cover
Contact Name
Benni Setiawan
Contact Email
bennisetiawan@uny.ac.id
Phone
+6281578968008
Journal Mail Official
ilkom@uny.ac.id
Editorial Address
Department Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dań Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta Jl. Colombo No. 1 Karangmalang Depok Sleman Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi
ISSN : ""     EISSN : 2988344X     DOI : https://doi.org/10.21831/
Core Subject : Education,
Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi, is academic journal, free of charge. Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi, is an interdisciplinary journal that welcomes contributions coming from and speaking to the many disciplines and approaches that meet at the crossroads that is Communication Studies.
Articles 292 Documents
Pengaruh Word of Mouth (WOM) melalui Brand Image dalam Pemilihan Kampus Vokasi UNY Gunungkidul Aulia, Anugerah Tesa; Satyawan, Ign. Agung; Muhammad, Albert
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i2.21768

Abstract

Abstrak             Pada tahun 2020, UNY membuka kampus vokasi baru di Gunungkidul. Sosialisasi memperkenalkan kampus UNY Gunungkidul dalam rangkaian penerimaan mahasiswa baru tidak dapat dilakukan secara tatap muka lantaran situasi pandemi Covid-19. Hal yang dilakukan untuk memperkenalkan Kampus UNY Gunungkidul yaitu secara online. Pembukaan kampus ini bertujuan untuk meratakan serta meningkatkan mutu pendidikan sekolah tinggi di DIY. Gunungkidul menjadi kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak kedua di DIY. Kampus UNY Gunungkidul menggunalan media sosial sebagai media promosi. Hal ini juga dilakukan guna mendukung pembentukan brand image terhadap pengambilan keputusan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan pengukuran skala likert. Populasi pada penelitian sebanyak 502 mahasiswa. Dalam menghintung jumlah sampel menggunakan formulasi tabel Albert Harkin Colton diperoleh 90 responden. Penelitian ini menggunakan uji Sobel test. Hasil perhitungan Sobel Test menggunakan uji Z diketahui nilai Z = 4,012 1,96 atau Zhitung Ztabel maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan Word Of Mouth melalui brand image terhadap keputusan mahasiswa dalam pemilihan kampus vokasi UNY Gunungkidul.Kata Kunci: Word Of Mouth, Brand Image, UNY Gununkidul Abstract            In 2020, UNY opened a new vocational campus in Gunungkidul. Socialization regarding the introduction of the UNY Gunungkidul campus in the series of new student admissions cannot be carried out face-to-face due to the Covid-19 pandemic situation. What is being done to introduce the UNY Gunungkidul Campus is online. The opening of this campus aims to level and improve the quality of higher school education in DIY. Gunungkidul is the district with the second highest number of poor people in DIY. UNY Gunungkidul Campus uses social media as promotional media. This is also done to support the formation of a brand image for student decision making. This research uses a quantitative descriptive approach using Likert scale measurements. The population in the study was 502 students. In calculating the sample size using the Albert Harkin Colton table formulation, 90 respondents were obtained. This research uses the Sobel test. The results of the Sobel Test calculation using the Z test show that the value of Z = 4.012 1.96 or Zcount Ztable means it can be concluded that there is a positive and significant influence of Word of Mouth through brand image on students' decisions in choosing the UNY Gunungkidul vocational campusKeyword: Word Of Mouth, Brand Image, UNY Gununkidul
Persepsi followers @perbasi_imy tentang konten event Perbasi Cup 2022 Venema, Salsabila Gabrielle Fatro; Widiarti, Pratiwi Wahyu
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 4 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v5i4.19185

