cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+6288210204258
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
FMIPA Lanti 1 Gedung Usman bin Affan Kompleks Unisma Jl. MT. Haryono 193
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : https://doi.org/10.33474/j.sa-v6i1.2023
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia; studi proses-proses biologi pada tanah/lahan merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan. (Natural refers to the material that exists in living things (creation). All compounds that exist in the body of living things and are synthesized by biochemical events are organic products. The process of change towards mineralization by microorganisms is a decomposition event and in this case also occurs in a life. Furthermore, biogeochemistry; study of biological processes on soil/land is a cycle of matter and this is very important in life).
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2024)" : 7 Documents clear
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Dan Lama Perendaman Terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Anggur (Vitis vinefera L.): Effect of Concentration of Shallot Extract (Allium cepa L.) and Soaking Time on Growth of Grape Cuttings (Vitis vinefera L.) Al Anshori, Muhajir Makmun; Laili , Saimul; Tito, Sama'iradat
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.15461

Abstract

Grape (Allium cepa L.) is a plant that is widely used as a processed product and consumed in the form of fresh fruit. The production of grapes should be increased by using cuttings because the provision of seeds from seeds is relatively slow. Propagation of plants by cuttings is limited by the number of cuttings that form roots. This can be caused by a lack of root-forming hormones. As a substitute for synthetic auxin, onion can be used. This study aimed to analyze the effect of the concentration of shallot extract (Allium cepa L.) and soaking time on the growth of grape cuttings (vitis vinifera L.). The design used in this study was a factorial completely randomized design consisting of 2 factors. The first factor is onion extract which consists of 5 concentrations, namely 0, 25, 50, 75, and 100% shallot extract and the second factor is soaking time which consists of 4 levels, namely 6, 12, 18 and 24 hours so that there are 20 treatments. , each treatment was repeated 3 times. Parameters observed in this study were number of roots, shoot length, number of leaves, root length, percentage of live cuttings, wet weight and dry weight of the plant. The results showed that there was a significant interaction between the concentration of onion extract and soaking time on the observed parameters of shoot length, number of leaves, root length, number of roots, wet weight and dry weight of the plant. but not on the percentage of survival. Treatment with 50% concentration of onion extract with 18 hours of soaking time was able to accelerate the growth of shoot length, root length, wet weight and dry weight in plants. Keywords: Shallot Extract, Soaking Time, Grape Cuttings   ABSTRAK Tanaman anggur (Allium cepa L.) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai produk olahan dan dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Produksi anggur harus ditingkatkan dengan menggunakan stek karena penyediaan bibit dari biji relatif lambat. Perbanyakan tanaman dengan stek dibatasi oleh sedikitnya stek yang membentuk akar. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya hormon pembentuk akar, Sebagai pengganti auksin sintetis dapat digunakan bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian konsentrasi ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dan lama perendaman terbaik terhadap pertumbuhan stek tanaman anggur (vitis vinifera L.). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah ekstrak bawang merah yang terdiri dari 5 konsentrasi yaitu 0, 25, 50, 75,dan 100 % ekstrak bawang merah dan faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 4 taraf yaitu 6, 12, 18 dan 24 jam sehingga terdapat 20 perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan. parameter yang diamati pada penelitian ini adalah jumlah akar, panjang tunas, jumlah daun, Panjang akar, persentase stek hidup, berat basah dan berat kering tanaman . Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan konsentrasi ekstrak bawang merah dan lama perendaman terhadap parameter pengamatan panjang tunas, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, berat basah dan berat kering tanaman. namun tidak pada persentase hidup. Perlakuan konsentrasi 50% ekstrak bawang merah dengan 18 jam waktu perendaman mampu mempercepat pertumbuhan panjang tunas, panjang akar,berat basah dan berat kering pada tanaman. Kata kunci: Ekstrak Bawang Merah, Lama Perendaman, Stek Tanaman Anggur
Preferensi Lebah Madu Apis mellifera terhadap Berbagai Jenis Pakan Tambahan berdasarkan Jumlah Kunjungan dan Konsumsi Pakan di Peternakan PT Kembang Joyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur: Apis mellifera Honey Bee Preference for Various Types of Suplementary Feed based on Number of Visits and Feed Consumption at PT Kembang Joyo Farm, Malang Regency, East Java Hidayatul, Romdiyah; Tito, Sama'iradat; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.16144

