cover
Contact Name
Karimah Dwika Gustandra
Contact Email
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Phone
+62273-322610
Journal Mail Official
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Editorial Address
Kampus Akper Giri Satria Husada Jalan Menur RT 04 RW IV Joho Lor Giriwono Wonogiri KP 57613
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan GSH
ISSN : 20882734     EISSN : 2964156X     DOI : https://doi.org/10.56840/jkgsh.v12i2.92
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan GSH adalah jurnal keperawatan untuk perawat, akademisi, dan praktisi. Jurnal Keperawatan GSH ini menerima artikel penelitian asli dan relevan di bidang keperawatan, serta studi literatur dan laporan kasus khususnya keperawatan atau kesehatan. Fokus dan scope jurnal ini adalah Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Dasar, Keperawatan Komplementer, Keperawatan Paliatif, Kesehatan, Reproduksi, Kebidanan, HIV/AIDS, Tuberculosis dan masalah kesehatan lainnya. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Januari dan Juli setiap tahun.
Articles 143 Documents
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG ASUPAN RENDAH LEMAK PADA PENDERITA HIPERKOLESTEROLEMIA DI DUSUN JOHO LOR KABUPATEN WONOGIRI Nugroho Priyo Handono
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.169

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Hiperkolesterolemia merupakan salah satu jenis gangguan pada kadar lemak darah, ditandai dengan tingginya kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida, serta rendahnya kadar kolesterol High Density Lipoprotein (HDL). Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan asuhan keperawatan yang melibatkan efektivitas pendidikan kesehatan tentang asupan rendah lemak sebagai intervensi dalam meningkatkan pengetahuan penderita Hiperkolesterolemia. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan case study research (studi kasus). Hasil: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test terjadi peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dengan selisih 35,54%, dengan rata-rata nilai pre-test 57,8%, dan rata-rata nilai post-test adalah 93,34%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan jika terdapat peningkatan pengetahuan peserta mengenai asupan rendah lemak pada Hiperkolesterolemia sebagai upaya untuk mencegah berbagai macam penyakit berbahaya seperti penyakit jantung serta dapat meningkatkan kesadaran untuk mengurangi asupan lemak dan kolesterol. ABSTRACT Background: Hypercholesterolemia is a type of disorder in blood fat levels, characterized by high levels of Low Density Lipoprotein (LDL) cholesterol and triglycerides, and low levels of High Density Lipoprotein (HDL) cholesterol. Objective: The objective of this study was to describe nursing care involving the effectiveness of health education on low-fat intake as an intervention in improving the knowledge of patients with Hypercholesterolemia. Method: The method used in this study is qualitative research with a case study research approach. Results: Based on the results of the pre-test and post-test, there was an increase in the average knowledge score with a difference of 35.54%, with an average pre-test score of 57.8%, and an average post-test score of 93.34%. Conclusion: Based on the research results, it can be concluded that there is an increase in participants' knowledge regarding low-fat intake in Hypercholesterolemia as an effort to prevent various dangerous diseases such as heart disease and can increase awareness to reduce fat and cholesterol intake.
KOMPRES HANGAT JAHE DALAM MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PENDERITA GOUT ARTRITIS Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.170