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi followers @Perbasi_IMY tentang konten event Perbasi Cup 2022 pada akun Instagram @Perbasi_IMY. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah survey, dengan menggunakan Teknik Simple Random Sampling dan angket. Populasi dalam penelitian ini berupa Followers akun Instagram @Perbasi_IMY. Peneliti mengumpulkan informasi dengan cara menyebarkan kuisioner pada followers @Perbasi_IMY yang berisi pernyataan tertutup. Angket diuji validitas dengan korelasi Product Moment Pearson dan realibilitas dengan Cronbach Alpha. Teknik analisa data menggunakan analisis deskriptif dan skala uji kelayakan menurut Suharsimi Arikunto. Hasil analisis deskriptif kuantitatif menunjukkan sejumlah 52 responden dengan presentase sebesar 69% berada pada kategori “baik” untuk digunakan sebagai media informasi tentang akun @Perbasi_IMY tentang Konten Perbasi Cup 2022. Sejumlah 23 responden dengan presentase 31% berada pada kategori “cukup baik”. Maka dari itu Akun Instagram @Perbasy_IMY mampu memenuhi kebutuhan informasi bagi para followers.Kata kunci : Persepsi, Followers, Akun Instagram @Perbasi_IMY, Perbasi Cup 2022 AbstractThis research was conducted to find out how followers' perceptions @Perbasi_IMY about the content of the Perbasi Cup 2022 event on @Perbasi_IMY Instagram account. This research is a research with a quantitative approach. The method used is a survey, using simple random sampling techniques and questionnaires. The population in this study is in the form of Followers of @Perbasi_IMY Instagram accounts. Researchers collect information by distributing questionnaires to followers of @Perbasi_IMY containing closed statements. The questionnaire was tested for validity with Pearson’s Product Moment correlation and reliability with Cronbach Alpha. The data analysis technique uses descriptive analysis and a feasibility test scale according to Suharsimi Arikunto. The results of the quantitative descriptive analysis showed that a total of 52 respondents with a percentage of 69% were in the "good" category to be used as an information medium about @Perbasi_IMY accounts about the Perbasi Cup 2022 Content. A total of 23 respondents with a percentage of 31% were in the "quite good" category. Therefore, the Instagram account @Perbasy_IMY able to meet the information needs of followers.Keywords : Perception, Followers, @Perbasi_Imy Instagram Account, Perbasi Cup 2022
Fenomena parasosial penggemar K-Pop dalam media sosial (studi kasus pada perilaku parasosial penggemar K-Pop di media sosial x, Instagram, dan Tiktok) Putri, Nabila Septiana
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23074

Abstract

AbstrakDalam lingkup media sosial terdapat beberapa hubungan dan interaksi yang terjadi antar sesama penggunanya. Contohnya yakni hubungan parasosial yang membentuk suatu fenomena khususnya hubungan parasosial penggemar K-Pop. Menurut Horton dan Wohl dalam Harvey dan Manusov (2001), secara umum, hubungan parasosial didefinisikan sebagai hubungan lekat yang terbentuk di media sebab adanya suatu ikatan yang dirasakan oleh seseorang dengan idola yang dikaguminya di media sosial. Berdasarkan hal itu, fenomena yang terjadi dapat banyak ditemukan dalam media sosial di lingkup antara penggemar K-Pop dan juga penggemarnya. Para penggemar K-Pop memiliki perasaan lekat dalam menjalin hubungan dengan idolanya. Tak sedikit dari mereka yang merasa ia dekat dan bisa berinteraksi secara langsung layaknya orang yang spesial. Mereka seringkali mengunggah sebuah cuitan ataupun komentar dalam media sosial yang membentuk adanya fenomema hubungan parasosial. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode analisis persepsi dengan pendekatan teori parasosial. Metode analisis persepsi dipilih sebab kita dapat melakukan pemantauan terhadap perilaku para penggemar K-Pop di media sosial melalui tweet, komentar, serta postingan yang diunggahnya. Media sosial yang digunakan sebagai wadah untuk mencari data yakni X, Instagram, dan juga Tiktok. Dari ketiga media sosial tersebut, kita dapat menemukan berbagai contoh hubungan parasosial yang muncul. Beragam perilaku dapat dikaji dan dibahas dengan menyelaraskan teori yang akan digunakan yakni teori parasosial. Dengan penelitian dan kajian yang dilakukan, diharapkan kita bisa tahu dan memahami tentang adanya fenomena hubungan parasosial di media sosial terkhusus hubungan parasosial antara para penggemar K- Pop dengan idola yang diminatinya.Kata kunci: hubungan parasional, penggemar, K-pop Abstract Within the scope of social media, there are several relationships and interactions that occur between fellow users. An example is parasocial relationships that form a phenomenon, especially parasocial relationships of K-Pop fans. According to Horton and Wohl in Harvey and Manusov (2001), in general, parasocial relationships are defined as close relationships formed in the media because of a bond felt by a person with an idol he admires on social media. Based on that, the phenomenon that occurs can be found in social media in the sphere between K-Pop fans and fans. K-Pop fans have a feeling of attachment in establishing a relationship with their idols. Not a few of them feel that they are close and can interact directly like a special person. They often upload a tweet or comment on social media that forms a phenomenon of parasocial relationships. The research was conducted using a perceptual analysis method with a parasocial theory approach. The perception analysis method was chosen because we can monitor the behavior of K-Pop fans on social media through tweets, comments, and posts they upload. Social media used as a forum to search for data is X, Instagram, and also Tiktok. From these three social media, we can find various examples of parasocial relationships that have emerged. Various behaviors can be studied and discussed by aligning the theory to be used, namely parasocial theory. With the research and studies carried out, it is hoped that we can know and understand about the phenomenon of parasocial relationships on social media, especially the parasocial relationship between K-Pop fans and the idols they are interested in. Keywords: paralogical relationships, fans, K-pop
Inklusi digital : persepsi masyarakat terhadap penyandang disabilitas sebagai model iklan pada brand fashion layak official Anintya, Athallah Hana
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23070

