cover
Contact Name
Karimah Dwika Gustandra
Contact Email
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Phone
+62273-322610
Journal Mail Official
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Editorial Address
Kampus Akper Giri Satria Husada Jalan Menur RT 04 RW IV Joho Lor Giriwono Wonogiri KP 57613
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan GSH
ISSN : 20882734     EISSN : 2964156X     DOI : https://doi.org/10.56840/jkgsh.v12i2.92
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan GSH adalah jurnal keperawatan untuk perawat, akademisi, dan praktisi. Jurnal Keperawatan GSH ini menerima artikel penelitian asli dan relevan di bidang keperawatan, serta studi literatur dan laporan kasus khususnya keperawatan atau kesehatan. Fokus dan scope jurnal ini adalah Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Dasar, Keperawatan Komplementer, Keperawatan Paliatif, Kesehatan, Reproduksi, Kebidanan, HIV/AIDS, Tuberculosis dan masalah kesehatan lainnya. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Januari dan Juli setiap tahun.
Articles 135 Documents
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG BAHAYA MEROKOK TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA DI DUSUN GEMANTAR SELOGIRI WONOGIRI Ambarwati, Retno; Santoso, Bayu
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.144

Abstract

Latar belakang: Rokok dianggap sebagai barang berbahaya dan sangat adiktif yang dapat menyebabkan kematian utama di seluruh dunia. Komposisi rokok kaya akan zat kimia berbahaya seperti tar, nikotin, arsenik, karbon monoksida, dan nitrosamin, yang berpotensi merusak kesehatan perokok aktif. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada perokok aktif saja perokok pasif juga berisiko mengalami dampak negatif akibat paparan asap rokok yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka. Tujuan: Tujuan Umum dari penelitian ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan dengan pemberian Pendidikan Kesehatan tentang bahaya merokok dalam meningkatkan pengetahuan pada remaja Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang merupakan salah satu jenis strategi dalam penelitian kualitatif, dengan pendekatan case study research (studi kasus). Studi kasus adalah metode penilitian di mana peneliti mempelajari secara menyeluruh program, peristiwa, aktivitas, dan proses seseorang atau sekelompok orang. Studi kasus juga dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan berbagai metode pengumpulan data digunakan selama waktu yang telah ditentukan. Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok kelima responden mengalami peningkatan pengetahuan yaitu responden 1 mangalami peningkatan 40%, responden 2 meningkat 30%, responden 3 dan 4 meningkat 50%, dan responden 5 meningkat 40%. Kesimpulan: Didapatkan hasil bahwa pendidikan kesehatan sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan pada remaja di dusun gemantar tentang bahaya merokok menunjukkan bahwa responden mengalami peningkatan pengetahuan setelah dilakukan pendidikan kesehatan yaitu kelima responden berada pada kategori baik. ABSTRACT Background: Cigarettes are considered as dangerous and highly addictive items that can cause major deaths worldwide. The composition of cigarettes is rich in hazardous chemicals such as tar, nicotine, arsenic, carbon monoxide, and nitrosamines, which have the potential to damage the health of active smokers. However, the impact is not only limited to active smokers, passive smokers are also at risk of experiencing negative impacts due to exposure to cigarette smoke that has the potential to harm their health. Objective: The general objective of this study is to describe nursing care by providing Health Education about the dangers of smoking in increasing knowledge in adolescents. Method: This type of research is descriptive which is one type of strategy in qualitative research, with a case study research approach. Case study is a research method in which researchers thoroughly study the programs, events, activities, and processes of a person or group of people. Case studies are also limited by time and activity, and various data collection methods are used during a specified time. This research was conducted by means of observation and interviews. Results: The results of this study indicate that the results of the study before and after health education on the dangers of smoking, the five respondents experienced an increase in knowledge, namely respondent 1 experienced an increase of 40%, respondent 2 increased by 30%, respondents 3 and 4 increased by 50%, and respondent 5 increased by 40%. Conclusion: The results showed that providing health education had a significant effect on the level of knowledge of adolescents in Gemantar Hamlet about the dangers of smoking, indicating that respondents experienced an increase in knowledge after health education, namely that all five respondents were in the good category.
EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA WANITA PREMENOPAUSE Nurtanti, Susana
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.145

