cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January" : 10 Documents clear
Analisis Naratif Mukjizat Penyembuhan dalam Markus 7: 31-37: Makna Tindakan Yesus dan Implikasinya Magul, Mario Oktavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13438

Abstract

The various miracle narratives that are found in the Gospel do not merely depict supernatural events, but also convey profound theological and social messages. The Story of the healing of a deaf and mute man in Mark 7: 31-37 is one example of a biblical narrative that highlights the dimensions of inclusivity and universality in the ministry of Jesus. This study analyzes the narrative of the healing miracle of a deaf and mute man in Mark 7: 31-37 using a narrative analysis approach. This approach focuses on the story’s boundaries, geographical context, plot structure, Jesus’ symbolic actions, and characterization. The analysis reveals that this story affirms the universality of Jesus’ ministry that transcends Jewish ethnic boundaries, while also unveiling symbolic actions rich in theological meaning. Jesus’ personal engagement and the crowd’s response to the miracle reflect inclusivity and compassion that remain relevant for contemporary readers. The study also offers a critical reflection on contemporary social realities, particularly regarding discrimination against people with disabilities and marginalized groups. It calls upon the Church and society to build inclusive communities as a manifestation of God’s universal love. Therefore, this biblical narrative not only presents a historical miracle but also conveys profound theological and pastoral messages about love and inclusiveness in Jesus’ ministry.AbstrakPelbagai narasi mukjizat yang terdapat dalam Injil sejatinya tidak hanya menampilkan peristiwa yang bersifat supranatural, tetapi juga memuat pesan teologis dan sosial yang mendalam. Kisah penyembuhan seorang yang tuli dan gagap dalam Markus 7: 31-37 merupakan salah satu contoh narasi biblis yang menggarisbawahi dimensi inklusivitas dan universalitas dalam pelayanan Yesus. Penelitian ini menganalisis narasi mukjizat penyembuhan seorang tuli dan gagap dalam Markus 7:31-37 dengan menggunakan pendekatan analisis naratif. Pendekatan ini menyoroti batas-batas cerita, konteks geografis, struktur alur, tindakan simbolis Yesus, dan unsur penokohan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perikop ini menegaskan universalitas pelayanan Yesus yang melampaui batas-batas etnis Yahudi, sekaligus mengungkapkan tindakan simbolis yang sarat makna teologis. Tindakan Yesus yang bersifat personal, dan respons orang banyak terhadap mukjizat tersebut, mencerminkan inklusivitas dan kepedulian yang tetap relevan bagi pembaca saat ini. Studi ini juga menawarkan refleksi kritis terhadap realitas kontemporer, khususnya terkait diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan kelompok marginal, serta mengajak Gereja dan masyarakat untuk membangun komunitas yang inklusif sebagai perwujudan kasih Allah yang universal. Dengan demikian, narasi biblis ini tidak hanya sekadar menampilkan peristiwa mukjizat secara historis, tetapi juga menyampaikan pesan teologis dan pastoral yang mendalam mengenai kasih dan inklusivitas pelayanan Yesus.
Transformasi Identitas dan Spiritual Pasca Kerasukan: Analisis Naratif atas Perikop Markus 5:1-20 Udu, Gebrile Mikael Mareska
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13455