Abstract

Apis mellifera honey bee is the most widely cultivated bee species in Indonesia, one of which is the Kembang Joyo farm. The need for bee feed in nature is dwindling and causes the use of additional feed to maintain bee colonies by breeders. The variety of feed types causes the need for research on bee preferences for additional feed to find the type of feed that bees most prefer and can be reached by farmers. The purpose of this study was to compare the preferences of honey bees to various types of supplementary feed at Kembang Joyo Farm and to determine the type of supplementary feed that Apis mellifera honey bees preferred. This research method is an experimental method with 6 treatments and 23 replications which were analyzed through the ANOVA test which was then continued by the Tukey test using the PAST application. The results showed that each type of feed was favored by bees with different numbers of visitors. The type of feed that was most preferred by bees based on the number of visitors was cane sugar solution with 116 individual bees visitors in one replication, while based on feed consumption the most consumed was cane sugar solution with feed consumption of 0.24 ml/individual. Apis mellifera honey bee likes cane sugar solution based on the aroma factor and sucrose content. Keywords: Apis mellifera, Preference, Suplementary food   ABSTRAK Lebah madu Apis mellifera merupakan spesies lebah yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia, salah satunya di peternakan Kembang Joyo. Kebutuhan pakan lebah di alam yang semakin menipis menyebabkan peternak menggunakan pakan tambahan untuk mempertahankan koloni lebah. Jenis pakan yang bervariasi menyebabkan perlunya penelitian tentang preferensi lebah terhadap pakan tambahan untuk menemukan jenis pakan yang paling disukai oleh lebah dan dapat dijangkau oleh peternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  membandingkan preferensi lebah madu terhadap berbagai jenis pakan tambahan di Peternakan Kembang Joyo dan untuk mengetahui jenis pakan tambahan yang paling disukai lebah madu Apis mellifera. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode eksperimental dengan 6 perlakuan dan 23 kali ulangan yang dianalisa dengan uji ANOVA yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Tukey menggunakan aplikasi PAST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing jenis pakan disukai oleh lebah namun dengan jumlah pengunjung yang berbeda-beda. Adapun jenis pakan yang paling disukai lebah berdasarkan jumlah pengunjung yakni larutan gula tebu dengan 116 individu lebah pengunjung dalam satu kali ulangan, sedangkan berdasarkan konsumsi pakan yang paling banyak dikonsumsi adalah larutan gula tebu dengan konsumsi pakan sebanyak 0,24 ml/individu. Lebah madu Apis mellifera menyukai larutan gula tebu berdasarkan faktor aroma dan kadar sukrosa. Kata kunci: Apis mellifera, Pakan tambahan, Preferensi
Analisis Perbandingan Kualitas Air sumur Bor dan sumur gali di desa gesikan kecamatan pakel kabupaten Tulungagung: Comparative Analysis of Water Quality of Drilling Wells and Dug Wells in Gesikan Village, Pakel District, Tulungagung Regency Ilma, Habibatul; Laili, Saimul; Prasetyo, Hamdani Dwi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.16337