Abstract

Setiap wanita akan mengalami menopause dengan keluhan dan faktor-faktor yang akan mempengaruhinya. Berhentinya menstruasi secara berkala akan membawa masalah kesehatan baik fisik maupun psikis yang dapat menjadi akibat fatal apabila tidak ditangani secara serius. Seorang wanita menganggap menopause akan menyebabkan perasaan cemas dan gelisah. Seorang Wanita sangat penting mendapatkan pengetahuan mengenai menopause melalui pendidikan kesehatan karena memberikan efek posistif terhadap kondisi psikologis yang terjadi pada wanita tersebut. Pengetahuan yang cukup dan kondisi psikologis yang mendukung seperti kesiapan mental dalam menghadapi menopause dapat memberikan dampak positif dan tidak mengkibatkan efek negatif lainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas pendidikan kesehatan terhadap tingkat kecemasan wanita dalam menghadapi menopause. Jenis penelitian adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre-test dan post test desain. Sampel penelitian sebanyak 30 wanita usia premenopause (45-55 tahun). Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan wanita premenopause sebelum diberikan pendidikan kesehatan mayoritas berada dalam kategori sedang (67%), dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan kecemasan mayoritas berada dalam kategori ringan (87%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang menopause. Kesimpulan : Pendidikan kesehatan efektif untuk mengurangi kecemasan pada wanita premenopause dalam menghadapi menopause. ABSTRACT Every woman will experience menopause with complaints and factors that will influence it. Periodic cessation of menstruation will bring health problems both physically and psychologically which can be fatal if not handled seriously. A woman considers menopause to cause feelings of anxiety and restlessness. It is very important for a woman to gain knowledge about menopause through health education because it has a positive effect on the psychological conditions that occur in women. Sufficient knowledge and supportive psychological conditions such as mental readiness in facing menopause can have a positive impact and not cause other negative effects. The purpose of this study was to determine the effectiveness of health education on the level of anxiety of women in facing menopause. The type of research is Quasi Experiment with a one group pre-test and post-test design. The research sample was 30 premenopausal women (45-55 years). Sampling using simple random sampling technique. The results showed that the level of anxiety of premenopausal women before being given health education was mostly in the moderate category (67%), and after being given health education, the majority of anxiety was in the mild category (87%). The statistical test results obtained a p value = 0.0001, so it can be concluded that there is a significant difference in the average level of anxiety before and after being given health education about menopause. Conclusion: Health education is effective in reducing anxiety in premenopausal women in facing menopause.
PENGARUH RENDAM HANGAT PADA KAKI DIABETIC TERHADAP PENURUNAN NEUROPATI PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Puji Purwandari, Kristiana; Putri Utama Wardani, Marthadinata
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.146

