cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mental Health Concerns
ISSN : 29645042     EISSN : 29645034     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan jiwa meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok rentan. Penelitian kesehatan jiwa susuai tren kekinian.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023" : 5 Documents clear
Pengaruh brisk walking exercise terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi Dede Azim, Dede Nur Aziz Muslim; Anri, Anri; Suprapti, Tuti
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.321

Abstract

Background: The number of people suffering from high blood pressure continues to increase from year to year, and it is estimated that 1.5 billion people will experience high blood pressure by 2025. West Java ranks second as the province with the highest number of hypertension cases in Indonesia with 39.60%. Hypertension therapy includes therapy using drugs containing anti-hypertensive, while non-pharmacological therapy is treatment that comes from natural ingredients, and also exercise therapy. Brisk Walking Exercise is a form of aerobic exercise with a form of moderate activity exercise for hypertensive patients using the technique brisk. Purpose: To determine the effect of Brisk Walking Exercise on blood pressure in elderly people with hypertension. Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest approach was used as the research design. Results: Research shows that brisk walking exercise can make a difference in blood pressure. The more often you do this brisk walking exercise, the more likely it is that blood pressure in people with hypertension will decrease. Conclusion: Brisk Walking Exercise has an influence on changes in blood pressure in hypertension sufferers in the Gunungsari Health Center working area so it needs to be used as a reference to be implemented in the community of hypertension sufferers. Suggestion: It is hoped that the community can apply the Brisk Walking Exercise to lower blood pressure in hypertension sufferers. Keywords: Brisk Walking Exercise; Blood Pressure; Elderly Pendahuluan: Jumlah penderita tekanan darah tinggi terus meningkat dari tahun ke tahun, dan diperkirakan 1,5 miliar orang akan mengalami tekanan darah tinggi pada tahun 2025. Jawa Barat menempati urutan kedua sebagai provinsi dengan jumlah kasus hipertensi tertinggi di Indonesia dengan 39,60%. Terapi hipertensi meliputi terapi menggunakan obat-obatan yang mengandung anti hipertensive, sedangkan terapi non farmakologis adalah pengobatan yang berasal dari bahan-bahan alami, dan juga terapi olahraga Brisk Walking Exercise merupakan salah satu bentuk latihan aerobic dengan bentuk latihan aktivitas sedang pada pasien hipertensi dengan teknik jalan cepat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Brisk Walking Exercise terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Metode: Rancangan eksperimen semu dengan pendekatan pretest-posttest digunakan sebagai rancangan penelitian. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa brisk walking exercise dapat memberikan perubahan pada tekanan darah. Semakin sering melakukan olahraga brisk walking exercise ini, maka semakin berpotensi pula tekanan darah pada penderita hipertensi akan menurun. Simpulan: Brisk Walking Exercise memberikan pengaruh terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gunungsari sehingga perlu dijadikan referensi untuk bisa dilaksanakan di komunitas penderita hipertensi. Saran: Diharapkan bagi masyarakat dapat menerapkan latihan Brisk Walking Exercise untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Koping stres keluarga Suku Batak Toba dengan anak infertilitas primer Sormin, Tumiur
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.326