Abstract

ABSTRAK Gout artritis atau yang dikenal sebagai asam urat merupakan salah satu penyakit radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal monosodium urat akibat peningkatan kadar asam urat (hiperurisemia) dalam darah. Penyakit ini ditandai dengan nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan, serta rasa panas pada sendi, terutama pada sendi metatarsofalangeal (ibu jari kaki), pergelangan kaki, lutut, dan pergelangan tangan. Salah satu terapi nonfarmakologis yang banyak digunakan secara tradisional adalah kompres jahe. Pemberian kompres jahe hangat pada area sendi yang mengalami peradangan memberikan efek vasodilatasi lokal yang meningkatkan sirkulasi darah, membantu relaksasi otot, serta mempercepat proses penyembuhan jaringan. Sensasi hangat yang dihasilkan juga memberikan efek relaksasi dan kenyamanan sehingga intensitas nyeri dapat berkurang secara bertahap. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas kompres hangat jahe dalam menurunkan intensitas nyeri pada penderita gout artritis. Desain penelitian Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre-test dan post test desain. Subyek penelitian sebanyak 30 orang usia 46-75 tahun di Desa Pare Kecamatan Selogiri. Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Instrumen pengukuran Nyeri dengan Numeric Rating Scale. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan Analisa data bivariat menggunakan uji T berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas nyeri sebelum diberikan kompres hangat jahe sebagian besar (66,7%) kategori sedang dan setelah diberikan kompres hangat jahe sebagian besar (83,3%) berada dalam kategori ringan. Hasil uji statistik nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan rata-rata intensitas nyeri sebelum dan setelah diberikan kompres hangat jahe. Kesimpulan : kompres hangat jahe efektif mengurangi intensitas nyeri pada penderita gout artritis. ABSTRACT Gout arthritis, also known as uric acid, is an inflammatory joint disease caused by the accumulation of monosodium urate crystals due to increased uric acid levels (hyperuricemia) in the blood. This disease is characterized by severe pain, swelling, redness, and a burning sensation in the joints, especially the metatarsophalangeal joints (big toe), ankles, knees, and wrists. One non-pharmacological therapy that is widely used traditionally is ginger compresses. Applying warm ginger compresses to the inflamed joint area provides a local vasodilatory effect that improves blood circulation, helps relax muscles, and accelerates the tissue healing process. The resulting warm sensation also provides a relaxing and comfortable effect so that pain intensity can gradually decrease. The purpose of this study was to determine the effectiveness of warm ginger compresses in reducing pain intensity in gout arthritis sufferers. The research design was a Quasi Experiment with a one-group pre-test and post-test design. The research subjects were 30 people aged 46-75 years in Pare Village, Selogiri District. Sampling used a simple random sampling technique. The pain measurement instrument used was a Numeric Rating Scale. Univariate data analysis is presented in the form of a frequency distribution table, and bivariate data analysis uses a paired t-test. The results showed that the pain intensity before the warm ginger compress was mostly (66.7%) moderate, and after the warm ginger compress, mostly (83.3%) mild. The statistical test results showed a p-value of 0.0001, indicating a significant difference in the average pain intensity before and after the warm ginger compress.Conclusion: Warm ginger compresses are effective in reducing pain intensity in gouty arthritis patients.
EFEKTIFITAS TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM UNTUK MEREDAKAN NYERI DADA PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER(PJK) DI KECAMATAN GIRITONTRO Zarena Priyanka Aliasari; Kristiana Puji Purwandari
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.172

