menjadi dasar perencanaan. Terkait dengan hal tersebut, penelitian DAS Mikro ini dilaksanakan di 3 (tiga) DAS Mikro pewakil dari DAS-DAS Prioritas di Sulawesi yaitu DAS Mamasa, DAS Saddang, dan DAS Jeneberang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola debit aliran DAS Mikro dalam hubungannya dengan curah hujan dan penggunaan lahan serta potensi pemanfaatannya bagi masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari curah hujan dan hasil air, ketiga DAS Mikro merupakan daerah yang potensial untuk menjadi sumber air untuk memenuhi kebutuhan air irigasi maupun air rumah tangga. Semakin tinggi proporsi luas penutupan hutan dan semakin baik kualitas penutupannya, semakin baik hasil air dan semakin tinggi pula potensi pemanfaatannya.
Sortasi Benih Dengan Ayakan Untuk Meningkatkan Viabilitas Benih Eucalyptus pellita f. Mull Naning Yuniarti; Megawati; Budi Leksono
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.117 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp35-40

Abstract

Benih Eucalyptus pellita mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga diperlukan teknik sortasi benih dengan menggunakan ayakan untuk meningkatkan mutu fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran ayakan yang sesuai untuk sortasi benih E. pellita sehingga dapat meningkatkan viabilitasnya. Benih E. pellita yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kebun benih semai (KBS) yang terdapat di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Riau. Sortasi benih dilakukan dengan menggunakan beberapa ukuran ayakan, yaitu ukuran 200 μm, 400 μm, dan 600 μm. Parameter yang diamati adalah kemurnian, berat 1000 butir benih dan daya berkecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran ayakan 600 μm merupakan ukuran ayakan yang sesuai untuk sortasi benih E. pellita, karena dapat menghasilkan berat 1000 butir (0,0362 gram), kemurnian (60,54%) dan daya berkecambah (184 kecambah/0,1 gr) benih E. pellita yang paling tinggi.
Menuju pengelolaan kolaborasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Provinsi Sulawesi Selatan Abd. Kadir Wakka; Nurhaedah Muin; Rini Purwanti
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.664 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp41-50

Abstract

Salah satu misi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) adalah mengembangkan kelembagaan dan kemitraan/kolaborasi dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Untuk mengembangkan pengelolaan kolaborasi TN Babul, maka aktivitas-aktivitas Balai TN Babul sudah seharusnya mengarah kepada perwujudan misi pengelolaan kolaborasi sejak misi tersebut ditetapkan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai fondasi pengelolaan kolaborasi TN Babul yang telah terbangun dalam mewujudkan misi tersebut di atas. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan wawancara dengan sejumlah informan kunci seperti aparat desa dan kecamatan, tokoh masyarakat, aparat instansi teknis terkait, dan staf dosen Universitas Hasanuddin. Data dianalisis dengan menggunakan model deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fondasi pengelolaan kolaborasi TN Babul (jaringan kerja, koordinasi, dan kerjasama dengan stakeholder lainnya) belum terbangun dengan baik. Kondisi ini akan mempengaruhi keberhasilan pencapaian misi pengelolaan kolaborasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Potensi simpanan karbon pada tiga tipe savana di Nusa Tenggara Timur Hery Kurniawan; Dhany Yunianti
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.168 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp51-62

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal keberadaan savananya, dimana 22% dari luas daratannya merupakan savana. Ada 8 (delapan) tipe savana yang didasarkan pada spesies pohon dominan pada savana tersebut. Dalam rangka kepentingan inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk menyediakan data faktor emisi/serapan GRK maka dilakukan penghitungan potensi simpanan karbon pada areal savana. Pada tulisan ini disampaikan potensi simpanan karbon pada tiga tipe savana yakni savana huek (Eucalyptus alba), savana lontar (Borassus flabellifer) dan savana gewang (Corypha utan). Pendugaan potensi dilakukan pada 4 (empat) pool karbon yakni atas permukaan tanah, bawah permukaan tanah, nekromas berkayu, nekromas tidak berkayu dan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi simpanan karbon pada savana huek (E. alba) sebesar 537,18 ton/ha, rata-rata potensi simpanan karbon pada savana gewang (C.utan) sebesar 58,21 ton/ha dan rata-rata potensi simpanan karbon pada savana lontar (B. flabellifer) sebesar 52,68 ton/ha.
The growth success of Alstonia scholaris (L.) R. Br. shoot cuttings from several shoots position and the cut type of cuttings Mashudi; Hamdan Adma Adinugraha
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.086 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp63-69