Abstract

Diabetus merupakan penyakit metabolisme kronis ditandai dengan kenaikan kadar glukosa darah (gula darah), umumnya diidap orang dewasa. Beberapa komplikasi kronik DM yang paling umum ditemui yaitu Neuropati perifer. Hal ini terjadi karena hiperglikemia pada penderita DM mempengaruhi terjadinya fleksibilitas sel darah merah yang melepas O2, sehingga O2 dalam darah berkurang dan terjadi hipoksia perifer. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan terapi non-farmakologi yaitu terapi rendam kaki dengan air hangat guna melancarkan sirkulasi di perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh rendam hangat pada kaki diabetic terhadap penurunan neuropati pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Desain penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan rancangan one group pretests-posttest only. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel 16 orang berdasarkan tabel power analysis. Alat ukur yang digunakan adalah DNS (Diabetic Neuropaty Symptom). Analisa data dilakukan dengan menggunakan Uji Wilcoxon dan didapatkan p-value 0,001 (< 0,005) sehingga hasil penelitian yang didapatkan adalah ada pengaruh rendam hangat pada kaki diabetik terhadap penurunan neuropati pada klien diabetes melitus tipe 2. Penderita diabetes mellitus tipe 2 diharapkan mampu melakukan terapi rendam hangat pada kaki diabetik untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah terjadinya ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus. ABSTRACT Diabetes is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose (blood sugar) levels, commonly affecting adults. One of the most common chronic complications of DM is peripheral neuropathy. This occurs because hyperglycemia in DM patients affects the flexibility of red blood cells that release O2, resulting in reduced O2 in the blood and peripheral hypoxia. This can be prevented by non-pharmacological therapy, namely warm foot soaks to improve peripheral circulation. This study aims to identify the effect of warm foot soaks on diabetic feet on reducing neuropathy in patients with Type 2 Diabetes Mellitus. The study design used was a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest only. The sampling technique used was consecutive sampling with a sample size of 16 people based on a power analysis table. The measurement tool used was DNS (Diabetic Neuropathy Symptom). Data analysis was performed using the Wilcoxon test and obtained a p-value of 0.001 (<0.005). The results of this study indicate that warm soaks for diabetic feet have an effect on reducing neuropathy in patients with type 2 diabetes mellitus. Patients with type 2 diabetes mellitus are expected to be able to perform warm soak therapy on their diabetic feet to improve blood circulation and prevent diabetic ulcers in patients with diabetes mellitus.
PENGARUH BALANCE EXERCISE TERHADAP KESEIMBANGAN DAN KEKUATAN OTOT PADA LANSIA Sifak Syahdani, Muhammad; Kusuma Wardani, Ika; Yuliastuti, Estin; Sarifah, Siti
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.147

Abstract

Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia di atas 60 tahun yang sedang mengalami proses penuaa, sehingga akan mengalami perubahan fungsi tubuh termasuk sistem muskuloskeletal yang dapat menurunkan kekuatan otot. Latihan keseimbangan ditujukan untuk memperkuat otot tungkai bawah sekaligus meningkatkan kemmapuan sistem vestibular dalam menjaga stabilitas tubuh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan keseimbangan terhadap keseimbangan dan kekuatan otot pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan pendeatan kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 16 lansia yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi keseimbangan, kekuatan otot, data demografi dan SOP balance exercise. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Mayoritas responden berusia 61-76 tahun (37,5%) dan berjenis kelamin laki-laki (62,5%). Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan kesimbangan, dimana kategori normal naik dari 56,3% menjadi 81,3% setelah intervensi. Pada kekuatan otot, kondisi awal seluruh responden berada kategori sedang (100%), kemudian meningkat menjadi 25% normal dan 75,0% sedang. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai p kesimbangan =0,02 dan nilai p kekuatan otot p=0,05 Kesimpulan: Latihan keseimbangan berpengaruh signifikan dalam meningkatkan keseimbangan dan kekuatan otot pada lansia. ABSTRACT Background: Aging in individuals over 60 years is accompanied by physiological changes, particularly in the musculoskeletal system, which may lead to decreased muscle strength. Balance exercise is a simple intervention aimed at strengthening the lower limbs and enhancing vestibular function to maintain postural stability. Objective: This study aimed to determine the effect of balance exercise on postural balance and lower extremity muscle strength in older adults. Methods: A quantitative study with a one-group pretest–posttest design was conducted on 16 elderly participants who met the inclusion criteria. Data collection tools included balance observation sheets, muscle strength assessments, demographic data, and a standardized balance exercise protocol. The Wilcoxon signed-rank test was applied for statistical analysis, with significance set at p < 0.05. Results: Most respondents were 61–76 years old (37.5%) and male (62.5%). After the intervention, the proportion of participants with normal postural balance increased from 56.3% to 81.3%. Regarding muscle strength, all participants were initially in the moderate category (100%), but post-intervention 25% improved to normal and 75% remained moderate. The Wilcoxon test showed significant improvements in both postural balance (p = 0.02) and muscle strength (p = 0.05). Conclusion: Balance exercise significantly improves postural balance and muscle strength in the elderly. This intervention can be recommended as a practical strategy to reduce the risk of falls and maintain functional independence among older adults.
EFEKTIFITAS TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI MENSTRUASI (DISMENORE) PADA REMAJA PUTRI Kristiningtyas, Y Wahyunti
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.148