Abstract

This article analyzes the story of Jesus casting out evil spirits from a possessed person in the Gerasene region using the narrative interpretation method. Researcher chose to use this method because it can discover the meaning of narrative. This method helps researcher to analyze the theological meaning hidden behind the structure of the story especially on the dynamics of the plot, characters, literal meaning, setting and the symbol used by the evangelist in Mark 5:1-20. The results of the study reveal a transformative experience of the possessed in terms of change in identity and spirituality after meeting with Jesus. He who was initially shackled by the power of evil spirits, living in the tombs, and was excluded from society, was restored by Jesus to become a civilized person, well-dressed, sane or a new man. This transformative experience aims to emphasize Jesus’ authority as the son of God before humans and evil spirits (legions).  This article, in turn, serves as an example that the story of Jesus’ exorcism does not merely describe Jesus’ victory or the power of darkness, but rather a reflection for readers to discover a new identity before God and willingly to be witnesses of faith in common life.AbstrakArtikel ini menganalisis kisah Yesus yang mengusir roh jahat dari pribadi yang kerasukan di daerah Gerasa dengan menggunakan metode tafsir naratif. Metode ini membantu peneliti untuk menganalisis dinamika alur, tokoh, latar serta pengalaman transformatif yang dialami oleh pribadi yang kerasukan tatkala berjumpa dengan Yesus. Keputusan peneliti untuk menggunakan metode tersebut karena mampu menemukan makna teologis yang tersembunyi di balik struktur cerita, karakter tokoh, makna literer serta simbol yang digunakan penginjil dalam teks Markus 5:1-20. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa adanya perubahan identitas dan spiritual yang dialami oleh si kerasukan pasca berjumpa dengan Yesus. Dia yang mulanya dibelenggu oleh kuasa roh jahat, hidup berkeliaran di kuburan, dan disingkirkan dari lingkungan masyarakat boleh dipulihkan oleh Yesus menjadi pribadi yang beradab atau singkatnya menjadi manusia baru. Pengalaman transformatif ini hendak menegaskan otoritas Yesus sebagai anak Allah di hadapan manusia dan roh jahat (legion). Artikel ini pada giliranya menjadi contoh bahwa kisah eksorsisme yang dilakukan Yesus tidak semata-mata menggambarkan kemenangan Yesus atau kuasa gelap tetapi cerminan bagi pembaca untuk menemukan identitas baru di hadapan Tuhan dan rela menjadi saksi iman dalam kehidupan bersama.
Analisis Naratif Injil Yohanes 20:24-29 Kristologi Tertinggi Iman Tomas dan Relevansinya bagi Anak Muda yang Goyah dalam Iman Anri, Toberias
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13432

Abstract

Belief is a difficult thing to express, especially if we are already disappointed. Similarly, Thomas did not immediately believe the other disciples' testimony regarding Jesus' resurrection. He was often called a doubter because of this attitude. His faith in Jesus was considered weak. In fact, he who initially confidently followed Jesus now does not believe in Him. He still doubts Jesus' divinity. Today, many people, especially young people, also experience situations similar to Thomas's. They often question their faith. This article uses a library study method. The sources used are books and journal articles available on the internet. The results of the study show a relationship between John 20:24-29 and the faith of young people who experience many challenges. The challenges they face in their lives of faith are also increasingly complex. Young people often doubt or even lose faith in their faith. The role of parents and the church in providing education and passing on spiritual values is crucial. Young people need a mature faith to face the various challenges of faith today. The figure of Thomas can be an example for young people who experience wavering in their faith. In the midst of their shaky faith, it is hoped that young people will also be able to become like Thomas who acknowledged Jesus as Lord and Allah.AbstrakPercaya adalah hal yang sulit untuk kita ungkapkan, terlebih jika sudah terlanjur kecewa. Sama halnya dengan Tomas yang tidak langsung mempercayai kesaksian murid yang lain mengenai kebangkitan Yesus. Ia kerap disebut sebagai peragu karena sikapnya tersebut. Imannya kepada Yesus dianggap tidak kuat. Nyatanya, ia yang awalnya dengan yakin mengikuti Yesus kini malah tidak percaya akan Dia. Ia masih ragu akan keilahian Yesus. Dewasa ini, banyak orang, khususnya anak muda yang juga mengalami situasi seperti yang dialami oleh Tomas. Mereka kerap mempertanyakan iman mereka. Tulisan menggunakan metode studi kepustakaan. Sumber-sumber yang digunakan adalah buku-buku dan juga artikel jurnal yang tersedia di internet. Hasil studi menunjukkan adanya hubungan antara Yohanes 20:24-29 dengan iman anak muda yang mengalami banyak tantangan. Tantangan yang mereka hadapi dalam hidup beriman juga semakin kompleks. Kerap anak muda menjadi ragu bahkan menjadi tidak percaya akan iman mereka. Peran orang tua dan gereja dalam memberikan edukasi dan mewariskan nilai-nilai spiritual sangat diperlukan. Anak muda perlu bekal iman yang matang dalam menghadapi berbagai tantangan iman saat ini. Tomas bisa menjadi contoh bagi anak muda yang mengalami kegoyahan dalam iman. Di tengah kegoyahan imannya, kiranya anak muda juga kemudian mampu menjadi seperti Tomas yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah.
Makna Teologis Misa Syukur Panen dalam Konteks Budaya Dayak Kalimantan Barat Nona, Tryepina Paulina; Pius X, Intansakti
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13896