Abstract

AbstrakInklusi digital bagi penyandang disabilitas bukan hanya menjadi suatu tanggung jawab sosial, tetapi juga menjadi dasar yang kuat untuk membentuk model fashion yang diakui sebagai "Layak Official". Makalah ini menjelaskan bagaimana integrasi inklusi digital dalam industri fashion dapat menciptakan model Layak Official yang menghargai keberagaman dan mempromosikan kesetaraan aksesibilitas. Model ini mewakili sebuah merek fashion yang tidak hanya memprioritaskan gaya, tetapi juga memperkuat identitasnya melalui komitmen terhadap inklusi dan responsivitas terhadap kebutuhan konsumen dengan disabilitas. Model fashion "Layak Official" ini mencakup desain pakaian yang mempertimbangkan kenyamanan dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Hal ini termasuk perancangan yang mempertimbangkan keterbatasan fisik, seperti penempatan resleting yang mudah dijangkau atau desain yang memudahkan pemakaian bagi mereka dengan keterbatasan motorik. Selain itu, platform digital untuk model fashion ini harus dirancang dengan fokus pada aksesibilitas. Antarmuka yang ramah disabilitas, opsi navigasi yang intuitif, dan deskripsi produk yang menyeluruh akan memastikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi semua konsumen. Model ini juga menekankan pentingnya representasi yang inklusif dalam kampanye iklan dan promosi. Merek fashion "Layak Official" akan memilih model dari berbagai latar belakang dan kemampuan, menciptakan citra yang merefleksikan keberagaman masyarakat. Kampanye ini dapat memberikan dampak positif, membangun kesadaran masyarakat, dan merangsang konversasi tentang kebutuhan penyandang disabilitas di dunia fashion. Brand fashion ini berkomitmen untuk mendukung keterampilan dan bakat dalam komunitas penyandang disabilitas. Inisiatif seperti pelatihan kerja, kolaborasi dengan desainer disabilitas, atau kampanye amal untuk mendukung organisasi yang berfokus pada kesejahteraan penyandang disabilitas menjadi bagian integral dari model ini. Melalui pendekatan inklusi digital ini, model fashion "Layak Official" bukan hanya tentang menawarkan produk atau gaya, tetapi juga tentang membentuk citra merek yang menghargai dan merangkul keberagaman. Melalui pendekatan ini, sebuah merek fashion dapat membangun identitas yang positif dan membuktikan bahwa gaya dapat diakses dan dinikmati oleh semua orang, tanpa terkecuali.Kata kunci: inklusi digital, media digital, penyandang disabilitas AbstractDigital inclusion for people with disabilities is not only a social responsibility, but also a strong basis for shaping fashion models that are recognized as "Worthy Official". This paper explains how the integration of digital inclusion in the fashion industry can create a Layak Official model that values diversity and promotes accessibility equality. This model represents a fashion brand that not only prioritizes style, but also strengthens its identity through a commitment to inclusion and responsiveness to the needs of consumers with disabilities. This "Worthy Official" fashion model includes clothing designs that consider comfort and accessibility for people with disabilities. This includes designs that take into account physical limitations, such as the placement of zippers that are easy to reach or designs that make it easier to wear for those with motor limitations. In addition, this digital platform for fashion models must be designed with a focus on accessibility. The disability-friendly interface, intuitive navigation options, and thorough product descriptions will ensure a pleasant shopping experience for all consumers. The model also emphasizes the importance of inclusive representation in advertising and promotional campaigns. The fashion brand "Layak Official" will choose models from various backgrounds and abilities, creating an image that reflects the diversity of society. This campaign can have a positive impact, build public awareness, and stimulate conversation about the needs of people with disabilities in the fashion world. This fashion brand is committed to supporting skills and talents in the disability community. Initiatives such as job training, collaborations with disability designers, or charitable campaigns to support organizations focused on the welfare of people with disabilities are integral to this model. Through this digital inclusion approach, the "Worthy Official" fashion model is not only about offering a product or style, but also about shaping a brand image that values and embraces diversity. Through this approach, a fashion brand can build a positive identity and prove that style is accessible and enjoyed by everyone, without exception. Keywords: digital inclusion, digital media, people with disabilities
Analisis resepsi khalayak mengenai isu kesehatan mental dalam lagu “Runtuh” karya Feby Putri Setyorini, Nanda Dwi
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23075