Abstract

Nyeri menstruasi atau Dismenore adalah keluhan nyeri yang dapat terjadi pada Wanita mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat. Kram berasal dari kontraksi otot Rahim yang sangat intens saat mengeluarkan darah menstruasi dari dalam Rahim. Dalam beberapa kasus, dismenore dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan tepat. Nyeri haid bukan sekadar ketidaknyamanan sesaat, melainkan kondisi yang bisa memengaruhi kualitas hidup. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan mengelola gejala dismenore dengan baik sejak dini. Relaksasi adalah salah satu cara yang efektif untuk membantu meredakan nyeri, terutama pada orang yang mengalami nyeri kronis. Teknik relaksasi napas dalam adalah metode pernapasan perlahan yang menggunakan diafragma, sehingga perut akan terangkat secara lembut dan dada mengembang secara penuh. Teknik ini merupakan bagian dari asuhan keperawatan yang dapat diajarkan oleh perawat kepada individu yang mengalami nyeri, seperti nyeri haid. Jenis penelitian adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre-test dan post test desain. Sampel penelitian sebanyak 30 Remaja usia 12-15 tahun. Teknik sampling simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan Skala intensitas nyeri numerik (Numeric Rating Scale) 0-10 (AHCPR). Analisa data univariat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan Analisa data bivariat menggunakan uji T berpasangan. Hasil penelitian diperoleh rata- rata intensitas nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi adalah 51,18 dengan standar deviasi 12,062 dan rata- rata intensitas nyeri setelah diberikan teknik relaksasi adalah 73,22 dengan standar deviasi 11,338. Nilai mean perbedaan antara intensitas nyeri sebelum dan setelah diberikan teknik relaksasi nafas dalam adalah 22,015 dengan standar deviasi 17,168. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata intensitas nyeri sebelum dan setelah diberikan teknik relaksasi nafas dalam yang artinya teknik relaksasi nafas dalam terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi (dismenore) pada remaja. ABSTRACT Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a painful complaint that can occur in women, ranging from mild to severe. Cramps originate from very intense uterine muscle contractions when expelling menstrual blood from the uterus. In some cases, dysmenorrhea can seriously disrupt daily activities if not treated properly. Menstrual pain is not just a momentary discomfort, but a condition that can affect quality of life. Therefore, it is important to recognize and manage dysmenorrhea symptoms well from the start. Relaxation is one effective way to help relieve pain, especially in people who experience chronic pain. The deep breathing relaxation technique is a method of slow breathing that uses the diaphragm, so that the stomach will gently lift and the chest expands fully. This technique is part of nursing care that can be taught by nurses to individuals experiencing pain, such as menstrual pain. The type of research is a Quasi Experiment with a one-group pre-test and post-test design. The research sample was 30 adolescents aged 12-15 years. The sampling technique was simple random sampling. The research instrument used a 0-10 Numeric Pain Intensity Scale (AHCPR). Univariate data analysis is presented in the form of a frequency distribution table and bivariate data analysis using a paired T test. The results of the study obtained an average pain intensity before being given a relaxation technique of 51.18 with a standard deviation of 12.062 and an average pain intensity after being given a relaxation technique of 73.22 with a standard deviation of 11.338. The mean value of the difference between pain intensity before and after being given a deep breathing relaxation technique is 22.015 with a standard deviation of 17.168. The results of the statistical test obtained a p value = 0.0001, so it can be concluded that there is a significant difference in the average pain intensity before and after being given a deep breathing relaxation technique, which means that the deep breathing relaxation technique is proven to be effective in reducing the intensity of menstrual pain (dysmenorrhea) in adolescents.
PENGELOLAAN KECEMASAN PADA WANITA PREMENOPAUSE MELALUI EDUKASI MANAJEMEN MENOPAUSE DI WONOGIRI: ANXIETY MANAGEMENT IN PREMENOPAUSE WOMEN THROUGH MENOPAUSE MANAGEMENT EDUCATION IN PULE SELOGIRI VILLAGE, WONOGIRI Handayani, Sri; Herawati, Syilvia
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.149