Abstract

This article is based on the harvest thanksgiving tradition in Dayak culture in West Kalimantan, which finds significant intersection with the celebration of the Harvest Thanksgiving Mass in the Catholic Church, presenting a phenomenon of profound faith inculturation. Aiming to explore the theological meaning of the Harvest Thanksgiving Mass, this study positions the celebration as a concrete form of encounter between Christian faith and local Dayak wisdom. Using a qualitative method with a theological and anthropological literature review approach, this study analyzes the relationship between traditional rites and the Church's liturgy. The results of this article show that the Harvest Thanksgiving Mass is not merely an expression of gratitude, but contains rich theological meaning, including the dimensions of universal gratitude, strengthening the fellowship of the people, and renewing reconciliation between humans, nature, and the Creator. Overall, the Harvest Thanksgiving Mass functions as a concrete manifestation of the Catholic Church's inculturative faith, which is dynamic and deeply rooted in the Dayak cultural context.AbstrakArtikel ini berlatar belakang dari tradisi syukur panen dalam kebudayaan Dayak di Kalimantan Barat yang menemukan titik temu signifikan dengan perayaan Misa Syukur Panen dalam Gereja Katolik, menyajikan sebuah fenomena inkulturasi iman yang mendalam. Bertujuan untuk menggali makna teologis Misa Syukur Panen, studi ini menempatkan perayaan tersebut sebagai bentuk konkret perjumpaan iman Kristiani dan kearifan lokal Dayak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka teologis dan antropologis, penelitian ini menganalisis relasi antara ritus adat dan liturgi Gereja. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa Misa Syukur Panen tidak hanya sekadar ungkapan terima kasih, namun mengandung makna teologis yang kaya, meliputi dimensi syukur universal, penguatan persekutuan umat, serta pembaruan rekonsiliasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Secara keseluruhan, Misa Syukur Panen berfungsi sebagai wujud nyata iman inkulturatif Gereja Katolik yang secara dinamis dan hidup berakar kuat dalam konteks budaya Dayak.
Tabernakel sebagai Ruang Teologi Kehadiran Allah: Analisis Intertekstual antara Keluaran 25–40 dan Yohanes 1:14 Lase, Onesiporus Pengharapan; Gaol, Ayub Lumban; Latip, Latip
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.14329