Abstract

AbstrakLagu “Runtuh” karya Feby Putri menjadi salah satu lagu populer yang dapat menjadi gambaran bagi individu yang menikmatinya. Lagu ini membicarakan mengenai kesehatan mental dan self awareness. Saat ini kesehatan mental telah mejadi isu penting yang juga populer diarus utama pada media baru. Melalui lagu ini pencipta menyampaikan pesan dengan menceritakan perasaan seseorang yang sedang dalam masa keterpurukan dan melalui lima tahapan berduka (five stages of grief; Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance), dimulai dari fase penyangkalan, fase amarah, fase penawaran atau negosiasi, fase depresi, hingga fase penerimaan diri. Lagu ini dapat memberikan berbagai pemaknaan yang bisa saja berbeda antara satu pendengar dengan pendengar yang lainnya. Perbedaan pemaknaan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal yang melatarbelakangi kehidupan dari individu yang bersangkutan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang memiliki fokus pada analisis resepsi yang berkaitan dengan pemaknaan khalayak terhadap konten media. Data penelitian pada analisis ini diperoleh melalui proses observasi dan wawancara mendalam dengan lima orang informan dengan teknik purposive sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuii bagaimana pemaknaan pendengar terhadap isu kesehatan mental yang disampaikan melalui lagu “Runtuh” karya Feby Putri dan Fiersa Besari. Hasil penelitian menujukan bahwa empat dari lima informan merasa setuju (dominant) dengan pesan mengenai kesehatan mental dan self awareness yang ingin disampaikan dari karya lagu tersebut. Sedangkan satu informan merasa setuju dengan beberapa pengecualian (negotiated) dengan pesan-pesan kesehatan mental yang disampaikan dalam lagu tersebut. Tidak ada informan yang merasa dalam posisi tidak setuju sama sekali dengan pesan mengenai kesehatan mental yang disampaikan (oppositional) pada karya lagu tersebut.Kata kunci: analisis resepsi, khalayak, kesehatan mental, lagu runtuh, self awareness Abstract The song "Runtuh" by Feby Putri is one of the popular songs that can be an illustration for individuals who enjoy it. This song talks about mental health and self-awareness. Currently, mental health has become an important issue that is also popular in the mainstream in new media. Through this song, the creator conveys a message by telling the feelings of a person who is in a period of depression and through the five stages of grief (five stages of grief; Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance), starting from the denial phase, the anger phase, the bidding or negotiation phase, the depression phase, to the self-acceptance phase. This song can provide various meanings that can be different from one listener to another. This difference in meaning can be influenced by various factors, both external and internal factors that underlie the life of the individual concerned. This research is a qualitative descriptive research that focuses on reception analysis related to the audience's interpretation of media content. The research data in this analysis was obtained through an in-depth observation and interview process with five informants using a purposive sampling technique. The purpose of this study is to find out how listeners interpret mental health issues conveyed through the song "Runtuh" by Feby Putri and Fiersa Besari. The results of the study showed that four out of five informants felt that they agreed (dominant) with the message about mental health and self-awareness that they wanted to convey from the song. Meanwhile, one informant felt that he agreed with some exceptions (negotiated) with the mental health messages conveyed in the song. None of the informants felt in a position to disagree at all with the message about mental health conveyed (oppositional) in the song. Keywords: reception analysis, audience, mental health, collapse song, self awareness
Analisis pengaruh perkembangan teknologi komunikasi pada fenomena “cukurukuk calling” oleh anak-anak RW 22 Padukuhan Nogosaren Rasyid, Bagastama Amir
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23071

