cover
Contact Name
Muhammad Istiqlal
Contact Email
m.istiqlal@gmail.com
Phone
+62895366103685
Journal Mail Official
jurnalkognisi@gmail.com
Editorial Address
Pulutan Lor, Rt. 1, Rw 2 Sidorejo Salatiga, Jawa Tengah
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan
ISSN : -     EISSN : 29870240     DOI : https://doi.org/10.59698/kognisi.v1i1.2
Core Subject : Education, Social,
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan mencakup penelitian tindakan kelas, penelitian tindakan sekolah, dan penelitian yang dilakukan untuk perbaikan kualitas pembelajaran di kelas. Jurnal Kognisi bertujuan untuk membantu mengatasi masalah-masalah pembelajaran di kelas dan masalah manajemen pengelolaan sekolah. Peneliti, Akademisi, Praktisi (Guru dan Kepala Sekolah), dan mahasiswa dipersilakan untuk menerbitkan hasil riset PTK dan PTS nya di jurnal Kognisi
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol. 3 no. 2 (2025)" : 5 Documents clear
Motivation-Supportive Instructional Supervision and Teacher Professional Practice: A Qualitative Case Study in an Indonesian Islamic Junior Secondary School Nur Indah Febriyani
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.385

Abstract

Instructional supervision is often implemented as a compliance-oriented appraisal, although its developmental value depends on whether teachers experience the process as professionally useful and psychologically supportive. This qualitative case study examined how motivation-supportive instructional supervision was enacted at SMP Islam Plus At-Tohari, an Islamic junior secondary school in Central Java, Indonesia; how school personnel perceived its influence on teachers’ professional practice; and what conditions enabled or constrained implementation. Participants were the principal, the vice principal for curriculum, and three Islamic religious education teachers selected purposively. Data were generated through interviews, observation, and document analysis and interpreted through an iterative thematic process supported by source and method triangulation. Three themes were identified. First, supervision was organized as a recurring cycle of classroom observation, dialogic feedback, recognition of effective practice, and jointly planned follow-up. Second, participants associated this approach with greater openness to feedback, confidence, lesson preparation, classroom management, and experimentation with instructional methods; these findings represent perceived changes rather than causal effects. Third, implementation depended on leadership commitment, adequate resources, a collegial culture, teachers’ understanding of supervision, and intrinsic willingness to improve, while time pressure, evaluation anxiety, resistance, and heterogeneous career-stage needs remained significant constraints. Interpreted through self-determination theory, effective supervision supported autonomy through voice and participation, competence through specific and actionable feedback, and relatedness through respectful professional relationships. The study contributes a context-sensitive model of supervision as a need-supportive professional-learning process rather than a periodic inspection event.
Peer Coaching dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar Muhammad Taufiq Ridlo Maghriza
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.386

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pelaksanaan peer coaching serta persepsi para partisipan mengenai kontribusinya terhadap profesionalisme guru di SD Muhammadiyah Suruh. Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pendekatan kualitatif yang melibatkan 18 informan, terdiri atas satu kepala sekolah dan 17 guru. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi pembelajaran, dan telaah dokumen. Data kemudian dianalisis secara tematik melalui proses pengodean berulang, pengembangan tema, serta triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peer coaching dilaksanakan melalui tahapan persiapan, pembentukan kelompok kecil, perencanaan praobservasi, observasi pembelajaran, pemberian umpan balik reflektif, dan dokumentasi tindak lanjut. Para partisipan menilai bahwa proses tersebut berkontribusi terhadap perencanaan pembelajaran yang lebih terarah, meningkatnya keberanian guru untuk menerapkan pembelajaran aktif dan berbantuan teknologi, menguatnya kemampuan evaluasi diri, serta berkembangnya komunikasi kolegial. Pelaksanaan program didukung oleh kepemimpinan kepala sekolah, alokasi waktu khusus, ketersediaan fasilitas, dan komitmen guru. Namun, keberlanjutan program masih menghadapi kendala berupa keterbatasan jadwal, ketimpangan kemampuan dalam memberikan umpan balik, kekhawatiran guru terhadap proses penilaian, dan belum tersedianya prosedur yang terstandar. Karena penelitian ini tidak menggunakan pengukuran prates dan pascates, kelompok pembanding, maupun statistik hasil belajar siswa, temuan perlu dipahami sebagai bukti kualitatif mengenai kontribusi yang dipersepsikan, bukan sebagai bukti efektivitas kausal. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan protokol yang terstruktur, pelatihan pemberian umpan balik, penjadwalan siklus coaching secara berkala, dan evaluasi menggunakan pendekatan metode campuran.
Improving Students’ Learning Participation through the Snowball Throwing Learning Model Sintia Martogi Hutapea; Herlian Pasha; Asep Ikbal; Ali Sunarno
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.569