Abstract

Background: In the 2018 Consensus on Infertility Management, HIFERI 2013 reported that the prevalence of infertility in Indonesia was 21.3 percent. Of the 39.8 million couples of childbearing age (PUS) in Indonesia, 10–15 percent of them are declared infertile and an estimated 4–6 million couples require infertility treatment to have children. Based on Silaban's 2008 research, wife infertility in the Batak people is treated as something that demeans the dignity and perfection of the husband, so that at traditional weddings parents and relatives always convey their wishes and hopes that the newly formed couple will have many children. Purpose: This study aims to determine the stress coping of Toba Batak families with primary infertility children in Bandar Lampung in 2018. Methods: This research is a qualitative research with a phenomenological approach. Information was obtained by conducting in-depth interviews, FGDs and observations. Informants in this study consisted of 6 main informants, 3 triangulation informants. Results: The results of this study indicate that families begin to experience symptoms of stress after 3 years of their children being married without children. Conclusion: Psychological stress experienced is inferior and feels insignificant. Social stress is feeling of not being elder in adat and clan groups. Economic stress makes it difficult to pay for doctor's examinations and buy medicine. Physical stress can not sleep and lack of mood with husband. Religious stress sometimes considers God unfair. The stress coping used by the family is seeking social support, special prayer for the mother's younger brother, avoiding routine activities, positive assessment by visiting recreation and special prayer, accepting responsibility by confiding in families who are successful in infertility therapy and solving concrete problems such as program plans. test-tube baby. Suggestion: For families who experience this to keep fighting, good luck and success, everything is beautiful in its time.   Keywords: Stress Coping; Batak Tribe; Primary Infertility.   Pendahuluan: Dalam Konsensus Penanganan Infertilitas 2018, HIFERI 2013 melaporkan bahwa prevalensi infertilitas di Indonesia sebesar  21,3 persen. Dari 39,8 juta pasangan usia subur (PUS) di Indonesia, 10–15 persen diantaranya dinyatakan infertile dan diperkirakan 4–6 juta pasangan memerlukan pengobatan infertilitas untuk mendapatkan keturunan.  Berdasarkan penelitian Silaban 2008, kemandulan istri pada masyarakat suku Batak, disikapi sebagai sesuatu yang merendahkan martabat dan kesempurnaan suami, sehingga pada acara adat perkawinan orangtua dan kerabat selalu menyampaikan keinginan dan harapannya supaya pasangan yang baru membentuk rumah tangga itu mendapat banyak anak . Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui koping stres keluarga suku Batak Toba dengan anak infertilitas primer di Bandar Lampung tahun 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomelogi. Informasi diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam, FGD dan observasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 6 orang informan utama, 3 informan triangulasi. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan  bahwa keluarga mulai mengalami gejala stres setelah 3 tahun anaknya menikah belum memiliki anak. Simpulan: Stres psikologi yang dialami adalah minder dan merasa tidak berarti. Stres sosial merasa tidak dituakan di adat dan kumpulan marga. Stres ekonomi kesulitan membayar pemeriksaan dokter dan membeli obat. Stres fisik tidak bisa tidur dan kurang mood dengan suami. Stres religi kadang menganggap Tuhan tidak adil. Koping stres yang digunakan keluarga adalah mencari dukungan sosial doa khusus adik laki-laki ibu,  menghindar dengan kegiatan rutin, penilaian positif dengan mengunjungi rekreasi dan berdoa khusus,  menerima tanggung jawab dengan curhat pada keluarga yang sukses terapi infertilitas dan penyelesaian masalah secara konkret  seperti rencana program bayi tabung. Saran: Kepada keluarga yang mengalami hal tersebut untuk tetap berjuang, semoga sukes dan  berhasil,  semua indah pada waktunya.
Studi tipe kepribadian millon dengan penyesuaian pernikahan pada pasangan dengan usia perkawinan diatas 10 tahun Heryana, Nur Rakhmanto; Ramadhan, Muhammad Azhar
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.334