Abstract

AbstrakThe "Medium is The Massage" teori oleh Marshall Mc. Luhan menjelaskan bagaimana media sosial bertindak sebagai katalis bagi perilaku anak-anak, sebagaimana dibuktikan dengan "Panggilan Cukurukuk" fenomena. Dampak dari perilaku ini tidak hanya terbatas pada interaksi antara pelaku dan korban, namun juga berdampak pada respon sosial secara luas. Untuk mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan orang tua, pendidik, pengelola media sosial, dan komunitas untuk mendidik anak-anak tentang penggunaan media sosial yang etis dan menciptakan lingkungan digital yang positif. Hasil dan Implikasi: Pendekatan kualitatif digunakan untuk mempelajari anak usia 6-12 tahun di RW 22 Padukuhan Nogosaren. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Selain itu, tinjauan literatur dilakukan untuk memperdalam kerangka teoritis dan memberikan wawasan mengenai masalah penelitian. Metodologi: Masalah penelitian berpusat pada pemahaman mengapa anak-anak terlibat dalam "Panggilan Cukurukuk" dan pengaruh media sosial terhadap perilaku ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi alasan di balik partisipasi anak-anak dalam kegiatan "Cukurukuk Memanggil" dan mengkaji peran media sosial dalam mendorong fenomena ini. Masalah dan Tujuan Penelitian: Seiring dengan terus berkembangnya teknologi komunikasi dengan pesat, penggunaan teknologi komunikasi semakin meluas. Penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari, khususnya media sosial, telah menjadi fenomena yang lazim terjadi di semua kelompok umur. Namun kemudahan akses dan kenyamanan yang diberikan oleh media sosial telah menimbulkan dampak negatif seperti kecanduan dan perilaku tidak pantas, seperti yang dicontohkan oleh “Panggilan Cukurukuk” belakangan ini. Tren di kalangan anak-anak di RW 22 Padukuhan Nogosaren. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi alasan di balik fenomena ini dan peran media sosial dalam mempengaruhinya.Kata kunci: teknologi komunikasi, media sosial, cukurukuk calling, anak-anak, Marshall Mc. Luhan, penelitian kualitatif, etika digital, literasi media Abstract The "Medium is The Massage" theory by Marshall Mc. Luhan explains how social media acts as a catalyst for children's behavior, as evidenced by the "Cukurukuk Call" phenomenon. The impact of this behavior is not only limited to the interaction between the perpetrator and the victim, but also has an impact on the broader social response. Addressing these challenges requires a holistic approach that engages parents, educators, social media managers, and communities to educate children about ethical social media use and create a positive digital environment. Results and Implications: A qualitative approach was used to study children aged 6-12 years in RW 22 Padukuhan Nogosaren. Data analysis includes data reduction, data presentation, and conclusion drawn. In addition, literature reviews are conducted to deepen the theoretical framework and provide insights into research problems. Methodology: The research problem centers on understanding why children engage in "Cukurukuk Calling" and the influence of social media on this behavior. The purpose of this study is to identify the reasons behind children's participation in the activity of "Cukurukuk Calling" and to examine the role of social media in driving this phenomenon. Research Problems and Objectives: As communication technology continues to develop rapidly, the use of communication technology is becoming more widespread. The use of gadgets in daily life, especially social media, has become a prevalent phenomenon in all age groups. However, the ease of access and comfort provided by social media has caused negative impacts such as addiction and inappropriate behavior, as exemplified by the recent "Call of Cukurukuk". Trends among children in RW 22 Padukuhan Nogosaren. This study aims to explore the reasons behind this phenomenon and the role of social media in influencing it. Keywords: communication technology, social media, cukurukuk calling, children, Marshall Mc. Luhan, qualitative research, digital ethics, media literacy
Resepsi audiens terhadap “Soft Masculinity” Boygroup Kpop Syamwakumala, Raden Roro Nur Himma Sophia
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23076

Abstract

AbstrakPada era modern ini, Kpop, atau musik pop Korea, telah menjadi salah satu industri hiburan terbesar di dunia, dapat mengeksplorasi perkembangan konsep maskulinitas dalam citra Kpop idol yang mencakup perubahan fisik, gaya berpakaian, dan interaksi dengan penggemar. Seiring meningkatnya popularitas, idola Kpop tidak hanya dikenal karena bakat musiknya, tetapi juga sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari dengan penampilan memukau, kepribadian menawan, dan gaya hidup yang menginspirasi. Fenomena ini menciptakan ruang untuk eksperimen kreatif, terutama dalam menggagas konsep soft masculinity yang membawa pandangan baru dalam industri hiburan. Pada tulisan ini menggunakan teori resepsi audiens Stuart Hall demi menganalisis penerimaan makna soft masculinity pada boygroup Kpop melalui media sosial. Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut secara mendalam dan kritis. Data dikumpulkan dari analisis isi majalah, buku, website, media sosial, dan observasi reaksi masyarakat. Menurut hasil dan diskusi, konten YouTube dari boygroup seperti NCT dan Stray Kids menciptakan momen emosional melalui kombinasi kontak fisik dan percakapan yang intens, sehingga mengungkap sisi dari para anggota yang jarang terlihat di permukaan. Selain itu, platform media sosial seperti Weverse digunakan oleh idola Kpop seperti Doyoung Treasure untuk berinteraksi langsung dengan penggemar. Isi pesan media sosial diterima oleh khalayak karena tidak hanya mempererat hubungan antar pribadi anggota, tetapi juga menunjukkan konsep maskulinitas yang lembut dengan mengekspresikan sisi emosional dan berterima kasih kepada penggemar atas dukungannya. Namun, khalayak juga menolak dengan pemberian makna sendiri pandangan yang tidak berdasar tentang orientasi seksual. Oleh karena itu, tulisan ini memberikan wawasan tentang evolusi pemaknaan maskulinitas di Kpop dan menjelaskan bagaimana boygroup menggunakan media sosial untuk mengkomunikasikan pemaknaan tentang maskulinitas lembut kepada penggemarnya, serta mengidentifikasi perbedaan pandangan masyarakat terhadap fenomena tersebut.Kata kunci: soft masculinity, resepsi audiens, media sosial, boy group kpop Abstract In this modern era, Kpop, or Korean pop music, has become one of the largest entertainment industries in the world, being able to explore the development of the concept of masculinity in the image of Kpop idols that includes physical changes, dress styles, and interactions with fans. As their popularity increases, Kpop idols are not only known for their musical talent, but also as role models in their daily lives with their stunning appearances, charming personalities, and inspiring lifestyles. This phenomenon creates space for creative experimentation, especially in initiating the concept of soft masculinity that brings a new perspective in the entertainment industry. In this paper, Stuart Hall's audience reception theory is used to analyze the acceptance of the meaning of soft masculinity in Kpop boy groups through social media. Qualitative descriptive research methods are used to describe the phenomenon in depth and critically. Data was collected from the analysis of the content of magazines, books, websites, social media, and observation of public reactions. According to the results and discussions, YouTube content from boy groups such as NCT and Stray Kids creates emotional moments through a combination of physical contact and intense conversations, thus revealing the members of the members who are rarely seen on the surface. In addition, social media platforms like Weverse are used by Kpop idols like Doyoung Treasure to interact directly with fans. The content of social media messages was accepted by the audience because it not only strengthened the personal relationship between members, but also showed the concept of gentle masculinity by expressing the emotional side and thanking fans for their support. However, the audience also refuses by giving its own meaning an unfounded view of sexual orientation. Therefore, this paper provides insight into the evolution of the meaning of masculinity in Kpop and explains how boy groups use social media to communicate the meaning of soft masculinity to their fans, as well as identify different people's views on the phenomenon. Keywords: soft masculinity, audience reception, social media, kpop boy group
Jejak digital Korean Wave dalam membangun ekspektasi dan idealisasi: analisis konten Youtube bertajuk romantisasi Pria Korea Rasmaningsih, Dwi Annisa
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23072