Abstract

Water is the source of life which roles essentially on living things' lives. Human is one of the living things that dominate the use of water. Naturally, in terms of using it for daily use clean water is needed. To be categorized as clean water, it has to meet the health requirements of free pollution and meet the quality standards physically, chemically, and biologically. However, there are natural factors and artificial factors which can predispose the water quality of an area, such as the well type and its construction. This research is aimed to know the existence of the difference between the drilled and the dug well based on the physical, chemical, and biological parameters, and to know the water advisability on the water source to be used by the people on fulfilling daily needs that meet the quality standards based on PP RI No. 82 of 2001 and PERMENKES RI No. 32 of 2017. The samples is drilled well water and dug well water each of amounted to 10 samples and was determined purposive. This research was analyzed by quantitative descriptive using Independent T-Test with the help of PAST 4.09 software. The result of the research obtained on temperature, and pH and dissolved oxygen indicators show that the water quality is better in the drilled well than in the dug well. Meanwhile, dissolved solids, suspended solids, salinity, hardness, dissolved CO2, and Coliform total show that the water quality is better on the dug well than on the drilled well. Nevertheless, the test Independent T-Test result water quality between the drilled well and dug well that there is no significant difference (P > 0,05). And on each measured parameter, it shows that still in accordance the clean water quality standards based on government regulation, so that the water still advisable to be used for daily needs fulfillment. Keywords: Comparison, Water Quality, Drilled Wells, Dug Wells ABSTRAK Air merupakan sumber kehidupan yang berperan penting dalam kehidupan makhluk hidup. Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang mendominasi akan pemanfaatan kebutuhan air. Tentunya dalam pemanfaatan untuk kehidupan sehari-hari dibutuhkan kualitas air yang bersih. Dapat dikatakan sebagai air bersih harus memenuhi syarat kesehatan bebas dari pencemaran dan memenuhi standart kualitas secara fisika, kimia, dan biologi. Namun, terdapat faktor alami dan faktor buatan yang dapat mempengaruhi kualitas air pada suatu daerah, salah satunya faktor buatan adalah jenis sumur dan konstruksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kualitas air pada sumur bor dan sumur gali berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi, serta untuk mengetahui kelayakan air pada sumber air tersebut guna dimanfaatkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang sesuai dengan standart baku mutu berdasarkan PP RI No.82 Tahun 2001 dan PERMENKES RI No.32 Tahun 2017. Penelitian ini dilakukan secara analisa deskriptif kuantitatif. Sampel ditentukan secara purpisove sampling dengan jumlah 20 sampel. Data dianalisa menggunakan Uji Independent T-Test pada software PAST 4.09. Pada indikator suhu sebagai parameter fisika, pH dan oksigen terlarut sebagai parameter kimia menunjukkan kualitas airnya lebih baik pada sumur bor dari pada sumur gali. Sementara pada parameter fisika (padatan terlarut, padatan tersuspensi); parameter kimia (salinitas, kesadahan CaCO3, dan CO2 terlarut) serta parameter biologi total Coliform menunjukkan kualitas airnya lebih baik pada sumur gali dari pada sumur bor. Hasil uji beda pada setiap indikator diperoleh nilai p > 0,05. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan pada kualitas air antara sumur bor dan sumur gali. Dan setiap parameter terukur menunjukkan masih dibawah standart baku mutu air bersih yang artinya air masih layak digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kata kunci: Perbandingan, Kualitas Air, Sumur Bor, Sumur Gali
Serat Kasar Kulit Buah dan Kapuk Randu (Ceiba pentandra Gaertn) Dari Malang dan Pasuruan: Crude Fiber of fruit peel and Kapok (Ceiba pentandra Gaertn) from Malang and Pasuruan Anggraeni, Agintha Silvya; Syauqi, Ahmad; Ramadhan, Majida
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.17452

Abstract

In kapok, especially in fruit organs, there are kapok fibers which have cellulose content of about 65-67% in it, and lignin which reaches 14-58%. The high potential of fiber in kapok fruit can be used as raw material for sugar hydrolysate products. Crude fiber consists of cellulose, hemicellulose and lignin. This study aims to determine the difference in crude fiber content of kapok fruit (Ceiba pentandra Gaertn) from Malang and Pasuruan. This study uses a quantitative descriptive method with the design of the analysis of the difference between the two population means. Consists of two samples of kapok fiber peel, the first from Malang (A) with 9 replications and the second from Pasuruan (B) with 9 replications. Fiber analysis using the modified Wendee method. Data analysis is used, namely t-test. In sample A the average crude fiber contained minerals is 61.1%, while in sample B the average is 63.9%. Based on the analysis and t test, the two samples were not significantly different as shown at P> 0.05. Keyword : Crude fiber, Ceiba pentandra Gaertn, proximate analysis, Wendee method.   ABSTRAK Pada kapuk, khususnya pada organ buah terdapat serat kapuk yang memiliki kandungan selulosa sekitar 65-67 % didalamnya, serta lignin yang mencapai 14-58%. Potensi serat pada buah kapuk yang tinggi dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku produk hidrolisat gula. Serat kasar terdiri  dari  selulosa, hemiselulosa dan lignin. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan serat kasar buah kapuk randu (Ceiba pentandra Gaertn) dari Malang dan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan rancangan analisis perbedaan dua rerata dua populasi. Terdiri dari dua sampel kulit buah serat kaspuk, yang pertama dari Malang (A) dengan 9 kali ulangan dan yang kedua dari Pasuruan (B) dengan 9 kali ulangan. Analisis serat menggunakan metode modifikasi Wendee. Analisis data yaitu digunakan yaitu Uji-t. Pada sampel A rata-rata serat kasar yang terkandung mineral yaitu 61,1%, sedangkan pada sampel B rata-rata 63,9%. Berdasarkan analisis dan uji t, dua sampel tidak berbeda nyata ditunjukan pada P>0,05. Kata kunci : Serat kasar, Ceiba pentandra Gaertn, analisis proksimat, metode Wendee.
Uji Efektivitas Perasan Daun Beluntas (Pluchea indica) Terhadap Mortalitas Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus): TEST THE EFFECTIVENESS OF BELUNTAS LEAF EXTRACT (Pluchea indica) AGAINST MORTALITY OF SUBTERRANEAN TERMITES (Coptotermes curvignathus) Saputri, Rizki Dwi; Djuniwati Lisminingsih, Ratna; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.18479