Abstract

This article examines the theological meaning of the Tabernacle in Exodus 25–40 through an intertextual analysis with John 1:14 in order to reconstruct the concept of God’s presence within a biblical-theological framework. The study aims to identify both continuity and transformation in the understanding of divine presence, moving from spatial representation to incarnational actualization in Christ. Employing a qualitative-descriptive method and intertextual hermeneutics, this research analyzes biblical texts and relevant theological literature. The findings demonstrate that the Tabernacle functions as a pedagogical medium shaping Israel’s awareness of God’s immanence and holiness, while the incarnation represents the ontological fulfillment of the “tabernacling” motif through a personal and relational presence. This study argues that God’s presence is dynamic, relational, and progressive within the redemptive narrative. The main contribution lies in integrating Old Testament spatial theology and Johannine Christology into a coherent synthesis of divine presence relevant for contemporary theological discourse.AbstrakArtikel ini menganalisis makna teologis Tabernakel dalam Keluaran 25–40 melalui pendekatan intertekstual dengan Yohanes 1:14 untuk merekonstruksi konsep kehadiran Allah dalam perspektif teologi biblika. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kontinuitas dan transformasi makna kehadiran Allah dari representasi spasial menuju aktualisasi inkarnasional dalam diri Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutik intertekstual terhadap teks Alkitab dan literatur teologis relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabernakel berfungsi sebagai medium pedagogis yang membentuk kesadaran umat akan imanensi dan kekudusan Allah, sementara inkarnasi merepresentasikan pemenuhan ontologis dari motif “bertabernakel” dalam relasi personal antara Allah dan manusia. Temuan ini menegaskan bahwa kehadiran Allah bersifat dinamis, relasional, dan progresif dalam narasi keselamatan. Kontribusi penelitian ini terletak pada integrasi teologi ruang Perjanjian Lama dan kristologi Injil Yohanes dalam satu kerangka sintesis teologi kehadiran Allah yang relevan bagi diskursus teologi kontemporer.
Kohesi Kepemimpinan Daud dan Kejatuhannya: Analisis Naratif-Teologis Berdasarkan 2 Samuel 11 Pabendan, Sumbu Surgia; Suhariono, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.14244

Abstract

This article analyzes the process of David's moral downfall in 2 Samuel 11 from a leadership theology perspective. Unlike previous studies that tend to emphasize sexual ethics or the narrative structure of the text, this study focuses on the dimensions of leadership negligence and spiritual vigilance degradation that preceded David's sinful actions. Using a qualitative approach with a theological-narrative analysis method, this study traces the stages of David's downfall: (1) negligence of leadership responsibilities (2 Sam 11:1), (2) progressive moral degradation (11:2-5), (3) abuse of power (11:6-27), to (4) divine judgment on his actions (12:1-14). The findings show that prosperity and consolidation of power without consistent spiritual vigilance pose a serious threat to the integrity of spiritual leadership. David's story confirms that the legitimacy of spiritual leadership is not determined by success or position, but by faithfulness before God. Practical implications for church leadership and Christian ministry today are also discussed.AbstrakArtikel ini menganalisis proses kejatuhan moral Daud dalam 2 Samuel 11 dari perspektif teologi kepemimpinan. Berbeda dengan studi-studi sebelumnya yang cenderung menekankan aspek etika seksual atau struktur naratif teks, penelitian ini fokus pada dimensi kelalaian kepemimpinan dan degradasi vigilansi spiritual yang mendahului tindakan dosa Daud. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif-teologis, penelitian ini menelusuri tahapan kejatuhan Daud: (1) kelalaian terhadap tanggung jawab kepemimpinan (2 Sam 11:1), (2) degradasi moral yang progresif (11:2-5), (3) penyalahgunaan kekuasaan (11:6-27), hingga (4) penilaian ilahi atas tindakannya (12:1-14). Temuan menunjukkan bahwa kemakmuran dan konsolidasi kekuasaan tanpa disertai vigilansi spiritual yang konsisten merupakan ancaman serius bagi integritas kepemimpinan rohani. Kisah Daud menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan rohani tidak ditentukan oleh keberhasilan atau posisi, melainkan oleh kesetiaan hidup di hadapan Allah. Implikasi praktis bagi kepemimpinan gereja dan pelayanan Kristen masa kini juga dibahas.
Munus Regendi dan Rasionalitas Moral dalam Pendirian Lembaga Katolik Neonnub, Patricius; Subani, Yohanes
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13671

