cover
Contact Name
Benni Setiawan
Contact Email
bennisetiawan@uny.ac.id
Phone
+6281578968008
Journal Mail Official
ilkom@uny.ac.id
Editorial Address
Department Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dań Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta Jl. Colombo No. 1 Karangmalang Depok Sleman Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi
ISSN : ""     EISSN : 2988344X     DOI : https://doi.org/10.21831/
Core Subject : Education,
Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi, is academic journal, free of charge. Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi, is an interdisciplinary journal that welcomes contributions coming from and speaking to the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is Communication Studies.
Articles 292 Documents
Transformasi standar kecantikan Indonesia melalui pemilihan Korean Brand Ambassador produk kecantikan lokal Ardine, Felisia
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23073

Abstract

AbstrakStudi ini bertujuan untuk memaparkan transformasi standar kecantikan di Indonesia dengan adanya penggunaan Korean brand ambassador pada iklan produk lokal. Objek observasi pada studi ini adalah iklan produk kecantikan lokal yaitu Scarlett dan Somethinc sebagai pengguna Korean brand ambassador pada iklan produk yang ditawarkan. Metode penelitian pada studi ini adalah deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam terkait fenomena pengaruh Korean wave terhadap standarisasi kecantikan melalui penggunaan Korean brand ambassador. Studi ini menggunakan pendekatan observasi non pastisipan dimana peneliti tidak terlibat langsung pada subjek penelitian yang diamati. Observasi dilakukan pada X,Youtube, dan Instagram sebagai media yang mewadahi pengamatan terutama. Penelitian juga mengkaji studi literatur sebelumnya sebagai data pendukung. Teori framing digunakan pada studi ini dengan tujuan untuk menganalisis peran media dalam proses pembentukan persepsi terkait standar kecantikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan Korean brand ambassador pada iklan Scarlett dan Somethinc secara tidak langsung dapat mengubah persepsi wanita Indonesia terkait standar kecantikan. Melalui framing media pada iklan yang menampilkan kulit putih selebriti Korea pada iklan dapat membuat wanita Indonesia berlomba -lomba memiliki kulit putih untuk menjadi cantik layaknya Korean brand ambassador pada iklan tersebut. Framing pada produk iklan kecantikan menonjolkan kecantikan Korean brand ambassador yang memiliki kulit putih ditambah dengan narasi untuk mewujudkan kulit putih impian secara tidak langsung mendefinisikan bahwa cantik adalah memiliki kulit yang putih. Penggunaan Korean brand ambassador ini juga dapat memicu masyarakat terutama wanita untuk mengubah warna kulit mereka akibat adanya hagemoni budaya terkait standarisasi kecantikan melalui penggunaan Korean brand ambassador tersebut.Kata kunci: Korean brand ambassador, standar kencantikan, framing Abstract This study aims to explain the transformation of beauty standards in Indonesia with the use of Korean brand ambassadors in local product advertisements. The object of observation in this study is the advertisement of local beauty products, namely Scarlett and Somethinc as Korean brand ambassador users in the product advertisement offered. The research method in this study is qualitative descriptive with the aim of gaining an in-depth understanding of the phenomenon of the influence of the Korean wave on beauty standardization through the use of Korean brand ambassadors. This study uses a non-participant observation approach where the researcher is not directly involved in the observed research subject. Observations were made on X, Youtube, and Instagram as media that accommodated observations mainly. The study also examined previous literature studies as supporting data. Framing theory is used in this study with the aim of analyzing the role of media in the process of forming perceptions related to beauty standards. The results of the study show that the use of Korean brand ambassadors in Scarlett and Somethinc advertisements can indirectly change the perception of Indonesian women regarding beauty standards. Through media framing in ads that feature white Korean celebrities in the ads, it can make Indonesian women compete to have white skin to be beautiful like the Korean brand ambassadors in the ads. Framing beauty advertising products highlighting the beauty of Korean brand ambassadors who have white skin coupled with a narrative to realize dream white skin indirectly defines that beautiful is having white skin. The use of Korean brand ambassadors can also trigger people, especially women, to change their skin color due to cultural hagemony related to beauty standardization through the use of Korean brand ambassadors. Keywords: Korean brand ambassador, fastening standards, framing
Representasi Korean Wave pada iklan Ultra Milk X Stray Kids: show your #iamultraorddinary moves (analisis multimodal dalam iklan) Nurmalasari, Afita; Rismayanti, Afifah; Fathin, Zahida Khairunnisa
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23078