Abstract

Alstonia scholaris (L) R.Rr. is one of the fast growing species has a wide distribution in Indonesia and good prospect to be developed for forest plantation. This species could be propagated both generative and vegetative method. This study was conducted to identify the effect of shoot position and the cut type of cuttings. The experiment was arranged in Randomized Complete Design in two factors. The fisrt factor was shoot position (P1= < 50 cm, P2=50-100 cm, P3=100-150 cm and P4=150-180 cm above ground) and second was the cut type of cuttings (horizontal, diagonal 45o and “V” types). The result showed that shoot position significantly influenced rooting ability and the growth of cuttings. The best result of shoot cuttings was taken from P3 treatment (100-150 cm above ground) with survival percentage 87.50%, rooting percentage 85.42%, growth of height 4.02 cm, with 10 number of root, length of root 19.08 cm and 4 number of leaf . The cut type of cuttings and interaction between shoot position and type of cuttings were not significantly differences to the growth of shoot cuttings.
Pemanfaatan Mikrohidro Untuk Membangun Desa Mandiri Energi M. Kudeng Sallata; Hunggul Yudono SHN; Abd. Kadir Wakka
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.063 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp71-80

Abstract

To enhance active participation of local communities in forest management, the benefit of forest services to fulfill their basic need should be maximized. This research has been carried out to examine the potential of forest and the village to be an energy self-sufficient village. The specific objectives of the research are to: 1) acquiring data of village potential for microhydro development, 2) establishing a microhydro installation by maximizing the benefit of water power, and 3) acquiring data of potential impact of microhydro development on well local community participation and awareness. The research methods were direct observation, interviews and descriptive analysis. Based on field situation, the design and manufacture of turbine engine has been assembled to produce electricity of 10 KVA. Consumers were 131 households allied in group to operate the microhydro properly. The establishment of microhydro have enhanced positive perception on forest-water yield, collective participation, awareness and sense of ownership of the villagers to forest ecosystem.
Diversity of Tuber Crops and Arbuscular Mycorrhizae Fungi (Amf) Under Community Forest Stand in South Sulawesi Retno Prayudyaningsih; Nursyamsi
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.526 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss1pp81-92

Abstract

Implementation of agroforestry system in community forest that incorporate local species Vitex cofassus (bitti), Toona sinensis (suren), Tectona grandis (teak) and Aleurites moluccana (candlenut) with seasonal crops such as tuber crops would create opportunities for local people to improve the economic and food security. Tuber crops as the understory could be expected to reduce the rate of soil erosion and expand habitat of beneficia soil microorganisms such as arbuscular mycorrhizal fungi (AMF). The research aims to determine the diversity of tuber crops and AMF in the rhizosphere of tuber crops grown under community forest stands of bitti, suren, teak and candlelnut in South Sulawesi. Results showed that (1) there are 12 kinds of tuber crops that grow under community forest stands in which the 7 types are as alternative food sources, (2) Amorphophallus campanulatus (iles-iles/suweg) and Xanthosoma violaceum (kimpul) are species of tuber crops that is found growing under all of the commnunity forest stands, (3) all kinds of tuber crops that grow under the community forest stand associated with AMF, in which there are 3 AMF genus i.e Glomus sp. Acaulospora sp. and Gigaspora sp.with low spore density.

Page 1 of 1 | Total Record : 9