Abstract

Latar Belakang: Masa peralihan dari premenopause ke menopause menyebabkan berbagai perubahan baik secara fisik maupun psikologis. Salah satu perubahan yang terjadi adalah kecemasan. Kecamasan yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan pada beberapa hal. Tujuan: Mengidentifikasi perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan edukasi manajemen menopause Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan di Desa Pule Selogiri Wonogiri pada bulan Januari sampai dengan November 2024. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 40 orang. Informan pada penelitian ini sebanyak 5 orang. Instrumen yang digunakan berupa lembar wawancara mendalam, kuesioner HARS dan leaflet. Hasil: Hasil penelitian didapatkan seluruh informan mengalami kecemasan sebelum dilakukan tindakan dengan rata-rata skor 24,6. Tingkat kecemasan informan setelah dilakukan tindakan memiliki rata-rata skor 11,4. Rata-rata selisih penurunan tingkat kecemasan informan sebelum dan sesudah tindakan adalah sebesar 13,2. Kesimpulan: Edukasi manajemen menopause dapat menurunkan tingkat kecemasan. Gabungan edukasi manajemen menopause terstruktur dengan penguatan efikasi diri dan strategi koping perlu dilakukan. ABSTRACT Background: The transition from premenopause to menopause causes various physical and psychological changes. One such change is anxiety. Unmanaged anxiety can lead to various disorders. Goals: To identify differences in anxiety levels before and after menopause management education. Methods: This is a qualitative study using a case study approach. The study was conducted in Pule Village, Selogiri, Wonogiri, from January to November 2024. The population was 40 people. Five informants participated in the study. The instruments used were in-depth interview sheets, the HARS questionnaire, and leaflets. Results: The study found that all informants experienced anxiety before the procedure, with an average score of 24.6. The average anxiety level of informants after the procedure was 11.4. The average difference in anxiety levels between informants before and after the procedure was 13.2. Conclusion: Menopause management education can reduce anxiety levels. A combination of structured menopause management education with strengthening self-efficacy and coping strategies is necessary.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HIPERTENSI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN LANSIA DI DUSUN PONDOK KECAMATAN NGADIROJO Priyo Handono, Nugroho; Putri Chairrunisa, Luthfia
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.150

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan keadaan ketika terjadi kenaikan tekanan darah yaitu diatas 140 mmHg untuk tekanan darah sistolik dan 90 mmHg untuk tekanan darah diastolik. Masalah : Masalah yang di angkat adalah asuhan keperawatan dengan efektivitas pendidikan kesehatan tentang Hipertensi terhadap tingkat pengetahuan lansia. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan asuhan keperawatan yang melibatkan efektivitas pendidikan kesehatan tentang Hipertensi sebagai intervensi dalam meningkatkan pengetahuan lansia penderita Hipertensi. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan case study research (studi kasus). Hasil: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test terjadi peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dengan selisih 38%, dengan rata-rata nilai pre-test 52%, dan rata-rata nilai post-test adalah 90%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan jika terdapat peningkatan pengetahuan lansia mengenai tentang Hipertensi, sebagai upaya untuk mencegah berbagai macam penyakit berbahaya lainnya, serta dapat meningkatkan kesadaran untuk para lansia mengendalikan tekanan darah. ABSTRACT Background: Hypertension or high blood pressure is a condition when there is an increase in blood pressure, namely above 140 mmHg for systolic blood pressure and 90 mmHg for diastolic blood pressure. Problem: The problem raised is nursing care with the effectiveness of health education about Hypertension on the level of knowledge of the elderly. Purpose: The purpose of this study is to describe nursing care involving the effectiveness of health education about Hypertension as an intervention in increasing the knowledge of the elderly with Hypertension. Method: The method used in this study is qualitative research with a case study research approach. Results: Based on the results of the pre-test and post-test, there was an increase in the average knowledge score with a difference of 38%, with an average pre-test score of 52%, and an average post-test score of 90%. Conclusion: Based on the results of the study, it can be concluded that there is an increase in elderly knowledge about hypertension, as an effort to prevent various other dangerous diseases, and can increase awareness for the elderly to control blood pressure.
GAMBARAN TINGKAT AWARENESS ANESTESI PADA PASIEN GENERAL ANESTESI Suyanti
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.151