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengimplementasikan teori mengenai analisis multimodal tentang representasi Korean Wave pada iklan susu Ultra Milk. Korean Wave merupakan suatu budaya yang terkonstruksi oleh budaya yang berasal dari Korea Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi Korean Wave pada iklan Ultra Milk X Stray Kids: Show Your #IamUltraOrddinary Moves. Penelitian ini menggunakan teori analisis multimodal oleh Kress dan Leeuwen untuk menjelaskan representasi Korean Wave pada iklan ini sebagai bentuk kolaborasi dan strategi branding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iklan kolaborasi kali ini Ultra Milk berhasil menampilkan unsur-unsur yang menjadi representasi dari fenomena Korean Wave dengan baik. Secara ideasional, Korean Wave dalam iklan ini terepresentasi dengan hadirnya Stray Kids sebagai represented participants. Secara interpersonal, Korean Wave direpresentasikan dengan jarak sosial yang ada di antara aktor subjek dengan penonton, mimik wajah yang ekspresif serta penggunaan warna-warna cerah dan mencolok yang digunakan pada ornamen dalam iklan. Lalu secara tekstual representasi Korean Wave terwujud dari teks-teks serta visualisasi dalam iklan yang disesuaikan dengan konsep dan branding dari boy grup Stray Kids itu sendiri. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penggunaan aktor berupa anggota Stray Kids beserta iringan lagunya merupakan salah satu bentuk dari Korean Wave yang mendunia.Keywords: Representasi, Korean Wave, Multimodalitas, Ultra Milk, Stray Kids AbstractThis research implements the theory of multimodal analysis on the representation of Korean Wave in Ultra Milk advertisements. Korean Wave is a culture that has been constructed by the culture of origin of South Korea. This research aims to find out the representation of Korean Wave in Ultra Milk X Stray Kids advertisement: Show Your #IamUltraOrddinary Moves. This research uses Kress and Leeuwen's multimodal analysis theory to explain the representation of Korean Wave in this advertisement as a form of collaboration and branding strategy. The results show that Ultra Milk managed to display the elements that represent the Korean Wave phenomenon well in this collaborating advertisement. Ideationally, Korean Wave is represented by having Stray Kids as represented participants. Interpersonally, it is represented by the social distance between the subject actors and the viewers, the expressions on their faces, and the use of bright and bold colors in the ad's decorations. Then, in textual terms, the representation of the Korean Wave is manifested through the texts and visualizations in the advertisements, which are adapted to the concept and the branding of the boy group Stray Kids itself. The conclusion of this research is that the use of actors who are members of Stray Kids, along with the accompaniment of the song, is a form of the worldwide Korean Wave.Kata Kunci: Representation, Korean Wave, Multimodality, Ultra Milk, Stray Kids
Representasi identitas dan fashion pria metrosexual di sosial media Instagram Vidi Aldiano Alya, Aisha
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23069