Abstract

AbstrakKorean Wave, atau juga biasa disebut Hallyu Wave, merupakan istilah yang digunakan untuk mewakili penyebaran budaya populer Korea Selatan secara global. Dalam beberapa periode terakhir, Korean Wave seringkali menjadi topik yang menuai antusiasme dan apresiasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Proses ini didukung oleh mobilitas akses teknologi serta inovasi Korea Selatan yang senantiasa memproduksi produk-produk berkualitas. Di Indonesia, penetrasi Korean Wave diawali dengan penayangan K-Drama pada awal 2000-an, seperti Winter Sonata dan Full House. Buntut dari respons yang memuaskan, Korean Wave mulai memasuki pasar Indonesia lebih dalam dengan ragam konten lainnya, seperti musik dan reality show. Hingga saat ini, K-Drama masih menjadi salah satu unsur Korean Wave yang dominan dinikmati. Hal ini tidak mengherankan, mengingat K-Drama menghadirkan sejumlah daya tarik dan visual pleasure yang tidak terelakkan. Dari penjabaran sebelumnya, tulisan ini mengerucutkan fokus pada hubungan antara tingkat paparan K-Drama dengan pembentukan persepsi, ekspektasi dan hasrat publik terhadap pria Korea. Penulis mengangkat sampel dari konten YouTube TaraWoni Tv dan YourOnlyJen yang secara konsisten mengunggah konten bertemakan romantisasi pria Korea. Berbekal pemahaman akan teori representasi, kultivasi dan ekonomi politik media, dijabarkan bahwa antusiasme masyarakat dalam mengonsumsi konten romantisasi pria Korea dapat menguatkan citra ideal pria Korea yang dibentuk oleh K-Drama. Citra ini kemudian diinternalisasi menjadi ekspektasi dan persepsi personal, yang melibatkan cinta terhadap pria Korea di dunia nyata. Perlu diingat bahwa representasi media terkadang merupakan hasil distorsi dari realitas, yang mungkin saja dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi dan politik tertentu, sehingga ada resiko negatif seperti pembentukan standar kecantikan dan karir yang dangkal terhadap pria Korea, atau kekecewaan akan kenyataan yang tidak selaras dengan K-Drama.Kata kunci: Korean Wave, K-Drama, representasi, kultivasi, ekonomi politik media Abstract Korean Wave, or also commonly called Hallyu Wave, is a term used to represent the spread of South Korean popular culture globally. In recent periods, Korean Wave has often become a topic that has reaped enthusiasm and appreciation in a number of countries, including Indonesia. This process is supported by South Korea's mobility of access to technology and innovation, which always produces quality products. In Indonesia, the penetration of the Korean Wave began with the airing of K-Dramas in the early 2000s, such as Winter Sonata and Full House. In the aftermath of the satisfactory response, Korean Wave began to enter the Indonesian market more deeply with a variety of other content, such as music and reality shows. Until now, K-Drama is still one of the dominant elements of the Korean Wave that is enjoyed. This is not surprising, considering that K-Drama presents a number of attractions and visual pleasure that are inevitable. From the previous description, this paper narrows the focus on the relationship between the level of exposure to K-Drama and the formation of public perceptions, expectations and desires towards Korean men. The author took samples from YouTube content from TaraWoni Tv and YourOnlyJen which consistently uploads content with the theme of Korean male romance. Armed with an understanding of the theory of representation, cultivation and political economy of the media, it is explained that the public's enthusiasm in consuming Korean men's romantic content can strengthen the ideal image of Korean men formed by K-Dramas. This image is then internalized into personal expectations and perceptions, which involve love for Korean men in the real world. Keep in mind that media representation is sometimes the result of distortion of reality, which may be motivated by certain economic and political interests, so there are negative risks such as the establishment of superficial beauty and career standards for Korean men, or disappointment with reality that is not in harmony with K-Drama. Keywords: Korean Wave, K-Drama, representation, cultivation, political economy media
Analisis wacana media kritis terhadap gender equality sebagai konstruksi realita sosial melalui representasi keragaman gender dalam Film Barbie (2023) Adytama, Rakhviandra Wirartha
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23077