Abstract

Latar Belakang: Anestesi umum bekerja dengan menginduksi keadaan tidak sadar sementara pada pasien melalui efek hipnosis, amnesia, analgesia, akinesia, serta blok otonom dan sensorik, sehingga pasien tidak memberikan respon terhadap suara atau rangsangan bedah. Awareness anestesi dapat terjadi jika kedalaman anestesi tidak cukup untuk mencapai tingkat tidak sadar yang diinginkan. Awareness dapat tetap ada meskipun sedang di bawah pengaruh anestesi. Penelitian menunjukkan prevalensi awareness bervariasi berdasarkan jenis prosedur dan kondisi pasien, dengan insiden tertinggi pada kasus trauma dan pasien berisiko tinggi. Awareness selama anestesi terjadi pada sekitar 0,1% pasien dewasa dan 2,77 hingga 5,0 persen anak-anak. Tujuan dari penelitian ini untuk Mengetahui gambaran tingkat awareness anestesi pada pasien general anestesi. Metode dari penelitian ini menggunakan analisis deskriptif observasional. Teknik dalam pengambilan sample menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini Sebagian besar responden (64,2%) menunjukkan tingkat awareness anestesi yang tinggi dengan skor PRST di atas 3. Responden dengan skor PRST >3 merupakan perokok aktif dan mengonsumsi alkohol, mengindikasikan kemungkinan adanya faktor lain yang memengaruhi tingkat awareness diantaranya adalah peningkatan IMT. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu awareness anestesi yang terjadi pada pasien yang menjalani anestesi umum terjadi karena beberapa faktor diantaranya adalah usia, status ASA, Indeks Masa Tubuh, Jenis pembedahan, Waktu pembedahan dan dosis anestesi. ABSTRACT Background: General anesthesia works by inducing a temporary state of unconsciousness in patients through hypnosis, amnesia, analgesia, akinesia, and autonomic and sensory blockade, so that the patient does not respond to sounds or surgical stimuli. Anesthetic awareness can occur if the depth of anesthesia is insufficient to achieve the desired level of unconsciousness. Awareness can persist even while under anesthesia. Research shows that the prevalence of awareness varies based on the type of procedure and patient condition, with the highest incidence in trauma cases and high-risk patients. Awareness during anesthesia occurs in approximately 0.1% of adult patients and 2.77 to 5.0 percent of children. The purpose of this study was to determine the level of anesthesia awareness in general anesthesia patients. The method of this study used descriptive observational analysis. The sampling technique used purposive sampling. The results of this study showed that most respondents (64.2%) showed a high level of anesthesia awareness with a PRST score above 3. Respondents with a PRST score >3 were active smokers and consumed alcohol, indicating the possibility of other factors influencing the level of awareness, including increased BMI. The conclusion of this study is that anesthesia awareness that occurs in patients undergoing general anesthesia occurs due to several factors including age, ASA status, Body Mass Index, type of surgery, surgical time, and anesthetic dose.
EFEKTIVITAS SENAM KAKI DIABETIK UNTUK MENURUNKAN NYERI NEUROPATIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KECAMATAN PRACIMANTORO KABUPATEN WONOGIRI Puji Purwandari, Kristiana; Sorvino, Karisma
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.167