Abstract

AbstrakPenelitian ini menginvestigasi fenomena fashion dalam konteks budaya metroseksual yang semakin merajalela di kota-kota besar. Fokus penelitian terkonsentrasi pada pria menengah atas dan seniman ibukota, dengan Vidi Aldiano sebagai salah satu objek penelitian yang terpilih. Metode penelitian didasarkan pada teori simiotika untuk mengungkap makna- makna yang tersemat dalam gaya hidup dan penampilan Vidi Aldiano melalui postingan Instagram-nya. Budaya metroseksual, yang mencerminkan perhatian pria terhadap penampilan dan gaya hidup modern, menjadi fenomena yang menarik untuk dikenang. Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya ini khususnya populer di kalangan pria menengah atas dan artis ibukota, menunjukkan adanya aspirasi tertentu terkait penampilan di lapisan masyarakat tertentu. Vidi Aldiano, sebagai subjek penelitian, menjadi representasi dari pria metroseksual dalam konteks kota-kota besar. Analisis menggunakan teori simiotika mengungkapkan kesesuaian antara karakteristik pria metroseksual dan penampilan Vidi Aldiano dalam postingan Instagram-nya. Penelitian ini menyoroti penggunaan simbol dan tanda dalam elemen fashion yang diakui oleh masyarakat sebagai atribut pria metroseksual. Dengan demikian, temuan penelitian mengonfirmasi bahwa Vidi Aldiano secara konsisten mengadopsi karakteristik pria metroseksual dalam penampilan di media sosial. Ini melibatkan pemilihan busana, gaya rambut, dan elemen-elemen lain yang membentuk citra metroseksual. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang bagaimana simbol dan tanda dalam fashion dapat mencerminkan budaya dan identitas pria metroseksual di kota-kota besar saat ini.Kata kunci : fashion, metroseksual, simiotika, Vidi Aldiano AbstractThis study investigates the phenomenon of fashion in the context of metrosexual culture which is increasingly rampant in big cities. The focus of the research is concentrated on upper-middle-class men and artists in the capital, with Vidi Aldiano as one of the selected research objects. The research method is based on the theory of symotics to reveal the meanings embedded in Vidi Aldiano's lifestyle and appearance through his Instagram posts. Metrosexual culture, which reflects men's attention to modern appearance and lifestyle, is an interesting phenomenon to remember. The study shows that this culture is particularly popular among upper-middle-class men and the capital's artists, suggesting that there are certain aspirations regarding appearance in certain strata of society. Vidi Aldiano, as the subject of the study, became a representation of the metrosexual man in the context of big cities. The analysis using the theory of symotica revealed the compatibility between the characteristics of metrosexual men and Vidi Aldiano's appearance in his Instagram post. This research highlights the use of symbols and signs in fashion elements that are recognized by society as attributes of metrosexual men. Thus, the findings of the study confirm that Vidi Aldiano consistently adopts the characteristics of metrosexual men in their appearance on social media. It involves the choice of clothing, hairstyles, and other elements that make up the metrosexual image. This research contributes to our understanding of how symbols and signs in fashion can reflect the culture and identity of metrosexual men in today's major cities. Keywords: fashion, metrosexual, symiotika, Vidi Aldiano
Agama sebagai produk: membedah komodifikasi Agama Islam dalam industri media perfilman dan periklanan Humaira, Aisyah
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23095

Abstract

AbstrakKomodifikasi merupakan sebuah proses transformasi atau pengubahan suatu nilai guna menjadi suatu nilai yang dapat dikomersilkan atau dijual. Dalam konteks yang lebih luas, komodifikasi tidak hanya terbatas pada barang fisik saja, melainkan pada aspek-aspek abstrak seperti nilai-nilai keagamaan. Kajian ini meneliti fenomena komodifikasi agama Islam pada industri media perfilman dan periklanan. Dalam kajian ini, metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka dilakukan untuk mengidentifikasi penelitian terkini mengenai komodifikasi agama Islam. Selanjutnya, konteks ekonomi politik dikaji melalui analisis kualitatif tentang bagaimana prinsip-prinsip agama membentuk taktik pemasaran iklan dan produksi film. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman menyeluruh tentang fungsi pemain utama, peraturan, dan dinamika pasar. Teori yang digunakan dalam kajian ini ialah Teori Ekonomi Politik dan Teori Semiotika. Teori Ekonomi Politik memberikan kerangka untuk mengkaji bagaimana komodifikasi agama Islam menciptakan nilai ekonomi. Analisis ini mengidentifikasi peran dunia usaha, kebijakan pemerintah, dan dinamika pasar dalam memahami bagaimana nilai-nilai agama diintegrasikan ke dalam strategi perekonomian. Konsep semiotika, khususnya tokoh seperti Ferdinand Saussure, Charles Sanders Peirce, dan Roland Barthes menjadi alat analisis untuk mendekonstruksi simbolisme agama di media. Analisis semiotika membantu kita memahami bagaimana simbol-simbol ini dibuat, diinterpretasikan, dan digunakan dalam konteks pemasaran dan film. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memahami kompleksitas dinamika ekonomi dan semiotika yang terlibat dalam proses komodifikasi keagamaan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa makna agama telah menjelma menjadi komoditas yang dapat dijual dan diinterpretasikan dalam konteks ekonomi politik dan analisis simbolik. Terdapat kritik terhadap komodifikasi agama Islam dengan menyebutkan kekhawatiran akan potensi kerugian yang ditimbulkannya terhadap nilai-nilai agama, perilaku stereotip, dan distorsi makna. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana komodifikasi Islam berdampak pada tren dalam industri film dan periklanan. Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya aspek moral dan kemasyarakatan, menggarisbawahi perlunya pendekatan seimbang yang mempertimbangkan faktor ekonomi dan agama dalam masyarakat.Kata kunci: komodifikasi agama, islam, semiotik, ekonomi politik, media, periklanan, perfilman Abstract Commodification is a process of transforming or changing a useful value into a value that can be commercialized or sold. In a broader context, commodification is not only limited to physical goods, but also to abstract aspects such as religious values. This study examines the phenomenon of Islamic religious commodification in the film and advertising media industry. In this study, the method used is a qualitative method with a literature review approach. A literature review was conducted to identify the latest research on the commodification of the Islamic religion. Furthermore, the context of political economy is examined through a qualitative analysis of how religious principles shape advertising marketing tactics and film production. This approach allows for a thorough understanding of the key players' functions, regulations, and market dynamics. The theories used in this study are Political Economy Theory and Semiotic Theory. Political Economy Theory provides a framework for examining how the commodification of Islam creates economic value. This analysis identifies the role of the business world, government policies, and market dynamics in understanding how religious values are integrated into economic strategies. The concept of semiotics, especially figures such as Ferdinand Saussure, Charles Sanders Peirce, and Roland Barthes, has become an analytical tool to deconstruct religious symbolism in the media. Semiotic analysis helps us understand how these symbols are created, interpreted, and used in marketing and film contexts. The purpose of this study is to understand the complexity of economic dynamics and semiotics involved in the process of religious commodification. The results of this study show that the meaning of religion has been transformed into a commodity that can be sold and interpreted in the context of political economy and symbolic analysis. There is criticism of the commodification of Islamic religion, citing concerns about the potential harm it causes to religious values, stereotypical behavior, and distortion of meaning. This study contributes to the understanding of how Islamic commodification impacts trends in the film and advertising industries. The statement underscored the importance of moral and societal aspects, underscoring the need for a balanced approach that considers economic and religious factors in society. Keywords: commodification of religion, islam, semiotics, political economy, media, advertising, cinema
Gap The Series: peran media terhadap persepsi hingga solidaritas fandom lesbian di Indonesia Hafifah, Helena Nuryatul
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23100