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan plak di dinding arteri koroner yang menyebabkan penyempitan atau penyumbatan, sehingga mengurangi aliran darah ke jantung dan mengakibatkan nyeri dada atau angina. Plak yang menumpuk terdiri dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lainnya, dan proses pembentukan plak ini dikenal sebagai aterosklerosis. Aterosklerosis tidakhanya mempengaruhi arteri besar tetapi juga bisa mempengaruhi arteri kecil, yang dikenal sebagai mikrovaskular PJK. Tujuan: Untuk mengetahui Efektivitas teknik relaksasi napas dalam untuk meredakan nyeri dada pada pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK). Metode: Jenis penelitian ini adalah studi kasus deskriptif yang merupakan salah satu jenis strategi dalam penelitian kualitatif, dengan pendekatan case study research (studi kasus), pengambilan samplemenggunakan sampling purposive dengan jumlah sample sebanyak 5 responden. Hasil: setelah dilakukan teknik relaksasi napas dalam selama 3 hari berturut- turut menunjukanbahwasesudah dilakukan tindakan mengalami penurunan skala nyeri. Hal ini dapat dilihat dari lembar observasi responden. Kesimpulan: Hasil analisa dari keseluruhan responden dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi napas dalam efektif untuk menurunkan nyeri dada pada pasien PJK. ABSTRACT Background: Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of death worldwide. Thiscondition is caused by the buildup of plaque in the walls of coronary arteries, leading to narrowingor blockage, which reduces blood flow to the heart and results in chest pain or angina. The accumulatedplaque consists of fats, cholesterol, calcium, and other substances, and the process of plaqueformation is known as atherosclerosis. Atherosclerosis can affect not only large arteries but alsosmall arteries, known as microvascular CHD. Objective: To determine the effectiveness of deep breathing relaxation techniques in alleviatingchest pain in patients with Coronary Heart Disease (CHD). Method: This study is a descriptive case study, which is a type of qualitative research strategy, usinga case study research approach. The sample was taken using purposive sampling with a total of 5respondents. Results: After applying deep breathing relaxation techniques for three consecutive days, there wasanoted decrease in pain scale. This was evident from the observation sheets of the respondents. Conclusion: The analysis of all respondents concluded that deep breathing relaxation techniques areeffective in reducing chest pain in patients with CHD.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MENSTRUASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN MENTRUASI PADA SISWI SD NEGERI 2 GIRIMARTO Dinda Indah Lestari; Retno Ambarwati
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.173

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Pengetahuan tentang menstruasi sangatlah penting bagi remaja, kurangnya pengetahuan tentang Kesehatan repoduksi akan mempengaruhi pengetahuan remaja dalam menghadapi menstruasi. Sehigga banyak remaja Perempuan masih binggung saat mentruasi pertama. Tujuan : Mengetahui pengaruh Pendidikan Kesehatan Menstruasi terhadap Tingkat Pengetahuan Menstruasi pada Siswi SD N 2 Girimarto. Metode: Jenis penelitian Kualitatif menggunakan pendekatan case study research (studi kasus). Sempel yang digunakan adalah siswi kelas IV,V,dan VI SD N 2 Girimarto. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Kuesioner. Jumlah responden sebanyak 5 siswi dengan Teknik nonprobability sampling. Hasil : Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 5 responden menunjukkan setelah diberikan Pendidikan Kesehatan tentang menstruasi selama 1x30 menit menunjukkan adanya peningkatkan Tingkat pengetahuan tentang menstruasi pada saat sebelum dan sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan. Simpulan : Hasil analisa yang dilakukan dari responden didapatkan setelah diberikan Pendidikan Kesehatan mayoritas responden dapat menjawab soal post- test dengan hasil 86,5% masuk kategori baik. Dengan demikian intervensi dihentikan. ABSTRACT Background: Knowledge about menstruation is very important for adolescents, lack of knowledge about reproductive health will affect adolescent knowledge in dealing with menstruation. So that many female adolescents are still confused when they have their first menstruation. Objective: To determine the effect of Menstrual Health Education on the Level of Menstrual Knowledge in Elementary School Students 2 Girimarto. Method: The type of qualitative research uses a case study research approach. The samples used were grade IV, V, and VI students of Elementary School 2 Girimarto. Data collection was carried out using a questionnaire. The number of respondents was 5 students with a non-probability sampling technique. Results: The results of the study conducted on 5 respondents showed that after being given Health Education about menstruation for 1x30 minutes, there was an increase in the level of knowledge about menstruation before and after being given Health Education. Conclusion: The results of the analysis conducted from respondents were obtained after being given Health Education, the majority of respondents were able to answer the post-test questions with a result of 86.5% in the good category. Thus the intervention was stopped.
HUBUNGAN STATUS FISIK ASA DENGAN WAKTU PENCAPAIAN BROMAGE SCORE 2 PADA PASIEN SPINAL PASCA ANESTESI DI RUANG PEMULIHAN Muhammad Rossy Rachasiwi; Bayu Despriyanto Pratama
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.175