Abstract

Background: Marriage sometimes does not always run smoothly, sometimes there are divisions. Therefore, it takes a good marital adjustment between partners. One of the factors in marital adjustment is to recognize the personality type of each partner. This personality type will affect the interaction in the couple it self. Purpose: This paper aims to determine the effect of Millon's personality type on marital adjustment. The subjects were five married couples with a marriage age of over 10 years. Methods:The technique used is a non-probability sampling technique, namely purposive sampling. The method for measuring marital adjustment uses the Dyadic Adjustment Scale (DAS), while the Millon Clinical Multiaxial Inventory-IV (MCMI-IV) is used to measure individual personality types. MCMI-IV is a measurement tool that can represent a person's personality type. Invalid MCMI-IV Guideline 1. Scale V > 1, 2. 3. Scale W > 19, Scale X < 7 and > 114, Scale 1-8B (All) < 60 (BR). In testing the research hypothesis using MCMI-IV and DAS software. Result: The result is that there is an influence of personality type on marital adjustment. Conclusion: Certain personality types correlate with patterns of marital adjustment between partners.   Keywords: Millon Personality; Personality Type; Marital Adjusment; Theodore Millon; Divoce Rate.   Pendahuluan: Perkawinan terkadang tidak selalu berjalan dengan lancar, terkadang terdapat perpecahan. Oleh karna itu dibutuhkan penyesuaian perkawinan yang baik antara pasangan. Salah satu faktor dalam penyesuaian perkawinan adalah mengenali tipe kepribadian pada masing-masing pasangan. Tipe Kepribadian ini akan mempengaruhi interaksi pada pasangan itu sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh tipe kepribadian Millon terhadap penyesuaian perkawinan. Subjeknya adalah lima pasangan suami istri dengan usia pernikahan diatas 10 tahun. Teknik yang digunakan adalah teknik non-probability sampling, yaitu purposive sampling. Metode: Metode untuk mengukur penyesuaian perkawinan menggunakan Dyadic Adjustment Scale (DAS), sedangkan untuk mengukur tipe kepribadian individu menggunakan Millon Clinical Multiaxial Inventory-IV (MCMI-IV). MCMI-IV merupakan alat ukur yang dapat merepresentasikan tipe kepribadian seseorang. Pedoman Tidak Valid MCMI-IV 1. Skala V > 1, 2. 3. Skala W > 19, Skala X < 7 dan > 114, Skala 1-8B (Semua) < 60 (BR). Dalam menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan software MCMI-IV dan DAS. Hasil: Terdapat pengaruh tipe kepribadian dengan penyesuaian perkawinan. Simpulan: Tipe kepribadian tertentu berkorelasi dengan pola penyesuaian perkawinan antara pasangan.
Penggunaan koping pet attachment untuk mengatasi stress akademik pada mahasiswa Imelisa, Rahmi; Sarja, Aurora Nur Ainun Syafira; Bolla, Ibrahim Noch
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.362

Abstract

Background: Most of the early adult age range, carry out their activities as a college students. As a student, a lot of stress occurs related to the learning process at college, this is known as academic stress. To overcome this, an appropriate coping mechanism is needed. Raising a pet (pet attachment) could be use as a coping strategy to deal with academic stress. Purpose: This research aimed to determine the relation between pet attachment coping strategies and student academic stress at a college in Cimahi city. Method: This study used a quantitative analytical survey method and cross-sectional design. Respondents were selected by purposive sampling technique as many as 89 students. Data analysis consisted of univariate analysis and bivariate analysis using the chi-square test. Results: Based on data analysis, it was found that 53,9% of students had a moderate levels of academic stress, and 66,3% had a high attachment to pets. The bivariate test showed a p-value of 0,0006 (< α=0,05). Conclusion:There is a relation between pet attachment coping strategies and academic stress in the college students. Suggestion: It was suggested that the students use this coping strategies to cope with academic stress.   Keywords:  Stress; Academic; Student; Pets; Cross-Sectional.   Pendahuluan: Pada rentang usia dewasa awal, sebagian besar individu menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa stress yang banyak terjadi berkaitan dengan proses pembelajaran di kampusnya, hal tersebut dikenal dengan istilah stress akademik. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan mekanisme koping yang sesuai. Memelihara hewan peliharaan (pet attachment) dapat menjadi salah satu strategi koping untuk mengatasi stress akademik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan strategi koping kelekatan dengan hewan peliharaan(pet attachment)dengan stres akademik mah asiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Cimahi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif survey analitik dengan rancangan cross sectional.Responden penelitian dipilih dengan teknik purposive samplingsebanyak 89 mahasiswa. Analisa data terdiri dari analisa univariat dan analisa bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Berdasarkan analisa data didapatkan 53,9% mahasiswa memiliki tingkat stres akademik sedang, dan 66,3% memiliki kelekatan hewan peliharaan yang tinggi. Uji bivariat menunjukkan hasil p-value sebesar 0,006 (< α=0.05). Simpulan: Aada hubungan antara strategi koping pet attachment dengan stres akademik pada mahasiswa. Saran: Diharapkan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan strategi koping ini untuk mengatasi stress akademik.
Konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home Mu'alifah, Ismi; Pribadi, Teguh; Elliya, Rahma
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.365