Abstract

This study examines the juridical and philosophical foundations of ecclesiastical authority in the establishment of public juridic persons (erectio canonica) within the Catholic Church. Using a normative–conceptual approach grounded in natural law theory and canon law, it argues that ecclesiastical authority derives its legitimacy not merely from institutional power but from moral rationality rooted in munus regendi, the pastoral office of governing in Christ’s name. The study finds that erectio canonica functions as both a legal and theological act, ensuring that Catholic institutions act in nomine Ecclesiae and maintain fidelity to the Church’s salvific mission. In Indonesia, harmonizing canon law and civil law remains essential to secure both legal validity and ecclesial legitimacy. The research concludes that genuine ecclesiastical authority integrates legality, morality, and pastoral mission toward the bonum commune ecclesiae.AbstrakPenelitian ini mengkaji dasar yuridis dan filosofis otoritas Gerejawi dalam pendirian badan hukum publik (erectio canonica) di dalam Gereja Katolik. Dengan pendekatan normatif–konseptual yang berlandaskan teori hukum alam dan hukum kanonik, penelitian ini menegaskan bahwa otoritas Gerejawi memperoleh legitimasi bukan dari kekuasaan kelembagaan, melainkan dari rasionalitas moral yang bersumber pada munus regendi—tugas pastoral untuk memimpin atas nama Kristus. Erectio canonica berfungsi sebagai tindakan hukum sekaligus teologis yang menjamin lembaga Katolik bertindak in nomine Ecclesiae dan tetap setia pada misi keselamatan Gereja. Dalam konteks Indonesia, sinergi antara hukum kanonik dan hukum sipil menjadi kunci bagi keabsahan hukum dan legitimasi eklesial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otoritas Gerejawi sejati menyatukan legalitas, moralitas, dan misi pastoral demi bonum commune ecclesiae.
Me-Liyan-kan Perempuan dalam Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto dan Ata Pe’ang dalam Budaya Manggarai Hagoldin, Sebastianus; Ebak, Agustinus Renal
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13811

Abstract

Focus this paper is comparing the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang (outsider) in Manggarai culture. The method used is a critical analysis with a comparative approach between the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang in Manggarai culture. The author finds that the label of ata pe'ang has shackled women, thus viewing them as the other. This shackling is rooted in a misunderstanding of the concept of ata pe'ang as intended by the Manggarai ancestors. Relational Philosophy can serve as a critical lens for this reality. Relational philosophy provides a new contribution, namely that ata pe'ang must be viewed as relational subjects, and it critiques the marginalization of women in Manggarai culture. Furthermore, Armada's philosophical concept helps reconstruct unequal cultural practices and affirms that women, as ata pe'ang, can be agents of change in communal life.AbstrakFokus tulisan ini adalah membuat komparasi konsep me-liyan-kan perempuan dalam filsafat Relasionalitas Armada dan konsep ata pe’ang (orang luar) dalam budaya Manggarai. Metode yang digunakan ialah analisis kritis dengan pendekatan komparatif antara konsep me-liyan-kan perempuan filsafat Relasionlitas Armada dan konsep ata pe’ang dalam budaya Manggarai. Penulis menemukan bahwa pelabelan ata pe’ang telah membelenggu kaum perempuan sehingga perempuan dipandang sebagai liyan. Keterbelengguan tersebut berakar pada kesalahpahaman terhadap konsep ata pe’ang sebagaimana dimaksudkan oleh para leluhur orang Manggarai. Filsafat Relasionalitas dapat menjadi lensa kritik terhadap realitas tersebut. Filsafat relasionlitas memberikan sumbangan baru bahwa Ata pe’ang harus dipandang sebagai subjek relasional, filsafat relasionlitas memberikan kritik marginalisasi perempuan dalam budaya Manggarai. Selain itu, konsep filosofis Armada membantu untuk merekonstruksikan kembali praktik budaya yang timpang serta memberikan penegasan bahwa perempuan sebagai ata pe’ang dapat menjadi agen perubahan dalam kehidupan bersama.  
Menganalisis Identitas-Identitas Yesus Kristus dalam Buku Apologia Pertama Yustinus Martir Sili, Adrianus Musu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13921