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Pemulihan motorik pasca anestesi spinal penting untuk menentukan kesiapan pasien dipindahkan dari ruang pemulihan. Salah satu indikator pemulihan motorik adalah pencapaian Bromage Score 2. Status fisik ASA (American Society of Anesthesiologists) diduga memengaruhi waktu pencapaian skor tersebut. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Bromage Score 2 pada pasien spinal pasca anestesi di ruang pemulihan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 60 responden dipilih secara purposive sampling di ruang pemulihan RSI Sultan Agung Semarang. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi ASA dan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mayoritas responden memiliki status ASA I (55%), dan waktu pencapaian Bromage Score 2 terbanyak terjadi pada menit ke-44. Hasil uji Spearman menunjukkan adanya korelasi positif antara status ASA dan waktu pencapaian Bromage Score 2 (r = 0,326; p = 0,011), yang berarti hubungan tersebut signifikan secara statistik meskipun berkategori lemah. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status fisik ASA dan waktu pencapaian Bromage Score 2. Semakin tinggi status ASA, waktu pemulihan motorik cenderung lebih lama. ABSTRACT Background: Motor recovery after spinal anesthesia is crucial in determining a patient’s readiness to be transferred from the recovery room. One indicator of motor recovery is achieving a Bromage Score of 2. The ASA physical status (American Society of Anesthesiologists) is suspected to influence the time needed to reach this score. Objective: To determine the relationship between ASA physical status and the time to achieve Bromage Score 2 in post-spinal anesthesia patients in the recovery room. Methods: This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling in the recovery room of Sultan Agung Islamic Hospital, Semarang. Data were collected using ASA and Bromage Score observation sheets and analyzed with the Spearman correlation test. Results: The majority of respondents had ASA I status (55%), and the most frequent time to achieve Bromage Score 2 was at 44 minutes. Spearman correlation test showed a positive relationship between ASA status and the time to achieve Bromage Score 2 (r = 0.326; p = 0.011), indicating a statistically significant relationship despite being categorized as weak. Conclusion: There is a significant relationship between ASA physical status and the time to achieve Bromage Score 2. The higher the ASA status, the longer the motor recovery time tends to be.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS PADANG SELASA PALEMBANG: THE RELATIONSHIP BETWEEN MOTHERS' KNOWLEDGE AND THE SUCCESS OF BREASTFEEDING IN BREASTFEEDING MOTHERS AT THE PUSKESMAS PADANG SELASA, PALEMBANG Wahyuningsih Wahyuningsih; Ranti Agustina; Novi Ekajayanti Pande Putu; Kadek Widiantari; Winarsih
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.179

Abstract

Latar Belakang: Pemberian ASI sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesehatan anak, karena merupakan sumber gizi yang aman, alami, bergizi, dan berkelanjutan. Berdasarkan penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), (2023), angka ibu pemberian ASI di Indonesia sudah tinggi, yaitu 76%, namun yang memberikan secara eksklusif selama 6 bulan masih rendah sebesar 20%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu degan keberhasian pemberian ASI pada ibu menyusui. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu menyusui yang mempunyai bayi 7-24 bulan dan sampel sebanyak 42 responden dilakukan dengan teknik accidental sampling. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner. Data analisis menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebagian besar usia ibu (20-35 tahun) sebanyak 28 ibu (66.7%), mayoritas ibu dengan paritas primipara sebanyak 28 ibu (66.7%), pendidikan ibu (SMA) sebanyak 23 ibu (54.8%), dan ibu yang tidak bekerja sebanyak 37 ibu (88.1%).Pengetahuan ibu kurang sebanyak 32 responden (76,2%), mayoritas responden tidak ASI sebanyak 36 responden (85,7%). Hasil chi square diperoleh nilai p value adalah 0,007< 0,05. Simpulan: Ada hubungan pengetahuan ibu dengan keberhasian pemberian ASI di Puskesmas Padang Selasa Palembang.   ABSTRACT Background: Breastfeeding is crucial for a child's survival and health, as it is a safe, natural, nutritious, and sustainable source of nutrition According to a study by the Indonesian Pediatricians Association (IDAI) (2023), the rate of breastfeeding among mothers in Indonesia is already high, at 76%, but the rate of exclusive breastfeeding for 6 months remains low, at 20%. Objective: This study aimed to determine the relationship between maternal knowledge and breastfeeding success at the Padang Selasa Community Health Center. Method: This study used a correlational analytical design with a cross-sectional approach. The population was all breastfeeding mothers with infants aged 7-24 months, and a sample of 42 respondents was selected using an accidental sampling technique. Primary data were obtained from questionnaires. Data analysis using the Chi Square test. Results: The majority of mothers were 20-35 years old (28 mothers (66.7%), the majority were primiparous (28 mothers (66.7%), had a high school education (23 mothers (54.8%), and 37 mothers (88.1%) were unemployed. Thirty-two respondents (76.2%) had insufficient knowledge, and the majority (36 respondents (85.7%) did not breastfeed. The chi-square test showed a p-value of 0.007 < 0.05. Conclusion: There is a relationship between maternal knowledge and successful breastfeeding at the Puskesmas Padang Selasa Palembang
ANALISIS TINGKAT KEPATUHAN TERAPI ANTIRETROVIRAL MENGGUNAKAN MORISKY MEDICATION ADHERENCE SCALE-8 PADA ODHIV Sri Handayani
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.184

