cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January" : 4 Documents clear
Analisis Naratif Mukjizat Penyembuhan dalam Markus 7: 31-37: Makna Tindakan Yesus dan Implikasinya Magul, Mario Oktavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13438

Abstract

The various miracle narratives that are found in the Gospel do not merely depict supernatural events, but also convey profound theological and social messages. The Story of the healing of a deaf and mute man in Mark 7: 31-37 is one example of a biblical narrative that highlights the dimensions of inclusivity and universality in the ministry of Jesus. This study analyzes the narrative of the healing miracle of a deaf and mute man in Mark 7: 31-37 using a narrative analysis approach. This approach focuses on the story’s boundaries, geographical context, plot structure, Jesus’ symbolic actions, and characterization. The analysis reveals that this story affirms the universality of Jesus’ ministry that transcends Jewish ethnic boundaries, while also unveiling symbolic actions rich in theological meaning. Jesus’ personal engagement and the crowd’s response to the miracle reflect inclusivity and compassion that remain relevant for contemporary readers. The study also offers a critical reflection on contemporary social realities, particularly regarding discrimination against people with disabilities and marginalized groups. It calls upon the Church and society to build inclusive communities as a manifestation of God’s universal love. Therefore, this biblical narrative not only presents a historical miracle but also conveys profound theological and pastoral messages about love and inclusiveness in Jesus’ ministry.AbstrakPelbagai narasi mukjizat yang terdapat dalam Injil sejatinya tidak hanya menampilkan peristiwa yang bersifat supranatural, tetapi juga memuat pesan teologis dan sosial yang mendalam. Kisah penyembuhan seorang yang tuli dan gagap dalam Markus 7: 31-37 merupakan salah satu contoh narasi biblis yang menggarisbawahi dimensi inklusivitas dan universalitas dalam pelayanan Yesus. Penelitian ini menganalisis narasi mukjizat penyembuhan seorang tuli dan gagap dalam Markus 7:31-37 dengan menggunakan pendekatan analisis naratif. Pendekatan ini menyoroti batas-batas cerita, konteks geografis, struktur alur, tindakan simbolis Yesus, dan unsur penokohan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perikop ini menegaskan universalitas pelayanan Yesus yang melampaui batas-batas etnis Yahudi, sekaligus mengungkapkan tindakan simbolis yang sarat makna teologis. Tindakan Yesus yang bersifat personal, dan respons orang banyak terhadap mukjizat tersebut, mencerminkan inklusivitas dan kepedulian yang tetap relevan bagi pembaca saat ini. Studi ini juga menawarkan refleksi kritis terhadap realitas kontemporer, khususnya terkait diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan kelompok marginal, serta mengajak Gereja dan masyarakat untuk membangun komunitas yang inklusif sebagai perwujudan kasih Allah yang universal. Dengan demikian, narasi biblis ini tidak hanya sekadar menampilkan peristiwa mukjizat secara historis, tetapi juga menyampaikan pesan teologis dan pastoral yang mendalam mengenai kasih dan inklusivitas pelayanan Yesus.
Transformasi Identitas dan Spiritual Pasca Kerasukan: Analisis Naratif atas Perikop Markus 5:1-20 Udu, Gebrile Mikael Mareska
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13455

Abstract

This article analyzes the story of Jesus casting out evil spirits from a possessed person in the Gerasene region using the narrative interpretation method. Researcher chose to use this method because it can discover the meaning of narrative. This method helps researcher to analyze the theological meaning hidden behind the structure of the story especially on the dynamics of the plot, characters, literal meaning, setting and the symbol used by the evangelist in Mark 5:1-20. The results of the study reveal a transformative experience of the possessed in terms of change in identity and spirituality after meeting with Jesus. He who was initially shackled by the power of evil spirits, living in the tombs, and was excluded from society, was restored by Jesus to become a civilized person, well-dressed, sane or a new man. This transformative experience aims to emphasize Jesus’ authority as the son of God before humans and evil spirits (legions).  This article, in turn, serves as an example that the story of Jesus’ exorcism does not merely describe Jesus’ victory or the power of darkness, but rather a reflection for readers to discover a new identity before God and willingly to be witnesses of faith in common life.AbstrakArtikel ini menganalisis kisah Yesus yang mengusir roh jahat dari pribadi yang kerasukan di daerah Gerasa dengan menggunakan metode tafsir naratif. Metode ini membantu peneliti untuk menganalisis dinamika alur, tokoh, latar serta pengalaman transformatif yang dialami oleh pribadi yang kerasukan tatkala berjumpa dengan Yesus. Keputusan peneliti untuk menggunakan metode tersebut karena mampu menemukan makna teologis yang tersembunyi di balik struktur cerita, karakter tokoh, makna literer serta simbol yang digunakan penginjil dalam teks Markus 5:1-20. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa adanya perubahan identitas dan spiritual yang dialami oleh si kerasukan pasca berjumpa dengan Yesus. Dia yang mulanya dibelenggu oleh kuasa roh jahat, hidup berkeliaran di kuburan, dan disingkirkan dari lingkungan masyarakat boleh dipulihkan oleh Yesus menjadi pribadi yang beradab atau singkatnya menjadi manusia baru. Pengalaman transformatif ini hendak menegaskan otoritas Yesus sebagai anak Allah di hadapan manusia dan roh jahat (legion). Artikel ini pada giliranya menjadi contoh bahwa kisah eksorsisme yang dilakukan Yesus tidak semata-mata menggambarkan kemenangan Yesus atau kuasa gelap tetapi cerminan bagi pembaca untuk menemukan identitas baru di hadapan Tuhan dan rela menjadi saksi iman dalam kehidupan bersama.
Analisis Naratif Injil Yohanes 20:24-29 Kristologi Tertinggi Iman Tomas dan Relevansinya bagi Anak Muda yang Goyah dalam Iman Anri, Toberias
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13432

