cover
Contact Name
Abdullah A Afifi
Contact Email
abdullah@darulfunun.id
Phone
-
Journal Mail Official
publisher@darulfunun.id
Editorial Address
Jl. Prof Dr HAMKA, Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Indonesia
Location
Kota payakumbuh,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Imam : Journal on Islamic Studies, Civilization And Learning Societies
ISSN : -     EISSN : 29861780     DOI : https://doi.org/10.58764
Multidisciplinary journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies. This journal is a 2nd generation publication published by IDRIS Darulfunun Institute (published before under the same name in the 1920s). The ultimate objective of this journal is to disseminate knowledge in Islamic studies, civilization (history and literature) and learning societies (education and science). This journal also aims to strengthen the theoretical base for supporting policy and initiatives. Articles accepted need to be based on rigorous sound theory and contain an essential novel scientific contribution. (Bahasa or English)
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2026)" : 3 Documents clear
Kemunafikan sebagai Krisis Moral dan Sosial: Kajian Hermeneutik Q.S. At-Taubah Ayat 67–70 dalam Perspektif Tadabbur Al-Qur’an Brahmantya, Afrigh Abrar
AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : IDRIS Darulfunun Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58764/j.im.2026.7.129

Abstract

Kajian ini membahas pentingnya Tadabbur Quran, sebuah praktik refleksi mendalam terhadap ayat-ayat Al-Quran, terutama menyoroti ayat-ayat Surah At-Taubah ayat 67-70. Kajian ini menekankan pentingnya memahami dan mengimplementasikan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika, kajian ini menjelajahi makna-makna halus dari ayat-ayat tersebut, menyoroti ancaman serius yang Allah tujukan kepada orang munafik, seperti dilupakan-Nya mereka, siksaan abadi di Neraka, dan sia-sia dari perbuatan mereka. Kajian ini menarik pelajaran bagi umat Muslim kontemporer, mendorong mereka untuk mengenali perilaku munafik, menghindari godaan duniawi, belajar dari kesalahan peradaban masa lampau, menegakkan ketaatan agama, dan memupuk dukungan saling antar mukmin. Tadabbur Quran dan analisis hermeneutika disajikan sebagai alat penting untuk memahami hikmah yang dalam dari Al-Quran dan menghadapi tantangan moral dan spiritual.
Pro-Kontra Fenomena Jamaah Majelis Sholawat Berjoget: Perspektif Etika Islam Dari Abdurrahman Al-Baghdadi Dan Imam Jauzi Prabowo, Yuga Bayu; Ervani, Dilfam Adisya; Archningtia, Putri Dwi
AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : IDRIS Darulfunun Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58764/j.im.2026.7.130

Abstract

Kajian ini membahas fenomena berjoget dalam majelis shalawat melalui studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis (library research). Data diperoleh dari sumber primer, yaitu karya Abdurrahman Al-Baghdadi dan Imam Ibnul Jauzi, serta sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, artikel akademik, dan dokumentasi media sosial. Fokus analisis adalah perbandingan pandangan kedua ulama mengenai seni dalam ibadah. Hasil kajian menunjukkan perbedaan perspektif di antara mereka. Imam Ibnul Jauzi menolak gerakan berlebihan dalam ibadah karena dianggap dapat menghilangkan kekhusyukan dan menjadi tipu daya setan. Menurutnya, ibadah harus dilakukan dengan ketenangan dan ketundukan hati sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Sebaliknya, Abdurrahman Al-Baghdadi berpendapat bahwa seni, termasuk ekspresi gerakan dalam sholawat, dapat menjadi sarana dakwah jika tidak melanggar batasan syariat. Ia menilai bahwa selama gerakan tetap beradab, tidak menimbulkan fitnah, dan tidak melalaikan dari dzikir, maka dapat diterima dalam konteks spiritual dan dakwah. Dalam hukum Islam, berjoget dalam ibadah memiliki status hukum yang berbeda tergantung pada konteksnya. Jika dilakukan dengan adab dan tetap menjaga kekhusyukan, maka hukumnya bisa mubah (diperbolehkan). Namun, jika berlebihan dan menjadikannya lebih mirip hiburan daripada ibadah, maka hukumnya menjadi makruh atau bahkan haram. Kesimpulannya, seni dapat menjadi media dakwah, tetapi ibadah harus tetap dijaga kesakralannya. Pandangan yang lebih kuat adalah pendekatan kehati-hatian sebagaimana ditekankan oleh Imam Ibnul Jauzi, sedangkan pendekatan Abdurrahman Al-Baghdadi dapat diterapkan dalam ranah seni dengan batasan yang jelas sesuai nilai-nilai Islam.
Maqasid Al-Shariah and Artificial Intelligence: Unaddressed Issues in Contemporary AI Ethics Studies Prabowo, Yuga Bayu; Ervani, Dilfam Adisya; Archningtia, Putri Dwi
AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : IDRIS Darulfunun Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58764/j.im.2026.7.132

Abstract

The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has intensified ethical debates within contemporary technology studies. Nevertheless, current AI ethics discourse remains predominantly shaped by Western philosophical paradigms such as utilitarianism, deontology, and virtue ethics, which often overlook moral, social, and spiritual dimensions central to non-Western societies, including Islamic ethical traditions. This study aims to map contemporary AI ethics scholarship, critically examine Islamic ethical responses to AI, and develop an evaluative framework grounded in Maqasid al-Shariah. Using a qualitative approach with a Systematic Literature Review (SLR) design, this research analyzes peer- reviewed publications from the last decade drawn from major academic databases. Data analysis is conducted through thematic analysis, comparative analysis, and conceptual synthesis. The findings reveal that Islamic AI ethics studies are still dominated by normative and declarative approaches, with limited operationalization of Maqasid al-Shariah as an evaluative tool, and a notable absence of integrative models connecting Islamic ethics with global AI ethics frameworks. This study contributes theoretically by positioning Maqasid al- Shar??ah as a holistic, value-based, and applicable ethical framework for assessing AI in relation to justice, public welfare, and the protection of human dignity within a global technological context.

Page 1 of 1 | Total Record : 3