Abstract

Kepatuhan terhadap terapi antiretroviral (ART) merupakan faktor utama dalam mencapai viral suppression, mencegah resistensi obat, serta meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV (ODHIV). Salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk mengukur kepatuhan adalah Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepatuhan terapi antiretroviral pada ODHIV menggunakan instrumen MMAS-8. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 250 ODHIV yang menjalani terapi antiretroviral minimal enam bulan di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner MMAS-8 yang terdiri atas delapan pertanyaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, rerata dan simpangan baku. Rata-rata skor MMAS-8 responden sebesar 6,84 ± 1,32 dengan rentang skor 2–8. Sebanyak 148 responden (59,2%) memiliki kepatuhan tinggi, 62 responden (24,8%) kepatuhan sedang, dan 40 responden (16,0%) kepatuhan rendah. Item MMAS-8 yang paling sering dijawab "Ya" adalah lupa minum obat ketika bepergian (34,4%) dan lupa meminum obat pada hari sebelumnya (29,6%). Mayoritas ODHIV memiliki tingkat kepatuhan terapi yang tinggi. Meskipun demikian, masih terdapat sekitar 40% responden dengan kepatuhan sedang hingga rendah yang memerlukan intervensi edukasi, konseling, serta monitoring kepatuhan secara berkala. ABSTRACT Adherence to antiretroviral therapy (ART) is a key determinant of achieving viral suppression, preventing drug resistance, and improving the quality of life of people living with HIV (PLHIV). One of the most widely used instruments for assessing medication adherence is the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). This study aimed to analyze the level of adherence to antiretroviral therapy among PLHIV using the MMAS-8 instrument. This quantitative study employed a descriptive-analytical design with a cross-sectional approach. The study was conducted on 250 people living with HIV (PLHIV) who had been undergoing antiretroviral therapy for at least six months within the working area of ​​the Wonogiri Regency Health Office. Participants were recruited using a consecutive sampling technique. Medication adherence was assessed using the eight-item MMAS-8 questionnaire. Data were analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, means, and standard deviations. The mean MMAS-8 score was 6.84 ± 1.32, with scores ranging from 2 to 8. A total of 148 respondents (59.2%) demonstrated high adherence, 62 respondents (24.8%) had moderate adherence, and 40 respondents (16.0%) had low adherence. The MMAS-8 items most frequently answered "Yes" were forgetting to take medication while traveling (34.4%) and forgetting to take medication on the previous day (29.6%). The findings indicate that the majority of PLHIV demonstrated a high level of adherence to antiretroviral therapy. However, approximately 40% of respondents exhibited moderate to low adherence, highlighting the need for continuous educational interventions, adherence counseling, and routine adherence monitoring to optimize treatment outcomes.
HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK DENGAN TINGKAT KECEMASAN SOSIAL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEPERAWATAN Kristiana Puji Purwandari; David Wijaya Khrisma Dien
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.185