Abstract

AbstrakMengacu kepada sebuah pembahasan khusus dalam kajian media mengenai stereotipisasi dan wacana media terhadap gender, maka artikel ini akan melihat pada bagaimana framing penampilan sebuah film dapat menjelaskan hal yang kompleks dibalut dengan gaya dan teknis yang absolut pula. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sekaligus melakukan analisis terhadap bagaimana sebuah media komunikasi berupa film yang secara khusus pada artikel ini menggunakan artikel Film Barbie yang disutradarai oleh Greta Gerwig dapat menjadi sebuah media komunikasi yang dapat memberikan pemahaman mengenai stereotipisasi terhadap gender pada batas Gender Equality dan wacana sebuah media dalam melakukan framing terhadap isu gender yang telah menjadi konstruksi sosial ditengah banyaknya miskonsepsi keragaman gender di publik baik dalam segi pemahaman bahkan pengimplementasian. Artikel ini memiliki landasan teori yaitu teori kritis atau critical theory yang oleh Jürgen Habermas yang menjadi grand theory karena lekatnya teori ini terhadap isu sosial (struktural) dalam melihat sekaligus menganalisis pembahasan ini dengan erat kaitannya keterhubungan teori ini dengan dua teori lainnya yang menjadi batasan pembahasan, yaitu Feminist Standpoint Theory dan Agenda Setting Theory yang keduanya juga akan menjadi acuan dalam artikel ini melihat bagaimana sebuah input dan output oleh film Barbie ini menjadi medium dalam sebuah narasi gender. Dengan menggunakan metode riset pustaka, artikel ini menggunakan pertimbangan dan penalaran dari beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan topik pembahasan yang dikaji. Adanya beberapa pembahasan kritis juga melihat aspek-aspek tertentu dalam dua poin utama yaitu Feminist Toxic Masculinity dan Critical Knowledge, sehingga terdapat beberapa temuan yang dihasilkan yaitu dengan adanya aspek psikologis, sosiologi, bahkan biologis yang dikaji lebih dalam. Maka dari itu, Artikel ini akan mengkaji dalam dua kacamata utama yaitu ideologi dan wacana media kritis dalam memberikan tayangan kepada publik dari isu yang diangkat.Kata kunci: gender equality, feminitas, maskulinitas, wacana media, barbie, kritis Abstract Referring to a special discussion in media studies regarding stereotypes and media discourse on gender, this article will look at how framing the appearance of a film can explain complex things wrapped in absolute style and technicality. This article aims to examine and analyze how a communication media in the form of a film specifically in this article using the article Film Barbie directed by Greta Gerwig can be a communication media that can provide an understanding of gender stereotyping at the boundary of Gender Equality and the discourse of a media in framing gender issues that have become a social construction in the midst of many misconceptions gender diversity in the public both in terms of understanding and even implementation. This article has a theoretical foundation, namely critical theory or critical theory which by Jürgen Habermas became a grand theory because of the attachment of this theory to social (structural) issues in seeing and analyzing this discussion in close relation to the relationship of this theory with two other theories that are the limits of discussion, namely Feminist Standpoint Theory and Agenda Setting Theory which will both be a reference in this article looking at how an input and output are by this Barbie film becomes a medium in a gender narrative. Using the literature research method, this article uses considerations and reasoning from several previous studies that are relevant to the topic being studied. The existence of several critical discussions also looks at certain aspects in two main points, namely Feminist Toxic Masculinity and Critical Knowledge, so that there are several findings that are produced, namely with psychological, sociological, and even biological aspects that are studied more deeply. Therefore, this article will examine in two main lenses, namely ideology and critical media discourse in providing impressions to the public of the issues raised. Keywords: gender equality, femininity, masculinity, media discourse, barbie, critical
Analisis konten tren gelang persahabatan Taylor Swift di “The Eras Tour” melalui perspektif interaksionisme simbolik dalam komunikasi komunitas Tarunika, Aileen Irma
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v7i3.23068