Abstract

Belief is a difficult thing to express, especially if we are already disappointed. Similarly, Thomas did not immediately believe the other disciples' testimony regarding Jesus' resurrection. He was often called a doubter because of this attitude. His faith in Jesus was considered weak. In fact, he who initially confidently followed Jesus now does not believe in Him. He still doubts Jesus' divinity. Today, many people, especially young people, also experience situations similar to Thomas's. They often question their faith. This article uses a library study method. The sources used are books and journal articles available on the internet. The results of the study show a relationship between John 20:24-29 and the faith of young people who experience many challenges. The challenges they face in their lives of faith are also increasingly complex. Young people often doubt or even lose faith in their faith. The role of parents and the church in providing education and passing on spiritual values is crucial. Young people need a mature faith to face the various challenges of faith today. The figure of Thomas can be an example for young people who experience wavering in their faith. In the midst of their shaky faith, it is hoped that young people will also be able to become like Thomas who acknowledged Jesus as Lord and Allah.AbstrakPercaya adalah hal yang sulit untuk kita ungkapkan, terlebih jika sudah terlanjur kecewa. Sama halnya dengan Tomas yang tidak langsung mempercayai kesaksian murid yang lain mengenai kebangkitan Yesus. Ia kerap disebut sebagai peragu karena sikapnya tersebut. Imannya kepada Yesus dianggap tidak kuat. Nyatanya, ia yang awalnya dengan yakin mengikuti Yesus kini malah tidak percaya akan Dia. Ia masih ragu akan keilahian Yesus. Dewasa ini, banyak orang, khususnya anak muda yang juga mengalami situasi seperti yang dialami oleh Tomas. Mereka kerap mempertanyakan iman mereka. Tulisan menggunakan metode studi kepustakaan. Sumber-sumber yang digunakan adalah buku-buku dan juga artikel jurnal yang tersedia di internet. Hasil studi menunjukkan adanya hubungan antara Yohanes 20:24-29 dengan iman anak muda yang mengalami banyak tantangan. Tantangan yang mereka hadapi dalam hidup beriman juga semakin kompleks. Kerap anak muda menjadi ragu bahkan menjadi tidak percaya akan iman mereka. Peran orang tua dan gereja dalam memberikan edukasi dan mewariskan nilai-nilai spiritual sangat diperlukan. Anak muda perlu bekal iman yang matang dalam menghadapi berbagai tantangan iman saat ini. Tomas bisa menjadi contoh bagi anak muda yang mengalami kegoyahan dalam iman. Di tengah kegoyahan imannya, kiranya anak muda juga kemudian mampu menjadi seperti Tomas yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah.
Makna Teologis Misa Syukur Panen dalam Konteks Budaya Dayak Kalimantan Barat Nona, Tryepina Paulina; Pius X, Intansakti
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13896

Abstract

This article is based on the harvest thanksgiving tradition in Dayak culture in West Kalimantan, which finds significant intersection with the celebration of the Harvest Thanksgiving Mass in the Catholic Church, presenting a phenomenon of profound faith inculturation. Aiming to explore the theological meaning of the Harvest Thanksgiving Mass, this study positions the celebration as a concrete form of encounter between Christian faith and local Dayak wisdom. Using a qualitative method with a theological and anthropological literature review approach, this study analyzes the relationship between traditional rites and the Church's liturgy. The results of this article show that the Harvest Thanksgiving Mass is not merely an expression of gratitude, but contains rich theological meaning, including the dimensions of universal gratitude, strengthening the fellowship of the people, and renewing reconciliation between humans, nature, and the Creator. Overall, the Harvest Thanksgiving Mass functions as a concrete manifestation of the Catholic Church's inculturative faith, which is dynamic and deeply rooted in the Dayak cultural context.AbstrakArtikel ini berlatar belakang dari tradisi syukur panen dalam kebudayaan Dayak di Kalimantan Barat yang menemukan titik temu signifikan dengan perayaan Misa Syukur Panen dalam Gereja Katolik, menyajikan sebuah fenomena inkulturasi iman yang mendalam. Bertujuan untuk menggali makna teologis Misa Syukur Panen, studi ini menempatkan perayaan tersebut sebagai bentuk konkret perjumpaan iman Kristiani dan kearifan lokal Dayak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka teologis dan antropologis, penelitian ini menganalisis relasi antara ritus adat dan liturgi Gereja. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa Misa Syukur Panen tidak hanya sekadar ungkapan terima kasih, namun mengandung makna teologis yang kaya, meliputi dimensi syukur universal, penguatan persekutuan umat, serta pembaruan rekonsiliasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Secara keseluruhan, Misa Syukur Panen berfungsi sebagai wujud nyata iman inkulturatif Gereja Katolik yang secara dinamis dan hidup berakar kuat dalam konteks budaya Dayak.

Page 1 of 1 | Total Record : 4