Abstract

AbstrakMedia memiliki peran besar dalam mempengaruhi hadirnya media massa. Berkaitan dengan itu viralnya serial GAP: The Series menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti. GAP The Series merupakan serial Girls Lover Thailand pertama yang berhasil menarik perhatian beberapa negara termasuk Indonesia. Dalam kajian ini melihat bagaimana budaya viralitas dan media saling berkaitan yang tentunya  berpengaruh terhadap persepsi masyarakat Indonesia baik bagi mereka yang awalnya tidak tahu maupun yang sudah berada di komunitas tersebut kemudian menjadi suka dan membentuk fandom. Melalui pendekatan kualitatif, analisis konten media peneliti melihat ada indikator  perubahan dalam persepsi secara umum, keterlibatan kelompok marginal secara khusus, dan solidaritas di antara fandom lesbian pada segmentasi khusus GAP The Series. Temuan menunjukkan bahwa media ini tidak hanya mempengaruhi pandangan masyarakat tetapi juga memainkan peran penting dalam memperkuat identitas dan solidaritas kelompok tersebut.Kata kunci: the series, media, persepsi, solidaritas, fandom lesbian Abstract The media has a big role in influencing the presence of mass media. In this regard, the virality of the GAP: The Series series is an interesting phenomenon to research. GAP The Series is the first Thai Girls Lover series that has managed to attract the attention of several countries including Indonesia. In this study, we look at how virality culture and media are interrelated, which of course affects the perception of Indonesian society, both for those who initially do not know and those who are already in the community, then become likes and form a fandom. Through a qualitative approach, the researcher analyzed media content and saw that there were indicators of changes in perception in general, the involvement of marginalized groups in particular, and solidarity among lesbian fandoms in the special segmentation of GAP The Series. The findings show that this media not only influences people's views but also plays an important role in strengthening the identity and solidarity of the group. Keywords: the series, media, perception, solidarity, lesbian fandom
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-Young Wirawan, Audy Kavindra
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23096