Abstract

 AbstrakDalam era globalisasi dan kemajuan teknologi, fenomena budaya populer, seperti tren gelang persahabatan dalam konteks tur konser, memegang peran krusial dalam membentuk dan menghubungkan komunitas. Studi ini menjadikan tur konser Taylor Swift, yang dikenal sebagai "The Eras Tour," sebagai kasus penelitian untuk mengeksplorasi tren gelang persahabatan dan dampaknya terhadap identitas bersama komunitas penggemar. Inspirasi untuk tren ini berasal dari lirik lagu "You're on Your Own, Kid" dalam album "Midnights" milik Taylor Swift, yang menciptakan hubungan yang mendalam antara musik, simbol, dan penggemar. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui analisis konten digunakan untuk memahami signifikansi perspektif interaksionisme simbolik dalam tren gelang persahabatan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa gelang persahabatan tidak hanya menjadi aksesori fisik, tetapi juga simbol solidaritas dalam komunitas penggemar Taylor Swift. Gelang persahabatan ini tidak hanya menandai keanggotaan dalam komunitas, tetapi juga menjadi medium berbagi makna dan membangun hubungan antarindividu. Gelang persahabatan memainkan peran sentral dalam membentuk identitas bersama komunitas penggemar. Dengan diadopsinya gelang persahabatan sebagai simbol solidaritas, tercipta rasa persatuan dalam keberagaman. Proses interpretasi gelang persahabatan melibatkan berbagi makna di antara penggemar melalui media sosial dan interaksi tatap muka. Gelang persahabatan menjadi lebih dari sekadar benda fisik, melainkan narasi bersama yang memperkaya pengalaman individu dalam komunitas. Lebih lanjut, gelang persahabatan berfungsi sebagai alat untuk membangun hubungan di antara penggemar yang sebelumnya belum saling mengenal. Dengan adanya tren gelang persahabatan ini, interaksi sosial di dalam komunitas menjadi lebih luas. Gelang persahabatan menjadi perekat komunitas, membantu membentuk narasi identitas kolektif yang menegaskan eksistensi dan keunikan para penggemar Taylor Swift. Identitas ini terus berkembang seiring dengan adopsi dan interpretasi simbol, menciptakan dasar yang kuat untuk solidaritas di dalam komunitas tersebut. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang peran simbol dan komunikasi dalam membentuk identitas komunitas penggemar di era digital.Kata kunci : tren gelang persahabatan, Taylor Swift, The Eras Tour, interaksionisme simbolik, komunikasi komunitasAbstractIn the era of globalization and technological advancement, popular cultural phenomena, such as the trend of friendship bracelets in the context of concert tours, play a crucial role in shaping and connecting communities. The study made Taylor Swift's concert tour, known as "The Eras Tour," a research case to explore the trend of friendship bracelets and their impact on the shared identity of the fan community. The inspiration for this trend comes from the lyrics of the song "You're on Your Own, Kid" from Taylor Swift's album "Midnights", which creates a deep connection between music, symbols, and fans. A qualitative research method with a case study approach through content analysis was used to understand the significance of the symbolic interactionism perspective in the friendship bracelet trend. The results of the study revealed that the friendship bracelet is not only a physical accessory, but also a symbol of solidarity in the Taylor Swift fan community. This friendship bracelet not only marks membership in the community, but also becomes a medium for sharing meaning and building relationships between individuals. Friendship bracelets play a central role in shaping the shared identity of the fan community. With the adoption of friendship bracelets as a symbol of solidarity, a sense of unity in diversity is created. The process of interpreting friendship bracelets involves sharing meaning among fans through social media and face-to-face interactions. Friendship bracelets become more than just physical objects, but rather shared narratives that enrich the experiences of individuals in the community. Furthermore, friendship bracelets serve as a tool to build relationships among fans who have not previously known each other. With this trend of friendship bracelets, social interaction in the community has become wider. The friendship bracelet becomes the glue of the community, helping to form a collective identity narrative that affirms the existence and uniqueness of Taylor Swift fans. This identity continues to evolve along with the adoption and interpretation of the symbol, creating a strong foundation for solidarity within the community. This research provides an in-depth understanding of the role of symbols and communication in shaping the identity of the fan community in the digital era. Keywords: friendship bracelet trend, Taylor Swift, The Eras Tour, symbolic interactionism, community communication

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 4 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 3 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 1 (2025): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 4 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 3 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2024): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 4 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 3 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 1 (2023): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 4 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 3 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 2 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2022): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 4 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 3 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 1 (2021): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 4 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 3 (2020): Lektur:Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 2 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2020): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 4 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 3 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1, No 1 (2018): Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi More Issue