Abstract

Background: Self-acceptance can be interpreted as one of the efforts to accept a person's complete acceptance of himself with the advantages or disadvantages of himself to be able to achieve happiness. Counseling is a personal relationship that is carried out face to face between two people. Where counselors must have special abilities to lead learning situations and shape individuals to be able to understand themselves. Purpose: Carry out peer counseling to increase self-acceptance of broken home children in Sumur Kucing Village, East Lampung in 2023. Method: In writing case studies focusing on peer counseling nursing care to increase self-acceptance in broken home children. Results: The last day of counseling for 3 respondents, before peer counseling was carried out: An. V said he needed time to adapt to the circumstances he was experiencing. An. Z says himself but has a hard time believing his parents' divorce. An. R said he cared about himself but found it hard to believe his parents' divorce. after peer counseling: An. V said that after counseling he felt happy and was able to adjust to the circumstances he was experiencing. An. Z said that he had accepted, had confidence in his ability to face his life, there was an openness when communicating and accepting this situation. An. R seemed to care about himself increasing. Conclusion: In the process of implementing peer guidance there are several empowerment activities in the form of mental strengthening, providing emotional support, with the aim of increasing self-empowerment and improving psychological conditions in a more positive direction after peer counseling is known that peer counseling can increase self-acceptance in broken home children.   Keywords: Broken Home; Self Accepting; Peer Counseling   Pendahuluan: Penerimaan diri sendiri dapat diartikan sebagai salah satu upaya penerimaan seseorang secara utuh terhadap dirinya dengan adanya kelebihan ataupun kekurangan pada dirinya sendiri untuk dapat mencapai kebahagiaan. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan dengan cara tatap muka antara dua orang. Dimana konselor harus memiliki kemampuan-kemampuan khusus untuk menggiring situasi belajar dan membentuk individu agar dapat memahami diri sendiri. Tujuan: Melaksanakan Konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home di Desa Sumur Kucing Lampung Timur tahun 2023. Metode: Pada penulisan studi kasus berfokus pada asuhan keperawatan konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home. Hasil: Hari terakhir dilakukannya konseling pada 3 responden, sebelum dilakukan konseling teman sebaya: An. V mengatakan dirinya  membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan yang dialami. An. Z mengatakan dirinya sendiri namun sulit percaya akan  perceraian orang tuannya. An. R mengatakan perduli akan  dirinya sendiri namun sulit percaya akan perceraian orang tuannya. setelah dilakukan konseling sebaya: An. V mengatakan setelah dilakukan konseling merasa senang dan dapat menyesuaikan keadaan yang dia alami. An. Z mengatakan sudah menerima, mempunyai keyakinan akan kemampuannya untuk menghadapi kehidupannya, tampak adanya keterbukaan saat berkomunikasi dan menerimaan keadaan tersebut. An. R tampak rasa peduli pada dirinya sendiri meningkat. Simpulan: Dalam proses pelaksanaan bimbingan teman sebaya terdapat beberapa kegiatan pemberdayaan berupa penguatan mental, memberikan dukungan secara emosional, dengan tujuan untuk meningkatkan pemberdayaan diri dan meningkatkan kondisi psikologis ke arah yang lebih positif setelah dilkaukannya konseling teman sebaya diketahui bahwa konseling teman sebaya dapat meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home.

Page 1 of 1 | Total Record : 5