Abstract

This research discusses the identity of Jesus Christ in the book Apology I written by Justin Martyr. The researcher uses historical literature analysis to deeply examine Yustinus Martir's thoughts on the identity of Christ in his book. The results of the study found that the identity of Christ in the book Apology I highlights the historical analogy and divinity of Jesus as the Son of God to state that Jesus existed before all times. The Jewish prophets had also prophesied about Him in the Old Testament so that Jesus came to fulfill the hope of Israel. Moreover, Justin also compared  Jesus’ identity as the Son of God with that of Jupiter’s . These identities  were able to influence the views of Christian Christology in the second century AD.AbstrakPenelitian ini membahas identitas Yesus Kristus dalam buku Apologi I yang ditulis oleh Yustinus Martir. Penelitian  menggunakan analisis literatur historis untuk mengkaji lebih dalam pemikiran Yustinus Martir tentang identitas Kristus dalam bukunya. Hasil penelitian menemukan bahwa identitas Kristus dalam buku Apologi I menonjolkan analogi historis dan keilahian Yesus sebagai Anak Allah untuk menyatakan bahwa Yesus telah ada sebelum segala zaman, Para nabi Yahudi juga telah menubuatkan-Nya dalam Perjanjian Lama sehingga Yesus datang untuk menggenapi harapan Israel, dan perbandingan antara Yesus sebagai Anak Allah dengan Putra Jupiter. Idenitas-identitas Yesus Kristus tersebut mampu mempengaruhi pandangan Kristologi Kristen pada abad kedua Masehi.
Perbandingan Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam Budaya Tenawahang Kelen, Yohanes Jemiandro Bala
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13882

Abstract

This study examines the comparison of the concept of divinity in two cultures, Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in the Tenawahang culture. Based on textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the concept of divinity in Israeli culture and Tenawahang culture. The purpose of this study is to identify the similarities and differences between the concept of divinity in the Old Testament and that in Tenawahang culture. The analytical method used in this study is a comparative descriptive analysis of Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in Tenawahang culture. The author collected data using the literature method to examine the concept of divinity in the Old Testament and the field method with interview techniques and the author's experience to examine the concept of divinity in Tenawahang culture. This article examines the comparison of the concept of divinity between the two cultures by seeking similarities and differences between them and conducting a synthesis analysis. Finally, the author found similarities and differences in the concept of divinity in these two cultures. The results of this study indicate that there are similarities between the concept of divinity in the Old Testament and Tenawahang culture. Both the Old Testament and Tenawahang culture adhere to monotheism, a relationship with humanity, and a reverence for life. The differences between the Old Testament and Tenawahang culture lie in names and representations, doctrines and laws, and the concept of the chosen people.AbstrakPenelitian ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan dalam dua budaya, Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan konsep Ketuhanan dalam budaya Israel dan budaya Tenawahang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep Ketuhanan dalam Perjanjian Lama dengan budaya Tenawahang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis deskriptif komparatif terhadap Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode pustaka untuk melihat konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama dan metode lapangan dengan teknik wawancara serta pengalaman penulis untuk melihat konsep ketuhanan dalam budaya Tenawahang. Artikel ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan terhadap kedua budaya tersebut dengan mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya dan melakukan analisis sintesis. Akhirnya penulis menemukan ada persamaan dan perbedaan konsep ketuhanan dalam kedua budaya ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ada persamaan antara konsep ketuhanan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang. Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang sama-sama menganut monoteisme, relasi dengan manusia, dan adanya penghargaan terhadap hidup. Sedangkan perbedaan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang terletak pada nama dan representasi, doktrin dan hukum, serta konsep tentang umat pilihan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10