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan media sosial TikTok yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental, salah satunya kecemasan sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 151 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan TikTok dan kuesioner tingkat kecemasan sosial, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi. Hasil: Analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial (r = 0,650; p = 0,000). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin lama durasi penggunaan TikTok, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. Mahasiswa diharapkan dapat menggunakan media sosial secara bijaksana untuk menjaga kesehatan mental. ABSTRACT Background: The increasing use of TikTok among university students may have an impact on mental health, one of which is social anxiety. Objective: This study aimed to determine the relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety among students of the Faculty of Nursing. Methods: This study employed a quantitative descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A total of 151 students were selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected using a TikTok usage duration questionnaire and a social anxiety questionnaire and were analyzed using a correlation test. Results: The analysis revealed a significant relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety (r = 0.650; p = 0.000). The findings indicate that a longer duration of TikTok use is associated with higher levels of social anxiety among students. Conclusion: There is a significant relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety among students of the Faculty of Nursing. Students are encouraged to use social media wisely to maintain their mental health.
PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL PADA PENDERITA HIPERKOLESTEROLEMIA DI DESA PIJIHARJO KECAMATAN MANYARAN Nugroho Priyo Handono; Mona Muntasa Muktiadi
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.186

Abstract

Latar Belakang: Hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi peningkatan kadar kolesterol dalam darah di atas batas normal yang menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Salah satu manifestasi klinis yang sering dikeluhkan adalah kaku pada kepala bagian belakang, tengkuk, serta badan pegal akibat gangguan perfusi perifer. Penatalaksanaan non farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol adalah pemberian air rebusan daun kelor (Moringa oleifera) yang kaya akan kandungan flavonoid dan antioksidan. Tujuan: untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian rebusan daun kelor dalam menurunkan kadar kolesterol pada pasien hiperkolesterolemia. Metode: penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan case study research . Hasil: dari ke 5 responden mengalami penurunan kadar kolesterol dengan rata rata penurunan kolesterol sebanyak 19 mg/dl. Kesimpulan: hasil dari pemberian rebusan daun kelor kepada 5 responden di dapatkan data masing masing responden mengalami penurunan kolesterol, sehingga didapatkan kesimpulan bahwa daun kelor efektif menurunkan kolesterol pada pasien hiperkolesterolemia. ABSTRACT Background: Hypercholesterolemia is a condition characterized by an increase in blood cholesterol levels above normal limits, serving as a major risk factor for cardiovascular diseases. One of the frequently reported clinical manifestations is stiffness in the back of the head and neck, as well as body aches caused by ineffective peripheral perfusion. A non-pharmacological management that can be utilized to reduce cholesterol levels is the administration of Moringa leaf (Moringa oleifera) decoction, which is rich in flavonoids and antioxidants. Objective: To identify the effect of giving Moringa leaf decoction on reducing cholesterol levels in hypercholesterolemia patients. Methods: this study uses a qualitative method with a case study research approach. Results: All 5 respondents experienced a decrease in cholesterol levels, with an average cholesterol reduction of 19 mg/dl. Conclusion: The results of administering Moringa leaf decoction to the 5 respondents demonstrated that each respondent experienced a reduction in cholesterol. Thus, it can be concluded that Moringa leaves are effective in lowering cholesterol levels in hypercholesterolemia patients.
PENDIDIKAN NUTRISI MAKANAN CEPAT SAJI MENINGKATKAN STATUS HEMOGLOBIN DI KALANGAN REMAJA PUTRI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA: MIXED METHODS DARI PEDESAAN INDONESIA: FAST FOOD NUTRITION EDUCATION IMPROVES HEMOGLOBIN STATUS AMONG JUNIOR HIGH SCHOOL ADOLESCENT GIRLS: A MIXED METHODS STUDY FROM RURAL INDONESIA Putri Halimu Husna; Anas Rachmad Sanjaya; Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.187