Abstract

Subterranean termites are a type of termite that can cause damage to buildings made of wood. The bioactive content of beluntas leaves has the potential as a vegetable pesticide that can kill termites. Research has been carried out to determine the effect and effective concentration of beluntas leaf juice on the LC50 value, as well as the effect of abiotic factors on the mortality of subterranean termites. The parameters of this study were termite mortality after being given treatment and measuring abiotic factors during the study. This study used a completely randomized design (CRD) with 2 stages of testing, a preliminary test and a definitive test. The abiotic factor parameters measured were air temperature, air humidity, soil moisture, and light intensity. The definitive test to get the LC50 used 4 treatments, namely 0%, 40%, 63%, and 100%, the concentration according to the results of the logarithm calculation from the results of the preliminary test. Observations were carried out every 24 hours for 72 hours. Data were analyzed using probit analysis as well as ANOVA test and chi-square test for abiotic factor parameters. The results of the probit analysis test showed that the LC50-24 hours was 48%, the LC50-48 hours was 23.75% and the LC50-72 hours was 12.74%. The results of the ANOVA test showed that there were significant differences in the mortality of subterranean termites after being treated with concentrations of 0%, 40%, 50%, and 100%. The most effective concentration is 100% concentration. The effective concentration of beluntas leaf juice (Pluchea indica) can kill 50% of subterranean termites for 24, 48 and 72 hours, namely LC50-24 hours is 40%, LC50-48 hours is 23.75%, LC50-72 hours is 12.74 %. Keywords: Beluntas Leaves (Pluchea indica), Mortality, Subterranean Termites (Coptotermes curvignathus)   ABSTRAK Rayap tanah merupakan jenis rayap yang dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan yang berbahan dasar kayu. Kandungan bioaktif daun beluntas berpotensi sebagai pestisida nabati yang dapat membunuh rayap. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan kosentrasi efektif perasan daun beluntas nilai LC50, serta pengaruh faktor abiotik terhadap mortalitas rayap tanah. Parameter penelitian ini yakni mortalitas rayap setelah diberikan perlakuan serta mengukur faktor abiotik selama penelitian. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 tahap pengujian, uji pendahuluan dan uji definitif. Parameter faktor abiotik yang diukur yakni suhu udara, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan intensitas cahaya. Uji definitif untuk mendapatkan LC50 menggunakan 4 perlakuan yaitu 0%, 40%, 63%, dan 100%, kosentrasi sesuai hasil perhitungan logaritma dari hasil uji pendahuluan. Durasi pengamatan dilakukan setiap 24 jam selama 72 jam. Data dianalisis dengan menggunakan analisis probit serta uji ANOVA dan uji chi-square untuk parameter faktor abiotik. Hasil uji analisis probit menunjukkan menunjukkan nilai LC50-24 jam adalah 48%, LC50-48 jam adalah 23,75% dan LC-72 jam sebesar 12,74 %. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signfikan mortalitas rayap tanah setelah diberi perlakuan kosetrasi 0%, 40%, 50%, dan 100%. Kosentrasi yang paling efektif dalam mempengaruhi mortalitas rayap tanah yaitu kosentrasi 100%. Kata kunci: Daun Beluntas (Pluchea indica), Mortalitas, Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus)
Analisis Kualitas Spermatozoa Segar pada Sapi Simmental dan Sapi Limousin Terhadap Berbagai Fraksi Ejakulasi: Analysis of Fresh Spermatozoa Quality in Simmental Cattle and Limousin Cattle Againts Various Ejaculation Fractions Maghfiroh, Faldha Laili; Mubarakati, Nurul Jadid; Zayadi, Hasan; Musaffak, Taufik Ridwan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.18808