Abstract

Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-YoungAbstrakPenelitian ini menggali fenomena cyberbullying yang menimpa Jang Won-young, seorang idol K-pop yang menjadi sasaran perundungan di platform TikTok. Dalam era digital yang pesat, media sosial, khususnya TikTok, menjadi wadah masyarakat berbagi kreativitas dan tren terkini, termasuk fenomena fandom K-pop. Fandom K-pop tidak hanya sekadar penggemar, tetapi juga membentuk komunitas kuat dengan norma dan tradisi sendiri. Sayangnya, di balik popularitas, platform TikTok juga menjadi tempat terjadinya perundungan terhadap idol K-pop, menciptakan lingkungan online yang tidak aman dan merugikan. Studi kasus pada Jang Won-young memperlihatkan kompleksitas dampak cyberbullying terhadap reputasi publik seorang idol. Teori framing digunakan untuk menganalisis cara media sosial, terutama TikTok, membentuk naratif dan mempresentasikan cyberbullying. Framing media sosial dapat memengaruhi persepsi masyarakat, memberikan penekanan tertentu pada konten kontroversial, dan memicu respon beragam. Media sosial bukan hanya penyebar informasi, tetapi juga pembentuk opini publik yang dapat memengaruhi hubungan antara idol dan penggemar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif, melibatkan Systematic Literature Review (SLR) dan Internet Searching untuk merangkum informasi terkait Judgment Culture. Hasil dan pembahasan menggambarkan deskripsi kasus, analisis faktor pemicu, respons publik, dan peran media sosial. Kesimpulan menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran publik terhadap tekanan yang dihadapi oleh idol K-pop. Upaya bersama dari masyarakat, industri hiburan, dan media sosial diperlukan untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan mendukung bagi para idol.Kata kunci: cyberbullying, tiktok, fandom k-pop, teori framing Abstract This research explores the phenomenon of cyberbullying that befell Jang Won-young, a K-pop idol who was the target of bullying on the TikTok platform. In the rapid digital era, social media, especially TikTok, has become a forum for people to share creativity and the latest trends, including the K-pop fandom phenomenon. K-pop fandom is not just fans, but also forms a strong community with its own norms and traditions. Unfortunately, behind its popularity, the TikTok platform is also a place where bullying of K-pop idols occurs, creating an unsafe and detrimental online environment. The case study on Jang Won-young shows the complexity of the impact of cyberbullying on an idol's public reputation. Framing theory is used to analyze the way social media, especially TikTok, shapes narratives and presents cyberbullying. Social media framing can influence public perceptions, place a certain emphasis on controversial content, and trigger mixed responses. Social media is not only a disseminator of information, but also a shaper of public opinion that can affect the relationship between idols and fans. The research method uses a qualitative approach with descriptive studies, involving Systematic Literature Review (SLR) and Internet Searching to summarize information related to Judgment Culture. The results and discussion describe the case description, trigger factor analysis, public response, and the role of social media. The conclusion emphasizes the importance of education and public awareness of the pressures faced by K-pop idols. A concerted effort from the community, entertainment industry, and social media is needed to create a safer and more supportive online environment for idols. Keywords: cyberbullying, tiktok, k-pop fandom, framing theory
Jejak uang: mengungkap kepentingan pemilik modal di balik layar media dalam kajian teori ekonomi politik media Maharani, Nadya Primaditya
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23101