Abstract

This classroom action research aims to overcome the problem of low student participation in Civics learning, specifically on the material of Citizens' Rights and Obligations in class X-1 of SMAN 5 Palangka Raya. The study applied the Snowball Throwing cooperative learning model to describe its implementation and analyze its impact on increasing student participation. The research method used was Classroom Action Research with the Kemmis & McTaggart model, conducted in one cycle involving 42 students. Data were collected through observation and documentation. The results showed that the implementation of the Snowball Throwing model was carried out effectively with a high level of success. Furthermore, there was a significant increase in all indicators of student participation, including activeness in asking questions, answering questions, group discussion, expressing opinions, and completing tasks on time, with an average increase of 23.4%. It was concluded that the Snowball Throwing model is an effective innovative solution to increase student participation and create a dynamic and interactive Civics learning atmosphere.
Pengaruh Persepsi Terhadap Fasilitas Laboratorium Komputer dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Autocad Siswa Lady Maria Monica Agustine Fonataba; Wahyu Dwi Mulyono
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.620

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji kontribusi persepsi siswa terhadap fasilitas laboratorium komputer dan minat belajar terhadap hasil belajar AutoCAD pada Program Keahlian Konstruksi Gedung dan Sanitasi (KGS). Penelitian menggunakan desain kuantitatif ex post facto dengan penafsiran asosiatif, bukan kausal. Sampel analitik mencakup 103 siswa kelas X dari tiga kelas KGS yang memiliki data lengkap. Persepsi terhadap fasilitas laboratorium diukur dengan 24 butir, minat belajar dengan 18 butir, sedangkan hasil belajar diukur melalui tugas praktik AutoCAD menggunakan rubrik tujuh komponen. Konsistensi internal instrumen tergolong baik (α = 0,869 dan α = 0,901). Data lapangan menunjukkan hanya 16 siswa (15,5%) memiliki laptop pribadi, sedangkan 87 siswa (84,5%) tidak memilikinya; observasi juga menemukan beberapa perangkat laboratorium yang tidak berfungsi optimal. Hasil regresi sederhana menunjukkan bahwa fasilitas laboratorium tidak berkontribusi signifikan terhadap hasil belajar, B = -0,092, t(101) = -0,814, p = 0,418, R² = 0,007. Minat belajar juga belum menunjukkan kontribusi signifikan, B = -0,237, t(101) = -1,838, p = 0,069, R² = 0,032. Secara simultan, kedua prediktor tidak signifikan, F(2, 100) = 1,773, p = 0,175, R² = 0,034. Temuan ini tidak menunjukkan bahwa fasilitas dan minat tidak penting, tetapi mengindikasikan bahwa keduanya belum cukup menjelaskan variasi keterampilan AutoCAD. Peningkatan pembelajaran perlu memadukan pemerataan akses perangkat, perbaikan laboratorium, latihan terstruktur, umpan balik formatif, dan pengukuran faktor lain seperti kemampuan awal, literasi digital, efikasi diri, serta regulasi diri.
Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Islam dalam Pemikiran Buya Hamka dan Mahmud Yunus: Studi Komparatif dan Relevansinya bagi Pendidikan Kontemporer Ika Ayu Rohmiyanti; Mukh. Nursikin
Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/kognisi.v3i2.362

Abstract

Artikel ini menganalisis dan membandingkan konstruksi kurikulum pendidikan Islam dalam pemikiran Buya Hamka dan Mahmud Yunus serta menilai relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Naskah awal yang cenderung deskriptif-biografis direkonstruksi menjadi kajian komparatif berbasis telaah pustaka integratif. Sumber primer berupa karya-karya utama kedua tokoh yang membahas pendidikan, akhlak, pengajaran, dan lingkungan pendidikan, sedangkan sumber sekunder terdiri atas artikel ilmiah yang dapat diakses secara daring mengenai pemikiran Hamka, Mahmud Yunus, integrasi kurikulum, pendidikan karakter, dan reformasi pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui identifikasi unit gagasan, kategorisasi tema, perbandingan antarkategori, serta sintesis kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Hamka dan Mahmud Yunus sama-sama menolak reduksi pendidikan Islam menjadi transmisi pengetahuan agama semata. Keduanya menempatkan akhlak, kebermanfaatan sosial, keseimbangan dunia-akhirat, peran keteladanan pendidik, dan keterhubungan keluarga-sekolah-masyarakat sebagai unsur penting pendidikan. Perbedaannya terletak pada tekanan konseptual: Hamka lebih kuat pada pembentukan pribadi, kemerdekaan berpikir, adab, perkembangan potensi, dan relasi pendidikan dengan kebudayaan; sedangkan Mahmud Yunus lebih sistematis dalam merumuskan tujuan, struktur isi, metode, jenjang, pengajaran bahasa Arab, integrasi ilmu agama dan umum, serta pembaruan kelembagaan. Sintesis keduanya menghasilkan kerangka kurikulum Islam integratif-humanistik yang mencakup orientasi teologis-etis, integrasi pengetahuan, pedagogi aktif dan bertahap, pembentukan karakter, relevansi sosial, serta ekologi pendidikan kolaboratif. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tetap produktif sebagai sumber konseptual untuk merancang kurikulum yang religius, adaptif, tidak dikotomis, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5