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan gula darah (hiperglikemia) dan intoleransi glukosa akibat produksi insulin yang tidak mencukupi oleh pankreas atau ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi senam kaki untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita diabetes melitus dengan nyeri neuropatik. Metode: Penelitian ini memakai cara kuantitatif dengan uji visual analog scale dengan cara ketika sedang dilakukan senam kaki diabetik peneliti memperhatikan raut wajah pada pasien untuk mengukur tingkat skala nyeri, pada penelitian ini sample responden yang digunakan sebanyak 30 orang menjadi sample penelitian. Hasil: Hasil penelitian 10 responden menunjukkan terdapat penurunan rasa nyeri neuropati dahulu dan setelah dilakukan Gerakan kaki. Terdahulu gerakan kaki dilaksanakan, jumlah rata-rata adalah 6,70, sedangkan setelah senam kaki dilakukan, nilai ratarata turun menjadi 1,40. Hal ini menunjukkan adanya penurunan rasa nyeri, yang mengindikasikan pengaruh senam kaki pada penurunan rasa nyeri pasien diabetes melitus. Kesimpulan: Menurut temuan penelitian ini, penurunan rasa nyeri pada pasien diabtes melitus setelah dilakukan senam kaki diabetik rasa nyeri berkurang secara signifikan. Nilai p value sekitar 0,000<0.005 diperoleh dari hasil uji wilcoxon, menunjukan bahwa Ha tidak diterima sedangkan Ho diterima. Hal ini membuktikan adanya pengaruh sangat relevan antara senam kaki diabetik pada penurunan rasa nyeri pasien DM neuropatik. ABSTRACT Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by increased blood sugar (hyperglycemia) and glucose intolerance due to insufficient insulin production by the pancreas or the body's inability to use the insulin produced effectively. Objective: This study aims to determine the effectiveness of foot exercise therapy to reduce pain intensity in patients with diabetes mellitus with neuropathic pain. Method: This study uses a quantitative method with a visual analog scale test by observing the patient's facial expression while performing diabetic foot exercise to measure the level of pain scale, in this study a sample of 30 respondents was used as a research sample. Results: The results of the study of 10 respondents showed a decrease in neuropathic pain before and after foot exercises were performed. Before foot exercises were performed, the average number was 6.70, while after foot exercises were performed, the average value dropped to 1.40. This indicates a decrease in pain, which indicates the effect of foot exercises on reducing pain in patients with diabetes mellitus. Conclusion: According to the findings of this study, a decrease in pain in patients with diabetes mellitus after diabetic foot exercises significantly reduced pain. A p-value of approximately 0.000 <0.005 was obtained from the Wilcoxon test, indicating that Ha is rejected while Ho is accepted. This demonstrates the highly relevant effect of diabetic foot exercises on pain reduction in neuropathic DM patients.
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KOMPRES BAWANG MERAH TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA ANAK BALITA DI DESA JOHO KECAMATAN PARCIMANTORO Ambarwati, Retno; Anggunsari, Aningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.168

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh sehubugan dengan ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas. Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu bahan alami yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur untuk meningkatkan cita rasa makanan, dan secara non farmakologi juga dapat digunakan sebagai obat tradisional.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres bawang merah terhadap penurunan suhu tubuh anak. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan case study research ( studi kasus ) dengan pendekatan proses keperawatan. Hasil : Setelah di berikan kompres bawang merah menujukkan adanya penurunan suhu tubuh pada anak. Kesimpulan: : terapi kompres bawang merah dapat membantu menurunkan suhu tubuh pada anak. ABSTRACT Background: Hyperthermia is an increase in body temperature related to the body's inability to increase heat dissipation or decrease heat production. Shallots (Allium ascalonicum) are one of the natural ingredients commonly used as a kitchen spice to enhance the taste of food, and can also be used non-pharmacologically as a traditional medicine. Objective: To determine the effect of giving shallot compresses on decreasing children's body temperature. Method: This study uses qualitative research using a case study research approach with a nursing process approach. Results: After being given a red onion compress, it showed a decrease in body temperature in children. Conclusion: red onion compress therapy can help lower body temperature in children.