Abstract

One effort to improve the quality of males is to collect semen to be used for the Artificial Insemination (AI) process. The ejaculate fraction is one of the factors that can affect the quality of fresh spermatozoa in cattle. This study aims to determine the quality of fresh spermatozoa in Simmental cattle and Limousin cattle for various fractions of ejaculate. This study used fresh semen with each cow aged 3-4 years and 5-6 years. This research method used a Completely Randomized Factorial Design with 4 repetitions. Observation of spermatozoa quality was carried out macroscopically and microscopically. The data obtained were analyzed using the F test and Least Significant Different test (BNT). The results showed that semen volume had a significant difference (p<0.05) for different types of cows, ages, and ejaculatory fractions. The color, pH, consistency and concentration of spermatozoa had significant differences (p<0.05) for different ejaculate fractions. There was no significant difference (p>0.05) for motility and abnormalities of spermatozoa for different types of cows, ages and ejaculatory fractions. It can be interpreted that different breeds of cattle and ages can have a significant effect on semen volume, while the ejaculate fraction can have a significant effect on the volume, color, pH, consistency and concentration of spermatozoa. While the different types of cattle, age, and ejaculate fraction did not have a significant effect on the motility and abnormalities of spermatozoa. Keywords : Spermatozoa Quality, Simmental Cattle, Limousin Cattle, Ejaculation Fraction.   ABSTRAK Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pejantan adalah dengan mengumpulkan semen yang akan digunakan untuk proses Inseminasi Buatan (IB). Fraksi ejakulasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas spermatozoa segar pada sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas spermatozoa segar pada sapi Simmental dan sapi Limousin terhadap berbagai fraksi ejakulasi. Penelitian ini menggunakan semen segar dengan masing-masing sapi berumur 3-4 tahun dan 5-6 tahun. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 4 kali ulangan. Pengamatan kualitas spermatozoa dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume semen memiliki perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap jenis sapi, umur, dan fraksi ejakulasi yang berbeda. Warna, pH, konsistensi dan konsentrasi spermatozoa memiliki perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap fraksi ejakulasi yang berbeda. Motilitas dan abnormalitas spermatozoa tidak memiliki perbedaan yang nyata (p>0,05) terhadap jenis sapi, umur, dan fraksi ejakulasi yang berbeda. Dapat disimpulkan bahwa bangsa sapi dan umur berbeda dapat memberikan pengaruh yang nyata pada volume semen saja sedangkan fraksi ejakulasi dapat memberikan pengaruh yang nyata pada volume, warna, pH, konsistensi dan konsentrasi spermatozoa. Sedangkan jenis sapi, umur, dan fraksi ejakulasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Kata Kunci : Kualitas Spermatozoa, Sapi Simmental, Sapi Limousin, Fraksi Ejakulasi.
Pengaruh Ekstrak Kulit Umbi Bawang Merah (Allium cepa) dan Bawang Putih (Allium sativum) untuk Pertumbuhan Anggrek Dendrobium: The Effect of Shallot (Allium cepa) and Garlic (Allium sativum) Skin Extracts on Dendrobium Orchid Growth Marista, Bilqis; Rahayu, Tintrim; Jayanti, Gatra Ervi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i2.18809

Abstract

Genetic and physiological factors influence dendrobium orchids growth and flowering. In maintaining Dendrobium orchids, the cultivation process after acclimatization greatly affects growth and development, so its quality and sustainability can be threatened. Onion bulb skin and garlic bulb skin were able to increase germination and growth variables. This research aims to determine the effect of the most effective concentration on the growth of Dendrobium orchids. This research method used an experimental method with a completely randomized design (CRD) with 24 plants, research parameters included the number of new shoots, number of new shoots, number of new roots, new root length, leaf length, total number of leaves, plant height, and weight. Plants were analyzed descriptively, and multivariate correlation tests were using IBM software. The results showed that the M40: P20 treatment was the best treatment with parameters that responded, namely the number of new shoots, length of new roots, length of leaves, total number of leaves and plant height. This shows that the administration of shallot bulb skin extract and garlic bulb skin extract positively affected several parameters. Keywords : acclimatization, Dendrobium, effectiveness, parameters, plants.   ABSTRAK Anggrek Dendrobium dalam pertumbuhan dan pembungaan dipengaruhi faktor genetik dan faktor fisiologis. Dalam pemeliharaan anggrek Dendrobium proses budidaya setelah aklimatisasi sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kualitas dan kelestraiannya dapat terancam. Kulit umbi bawang merah dan kulit umbi bawang putih mampu meningkatkan perkecambahan dan variabel pertumbuhan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dari konsentrasi yang paling efektif terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium. Metode penelitian menggunakan eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 24 tanaman, parameter penelitian meliputi jumlah tunas baru, jumlah daun tunas baru, jumlah akar baru, panjang akar baru, panjang daun, total jumlah daun, tinggi tanaman, dan berat kering tanaman yang dianalisis secara deskriptif dan uji korelasi multivariat test menggunakan software IBM. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan M40: P20 adalah perlakuan terbaik dengan parameter yang merespon yaitu jumlah daun tunas baru, panjang akar baru, panjang daun, jumlah total daun dan tinggi tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit umbi bawang merah dan kulit umbi bawang putih memberikan pengaruh positif pada beberapa perameter. Kata kunci: aklimatisasi, Dendrobium, efektif, parameter, tanaman.

Page 1 of 1 | Total Record : 7