Abstract

AbstrakTelevisi merupakan bentuk dari salah satu media massa yang dalam hal ini mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap pembentukan opini publik. Teori ekonomi politik termasuk yang menggunakan pendekatan kritis, terutama berfokus tentang kaitannya antar struktur ekonomi, proses peroduksi media, dan pandangan konten media. Fokus penelitian ini mempunyai implikasi terhadap penelitian berfokus pada kepemilikan media dan struktur kendali serta fungsi kekuatan pasar media. Teori ekonomi politik media McQuail menyatakan bahwa kepemilikan media berdampak negatif pada masyarakat. Dari sudut pandang politik dan ekonomi, media tidak bisa dipisahkan dari kepentingan kapitalis, negara, dan kelompok lainnya. Media berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan masyarakat dan menciptakan dominasi ideologi tertentu. Terdapat kekhawatiran bahwa monopoli atau penguasaan media oleh segelintir pemilik dapat mengancam kebebasan pers dan kebebasan masyarakat umum untuk memilih dan mengakses informasi sesuai kebutuhan mereka. Dari sudut pandang demokrasi, televisi adalah salah satu media pendukung. Televisi dapat menyajikan informasi politik yang dapat digunakan masyarakat dalam mengambil keputusan politik. Ekonomi politik berkembang sebagai tanggapan terhadap akselerasi kapitalisme. Kepuasan audiens dengan Penggunaan media mempengaruhi pada pembentukan modal. Dimmick dan Rothenbuhler (1984) berpendapat bahwa mengenai hal tersebut media mempunyai tiga sumber kehidupan yaitu konten, modal dan khalayak. Jika kontennya menarik, pemirsa akan terus memilih saluran TV tertentu untuk ditonton. TV menunjukkan bahwa kemajuan teknologi media masyarakat tidak mengetahui mengenai batas ruang dan waktu. Dalam arti sempit, Moskow mengatakan bahwa ekonomi politik adalah penelitian tentang hubungan sosial, terutama hubungan kekuatan yang saling menguntungkan antara distribusi, konsumsi, dan sumber produksi. yang berkaitan termasuk dengan sumber komunikasi. Konten atau Media Konten merupakan barang yang dapat dijual di pasar, dan informasi yang disebarkan didasarkan pada apa yang ada di pasar saat ini.Kata kunci: pemilik modal, televisi, ekonomi politik media Abstract Television is a form of mass media which in this case has the greatest influence on the formation of public opinion. Political economy theory includes those that use a critical approach, mainly focusing on the relationship between economic structure, the process of media production, and the view of media content. The focus of this research has implications for research focusing on media ownership and the control structure and function of media market forces. McQuail's media political economy theory states that media ownership has a negative impact on society. From a political and economic point of view, the media cannot be separated from the interests of capitalists, the state, and other groups. The media serves as a tool to control society and create the dominance of certain ideologies. There are concerns that monopoly or control of the media by a few owners could threaten press freedom and the freedom of the general public to choose and access information according to their needs. From the point of view of democracy, television is one of the supporting media. Television can present political information that can be used by the public in making political decisions. Political economy developed in response to the acceleration of capitalism. Audience satisfaction with media use affects capital formation. Dimmick and Rothenbuhler (1984) argue that in this regard, the media has three sources of life, namely content, capital and audience. If the content is interesting, viewers will continue to choose a specific TV channel to watch. TV shows that the advancement of media technology does not know about the limits of space and time. In a narrow sense, Moscow says that political economy is the study of social relations, especially the mutually beneficial power relations between distribution, consumption, and sources of production. related to communication sources. Content or Media Content is an item that can be sold in the market, and the information disseminated is based on what is currently in the market. Keywords: capital owners, television, media political economy
Ekonomi politik media: analisis keberpihakan pemberitaan Sindonews pada calon presiden pasca debat 1 calon presiden Arkham, Azam Muzafarudin
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23097

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis keberpihakan pemberitaan Sindonews terhadap calon presiden pasca debat pertama melalui pendekatan ekonomi politik media dan menggunakan Teori Agenda Setting oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Media massa, sebagai penggerak dinamika sosial, budaya, dan politik, berperan penting dalam membentuk opini dan pandangan masyarakat. Pada tanggal 12 Desember 2024, Sindonews mempublikasikan 7 berita terkait debat calon presiden, di mana seluruhnya fokus pada Ganjar Pranowo dengan 6 berita memberikan narasi positif dan 1 berita mengandung kritik terhadap KPU. Pada tanggal 13, dari total 96 artikel berita, 49 membahas debat calon presiden, dengan 29 berita fokus pada Ganjar Pranowo, 4 berita tentang Prabowo Subianto, dan 1 berita mengenai Anies Baswedan. Hasil analisis menunjukkan kecenderungan keberpihakan Sindonews terhadap Ganjar Pranowo, terutama dalam aspek frekuensi dan tonality yang cenderung positif. Penggunaan Teori Agenda Setting membantu memahami cara media membentuk agenda publik dan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap calon presiden. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan analisis konten. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika ekonomi politik media dalam konteks pemilihan presiden.Kata kunci : sindonews, debat calon presiden, agenda setting Abstract This study aims to analyze the partiality of Sindonews' news coverage to presidential candidates after the first debate through a media political economy approach and using Agenda Setting Theory by Maxwell McCombs and Donald Shaw. Mass media, as a driver of social, cultural, and political dynamics, plays an important role in shaping public opinion and views. On December 12, 2024, Sindonews published 7 news related to the presidential candidate debate, of which all focused on Ganjar Pranowo with 6 news providing a positive narrative and 1 news containing criticism of the KPU. On the 13th, out of a total of 96 news articles, 49 discussed the presidential candidate debate, with 29 news stories focusing on Ganjar Pranowo, 4 news stories about Prabowo Subianto, and 1 news story about Anies Baswedan. The results of the analysis show that Sindonews' tendency to be biased towards Ganjar Pranowo, especially in the aspects of frequency and tonality which tend to be positive. The use of Agenda Setting Theory helps understand how the media shapes public agendas and influences public perceptions of presidential candidates. This research uses a qualitative approach with case study methods and content analysis. Thus, this research contributes to understanding the dynamics of the political economy of the media in the context of the presidential election. Keywords: sindonews, presidential candidate debate, agenda setting
Hegemoni media televisi dalam membentuk figur capres Ahsani, Raihani Salma
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23102