Abstract

Latar Belakang: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di kalangan remaja putri, khususnya di daerah pedesaan Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang sering, dengan kandungan zat besi dan mikronutrien yang rendah, berkontribusi pada kualitas diet yang buruk dan meningkatkan risiko anemia. Pendidikan gizi dianggap sebagai strategi yang layak untuk memperbaiki perilaku diet dan mencegah anemia di kalangan remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan nutrisi makanan cepat saji terhadap status hemoglobin pada remaja putri sekolah menengah pertama di pedesaan Indonesia. Metode Penelitian: Penelitian metode campuran dilakukan di Dusun Nangger, Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Komponen kuantitatif menggunakan pendekatan pretest-posttest satu kelompok yang melibatkan lima remaja putri yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 20 partisipan. Kadar hemoglobin (Hb) diukur sebelum dan sesudah intervensi pendidikan gizi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, keluhan kesehatan yang dirasakan, dan pengalaman partisipan setelah intervensi pendidikan. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan temuan kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Sebelum intervensi, semua peserta mengalami anemia ringan, dengan kadar Hb berkisar antara 10,5 hingga 11,4 g/dL. Setelah edukasi nutrisi, kadar Hb meningkat menjadi 12,2–14,0 g/dL, dengan peningkatan rata-rata 1,9 g/dL, yang menunjukkan normalisasi status hemoglobin. Temuan kualitatif mengungkapkan penurunan konsumsi makanan cepat saji, peningkatan kesadaran akan pola makan sehat, dan berkurangnya gejala seperti kelelahan, pusing, konsentrasi buruk, dan kantuk di siang hari. Kesimpulan: Pendidikan nutrisi tentang makanan cepat saji efektif meningkatkan status hemoglobin dan mendorong perilaku diet yang lebih sehat di kalangan remaja putri. Mengintegrasikan pendidikan nutrisi berbasis sekolah dan komunitas ke dalam program kesehatan remaja dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah anemia di daerah pedesaan. ABSTRACT Background: Iron deficiency anemia remains a major public health problem among adolescent girls, particularly in rural areas of Indonesia. Frequent consumption of fast food, characterized by low iron and micronutrient content, contributes to poor dietary quality and increases the risk of anemia. Nutrition education is considered a feasible strategy to improve dietary behavior and prevent anemia among adolescents. Goals: This study aimed to analyze the effect of fast food nutrition education on hemoglobin status among junior high school adolescent girls in rural Indonesia. Methods: A mixed methods study was conducted in Dusun Nangger, Nambangan Village, Selogiri District, Wonogiri Regency. The quantitative component employed a one-group pretest–posttest approach involving five adolescent girls selected through purposive sampling from a population of 20 participants. Hemoglobin (Hb) levels were measured before and after the nutrition education intervention. Qualitative data were collected through in-depth interviews to explore participants' fast food consumption habits, perceived health complaints, and experiences following the educational intervention. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative findings were analyzed using thematic analysis. Results: Before the intervention, all participants had mild anemia, with Hb levels ranging from 10.5 to 11.4 g/dL. Following nutrition education, Hb levels increased to 12.2–14.0 g/dL, with an average improvement of 1.9 g/dL, indicating normalization of hemoglobin status. Qualitative findings revealed decreased fast food consumption, improved awareness of healthy eating, and reduced symptoms such as fatigue, dizziness, poor concentration, and daytime sleepiness. Conclusion: Fast food nutrition education effectively improved hemoglobin status and promoted healthier dietary behaviors among adolescent girls. Integrating school- and community-based nutrition education into adolescent health programs may represent an effective strategy for preventing anemia in rural settings.