Abstract

AbstrakTelevisi merupakan bentuk dari salah satu media massa yang dalam hal ini mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap pembentukan opini publik. Teori ekonomi politik termasuk yang menggunakan pendekatan kritis, terutama berfokus tentang kaitannya antar struktur ekonomi, proses peroduksi media, dan pandangan konten media. Fokus penelitian ini mempunyai implikasi terhadap penelitian berfokus pada kepemilikan media dan struktur kendali serta fungsi kekuatan pasar media. Teori ekonomi politik media McQuail menyatakan bahwa kepemilikan media berdampak negatif pada masyarakat. Dari sudut pandang politik dan ekonomi, media tidak bisa dipisahkan dari kepentingan kapitalis, negara, dan kelompok lainnya. Media berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan masyarakat dan menciptakan dominasi ideologi tertentu. Terdapat kekhawatiran bahwa monopoli atau penguasaan media oleh segelintir pemilik dapat mengancam kebebasan pers dan kebebasan masyarakat umum untuk memilih dan mengakses informasi sesuai kebutuhan mereka. Dari sudut pandang demokrasi, televisi adalah salah satu media pendukung. Televisi dapat menyajikan informasi politik yang dapat digunakan masyarakat dalam mengambil keputusan politik. Ekonomi politik berkembang sebagai tanggapan terhadap akselerasi kapitalisme. Kepuasan audiens dengan Penggunaan media mempengaruhi pada pembentukan modal. Dimmick dan Rothenbuhler (1984) berpendapat bahwa mengenai hal tersebut media mempunyai tiga sumber kehidupan yaitu konten, modal dan khalayak. Jika kontennya menarik, pemirsa akan terus memilih saluran TV tertentu untuk ditonton. TV menunjukkan bahwa kemajuan teknologi media masyarakat tidak mengetahui mengenai batas ruang dan waktu. Dalam arti sempit, Moskow mengatakan bahwa ekonomi politik adalah penelitian tentang hubungan sosial, terutama hubungan kekuatan yang saling menguntungkan antara distribusi, konsumsi, dan sumber produksi. yang berkaitan termasuk dengan sumber komunikasi. Konten atau Media Konten merupakan barang yang dapat dijual di pasar, dan informasi yang disebarkan didasarkan pada apa yang ada di pasar saat ini.Kata kunci: pemilik modal, televisi, ekonomi politik media Abstract Television is a form of mass media which in this case has the greatest influence on the formation of public opinion. Political economy theory includes those that use a critical approach, mainly focusing on the relationship between economic structure, the process of media production, and the view of media content. The focus of this research has implications for research focusing on media ownership and the control structure and function of media market forces. McQuail's media political economy theory states that media ownership has a negative impact on society. From a political and economic point of view, the media cannot be separated from the interests of capitalists, the state, and other groups. The media serves as a tool to control society and create the dominance of certain ideologies. There are concerns that monopoly or control of the media by a few owners could threaten press freedom and the freedom of the general public to choose and access information according to their needs. From the point of view of democracy, television is one of the supporting media. Television can present political information that can be used by the public in making political decisions. Political economy developed in response to the acceleration of capitalism. Audience satisfaction with media use affects capital formation. Dimmick and Rothenbuhler (1984) argue that in this regard, the media has three sources of life, namely content, capital and audience. If the content is interesting, viewers will continue to choose a specific TV channel to watch. TV shows that the advancement of media technology does not know about the limits of space and time. In a narrow sense, Moscow says that political economy is the study of social relations, especially the mutually beneficial power relations between distribution, consumption, and sources of production. related to communication sources. Content or Media Content is an item that can be sold in the market, and the information disseminated is based on what is currently in the market. Keywords: capital owners, television, media political economy
Gerakan sosial modern: seruan boikot produk afiliasi Israel melalui media sosial Alfarisi, Azmi
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i4.23098

Abstract

AbstrakArtikel ini menganalisis tentang bagaimana gerakan sosial boikot dalam menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi untuk menyuarakan pesan, meningkatkan kesadaran publik, dan menekan perusahaan serta institusi terkait dengan Israel. Konflik Israel-Palestina yang kembali memanas pada kuartal keempat tahun 2023 memicu respons masyarakat melalui gerakan sosial Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) di Indonesia. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis konten media sosial, penelitian ini menjelaskan bagaimana gerakan sosial modern beradaptasi dengan teknologi dan konektivitas global untuk mencapai tujuannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa gerakan boikot produk Israel memanfaatkan pesan-pesan yang kuat, dukungan emosional, dan strategi inklusif di media sosial untuk memobilisasi partisipasi luas dari masyarakat dan menciptakan tindakan kolektif di dunia nyata. Respons yang signifikan di media sosial mencerminkan penerimaan tinggi terhadap gerakan ini dan menegaskan daya dorong yang kuat terhadap perubahan nyata. Dengan respons positif dan penyebaran pesan yang cepat, gerakan ini bukan hanya eksis di ruang digital tetapi berhasil melibatkan masyarakat secara nyata, menciptakan solidaritas global, dan memperluas dampak gerakan dari dunia maya ke dunia nyata. Analisis konten media sosial menyoroti jenis pesan yang dominan, penggunaan tagar, slogan, dan emoji sebagai identitas gerakan. Selain itu, pesan-pesan juga memberikan daftar produk boikot dan alternatif lokal, mendukung aspek ekonomi gerakan ini. Dengan memadukan pesan emosional, informasi praktis, dan strategi inklusif, gerakan boikot produk Israel berhasil menciptakan kesadaran tinggi terhadap isu Palestina dan memotivasi tindakan kolektif yang nyata dari masyarakat Indonesia. Penelitian ini memberikan sebuah analisis tentang bagaimana strategi komunikasi yang efektif dan adaptif di media sosial dapat mempengaruhi sikap dan tindakan masyarakat terkait gerakan sosial tertentu.Kata kunci: boikot produk, Israel-Palestina, gerakan sosial, media sosial Abstract This article analyzes how the social boycott movement uses social media as a communication tool to voice messages, raise public awareness, and pressure companies and institutions related to Israel. The Israeli-Palestinian conflict, which heated up again in the fourth quarter of 2023, triggered a public response through the Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) social movement in Indonesia. With a qualitative descriptive approach and analysis of social media content, this study explains how modern social movements are adapting to technology and global connectivity to achieve their goals. The results of the analysis show that the boycott of Israeli products makes use of strong messages, emotional support, and inclusive strategies on social media to mobilize broad participation from the public and create collective action in the real world. The significant response on social media reflects the high acceptance of this movement and confirms the strong impetus for real change. With a positive response and rapid dissemination of messages, this movement not only exists in the digital space but has succeeded in engaging the community in real life, creating global solidarity, and expanding the impact of the movement from cyberspace to the real world. The analysis of social media content highlights the dominant types of messages, the use of hashtags, slogans, and emojis as the identity of the movement. In addition, the messages also provided a list of boycotted products and local alternatives, supporting the economic aspects of the movement. By combining emotional messages, practical information, and inclusive strategies, the boycott of Israeli products has succeeded in creating a high awareness of the Palestinian issue and motivating real collective action from the Indonesian people. This study provides an analysis of how effective and adaptive communication strategies on social media can affect people's attitudes and actions related to certain social movements. Keywords: product boycott, Israel-Palestine, social movement, social media

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 4 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 3 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 1 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 4 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 3 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 1 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 4 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 3 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 2 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 4 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 3 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 1 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 4 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 3 (2020): Lektur:Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 2 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 4 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 3 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1, No 1 (2018): Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi More Issue